42. Aku Belajar Untuk Berkoordinasi Dengan Orang Lain

42. Aku Belajar Untuk Berkoordinasi Dengan Orang Lain

By Liu Heng, Provinsi Jiangxi

Dalam pemungutan suara baru-baru ini, aku terpilih menjadi pemimpin gereja. Untuk membalas cinta Tuhan, aku membuat resolusi di hadapan Tuhan: Apa pun yang aku hadapi, aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku dan mengkhianati Tuhan. Aku akan berkoordinasi dengan saudara-saudariku untuk melakukan tugasku dengan baik dan akan menjadi seorang pribadi yang mengejar kebenaran.

Saudari Wang dan aku bertanggung jawab atas pekerjaan gereja, dan ketika pada awalnya kami memiliki pendapat yang berbeda tentang bagaimana mengatur beberapa urusan gereja, aku secara sadar akan berdoa kepada Tuhan memohon kepada-Nya untuk melindungi hatiku, dan untuk membuatku dapat melepaskan diri dan tidak berdebat dengan saudariku. Aku juga sering mengingatkan diri sendiri bahwa aku harus bekerja secara harmonis dengan saudari ini. Namun, karena aku hanya memusatkan perhatian untuk mengendalikan tindakan agar aku tidak akan mengalami konflik dengannya, dan karena aku belum masuk ke dalam kebenaran, dari waktu ke waktu, aku semakin banyak berselisih dengannya. Suatu kali aku ingin mempromosikan seorang saudari dengan tugas penyiraman bagi orang percaya baru, Saudari Wang mengatakan bahwa saudari yang kupilih tidak baik. Setelah aku mengganti kandidat, beliau masih mengatakan itu tidak cocok. Aku langsung menjadi kecewa. Kemudian aku tidak pernah membahas masalah tersebut lagi. Ketika dia bertanya tentang hal tersebut, aku berkata dengan marah "Pilih siapa pun yang engkau inginkan!" Setelah ini, untuk menghindari konflik, terlepas dari apa yang dia katakan, jika ada perbedaan pendapat, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Terkadang menahannya di dalam menjadi tidak tertahankan, jadi aku akan bersembunyi di suatu tempat dan menangis. Karena itu, aku selalu merasa bahwa aku telah diperlakukan dengan tidak benar. Di lain waktu, pemimpin dengan tingkatan yang lebih tinggi menyerahkan tugas kepadaku untuk ditangani, dan ketika semuanya selesai, aku merasa cukup senang. Aku pikir Saudari Wang akan memujiku. Tanpa diduga, dia merusak momen yang menyenangkan tersebut, dengan mengatakan, "Ini benar-benar bukan cara yang tepat untuk melakukannya." Ini sungguh-sungguh membuat aku jengkel. Aku berpikir: "Engkau bahkan belum melihatnya dan engkau langsung menolaknya mentah-mentah. Engkau merasa dirimu yang paling benar! "Kami masing-masing berpegang pada pendapat kami dan tidak ada satu pun dari kami yang mau mengalah. Akhirnya, aku bahkan tidak mau mendengarkan komunikasi-komunikasi Firman Tuhan. Semakin aku pikirkan, semakin aku merasa bahwa dia sengaja mempersulitku. Aku telah terus menerus memberi toleransi kepadanya, namun dia masih memperlakukanku seperti ini. Semakin kupikirkan, semakin aku merasa diperlakukan dengan tidak benar. Akibatnya, aku benar-benar ditinggalkan dalam kegelapan dan telah kehilangan pekerjaan Roh Kudus. Sejak saat itu, aku tidak mau bekerja dengannya. Aku berpikir: "Aku tidak berani memancing saudari ini, tetapi aku bisa menghindarinya." Karena aku tidak mau melakukan tugasku dengan saudari ini, aku menulis surat pengunduran diri. Tidak lama kemudian, ketika aku bertemu pemimpinku dengan tingkatan yang lebih tinggi, aku memberi tahu beliau tentang pengunduran diriku. Beliau kemudian menyampaikan kepadaku prinsip-prinsip dalam mengambil tanggung jawab dan pengunduran diri serta kepedulian yang besar dan upaya yang telah Tuhan lakukan untuk menyelamatkan orang-orang. Namun, kekerasan hatiku tidak mau mengalah, dan aku bertekad untuk mengundurkan diri dari jabatanku.

Pagi berikutnya setelah aku bangun dari tempat tidur, kepalaku benar-benar kosong.Bahkan ketika aku berdoa, aku tidak bisa merasakan Tuhan, dan aku merasa mengantuk ketika membaca Firman Tuhan.Aku takut dan panik dan berpikir tentulah tindakanku yang telah membuat Tuhan membenciku. Jadi, aku mulai memeriksa diri sendiri. Setelah aku memikirkan semua yang telah terjadi selama waktu yang kuluangkan untuk mengkoordinasi dan melaksanakan tugasku bersama dengan saudari ini, aku dapat melihat bahwa watakku telah membuat Tuhan membenciku. Firman Tuhan tidak hadir dalam tingkah lakuku dan aku tidak memiliki rasa hormat terhadap Tuhan. Aku semata-mata bukan orang yang menerima kebenaran. Sebagai hasilnya, aku telah ditipu oleh Iblis dan aku telah melepaskan tanggung jawabku dan mengkhianati Tuhan tanpa kusadari. Setelah menyadari hal ini, aku segera bersujud di hadapan Tuhan dan bertobat: "Ya Tuhan Yang Mahakuasa, aku salah. Aku telah percaya kepada-Mu, tetapi aku belum mau mengalami pekerjaan-Mu. Engkau mengatur lingkunganku dan aku belum mau menerimanya;aku ingin menghindari hajaran dan penghakiman-Mu. Perbuatanku benar-benar telah melukai-Mu. Ya Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu karena telah menyingkapkan pekerjaanMu kepadaku dan memungkinkanku untuk lebih memahami watakku yang jahat. Sekarang aku melihat bahwa tingkat pertumbuhanku sangat kecil. Aku bahkan tidak bisa menangani kemunduran terkecil sekalipun. Ketika terjadi hal kecil yang tidak kusukai, aku ingin mengkhianati-Mu. Aku telah membuang sumpah yang telah kubuat terhadap-Mu. Ya Tuhan, aku mau bertobat, mengesampingkan diriku, dan berkoordinasi dengan sungguh-sungguh bersama saudari itu. Ya Tuhan, aku tidak lagi mau hidup di bawah kendali pengaruh Iblis atau dibatasi oleh watakku yang rusak. Aku telah memutuskan untuk menarik kembali surat pengunduran diriku. Aku tidak lagi bersedia hidup untuk mukaku sendiri, kali ini aku bersedia memuaskan-Mu!" Setelah berdoa, aku menjadi penuh air mata, dan segera setelah itu aku menarik kembali surat pengunduran diriku dan langsung merobeknya menjadi hancur di tempat. Ketika kami berkumpul hari itu, beberapa dari kami membaca Firman Tuhan bersama. Firman Tuhan mengatakan: "Reputasimu sekalian telah hancur, sikapmu merendahkan, cara bicaramu hina, hidupmu tercela, dan bahkan seluruh kemanusiaanmu begitu rendah. Engkau sekalian berpikiran sempit terhadap orang-orang dan engkau tawar-menawar dalam setiap hal kecil. Engkau sekalian bertengkar karena reputasi dan statusmu sendiri, bahkan sampai bersedia turun ke neraka, ke dalam lautan api" ("Karaktermu Sungguh Hina!" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Manusia tidak menuntut banyak dari dirinya sendiri, tetapi mereka menuntut banyak dari Tuhan. Mereka memohon kepada Tuhan untuk menunjukkan kebaikan khusus dan bersabar serta menahan diri terhadap mereka, menghargai, menyediakan bagi mereka, dan tersenyum kepada mereka, serta merawat mereka dengan berbagai cara. Mereka berharap Dia sama sekali tidak bersikap tegas atau melakukan sesuatu yang akan membuat mereka kecewa sedikit pun, dan hanya puas jika Dia memuji mereka setiap hari. Manusia sangat tidak masuk akal!" ("Orang yang Selalu Memiliki Tuntutan terhadap Tuhan adalah Orang yang Paling Tidak Masuk Akal" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan telah sepenuhnya mengungkap semua keburukan di dalam diriku. Baru saat itulah aku bisa melihat bahwa watak jahatku begitu parahAku memiliki sifat yang congkak dan sombong sehingga aku selalu merasa lebih baik daripada orang lain. Aku tidak memiliki kesadaran diri sedikit pun; Aku tidak mengenal diri di dalamku dan di luarku. Karena itu, ketika dulu aku berkoordinasi dengan saudari itu, aku selalu ingin menjadi penanggung jawab, dan menjadi pemimpin. Aku ingin sekali saudari itu mengikutiku dalam segala hal dan mendengarkanku. Saya selalu ingin menjadi kepala. Ketika pendapat saudari tersebut tidak sejalan dengan pendapatku, aku tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan konflik dan mencapai pemahaman bersama dengannya. Sebaliknya, aku akan kehilangan kesabaran dan bersikap tidak menyenangkan karena aku telah kehilangan muka, dan aku akan menjadi berprasangka terhadap saudari itu, sampai-sampai aku membiarkan kemarahan menghalangi cara kerjaku. Terlebih lagi,tidak pernah terpikir olehku untuk mengambil inisiatif memperbaiki hubungan kami atau berpikir untuk mengubah sikap dalam melakukan tugasku. Ketika kami bekerja bersama, aku selalu merasa lebih baik daripada orang lain. Aku tidak menuntut perubahan apa pun dalam diriku, aku meremehkan untuk berbicara dari hati ke hati dengan saudari itu. Saya hanya memusatkan perhatian pada kesalahan-kesalahannya, dan aku menuntut agar dia mengubah dirinya sendiri.Aku menganggap diri sebagai penguasa kebenaran dan melihat orang lain sebagai yang rusak. Sepanjang pekerjaan kami berkoordinasi bersama, aku tidak mengenal diri sendiri.Ketika saudari tersebut bersikap buruk, atau ketika ada perbedaan pendapat di antara kami,aku tidak merefleksi diri atau mengenal diri sendiri, tetapi sebaliknya aku akan melimpahkan semua kesalahan padanya. Aku percaya bahwa dia salah, jadi aku meremehkannya di hatiku dan mendiskriminasikannya sampai aku memperlakukannya seperti musuh. Aku melihat watak jahatku yang rusak-keangkuhan dan kesombongan, kecongkakan dan kekejaman - dan aku benar-benar tidak masuk akal! Tuhan meninggikanku dan memberiku kesempatan untuk melakukan tugasku, tetapi aku tidak berpikir untuk berkoordinasi secara harmonis dengan saudari tersebut dan melakukan tugas kami dengan baik untuk memuaskan Tuhan. Sepanjang hari, aku tidak akan terlibat dalam pekerjaan yang jujur, aku akan berencana menentangnya, dan akan bertengkar karena rasa cemburu dengannya. Aku hanya tahu untuk bercekcok tentang keluhanku sendiri dan tanpa henti memperebutkan mukaku sendiri dan kesia-siaan belaka. Apakah aku punya hati nurani atau alasan? Apakah aku orang yang mengejar kebenaran? Tuhan mengharuskan kita untuk mempraktekkan Firman-Nya dalam hidup kita, namun aku dipisahkan darinya dalam memenuhi tugas-tugasku; aku sama sekali tidak mencari kebenaran, dan aku tidak pernah menerima atau menaati saran saudariku yang sesuai dengan kebenaran di dalam melakukan tugas kami di dalam pekerjaan kami bersama. Setiap kali terjadi sesuatu, aku mengambil alih kepemimpinan dan membuatnya tunduk kepadaku dan mendengarkanku. Apakah aku tidak berada di jalur antikristus? Apakah aku tidak menuju kehancuran diri sendiri dengan terus seperti ini? Baru pada saat itulah aku dapat melihat bahwa tingkah lakuku semuanya hanyalah tentang kedagingan dan keinginanku yang egois, dan sifatku terlalu egois dan tercela. Kepercayaanku pada Tuhan selama bertahun-tahun tidak memberiku sesuatu yang nyata dan tidak ada sedikit pun perubahan dalam watakku. Aku tidak bisa terus seperti ini, dan akhirnya aku menjadi rela untuk mencari kebenaran dan mengubah diriku.

Setelah itu, saya membaca Firman Tuhan yang mengatakan: "Jika engkau sekalian yang berkoordinasi untuk bekerja di dalam gereja tidak saling belajar dan berkomunikasi, mengimbangi kekurangan masing-masing, dari mana engkau dapat belajar? Apabila engkau menghadapi sesuatu, engkau harus bersekutu satu sama lain, sehingga hidupmu dapat beroleh manfaat. ... Engkau semua harus mencapai kerja sama yang harmonis untuk tujuan pekerjaan Tuhan, demi kepentingan gereja, dan memacu saudara-saudari terus bergerak maju. Engkau berkoordinasi dengannya dan ia berkoordinasi denganmu, masing-masing mengubah yang lain, sampai mencapai hasil kerja yang lebih baik, sehingga memperhatikan kehendak Tuhan. Hanya inilah kerja sama yang benar, dan hanya orang-orang semacam itu yang memiliki jalan masuk yang sesungguhnya. ... Masing-masing engkau, sebagai orang-orang yang melayani, harus mampu memperjuangkan kepentingan gereja dalam segala hal yang engkau lakukan, tidak mencari kepentinganmu sendiri. Bila engkau berjuang sendiri, itu tidak bisa diterima, di mana engkau meremehkan orang lain dan orang lain meremehkan dirimu. Orang yang bertindak demikian tidak layak melayani Tuhan!" ("Melayanilah Seperti Orang Israel Melayani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dan hal tersebut disampaikan dalam sebuah khotbah: "Tidak ada peran utama dan wakil dalam berkoordinasi di dalam pelayanan. Setiap orang memiliki hak yang sama, dan prinsipnya adalah untuk mencapai konsensus melalui persekutuan tentang kebenaran. Ini memerlukan orang-orang untuk saling mematuhi satu sama lain. Artinya, siapa pun yang berbicara dengan benar dan berbicara sesuai dengan kebenaran harus dipatuhi. Prinsipnya adalah mematuhi kebenaran.Kebenaran adalah otoritas, dan siapa pun yang dapat bersekutu tentang sesuatu yang sejalan dengan kebenaran dan melihat segala sesuatu secara akurat harus dipatuhi. Terlepas dari apa pun yang orang-orang lakukan ataupun tugas apa yang mereka kerjakan, mematuhi kebenaran selalu merupakan prinsipnya" (Persekutuan dari Atas). Dari khotbah dan Firman Tuhan, aku melihat cara untuk berlatih dan masuk ke dalam melayani dalam berkoordinasi satu dengan lainnya. Yaitu, memperhatikan penuh kehendak Tuhan dan melindungi kepentingan keluarga Tuhan sambil mengkoordinasikan dan melaksanakan tugas kami bersama. Terlepas dari apa yang dilakukan orang atau pekerjaan apa yang sedang mereka lakukan semuanya harus dilakukan dengan berserah diri pada kebenaran dan dengan menyampaikan kebenaran untuk mencapai pemahaman bersama sebagai prinsip. Engkau tidak bisa begitu congkak dan sombong untuk mempertahankan pendapatmu sendiri dan membuat orang lain mendengarkanmu, dan engkau tidak bisa menjual prinsip-prinsip kebenaran untuk melindungi hubungan antar pribadimu. Selain itu engkau tidak bisa hanya mengikuti karaktermu sendiri untuk menciptakan kemandirian, engkau harus melepaskan diri dan mengambil inisiatif untuk menyangkal diri sendiri, belajar dari orang lain, dan menebus kelemahanmu sendiri untuk mendapatkan kemitraan yang harmonis. Hanya dengan begitu engkau dapat memiliki berkat dan bimbingan Tuhan dalam tugasmu, engkau dapat mencapai hasil yang lebih baik dalam pekerjaan gereja, dan kehidupanmu sendiri dapat diuntungkan. Sebaliknya, jika engkau congkak saat bekerja bersama, jika engkau tidak mencari prinsip-prinsip kebenaran tetapi membuat kediktatoran untuk mengendalikan orang lain, atau jika engkau beroperasi sendiri dan melakukan pelbagai hal sesuai dengan keinginanmu sendiri, maka engkau akan menderita oleh kebencian Tuhan dan menyebabkan kerugian untuk pekerjaan gereja. Namun aku congkak dan selalu ingin memiliki keputusan akhir. Bagaimana aku tidak tahu bahwa pekerjaan dalam keluarga Tuhan bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan oleh satu orang? Semua orang tidak memiliki kebenaran dan memiliki terlalu banyak kekurangan. Bertindak secara sepihak membuat kesalahan sangat mungkin terjadi. Hanya melalui kerja sama, pekerjaan Roh Kudus dapat lebih banyak diperoleh untuk menebus kekurangan-kekurangan kita dan mencegah kesalahan-kesalahan. Pada saat itu, tidak ada yang dapat kulakukan selain merasa bersalah dan menyalahkan diri sendiri atas watak jahatku yang terungkap dalam kecongkakan dan keegoisanku, dan di dalam tidak memiliki sedikit pun pertimbangan untuk melakukan kehendak Tuhan, serta hanya berfokus pada tidak kehilangan muka dan bertindak berdasarkan dorongan sampai menunjukkan perilaku yang mengejutkan dan kasar. Aku percaya bahwa aku terlalu buta dan bodoh, dan aku tidak mengerti arti niat Tuhan untuk mengatur lingkungan bagiku untuk berlatih melayani dalam berkoordinasi bahkan sampai pada titik di mana aku tidak mencoba belajar dari kekuatan mitraku untuk mengimbangi kekuranganku saat melakukan tugasku, atau untuk mempelajari apa yang kubutuhkan melalui bekerja bersama. Akibatnya, itu menyebabkan kerugian bagi pekerjaan gereja dan menunda pertumbuhanku sendiri dalam hidup. Hari ini, kalau bukan karena belas kasihan Tuhan dan pencerahan firman Tuhan, aku belum akan bisa melepaskan diriku dan masih akan ingin agar orang lain untuk mendengarkanku. Pada akhirnya, siapa yang tahu bencana apa yang akan aku sebabkan? Setelah sampai pada kesadaran ini, aku membuat resolusi: aku bersedia untuk bertindak sesuai dengan Firman Tuhan, aku bersedia untuk bekerja secara harmonis dengan saudari tersebut untuk pekerjaan gereja dan untuk pertumbuhanku dalam hidup serta aku tidak akan memikirkan kepentingan-kepentinganku sendiri lagi.

Setelah itu, aku membuka diri kepada saudari mitraku tentang bagaimana aku menjadi mengenal diri sendiri, dan dia juga membuka diri kepadaku tentang bagaimana dia bisa mengenal dirinya sendiri. Dengan memiliki percakapan dari hati ke hati yang nyata, prasangka yang kumiliki tentang dia dan jarak di antara kami lenyap, dan kami berdua bersedia untuk masuk bersama ke dalam prinsip-prinsip melayani dalam berkoordinasi dengan satu sama lain. Setelah itu, tugas kami untuk saling berkoordinasi menjadi jauh lebih harmonis. Ketika kami memiliki pendapat yang berbeda, kami mencari kebenaran dan memahami kehendak Tuhan dengan berdoa kepada-Nya. Ketika kami melihat kekurangan-kekurangan satu sama lain, kami saling memahami dan memaafkan; kami memperlakukan satu sama lain dengan kasih.Tanpa disadari, berkat Tuhan turun ke atas kami dan pekerjaan Injil menghasilkan lebih banyak buah daripada di masa lalu. Pada saat ini aku benci untuk hidup dengan watakku yang rusak di masa lalu, dan bahwa aku belum belajar secara nyata pelajaran di lingkungan yang telah Tuhan atur bagiku; terlebih lagi aku benci bahwa aku tidak mengejar kebenaran dan telah berhutang terlalu banyak kepada Tuhan. Aku akhirnya mengalami rasa manis dalam mempraktekkan kebenaran, aku memiliki iman yang lebih besar untuk memenuhi tugas-tugasku dan memuaskan Tuhan, dan hatiku menjadi penuh dengan rasa syukur kepada Tuhan. Mulai sekarang aku bersedia melakukan upaya-upaya di dalam aspek-aspek kebenaran yang lebih banyak lagi untuk berusaha masuk ke dalam realitas Firman Tuhan, untuk bertindak dengan prinsip, dan untuk melakukan tugasku dengan baik dan membalas kasih Tuhan.

42. Aku Belajar Untuk Berkoordinasi Dengan Orang Lain