10. Tugas Seseorang Hanya Dapat Dilaksanakan dengan Benar Setelah Memperbaiki Sikap yang Acuh Tak Acuh

10. Tugas Seseorang Hanya Dapat Dilaksanakan dengan Benar Setelah Memperbaiki Sikap yang Acuh Tak Acuh

Oleh Saudara Jingxian, Jepang

Biasanya, selama kebaktian atau ketika bersaat teduh, meskipun aku sering membaca firman Tuhan yang berkaitan dengan mengungkap sikap acuh tak acuh orang-orang, aku tidak banyak menaruh perhatian pada jalan masukku sendiri; dalam hatiku, aku tidak menganggap hal ini masalah yang serius dalam diriku, jadi aku jarang mencari kebenaran untuk memperbaiki masalah melaksanakan tugasku secara acuh tak acuh. Sampai, sikap acuh tak acuhku sendiri menyebabkan masalah besar dalam pekerjaanku. Ketika sikap acuh tak acuh ini membahayakan pekerjaan Injil gereja, hanya melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhanlah aku memperoleh beberapa pengetahuan tentang perwujudan dan asal usul sikap acuh tak acuhku ketika melaksanakan tugasku. Aku melihat jika dibiarkan tak terselesaikan, masalah sikap acuh tak acuhku akan menimbulkan kebencian dan kejijikan Tuhan, dan cepat atau lambat, Ia akan mengungkap diriku dan menyingkirkan aku. Setelah itu, aku mulai berfokus mengejar kebenaran untuk menyelesaikan masalah sikap acuh tak acuh, sehingga aku dapat melaksanakan tugasku dengan baik.

Suatu hari, selagi mendengar beberapa saudara-saudari dari gereja lain berbicara tentang beberapa jalan penerapan yang baik untuk menyebarkan Injil, aku menyadari bahwa aku telah mendengar hal serupa tahun lalu. Pada waktu itu, aku juga merasa bahwa melakukan penerapan dengan cara demikian jauh lebih baik daripada pendekatan yang kami lakukan sekarang ini—tetapi kemudian, ketika aku mencoba menyampaikan kepada beberapa penanggung jawab kelompok-kelompok Injil untuk menerapkan penerapan ini, mereka mengatakan bahwa karena berbagai alasan, penerapan semacam itu tidaklah memungkinkan bagi kami. Meskipun aku merasa sedikit kecewa mendengar mereka mengatakan ini, aku tidak mendorong masalah ini; hanya membiarkannya begitu saja. Mendengar lagi pembicaraan yang sama, aku merasa diteguhkan kembali; aku berpikir jalan menyebarkan Injil ini benar-benar bagus, dan aku ingin sekali menyampaikan kepada para penanggung jawab tentang cara memanfaatkan kekuatan orang lain. Jadi, dalam kebaktian, aku mengatakan pendapat dan saranku sendiri kepada para penanggung jawab. Setelah itu, aku mengamati bahwa beberapa dari mereka tampaknya tidak terlalu tertarik, sementara yang lain memberikan berbagai alasan mengapa metode penyebaran Injil ini tidak dapat diterapkan di sini. Aku bisa mengetahui bahwa mereka memiliki cara berpikir dan sudut pandang yang sudah ketinggalan zaman yang tidak ingin mereka lepaskan, dan persekutuanku tidak ada pengaruhnya. Namun kemudian aku berpikir betapa berpengalamannya para penanggung jawab ini dalam menyebarkan Injil: meskipun aku bertanggung jawab atas pekerjaan mereka, aku tidak memiliki pengalaman sebanyak itu dalam menyebarkan Injil. Jika aku tidak mampu mempersekutukan suatu jalan yang praktis, akan sangat sulit untuk mengubah cara berpikir mereka dengan beberapa kata sederhana. Dalam hati, aku berpikir: "Tidak akan mudah membuat mereka menerima jalan-jalan penerapan yang baru ini! Jika aku ingin menjelaskan dasar yang lebih praktis bagi metode ini dan mempersekutukannya dengan jelas, aku harus menemukan saudara-saudari lain yang lebih berpengalaman, dan mencoba untuk memikirkannya. Aku harus mendiskusikan hal ini secara terperinci dengan banyak orang, dan banyak membicarakannya, agar menjadi efektif. Oh! Tidak ada saudara-saudari seperti itu di sekitarku, dan aku juga tidak kenal seorang pun di negara lain. Bagiku, memecahkan masalah ini akan sangat sulit. Akan perlu waktu dan upaya, dan aku harus membayar harga yang mahal. Terlalu merepotkan. Aku juga punya pekerjaan lain yang harus kulakukan. Aku tidak bisa mencurahkan segala upayaku untuk memecahkan masalah yang satu ini! Aku telah mengatakan apa yang harus kukatakan; seberapa banyak orang lain menerimanya, itu terserah mereka. Lebih baik melupakan hal ini, dan aku seharusnya tidak seserius ini. Yang telah kulakukan sampai pada titik ini kurang lebih sudah cukup." Dengan cara demikian, oleh karena masalah ini tidak terselesaikan pada waktunya, tidak ada peningkatan dalam pekerjaan Injil.

Selama beberapa hari berikutnya, aku merasa sangat tidak tenang setiap kali aku memikirkan tentang hal ini. Menyadari bahwa keadaanku salah, aku datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mencari. Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Ketika sedang berbuat sesuatu dan melakukan tugasmu, apakah engkau sering merenungkan tingkah laku dan niatmu? Jika engkau hanya jarang-jarang melakukannya, engkau sangat mungkin membuat kesalahan, yang dengan demikian berarti masih ada masalah dengan tingkat pertumbuhanmu. Jika engkau tidak pernah melakukannya, engkau tidak berbeda dengan orang-orang tidak percaya. Namun, jika ada saat-saat di mana engkau sungguh-sungguh merenung, engkau akan sedikit tampak seperti orang percaya. Engkau harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk merenung. Engkau harus merenungkan segala sesuatu: renungkan keadaanmu sendiri untuk melihat apakah engkau hidup di hadapan Tuhan, apakah niat di balik tindakanmu itu benar, apakah motivasi dan sumber tindakanmu dapat diterima oleh Tuhan, dan apakah engkau telah menerima pemeriksaan yang cermat dari Tuhan. Terkadang akan timbul pikiran pada dirimu, "Melakukannya dengan cara ini baik-baik saja; ini cukup baik, bukan?" Namun, anggapan yang melekat dalam pemikiran itu menyingkapkan sikap tertentu yang dimiliki orang ketika menghadapi persoalan, serta cara pandang mereka terhadap tugas mereka. Mentalitas ini adalah semacam keadaan. Tidakkah keadaan semacam itu merupakan sebuah sikap di mana seseorang tidak memiliki tanggung jawab dan hanya bertindak secara asal-asalan dalam memandang tugasnya? Engkau semua mungkin belum merenungkan hal ini, dan engkau mungkin merasa bahwa itu adalah ekspresi yang wajar, bahwa itu hanyalah perwujudan normal dari kemanusiaan, dan bahwa hal itu tidak berarti apa-apa; tetapi apabila engkau sering berada dalam keadaan semacam itu, dalam kondisi semacam itu, maka di balik itu terdapat watak yang menguasai dirimu. Ini patut untuk diperiksa, dan pantas untuk dianggap serius; jika engkau tidak melakukannya, tidak akan ada perubahan yang terjadi dalam dirimu" ("Cara Mengatasi Sikap Ceroboh dan Asal-asalan Ketika Melakukan Tugasmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Jika engkau tidak dengan sepenuh hati melakukan tugasmu dan engkau lalai, semata-mata melakukan sesuatu dengan cara termudah, mentalitas macam apa ini? Ini adalah mentalitas bertindak secara asal-asalan, tanpa kesetiaan terhadap tugasmu, tanpa rasa tanggungjawab, dan tanpa menganggap tugas itu sebagai misimu. Setiap kali engkau melakukan tugasmu, engkau hanya menggunakan separuh kekuatanmu; engkau melakukannya dengan setengah hati, tidak dengan sepenuh hati melakukannya, dan hanya mencoba untuk menyelesaikannya dan melakukannya tanpa kesungguhan. Engkau melakukannya dengan sangat santai sehingga sepertinya engkau hanya bermain-main. Tidakkah ini akan menimbulkan masalah? Pada akhirnya, orang akan mengatakan bahwa ketika engkau melakukan tugasmu, engkau hanya sedang menjalani sebuah proses. Apa yang akan Tuhan katakan tentang ini? Dia akan mengatakan bahwa engkau tidak dapat dipercaya. Artinya, apabila engkau telah dipercayakan dengan sebuah pekerjaan, baik itu pekerjaan dengan tanggung jawab yang utama ataupun pekerjaan dengan tanggung jawab yang kurang penting, jika engkau tidak dengan sepenuh hati melakukan pekerjaan itu dan tidak memenuhi tanggung jawab yang diharapkan darimu, dan jika engkau tidak memandangnya sebagai misi yang telah Tuhan berikan kepadamu atau perkara yang telah dipercayakan Tuhan kepadamu, dan engkau tidak melakukannya sebagai tugas dan kewajibanmu sendiri, kesulitan akan menimpamu. 'Tidak dapat dipercaya'—perkataan ini akan mendefinisikan bagaimana engkau mulai melakukan tugasmu, dan Tuhan akan menyatakan bahwa karaktermu tidak sebaik yang diharapkan. Jika sebuah perkara dipercayakan kepadamu dan engkau mengambil sikap semacam ini terhadapnya dan menanganinya dengan cara ini, apakah engkau akan dipercayakan untuk melakukan tugas apa pun di masa depan? Bisakah engkau dipercayakan dengan sesuatu yang penting? Mungkin engkau bisa dipercayakan, tetapi itu tergantung pada bagaimana perilakumu. Namun, di dalam hati Tuhan, akan selalu ada ketidakpercayaan terhadapmu. Akan selalu ada ketidakpercayaan dan ketidakpuasan dalam pikiran Tuhan, jadi bukankah ini masalah?" ("Hanya dengan Sering Merenungkan Kebenaran Engkau Dapat Memiliki Jalan untuk Maju" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Dihadapkan dengan pengungkapan firman Tuhan, aku merasakan teguran dan tuduhan yang kuat di hatiku. Aku melihat bahwa sikapku terhadap tugasku adalah sikap yang acuh tak acuh dan menghindari tanggung jawab. Aku memikirkan kembali ketika pertama kali aku mendengar tentang jalan yang baik untuk menyebarkan Injil. Aku sependapat dan menyetujui jalan-jalan ini, dan merasa bahwa kami harus menerima dan menerapkannya. Namun, ketika aku benar-benar mencoba untuk bersekutu tentang memperkenalkan metode-metode ini kepada saudara-saudariku—dan gagal—aku menyadari bahwa aku seharusnya mempersekutukan kebenaran dengan mereka untuk membalikkan cara berpikir dan sudut pandang mereka yang lama. Namun saat memikirkan tentang harga yang harus kubayar untuk menyelesaikan masalah ini, tentang seberapa banyak waktu dan upaya yang akan dibutuhkan—ini adalah "proyek besar," dan bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan segera—aku berpikir bahwa ini terlalu merepotkan, aku takut mengalami kesusahan daging, jadi aku pun bersikap acuh tak acuh, aku sekadar melakukan formalitas, sekadar melakukan rutinitas, menganggap bahwa "aku sudah mencoba," "aku sudah berusaha," "ini kurang lebih sudah cukup." dan "tidak seorang pun dapat bekerja keras dalam segala hal." Aku menggunakan ini untuk melepaskan diriku dari kesulitan, memandang masalah ini sebelah mata; aku juga tidak peduli apakah aku ini efektif atau tidak, menganggap bahwa sudah cukup hanya dengan menganggapnya selesai. Seperti itulah standar yang kugunakan untuk bertindak sepanjang waktu. Persekutuanku dengan para penanggung jawab hanya di permukaan saja. Aku belum benar-benar menderita dan membayar harga untuk memecahkan masalah mereka; sebaliknya, aku menganggap aku telah cukup dalam melakukannya. Sebenarnya, aku telah menggunakan metode jangka pendek yang dangkal untuk menipu orang, sehingga setelah itu, jika seseorang mengangkat masalah ini, aku akan punya jawaban untuk mereka; selain itu, tanggung jawab atas kinerja yang buruk dalam menyebarkan Injil bukanlah tanggung jawabku—ini adalah akibat mereka tidak menerima jalan penerapan yang baik. Aku bahkan mencoba membodohi Tuhan: "Ya Tuhan, hanya ini yang bisa kulakukan." Baru sekaranglah aku menyadari bahwa aku tidak dengan sungguh-sungguh berusaha memahami kehendak Tuhan, tidak berjuang untuk melakukan penerapan dan memuaskan Tuhan sesuai dengan yang Ia minta, setiap kali aku menemui kesulitan. Sebaliknya, aku sering bersikap acuh tak acuh, dan mencoba menipu Tuhan. Betapa licin dan liciknya diriku! Aku dengan jelas menyadari bahwa kesulitan saudara-saudari dalam menyebarkan Injil belum terpecahkan, dan bahwa aku belum memenuhi tanggung jawabku. Namun demi menghindari kesusahan daging, aku tidak mengindahkannya bahkan saat aku melihat bahwa pekerjaan Injil sedang terhambat. Bukankah ini berarti aku menganggap pekerjaan Tuhan sebagai lelucon? Aku melihat bahwa aku tidak memiliki sedikit pun hati nurani atau rasionalitas, bahwa aku sama sekali tidak bisa diandalkan! Sekali lagi, aku membaca firman Tuhan: "... Namun Aku memiliki pengetahuan mendalam tentang ketidakmurnian dalam hati setiap makhluk ciptaan dan sebelum Aku menciptakanmu, Aku sudah tahu ketidakbenaran yang ada di kedalaman hati manusia dan Aku tahu semua tipu daya dan kebengkokan dalam hati manusia. Jadi, meskipun tidak ada jejak sama sekali tentang manusia yang melakukan ketidakbenaran, Aku tetap tahu bahwa ketidakbenaran yang tersimpan dalam hatimu melampaui kekayaan segala sesuatu yang Aku ciptakan" ("Ketika Daun-daun yang Berguguran Kembali ke Akarnya, Engkau Akan Menyesali Semua Kejahatan yang Telah Engkau Perbuat" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Pada saat itulah, menjadi jelas bagiku bahwa penghakiman dan hajaran Tuhan telah menimpaku. Tuhan telah melihat ke kedalaman batinku, dan meskipun tidak ada manusia yang tahu pikiran-pikiranku yang licik, bagi Tuhan, semua itu sangat jelas. Aku tidak bertanggung jawab atas amanat yang telah Tuhan percayakan kepadaku. Aku telah bersikap tidak jujur sehingga telah merintangi pekerjaan Injil. Dari semua yang kutampilkan, tampaknya seolah-olah aku sedang melaksanakan tugasku─tetapi sebenarnya, aku sedang bersikap acuh tak acuh dan mencoba menipu Tuhan. Aku tidak memiliki sikap yang takut akan Tuhan. Di hadapan firman Tuhan, aku merasa malu.

Kemudian, aku membaca firman Tuhan: "Apabila dalam melakukan sesuatu, engkau sedikit lebih sepenuh hati, serta memberikan sedikit lebih banyak kebaikan, tanggung jawab, dan pemikiran, engkau akan mampu mengerahkan lebih banyak usaha. Ketika engkau dapat melakukan ini, hasil dari tugas yang kaulakukan akan meningkat. Hasilmu akan lebih baik, dan hal ini akan memuaskan baik Tuhan maupun orang lain" ("Jalan Masuk ke dalam Kehidupan Harus Dimulai dari Melakukan Tugasmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Dalam sebuah persekutuan, dikatakan: "Apa artinya bersikap acuh tak acuh? Sederhananya, itu berarti sekadar melakukan kegiatan agar dilihat orang lain, sehingga mereka berpikir 'Ia sudah melakukannya.' Dapatkah pendekatan seperti itu mencapai hasil? (Tidak.) Begitulah cara orang-orang tanpa beban melakukan sesuatu; beginilah cara mereka melaksanakan tugasnya. Mereka tidak sungguh-sungguh memikul beban pekerjaan ini, tetapi mereka juga tidak bisa untuk tidak melakukannya. Jika mereka tidak melakukannya, orang akan melihat ada masalah dengan pemimpin ini, sehingga mereka sekadar melakukan rutinitas demi penampilan. Tuhan berkata, 'Seperti ini adalah melakukan pelayanan. Mereka tidak sedang melakukan tugas mereka.' Jadi apakah perbedaan antara melakukan pelayanan dan melakukan tugas seseorang? Orang yang sungguh-sungguh melakukan tugasnya memiliki rasa tanggung jawab─yang berasal dari keinginan yang sungguh-sungguh untuk memecahkan masalah, sungguh-sungguh ingin melakukan tugas ini dengan benar, ingin memuaskan Tuhan, dan ingin membalas kasih Tuhan. Jadi, apa tekad mereka ketika melakukan hal-hal ini? Tekad mereka adalah semua itu harus dilaksanakan dan semua itu harus dilaksanakan dengan baik. Masalah harus dipecahkan. Mereka tidak akan beristirahat sampai itu selesai, mereka tidak akan berhenti sampai itu diperbaiki. Seperti itulah beban yang mereka pikul saat melaksanakan pekerjaan mereka, dan dengan demikian sangat mudah bagi mereka untuk menjadi efektif. Inilah yang dimaksud dengan melaksanakan tugas seseorang. Hanya ketika pekerjaan dan pelaksanaan tugasmu itu efektif, engkau sedang melaksanakan tugasmu; jika tidak ada efeknya, engkau sedang bersikap acuh tak acuh, engkau sedang kacau. Inilah yang dinamakan melakukan pelayanan; pelaksanaan tugas yang tidak efektif adalah melakukan pelayanan—dalam hal ini tidak ada keraguan, tidak ada yang salah tentang hal ini!" (Cara Masuk ke Dalam Kebenaran untuk Membedakan Para Pemimpin Palsu dan Antikristus" dalam Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan XI). Dari firman Tuhan dan persekutuan ini, aku menemukan suatu jalan penerapan: melaksanakan tugas membutuhkan kesungguhan dan ketulusan, menuntut orang untuk memperlakukan segala sesuatu secara serius dan bertanggung jawab; hanya inilah yang akan memuaskan kehendak Tuhan. Mencoba menghindari penyelesaian masalah-masalah nyata, bersikap acuh tak acuh, dan sekadar melakukan rutinitas, semua itu menipu Tuhan dan mempermainkan-Nya, dan pasti tidak akan mencapai efek apa pun. Tuhan tidak ingin melihatku bersikap acuh tak acuh dan menentang-Nya tatkala aku melakukan tugasku. Ia berharap aku dapat melakukan pendekatan terhadap amanat-Nya dengan kejujuran, memperbaiki sikapku dalam melaksanakan tugasku, menghadapi semua kesulitan secara praktis, dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memikirkan tentang cara memecahkan masalah, cara agar efektif; hanya melakukan penerapan seperti itulah yang berkenan di hati Tuhan. Pada saat itulah, aku menyadari bahwa masalah dengan kelompok-kelompok Injil tidak bisa diabaikan lebih lama lagi. Walaupun mempersekutukan dan mengubah sudut pandang kelompok-kelompok Injil yang sudah ketinggalan zaman tidaklah mudah, aku tidak akan lagi menghindarinya. Selanjutnya, aku mencari kesempatan untuk mendiskusikan masalah penyebaran Injil secara terperinci dengan penanggung jawab, yaitu Saudara Zhang dan Saudara Zhao—tentang cara untuk secara fleksibel mengadopsi metode penyebaran Injil di tempat-tempat lain dan menggabungkan keunggulan-keunggulannya. Setelah persekutuan, Saudara Zhang dan Saudara Zhao mengatakan bahwa mereka senang menerima ini dan mencari cara untuk menerapkannya. Setelah itu, saudara-saudari menjadi lebih gesit ketika menyebarkan Injil dan efektivitas mereka juga meningkat.

Setelah mengalami masalah ini, aku mampu sedikit membedakan ketika terjadi sesuatu yang berkaitan dengan keadaanku yang acuh tak acuh ketika melaksanakan tugasku. Aku mulai dengan sengaja mengabaikan dagingku dan berfokus menerapkan kebenaran dan dengan setia melaksanakan tugasku. Namun aku masih belum memiliki banyak pengetahuan tentang hakikat, akar, dan tingkat keparahan sebagai konsekuensi dari sikapku yang acuh tak acuh. Di kemudian hari, Tuhan mengatur sebuah lingkungan yang memungkinkan aku untuk terus memetik pelajaranku, untuk memecahkan masalah sikapku yang acuh tak acuh.

Beberapa waktu kemudian, aku menemukan masalah tertentu dengan kelompok-kelompok Injil. Sebagai penanggung jawab pekerjaan, Saudara Zhang cukup congkak. Ia sombong dalam perkataan dan perilakunya, serta enggan menerima saran dari saudara-saudari lainnya. Ia juga memiliki pengaruh yang mengendalikan Saudara Zhao, yang bekerja dengannya. Bersama, keduanya tidak mampu mendiskusikan dan berupaya memecahkan kesulitan nyata dalam pekerjaan Injil. Saudara Zhao juga sangat konservatif, dan mematuhi banyak doktrin dalam penyebaran Injilnya. Kedua alasan ini menghambat kemajuan dalam pekerjaan Injil. Aku telah mengadakan persekutuan khusus dengan mereka untuk membahas masalah mereka, tetapi tidak ada perubahan yang besar. Setelah itu, aku berhenti berusaha untuk membuat mereka bekerja sama dengan harmonis; sudah cukup untuk menjaga keadaan sebagaimana adanya. Terhadap masalah keengganan Saudara Zhang untuk menerima saran dari orang lain, ada saat-saat ketika aku memilih untuk menyerah, dan ada saat-saat aku hanya mengawasi keadaan. Namun, aku tidak mencari kebenaran untuk memecahkan masalah ini. Beberapa bulan sebelumnya, kepatuhan Saudara Zhao yang kaku terhadap doktrin telah mengganggu pekerjaan; aku mempersekutukan hal ini dengannya, dan ia menerimanya, tetapi setelah itu aku mendapati bahwa dalam bidang-bidang tertentu, ia masih berpaut pada doktrin dan bersikap tidak fleksibel. Terkadang aku menunjukkan hal-hal ini kepadanya, tetapi ia begitu pintar membela dirinya. Dalam hati, aku berpikir: "Akan butuh banyak upaya untuk mengubah pandangannya. Aku perlu menemukan beberapa prinsip, berbicara kepadanya berdasarkan apa yang sebenarnya terwujud dalam dirinya. Aku mungkin harus menemukan saudara-saudari lain yang berpengalaman menyebarkan Injil untuk bersama-sama menyampaikan kepadanya agar ada pengaruhnya." Memikirkan bahwa memecahkan masalah ini akan menimbulkan banyak kesulitan, aku memutuskan untuk membiarkan semua ini berjalan begitu saja. Meskipun menyadari bahwa masalah dengan Saudara Zhang dan Saudara Zhao akan memengaruhi pekerjaan Injil, aku merasa bahwa, untuk saat ini, tidak ada orang yang lebih baik dalam kelompok-kelompok Injil yang dapat memenuhi amanat ini. Bukan berarti pelaksanaan tugas mereka sama sekali tidak efektif—hanya lumayan. Tidak masalah selama kepemimpinan tingkat atas tidak memiliki sesuatu untuk mereka katakan kepadaku mengenai hal ini. Ada beberapa hal yang akan selalu mengganggu kita, dan beberapa masalah yang tidak pernah bisa diselesaikan. Jadi, mengenai masalah dengan kedua saudara ini, aku tidak menghabiskan waktu lagi untuk mencari cara bagaimana aku harus melakukan pendekatan terhadap masalah ini, aku juga tidak mengukur apakah manfaat dari pelaksanaan tugas mereka lebih besar daripada kekurangannya.

Segera sesudah itu, gereja mengadakan survei pendapat umum. Hasilnya membuatku sangat khawatir. Banyak saudara-saudari melaporkan bahwa Saudara Zhang tidak pernah menerima saran orang lain, bahwa ia sering bertindak sewenang-wenang, bahwa ia harus selalu menjadi pengambil keputusan akhir, dan sering menguliahi serta berurusan dengan orang lain dengan nada merendahkan. Beberapa saudara-saudari takut bertemu dengannya. Mereka tidak punya pilihan lain selain dengan enggan mengikuti pengaturannya, merasa dibatasi dan hidup di tengah kenegatifan. Fakta menunjukkan bahwa Saudara Zhang sedang berjalan di jalan antikristus. Mengenai Saudara Zhao, saudara-saudari melaporkan bahwa ia berpendirian keras, dan dengan kaku berpegang pada doktrin. Ia jarang membimbing saudara-saudari untuk masuk ke dalam prinsip. Selama proses menyebarkan Injil, ia meminta saudara-saudari untuk melakukan banyak pekerjaan yang tidak ada tujuannya. Semua ini menunjukkan bahwa ia tidak memahami roh dan tidak mengerti prinsip. Tindakan mereka menyebabkan banyak rintangan dan gangguan terhadap pekerjaan Injil. Mereka juga mendatangkan banyak hambatan dan penderitaan kepada saudara-saudari. Menurut prinsip, Saudara Zhang dan Saudara Zhao harus diberhentikan.

Sikapku yang acuh tak acuh dan yang tidak melakukan pekerjaan nyata telah membahayakan pekerjaan Injil, juga telah menyebabkan banyak kesulitan bagi saudara-saudari. Memikirkan ini, aku merasakan kecaman yang kuat dalam hatiku. Merasa bahwa aku tidak boleh mengabaikan tanggung jawab ini, aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Diriku yang hari ini telah menyebabkan kerusakan seperti ini pada pekerjaan gereja adalah akibat dari kelalaianku dalam melakukan tugasku, karena aku bersikap acuh tak acuh, memanjakan diri dalam berkat-berkat dari statusku, dan tidak melakukan pekerjaan yang nyata. Aku sangat berutang kepada-Mu, dan aku merasa kasihan kepada saudara-saudariku. Ya Tuhan! Aku akan menerima penghakiman dan hajaran-Mu dalam hal ini, agar aku dapat mengenal diriku sendiri lebih dalam dan sungguh-sungguh bertobat kepada-Mu."

Kemudian, aku membaca dalam persekutuan bahwa, "Jika engkau adalah seorang yang kacau dalam melakukan tugasmu dan berencana untuk menipu, ini menunjukkan bahwa engkau adalah orang yang penuh tipu daya dan bengkok, yang adalah milik Iblis" ("The Five Primary Manifestations of Dispositional Change" dalam Kumpulan Khotbah—Bekal bagi Kehidupan). "Semua orang memiliki masalah yang sama dalam memenuhi tugasnya, yakni bertindak secara acuh tak acuh. Seolah-olah tak seorang pun layak menerima sikap serius mereka—jika orang melakukan sesuatu bagi seseorang dan memperlakukan hal itu secara sangat serius, pastilah orang tersebut adalah orang yang sangat mereka hormati, seseorang yang bisa banyak menolong mereka, atau seseorang yang kepadanya mereka sangat berutang budi, karena kalau tidak, mereka tidak akan memperlakukan hal itu dengan serius. Kata ‘keuntungan’ tertulis dalam huruf besar dalam natur umat manusia; manusia hanya memperlakukan sesuatu secara serius jika mereka menerima keuntungan sebagai imbalannya, dan jika tidak ada untungnya bagi mereka, mereka akan mengadopsi sikap yang acuh tak acuh. Itulah natur manusia, dan juga karakteristik umat manusia yang rusak. Semua orang mementingkan diri sendiri, jadi semua orang bertindak acuh tak acuh dan senang untuk hanya melakukan sekadarnya. Mungkin akan sedikit lebih baik jika umat manusia bisa sungguh-sungguh melihat bahwa melakukan tugasnya adalah sesuatu yang dilakukan untuk Tuhan dan harus diperlakukan secara serius demi Tuhan. Jika umat manusia benar-benar memiliki hati yang takut akan Tuhan, mereka tidak akan mungkin bertindak secara acuh tak acuh ketika memenuhi tugasnya" (Hanya dengan Mengenal Esensinya Sendiri yang Rusak, Orang Dapat Memasuki Jalur yang Benar dalam Kepercayaan Mereka kepada Tuhan" dalam Kumpulan Khotbah—Bekal bagi Kehidupan). Membandingkan diriku dengan apa yang dikatakan dalam persekutuan ini, dan merenungkan tindakan-tindakanku sendiri, aku merasa sangat malu. Aku melihat bahwa naturku sendiri sangat egois dan licik, bahwa segala sesuatu yang kulakukan adalah untuk melindungi kepentinganku sendiri. Mantraku adalah hukum bertahan hidup yang berbunyi "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya" Hal-hal yang menguntungkan harus dilakukan, sedangkan yang tidak menguntungkan tidak perlu dilakukan. Pelaksanaan tugas seseorang bukanlah untuk membalas kasih Tuhan, melainkan untuk mencapai kesepakatan dengan Tuhan. Aku selalu berusaha memperoleh lebih banyak berkat dengan membayar harga lebih sedikit, sehingga dengan demikian, aku cenderung bersikap acuh tak acuh dan mencoba untuk menipu Tuhan. Aku memikirkan kembali tentang bagaimana dalam pendekatanku terhadap masalah dengan Saudara Zhang dan Saudara Zhao, aku telah menyadari dengan jelas bahwa apa yang diwujudkan dalam diri mereka akan menghambat pekerjaan Injil—tetapi melihat bahwa tampaknya mereka melaksanakan tugasnya, dan merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik untuk mengganti mereka, aku melakukan tidak lebih dari bersekutu beberapa kali dengan mereka, tidak bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk menyelesaikan masalah ini. Ketika melaksanakan tugasku, aku puas hanya dengan membuat orang lain berpikir bahwa aku melakukan pekerjaan dengan baik, atau kalau kepemimpinan tingkat atas tidak dapat menemukan masalah besar apa pun; aku sama sekali tidak memikirkan apa yang Tuhan pikirkan, atau bagaimana Dia memandang hal ini. Aku tahu betul bahwa aku belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, aku juga tidak berusaha mencari tahu apa sumber dan hakikat dari masalah mereka, sampai sedemikian rupa hingga perlu waktu selama ini untuk mengganti mereka—yang merupakan penghalang utama bagi pekerjaan Injil. Tuhan telah mengangkat aku dengan memberiku tugas yang begitu penting, berharap aku akan memikirkan kehendak-Nya—tetapi aku tidak berpikir untuk membalas kasih Tuhan, sebaliknya aku justru memainkan peran sebagai antek Iblis, berusaha membodohi dan menipu Tuhan serta mendatangkan kerusakan pada pekerjaan Tuhan. Aku tidak memiliki sedikit pun kemanusiaan. Aku benar-benar hina dan patut dibenci, aku sungguh tidak layak untuk hidup di hadapan Tuhan! Watak Tuhan yang benar tidak dapat disinggung oleh manusia; bagaimana mungkin tindakan-tindakanku tidak dipandang hina oleh Tuhan?

Setelah itu, aku membaca firman Tuhan: "Mengenai maksud mereka dan seberapa banyak upaya yang mereka kerahkan untuk melakukan tugas-tugas mereka, Tuhan memeriksa dengan cermat dan dapat melihatnya. Amatlah penting bahwa orang mencurahkan segenap hati dan kekuatan mereka pada apa yang mereka lakukan. Kerja sama mereka juga sangat penting. Berjuang untuk tidak memiliki penyesalan atas tugas yang telah diselesaikan seseorang dan atas tindakan masa lalunya, dan sampai ke tempat di mana ia tidak berutang apa pun kepada Tuhan—inilah yang dimaksud dengan mencurahkan segenap hati dan kekuatan. Jika pada saat ini engkau tidak mencurahkan segenap hati dan kekuatanmu, suatu saat nanti, ketika ada sesuatu yang tidak beres, dan ada konsekuensi yang timbul, bukankah sudah sangat terlambat untuk menyesal? Engkau akan selamanya berutang budi, dan itu akan mencemari dirimu! Tercemar merupakan sebuah pelanggaran ketika orang melakukan tugasnya. Berjuanglah untuk mencurahkan segenap hati dan kekuatanmu pada apa yang harus dan perlu dilakukan ketika melakukan tugasmu. Jika engkau tidak hanya melakukannya secara asal-asalan, dan jika engkau tidak memiliki penyesalan, tugas yang engkau lakukan selama waktu ini akan diingat. Hal-hal yang diingat adalah perbuatan yang baik di hadapan Tuhan. Dan apa saja hal-hal yang tidak diingat? (Pelanggaran dan perbuatan jahat.) Hal-hal itu adalah pelanggaran. Orang mungkin tidak menerima bahwa itu adalah perbuatan jahat jika perbuatan itu dijelaskan sekarang ini, tetapi jika suatu hari nanti terjadi konsekuensi yang serius terhadap perkara ini, ketika perbuatan itu memiliki dampak negatif, pada saat itulah engkau akan mengerti bahwa ini bukanlah semata-mata pelanggaran perilaku, melainkan perbuatan jahat. Ketika engkau menyadari hal itu, engkau akan berpikir dalam hati, "Ini tidak akan terjadi jika aku telah menyadarinya sebelumnya! Kalau saja aku telah memikirkannya sedikit lebih jauh, kalau saja aku berusaha lebih keras, ini tidak akan terjadi." Tidak ada sesuatu pun yang akan menghapus noda abadi ini dari hatimu. Jika hal ini menimbulkan utang abadi, engkau akan berada dalam kesulitan" ("Cara Mengatasi Sikap Ceroboh dan Asal-asalan Ketika Melakukan Tugasmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Merenungkan firman Tuhan, aku merasa sangat tersentuh. Aku memikirkan tentang bagaimana aku telah diarahkan oleh naturku sendiri yang licik dan egois, bagaimana aku selalu dengan tidak jujur berusaha menghindar untuk membayar harga saat melaksanakan tugasku, bagaimana aku tidak segera mengidentifikasi dan memindahkan kembali para penanggung jawab yang sudah tidak layak dipakai itu, sampai sedemikian rupa hingga pekerjaan Injil terhambat, dan saudara-saudari hidup di tengah kegelapan dan hambatan. Aku telah melakukan pelanggaran di hadapan Tuhan. Jika penghakiman dan hajaran Tuhan tidak memeriksa langkah-langkahku yang jahat, siapa yang tahu kejahatan besar apa yang akan kulakukan di masa depan? Pada saat itu, semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa takut. Bersikap acuh tak acuh dalam pelaksanaan tugas seseorang sangatlah berbahaya—hal itu dapat mengganggu pekerjaan gereja kapan pun! Setelah melihat konsekuensi menyedihkan dari bersikap acuh tak acuh, barulah aku menyadari bahwa jika aku tidak berfokus menerima penghakiman dan hajaran Tuhan, tidak berfokus untuk menerapkan firman Tuhan, jika aku sembarangan dalam pelaksanaan tugasku, aku tidak akan pernah mampu mencapai kesetiaan kepada Tuhan, apalagi kebebasan dari watakku yang rusak dan keselamatan dari Tuhan. Pada saat itu, aku memiliki tekad dan keinginan untuk mengejar kebenaran dan mencapai kesetiaan dalam melaksanakan tugasku.

Setelah itu, kami menggunakan prinsip untuk menemukan orang-orang yang lebih tepat untuk menggantikan Saudara Zhang dan Saudara Zhao. Namun, masalah dalam kelompok-kelompok Injil tetap ada, jadi aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Masih ada banyak masalah di kelompok-kelompok Injil yang belum terpecahkan. Beberapa metode penerapan yang baik belum sepenuhnya diterapkan. Karena sebelumnya, aku lalai dalam mencari kebenaran, beberapa masalah masih terus ada sampai sekarang. Kali ini aku harus mencari dengan benar untuk melihat bagaimana memecahkan masalah-masalah ini. Ya Tuhan! Kumohon Engkau membimbingku." Setelah itu, aku menemukan beberapa saudara-saudari yang kinerjanya lebih baik dalam kelompok-kelompok Injil untuk mendiskusikan jalan mengkhotbahkan Injil secara terperinci. Aku belajar banyak. Selanjutnya, aku bersiap untuk mengadakan pertemuan dengan semua orang dan mempersekutukan masalah-masalah dalam melaksanakan tugas kami. Sore itu, aku merenungkan berbagai hal saat membaca materi, berusaha mencari tahu cara melakukan persiapan secara efektif. Aku merangkum masalah di beberapa bidang dan mencari firman Tuhan yang relevan sebagai jawabannya. Saat aku sudah setengah jalan melakukannya, aku menyadari bahwa masih ada banyak rincian yang harus diselesaikan—dan, menyadari hari sudah malam, pikiran untuk menyerah dan bersikap acuh tak acuh kembali muncul tanpa bisa kutahan: "Masalah-masalah ini akan membutuhkan banyak waktu dan upaya untuk menemukan referensinya. Oh, hari sudah begitu malam—mungkin aku seharusnya tidak sedemikian mendetail; dalam hal apa pun, aku telah mendapatkan arah keseluruhannya, dan saudara-saudari akan bisa memahaminya. Ini saja sudah cukup." Namun, pada saat aku berpikir untuk berhenti dan beristirahat, hatiku merasa tidak tenang. Saat itu, aku memikirkan firman Tuhan: "Setiap kali engkau ingin kendur dan hanya bertindak secara asal-asalan, setiap kali engkau ingin malas, dan setiap kali engkau membiarkan perhatianmu terbagi dan hanya ingin bersenang-senang, engkau harus pikirkan hal ini baik-baik: dengan berperilaku seperti ini, apakah aku tidak dapat dipercaya? Apakah aku sedang bersikap sepenuh hati dalam melakukan tugasku? Apakah aku sedang bersikap tidak setia dengan melakukan hal ini? Dengan melakukan hal ini, apakah aku gagal untuk hidup sesuai dengan kepercayaan yang telah Tuhan berikan kepadaku? Beginilah caranya engkau harus merenungkan dirimu sendiri. Engkau harus berpikir, "Aku belum menganggap serius masalah ini. Sebelum ini, aku merasa ada masalah, tetapi aku tidak menganggapnya serius; aku hanya mengabaikannya dengan ceroboh. Sekarang masalah ini masih belum terselesaikan. Orang macam apa aku ini?" Engkau akan dapat mengenali masalahnya serta sedikit mengenali dirimu sendiri. Haruskah engkau berhenti ketika engkau hanya memiliki sedikit pengenalan? Apakah masalahnya telah selesai begitu engkau mengakui dosa-dosamu? Engkau harus bertobat dan berbalik!" ("Hanya dengan Sering Merenungkan Kebenaran Engkau Dapat Memiliki Jalan untuk Maju" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Penghakiman dan hajaran firman Tuhan membuatku menyadari bahwa aku telah sekali lagi bersikap acuh tak acuh; bahwa aku telah sekali lagi mengikuti daging dan berusaha untuk mengambil jalan pintas. Pada saat yang sama, aku tahu jelas dalam hatiku bahwa jika aku tidak mengidentifikasi masalah-masalah kritis dan melaksanakan persekutuan yang bertarget, ini pasti akan berdampak pada efektivitas. Untuk mencapai efek yang optimal, aku harus mengabaikan daging. Sebagai hasilnya, aku banyak memikirkan dan mendaftarkan setiap masalah yang paling membutuhkan penyelesaian. Meskipun ini membuatku bekerja sampai larut malam, aku merasakan keteguhan dalam hatiku. Hari berikutnya, kami berkumpul untuk mempersekutukan masalah-masalah yang ada. Saudara-saudari sangat menyetujui jalan dan cara-cara yang baru. Melihat bahwa masalah yang telah membingungkan kami sedemikian lamanya telah terpecahkan, dan setiap orang telah terbebaskan, aku merasakan kenyamanan luar biasa di hatiku. Setelah itu, kami mulai melakukan penerapan sesuai dengan jalan dan metode yang baru. Pekerjaan Injil secara bertahap menjadi efektif dan aku tidak dapat menahan diriku untuk mengucap syukur kepada Tuhan dalam hatiku.

Setelah mengalami ini, aku benar-benar merasakan betapa dalamnya aku telah dirusak oleh Iblis. Aku telah kehilangan hati nurani dan rasionalitasku; meskipun, dari luar, aku dapat menyerahkan segala sesuatu dan mengorbankan diriku—bahkan mampu membayar harga dalam hal-hal tertentu—tetapi karena aku belum memperoleh kebenaran dan hidup, watakku yang rusak masih tetap berkuasa dalam diriku. Naturku yang licik dan pengkhianat, natur yang buta terhadap apa pun kecuali kepentinganku sendiri, telah mengarahkan aku di setiap saat. Apa pun yang aku lakukan, semuanya adalah demi keuntunganku sendiri. Ketika melaksanakan tugasku, aku selalu tidak jujur dan mencoba menipu Tuhan; aku tidak memiliki sedikit pun kesadaran bahwa makhluk ciptaan haruslah membalas kasih Tuhan dan memikirkan kehendak-Nya. Berkat penyingkapan Tuhan, aku melihat betapa hina dan tercelanya diriku, betapa aku tidak memiliki sedikit pun keserupaan dengan manusia. Khususnya ketika aku memikirkan tentang kerusakan yang kudatangkan pada pekerjaan rumah Tuhan oleh karena sikapku yang acuh tak acuh, aku merasa bahwa aku begitu tak dapat dipercaya, dan begitu menyakiti Tuhan. Aku juga merasakan kebencian yang lebih besar terhadap diriku sendiri, dan keinginan yang jauh lebih kuat untuk melepaskan watakku yang rusak dan diselamatkan oleh Tuhan. Semoga Tuhan mengaturkan lebih banyak lingkungan bagiku untuk menghakimi dan menghajarku, sehingga aku akan dapat berkenan di hati-Nya ketika melaksanakan tugasku sesegera mungkin.

10. Tugas Seseorang Hanya Dapat Dilaksanakan dengan Benar Setelah Memperbaiki Sikap yang Acuh Tak Acuh