4. Arti dari mendapatkan hidup dan apa yang dimaksud tidak memiliki hidup

4. Arti dari mendapatkan hidup dan apa yang dimaksud tidak memiliki hidup

Firman Tuhan yang Relevan:

Ketika orang memahami kebenaran, dan hidup dengan kebenaran tersebut sebagai hidup mereka, hidup seperti apakah yang dimaksud? Hidup yang dimaksud adalah kemampuan mereka untuk hidup mendasarkan firman Tuhan; itu berarti mereka memiliki pengetahuan yang nyata akan firman Tuhan dan pemahaman sejati akan kebenaran. Ketika orang memiliki hidup yang baru ini dalam diri mereka, cara mereka hidup dibangun di atas dasar firman Tuhan sebagai kebenaran, dan mereka sedang hidup dalam alam kebenaran. Hidup manusia adalah tentang mengetahui dan mengalami kebenaran, dan dengan hal ini sebagai fondasinya, tidak melampaui ruang lingkup itu; inilah hidup yang dimaksud ketika membicarakan tentang mendapatkan hidup kebenaran. Untuk engkau hidup dengan kebenaran sebagai hidupmu, itu bukan berarti bahwa hidup kebenaran itu ada dalam dirimu, juga bukan berarti jika engkau memiliki kebenaran sebagai hidupmu, engkau menjadi kebenaran, dan kehidupan batinmu menjadi hidup kebenaran; apalagi menganggap bahwa dirimu adalah hidup kebenaran. Pada akhirnya, hidupmu tetaplah hidup seorang manusia. Hanya saja, seorang manusia itu dapat hidup berdasarkan firman Tuhan, memiliki pengetahuan akan kebenaran, dan memahaminya secara mendalam; pemahaman ini tidak dapat diambil dari dirimu. Engkau mengalami dan memahami hal-hal ini sepenuhnya, merasa bahwa semua itu sangat baik dan berharga, dan engkau mulai menerimanya sebagai dasar bagi hidupmu; selain itu, engkau hidup dengan bergantung pada hal-hal ini, dan tak seorang pun yang dapat mengubahnya: jadi, inilah hidupmu. Artinya, hidupmu hanya berisi hal-hal ini—pemahaman, pengalaman, dan wawasan tentang kebenaran—dan apa pun yang kaulakukan, engkau akan mendasarkan cara hidupmu berdasarkan hal-hal ini, dan engkau tidak akan melampaui ruang lingkup ini atau melewati batas-batas ini; inilah tepatnya jenis kehidupan yang akan engkau miliki. Tujuan utama pekerjaan Tuhan adalah agar manusia memiliki kehidupan yang seperti ini.

Dikutip dari "Apakah Engkau Tahu Apa Sesungguhnya Kebenaran Itu?" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Menjunjung tinggi firman Tuhan dan mampu menjelaskannya secara gamblang bukan berarti engkau memiliki realitas; segala sesuatu tidak sesederhana yang engkau bayangkan. Entah engkau memiliki realitas atau tidak bukan didasarkan pada apa yang engkau ucapkan, melainkan pada apa yang engkau hidupi. Hanya ketika firman Tuhan menjadi hidupmu dan ungkapan alamimu, barulah engkau disebut memiliki realitas, dan hanya dengan demikianlah engkau dianggap memiliki pemahaman sejati dan tingkat pertumbuhan yang nyata. Engkau harus mampu menanggung pemeriksaan untuk jangka waktu panjang, dan engkau harus dapat hidup dalam keserupaan yang Tuhan kehendaki. Itu bukan semata-mata tentang bersikap, melainkan harus mengalir secara alami dari dalam dirimu. Hanya dengan demikian, engkau akan benar-benar memiliki realitas, dan baru kemudian engkau akan memperoleh kehidupan. Izinkan Aku menggunakan contoh ujian bagi para pelaku pelayanan yang diketahui semua orang: siapa pun dapat menyajikan berbagai teori paling muluk-muluk tentang pelaku pelayanan, dan semua orang memiliki pemahaman yang memadai tentang pokok bahasan ini; mereka membicarakannya dan setiap penyampaian terbaru lebih hebat daripada penyampaian yang terakhir, seolah-olah suatu kompetisi. Namun, jika manusia belum mengalami ujian yang besar, sulit untuk mengatakan apakah dia memiliki kesaksian yang baik. Singkatnya, cara hidup manusia masih sangat kurang, dan ini sepenuhnya bertentangan dengan pemahamannya. Jadi, pengalaman itu belum menjadi tingkat pertumbuhan manusia yang sebenarnya, dan itu belum menjadi kehidupan manusia. Karena pemahaman manusia belum terwujud dalam realitas, tingkat pertumbuhannya masih seperti istana yang dibangun di atas pasir, goyah dan berada di ambang ambruk. Manusia memiliki terlalu sedikit realitas; hampir tidak mungkin menemukan realitas dalam diri manusia. Terlalu sedikit realitas yang secara alami mengalir dari diri manusia dan semua realitas yang mereka hidupi telah dipaksakan. Itulah sebabnya, Aku mengatakan bahwa manusia tidak memiliki realitas. Sekalipun manusia mengatakan bahwa kasih mereka kepada Tuhan tidak pernah berubah, ini hanyalah kata-kata yang biasa mereka ucapkan sebelum menghadapi ujian. Begitu mereka nanti tiba-tiba dihadapkan pada ujian, hal-hal yang mereka ucapkan sekali lagi menyimpang dari realitas, dan hal ini akan kembali membuktikan bahwa manusia tidak memiliki realitas. Bisa dikatakan bahwa setiap kali engkau menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan pemikiranmu dan mengharuskanmu untuk mengesampingkan dirimu sendiri, itulah ujianmu. Sebelum kehendak Tuhan dinyatakan, semua orang menjalani ujian berat dan cobaan luar biasa. Dapatkah engkau menyelami hal ini? Ketika Tuhan ingin menguji manusia, Dia selalu membiarkan mereka menentukan pilihan sendiri sebelum kebenaran aktual terungkap. Artinya, ketika Tuhan sedang menguji orang, Dia tidak akan pernah memberitahukan kebenaran kepadamu; dengan cara inilah manusia disingkapkan. Inilah salah satu cara Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, untuk melihat apakah engkau memahami Tuhan zaman sekarang, dan apakah engkau memiliki realitas.

Dikutip dari "Hanya Melakukan Kebenaranlah yang Berarti Memiliki Realitas" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Manusia mengalami pekerjaan Tuhan, mulai mengenal dirinya sendiri, membersihkan wataknya yang rusak, dan mencari pertumbuhan dalam kehidupannya, semuanya itu adalah demi mengenal Tuhan. Jika engkau hanya berusaha mengenal dirimu sendiri dan menangani watakmu yang rusak, tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang pekerjaan apakah yang Tuhan lakukan pada manusia, tentang betapa hebat keselamatan-Nya, atau tentang bagaimana engkau mengalami pekerjaan Tuhan dan menyaksikan perbuatan-Nya, pengalamanmu ini tidak ada artinya. Jika engkau berpikir bahwa kehidupan manusia telah mencapai kedewasaan hanya karena dia mampu melakukan kebenaran dan bertahan, ini berarti bahwa engkau masih belum memahami makna hidup yang sebenarnya atau tujuan Tuhan dalam menyempurnakan manusia. Suatu hari, ketika engkau berada di gereja-gereja agamawi, di antara anggota Gereja Pertobatan atau Gereja Kehidupan, engkau akan menjumpai banyak orang saleh, yang doa-doanya berisi "penglihatan" dan yang dalam pengejaran kehidupannya, mereka merasa dijamah dan dibimbing oleh firman. Selain itu, dalam banyak hal mereka mampu bertahan dan menyangkal diri mereka sendiri, dan tidak dipimpin oleh daging. Pada saat itu, engkau tidak akan dapat membedakannya: engkau akan percaya bahwa semua yang mereka lakukan itu benar, merupakan pengungkapan yang wajar akan kehidupan, dan sangat disayangkan bila nama yang mereka percayai adalah salah. Bukankah pandangan seperti itu bodoh? Mengapa dikatakan bahwa banyak orang tidak memiliki kehidupan? Karena mereka tidak mengenal Tuhan, dan dengan demikian dikatakan bahwa mereka tidak memiliki Tuhan di dalam hati mereka, dan tidak memiliki kehidupan. Jika kepercayaanmu kepada Tuhan telah mencapai titik tertentu di mana engkau mampu sepenuhnya mengenal perbuatan Tuhan, kenyataan Tuhan, dan setiap tahap pekerjaan-Nya, artinya engkau memiliki kebenaran itu.

Dikutip dari "Hanya Mereka yang Mengenal Tuhan yang Bisa Menjadi Kesaksian bagi Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apa wujud dari seseorang yang tidak memiliki kebenaran dan kehidupan? Tanpa kebenaran, manusia secara alami akan terkekang dan terbelenggu oleh natur mereka yang serupa Iblis; mereka akan secara alami memperlihatkan watak yang congkak dan sombong, egois dan hina, ceroboh, dan autokrasi. Mereka akan cenderung menyombongkan diri, suka menipu dan suka berkhianat, curiga kepada orang lain, dan cenderung menyerang dan menghakimi orang lain; mereka akan selalu menilai orang melalui prasangka dan motif mereka. Mereka akan selalu mengandalkan pilihan mereka sendiri dalam perkataan dan tindakan mereka, dan ketika mereka menghadapi kemunduran atau kegagalan, mereka akan bersikap negatif. Kadang-kadang mereka akan menjadi sangat congkak, dan kadang-kadang mereka akan sangat negatif sehingga mereka praktis bersembunyi di dalam tanah. Mereka menjadi ekstrem dan tidak pernah normal. Ketika mereka tidak memperlihatkan taring mereka, mereka memperlihatkan wajah menyedihkan. Seperti inilah keadaanmu saat ini: engkau bersedia menderita dan membayar harga; ketetapan hati dan tekadmu sudah lengkap—tetapi engkau belum memiliki kebenaran kenyataan. Bagaimana orang-orang yang memiliki kebenaran kenyataan bertindak saat hidup mereka mengungkapkan diri mereka sendiri? Aku akan memberitahukan kepadamu beberapa tanda utama. Ketika orang memiliki kebenaran kenyataan, di satu sisi, mereka telah memahami beberapa kebenaran; di sisi lain, mereka telah mulai menunjukkan beberapa perubahan dalam watak mereka. Perubahan watak memiliki karakteristik, yaitu mampu tunduk pada apa yang benar dan sejalan dengan kebenaran. Tidak peduli siapa yang memberimu saran—apakah mereka masih muda atau sudah tua, apakah engkau bergaul dengan baik, dan apakah hubungan di antara engkau semua baik atau buruk—asalkan mereka mengatakan sesuatu yang benar dan sejalan dengan kebenaran, dan bermanfaat bagi pekerjaan keluarga Tuhan, maka engkau dapat mendengar, mengadopsi dan menerimanya, dan tidak terpengaruh oleh faktor lainnya. Inilah aspek pertama dari karakteristik tersebut. Pertama-tama engkau dapat menerima kebenaran, juga hal-hal yang benar dan sejalan dengan kebenaran. Karakteristik lainnya adalah mampu mencari kebenaran setiap kali engkau menghadapi masalah. Engkau tidak hanya dapat menerima kebenaran; engkau juga harus mampu mencarinya. Misalnya, jika engkau menghadapi masalah baru yang tidak dapat dipahami siapa pun, engkau dapat mencari kebenaran, mengerti apa yang harus engkau lakukan atau terapkan untuk membuat masalah itu sejalan dengan prinsip-prinsip kebenaran, dan memenuhi tuntutan Tuhan. Aspek lainnya adalah memperoleh kemampuan untuk memperhatikan kehendak Tuhan. Bagaimana engkau seharusnya memperhatikan kehendak-Nya? Ini tergantung pada tugas apa yang engkau lakukan dan tuntutan apa yang Tuhan tetapkan terhadapmu dalam tugasmu. Engkau harus memahami prinsip ini: laksanakan tugasmu sesuai tuntutan Tuhan, dan lakukan itu demi memuaskan Dia. Engkau juga harus memahami kehendak Tuhan dan hasil yang diharapkan dari tugasmu, dan engkau harus mampu bertindak dengan tanggung jawab dan kesetiaan. Semua ini adalah cara-cara untuk memperhatikan kehendak Tuhan. Jika engkau tidak tahu bagaimana memperhatikan kehendak Tuhan dalam hal yang engkau lakukan, engkau harus melakukan pencarian untuk melakukan hal itu, dan untuk memuaskan Dia. Jika engkau semua bisa menerapkan ketiga prinsip ini, mengukur cara sebenarnya engkau hidup berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, dan menemukan jalan penerapannya, engkau akan menangani urusan dengan cara yang berprinsip. Apa pun yang engkau hadapi dan apa pun masalah yang harus engkau tangani, engkau harus selalu mencari prinsip penerapan yang seharusnya kau terapkan, rincian apa saja yang tercakup dalam tiap-tiap prinsip tersebut, dan bagaimana prinsip-prinsip itu harus diterapkan sehingga engkau tidak akan melanggarnya. Setelah engkau memiliki pemahaman yang jelas tentang hal-hal ini, engkau akan secara alami mampu menerapkan kebenaran.

Dikutip dari "Hanya dengan Mengamalkan Kebenaran Engkau Dapat Melepaskan Belenggu Watak yang Rusak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Setelah kebenaran menjadi hidupmu, jika seseorang menghujat Tuhan, tidak memiliki rasa hormat kepada-Nya, acuh tak acuh dan memenuhi tugasnya dengan asal-asalan, tanpa antusiasme atau komitmen apa pun, atau menyebabkan gangguan atau kekacauan pada pekerjaan rumah Tuhan, maka setelah melihat ini, engkau akan mampu memperlakukannya sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran dengan membedakan apa yang harus dibedakan dan menyingkapkan apa yang harus disingkapkan. Jika kebenaran belum menjadi hidupmu, dan engkau masih hidup dalam watak jahatmu, maka ketika engkau bertemu dengan orang-orang dan setan-setan jahat yang menyebabkan gangguan dan kekacauan pada pekerjaan rumah Tuhan, engkau akan menutup mata dan telinga; engkau akan mengabaikan mereka, tanpa teguran dari hati nuranimu. Engkau bahkan akan berpikir bahwa seseorang yang menyebabkan gangguan terhadap pekerjaan rumah Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu. Seberapa pun besarnya kerugian pada pekerjaan Tuhan dan kepentingan rumah-Nya, engkau tidak akan merasakan teguran dari hati nuranimu, yang berarti bahwa engkau akan menjadi orang yang hidup berdasarkan wataknya yang jahat. Iblis mengendalikanmu dan menyebabkan engkau hidup sebagai sesuatu yang bukan manusia atau setan. Engkau makan apa yang menjadi milik Tuhan, minum apa yang menjadi milik Tuhan, dan menikmati semua yang berasal dari Dia, tetapi, ketika pekerjaan rumah Tuhan menderita kerugian, engkau merasa hal itu tidak ada kaitannya denganmu, dan, ketika engkau melihat hal itu terjadi, engkau bahkan "menekuk siku",[a] dan tidak berpihak kepada Tuhan, juga tidak menjunjung pekerjaan Tuhan atau kepentingan rumah Tuhan. Ini berarti Iblis berkuasa atasmu, bukan? Apakah orang-orang seperti itu hidup sebagai manusia? Jelas, mereka adalah setan-setan, bukan manusia! Namun, jika kebenaran memegang kendali di dalam hatimu dan telah menjadi hidupmu, maka, ketika engkau melihat sesuatu yang pasif, negatif, atau menimbulkan kejahatan, reaksi di dalam hatimu sama sekali berbeda. Pertama, engkau merasakan teguran dan perasaan gelisah, yang segera diikuti dengan perasaan ini: "Aku tidak bisa tidak berbuat apa-apa dan menutup mata. Aku harus berdiri dan berbicara, aku harus berdiri dan memikul tanggung jawab." Kemudian engkau dapat berdiri dan menghentikan perbuatan-perbuatan jahat ini, menyingkapkannya, berusaha untuk menjaga kepentingan rumah Tuhan dan mencegah agar pekerjaan Tuhan tidak diganggu. Engkau tidak hanya akan memiliki keberanian dan tekad ini, dan engkau tidak hanya akan mampu untuk memahami hal ini sepenuhnya, tetapi engkau juga akan memenuhi tanggung jawab yang seharusnya engkau pikul bagi pekerjaan Tuhan dan bagi kepentingan rumah-Nya, dan dengan demikian tugasmu akan terpenuhi. Bagaimana tugasmu akan terpenuhi? Tugasmu akan terpenuhi melalui kebenaran yang mengerahkan pengaruhnya dalam dirimu dan menjadi hidupmu. Dengan cara ini, segera setelah tugasmu terpenuhi, engkau tidak akan bertanya apakah Tuhan dapat memberimu upah, apakah Dia melihat tindakanmu, atau apakah Dia menerima tindakanmu. Sebaliknya, engkau hanya akan percaya bahwa itu adalah tanggung jawab yang seharusnya kaupikul. Bukankah dengan cara demikian, engkau hidup berdasarkan hati nurani, nalar, kemanusiaan, integritas, dan martabat? Perbuatan dan perilakumu akan menjadi "takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan" sebagaimana yang Dia katakan. Engkau akan melaksanakan esensi dari perkataan ini dan hidup dalam kenyataan dari perkataan tersebut. Ketika kebenaran menjadi hidup seseorang, mereka kemudian akan mampu untuk hidup dalam kenyataan ini. Namun, jika engkau belum masuk ke dalam kenyataan ini, maka, ketika engkau menyingkapkan kebohongan, penipuan, atau kepura-puraan, atau ketika engkau melihat orang jahat sedang beraksi atau kekuatan-kekuatan jahat sedang mengganggu atau menyela pekerjaan Tuhan, engkau tidak merasakan apa pun, dan tidak melihat apa pun. Bahkan ketika hal-hal ini terjadi di depan hidungmu, engkau masih mampu untuk tertawa, dan masih dapat makan dan tidur dengan hati nurani yang tenang, dan engkau tidak merasakan teguran dalam dirimu sedikit pun. Dari dua kehidupan yang dapat engkau jalani ini, yang mana yang kaupilih? Kehidupan mana yang memiliki keserupaan dengan manusia sejati, di mana engkau hidup dalam kenyataan tentang hal-hal yang positif, ataukah kehidupan yang jahat, yang kejam? Jawabannya sudah terbukti dengan sendirinya. Ketika kebenaran belum menjadi kenyataan atau hidup orang, maka apa yang mereka jalani sangat menyedihkan dan patut disayangkan, dan mereka tidak bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri. Karena kebenaran belum menjadi hidup di dalam diri mereka, apa yang mereka lakukan tidak berada dalam pengendalian mereka sendiri, dan walaupun mereka mungkin merasa sedikit sedih tentang hal ini, perasaan itu berlalu demikian cepat dan mereka sama sekali tidak merasakan penyesalan. Sebesar itulah perbedaan di antara kedua jenis kehidupan ini.

Dikutip dari "Hanya Mereka yang Menerapkan Kebenaran yang Takut akan Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Jika orang dapat memuaskan Tuhan saat memenuhi tugasnya, berprinsip dalam perkataan dan tindakannya, serta dapat memasuki kebenaran kenyataan dalam setiap aspek kebenaran, maka dia adalah orang yang disempurnakan oleh Tuhan. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan dan firman Tuhan telah sepenuhnya efektif bagi orang-orang semacam itu, bahwa firman Tuhan telah menjadi hidupnya, mereka telah memperoleh kebenaran, dan mereka dapat hidup sesuai dengan firman Tuhan. Setelah ini, natur daging mereka—yaitu, fondasi keberadaan mereka yang semula—akan terguncang dan runtuh. Setelah orang-orang memiliki firman Tuhan sebagai hidupnya, mereka akan menjadi manusia baru. Jika firman Tuhan menjadi hidup mereka, jika visi pekerjaan Tuhan, tuntutan-Nya atas manusia, penyingkapan-Nya kepada manusia, dan standar bagi kehidupan yang benar yang Tuhan tuntut dari mereka untuk dipenuhi menjadi hidup mereka, jika mereka hidup berdasarkan firman dan kebenaran ini, maka mereka disempurnakan oleh firman Tuhan. Orang-orang semacam itu dilahirkan kembali, dan telah menjadi manusia baru melalui firman Tuhan. Inilah jalan yang digunakan Petrus untuk mengejar kebenaran; inilah jalan untuk disempurnakan, disempurnakan oleh firman Tuhan, dan mendapatkan kehidupan dari firman Tuhan. Kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan menjadi kehidupannya, dan baru pada saat itulah dia menjadi orang yang memperoleh kebenaran.

Dikutip dari "Cara Menempuh Jalan Petrus" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Jika orang memiliki pemahaman sejati tentang watak Tuhan, dan mampu menaikkan pujian sepenuh hati atas kekudusan dan kebenaran-Nya, maka itu berarti mereka benar-benar mengenal Dia dan memiliki kebenaran; baru setelah itulah mereka hidup dalam terang. Hanya setelah pandangan manusia akan dunia dan akan kehidupan berubah barulah dia mengalami perubahan yang mendasar. Ketika orang memiliki tujuan hidup dan bersikap sesuai dengan kebenaran; ketika dia tunduk sepenuhnya kepada Tuhan dan hidup menurut firman-Nya, ketika orang merasa damai dan diterangi sampai pada kedalaman jiwanya; ketika hatinya bebas dari kegelapan; dan ketika dia dapat hidup sepenuhnya merdeka dan bebas di hadirat Tuhan, baru pada saat itulah dia menjalani kehidupan manusia sejati, dan baru setelah itulah dia menjadi orang yang memiliki kebenaran. Selain itu, semua kebenaran yang engkau miliki berasal dari firman Tuhan dan dari Tuhan itu sendiri. Penguasa seluruh alam semesta dan segala sesuatu—Tuhan Yang Mahatinggi—berkenan kepadamu sebagai seseorang yang menjalani kehidupan manusia sejati. Adakah yang dapat lebih bermakna daripada perkenanan Tuhan? Inilah artinya memiliki kebenaran.

Dikutip dari "Cara Mengenal Natur Manusia" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Orang sering berbicara mengenai membiarkan Tuhan menjadi hidup mereka, tetapi pengalaman mereka belum mencapai taraf tersebut. Engkau sekadar berkata bahwa Tuhan adalah hidupmu, bahwa Dia menuntunmu setiap hari, bahwa engkau makan dan minum firman-Nya setiap hari, dan bahwa engkau berdoa kepada-Nya setiap hari, dan karenanya Dia telah menjadi hidupmu. Pengetahuan orang-orang yang berkata seperti ini sangatlah dangkal. Dalam diri banyak orang tidak ada dasar; firman Tuhan telah tertanam di dalam diri mereka, tetapi firman Tuhan itu belum bertunas, apalagi menghasilkan buah apa pun. Sekarang ini, sudah sejauh manakah engkau mengalami? Baru sekarang, setelah Tuhan memaksamu sampai sejauh ini, engkau merasa bahwa engkau tidak dapat meninggalkan Tuhan. Suatu hari, ketika engkau telah mencapai titik tertentu, jika Tuhan memintamu pergi, engkau tidak akan sanggup melakukannya. Engkau akan selalu merasa bahwa engkau tidak sanggup tanpa Tuhan di dalam dirimu; engkau bisa bertahan tanpa suami, istri, atau anak-anak, tanpa keluarga, tanpa ibu atau ayah, tanpa kenikmatan daging, tetapi engkau tidak sanggup tanpa Tuhan. Tanpa Tuhan akan terasa seperti engkau kehilangan hidupmu; engkau tidak akan sanggup hidup tanpa Tuhan. Pada saat engkau telah mengalami sampai titik ini, engkau telah mencapai sasaran dalam imanmu kepada Tuhan, dan dengan cara demikian Tuhan telah menjadi hidupmu, Dia telah menjadi dasar keberadaanmu. Engkau tidak akan pernah lagi mampu meninggalkan Tuhan. Ketika engkau telah mengalami sampai taraf ini, engkau telah sungguh-sungguh menikmati kasih Tuhan, dan ketika engkau memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Tuhan, Dia akan menjadi hidupmu, kasihmu, dan saat itulah engkau akan berdoa kepada Tuhan dan berkata: "Ya Tuhan! Aku tidak sanggup meninggalkan-Mu. Engkau adalah hidupku. Aku dapat bertahan tanpa semua yang lain—tetapi tanpa-Mu aku tidak sanggup terus hidup." Inilah tingkat pertumbuhan manusia yang sesungguhnya; inilah kehidupan yang nyata. Beberapa orang telah dipaksa untuk mencapai sejauh yang telah mereka capai saat ini: mereka harus terus maju entah mereka menginginkannya atau tidak, dan mereka selalu merasa seakan-akan diperhadapkan dengan situasi yang sangat sulit. Engkau harus mengalami sampai sedemikian rupa hingga Tuhan menjadi hidupmu, sedemikian rupa hingga jika Tuhan direnggut dari hatimu, rasanya akan seperti kehilangan hidupmu; Tuhan harus menjadi hidupmu, dan engkau haruslah tidak sanggup meninggalkan Dia. Dengan cara demikian, engkau akan benar-benar mengalami Tuhan, dan pada saat inilah, ketika engkau mengasihi Tuhan, engkau akan sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, dan kasih itu akan menjadi kasih yang murni yang satu-satunya. Suatu hari ketika pengalamanmu sampai sedemikian rupa hingga hidupmu telah mencapai titik tertentu, saat engkau berdoa kepada Tuhan, serta makan dan minum firman Tuhan, engkau tidak akan sanggup meninggalkan Tuhan di dalam hatimu, dan engkau tidak akan mampu melupakan-Nya, bahkan sekalipun ingin. Tuhan akan menjadi hidupmu; engkau sanggup melupakan dunia, engkau sanggup melupakan istrimu, suamimu, atau anak-anakmu, tetapi engkau akan mengalami kesulitan melupakan Tuhan—melakukannya tidak mungkin bagimu, inilah kehidupan sejatimu, dan kasih sejatimu kepada Tuhan. Ketika kasih manusia kepada Tuhan telah mencapai titik tertentu, kasih mereka akan hal-hal lain tidak dapat menyamai kasih mereka kepada Tuhan; kasih mereka kepada Tuhan menjadi yang utama. Dengan demikian engkau sanggup menyerahkan segalanya, dan rela menerima semua penanganan dan pemangkasan dari Tuhan. Pada saat engkau telah mencapai kasih kepada Tuhan yang melampaui segalanya, engkau akan hidup dalam kenyataan, dan dalam cinta Tuhan.

Dikutip dari "Mereka yang Mengasihi Tuhan akan Selamanya Hidup di Dalam Terang-Nya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Catatan kaki:

a. "menekuk siku" adalah sebuah ungkapan Tiongkok, yang berarti seseorang menolong orang lain dengan mengorbankan orang yang dekat dengan orang tersebut, contohnya, orang tua, anak-anak, kerabat atau saudara kandung.

4. Arti dari mendapatkan hidup dan apa yang dimaksud tidak memiliki hidup