36. Orang-Orang yang Terus Terang Belum Tentu Jujur

36. Orang-Orang yang Terus Terang Belum Tentu Jujur

Cheng Mingjie Kota Xi’an, Provinsi Shaanxi

Aku menganggap diriku sebagai orang yang ramah dan suka berterus terang. Aku berbicara kepada orang lain dengan cara yang sangat lugas; apa pun yang ingin aku katakan, aku mengatakannya—aku bukanlah tipe orang yang suka bertele-tele. Dalam interaksiku dengan orang lain, aku cenderung berbicara dengan sangat berterus terang. Aku sering kali ditipu atau diejek karena terlalu mudah memercayai orang lain. Baru setelah aku mulai pergi ke gerejalah aku merasa telah menemukan tempatku yang semestinya. Aku berpikir-pikir: Dahulu, sifatku yang suka berterus terang telah merugikanku dan membuatku rentan ditipu orang lain; tetapi di gereja, Tuhan menginginkan orang-orang yang jujur, sehingga aku tidak perlu khawatir lagi menjadi orang yang sangat berterus terang. Aku merasa sangat terhibur ketika mendengar bahwa Tuhan mengasihi orang yang jujur dan sederhana, dan bahwa hanya orang jujur yang akan memperoleh keselamatan dari Tuhan. Ketika aku melihat betapa tertekannya saudara dan saudariku ketika mereka mulai mengenali sifat khianat mereka tetapi tidak dapat mengubahnya, aku merasa lebih lega karena dengan bersikap jujur dan lugas, aku tidak perlu melalui kesulitan seperti itu. Namun, suatu hari, setelah menerima pengungkapan dari Tuhan, akhirnya aku sadar bahwa aku bukanlah seorang yang jujur seperti anggapanku.

Suatu hari, aku mendengar Tuhan berkata dalam persekutuan-Nya: "Orang yang jujur memiliki kebenaran, mereka tidak menyedihkan, malang, bodoh, atau naif. ... Jadi, jangan menaruh mahkota ini di atas kepalamu, berpikir bahwa engkau jujur karena engkau menderita di tengah masyarakat, didiskriminasikan, dan ditekan serta ditipu oleh semua orang yang engkau jumpai. Ini sama sekali salah. ... Menjadi jujur bukanlah seperti yang dibayangkan orang: manusia tidak bersikap jujur hanya karena mereka bersikap polos dan terus terang. Beberapa orang mungkin secara alamiah sangat berterus terang dalam cara bicara mereka, tetapi bersikap terus terang bukan berarti itu tanpa tipu daya. Tipu daya adalah motivasi manusia, dan watak mereka. Ketika manusia hidup di dunia ini, ketika mereka hidup di bawah pengaruh kerusakan Iblis, tidak mungkin bagi mereka untuk jujur, mereka hanya bisa menjadi semakin curang" ("Pengamalan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan adalah penggambaran yang sempurna tentang situasiku. Memang, aku selalu berpikir bahwa karena aku tidak bertele-tele dan sering ditipu orang lain, maka tidak ada bagian dariku yang tidak dapat dipercaya atau licik. Akibatnya, aku tidak pernah menghubungkan diri dengan pernyataan Tuhan tentang pengkhianatan dan kelicikan dalam diri manusia, melainkan memahkotai diriku sebagai contoh sempurna kejujuran. Aku berpikir bahwa orang lain itu curang dan entah bagaimana, aku berbeda karena aku dilahirkan dengan kejujuran bawaan ini. Pikiranku memberontak terhadap Tuhan. Sampai di sini, aku teringat perikop lain dari firman Tuhan: "Kejujuran berarti memberikan hatimu kepada Tuhan; tidak pernah menipu-Nya dalam hal apa pun; terbuka kepada-Nya dalam segala sesuatu, tidak pernah menyembunyikan kebenaran; tidak pernah melakukan hal yang menipu mereka yang di atas dan memperdaya mereka yang di bawah; dan tidak pernah melakukan hal yang semata-mata demi mengambil hati Tuhan. Singkatnya, jujur adalah menjauhkan diri dari ketidaksucian dalam tindakan dan kata-katamu dan tidak menipu Tuhan maupun manusia. ... Jika kata-katamu dipoles dengan alasan dan pembenaran diri yang tidak ada nilainya, maka Aku katakan engkau adalah orang yang benar-benar benci untuk melakukan kebenaran. Jika engkau memiliki banyak rahasia yang enggan engkau bagikan, dan jika engkau tidak mau membuka rahasiamu—yaitu kesulitanmu—di hadapan orang-orang untuk mencari jalan terang, maka Aku katakan engkau adalah orang yang tidak akan menerima keselamatan dengan mudah dan orang yang tidak akan mudah keluar dari kegelapan. Jika mencari jalan kebenaran menyenangkan hatimu, maka engkau adalah orang yang selalu diam di dalam terang. Jika engkau sangat senang menjadi pelaku pelayanan di rumah Tuhan, bekerja dengan rajin dan bersungguh-sungguh tanpa ingin dikenal, selalu memberi, dan tidak pernah mengambil, maka Aku katakan engkau adalah orang suci yang setia, karena engkau tidak mencari upah dan hanya menjadi orang yang jujur. Jika engkau mau berterus terang, jika engkau mau mengorbankan seluruh milikmu, jika engkau mampu mengorbankan hidupmu bagi Tuhan dan menjadi saksi, jika engkau jujur sampai ke taraf engkau hanya tahu untuk memuaskan Tuhan dan tidak memikirkan dirimu sendiri atau mengambil untuk dirimu sendiri, maka Aku katakan orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terpelihara dalam terang dan yang akan hidup untuk selamanya di dalam kerajaan" ("Tiga Peringatan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku sadar bahwa yang Tuhan maksudkan dengan kejujuran adalah seseorang yang memberikan hatinya kepada Tuhan tanpa memikirkan kemajuan pribadi atau rencana masa depan mereka. Tidak berbisnis dengan Tuhan, tidak menagih ganjaran: seorang yang jujur hidup untuk menyenangkan Tuhan. Seorang yang jujur sangat setia kepada Tuhan dan tidak pernah mencoba untuk menipu Dia. Mereka rajin melakukan tugas mereka dan tidak pernah berusaha curang dalam berbagai hal atau melakukannya tanpa tujuan. Orang yang jujur mengungkapkan segala sesuatunya di hadapan Tuhan, dan juga bersedia untuk berbagi urusan dan masalah pribadi mereka dengan saudara dan saudari mereka. Orang jujur tidak memberikan versi cerita yang mengada-ada, mereka berkata apa adanya. Orang jujur memegang kebenaran dan bersifat manusiawi. Bagiku, aku tidak mengerti apa artinya menjadi orang jujur. Dalam penilaian duniawiku tentang berbagai hal, "orang jujur" menurut Tuhan adalah yang kita sebut di dunia sekuler sebagai "orang yang berterus terang." Aku tidak tahu bahwa "orang jujur" menurut Tuhan dan "orang jujur" menurut diriku memiliki sangat sedikit kesamaan. Betapa bodoh dan tidak rasionalnya aku!

Iblis telah merusak manusia selama ribuan tahun: kita semua tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi kebencian dan kejahatan Iblis. Kata-kata dan perilaku kita, cara kita bertindak dalam masyarakat, semuanya tunduk pada perintah Iblis. "Orang bijak tidak banyak bicara," "Setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan yang ketinggalan dimangsa setan," "Berbicaralah untuk menyenangkan semua pihak," merupakan peribahasa Iblis yang paling terkenal yang telah tertanam dalam ketidaksadaran kolektif manusia: peribahasa itu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, bahkan ketika semua itu menuntun kita kepada pengkhianatan dan kelicikan. Mengingat bahwa semua manusia terjangkiti pengkhianatan dan kelicikan, apa yang membuatku berpikir bahwa aku begitu kebal atau sifat bawaanku jujur? Aku berbicara dengan lugas dan jelas karena aku adalah seorang yang jujur dan terbuka. Aku sering ditipu orang lain karena aku dungu dan bodoh, tetapi ini bukan berarti bahwa aku benar-benar seorang yang jujur. Ketika kupikir kembali, berapa kali aku menggunakan kepura-puraan dan kebohongan untuk mempertahankan reputasi dan kedudukanku? Berapa kali aku berkubang dalam kecemasan tentang prospek masa depanku, bukannya percaya kepada Tuhan dengan hati yang murni dan utuh? Aku takut bahwa dengan menyerahkan segalanya untuk Tuhan, maka aku tidak akan memiliki apa-apa, jadi aku selalu menginginkan sebuah janji dari Tuhan, suatu jaminan, bahwa suatu hari kelak, aku akan memasuki kerajaan-Nya. Hanya dengan cara itulah aku bisa mencari kebenaran dengan sepenuh hati tanpa khawatir. Berapa kali aku tidak setia kepada Tuhan, meributkan untung rugi yang tidak seberapa dalam memenuhi tugasku? Dan berapa kali aku membuat dan mengingkari keputusanku sendiri, berbicara "muluk-muluk tetapi hampa" untuk memperoleh kebaikan Tuhan? Berapa kali aku menahan diri untuk tidak membuka diri terhadap saudara dan saudariku maupun berbagi masalah dan urusan pribadi dengan mereka karena takut mereka akan meremehkan aku? Berapa kali aku hanya mengatakan apa yang aku yakini akan mendatangkan keuntungan pribadi, membuatku waspada dan curiga terhadap orang lain? ... Jika kupikir kembali, sepertinya pikiran, kata-kata, dan tindakanku semuanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan kebohongan. Akibatnya, konsepku tentang iman, kontribusi, serta interaksiku dengan orang lain dan dengan Tuhan, serta pemenuhan tugasku, semuanya dijangkiti pengkhianatan. Bisa dibilang aku menjalani setiap detik hidupku dalam pengkhianatan hakiki. Aku sama sekali bukanlah orang yang jujur.

Terima kasih, Tuhan, karena mencerahkanku, karena menunjukkan kepadaku bahwa orang yang jujur tidak hanya berbicara jujur dan berterus terang, melainkan memiliki kebenaran dan kemanusiaan. Terima kasih juga, Tuhan, karena telah menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak jujur menurut ukuran Tuhan, melainkan seseorang yang terjangkiti sifat Iblis yang berbahaya, yakni pengkhianatan yang telah diungkapkan Tuhan. Ya Tuhan, mulai sekarang aku akan berusaha untuk menjadi orang yang jujur. Aku mohon agar Engkau menyingkapkan diriku dan mengizinkanku memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang sifat khianatku sendiri, sehingga aku dapat memandang rendah diriku sendiri, menyangkal kedaginganku, dan segera menjadi orang jujur yang memiliki kebenaran dan kemanusiaan.

36. Orang-Orang yang Terus Terang Belum Tentu Jujur