79. Berkat Terselubung dari Penyakit

79. Berkat Terselubung dari Penyakit

Oleh Saudari Xiao Lan, Tiongkok

Pada tahun 2014, Partai Komunis mulai memfitnah Gereja Tuhan Yang Mahakuasa dengan Kasus Zhaoyuan pada 28 Mei dan menangkap saudara-saudari di mana-mana. Sebagian besar pemimpin gereja di daerah kami ditangkap dan beberapa saudara-saudari yang baru percaya hidup dalam ketakutan dan kenegatifan. Pada saat kritis inilah aku dipromosikan untuk bertanggung jawab atas banyak pekerjaan gereja. Dalam hati kupikir bahwa mulai mengambil tanggung jawab pada saat krisis adalah tanggung jawab yang sangat besar, dan aku tidak boleh mengecewakan Tuhan. Jadi aku mengerahkan segenap upayaku ke dalam tugasku, menghadapi bahaya ditangkap setiap saat. Aku merasa Tuhan pasti berkenan atas tindakanku melindungi pekerjaan gereja melewati masa berbahaya seperti itu dan bahwa aku pasti layak diselamatkan oleh Tuhan dan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Dan kemudian secara tiba-tiba, aku mengalami sakit parah.

Suatu malam pada bulan Oktober 2014, aku tiba-tiba menjatuhkan mangkukku ke lantai saat aku sedang makan malam. Kupikir itu hanya karena kecerobohan, jadi aku bergegas mengambilnya dan mencoba mengambil tisu untuk menyeka tanganku saat aku menyadari bahwa aku tidak memiliki kendali atas tanganku sendiri dan aku tidak mampu mengambil tisu. Dengan seegera aku kehilangan semua rasa di tangan dan kakiku dan aku hanya duduk di kursi, sama sekali tidak bergerak. Keluargaku bergegas mengukur tekanan darahku, yang ternyata di atas 200. Aku minum obat untuk menurunkan tekanan darah tetapi tidak berdampak apa pun. Aku sangat bingung dan heran bagaimana itu bisa terjadi. Aku tidak tahu apakah itu penyakit yang serius. Namun kemudian kupikir, aku telah mengerahkan begitu banyak upaya dalam tugasku selama bertahun-tahun imanku, jadi aku yakin aku akan menerima kasih karunia Tuhan dan penyakit itu tidak mungkin serius. Bahkan jika aku sakit, kurasa Tuhan pasti akan melindungi dan menyembuhkanku. Aku merasa jauh lebih tenang setelah terpikirkan hal itu. Ketika aku bangun keesokan harinya, aku mulai secara perlahan mencoba menggerakkan tangan dan kakiku dan mendapati bahwa semuanya terasa normal di bagian kanan tubuhku, tetapi tangan dan kaki kiriku mati rasa. Aku hampir tidak bisa merasakan apa pun. Aku langsung tegang: mengapa aku sama sekali tidak membaik? Apakah aku lumpuh sebagian? Jika demikian, aku takkan mungkin bisa melakukan tugasku lagi. Aku bertanya-tanya apakah aku telah menjadi tidak berguna dan disingkirkan, dan kemudian akankah aku memiliki kesempatan untuk diselamatkan? Namun kemudian, kupikir apa yang terjadi sangat parah sehingga bisa pulih dalam waktu setengah hari pasti adalah berkat dari Tuhan. Jika Tuhan menyembuhkanku, maka pemulihanku seharusnya menjadi hal yang mudah, bukan? Aku merasa sepertinya aku mendapatkan perlindungan Tuhan dan aku tidak perlu terlalu khawatir.

Pagi itu aku pergi ke dokter, dan setelah menjalani CT scan, dokter berkata dengan ekspresi serius di wajahnya, "Kau mengalami pendarahan otak di bagian kanan dengan darah sekitar 10 ml. Jika posisi pendarahan itu sedikit lebih tinggi, itu akan memengaruhi area wicaramu. Kau akan kehilangan kemampuan bicaramu, dan mungkin akan lumpuh total. Melihat bagaimana ini terjadi tadi malam, kau sangat beruntung bisa tetap bertahan sejauh ini. Kau harus segera diobati." Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa mereka akan mulai dengan infus dan melakukan pengobatan secara konservatif. Jika gumpalan darah di otakku tidak dapat dicairkan, mereka harus melakukan operasi otak. Pikiranku benar-benar kosong saat disebut pendarahan otak. Aku tidak pernah berani membayangkan bahwa itu bisa menjadi penyakit yang begitu serius. Aku bahkan belum berusia 50 tahun, jadi jika pengobatan tidak berhasil dan aku tetap lumpuh sebagian, atau menjadi zombi yang lumpuh total, kehidupan mengerikan seperti apakah itu? Dan operasi otak sangat berisiko, bahkan bisa merenggut nyawaku. Lalu dapatkah aku diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan Tuhan? Aku telah mengerahkan segenap upayaku dalam imanku selama bertahun-tahun, jadi aku tidak mengerti mengapa aku memiliki masalah kesehatan yang begitu serius. Mengapa Tuhan tidak melindungiku? Makin kupikirkan, makin aku merasa sedih dan bahkan tidak bisa makan siang. Kira-kira di hari kelimaku di rumah sakit, seorang wanita tua di sebelahku kondisinya tiba-tiba memburuk dan harus dipindahkan ke rumah sakit lain. Melihat keadaan ini membuatku kembali gelisah. Kami masuk pada hari yang sama dan dia telah berjalan keliling rumah sakit, tetapi sekarang mereka memindahkannya ke rumah sakit lain Tampaknya kau tidak dapat mengetahui apakah seseorang akan bisa bertahan hidup atau tidak dalam keadaan seperti ini, dan aku bertanya-tanya apakah kondisiku sewaktu-waktu juga bisa memburuk.

Bahkan setelah hampir seminggu dirawat di rumah sakit, kaki kiriku masih tidak merasakan apa pun. Kupikir, "Mengapa Tuhan tidak memperhatikanku? Aku tidak dapat melakukan tugas apa pun pada saat kritis seperti itu, jadi apakah aku telah kehilangan kesempatan untuk diselamatkan?" Pemikiran ini menimbulkan rasa dingin yang nyata di hatiku dan aku mulai menangis tersedu-sedu. Aku telah bekerja sangat keras selama sembilan tahun imanku, tidak pernah membiarkan apa pun menghalangi jalanku. Aku tidak pernah ragu untuk menghadapi kesulitan atau masalah apa pun yang muncul di gereja, dan aku tidak mundur bahkan ketika aku menghadapi bahaya nyata akan ditangkap. Aku selalu terus melakukan tugasku. Selama tahun-tahunku sebagai pemimpin, aku lebih menderita dan lebih memikirkan tugas daripada saudara-saudari lainnya. Kupikir dengan memberi begitu banyak, dan dengan pengorbanan seperti itu, Tuhan seharusnya memberkatiku. Bagaimana tiba-tiba aku bisa jatuh sakit? Mengapa Tuhan tidak melindungiku? Jika kesehatanku tidak membaik dan aku tidak mampu melakukan tugas, masihkah aku dapat diselamatkan? Jika tidak, apakah itu berarti pengorbanan dan kerja kerasku selama bertahun-tahun itu sia-sia? Aku merasa sepertinya aku tidak perlu mengerahkan segenap upaya jika aku tahu peristiwa ini akan terjadi. Aku merasa makin sedih. Aku bahkan tidak mau lagi berdoa atau merenungkan firman Tuhan. Aku merasa sangat gelisah, dan tanpa sadar aku meletakkan tanganku yang menerima infus di bawah kepalaku, membuat jarumnya tercabut sehingga membuat tanganku membengkak. Melihat tanganku yang bengkak membuatku merasa sedih. Aku teringat akan saudara-saudari di luar sana yang penuh semangat, memberitakan Injil dan melakukan tugas mereka, Sementara aku hanya terbaring di rumah sakit, sama sekali tidak mampu melakukan tugas apa pun. Bukankah aku sama sekali tidak berguna? Dan karena sekarang adalah waktunya untuk mengabarkan Injil kerajaan, yang lain semuanya mampu melakukan tugas mereka dan melakukan perbuatan baik sementara aku mungkin telah disingkirkan. Aku merasa sepertinya pada akhirnya aku takkan diselamatkan oleh Tuhan. Malam itu, aku terjaga dan gelisah, dan sama sekali tidak bisa tidur. Benar-benar tenggelam dalam penderitaanku, Aku datang ke hadapan Tuhan sambil menangis dan berdoa: "Ya Tuhan, aku sangat menderita sekarang. Aku tahu bahwa kau telah mengizinkan ini terjadi padaku dan aku seharusnya tidak salah paham kepadamu. Kumohon bimbing aku untuk memahami kehendak-Mu, sehingga aku dapat tunduk pada aturan dan penataan-Mu."

Saat berada di rumah sakit, seorang saudari mengirimiku pemutar MP5, dan ketika semua orang sedang tidur, aku memasang pelantang telingaku dan mendengarkan firman Tuhan. Salah satu bagiannya sangat membantuku. Firman Tuhan berkata, "Bagi semua orang, pemurnian sungguh menyiksa, dan sangat sulit untuk diterima—tetapi, selama pemurnianlah Tuhan menjadikan watak-Nya yang adil dapat dipahami dengan jelas oleh manusia, dan membuat tuntutan-Nya terhadap manusia terbuka, dan memberikan lebih banyak pencerahan, dan lebih banyak pemangkasan dan penanganan yang nyata; melalui pembandingan antara fakta dan kebenaran, Dia membantu manusia mengenal dirinya dengan lebih baik, dan memberi manusia pemahaman yang lebih besar tentang kebenaran dan kehendak Tuhan, sehingga manusia dapat memiliki kasih akan Tuhan yang lebih benar dan lebih murni. Itulah tujuan-tujuan Tuhan dalam menjalankan pemurnian. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan dalam diri manusia memiliki tujuan dan makna penting; Tuhan tidak melakukan pekerjaan yang tidak berarti atau tidak bermanfaat bagi manusia. Pemurnian bukan berarti menyingkirkan manusia dari hadapan Tuhan, dan juga bukan berarti menghancurkan mereka di neraka. Sebaliknya, pemurnian berarti mengubah watak manusia selama pemurnian, mengubah niat-niatnya, pandangan-pandangan lamanya, mengubah kasihnya kepada Tuhan, dan mengubah seluruh hidupnya. Pemurnian merupakan ujian nyata manusia, dan suatu bentuk pelatihan yang nyata, dan hanya selama pemurnianlah kasih manusia dapat memenuhi fungsinya yang inheren" ("Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Saat aku merenungkan bagian ini, aku menyadari bahwa ketika Tuhan menguji dan memurnikan orang, itu bukan untuk menyingkirkan mereka, tetapi untuk menyucikan dan mengubah mereka. Namun, aku tidak mencari kehendak Tuhan atau berusaha memahami pekerjaan-Nya. Sejak terkena strok, aku selalu saja salah paham dan menyalahkan Tuhan. Aku sangat bodoh! Jadi aku berdoa kepada Tuhan. Aku mau taat, membaca firman Tuhan untuk merenung dan mengenal diri sendiri, dan memetik pelajaran.

Aku membaca bagian ini dalam firman Tuhan, "Hal yang paling menyedihkan mengenai kepercayaan umat manusia kepada Tuhan adalah bahwa manusia melakukan pengelolaannya sendiri di tengah-tengah pekerjaan Tuhan dan tidak mengindahkan pengelolaan Tuhan. Kegagalan manusia yang terbesar terletak pada fakta bahwa, sementara mereka berusaha untuk tunduk kepada Tuhan dan menyembah Dia, manusia membangun tempat tujuannya sendiri dan merencanakan bagaimana menerima berkat terbesar dan tempat tujuan yang terbaik. Bahkan jika orang memahami betapa malang, menjijikkan, dan menyedihkannya keadaan mereka, berapa banyakkah yang rela meninggalkan cita-cita dan harapan mereka? Siapakah yang dapat menghentikan langkah mereka sendiri dan tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri? Tuhan membutuhkan orang-orang yang bekerja secara dekat dengan-Nya untuk menyelesaikan pengelolaan-Nya, orang yang tunduk kepada-Nya, mengabdikan tubuh dan pikiran untuk pekerjaan pengelolaan-Nya, bukan orang yang mengulurkan tangan untuk memohon kepada-Nya setiap hari, apalagi orang-orang yang hanya memberi sedikit dan kemudian menunggu untuk diberi upah. Tuhan membenci orang yang memberi sedikit kemudian berpuas diri, orang-orang berdarah dingin yang membenci pekerjaan pengelolaan-Nya dan hanya ingin berbicara tentang pergi ke surga, tentang diberkati. Dia bahkan lebih membenci orang yang memanfaatkan kesempatan dari pekerjaan keselamatan-Nya. Itu karena orang-orang ini tidak pernah peduli tentang apa yang Tuhan ingin capai dan dapatkan melalui pekerjaan pengelolaan-Nya. Satu-satunya kepedulian mereka adalah bagaimana menggunakan kesempatan dari pekerjaan Tuhan untuk mendapatkan berkat. Mereka tidak peduli dengan hati Tuhan, tetapi hanya memikirkan prospek dan nasib mereka. Orang-orang yang membenci pekerjaan pengelolaan Tuhan dan sama sekali tidak memiliki minat pada bagaimana Tuhan menyelamatkan umat manusia serta kehendak-Nya, hanya melakukan apa yang menyenangkan diri mereka sendiri, terlepas dari pekerjaan pengelolaan Tuhan. Perilaku mereka tidak diingat atau diperkenan Tuhan, apalagi dipandang baik oleh Tuhan" ("Manusia Hanya Dapat Diselamatkan di Tengah Pengelolaan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan menyingkapkan keadaanku dengan akurat. Ketika awal-awal aku menjadi orang percaya, aku melihat apa yang Tuhan janjikan kepada manusia dan kupikir bahwa asalkan kita bekerja keras dan berkorban bagi Tuhan, dan mengejar kebenaran, kita dapat diselamatkan dan masuk ke dalam kerajaan Tuhan. Jadi aku mengerahkan upayaku dengan segenap hati ke dalam tugasku, dan melewati keadaan apa pun yang merugikan. Ketika jemaat gereja lain mengalami kesulitan, aku selalu segera menyokong dan membantu mereka. Aku bahkan terus melakukan tugasku ketika aku menghadapi bahaya penangkapan yang sangat nyata. Kupikir pengorbanan seperti ini pasti akan membuatku layak untuk menerima perlindungan dan berkat Tuhan, dan bahwa aku pasti akan mendapat tempat di kerajaan surga. Ketika aku jatuh sakit dan menghadapi kemungkinan lumpuh sebagian, aku merasa sepertinya Tuhan tidak melindungi atau memberkatiku dan telah kehilangan kesempatanku untuk memperoleh masa depan dan tempat tujuan yang baik. Aku penuh dengan keluhan dan bahkan ingin bertransaksi, memperhitungkan semua yang telah kulakukan. Dengan semua upaya yang telah kulakukan, aku bernalar dengan Tuhan, berdebat dengan-Nya, berseru kepada-Nya. Bukankah akulah tepatnya yang Tuhan maksudkan ketika Dia berkata "orang-orang yang hanya memberi sedikit dan kemudian menunggu untuk diberi upah" dan "orang yang memberi sedikit kemudian berpuas diri." Dalam menghadapi penyakit parah, motifku yang terselubung untuk mendapatkan berkat dan sudut pandang transaksional yang ada di balik pengorbanan dalam imanku semuanya muncul ke permukaan. Aku tidak melakukan tugasku untuk memperoleh kebenaran dan menyingkirkan kerusakan, sebaliknya aku mau menggunakan pengorbanan luaran dengan imbalan anugerah dan berkat Tuhan, dengan imbalan berkat kerajaan. Aku bertransaksi dengan Tuhan, memanfaatkan dan menipu Dia. Bagaimana mungkin seorang oportunis seperti diriku layak atas kerajaan Tuhan? Jika saja bukan karena strok itu, aku pasti telah benar-benar tertipu oleh semua upaya lahiriahku dan aku takkan pernah mengenali motifku yang hina untuk mengejar berkat, atau pemalsuan dalam imanku. Aku pasti akan terus menentang Tuhan dalam imanku, tanpa menyadari apa yang sedang kulakukan.

Setelah itu, aku terus merenungkan diriku, dan merenungkan mengapa aku selalu berusaha bertransaksi dengan Tuhan dalam tugasku. Dalam pencarianku, aku membaca bagian ini dalam firman Tuhan: "Semua manusia yang rusak hidup untuk diri mereka sendiri. Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri—inilah ringkasan dari natur manusia. Orang percaya kepada Tuhan demi diri mereka sendiri; mereka meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri mereka bagi Dia, dan setia kepada Dia, tetapi mereka tetap melakukan semua hal ini demi diri mereka sendiri. Singkatnya, semua itu dilakukan dengan tujuan mendapatkan berkat bagi diri mereka sendiri. Di masyarakat, segala sesuatu dilakukan demi keuntungan pribadi; percaya kepada Tuhan semata-mata dilakukan untuk mendapatkan berkat. Demi mendapatkan berkat, orang meninggalkan segalanya dan mampu menanggung banyak penderitaan: semua ini merupakan bukti empiris dari natur manusia yang rusak" ("Perbedaan antara Perubahan Lahiriah dan Perubahan Watak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"). Firman Tuhan menunjukkan sumber dari sikapku yang transaksional dalam imanku. Pepatah seperti "Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri", dan "Jangan pernah bangun pagi kecuali ada untungnya" adalah gagasan-gagasan iblis yang telah mengakar jauh di dalam hatiku dan telah menjadi hukum kelangsungan hidup bagiku. Dalam semua yang kulakukan, keuntungan pribadiku adalah yang pertama dan terutama, jadi aku merasa harus diberi imbalan atas apa yang kuberikan. Bahkan dalam pekerjaanku untuk Tuhan, aku hanya berusaha bertransaksi dengan-Nya dan aku berpikir bahwa mendapatkan berkat dalam imanku adalah hal yang wajar. Ketika aku terkena strok setelah bekerja sangat keras dan melakukan begitu banyak pengorbanan, dan aku sadar setiap saat aku bisa mati, dan bahwa aku kehilangan semua harapan untuk diselamatkan, memiliki kesudahan dan tempat tujuan yang baik, jadi aku segera berdiri menentang Tuhan dan menyalahkan Dia. Aku memperhitungkan semua yang telah kulakukan, berdebat dengan Tuhan, melawan Dia. Aku telah hidup menurut racun Iblis, tidak memiliki keserupaan dengan manusia. Jika aku tidak bertobat, cepat atau lambat aku akan disingkirkan dan dihukum.

Ada beberapa bagian firman Tuhan lagi yang kemudian kubaca yang memberiku pemahaman tentang sudut pandang yang keliru tentang pengejaran dalam imanku. Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Ketika manusia mengukur sesama manusia, ia melakukannya berdasarkan kontribusi mereka. Ketika Tuhan mengukur manusia, Dia melakukannya berdasarkan natur manusia. Di antara orang-orang yang mencari hidup, Paulus adalah orang yang tidak memahami esensinya sendiri. Ia sama sekali tidak rendah hati ataupun taat, ia juga tidak memahami hakikatnya, yang bertentangan dengan Tuhan. Jadi, Paulus adalah seorang yang belum mengalami pengalaman terperinci, dan seorang yang tidak menerapkan kebenaran. Petrus berbeda. Ia tahu ketidaksempurnaannya, kelemahannya, dan wataknya yang rusak sebagai makhluk ciptaan Tuhan, dan dengan demikian ia memiliki jalan penerapan untuk mengubah wataknya; ia bukan salah seorang dari mereka yang hanya memiliki doktrin tetapi tidak memiliki kenyataan. Mereka yang berubah adalah orang-orang baru yang telah diselamatkan, mereka adalah orang-orang yang memenuhi syarat dalam mengejar kebenaran. Mereka yang tidak berubah termasuk orang-orang yang tentu saja sudah usang; mereka adalah orang-orang yang belum diselamatkan, yakni orang-orang yang dibenci dan ditolak oleh Tuhan. Mereka tidak akan diingat oleh Tuhan sebesar apa pun pekerjaan mereka. Pada saat engkau membandingkan hal ini dengan pengejaranmu sendiri, apakah engkau pada akhirnya adalah orang yang sejenis dengan Petrus ataukah dengan Paulus, itu seharusnya sudah jelas" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Jika hal yang kaucari adalah kebenaran, jika hal yang kaulakukan adalah kebenaran, dan jika hal yang kaucapai adalah perubahan pada watakmu, maka jalan yang kautapaki adalah jalan yang benar. Jika hal yang kaucari adalah berkat daging, dan hal yang kaulakukan adalah kebenaran yang berasal dari gagasanmu sendiri, dan jika tidak ada perubahan pada watakmu, dan engkau sama sekali tidak taat kepada Tuhan dalam rupa manusia, dan engkau masih hidup dalam ketidakjelasan, maka hal yang engkau cari itu pasti akan membawamu ke neraka, karena jalan yang kautempuh adalah jalan kegagalan. Apakah engkau akan disempurnakan ataukah disingkirkan, itu tergantung pada pengejaranmu sendiri, yang juga berarti bahwa keberhasilan dan kegagalan tergantung pada jalan yang manusia jalani" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ketika makin kurenungkan, itu benar-benar mencerahkan bagiku. Ketika Tuhan mengukur seseorang, itu tidak didasarkan pada apa yang telah mereka berikan di luarnya, tetapi berdasarkan sikap, cara pandang, dan pendirian mereka dalam menghadapi segala sesuatu, dan apakah mereka dapat menerapkan kebenaran dan taat kepada Tuhan. Namun, kupikir asalkan orang berkorban dan bekerja keras, Tuhan akan bersukacita atas hal ini dan memberkati mereka, maka mereka pasti akan memiliki tempat tujuan yang baik. Bukankah itu jelas bertentangan dengan firman Tuhan? Pada Zaman Kasih Karunia, Paulus pergi ke sebagian besar daerah Eropa untuk memberitakan Injil Tuhan. Dia banyak menderita, menyelesaikan banyak pekerjaan, dan mendirikan begitu banyak gereja. Namun, semua yang dia lakukan sama sekali bukan karena taat kepada Tuhan atau untuk melakukan tugas makhluk ciptaan. Itu agar dia diberkati dan diberi upah secara pribadi. Itulah sebabnya, setelah banyak bepergian dan bekerja keras, dia berkata, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7-8). Paulus secara terang-terangan menuntut mahkota dari Tuhan. Pengorbanannya tidak tulus dan bukan berasal dari ketaatan kepada Tuhan. Pada akhirnya, dia bukan hanya tidak masuk ke dalam kerajaan, tetapi dia dikirim ke neraka dan dihukum. Dalam imanku, aku tidak memandang segala sesuatu dari kebenaran dan firman Tuhan, tetapi aku mengukur pekerjaan Tuhan menurut logika Iblis dan dengan sikap transaksional. Aku sama sekali tidak bernalar. Firman Tuhan berkata, "Jika hal yang kaucari adalah kebenaran, jika hal yang kaulakukan adalah kebenaran, dan jika hal yang kaucapai adalah perubahan pada watakmu, maka jalan yang kautapaki adalah jalan yang benar" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku harus mengejar kebenaran dan berfokus untuk mengenal diriku sendiri melalui proses melakukan tugasku, untuk menangani sudut pandangku yang keliru, motifku yang salah dan watakku yang rusak, mencapai ketaatan kepada Tuhan, dan melakukan tugasku karena memikirkan kehendak Tuhan dan tidak ada yang lain. Itulah satu-satunya cara untuk diselamatkan oleh Tuhan. Setelah aku menyadari semua ini, aku berdoa: "Apa pun yang terjadi dengan kesehatanku, aku siap untuk taat. Jika aku hidup dan keluar dari rumah sakit, aku akan melakukan tugasku untuk membalas kasih Tuhan selama nafasku masih berhembus!"

Pada hari ke-12 di rumah sakit, aku bertanya apakah aku bisa diperiksa untuk kemungkinan diperbolehkan pulang, dan setelah pemeriksaan, dokter berkata, "Pendarahannya telah berhenti, tetapi gumpalan darah belum sepenuhnya cair. Ini terlihat sangat bagus untuk hanya 12 hari pengobatan." Aku sangat senang mendengar hal ini, dan aku bersyukur kepada Tuhan karena telah melindungiku. Dokter juga memberitahuku bahwa jika aku keluar dari rumah sakit, aku harus berfokus pada pemulihanku dan tidak boleh sampai kelelahan, dan bahwa pembuluh darah otakku sangat rapuh, jadi aku harus pastikan tidak boleh jatuh, jika tidak, akibat dari strok kedua akan sangat mengerikan. Pada hari aku pulang ke rumah, aku mendapat pesan bahwa Saudari Zhang, seorang saudari yang bekerja bersamaku, telah pergi keluar empat hari yang lalu tetapi masih belum pulang ke rumah tuan rumahnya. Kemungkinan besar dia telah ditangkap. Mendengar hal ini sungguh mencemaskan. Itu berarti tempat pertemuan yang pernah dia datangi dan rumah di mana persembahan gereja disimpan semuanya berada dalam bahaya, jadi mereka harus diberitahu untuk segera mengambil tindakan pencegahan. Namun, banyak sekali tempat yang harus didatangi, dan karena baru saja keluar dari rumah sakit, aku tidak mampu secara fisik menangani semua guncangan itu. Mengapa peristiwa ini tidak terjadi sebelum ini, atau sesudah ini? Mengapa ini harus terjadi pada saat yang kritis? Jika aku terkena strok lagi, itu bahkan akan membuatku tidak mampu berdiri, dan pergi keluar untuk memberi tahu semua orang itu sangat berbahaya . Jika aku ditangkap, mampukah aku menahan siksaan kejam polisi secara fisik? Ini mungkin akan menjadi akhir hidupku. Namun, hanya Saudari Zhang dan aku yang tahu di mana saudara-saudari ini tinggal, jadi jika aku tidak pergi memberitahu mereka dan akhirnya mereka ditangkap, dan persembahan diambil oleh polisi, itu akan menjadi kerugian yang sangat besar. Kebingungan, aku teringat doa yang kunaikkan sebelum keluar dari rumah sakit, “Jika aku keluar dari rumah sakit hidup-hidup, aku akan setia pada tugasku dan membalas kasih Tuhan sampai nafas terakhirku.” Sekarang sesuatu sedang terjadi, bagaimana aku bisa melupakan janjiku begitu saja? Aku bersujud di hadapan Tuhan dan berdoa, "Tuhan, aku tahu Engkau sedang mengamatiku, melihat sikap apa yang kumiliki. Aku bersedia menjunjung tinggi pekerjaan rumah Tuhan dan melakukan tugasku." Aku juga teringat tentang apa yang terjadi ketika Tuhan Yesus dipakukan di kayu salib, yang sangat mengharukan bagiku. Tuhan Yesus pergi ke tempat penyaliban-Nya tanpa pernah melihat ke belakang, semua untuk menebus umat manusia, dan mengalami penderitaan dan penghinaan yang tak terbayangkan. Kasih Tuhan kepada manusia begitu besar. Dia menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, jadi mengapa aku tidak bisa melepaskan kepentingan pribadiku dan melindungi pekerjaan rumah Tuhan untuk membalas kasih Tuhan? Sebagai makhluk ciptaan, aku tidak boleh hanya menikmati kasih karunia Tuhan dan tidak memikirkan apa pun selain berkatku sendiri. Jika aku tidak melakukan tugasku, aku bahkan tidak layak disebut manusia. Didorong oleh firman Tuhan, aku mulai membuat rencana untuk mengurus berbagai hal. Saat aku sedang dalam perjalanan ke rumah tuan rumah kedua, aku mendapati bahwa Saudari Zhang sebenarnya tidak ditangkap. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Aku juga merasa jauh lebih damai, karena aku bisa memperbaiki motif dan sudut pandangku dan menerapkan kebenaran.

Enam tahun ini berlalu dengan sangat cepat. Aku belum pulih sepenuhnya, tangan dan kaki kiriku masih agak mati rasa, tetapi aku tahu bahwa kesehatanku berada di tangan Tuhan. Tidak pulih sepenuhnya berfungsi sebagai perlindungan bagiku, pengingat agar tidak mengerahkan upayaku untuk mendapatkan berkat, tidak berakhir di jalan yang salah seperti Paulus. Aku sudah menderita melewati semua ini, tetapi itu membantuku memahami kerusakan dan pemalsuanku dengan lebih baik dan memperbaiki cara pandangku yang keliru tentang diberkati. Aku memahami bahwa dalam imanku, aku harus mengejar kebenaran dan taat kepada Tuhan, dan melakukan tugas sebagai makhluk ciptaan. Aku memiliki tujuan yang benar dalam pengejaranku sekarang— penyakit ini telah menjadi berkat terselubung! Aku tidak pernah bisa mendapatkan semua ini dalam keadaan yang nyaman. Syukur kepada Tuhan untuk keselamatan-Nya!

79. Berkat Terselubung dari Penyakit