63. Aku Benar-Benar Keturunan Si Naga Merah yang Sangat Besar

63. Aku Benar-Benar Keturunan Si Naga Merah yang Sangat Besar

Oleh Saudari Zhang Min, Spanyol

Firman Tuhan berkata, "Sebelumnya dikatakan bahwa orang-orang seperti itu adalah keturunan naga merah besar. Bahkan, lebih jelasnya, mereka adalah perwujudan naga merah besar" ("Bab 36, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Meskipun aku mengakui secara lisan bahwa firman Tuhan adalah kebenaran dan bahwa firman itu mengungkapkan keadaan kita yang sebenarnya, di dalam hati aku tidak setuju bahwa aku adalah keturunan atau perwujudan dari si naga merah yang sangat besar. Sebaliknya, aku selalu merasa bahwa aku mampu mengikuti Tuhan dan mengorbankan diriku bagi-Nya, bahwa aku dapat bergaul dengan baik dengan sebagian besar saudara-saudariku, dan bahwa orang-orang di sekitarku cukup mengagumiku. Walaupun aku memiliki watak yang rusak, pikirku, itu tidak berarti bahwa aku sama jahatnya dengan si naga merah yang sangat besar. Hanya setelah melalui pengalaman disingkapkan akhirnya aku melihat kebenaran tentang bagaimana aku telah dirusak oleh Iblis, dan aku melihat bahwa aku dipenuhi oleh racun si naga merah yang sangat besar, dan bahwa aku sungguh mampu melakukan hal-hal yang persis sama seperti yang dilakukan oleh si naga merah yang sangat besar.

Tugasku di gereja adalah menyusun artikel. Suatu hari, pemimpin kelompokku mengatakan kepadaku bahwa aku dan saudari yang bekerja sama denganku mulai saat itu akan bertanggung jawab untuk semua pekerjaan menyusun artikel dari seluruh gereja, dan bahwa jika ada yang punya masalah, maka kami semua bisa membahasnya dan mempersekutukannya bersama. Ketika mendengar berita ini, aku merasa sedikit terkejut dan aku merasakan tekanan yang sangat besar, tetapi aku masih merasa senang dengan diriku sendiri. Aku berpikir dalam hati, "Kami akan membantu menyusun semua artikel dari seluruh gereja. Sepertinya aku mampu melakukan bagianku dan aku adalah seorang yang cakap di gereja." Perasaan "bertanggung jawab" tiba-tiba membuncah di dalam diriku dan, sebelum aku menyadarinya, aku bertindak dan berbicara dalam posisi sebagai seorang pengulas. Suatu kali, ketika kami bertukar pikiran dengan saudara-saudari dari kelompok kerja bagian artikel untuk semua gereja, aku memperhatikan bahwa salah seorang saudara dalam kelompok itu sangat aktif terlibat dalam pekerjaan kami. Setiap kali suatu masalah muncul, dia akan selalu mengambil inisiatif untuk mengungkapkan pandangannya sendiri, dan kadang-kadang ketika saudara atau saudari lain mengajukan pertanyaan dan aku sudah menjawabnya di grup online kami, dia masih bersikeras untuk mengungkapkan pandangannya setelah aku, dan pandangannya tentang masalah ini amat sangat berbeda dengan pandanganku. Setiap kali hal ini terjadi, aku akan merasa sangat tidak suka, dan berpikir dalam hati, "Dia sangat aktif terlibat dalam kelompok ini dan banyak orang setuju dengan pandangannya. Mungkinkah dia ingin melampaui aku? Hmm! Dia tahu terlalu sedikit tentang aku. Dia tidak tahu tugas apa yang kulakukan, tetapi masih ingin bersaing denganku. Bukankah dia kurang memiliki kesadaran diri?" Memikirkan hal ini, di dalam hatiku mulai muncul perasaan tidak suka terhadap saudara ini.

Belakangan, aku mengorganisasikan saudara-saudari di kelompok kerja bagian artikel untuk semua gereja untuk bertukar pikiran tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan artikel. Sebagian besar saudara-saudari sependapat dengan saran-saranku, tetapi saudara ini sekali lagi mengambil pandangan yang berbeda tentang berbagai hal dan menunjukkan kekurangan-kekuranganku. Aku tahu bahwa orang bisa memiliki saran yang berbeda setiap kali suatu masalah timbul dan bahwa kami seharusnya menerima saran apa pun yang bermanfaat bagi pelaksanaan tugas kami, tetapi ketika aku memikirkan bagaimana saudara ini telah menolak saranku di depan begitu banyak saudara-saudari lainnya, aku dipenuhi dengan penolakan dan ketidakpuasan. Aku berpikir, "Saudara-saudari lainnya dapat menerima saranku tanpa ada perbedaan pandangan. Namun engkau hanya memikirkan dirimu saja—apakah engkau sengaja mencoba menyulitkanku untuk menunjukkan seberapa bertanggung jawabnya engkau terhadap pekerjaan dan seberapa jelasnya engkau memahami sesuatu? Engkau begitu congkak dan sangat sulit untuk diajak bekerja sama!" Semakin aku memikirkannya, semakin tidak suka aku terhadap saudara ini, sampai pada titik di mana aku bahkan tidak ingin mengatakan apa pun kepadanya. Beberapa hari kemudian, saudara ini mengirimi kami sebuah artikel untuk kami baca. Dia mengatakan artikel itu ditulis dengan sangat baik dan kami harus mengirimkannya agar menjadi referensi semua orang. Ketika aku mendengar dia berbicara dengan nada begitu percaya diri, aku mulai merasa tidak nyaman, dan aku berpikir, "Kami sudah membaca artikel-artikel ini secara keseluruhan. Jika artikel ini tidak terpilih, pasti ada yang salah dengan artikel tersebut. Engkau pastilah sebuta kelelawar jika engkau bahkan tidak bisa memahami hal ini." Dengan cara ini, aku menekan ketidakpuasan yang kurasakan dalam hatiku dan membaca lagi artikel ini secara menyeluruh dengan sangat enggan. Aku kemudian menyampaikan pendapatku kepadanya dan beberapa masalah yang menurutku ada dalam artikel itu, tetapi dia menolak menerima pendapatku dan malah mengingatkanku untuk mengambil pendekatan yang serius terhadap setiap artikel, atau bahwa aku sebaiknya meminta para atasanku untuk membaca lagi artikel ini secara menyeluruh. Penolakan yang kurasakan dalam diriku tumbuh pada saat itu, dan aku berpikir, "Sejak aku bertemu denganmu, engkau jarang sekali menerima atau mengikuti saranku, tetapi engkau selalu membuat saran yang berbeda-beda untuk dirujuk dan diadopsi oleh semua orang. Engkau memamerkan kemampuanmu di setiap kesempatan dan engkau begitu congkak. Engkau sama sekali tidak menghargaiku. Berurusan dengan seseorang sepertimu begitu merepotkan dan menyebalkan!" Aku bahkan berpikir, "Bagaimana mungkin gereja memilihnya untuk menyusun artikel? Seseorang seperti dia dengan watak yang begitu congkak benar-benar tidak cocok untuk melakukan tugas ini. Mungkin aku harus melaporkan masalahnya kepada pemimpinku dan membiarkan pemimpinku memutuskan apakah dia cocok untuk tugas ini. Mungkin yang terbaik adalah jika pemimpinku memindahkannya ke tempat lain." Ketika aku memikirkan hal ini, aku menyadari bahwa keadaanku salah. Aku tidak cukup mengerti tentang saudara ini dan aku tahu bahwa aku seharusnya tidak menghakimi dia dengan sebegitu mudahnya, tetapi aku harus memperlakukannya dengan adil. Namun demikian, aku hanya memikirkan hal-hal ini, dan tidak merefleksikannya pada diriku sendiri sehubungan dengan masalah ini lebih jauh, aku juga tidak mencari kebenaran untuk menyelesaikan kerusakanku sendiri, tetapi sebaliknya terus memikirkan saudara ini.

Suatu hari, pemimpinku menyarankan agar kami bertukar gagasan dengan para pemimpin dan rekan kerja dari semua gereja lainnya untuk membahas bagaimana kami dapat lebih memahami prinsip-prinsip penulisan artikel dan mengerjakan pekerjaan ini. Aku setuju, tetapi kemudian aku merasa gugup luar biasa. Ini akan menjadi pertama kalinya aku menghadiri pertemuan secara online untuk bertukar gagasan dengan para pemimpin dan rekan kerja tingkat menengah. Selain itu, aku tidak terlalu pandai mengutarakan diriku sendiri, dan aku khawatir tidak akan bisa bersekutu dengan jelas dan bahwa aku akan menjadi tontonan yang mempermalukan diriku sendiri, jadi aku merasa tersiksa oleh prospek ini. Akan tetapi, sehari sebelum pertemuan online tersebut dimulai, aku tiba-tiba menerima pesan dari saudara ini yang menanyakan apakah dia bisa menghadiri pertemuan itu. Ketika membaca pesannya, kemarahanku hampir meledak. Aku berpikir, "Engkau sudah pernah menghadiri pertemuan untuk bertukar gagasan beberapa kali sebelumnya dan engkau belum pernah menerima saran apa pun dari kami, jadi apa gunanya engkau menghadiri pertemuan yang ini? Aku sudah merasa sangat tertekan oleh pertemuan ini. Jika engkau mengajukan pertanyaan yang sulit kepadaku besok, engkau hanya akan membuat semuanya menjadi lebih tak tertahankan bagiku." Ketika aku memikirkan bahwa besok dia akan menghadiri pertemuan, aku tahu bahwa aku benar-benar tidak ingin dia berada di sana sama sekali, dan aku mencoba memikirkan sesuatu untuk dikatakan agar dia tidak ingin menghadirinya. Untuk sementara waktu aku merenungkan apa yang akan kukatakan tetapi masih tidak dapat menemukan alasan yang tepat, jadi aku berkata dengan blak-blakan, "Isi dari pertemuan ini akan hampir sama dengan pertemuan terakhir kita. Engkau tidak perlu hadir." Aku pikir jika aku menjawabnya dengan cara ini, dia tidak akan balik menjawabku. Namun demikian, yang mengejutkanku, dia mengirim pesan lain yang mengatakan: "Aku punya waktu besok dan aku ingin mendengar apa yang akan didiskusikan semua orang." Ketika membaca pesannya, aku merasa sangat kesal, tetapi aku masih tidak punya alasan untuk menolak memberikan izin kepadanya untuk ikut. Aku hanya bisa menyetujuinya dengan enggan, tetapi aku masih ragu untuk menambahkannya ke dalam grup. Aku berpikir dalam hati, "Kau benar-benar menjengkelkan! Kenapa aku tidak pernah bisa menyingkirkanmu? Akan dapatkah kami mencapai sesuatu di pertemuan ini dengan kehadiranmu? Apakah engkau sengaja mencoba menyulitkanku?" Aku terus mencoba memikirkan alasan untuk menghentikannya menghadiri pertemuan ini, dan aku bahkan berpikir untuk mengeluarkannya saja dari daftar pertemananku, tetapi kemudian aku berpikir, "Baik, engkau boleh hadir. Jika engkau berlaku tidak menyenangkan dan mencari-mencari kesalahan orang lain seperti yang engkau lakukan pada pertemuan terakhir, semua orang akan melihat betapa congkak dan sombongnya engkau, dan kemudian tidak ada yang akan terlalu menganggapmu...." Saat itu, aku menyadari bahwa prasangkaku terhadapnya telah berubah menjadi kebencian dan bahwa aku baru saja mengungkapkan niat jahatku. Jika aku membiarkan situasi ini terus berkembang, aku takut memikirkan bagaimana aku akan memperlakukan saudara ini. Maka, aku buru-buru berdoa dan berseru kepada Tuhan, meminta-Nya untuk melindungi hatiku. Setelah aku tenang, aku mulai merenungkan mengapa aku bereaksi begitu kuat ketika aku menjumpai sesuatu yang tidak sesuai dengan gagasan-gagasanku sendiri, mengapa aku tidak dapat menerima suara yang menentangku, dan mengapa aku telah membentuk prasangka yang sedemikian kuat terhadap saudara ini.

Sementara aku mencari, aku membaca sebuah perikop dalam persekutuan, "Bagaimana para pemimpin memperlakukan saudara dan saudari yang menurut mereka tidak cocok, yang menentang mereka, yang memiliki pandangan yang sepenuhnya berbeda dari mereka—ini adalah masalah yang sangat serius dan seharusnya ditangani dengan hati-hati. Jika mereka tidak masuk ke dalam kebenaran, mereka pasti akan mendiskriminasi dan menyerang orang ini ketika dihadapkan pada masalah semacam ini. Tindakan seperti ini justru secara tepat mengungkapkan sifat sang naga merah besar yang sangat besar yang melawan dan mengkhianati Tuhan. Jika sang pemimpin adalah seorang yang mengejar kebenaran, yang memiliki hati nurani dan akal budi, mereka akan mencari kebenaran dan menanganinya dengan benar. ... Sebagai manusia, kita harus adil dan benar. Sebagai pemimpin, kita harus menangani segalanya selaras dengan firman Tuhan agar dapat menjadi saksi-Nya. Jika kita melakukan segalanya menurut kehendak kita sendiri, memberi kuasa kepada watak buruk kita, itu jelas merupakan kegagalan yang sangat buruk" (Persekutuan dari Atas). Persekutuan ini sangat menyentuhku. Aku berpikir mengapa aku begitu menentang dan begitu tidak suka terhadap saudara ini, sedemikian rupa sehingga aku bahkan mulai membencinya—bukankah ini hanya karena dia tidak setuju dengan persekutuan-persekutuanku dan telah mengajukan beberapa saran lain yang telah menyebabkan aku kehilangan muka? Bukankah ini hanya karena aku melihatnya terlibat begitu aktif dalam kelompok kami dan mendapatkan persetujuan semua orang, dan jadi aku merasa bahwa dia telah mencuri perhatian yang seharusnya tertuju kepadaku? Pada awalnya, kami saudara-saudari telah bekerja sama untuk melakukan tugas kami, dan karena perbedaan kualitas dan pemahaman kami, adalah normal untuk memiliki pendapat yang berbeda tentang masalah-masalah tertentu. Yang dilakukan saudara ini hanyalah mengungkapkan pandangan-pandangannya sendiri—dia tidak bermaksud jahat. Namun aku selalu ingin dia mendengarkanku dan menaatiku. Aku ingin dia setuju denganku dan menerima apa pun yang kukatakan, dan agar dia tidak mengatakan sesuatu yang berbeda dariku. Ketika tindakan-tindakannya menyinggung harga diri dan kedudukanku, penolakan pun muncul dalam diriku, sedemikian rupa sehingga aku bahkan mengucilkannya dan tidak menginginkannya menghadiri pertemuan itu. Dan jika akhirnya aku mengizinkannya untuk hadir, itu hanya karena aku ingin agar dia mempermalukan dirinya sendiri. Aku membedah pikiran dan gagasan ini dan melihat bahwa semua yang telah kuungkapkan adalah watak-watak Iblis yang jahat dan congkak dalam diriku. Tindakan-tindakanku benar-benar sangat tercela dan buruk!

Aku kemudian membaca dalam persekutuan, "Siapa pun engkau, selama engkau tidak setuju dengan mereka, engkau menjadi sasaran hukuman mereka—watak apa ini? Bukankah ini sama dengan watak si naga merah yang sangat besar? Naga merah yang sangat besar mencari supremasi di atas semuanya dan menganggap dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu, ‘Jika engkau tidak setuju denganku, aku akan menghukummu; jika engkau berani melawanku, aku akan menggunakan kekuatan militer untuk menghancurkanmu.' Ini adalah kebijakan si naga merah yang sangat besar, dan watak si naga merah yang sangat besar ini adalah watak Iblis, si penghulu malaikat. Ada beberapa orang yang, begitu mereka menjadi pemimpin atau pekerja, mulai menerapkan kebijakan si naga merah yang sangat besar. Bagaimana mereka melakukan hal ini? 'Aku seorang pemimpin sekarang dan tugas pertamaku adalah membuat semua orang menaatiku baik di dalam hati maupun perkataan mereka, dan baru setelah itu, aku bisa memulai pekerjaan resmiku'" ("Untuk Memasuki Kenyataan Kebenaran, Orang Harus Berfokus untuk Mengubah Watak Hidupnya" dalam "Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan VIII"). "Jika seorang saudara atau saudari memiliki pandangan atau pendapat tentang seseorang yang benar-benar memiliki kebenaran dan yang dapat menerima kebenaran itu serta menerapkannya, atau jika mereka menemukan bahwa orang itu memiliki kekurangan dan membuat kesalahan, dan mereka mencelanya, mengkritiknya atau memangkasnya dan menanganinya, tidakkah orang itu akhirnya akan membenci mereka? Orang itu pertama-tama harus memeriksa masalah ini dan berpikir, 'Apakah yang engkau katakan benar atau tidak? Apakah ini sesuai dengan fakta? Jika ini sesuai dengan fakta, aku akan menerimanya. Jika apa yang engkau katakan setengah benar atau pada dasarnya sesuai dengan fakta, aku akan menerimanya. Jika apa yang engkau katakan tidak sesuai dengan fakta, tetapi aku dapat melihat bahwa engkau bukan orang jahat, bahwa engkau adalah saudara atau saudari, aku akan bersikap toleran, dan aku akan memperlakukanmu dengan benar'" ("Penyimpangan dan Kesalahan yang Harus Diatasi untuk Berlatih Mengenal Diri Sendiri" dalam "Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan XIII"). Dari persekutuan ini, aku melihat bahwa sejak si naga merah yang sangat besar berkuasa, dia tidak pernah memperhatikan kepentingan orang biasa, juga tidak pernah berpikir tentang bagaimana mengelola negara dengan baik atau bagaimana membiarkan orang-orang Tiongkok memiliki kehidupan yang bahagia. Alih-alih, semua yang dilakukannya hanyalah untuk melindungi kedudukan dan kuasanya sendiri. Agar dapat memerintah rakyatnya secara permanen dan menjaga agar orang-orang dapat dikendalikannya secara erat dalam genggamannya, dia menerapkan kebijakan ideologi bersatu dan suara bersatu, dia melarang orang untuk memiliki pandangan yang bertentangan dan mengatakan tidak kepadanya. Sejauh suatu gagasan diajukan dan didukung olehnya, maka setiap orang harus menerimanya tanpa peduli apakah gagasan itu benar atau salah, dan setiap orang harus menaatinya secara mutlak. Jika ada yang tidak setuju atau melawannya, ia akan merenggut nyawa mereka dan menjatuhkan sanksi kepada mereka, dalam upaya mematuhi hukum Iblis, yakni "Biarkan mereka yang menaati Aku bertumbuh dan mereka yang menolak Aku binasa." Siapa pun yang mengajukan keberatan akan dipandang sebagai kanker yang perlu disingkirkan, dan ia sangat ingin membunuh semua yang melawannya sesegera mungkin dan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya. Pembantaian mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada tanggal 4 Juni 1989 merupakan sebuah contoh khas. Para mahasiswa itu hanya memprotes korupsi dan mendukung demokrasi, tetapi mereka dipandang oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok) sebagai musuh. PKT menyebut gerakan mahasiswa tersebut sebagai pemberontakan kontra-revolusioner dan memutuskan untuk melakukan penindasan berdarah terhadap para mahasiswa tersebut. Ketika aku membandingkan perilakuku sendiri dengan perilaku si naga merah yang sangat besar, aku menyadari bahwa natur yang telah kuungkapkan persis dengan natur si naga merah yang sangat besar. Aku adalah orang yang rusak dan watakku tidak berubah sama sekali. Aku juga tidak memiliki sedikit pun kenyataan kebenaran, dan pandangan-pandangan yang kukemukakan tidak selalu benar. Aku selalu ingin agar orang lain mendengarkanku dan menaatiku tanpa bertanya, jika tidak aku akan menjadi muak dengan mereka dan menjauhi mereka, sedemikian rupa sehingga kami tidak akan bisa berdamai. Aku akan memikirkan segala cara yang memungkinkan untuk menyingkirkan mereka—aku begitu jahat dan tanpa kemanusiaan! Aku memikirkan bagaimana gereja telah mengatur agar aku dan saudara-saudari dapat melakukan tugas kami bersama-sama sehingga kami dapat belajar dari kelebihan satu sama lain, bekerja sama secara harmonis, dan melakukan tugas kami bersama-sama untuk memuaskan Tuhan. Namun aku tidak memikirkan hal-hal ini sama sekali, tetapi sebaliknya hanya mempertimbangkan apakah aku akan dapat mempertahankan kedudukanku sendiri atau tidak, apakah harga diri dan martabatku akan terluka atau tidak, dan apakah orang lain akan mendengarkanku atau tidak. Bagi mereka yang memiliki pandangan yang berbeda denganku, aku akan mengecualikan mereka dan menekan mereka—aku benar-benar telah bertindak seperti penjahat yang memerintah sebagai penguasa atas daerah kekuasaannya sendiri. Dengan melakukan hal ini, bagaimana aku bisa memuaskan Tuhan dalam melaksanakan tugasku? Aku hanya melakukan kejahatan dan menentang Tuhan! Ketika aku memikirkan hal-hal ini, aku merasa semakin malu; aku melihat bahwa aku begitu congkak dan sombong, bahwa aku memiliki watak yang sama dengan watak si naga merah yang sangat besar dan bahwa aku juga sungguh mampu melakukan semua hal yang dilakukan oleh si naga merah yang sangat besar. Baru pada saat itulah aku melihat bahwa aku memang keturunan si naga merah yang sangat besar dan bahwa aku dipenuhi oleh racun si naga merah yang sangat besar. Jika aku tidak mengejar perubahan watak, aku tanpa sadar akan melakukan hal-hal yang akan menyela dan mengganggu pekerjaan Tuhan dan, pada akhirnya, aku akan dihukum dan dikutuk oleh Tuhan karena telah menyinggung watak-Nya. Pada saat itu, aku mulai memahami kehendak Tuhan dan maksud-maksud baik-Nya. Jika situasi ini tidak menimpaku, aku benar-benar tidak akan dapat menyadari bahwa aku memiliki esensi si naga merah yang sangat besar─yang congkak dan sombong dan mencari supremasi atas semuanya—juga memiliki natur Iblis yang menentang Tuhan. Pada saat yang sama, aku juga menjadi paham bahwa Tuhan telah mengatur situasi semacam ini sebagai perlindungan terbaik bagi seseorang sepertiku yang begitu congkak dan sombong, dan yang menganggap dirinya begitu tinggi. Jika semua saudara-saudari mendukungku dan setuju terhadapku, dan tidak ada yang mengajukan keberatan apa pun, aku bahkan akan menjadi semakin congkak dan sombong, aku akan memaksa orang lain mengikutiku dan menaatiku dalam segala hal, aku akan merebut posisi Tuhan tanpa menyadarinya, memerintah kerajaanku sendiri dan akhirnya menyinggung watak Tuhan sampai Tuhan membenci dan menolakku. Ketika aku memahami hal-hal ini, aku mengucapkan syukur dan pujian kepada Tuhan dari lubuk hatiku. Aku juga melepaskan prasangka dan pendapatku tentang saudara ini. Tidak peduli bagaimana hasil pertemuan pertukaran gagasan ini, aku bersedia meninggalkan natur Iblis dalam diriku dan tunduk pada rancangan dan pengaturan Tuhan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hasil pertemuan itu akan melampaui semua harapanku. Hari itu, di bawah bimbingan Tuhan, pertemuan tersebut berjalan dengan sangat lancar, dan ketika aku bertukar gagasan dengan saudara itu, kami dapat menemukan persamaan pandangan dan kami berdua saling membantu memperbaiki kekurangan satu sama lain. Kami mengandalkan bimbingan Tuhan dan mengakhiri pertemuan tersebut dengan lancar.

Melalui penyingkapan oleh Tuhan ini, aku menyadari bahwa aku memang keturunan si naga merah yang sangat besar dan bahwa racun si naga merah yang sangat besar telah lama menjadi hidupku. Jika aku tidak bisa membuang watak-watak yang rusak ini, pada akhirnya aku hanya akan dibenci dan ditolak oleh Tuhan, Tuhan akan membuangku, dan aku akan selamanya kehilangan kesempatanku untuk mendapatkan keselamatan. Aku memikirkan firman Tuhan yang mengatakan: "Menjadi umat-Ku yang terlahir di negara si naga merah yang sangat besar, tentu tidak hanya sedikit, atau sebagian, racun si naga merah yang sangat besar yang ada dalam dirimu. Jadi, tahap pekerjaan-Ku ini utamanya berfokus pada diri engkau semua, dan ini adalah satu aspek dari makna penting inkarnasi-Ku di Tiongkok" ("Bab 11, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Sebelumnya dikatakan bahwa orang-orang seperti itu adalah keturunan naga merah besar. Bahkan, lebih jelasnya, mereka adalah perwujudan naga merah besar" ("Bab 36, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Aku juga memahami dari firman Tuhan bahwa pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan manusia itu sangat praktis dan bijaksana. Tuhan mengungkapkan firman-Nya untuk menyingkapkan racun si naga merah yang sangat besar dan natur Iblis yang ada dalam diri kita, dan dengan mengungkapkan fakta-faktanya, Tuhan mengizinkan aku untuk memiliki pemahaman dan kemampuan mengenali racun si naga merah yang sangat besar dalam diriku, dan dengan demikian menolak dan meninggalkannya, agar tidak pernah dirusak atau dirugikan olehnya lagi. Aku tahu bahwa masih ada banyak falsafah dan aksioma Iblis, dan banyak racun si naga merah besar dalam diriku. Namun sejak hari itu, aku hanya ingin mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, menerima penghakiman dan hajaran dari firman Tuhan, berusaha untuk membersihkan diriku dari semua racun si naga merah yang sangat besar sesegera mungkin, dan menjalani kehidupan yang menyerupai manusia untuk membawa penghiburan ke dalam hati Tuhan!

63. Aku Benar-Benar Keturunan Si Naga Merah yang Sangat Besar