75. Firman Tuhan Memimpin Jalan

75. Firman Tuhan Memimpin Jalan

Oleh Saudari Xiaocheng, Shaanxi

Firman Tuhan berkata: "Maksud Tuhan dalam menyingkapkan manusia bukanlah untuk menyingkirkan mereka, tetapi untuk membuat mereka bertumbuh" ("Hanya dengan Melakukan Firman Tuhan Bisa Terjadi Perubahan Watak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Di masa lalu, karena aku salah memahami maksud Tuhan untuk mengungkap manusia, setiap kali aku melakukan kesalahan dalam memenuhi tugasku atau menemui kesulitan, atau aku menghadapi kegagalan atau mengalami kemunduran, aku akan tinggal dalam keadaan negatif dan kesalahpahaman: dengan pasif mengendur dalam pekerjaanku, tidak mencari kehendak Tuhan, dan tidak merenung dalam batinku untuk mengenal diriku sendiri. Ini menyebabkan aku kehilangan banyak kesempatan untuk mendapatkan kebenaran. Berkat lingkungan yang Tuhan telah atur, juga pencerahan dan bimbingan dari firman-Nya, aku kemudian menemukan penyimpangan dalam pengalamanku sendiri dan menyadari bahwa Tuhan tidak mengungkap manusia untuk menyingkirkan kita, melainkan memungkinkan hidup kita untuk bertumbuh. Setelah memahami kehendak Tuhan, aku tidak lagi negatif atau salah paham terhadap Tuhan, dan aku menemukan jalan untuk menerapkannya dan mendapat jalan masuk ke dalam kebenaran.

Di gereja, tugas yang harus kupenuhi adalah mengatur dokumen. Selama beberapa waktu, oleh karena bimbingan Tuhan, aku telah mencapai beberapa hasil dalam memenuhi tugasku. Setelah merevisi dan menyusun materi Injil untuk diperiksa saudara-saudariku, mereka tidak menemukan masalah apa pun, tetapi ketika sampai pada materi Injil yang telah mereka susun sendiri, aku bukan saja dapat menemukan beberapa masalah, tetapi aku juga mampu merevisi dan memperbaiki masalah-masalah ini bagi mereka. Saudara-saudariku tidak berada dalam keadaan yang baik, tetapi aku dapat menggunakan pengalamanku sendiri untuk kusaksikan dan kusampaikan kepada mereka berdasarkan firman Tuhan, sehingga memampukan mereka untuk keluar dari keadaan mereka yang salah. Segera setelah ini terjadi kepadaku, aku merasa sangat gembira. Aku merasa seakan-akan aku telah bekerja dengan sangat baik dalam memenuhi tugasku, aku telah benar-benar menghasilkan beberapa kemajuan. Namun, alangkah terkejutnya aku, ketika dalam materi Injil yang telah kususun beberapa hari terakhir ini, berulang kali muncul masalah. Suatu hari, seorang saudari berkata kepadaku, "Kalimat-kalimat yang kau tulis dalam materi Injil biasanya lebih tepat. Bagaimana bisa ada begitu banyak kesalahan dalam dokumen ini?" Sebagai orang yang selalu mahir dalam merevisi kalimat, aku merasa agak kesulitan menerima ini. Aku berpikir dalam hati, "Aku telah bekerja sangat keras merevisi materi Injil ini, jadi bagaimana mungkin masih ada masalah dengan kalimat-kalimatnya?" Melihat koreksi yang saudari ini lakukan pada dokumen itu, aku merasa cukup tidak senang. Namun, aku tidak mencari kehendak Tuhan; aku sekadar memeriksa materi Injil ini sekali lagi dengan cepat dan menganggapnya selesai. Hari berikutnya, selagi memeriksa ulang sebuah materi Injil lainnya yang telah kurevisi, saudari yang sama ini tanpa kuduga mengatakan bahwa garis pemikiranku dalam revisi yang kubuat tidak jelas dan aku telah gagal membangun gagasan keseluruhan dari materi Injil tersebut. Ia bahkan mengatakan bahwa penanggung jawab juga telah melihat materi ini, dan berpandangan sama. Mendengarnya mengatakan ini, jantungku berdegup kencang di telingaku. Aku berpikir dalam hati, "Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin aku telah gagal membangun alur pemikiran yang jelas dalam kalimat-kalimatku, atau gagal menyampaikan makna kontennya secara keseluruhan? Sekarang, saudari ini bukan hanya menganggap bahwa pekerjaanku tidak sebaik yang diharapkan, tetapi penanggung jawab pun merasakan hal yang sama. Bukankah itu menunjukkan bahwa sebenarnya ada kekurangan yang besar dalam jalan pemikiran di seluruh dokumen? Sekarang karena aku tidak mampu menangkap masalah-masalah yang mencolok seperti ini, apakah aku telah kehilangan pekerjaan Roh Kudus? Apakah ada masalah dengan kualitasku sebagai manusia? Apakah aku tidak layak memenuhi tugas ini?..." Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa lemah; aku telah sepenuhnya salah memahami Tuhan, dan aku merasa bahwa Tuhan tidak lagi bekerja dalam diriku dan Ia telah mengabaikan aku. Pada saat makan siang, aku melihat saudari-saudariku berbicara dan tertawa bersama, tetapi aku tidak dapat menghibur diriku.

Saat itulah, aku ingat satu bagian dari perkataan Tuhan: "Ketika orang tidak memahami atau melakukan kebenaran, mereka sering hidup di tengah watak Iblis yang rusak. Mereka berada di tengah berbagai jerat Iblis, memeras otak mereka demi masa depan, reputasi, kedudukan, dan kepentingan pribadi mereka yang lain. Namun, jika engkau menerapkan sikap ini dalam melakukan tugasmu, dalam mencari dan mengejar kebenaran, engkau akan mendapatkan kebenaran" ("Cara Mengatasi Sikap Ceroboh dan Asal-asalan Ketika Melakukan Tugasmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan menyadarkanku. Aku menjadi tenang dan mulai memikirkan kembali semuanya. Masalah demi masalah telah muncul dalam dokumen yang telah kurevisi beberapa hari yang lalu, tetapi bahkan saat menghadapi penyingkapan seperti ini, aku sama sekali tidak mencari kehendak Tuhan. Aku juga tidak berusaha menyelami apa penyebab munculnya masalah-masalah ini dalam memenuhi tugasku, apakah semua itu muncul karena ada masalah dengan watak dan niatku ataukah karena aku belum memperoleh penguasaan dalam pekerjaanku dan belum memahami prinsip-prinsip tertentu dengan sangat baik, ataukah karena aku tidak berusaha mencari tahu bagaimana agar dapat menghindari kesalahan sama yang muncul di masa depan sehingga aku dapat mencapai hasil yang lebih baik dalam memenuhi tugasku. Aku sama sekali tidak mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan praktis ini; sebaliknya, pikiranku sepenuhnya sibuk bertanya-tanya bagaimana orang lain akan memandangku, dan apakah Tuhan ingin mengungkap diriku dan menyingkirkan aku. Aku telah menghabiskan seluruh waktuku merenungkan cara-cara yang bengkok ini, sama sekali tidak memikirkan tentang jalan yang benar, dan sebagai akibatnya, semakin aku merenungkan, semakin aku menjadi negatif dan semakin aku merasa tertekan, dan aku telah kehilangan minatku untuk memenuhi tugasku. Baru pada saat itulah aku melihat penyimpangan dalam pengalamanku. Setelah diungkapkan oleh Tuhan, aku tidak berfokus mencari kebenaran dan menyelesaikan masalahku, tetapi aku malah memikirkan reputasi dan kedudukanku, juga masa depan dan nasibku. Aku telah dibodohi oleh Iblis, yang telah membuatku percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tanpa pernah mencapai jalan masuk kehidupan. Aku tidak bisa terus berada dalam keadaan tertekan seperti ini. Aku perlu mencari kehendak Tuhan dalam lingkungan seperti ini, merenungkan dalam batinku untuk mengenal diriku sendiri dan memasuki kenyataan firman Tuhan.

Aku datang ke hadapan Tuhan untuk merenungkan diriku sendiri: mengapa aku selalu tidak bisa menerima fakta yang diungkapkan? Mengapa, setiap kali masalah muncul dalam memenuhi tugasku, aku selalu menderita hal-hal semacam itu? Apa sebenarnya alasan untuk ini? Melalui berdoa dan mencari, aku teringat firman Tuhan: "Di dalam watak manusia yang rusak terdapat masalah nyata yang tidak engkau semua sadari; ini adalah masalah yang paling serius, dan masalah yang umum pada kemanusiaan setiap orang. Inilah titik terlemah manusia, serta sebuah unsur dari esensi natur manusia yang paling sulit untuk disingkapkan dan diubah. Manusia sendiri adalah objek penciptaan. Mampukah objek penciptaan mencapai kemahakuasaan? Mampukah mereka mencapai kesempurnaan dan keadaan tanpa cela? Mampukah mereka mencapai kemahiran dalam segala sesuatu, memahami segala sesuatu, dan mencapai segala sesuatu? Mereka tidak mampu, bukan? Namun, di dalam diri manusia, terdapat suatu kelemahan. Begitu mereka mempelajari sebuah keterampilan atau profesi, manusia merasa bahwa mereka mampu, bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan dan nilai, dan bahwa mereka adalah semacam profesional. Tidak peduli sejauh mana kemampuan mereka, ketika mereka unggul dan memiliki bakat yang menyolok, mereka ingin mengemas diri sendiri, menyamar sebagai tokoh penting, serta tampil sempurna dan tanpa cela, tanpa satu pun kekurangan; mereka ingin menjadi hebat, kuat, penuh kemampuan, dan mahakuasa di mata orang lain... Berkenaan dengan kelemahan, kekurangan, ketidaktahuan, kebodohan, atau kurangnya pemahaman tentang kemanusiaan yang normal, mereka akan menyembunyikannya, mengemasnya, tidak membiarkan orang lain melihatnya, dan kemudian terus menyamarkan diri. Orang-orang semacam itu selalu hidup dalam angan-angan, bukan? Tidakkah mereka sedang bermimpi? Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, mereka juga tidak tahu bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal. Mereka tidak sekali pun pernah bertindak seperti manusia yang nyata. Dalam bertingkah laku, jika orang memilih jalan semacam ini—selalu hidup dalam angan-angan alih-alih hidup dalam kenyataan, selalu ingin terbang—mereka pasti akan menemui masalah. Terus-terang, jika engkau melakukan hal ini, tidak peduli bagaimanapun engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak akan memahami kebenaran, engkau juga tidak akan mampu mendapatkan kebenaran, karena jalan dalam kehidupan yang kaupilih ini tidak benar, dan titik tolakmu salah. Engkau harus belajar cara berjalan di atas tanah, dan cara berjalan dengan mantap, selangkah demi selangkah. Jika engkau dapat berjalan, berjalanlah; jangan mencoba belajar cara berlari. Jika engkau dapat berjalan selangkah demi selangkah, jangan mencoba untuk berjalan dua langkah sekaligus. Engkau harus menjadi orang yang memijakkan kaki dengan kuat di atas tanah. Jangan mencoba untuk menjadi manusia super, hebat, atau mulia"

"Manusia, yang didominasi oleh watak iblis dalam diri mereka, memiliki beberapa ambisi dan keinginan di dalam diri mereka, yang tersembunyi di dalam kemanusiaan mereka. Artinya, manusia tidak pernah ingin tetap menginjak bumi; mereka selalu ingin naik ke angkasa. Apakah angkasa tempat tinggal manusia? Itu tempat bagi Iblis, bukan tempat untuk manusia. Saat menciptakan manusia, Tuhan menempatkan mereka di bumi sehingga kehidupan sehari-harimu benar-benar normal dan gaya hidupmu disiplin, sehingga engkau dapat mempelajari pengetahuan umum tentang bagaimana menjadi manusia, dan belajar cara menjalani hidupmu dan cara menyembah Tuhan. Tuhan tidak memberimu sayap; Dia tidak mengizinkanmu tinggal di angkasa. Mereka yang bersayap adalah burung, dan yang berkeliaran di angkasa adalah Iblis dan roh jahat serta setan najis. Itu semua bukan manusia! Jika manusia terus memiliki ambisi seperti itu, selalu ingin menjadikan diri mereka luar biasa dan unggul, berbeda dari orang lain, dan istimewa, itu adalah sebuah masalah! Pertama-tama, sumber pemikiranmu itu salah. 'Luar biasa dan unggul'—pemikiran macam apa ini? 'Jauh lebih baik dari orang lain,' 'mengalahkan semua tandingan,' 'tanpa kekurangan dan sempurna,' 'bagus tiada bandingannya,' 'membuat lompatan maju yang istimewa'—ketika digunakan dalam tujuan yang dikejar manusia, apakah ungkapan ini baik atau buruk? 'Luar biasa,' 'sangat baik,' 'bakat khusus,' 'kehadiran yang sangat kuat,' 'kepribadian yang menarik,' 'sangat memesona,' 'terkenal dan hebat,' 'diidolakan'—Apakah ini tujuan yang harus dikejar orang dalam bertingkah laku? Adakah satu kata saja dalamseluruh kebenaran yang mengatakan kepadamu untuk menjadi orang semacam itu? (Tidak.)" ("Lima Kondisi yang Dimiliki Manusia Sebelum Mereka Memasuki Jalur yang Benar dalam Percaya kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Dalam keadaan normal, tak seorang pun pintar dalam segala hal, tak seorang pun 'menguasai semua keterampilan.' Tidak peduli betapapun berkembangnya otakmu, betapapun luasnya wawasanmu, akan selalu ada hal-hal yang tidak engkau mengerti atau sadari, keterampilan atau kecakapan yang tidak engkau ketahui; di setiap jenis bisnis atau setiap pekerjaan, akan selalu ada celah dalam pengetahuanmu sendiri yang tidak engkau sadari, akan selalu ada hal-hal yang tidak mampu engkau lakukan, atau yang berada di luar jangkauanmu" ("Hanya dengan Melakukan Firman Tuhan Bisa Terjadi Perubahan Watak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Hanya setelah merenungkan firman Tuhan dan membandingkannya dengan keadaanku, aku mendapati bahwa aku tidak pernah bisa menerima diriku untuk diungkapkan oleh-Nya. Alasan untuk ini adalah karena aku telah begitu didominasi oleh natur Iblis dalam diriku yang congkak; aku selalu berusaha menjadi orang yang sempurna, tidak punya kekurangan, luhur, dan gagah berani. Ke mana pun aku pergi atau di mana pun aku memenuhi tugasku, aku selalu ingin untuk menjadi orang yang paling menonjol, paling terkemuka. Aku merasa sepertinya aku harus menjadi orang semacam itu agar bisa berhasil, dan kalau tidak, aku akan menjadi orang yang tidak ada apa-apanya dan gagal. Oleh karena itu, setiap kali masalah muncul ketika aku memenuhi tugasku, aku tidak menghadapinya dengan tenang, menerima pengungkapan seperti ini oleh Tuhan dan mengakui kekuranganku sendiri. Sebaliknya, aku merasa terperangah dan merasa bahwa aku seharusnya tidak melakukan kesalahan apa pun, bertanya-tanya bagaimana hal seperti itu bisa terjadi─sampai-sampai aku bahkan hidup dalam keadaan kenegatifan dan kesalahpahaman, tidak mampu memperlakukan diriku sendiri dengan benar. Aku benar-benar tidak mengenal diriku dengan baik, dan menganggap diriku sendiri terlalu tinggi! Firman Tuhan menjadikannya jelas bahwa aku selalu berusaha untuk menjadi orang yang sempurna, tidak punya kekurangan, dan seorang yang luhur; ini sepenuhnya berasal dari ambisi dan keinginan Iblis. Iblislah yang telah menggoda dan merusak aku, padahal aku sebenarnya hanyalah objek penciptaan, yang selamanya tidak mampu mencapai kesempurnaan. Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk menjadi luhur atau sempurna; Ia ingin kita rendah hati, membuat kemajuan yang stabil, dan menjaga diri kita dengan kejujuran sepenuhnya. Dengan menggunakan level dan tingkat pertumbuhan apa pun yang kumiliki sebagai dasar, aku seharusnya menjalankan fungsiku, belajar untuk tunduk pada pekerjaan Tuhan dan melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk memenuhi tugasku; baru pada saat itulah aku memiliki rasionalitas yang sesuai sebagai objek penciptaan. Tidak seorang pun yang sempurna; semua orang biasa melakukan kesalahan dan memiliki cara-cara mereka sendiri yang tidak mencapai standar. Penyimpangan atau masalah yang telah muncul dalam memenuhi tugasku adalah hal yang cukup normal, dan dengan benar-benar diungkapkan, aku telah menemukan kekuranganku sendiri. Hanya dengan terus memperbaiki dan menebus kekurangan itu, aku akan mampu maju lebih jauh lagi dan melakukan pekerjaanku dengan lebih baik lagi dalam memenuhi tugasku. Jika aku tidak menangani masalah dan kekuranganku dengan benar, dan tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikannya, bagaimana aku dapat membuat kemajuan? Baru pada saat itulah, aku menyadari betapa aku telah didominasi oleh keinginan dan ambisiku. Aku telah tumbuh menjadi sangat sombong sehingga aku sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang diriku sendiri; upayaku untuk menjadi orang yang sempurna sepenuhnya bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan dengan demikian, aku tidaklah mungkin memperoleh berkat dan bimbingan-Nya.

Kembali, aku membaca firman Tuhan: "Maksud Tuhan dalam menyingkapkan manusia bukanlah untuk menyingkirkan mereka, tetapi untuk membuat mereka bertumbuh. Terlebih lagi, terkadang engkau berpikir bahwa engkau sedang disingkapkan, padahal sebenarnya tidak. Sering kali, itu disebabkan kualitas manusia rendah dan mereka tidak memahami kebenaran, ditambah lagi mereka memiliki watak yang congkak, suka memamerkan diri sendiri, memiliki watak pemberontak, tidak memiliki hati nurani, ceroboh, dan masa bodoh; mereka melakukan pekerjaan mereka dengan buruk, dan tidak melakukan tugas mereka dengan baik. Di samping itu, kadang kala engkau tidak mengingat prinsip-prinsip yang telah ditanamkan dalam dirimu, membiarkannya masuk ke telinga yang satu dan ke luar dari telinga lainnya. Engkau berbuat sesuka hati, bertindak sebelum bersekutu lebih banyak dengan orang lain dan menjadi hukum bagi dirimu sendiri. Apa yang engkau lakukan kecil pengaruhnya dan bertentangan dengan prinsip. Dalam hal ini, engkau harus didisiplinkan—tetapi bagaimana bisa dikatakan bahwa engkau telah disingkirkan? Engkau harus menangani hal ini dengan benar. Apa cara yang benar untuk menanganinya? Dalam perkara-perkara di mana engkau tidak memahami kebenaran, engkau harus mencari. Bukan sekadar berusaha memahami doktrin, dan tidak lebih dari itu. Engkau haruslah memahami kehendak Tuhan, dan memahami prinsip di balik cara keluarga Tuhan melakukan pekerjaan tertentu. Apa prinsipnya? Prinsipnya bukanlah doktrin. Ada beberapa kriteria, dan engkau harus mencari apa hukumnya mengenai pengaturan pekerjaan untuk perkara-perkara semacam itu, apa yang telah diperintahkan oleh yang di atas berkenaan dengan melakukan pekerjaan semacam itu, apa yang dikatakan firman Tuhan tentang melakukan tugas semacam ini, dan bagaimana memuaskan kehendak Tuhan. Apa kriteria untuk memuaskan kehendak Tuhan? Bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran. Petunjuk secara garis besar adalah mengutamakan kepentingan keluarga Tuhan dan pekerjaan keluarga Tuhan terlebih dahulu. Secara lebih sempit, dalam semua aspek, tidak boleh ada masalah yang besar, dan Tuhan tidak boleh dipermalukan. Jika manusia menguasai prinsip-prinsip ini, apakah kekhawatiran mereka lambat-laun akan berkurang? Apakah kesalahpahaman mereka juga akan mereda? Begitu engkau mengesampingkan kesalahpahamanmu dan tidak memiliki pemikiran yang tak masuk akal tentang Tuhan, hal-hal yang negatif perlahan-lahan akan berhenti memegang kedudukan yang dominan dalam dirimu, dan engkau akan menangani perkara semacam itu dengan benar. Itulah sebabnya penting untuk mencari kebenaran dan berusaha memahami kehendak Tuhan" ("Hanya dengan Melakukan Firman Tuhan Bisa Terjadi Perubahan Watak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan membuatku mengerti bahwa pengungkapan diriku oleh-Nya bukanlah untuk menyingkirkan aku, tetapi untuk memungkinkanku menemukan kekurangan dalam memenuhi tugasku dan agar aku belajar bagian mana dari watakku yang rusak yang masih menghalangi aku memenuhi tugasku, sehingga aku dapat menyelesaikan masalah-masalah ini tepat pada waktunya, dapat terus meningkatkan hasil pekerjaanku menjadi lebih tinggi, dan mengubah watak hidupku sesegera mungkin. Setelah memahami kehendak Tuhan, aku menenangkan diriku dan mencari alasan di balik masalah yang muncul pada kedua revisi materi Injil yang baru-baru ini kulakukan. Memikirkan tentang hal ini dengan sangat saksama, aku menyadari bahwa setiap kali aku melihat beberapa perbaikan dalam pengaturan dokumenku, aku akan berdiam dalam penghargaan diri dan kepuasan diri. Aku tidak lagi berjuang untuk mencapai kemajuan, dan setelah penanganan materi selanjutnya, aku melakukannya secara sembarangan, sekadar asal-asalan melakukannya. Berkaitan dengan detail kebenaran yang terdapat dalam materi itu, aku tidak mencari prinsip-prinsip di baliknya meskipun aku tidak memahaminya; aku sekadar memiliki gagasan kasar tentang apa yang dimaksud dan terus berada dalam keadaanku yang bingung. Dengan demikian, bukankah tidak mengherankan jika masalah pun muncul dalam pemenuhan tugasku? Setelah memikirkannya, aku menyadari bahwa jika aku mencari kebenaran untuk menyelesaikan kerusakanku sendiri dan mengerahkan lebih banyak upaya untuk dengan rajin menyelesaikan tugasku, masalah-masalah ini sebenarnya bisa dihindari. Dengan mengungkapkan fakta-fakta ini, Tuhan telah mengizinkan aku untuk mengenali watak rusakku dan sikapku sendiri dalam memenuhi tugasku, sehingga aku dapat mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah ini. Bukankah ini justru merupakan kasih Tuhan bagiku? Kesadaran ini mencerahkan hatiku: aku menyadari bahwa aku harus berhenti salah paham terhadap Tuhan dan aku harus bergegas dan menyesuaikan keadaanku untuk mengabdikan hatiku dalam memenuhi tugasku. Setelah itu, aku berkumpul dengan penanggung jawab untuk lebih jauh lagi mengeksplorasi pemikiran dalam materi Injil dan, berdasarkan prinsip-prinsip itu, menentukan ke arah mana revisi harus dilakukan. Keesokan harinya, ketika aku mengulanginya lagi, aku terkejut karena beberapa bagian penting dapat ditambahkan, dan pada saat aku selesai merevisinya, aku merasa jauh lebih yakin dan tenang.

Pengalaman ini membuatku menyadari bahwa jika ada penyimpangan atau masalah dalam memenuhi tugasku, aku tidak boleh takut, aku juga tidak boleh takut jika Tuhan mengungkapkan diriku. Yang menakutkan adalah, jika setelah diungkapkan, aku tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalahku, dan kemudian berdiam dalam keadaan negatif sembari terus-menerus membatasi diriku sendiri, dan dengan demikian kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh kebenaran serta menunda kemajuanku dalam hidup. Mulai sekarang, apa pun kemunduran atau kegagalan yang mungkin kuhadapi, aku ingin selalu mencari kebenaran di hadapan Tuhan, melakukan perenungan diri untuk mengenal diriku sendiri, menggunakan firman Tuhan untuk menyelesaikan watakku yang rusak, mencari jalan masuk ke dalam kebenaran. Hanya melakukan dengan cara ini, aku akan dapat semakin banyak membuat kemajuan dalam hidupku dan semakin lama semakin mahir dalam melakukan tugasku.

75. Firman Tuhan Memimpin Jalan