91. Perpisahan dengan Bersikap "Baik"

91. Perpisahan dengan Bersikap "Baik"

Oleh Saudari Lin Fan, Spanyol

Masa kecilku dihabiskan di tengah suara ibu tiriku yang menjerit-jerit dan mengutuk. Belakangan, setelah aku lebih mengerti, demi bisa akur dengan ibu tiriku dan orang-orang di sekitarku, aku hidup berdasarkan hukum-hukum bertahan hidup si Iblis, yakni "Lebih baik tetap diam daripada menunjukkan masalahnya; tetaplah diam untuk melindungi diri sendiri dan berusahalah agar tidak disalahkan," dan "Tidak membicarakan kesalahan teman-teman baik menghasilkan persahabatan yang lama dan berkualitas." Ini membuatku memperoleh pujian dari orang lain dan membuat semua orang mengatakan bahwa aku mudah bergaul. Secara bertahap, aku menyaring beberapa pelajaran hidup: jika ingin bertahan hidup di tengah masyarakat yang gelap dan jahat ini, aku harus bergaul baik dengan orang-orang di sekitarku. Hanya dengan demikianlah aku bisa diterima lingkungan. Setelah datang ke gereja, aku masih bertindak dengan prinsip-prinsip yang sama. Setiap kali menghadapi masalah ketika melaksanakan tugasku, aku akan tetap diam, takut jika menunjukkan masalahnya, aku akan menyinggung orang dan itu akan berdampak buruk bagiku. Kegagalanku untuk menerapkan kebenaran merugikan pekerjaan gereja dan merupakan pelanggaran di hadapan Tuhan. Hajaran dan penghakiman firman Tuhan menunjukkan kepadaku diriku yang sebenarnya sebagai orang yang bersikap "baik", dan memungkinkanku memperoleh beberapa pengetahuan mengenai hakikat dari orang-orang yang bersikap "baik". Aku melihat bahwa bersikap "baik" merugikan orang lain dan melukai diriku sendiri, bahwa aku telah mengambil jalan tanpa bisa berbalik—jalan menentang Tuhan—jadi aku pun bertekad untuk menyingkirkan kendalaku, yaitu memiliki mentalitas "bersikap baik", memiliki keberanian untuk menerapkan kebenaran dan mematuhi prinsip, serta hidup dalam sedikit keserupaan dengan seorang yang jujur.

Pada tahun 2018, aku terpilih untuk menjadi pemimpin tingkat menengah. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena memberiku kesempatan ini untuk berlatih, dan aku bertekad untuk melakukan tugasku dengan benar, untuk memuaskan Tuhan, dan memenuhi harapan Tuhan atas diriku. Saat baru menerima tugasku, aku tidak terlalu paham dengan beberapa urusan gereja. Saudari Liu, yang bekerja sama denganku, telah melakukan tugas ini selama lebih dari satu tahun dan relatif memahami berbagai aspek pekerjaan gereja. Setiap kali menghadapi masalah, aku akan bertanya kepada Saudari Liu, dan ia sering menolongku. Namun, lama-kelamaan aku menyadari bahwa selama kebaktian, Saudari Liu hanya membicarakan huruf-huruf tertulis dan doktrin, dan tidak memiliki kenyataan menerapkan firman Tuhan. Ia juga sangat pasif dan tidak melakukan pekerjaan yang nyata ketika melaksanakan tugasnya. Ketika saudara dan saudari melaporkan masalah kepadanya, ia tidak berusaha menyelesaikannya; ia, terutama, tidak menangani para pemimpin palsu di gereja yang perlu untuk segera diganti, tetapi malah terus menunda masalahnya. Selama masa ini, Saudari Liu menyebutkan beberapa kali tentang bagaimana pemimpin gereja bernama Saudari Zhang hanya melakukan formalitas, bagaimana ia tidak pernah melakukan pekerjaan nyata ketika melaksanakan tugasnya, dan tidak mengatakan apa pun selain huruf-huruf tertulis dan doktrin selama kebaktian. Terlebih lagi, Saudari Zhang bahkan tidak mau menerima saran ataupun bantuan dari orang lain. Namun, setelah mengatakan ini, Saudari Liu tampaknya tidak berniat mengganti Saudari Zhang. Kemudian, ketika bertemu dengan Saudari Zhang, aku mendapati bahwa ia benar-benar seperti yang Saudari Liu katakan tentang dirinya, jadi aku berkata kepada Saudari Liu, "Dipandang dari apa yang terwujudkan dalam diri Saudari Zhang, menurut prinsip, ia adalah seorang pemimpin palsu yang tidak mengejar kebenaran, tidak melakukan pekerjaan yang nyata, dan tanpa pekerjaan Roh Kudus. Ia harus diganti." Namun, Saudari Liu hanya menjawab dengan nada ringan, "Saudari Zhang mungkin tidak cukup cakap, tetapi saat ini ia masih dapat melakukan beberapa pekerjaan. Mari kita coba dan bantu dia." Dalam hati, aku berpikir, "Dalam pengaturan kerja kita, dikatakan bahwa begitu pemimpin palsu ditemukan di gereja, mereka harus diganti tepat pada waktunya. Saudari Zhang sudah jelas terungkap sebagai seorang pemimpin palsu, jadi ia harus diganti!" Aku baru saja akan membuka mulutku untuk mengatakan ini, ketika terpikir dalam hatiku, "Saudari Liu sudah lama sekali melaksanakan tugasnya sebagai seorang pemimpin, ia pasti menyadari persyaratan dalam pengaturan kerja. Jika aku bersikeras, akankah ia berpikir bahwa aku mengatakan ia tidak melakukan pekerjaan nyata, akankah ia berpikir aku menciptakan keributan dan sulit bergaul? Oh! Aku masih baru dalam hal ini dan ada banyak yang tidak kumengerti. Aku juga akan bekerja bersamanya untuk sementara waktu—jika aku berselisih dengan Saudari Liu karena hal ini, bagaimana kami akan melaksanakan tugas kami bersama-sama? Aku harus melupakannya saja!" Memikirkan ini, aku pun tidak mengatakan apa-apa lagi.

Kemudian, aku bersekutu beberapa kali dengan Saudari Zhang, tetapi tidak ada perbaikan dalam keadaannya. Kemudian saudara-saudari lain di gereja memberitahukan kepadaku bahwa Saudari Zhang tidak melakukan pekerjaan yang nyata, dan aku menyadari bahwa masalah ini sangat mendesak. Tanpa membuang waktu, aku kembali mendatangi Saudari Liu untuk membahas tentang mengganti Saudari Zhang. Namun Saudari Liu mulai membuat alasan: "Para pemimpin tingkat atas sedang memverifikasi surat tuduhan. Ia akan diganti setelah mereka mengonfirmasi bahwa ia adalah seorang pemimpin palsu." Dalam hati, aku berpikir, "Jika ia benar-benar pemimpin palsu, ia harus diganti sesegera mungkin. Jika kami menunggu mereka memverifikasi sebelum menggantinya, pekerjaan gereja akan tertunda, dan masuknya saudara-saudari ke dalam kehidupan pun akan tertunda. Ini melawan Tuhan!" Aku ingin mengatakan kepada Saudari Liu tentang pentingnya mengganti pemimpin palsu, tetapi kemudian aku berpikir: "Jika aku menegaskan tentang mengganti Saudari Zhang, akankah Saudari Liu berpikir bahwa aku terlalu congkak dan sombong, bahwa aku hanya berusaha membuktikan diri di posisi baruku dengan memamerkan diriku di sini? Terlebih lagi, Saudari Liu tidak mengatakan bahwa Saudari Zhang tidak akan ditangani; ia hanya mengatakan untuk menunggu konfirmasi dari para pemimpin tingkat atas sebelum melakukan sesuatu—jadi lebih baik aku diam. Ini hanya akan beberapa hari saja." Dengan demikian, aku menyimpan kata-kataku untuk diriku sendiri. Beberapa hari kemudian, pemimpin tingkat atas membuat kami para pemimpin tingkat menengah mendapat teguran keras karena tidak dengan segera menangani pemimpin palsu di gereja. Mereka berkata bahwa kami tidak melindungi umat pilihan Tuhan, bahwa kami adalah kaki tangan, perisai si Iblis, bahwa kami mencelakakan saudara-saudari yang lain. Baru setelah itulah, Saudari Zhang dengan cepat diberhentikan. Sementara masalah ini sedang diselesaikan, aku mendapati bahwa Saudari Zhang sudah sejak lama tidak melakukan pekerjaan nyata apa pun. Ia tidak pernah efektif dalam pekerjaan Injil di gereja yang menjadi tanggung jawabnya, dan saudara-saudari semuanya hidup di tengah kenegatifan dan kelemahan. Beberapa orang bahkan tidak mau pergi ke kebaktian. Melihat kerugian besar yang ditimbulkan terhadap gereja akibat tidak dengan segera menangani pemimpin palsu, aku merasakan teguran sangat keras di hatiku. Namun, aku tidak menghabiskan lebih banyak waktu untuk merenungkan masalah ini, dan berusaha mengenal diriku sendiri, menganggap bahwa Saudari Zhang telah diganti, itu sudah cukup.

Selanjutnya, masalah-masalah serius mulai bermunculan di semua aspek pekerjaan dari gereja-gereja yang menjadi tanggung jawab Saudari Liu. Ketika ia dipangkas dan ditangani oleh para pemimpin tingkat tinggi, ia bukan saja tidak bertobat, tetapi ia hidup dalam kenegatifan dan penentangan, tidak lagi bersedia melaksanakan tugasnya. Melihat keadaan Saudari Liu, aku ingin menunjukkan masalah-masalah ini kepadanya sehingga ia bisa merenungkannya, tetapi aku juga khawatir, "Jika aku mengatakan kepadanya untuk merenungkan dirinya sendiri, akankah ia berkata bahwa aku tidak menunjukkan pertimbangan terhadapnya, bahwa aku tidak mengasihinya? Akan sangat sulit bekerja sama jika keadaan di antara kami dingin." Setelah memikirkannya, aku bersekutu dengannya tentang kehendak Tuhan dengan cara yang sangat berputar-putar, dan menasihatinya untuk berhenti bersikap negatif. Setelah itu, Saudari Liu sering mengeluh dan berdebat tentang yang benar dan yang salah─ia jelas tanpa pekerjaan Roh Kudus. Aku berpikir tentang bagaimana Saudari Liu tidak pernah melakukan pekerjaan nyata sejak kami melaksanakan tugas kami bersama, dan tentang bagaimana ketika ia dipangkas dan ditangani, ia tidak mau menerimanya ataupun berusaha mencari kebenaran. Semua ini adalah perwujudan pemimpin palsu! Pada saat itulah para pemimpin tingkat atas memintaku untuk menulis evaluasi tentang Saudari Liu. Aku benar-benar merasakan pertentangan di hatiku: haruskah aku jujur tentang apa yang biasanya terwujud dalam diri Saudari Liu? Jika tidak melaporkannya, aku sedang melindungi seorang pemimpin palsu dan tidak menjunjung tinggi pekerjaan rumah Tuhan. Namun, sebagian besar saudara-saudari tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mereka tidak dapat mengetahui ini, dan semuanya sangat mendukung Saudari Liu. Jika aku membeberkan semua ini dan melaporkan masalahnya, apakah mereka akan berpikir buruk tentang aku? Terlebih lagi, aku tinggal bersama Saudari Liu setiap hari. Ia telah menolongku ketika aku punya masalah. Jika aku melaporkan masalah dirinya dan ia benar-benar diganti, apakah ia akan membenciku? Jadi, setelah memikirkan keuntungan dan kerugiannya, aku menganggap enteng wujud kegagalan Saudari Liu untuk melakukan pekerjaan nyata, dan kurangnya jalan masuknya ke dalam kehidupan dalam evaluasi yang kutulis. Setelah evaluasi kuserahkan, hatiku merasa sangat gelisah. Aku menyadari bahwa aku telah menyembunyikan fakta dan menipu Tuhan. Dalam rohku, aku merasakan tuduhan yang kuat. Selama beberapa hari selanjutnya, aku tertidur ketika membaca firman Tuhan, dan tidak dicerahkan ataupun diterangi selama kebaktian dan persekutuan. Aku tidak dapat merasakan bimbingan Tuhan, juga tidak mampu mengenali masalah di gereja. Beberapa hari kemudian, setelah melakukan penyelidikan dan mengonfirmasi bahwa Saudari Liu adalah seorang pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata, para pemimpin tingkat atas memberhentikannya. Walaupun Saudari Liu telah diberhentikan, demi mempertahankan hubunganku dengannya, aku telah meninggalkan kebenaran dan melakukan pelanggaran. Memikirkan hal ini, aku diliputi perasaan malu dan merasa sangat tertuduh. Aku segera berdoa kepada Tuhan dan mulai merenungkan diriku sendiri.

Kemudian, aku membaca di dalam firman Tuhan bahwa "Komponen paling mendasar dan penting dari kemanusiaan seseorang adalah hati nurani dan akal. Orang macam apakah yang tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki akal kemanusiaan yang normal? Secara umum, ia adalah orang yang kurang memiliki kemanusiaan atau ia memiliki kemanusiaan yang buruk. ... Ia asal-asalan dalam tindakan-tindakannya, dan menjauh dari hal-hal yang tidak menarik baginya secara pribadi. Ia tidak memikirkan kepentingan rumah Tuhan dan tidak menunjukkan perhatian pada maksud Tuhan. Ia tidak terbeban untuk bersaksi bagi Tuhan atau melakukan tugasnya dan tidak memiliki rasa tanggung jawab. ... Bahkan ada sebagian orang yang melihat masalah dan diam saja. Mereka melihat bahwa orang lain mengganggu dan menyela dan mereka tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya. Mereka tidak memikirkan kepentingan rumah Tuhan sedikit pun juga, mereka juga tidak memikirkan tugas atau tanggung jawab yang terikat dengan mereka sedikit pun. Mereka berbicara, bertindak, berdiri, berusaha, menghabiskan energi hanya untuk kesia-siaan, muka, posisi, kepentingan, dan reputasi mereka sendiri" ("Engkau Dapat Memperoleh Kebenaran Setelah Menyerahkan Hatimu yang Sejati kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku juga membaca sebuah persekutuan yang berbunyi seperti ini, "Semua orang yang melihat kemunculan pemimpin palsu dan antikristus, yang mampu mengenali mereka, tetapi tidak melakukan tanggung jawab mereka, tidak melindungi umat pilihan Tuhan, juga tidak menjunjung tinggi pekerjaan Tuhan, takut menyinggung orang, bersikap 'baik'—orang-orang semacam itu tidak mengasihi Tuhan, dan Tuhan tidak menyempurnakan orang-orang seperti itu. Tuhan tidak menyempurnakan orang-orang yang bersikap ‘baik’; orang-orang seperti ini licin, licik, berbahaya, mereka condong ke arah mana pun angin bertiup, tidak ada yang baik dalam diri mereka, mereka khas merupakan setan-setan dan Iblis" ("Hubungan Antara Mengejar Kasih akan Tuhan dan Disempurnakan" dalam "Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan IX"). Membaca firman Tuhan dan persekutuan ini membuatku sangat tertekan, dan aku tidak dapat menahan air mataku karena perasaan malu. Aku melihat bahwa aku adalah seorang yang bersikap "baik," bahwa aku akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan demi melindungi diriku sendiri ketika sesuatu terjadi, tidak melakukan apa pun untuk menjunjung tinggi kepentingan rumah Tuhan, dan tidak punya rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan gereja dan masuknya saudara-saudari ke dalam kehidupan. Aku tahu betul bahwa Saudari Zhang telah terungkap sebagai pemimpin palsu. Pekerjaan gereja dan masuknya saudara-saudari ke dalam kehidupan, yang menjadi tanggung jawabnya telah terhalangi, dan aku tahu bahwa tidak dengan segera menyingkirkan pemimpin palsu adalah dosa terhadap Tuhan dan menyinggung watak Tuhan, tetapi aku lebih memilih untuk melawan hati nuraniku dan tidak menyenangkan Tuhan daripada tidak menyenangkan manusia—sebagai akibatnya, si pemimpin palsu terus merugikan umat pilihan Tuhan di gereja selama lebih dari dua bulan. Sekalipun demikian, aku tetap tidak menyelidiki batinku sendiri. Ketika masalah serius muncul dalam berbagai pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Saudari Liu, dan ia bukan saja tidak mau menerima dirinya dipangkas dan ditangani oleh para pemimpin tingkat atas, tetapi ia juga menolaknya dengan kenegatifan, aku seharusnya segera memberi pertolongan dan memberinya petunjuk-petunjuk, dan seharusnya aku telah mengungkapkan dan membedah natur dan konsekuensi dari perwujudan seperti itu, sehingga saudari itu dapat segera bertobat. Namun, aku melindungi kepentinganku sendiri, dan hanya memberikan beberapa kata penghiburan dan nasihat. Ketika aku diminta untuk menuliskan evaluasi tentang Saudari Liu, aku dengan jelas menyadari bahwa ia sudah kehilangan pekerjaan Roh Kudus, bahwa ia tidak dapat memecahkan masalah-masalah di gereja, bahwa ia adalah seorang pemimpin palsu—tetapi demi melindungi statusku sendiri, aku telah mencoba menyembunyikan fakta sebenarnya, dan melindungi Saudari Liu. Aku melihat bahwa aku telah melindungi pemimpin palsu berulang kali, dan aku lebih memilih pekerjaan gereja dirugikan daripada menerapkan kebenaran dan menaati kebenaran, bahwa aku hanya memedulikan kepentinganku sendiri, dan tidak sedikit pun mempertimbangkan pekerjaan gereja atau apakah saudara-saudariku hidup atau mati; dengan bertindak demikian, aku menjadi perisai pelindung bagi pemimpin palsu, aku adalah kaki tangan Iblis yang datang untuk mencampuri dan mengganggu pekerjaan rumah Tuhan. Di manakah kemanusiaanku? Aku adalah seseorang yang bersikap "baik," yang egois dan hina, licin dan licik! Gereja telah memberiku tugas yang begitu penting. Aku berseru bahwa aku ingin membalas kasih Tuhan dan memuaskan Tuhan, tetapi aku sebenarnya telah mencoba menipu Tuhan, dan setelah menghadapi masalah, aku selalu berkacak pinggang dengan berdiri di pihak Iblis untuk menentang Tuhan. Tindakanku sudah sejak lama menyinggung watak Tuhan, membuat Tuhan jijik dan benci. Perasaan maluku tidak ada habisnya. Aku hanya bisa berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Aku telah berulang kali menentang kehendak-Mu, melindungi diriku sendiri, tidak menerapkan kebenaran, mengganggu pekerjaan gereja, merusak kehidupan saudara-saudariku. Aku telah memberontak terhadap-Mu, aku telah menentang-Mu, dan jika aku tidak bertobat, aku akan menderita hukuman karena keadilan-Mu. Ya Tuhan! Aku telah melakukan kesalahan, aku ingin bertobat di hadapan-Mu, menerapkan kebenaran untuk menebus pelanggaranku."

Setelahnya, dalam suatu kebaktian, saudara-saudari melaporkan tentang bagaimana Saudara Li, yang bekerja sama denganku, tidak melakukan pekerjaan nyata. Mereka melaporkan bahwa ia hanya sekadar melakukan formalitas selama kebaktian, dan tidak segera bersekutu dan mencari solusi ketika mereka menghadapi masalah dan kesulitan dalam melaksanakan tugas mereka. Kemudian, aku mencari Saudara Li untuk bersekutu beberapa kali. Namun, ia hanya menyetujui apa yang kukatakan; setelah itu beberapa pengakuan sepintas lalu, hanya itu saja. Beberapa waktu kemudian, saudara-saudari sekali lagi mulai melaporkan tentang perwujudan Saudara Li yang tidak melakukan pekerjaan nyata, yang telah lama menghalangi pekerjaan gereja dan menghentikannya mengalami kemajuan. Diukur berdasarkan prinsip, Saudara Li juga merupakan pemimpin palsu yang tidak melakukan pekerjaan nyata. Aku harus segera melaporkan ini kepada para pemimpin tingkat atas dan memberhentikannya. Namun saat ingat harus melaporkan Saudara Li, kekhawatiran dan keprihatinan kembali memenuhi hatiku: "Saudara Li telah melakukan tugasnya di sini paling lama dibandingkan kami semua. Ia dianggap seorang 'penatua'. Aku juga sering berkonsultasi dengannya tentang urusan gereja, dan ia selalu membantuku. Jika ia tahu laporanku akan membuatnya diberhentikan, apa yang akan ia pikirkan tentang aku? Apakah ia akan mengatakan bahwa aku ini tidak tahu berterima kasih? Betapa memalukan jika kami bertemu setelah itu. Beberapa rekan pekerja lainnya belum melaporkan Saudara Li; jadi lebih baik aku tidak membeberkan apa pun, aku tidak seharusnya ribut-ribut, dan lebih baik aku tidak menangani hal ini sampai pemimpin tingkat atas mengetahuinya. Namun, jika aku tidak segera melaporkan keadaan ini dan membuat Saudara Li diberhentikan, aku akan menunda masuknya saudara-saudari ke dalam kehidupan, dan aku akan mengacaukan dan menganggu pekerjaan gereja." Pada saat itu, hatiku terasa dipenuhi pertentangan, aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi tanpa membuang waktu, aku langsung berdoa kepada Tuhan dan mencari. Aku memikirkan firman Tuhan: "Engkau harus selalu memegang firman-Ku yang bekerja di dalammu, terlepas dari siapa yang engkau hadapi; engkau harus mampu berdiri teguh dalam kesaksianmu kepada-Ku dan menunjukkan perhatian pada beban-Ku. Engkau tidak boleh bingung, menyetujui orang-orang secara membabi buta tanpa memiliki idemu sendiri, tetapi sebaliknya milikilah keberanian untuk berdiri dan menolak hal-hal yang tidak datang dari-Ku. Jika engkau tahu dengan jelas bahwa ada sesuatu yang salah, namun engkau tetap diam, engkau bukan seseorang yang melakukan kebenaran. Jika engkau tahu bahwa ada sesuatu yang salah dan kemudian mengalihkan topiknya, tetapi Iblis menghalangi jalanmu—engkau berbicara tanpa dampak apa pun dan tidak dapat bertahan sampai akhir—engkau masih menyimpan rasa takut di hatimu, dan bukankah hatimu masih dipenuhi pikiran dari Iblis?" ("Bab 12, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Semua telah mengatakan bahwa mereka peduli akan beban Tuhan dan membela kesaksian gereja. Siapakah yang benar-benar peduli akan beban Tuhan? Tanyakanlah kepada dirimu sendiri: Apakah engkau seseorang yang telah menunjukkan kepedulian akan beban Tuhan? Dapatkah engkau melakukan kebenaran untuk Tuhan? Dapatkah engkau berdiri dan berbicara bagi-Ku? Dapatkah engkau dengan teguh melakukan kebenaran? Apakah engkau cukup berani untuk melawan semua perbuatan Iblis? Apakah engkau mampu menyingkirkan emosimu dan mengungkap Iblis demi kebenaran-Ku? Dapatkah engkau membiarkan kehendak-Ku digenapi di dalam dirimu? Sudahkah engkau menyerahkan hatimu ketika waktu yang sangat penting datang? Apakah engkau seseorang yang melakukan kehendak-Ku? Tanyakan pada dirimu sendiri dan seringlah memikirkan tentang hal ini" ("Bab 13, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dalam setiap pertanyaan teguran Tuhan terkandung harapan-Nya terhadapku. Ketika sesuatu terjadi di gereja yang melanggar prinsip-prinsip kebenaran, Tuhan mengharapkan aku untuk berdiri di pihak Tuhan, memiliki keberanian untuk mengungkap Iblis dan menjunjung tinggi pekerjaan gereja, serta memiliki rasa keadilan. Namun, dari apa yang telah terungkap dan terwujud dalam diriku, aku bukanlah orang yang memikirkan kehendak Tuhan ataupun menerapkan kebenaran: ketika aku melihat bahwa Saudara Li adalah seorang pemimpin palsu dan perlu diganti, demi melindungi kepentinganku sendiri dan menjunjung tinggi citraku di hatinya, aku enggan melaporkan keadaan ini bahkan ketika aku menemukan masalah, berusaha membebankan perkara ini kepada para pemimpin tingkat atas untuk mereka tangani, tanpa sedikit pun mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan. Aku melihat betapa egois dan liciknya naturku! Mengapa, ketika sampai pada saat yang genting, aku selalu bersikap 'baik,' dan tidak berani berdiri untuk membela pekerjaan gereja?

Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Watak rusak manusia berasal dari Iblis yang meracuni dan menginjak-injaknya, dari bahaya mengerikan yang telah Iblis timbulkan pada pemikiran, moralitas, wawasan, dan akalnya. Justru karena semua hal mendasar manusia ini telah dirusak oleh Iblis, dan sepenuhnya tidak lagi serupa dengan bagaimana Tuhan menciptakan mereka pada awalnya, sehingga manusia menentang Tuhan dan tidak memahami kebenaran" ("Memiliki Watak yang Tidak Berubah Berarti Memusuhi Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Engkau percaya kepada Tuhan dan engkau datang ke hadapan Tuhan tetapi engkau masih hidup dengan cara yang lama, apakah kepercayaanmu kepada Tuhan bermakna dan berharga? Jika tujuan dan prinsip hidupmu dan cara hidupmu belum berubah, semua yang engkau miliki tetapi tidak dimilki orang tidak percaya adalah pengakuanmu akan keberadaan Tuhan, dan jika dari luar engkau terlihat mengikut Tuhan, tetapi watak hidupmu tidak berubah sedikit pun, maka pada akhirnya, engkau tidak akan diselamatkan. Bukankah ini adalah kepercayaan kosong, dan sukacita kosong?" ("Hanya dengan Mengamalkan Kebenaran Engkau Dapat Melepaskan Belenggu Watak yang Rusak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Aku kemudian membaca firman dalam sebuah persekutuan: "Dapatkah orang-orang di dalam gereja, yang hidup berdasarkan falsafah Iblis dan yang berusaha untuk tidak pernah menyinggung siapa pun, dipuji oleh Tuhan? Mereka pasti tidak dapat dipuji oleh Tuhan. Mereka yang berusaha untuk tidak pernah menyinggung orang lain tidak memberi kesaksian apa pun. Mereka tidak berdiri di pihak Tuhan, dan pasti tidak taat kepada Tuhan. Orang-orang yang berusaha untuk tidak pernah menyinggung orang lain tidak memiliki kenyataan kebenaran, sehingga mereka tidak dapat diselamatkan! Mereka yang berusaha untuk tidak pernah menyinggung orang lain telah sangat dalam dirusak oleh Iblis dan hidup berdasarkan falsafah Iblis. Orang lain memandang mereka sebagai orang baik, tetapi Tuhan memandang mereka sebagai manusia yang tidak memiliki prinsip kebenaran, dan yang berdiri di pihak Iblis dan menaati Iblis. Bukankah memang demikian? Ada banyak orang-orang semacam ini di gereja dewasa ini. Jika pandangan mereka tidak berubah, cepat atau lambat, mereka akan hancur. Jika engkau tidak dapat berdiri di pihak Tuhan, engkau sudah tamat" (Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan, Volume 151). Membaca kata-kata ini mencerahkan hatiku. Baru pada saat itulah aku mengerti bahwa alasan aku selalu mencari kepentinganku sendiri dan berusaha untuk bersikap "baik" ketika ada masalah adalah karena hukum bertahan hidup si Iblis—"Lebih baik tetap diam daripada menunjukkan masalahnya; tetaplah diam untuk melindungi diri sendiri dan berusahalah agar tidak disalahkan," "Semakin sedikit masalah, semakin baik," and "Tidak membicarakan kesalahan teman-teman baik menghasilkan persahabatan yang lama dan berkualitas"—telah sejak lama menjadi hidupku, sampai-sampai dari sejak aku masih muda, aku telah bersikap sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam interaksiku dengan keluarga, tetangga, dan teman-temanku, menganggap bahwa aku akan punya tempat di dunia jika aku memiliki hubungan yang baik dengan orang lain dan tidak menyinggung siapa pun. Bahkan ketika aku melihat orang lain melakukan kesalahan, aku tidak berani membicarakannya; aku hanya mengutamakan kepentinganku sendiri dan hidup tanpa harga diri. Setelah mulai percaya kepada Tuhan dan melaksanakan tugasku, aku terus bertindak menurut hukum-hukum bertahan hidup Iblis ini. Ketika aku melihat seorang pemimpin palsu muncul di gereja yang membawa kerugian pada pekerjaan gereja, hal pertama yang kupikirkan adalah kepentinganku sendiri; aku lebih memilih menyinggung Tuhan daripada menyinggung orang lain, aku tidak berani menaati prinsip kebenaran dan berdiri di pihak Tuhan, dan berulang kali, aku tidak menghiraukan pekerjaan gereja. Aku adalah budak Iblis, dan dipandang hina oleh Tuhan. Kali ini, ketika aku mendapati bahwa Saudara Li adalah pemimpin palsu, aku tetap berusaha untuk hidup berdasarkan falsafah antarpribadi si Iblis, demi mempertahankan citraku di dalam hati Saudara Li. Aku hanya mempertimbangkan kepentinganku sendiri. Aku melihat bahwa, ketika aku hidup berdasarkan sudut pandang kehidupan untuk bersikap "baik," aku telah menjadi jauh lebih egois, tercela, licin, dan licik tanpa sedikit pun keserupaan dengan manusia. Pada saat yang sama, aku jadi tahu bahwa orang-orang yang bersikap "baik" juga palsu dan suka menjilat, mereka tidak melakukan apa pun selain menyela dan mengganggu pekerjaan rumah Tuhan di setiap aspek, mereka adalah antek Iblis yang ahli dalam melukai dan membawa kehancuran kepada orang lain, mereka adalah kacung Iblis, musuh Tuhan. Tuhan memandang rendah dan membenci orang-orang yang bersikap "baik," dan tidak menyelamatkan ataupun menyempurnakan mereka. Jika aku tidak bertobat, dan terus berjalan di jalan orang yang bersikap "baik," aku pada akhirnya akan disingkirkan dan dihukum oleh Tuhan! Mengetahui hal ini, aku menyadari bahwa keadaanku sangat berbahaya, bahwa aku tidak boleh terus seperti ini; aku harus dengan sungguh-sungguh bertobat kepada Tuhan, menerapkan kebenaran, dan menjadi seseorang dengan rasa keadilan.

Kemudian, aku melaporkan keadaan Saudara Li kepada para pemimpin tingkat atas. Setelah melakukan penyelidikan dan verifikasi, mereka menyatakan bahwa Saudara Li adalah seorang pemimpin palsu dan mereka memintaku untuk membebaskannya dari tugas-tugasnya. Berpikir bahwa aku harus mengganti Saudara Li—dengan mengungkap dan membedahnya karena tidak melakukan pekerjaan nyata—hatiku merasa sedikit takut; aku tidak ingin menghadapinya, aku takut melukainya. Pada saat itu, aku memikirkan firman Tuhan: "Jika engkau memiliki motivasi dan sudut pandang 'orang yang baik,' engkau akan selalu jatuh dan gagal dalam perkara semacam ini. Jadi apa yang harus kaulakukan dalam situasi seperti itu? Ketika dihadapkan dengan hal semacam itu, engkau harus berdoa kepada Tuhan. Mintalah agar Tuhan memberimu kekuatan, agar Dia memperkenankanmu untuk menaati prinsip, untuk melakukan apa yang harus engkau lakukan, untuk menangani sesuatu berdasarkan prinsip, untuk mempertahankan pendapatmu, dan tidak membiarkan kerusakan terjadi pada pekerjaan rumah Tuhan. Jika engkau mampu meninggalkan kepentingan, reputasi, dan sudut pandangmu sendiri tentang 'orang baik,' jika engkau melakukan apa yang harus kaulakukan dengan hati yang jujur dan seutuhnya, engkau akan mengalahkan Iblis, dan akan mendapatkan aspek kebenaran ini" ("Hanya Ketika Engkau Mengenal Dirimu Sendiri Engkau Dapat Mengejar Kebenaran" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Dalam sebuah persekutuan dikatakan bahwa “beberapa orang pilihan Tuhan memiliki rasa keadilan; demi melindungi umat pilihan Tuhan dan pekerjaan rumah Tuhan, mereka memiliki keberanian untuk mengungkap para pemimpin palsu dan antikristus. Orang-orang seperti itu jujur dan berterus terang, mereka dikasihi oleh Tuhan, dan mereka adalah orang yang sungguh-sungguh mengasihi kebenaran. Hanya mereka yang mengasihi kebenaran dan memiliki perwujudan nyata yang sungguh-sungguh bertobat dan merekalah orang-orang yang akan diselamatkan" ("Khotbah dan Persekutuan Tentang Firman Tuhan 'Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II' (XX)" dalam "Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan XII"). Dari firman Tuhan dan persekutuan ini, dapat dilihat bahwa Tuhan mengasihi orang-orang yang jujur dan memiliki rasa keadilan, bahwa mereka inilah jenis orang yang akan diselamatkan dan disempurnakan. Sekarang ini, seorang pemimpin palsu telah muncul di gereja. Tuhan sedang melihat bagaimana aku akan melakukan pendekatan terhadap masalah ini, apakah aku akan melindungi kepentingan pribadiku sendiri ataukah mempertimbangkan kepentingan gereja, apakah aku mampu menerapkan kebenaran dan tidak memberi kelonggaran kepada Iblis. Di masa lalu, aku tidak memikirkan kehendak Tuhan, serta mengkhianati harapan Tuhan atas diriku. Kali ini, terhadap masalah mengganti Saudara Li, aku akan menerima pengawasan Tuhan, aku akan meluruskan niatku sendiri, dan terlepas dari apa pun yang Saudara Li pikirkan tentang aku atau bagaimanapun ia akan memperlakukan aku, aku tidak boleh lagi melindungi kepentinganku sendiri. Mengungkap dan mengganti pemimpin palsu adalah tugasku yang wajib kulakukan, dan merupakan tanggung jawabku; aku harus menjunjung tinggi pekerjaan gereja, mempertimbangkan masuknya saudara-saudari ke dalam kehidupan, berdiri di pihak Tuhan, dan segera mengganti Saudara Li serta mengungkapkan perwujudannya. Jika Saudara Li adalah seorang yang mengejar kebenaran, penggantiannya akan menolongnya merenungkan dirinya sendiri, yang akan bermanfaat bagi jalan masuknya ke dalam kehidupan dan menghentikannya melakukan lebih banyak pelanggaran di hadapan Tuhan. Jadi aku berdoa kepada Tuhan: kiranya Tuhan membimbingku dan memberiku keberanian untuk bersekutu dengan Saudara Li. Setelah aku mengungkapkan dan membedah setiap perwujudan kegagalan Saudara Li untuk melakukan pekerjaan nyata, ia bukan saja tidak membenciku, tetapi ia juga bertobat dan berkata, "Bahwa hari ini aku diganti, ini adalah keadilan Tuhan. Ini adalah kasih dan perlindungan Tuhan atas diriku. Jika engkau tidak menunjukkan hal-hal ini kepadaku, aku tidak akan tahu betapa besar kerusakan yang sedang kulakukan terhadap gereja. Syukur kepada Tuhan! Aku akan merenungkan hal ini. Beri tahukanlah kepadaku kerusakan apa lagi yang ada dalam diriku; itu akan membantuku merenungkan diriku sendiri dengan benar ..." Mendengar perkataan Saudara Li, aku merasa sangat tersentuh; aku tadinya merasa bahwa mengungkapkan perwujudannya akan melukainya, tetapi ternyata semua ini adalah imajinasiku. Jika aku tidak menunjukkan hal-hal ini kepadanya, aku benar-benar akan merugikannya. Pada saat itu, aku merasakan keteguhan dan ketenangan dalam rohku, dan terutama aku merasa dekat dengan Tuhan. Jadi, aku pun benar-benar menghargai bahwa hanya dengan menerapkan kebenaran dan berdiri di pihak kebenaran, aku bisa benar-benar menolong saudara-saudariku. Di kemudian hari, saat aku melihat saudara-saudari melanggar prinsip-prinsip kebenaran, aku masih mengungkapkan sudut pandang bersikap "baik"-ku dan takut akan menyinggung orang lain, tetapi aku segera datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, mengabaikan diriku sendiri, dan memperlakukan hal-hal ini sesuai dengan prinsip kebenaran. Syukur kepada Tuhan. Kemampuanku untuk memiliki sedikit penerapan dan jalan masuk ini adalah efek dari firman Tuhan!

Setelah mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan dan pembeberan fakta-fakta, aku melihat bahwa orang-orang yang bersikap "baik" itu licik dan berhati kejam, tanpa hati nurani ataupun kemanusiaan, dan tidak punya kesempatan untuk diselamatkan oleh Tuhan. Aku sangat berterima kasih atas bimbingan dan kepemimpinan firman Tuhan; semua itu telah memungkinkanku melepaskan kekangan mentalitasku untuk bersikap "baik," dan memungkinkanku hidup dalam sedikit keserupaan dengan seorang yang jujur. Sementara mengalaminya, aku benar-benar menghargai bagaimana kebenaran dan keadilan memegang kuasa di rumah Tuhan. Di dalam rumah Tuhan, hanya orang-orang yang menerapkan kebenaran, yang bertindak sesuai prinsip-prinsip kebenaran, dan orang yang jujur dengan rasa keadilan yang dapat berdiri teguh dan diperkenan oleh Tuhan. Di masa depan, aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk mengejar kebenaran, untuk menjadi seseorang dengan rasa keadilan, untuk melaksanakan tugasku dengan benar dan memuaskan Tuhan, dan menghibur hati-Nya!

91. Perpisahan dengan Bersikap "Baik"