52. Pengalaman Melakukan Kebenaran

52. Pengalaman Melakukan Kebenaran

Hengxin, Kota Zhuzhou, Provinsi Hunan

Belum lama berselang, aku mendengar "Khotbah dan Persekutuan Mengenai Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan," yang membuatku memahami bahwa hanya mereka yang melakukan kebenaranlah yang dapat memperoleh kebenaran dan akhirnya menjadi orang-orang yang memiliki kebenaran dan kemanusiaan yang dengannya mendapatkan perkenanan Tuhan. Sejak saat itu, aku secara sadar berusaha meninggalkan daging dan melakukan kebenaran dalam kehidupanku sehari-hari. Beberapa waktu kemudian, aku dengan gembira menemukan bahwa aku dapat melakukan kebenaran sampai taraf tertentu. Misalnya, di masa lalu aku takut untuk menunjukkan sisi gelapku kepada orang lain. Kini, secara sadar aku membuka diri kepada saudara-saudariku, membedah watakku yang rusak. Sebelumnya, ketika aku mengalami pemangkasan dan penanganan, aku suka membuat dalih dan mengelak dari tanggung jawab. Kini, aku secara sadar berusaha untuk menyangkal diriku sendiri alih-alih mencoba mencari pembenaran bagi perilakuku yang buruk. Dahulu, ketika aku mengalami gesekan dengan rekan kerjaku, aku berpikiran sempit, picik, dan mudah mengambek. Kini, ketika aku menghadapi situasi-situasi seperti itu, aku akan meninggalkan daging dan bertoleransi serta bersikap sabar terhadap orang lain. ... Setiap kali aku memikirkan kemajuanku dalam melakukan kebenaran, aku akan merasa sangat bahagia. Aku berpikir bahwa kemampuanku untuk melakukan kebenaran sampai taraf tertentu berarti bahwa aku adalah seorang pelaku kebenaran yang murni. Dengan demikian, tanpa sadar aku menjadi angkuh dan berpuas diri.

Suatu hari, aku menemukan firman Tuhan berikut: "Ada orang-orang yang berkata: 'Aku merasa aku mampu melakukan kebenaran tertentu sekarang, bukannya aku tidak mampu melakukan kebenaran apa pun. Di lingkungan tertentu, aku bisa bertindak sesuai kebenaran, yang artinya aku termasuk orang yang melakukan kebenaran dan aku termasuk orang yang memiliki kebenaran.' Sebenarnya, dibandingkan dengan masa lalu, atau dibandingkan dengan ketika engkau baru percaya kepada Tuhan, ada sedikit sekali perubahan. Di masa lalu, engkau tidak mengerti apa pun, dan engkau tidak tahu apakah kebenaran itu atau apakah watak rusak itu. Sekarang engkau tahu beberapa hal dan engkau mampu melakukan pengamalan yang baik, tetapi ini hanya sebagian kecil dari perubahan; itu bukanlah perubahan watakmu yang sesungguhnya, karena engkau tidak mampu melakukan kebenaran yang dalam dan tinggi, yang melibatkan sifatmu. Dibandingkan dengan masa lalumu, engkau memang mengalami beberapa perubahan, tetapi perubahan ini hanyalah perubahan kecil dari kemanusiaanmu; ketika dibandingkan dengan tingkat kebenaran tertinggi, engkau masih jauh dari sasaran. Ini berarti engkau belum mencapai sasaran dalam hal mengamalkan kebenaran" ("Memahami Sifat dan Mengamalkan Kebenaran" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Setelah membaca firman ini, aku hanya dapat tertegun. Semua yang sudah kucapai barulah beberapa perilaku yang baik? Aku masih jauh dari melakukan kebenaran dengan sungguh-sungguh? Baiklah, pikirku, apa artinya sungguh-sungguh melakukan kebenaran? Aku mulai mengeksplorasi jawaban yang benar atas pertanyaan ini. Kemudian, aku membaca khotbah yang mengatakan: "Mereka yang dengan senang hati melakukan kebenaran sanggup membayar harganya dan bersedia menanggung kesulitan yang menyertainya. Tak pelak lagi, hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan kegembiraan. Mereka yang bersedia melakukan kebenaran tidak akan pernah sekadar menjalani hal itu, karena mereka tidak melakukan kebenaran hanya sebagai pamer. Nurani dan nalar yang mereka miliki sebagai manusia normal memaksa mereka untuk mengambil bagian mereka sebagai ciptaan Tuhan. Bagi mereka, melakukan kebenaran adalah esensi dari menjadi manusia; melakukan kebenaran adalah sebuah kualitas yang semestinya dimiliki oleh manusia yang normal" (Persekutuan Dari Atas). Setelah membaca ini, aku akhirnya mengerti: pelaku kebenaran yang sungguh-sungguh dapat melakukan kebenaran karena mereka memahami tujuan melakukan hal itu. Mereka tahu bahwa melakukan kebenaran adalah makna dari menjadi manusia, sebuah kualitas yang mestinya dimiliki manusia. Karena itu, mereka tidak melakukannya demi pamer; mereka menganggapnya sebagai tugas mereka. Mereka mau menanggung berbagai kesulitan dan membayar harganya; mereka bebas dari maksud dan hasrat pribadi. Namun, bagaimana aku dulu melakukan kebenaran? Ketika menyingkapkan watakku yang rusak, aku mungkin bersikap terus terang dan membeberkannya secara terbuka kepada saudara-saudariku, tetapi di hatiku aku berkata, "Lihat bagaimana aku melakukan kebenaran? Aku sanggup membukakan watakku sendiri yang rusak. Itu membuatku lebih baik daripada kalian, kan?" Ketika mengalami pemangkasan dan penanganan, aku mungkin tidak membuat dalih dengan suara keras, tetapi di dalam hati aku berkata, "Lihat? Aku tidak lagi membuat dalih. Aku sudah mengalami banyak sekali perbaikan. Kini, aku mungkin sudah termasuk orang yang bersedia menerima kebenaran, kan?" Ketika mengalami gesekan dengan teman kerja, aku mungkin secara sadar mencoba untuk menahan diriku sendiri dan tidak meledakkan amarahku, tetapi dalam hati aku berpikir, "Lihat? Aku tidak seperti dulu lagi, picik dan berpikiran sempit. Aku sudah berubah, kan?" ... Ketika berpikir mengenai bagaimana aku telah melakukan kebenaran, aku akhirnya menyadari bahwa aku belum benar-benar melakukan kebenaran. Aku penuh dengan motif dan hasratku sendiri. Aku melakukannya untuk pamer. Aku ingin orang lain mengagumi dan memujiku. Bagaimana aku dapat mengatakan aku melakukan kebenaran karena aku sudah memahami arti penting dari hal itu? Bagaimana aku melakukannya untuk memuaskan Tuhanku? Aku melakukannya untuk memuaskan diriku sendiri dan untuk pamer kepada orang lain. Aku menipu dan memperdaya Tuhan. Pada kenyataannya, aku mengkhianati kebenaran. Yang kusebut "melakukan kebenaran" tidak lebih dari mengikuti aturan. Itu adalah sebuah bentuk pengendalian diri, tidak lagi melakukan perilaku buruk tertentu. Itu hanyalah perubahan secara lahiriah. Aku masih cukup jauh dari memenuhi standar yang dituntut dari seorang pelaku kebenaran. Namun demikian, tidak hanya tanpa malu aku berpikir bahwa diriku ini seorang pelaku kebenaran, bahkan aku menjadi berpuas diri sebagai akibatnya. Perilakuku benar-benar menyedihkan!

Tuhan, terima kasih atas pencerahan dan bimbingan-Mu. Syukur karena menunjukkan kepadaku bahwa aku bukanlah seorang pelaku kebenaran sejati dan bahwa penerapan kebenaranku belum memenuhi standar-Mu. Mulai hari ini dan seterusnya, aku mau memeriksa niatku sendiri dan mendorong diriku untuk mencapai standar yang ditetapkan guna melakukan kebenaran. Aku akan membersihkan diriku dari ketidakmurnian dan menjadi seorang pelaku kebenaran yang murni.

52. Pengalaman Melakukan Kebenaran