Mengapa Hidup Begitu Penuh Penderitaan? Dapatkah Kepercayaan kepada Tuhan Benar-Benar Membawaku Kebahagiaan?

Li Rui yang terkasih,

Bagaimana kabarmu? Aku ingat bahwa aku pernah mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu: Dalam masyarakat sekarang ini, ada begitu banyak tekanan untuk bersaing dan semua orang merasa bahwa hidup ini sangat melelahkan dan sulit, jadi bagaimana kita bisa hidup bahagia? Engkau berkata mari bergabung denganmu dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, dan engkau mengatakan bahwa, setelah engkau percaya kepada Tuhan, engkau kemudian dapat memperoleh bimbingan dari firman Tuhan, engkau dapat memperoleh kedamaian dan sukacita dari Tuhan, dan engkau bisa bebas dari semua kekhawatiran dan keprihatinan. Namun saat itu aku sangat sibuk bekerja untuk menghasilkan uang sehingga aku tidak punya waktu untuk percaya kepada Tuhan, dan aku menolak saranmu berulang kali. Selama bertahun-tahun ini aku telah berusaha untuk menjalani kehidupan di puncak dan selama ini ingin mengandalkan perjuanganku sendiri dan berusaha untuk menjadi seseorang yang diperhitungkan di perusahaanku. Namun aku sibuk dari subuh hingga petang, dan aku tetap mengalami kemunduran demi kemunduran, kekalahan demi kekalahan. Aku melihat rekan-rekanku dipromosi dan mendapat kenaikan gaji, namun aku masih tetap berada tepat di mana aku memulai. Aku merasa tersesat dan hidupku terasa berat dan menyakitkan. Saudari, engkau tampak jauh lebih bahagia sejak engkau mulai percaya kepada Tuhan dan hidupmu begitu santai dan bebas, seolah-olah engkau tidak memiliki kekhawatiran dan tidak merasakan penderitaan sama sekali. Aku iri kepadamu, dan aku ingin bertanya: dapatkah kepercayaan kepada Tuhan benar-benar memungkinkanku untuk bebas dari penderitaan dan menjadi bahagia? Menunggu balasanmu …

Dengan penuh cinta,

Li Nan

30 Maret 2018

Mengapa Hidup Begitu Penuh Penderitaan? Dapatkah Kepercayaan kepada Tuhan Benar-Benar Membawaku Kebahagiaan?

Halo Xiaonan,

Aku telah menerima emailmu, dan aku merasa sedih mendengar bahwa hidupmu sekarang sangat sulit dan melelahkan. Selain berdoa untukmu, tidak ada hal lain yang dapat kulakukan untuk membantumu. Satu-satunya Pribadi yang dapat menolongmu melenyapkan penderitaanmu adalah Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “Datanglah kepada-Ku, hai semua yang berjerih lelah dan berbeban berat, dan Aku akan memberimu kelegaan. Pikullah kuk-Ku atasmu, dan belajarlah dari-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati, dan engkau akan mendapatkan kelegaan bagi jiwamu” (Matius 11:28–30). Tuhan adalah pendukung abadi kita dan Dia adalah pertolongan kita saat dibutuhkan. Betapa pun menderita atau khawatirnya kita, selama kita percaya kepada Tuhan dan menerima keselamatan-Nya, sering berdoa kepada Tuhan, membaca firman Tuhan dan memahami kebenaran, maka kita akan dapat memiliki pemahaman tentang akar penyebab penderitaan kita. Jika kita dapat menerima kebenaran dan melakukan firman Tuhan, kita akan dapat terbebas dari penderitaan, kita akan hidup tanpa gangguan dan nyaman, dan kita akan memperoleh kedamaian dan sukacita dari Tuhan.

Xiaonan, jika kita ingin hidup bahagia dan tenang, pertama-tama kita harus mengerti apa sebenarnya penyebab utama dari penderitaan kita. Ada dua bagian firman Tuhan yang berkata: “Jadi, Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pikiran manusia, sampai satu-satunya yang orang pikirkan adalah ketenaran dan keuntungan. Mereka berjuang demi ketenaran dan keuntungan, menderita kesukaran demi ketenaran dan keuntungan, menanggung penghinaan demi ketenaran dan keuntungan, mengorbankan semua yang mereka miliki demi ketenaran dan keuntungan, dan mereka akan melakukan penilaian atau mengambil keputusan demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara ini, Iblis mengikat orang dengan belenggu yang tak kasat mata, dan mereka tidak punya kekuatan ataupun keberanian untuk membuang belenggu tersebut. Mereka tanpa sadar menanggung belenggu ini dan berjalan maju dengan susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi Tuhan dan mengkhianati Dia dan menjadi semakin jahat. Jadi, dengan cara inilah, generasi demi generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI” ). “Karena orang-orang tidak mengakui pengaturan dan kedaulatan Tuhan, mereka selalu menghadapi nasib dengan perlawanan, dengan sikap memberontak, dan selalu ingin menyingkirkan otoritas dan kedaulatan Tuhan dan hal-hal yang telah diatur oleh nasib bagi mereka, berharap dengan sia-sia untuk mengubah keadaan dan nasib mereka. Namun, mereka tidak akan berhasil; mereka digagalkan pada setiap kesempatan. Pergumulan ini, yang terjadi jauh di dalam jiwa seseorang, adalah hal yang menyakitkan; pedihnya tak terlupakan; dan hanya mengikis masa hidupnya. Apa sebab dari kepedihan ini? Apakah karena kedaulatan Tuhan, ataukah karena seseorang dilahirkan tidak beruntung? Sudah jelas keduanya tidak benar. Pada dasarnya, ini disebabkan oleh jalan yang diambil setiap orang, cara yang mereka pakai untuk menjalani kehidupan mereka” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III”).

Firman Tuhan menyingkapkan kepada kita akar penyebab penderitaan umat manusia. Tahukah engkau bahwa, pada mulanya, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa dan mereka menaati Tuhan serta memperhatikan firman-Nya? Mereka diawasi dan dilindungi oleh Tuhan, mereka hidup bahagia di Taman Eden, dan mereka tidak mengenal penderitaan dan dukacita. Namun ketika Adam dan Hawa digoda dan ditipu oleh Iblis, dan mereka menentang firman Tuhan dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mereka kemudian kehilangan berkat Tuhan dan diusir dari Taman Eden. Setelah itu, manusia jatuh di bawah wilayah kekuasaan Iblis dan sejak itu hidup dalam penderitaan. Selama beberapa ribu tahun, Iblis telah menggunakan kekeliruan sesat seperti ateisme, materialisme, dan evolusionisme untuk menipu dan merusak umat manusia, dan manusia telah menjadi semakin dirusak oleh Iblis. Watak rusak kita yang jahat, seperti bersikap congkak dan merasa diri penting, bengkok dan curang, egois dan keji, telah berakar dalam di dalam diri kita. Kita menyangkali keberadaan Tuhan, menyangkali bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu, kita tidak lagi menyembah Tuhan dan kita semakin jauh dari Dia. Selain itu, Iblis juga memakai raja-raja setan, orang-orang hebat, dan orang-orang terkenal untuk menanamkan dalam diri kita aksioma (pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian) logika dan kekeliruan sesat seperti “Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya,” “Manusia harus selalu berusaha menjadi lebih baik daripada sesamanya yang hidup saat ini,” dan “Takdir seseorang berada di tangannya sendiri.” Di bawah pengaruh aksioma dan kekeliruan ini, kita menjadi percaya bahwa hanya dengan memiliki uang dan status kita dapat memperoleh penghargaan dari orang lain dan memiliki kehidupan yang layak dijalani. Kita juga menjadi percaya bahwa menjalani kehidupan yang normal adalah tidak berguna dan artinya tidak memiliki cita-cita, bahwa kita hanya akan dipandang rendah dan diremehkan oleh orang lain, dan hidup kita akan menyedihkan. Karena alasan ini, banyak orang berjuang keras untuk mengejar kehidupan yang lebih unggul dan menjalani kehidupan yang makmur, sehingga mereka berjuang dan bekerja keras setiap hari, mereka bekerja lembur, mereka menderita berbagai jenis penyakit saat mereka masih muda, dan beberapa bahkan kehilangan hidup mereka dalam pengejaran ini. Ada beberapa orang yang menggunakan cara dan rencana yang jahat terhadap rekan kerja mereka, yang menghalalkan secara cara untuk menginjak-injak orang lain demi mencapai puncak, yang memperalat orang, menipu orang, dan yang hidup dalam rasa sakit yang tak tertahankan, hanya demi memiliki karier yang sukses. Ada juga banyak orang yang, setelah mencurahkan semua upaya mereka dan mendapati bahwa mereka tetap tidak bisa lebih baik daripada orang lain, mulai merasa tertekan dan putus asa, merasa bahwa segala sesuatu dalam hidup mereka tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Mereka merasakan hal ini sedemikian rupa sehingga mereka menjadi pesimis dan putus asa yang menimbulkan perasaan lelah, dan mereka memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidup mereka. Bahkan, penderitaan kita sebenarnya disebabkan oleh diri kita yang telah dirusak oleh Iblis, karena kita telah menerima pandangan Iblis yang salah dan karena kita hidup dengan falsafah dan aksioma Iblis.

Xiaonan, Tuhan tahu kita sedang dirusak oleh Iblis dan bahwa kita hidup dalam penderitaan, jadi Dia mengungkapkan firman-Nya untuk menyingkapkan cara-cara yang dengannya Iblis merusak kita sehingga kita dapat membangun kepekaan terhadap cara-cara Iblis. Dia juga menunjukkan kepada kita jalan di mana kita dapat hidup bahagia. Firman Tuhan berkata: “Terlepas dari perbedaan keterampilan, IQ, dan tekad, semua orang adalah setara di hadapan nasib, yang artinya tidak ada perbedaan antara yang besar dan yang kecil, yang tinggi dan yang rendah, yang terpandang dan yang biasa saja. Pekerjaan apa pun yang dicari seseorang, apa yang dilakukannya untuk mencari nafkah, berapa banyak kekayaan yang dikumpulkan dalam hidup ini tidak ditentukan oleh orang tua, talenta, daya, maupun ambisi seseorang, melainkan telah ditentukan terlebih dahulu oleh Sang Pencipta” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III”). “Saat seseorang tidak memahami nasib, apabila seseorang tidak mengerti kedaulatan Tuhan, ketika seseorang meraba-raba ke depan secara sadar, sempoyongan dan terhuyung, melalui kabut, perjalanannya menjadi terlalu sulit, terlalu menyakitkan hati. Jadi, ketika orang-orang mengakui kedaulatan Tuhan terhadap nasib manusia, mereka yang bijak akan memilih untuk mengenalnya dan menerimanya, berpisah dengan hari-hari pedih ketika mereka mencoba membangun kehidupan yang baik oleh kedua tangan mereka sendiri, alih-alih melanjutkan pergumulan melawan nasib dan mengejar yang mereka sebut tujuan hidup dengan cara mereka sendiri. Ketika seseorang tidak punya Tuhan, saat seseorang tidak bisa melihat-Nya, saat ia tidak mengakui kedaulatan Tuhan, setiap harinya menjadi tidak berarti, tidak bernilai, penuh kesusahan. Di mana pun seseorang, apa pun pekerjaannya, cara hidupnya dan pengejaran tujuan hidupnya tidak akan menghasilkan apa pun selain sakit hati dan penderitaan tanpa ujung, sehingga ia tidak mampu melihat ke belakang. Hanya ketika seseorang menerima kedaulatan Sang Pencipta, tunduk kepada pengaturan dan penataan-Nya, dan mencari kehidupan manusia yang sejati, barulah ia akan berangsur-angsur terbebas dari segala sakit hati dan penderitaan, menyingkirkan segala kekosongan dalam hidup” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III”).

Firman Tuhan menjelaskannya dengan sangat jelas. Nasib setiap kita masing-masing dikendalikan dan diatur oleh Tuhan, dan Tuhan sejak dahulu telah menetapkan dari semula di keluarga mana kita akan dilahirkan, keterampilan apa yang akan kita miliki, karier apa yang akan kita miliki, dan seberapa kaya kita nantinya. Sebagai makhluk ciptaan, kita seharusnya tidak hidup dengan aksioma dan kekeliruan setan seperti “Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya,” dan “Takdir seseorang berada di tangannya sendiri.” berjuang secara membabi buta dengan mengandalkan kekuatan kedua tangan kita sendiri. Sebaliknya, kita harus tunduk pada pengaturan dan rencana Tuhan, menerima apa yang Sang Pencipta telah tetapkan bagi kita dari semula, bersikap tulus dan rendah hati, melakukan yang terbaik dan menaati kehendak Tuhan dalam segala sesuatu, karena hanya dengan melakukan ini roh kita akan memiliki kedamaian dan sukacita, dan kita akan bisa hidup tanpa terganggu dan nyaman. Contohnya Ayub, yang kisahnya dicatat dalam Alkitab. Dia berfokus pada menghargai, mengalami dan mengakui kedaulatan Tuhan dalam hidupnya, dan dia berusaha mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Karena itu Tuhan menyebutnya orang benar dan memberkatinya sehingga dia menjadi yang terbesar di antara orang-orang di timur. Namun, Iblis tidak diyakinkan, dan melemparkan tuduhan terhadap Ayub. Untuk menguji iman Ayub kepada-Nya, Tuhan mengizinkan Iblis menggoda Ayub, dan Iblis mengirim para perampok untuk merampas semua ternak Ayub, menyebabkan dia kehilangan anak-anaknya, dan membuat seluruh tubuh Ayub mengeluarkan bisul yang menyakitkan. Selama ujian ini, meskipun Ayub tidak memahami kehendak Tuhan, dia tetap tidak memohon apa pun kepada Tuhan demi dirinya sendiri, atau demi anak-anaknya atau demi harta miliknya, melainkan dia tunduk pada pengaturan dan rencana Tuhan, dan dia jatuh tersungkur dalam pujian kepada Tuhan dan berkata, “Dengan telanjang aku keluar dari rahim ibuku, dengan telanjang aku juga akan kembali ke situ: Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh” (Ayub 1:21). Ayub mengalahkan Iblis dengan ketaatan dan penghormatannya kepada Tuhan, dia berdiri teguh dan menjadi kesaksian yang menggema bagi Tuhan, dan dia menjadi diberkati dua kali lipat oleh Tuhan. Yang dikejar Ayub dalam hidupnya bukanlah posisi bergengsi apa pun atau rumah yang mewah, apalagi mengandalkan kedua tangannya sendiri untuk membuat masa depan yang cerah bagi dirinya sendiri, melainkan dia berusaha untuk mengenal Tuhan, menaati Tuhan, dan takut akan Tuhan serta menjauhi kejahatan. Karena itu, Ayub tidak hanya memperoleh kedamaian dan sukacita rohani dalam hidupnya, tetapi, yang lebih penting, dia menerima pujian Tuhan dan dia menjalani kehidupan yang berharga dan bermakna.

Xiaonan, seperti yang engkau ketahui, sebelum aku percaya kepada Tuhan, aku juga menganggap aksioma dan kekeliruan seperti “Takdir seseorang berada di tangannya sendiri.” dan “Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya,” sebagai pepatah yang benar, dan aku selalu ingin menghasilkan banyak uang melalui upayaku sendiri, menjalani hidup di puncak dan membuat orang lain mengagumiku, dan aku percaya bahwa aku akan memiliki sukacita dan kebahagiaan begitu aku mencapai hal-hal ini. Setelah aku menikah, aku dan suamiku meminjam uang untuk memulai sebuah bisnis, tetapi berkebalikan dengan harapan kami, kami kehilangan uang berkali-kali. Aku tidak mau mengakui kekalahan, jadi aku mulai mendengarkan ceramah-ceramah yang diberikan oleh orang-orang sukses, dan aku masuk ke dalam penjualan langsung dan aku menjual asuransi. Aku berharap, dengan bekerja keras, aku akan termasuk di antara orang sukses, tetapi pada akhirnya, setelah bertahun-tahun naik turun, semuanya tetap berakhir dengan kegagalan. Ketika aku melihat bahwa ini adalah hasil dari semua kerja kerasku, aku tidak tahan dengan kegagalan ini dan aku hidup dalam penderitaan. Aku kehilangan semua harapan dalam hidup dan merasa seolah-olah hidupku telah berakhir. Apa gunanya hidup jika aku tidak bisa lebih baik daripada orang lain? Jadi, aku memikirkan bunuh diri sebagai cara untuk mengakhiri semuanya. Baru ketika aku mulai percaya kepada Tuhan dan telah membaca firman Tuhan, akhirnya aku menyadari bahwa semua penderitaanku adalah karena aku hidup dengan pandangan yang salah dari Iblis, karena aku selalu berusaha mengubah nasibku melalui upayaku sendiri, dan karena aku sedang terus-menerus bersaing dengan kedaulatan Tuhan. Sebenarnya, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia telah mempersiapkan segala yang kita butuhkan untuk hidup, dan yang harus kita lakukan untuk dapat mempertahankan hidup kita adalah dengan bekerja dalam jumlah yang normal. Dengan cara ini, maka kita memiliki lebih banyak waktu untuk menyembah dan percaya kepada Tuhan, dan hidup di hadapan Tuhan dan menerima pemeliharaan dan perlindungan-Nya. Namun, aku tidak memahami kasih Tuhan, dan aku tidak memahami maksud baik-Nya. Terdorong oleh ambisi dan keinginan liarku, aku selalu ingin berjuang melawan nasibku dan berusaha untuk hidup di puncak, tetapi semua itu membawa penderitaan bagiku. Setelah aku memahami hal-hal ini, akhirnya aku memahami betapa aku telah sangat dirusak oleh Iblis dan bahwa semua yang kukejar sepenuhnya bertentangan dengan maksud Tuhan ketika Dia menciptakan manusia. Pada saat yang sama, aku juga memahami bahwa hanya dengan percaya kepada Tuhan dan dengan tunduk pada pengaturan dan rencana Tuhan, kita manusia mampu membebaskan diri dari belenggu dan serangan Iblis, dan menjalani kehidupan yang santai dan bahagia.

Kemudian, aku sering menghadiri pertemuan dengan saudara-saudariku untuk membaca firman Tuhan dan untuk mempersekutukan pengalaman dan pemahaman kami sendiri. Aku kemudian mulai secara aktif memberitakan Injil, menyebarkan keselamatan Tuhan kepada mereka yang masih hidup dalam penderitaan, bergumul dalam penderitaan dan tidak mampu menemukan jalan mereka, sehingga mereka juga dapat datang ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan-Nya. Sekarang, walaupun aku tidak memiliki banyak uang dan aku tidak menikmati banyak kepuasan materi, karena aku telah dipilih oleh Tuhan untuk datang ke hadapan-Nya dan aku menikmati firman Tuhan setiap hari, karena aku dapat mencari kebenaran dan mencari jalan penerapan dalam firman Tuhan setiap kali aku menghadapi masalah atau kesulitan, dan banyak masalahku telah diselesaikan dengan cara ini, rohku merasa dipenuhi dengan kedamaian dan sukacita. Perasaan damai dan stabilitas yang berasal dari lubuk hatiku yang terdalam ini tidak dapat dibeli dengan uang. Dengan mengalami pekerjaan Tuhan selama beberapa tahun terakhir ini, aku telah memahami beberapa kebenaran, dan aku melihat dengan jelas kekosongan dari ketenaran, keuntungan, dan status. Apakah para pejabat tinggi, orang-orang kaya, dan para selebriti yang memiliki status bergengsi dan bernilai jutaan itu benar-benar menjalani kehidupan yang bahagia dan sukacita? Mengapa begitu banyak pejabat tinggi, orang kaya, dan selebriti memilih untuk bunuh diri untuk mengakhiri hidup mereka? Fakta-faktanya jelas: betapa pun tingginya status kita atau berapa banyak uang yang kita miliki, hal-hal ini hanya dapat memberi kita kenikmatan jasmani yang sementara, tetapi itu tidak pernah dapat mengisi kekosongan dalam roh kita. Dengan hanya memiliki hal-hal ini, hidup kita akan sama sekali tidak bermakna atau bernilai, dan kita tidak akan dapat memperoleh kebahagiaan dan sukacita sejati. Firman Tuhan berkata: “Manusia, bagaimanapun juga, hanyalah manusia. Kedudukan dan kehidupan Tuhan tidak dapat digantikan oleh siapa pun. Umat manusia bukan hanya memerlukan masyarakat yang adil, tempat setiap orang mendapat cukup makanan dan diperlakukan dengan setara serta mendapat kebebasan, tetapi juga keselamatan Tuhan dan perbekalan-Nya atas kehidupan mereka” (“Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia”). Hanya dengan percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, dengan memahami kebenaran dan mengenal Tuhan melalui firman-Nya, dengan mengenali dan menolak pandangan yang salah, serta dengan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, kita dapat mengalami kedamaian dan sukacita sejati serta menjalani hidup yang bahagia. Sejak aku mulai percaya kepada Tuhan, aku merasa seperti menjalani kehidupan yang diperkaya dan bermakna setiap hari, dan hatiku terasa semakin merdeka dan bebas!

Xiaonan, jika engkau juga bisa percaya kepada Tuhan, datanglah ke hadapan Tuhan dan terimalah bimbingan dari firman Tuhan, belajarlah untuk mengandalkan Tuhan dan menaati-Nya, dan hiduplah di bawah pemeliharaan dan perlindungan-Nya, maka aku percaya bahwa engkau juga pasti akan mendapatkan kedamaian dan sukacita ini di dalam rohmu. Karena kedamaian dan sukacita sejati berasal dari Tuhan, hanya dengan datang ke hadapan Tuhanlah kita dapat menikmati kedamaian dan stabilitas dalam roh kita. Pemahamanku tentang kebenaran masih sangat terbatas dan ada banyak hal yang tidak bisa kujelaskan. Hanya dengan percaya kepada Tuhan dan belajar melalui pengalamanmu sendirilah engkau akan dapat menghargai apa itu kebahagiaan sejati, sukacita sejati, dan kedamaian sejati. Akhirnya, aku hanya ingin memberitahumu ini: hanya dengan percaya kepada Tuhan, memahami kebenaran dan mengenal Tuhan kita akan dapat menemukan kebahagiaan sejati!

Dengan penuh cinta,

Li Rui

1 April 2018

Media Terkait