44. Sungguh Tak Masuk Akal Menilai Orang Berdasarkan Penampilannya

44. Sungguh Tak Masuk Akal Menilai Orang Berdasarkan Penampilannya

Saudari Yifan Kota Shangqiu, Provinsi Henan

Di masa lalu, aku sering menilai orang berdasarkan penampilannya, menempatkan orang-orang yang anggun, terpelajar dan pandai bicara di tempat yang terhormat. Aku menganggap orang-orang seperti itu berakal sehat, pandai memahami orang lain dan pada umumnya baik serta ramah. Baru akhir-akhir ini, di saat kenyataan terungkap dengan sendirinya, aku harus memperbaiki cara berpikirku yang tak masuk akal ini.

Pada suatu senja, aku kembali ke rumah keluarga asuhku dan bertemu dengan seorang pria muda yang mengenakan setelan jas dan sepatu kulit yang berbicara dan membawakan dirinya dengan anggun. Ia juga mengenakan kacamata yang dibuat dengan halus, yang semakin menguatkan sikap santun dan terpelajarnya. Nyonya rumahku memperkenalkan kami dan memberitahukan kepadaku bahwa pria muda itu adalah putranya dan saat itu bekerja sebagai pejabat pemerintah kota di sebuah kota besar. Datang dari latar belakang keluarga miskin dan putus sekolah di usia dini, aku merasa sangat iri dengan keanggunannya berbusana, karisma modernnya, belum lagi ijasah tingginya dari lembaga pendidikan yang tersohor dan pekerjaannya yang sangat terhormat. Itulah pertama kalinya aku melihat seseorang yang begitu anggun dan terpelajar. Aku berpikir dalam hati, seseorang yang begitu santun dan memiliki status begitu tinggi serta beradab pastilah lentur, manusiawi dan rasional. Dengan pemikiran seperti itu, aku mulai berusaha membahas soal iman dengan pria muda ini, tetapi reaksinya sungguh di luar dugaan. Ia langsung berdiri dengan kasar, memukul meja dengan kepalan tangannya, berteriak, "Keluar dari sini sekarang juga! Jika kau tidak pergi sekarang juga, aku akan panggil polisi!" Setelah bicara, ia langsung mengeluarkan telepon selulernya dan memutar 110. Aku langsung berusaha memperbaiki keadaan, kataku, "Teman, aku yakin engkau tidak akan benar-benar memanggil polisi, kau pasti bergurau." Namun, ia tetap bersikeras dan bersiteguh bahwa aku harus segera pergi. Aku sungguh terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Menatap arloji, aku melihat bahwa saat itu sudah hampir jam 10 malam, jika aku pergi sekarang, di mana aku akan tidur? Pada saat itulah, nyonya rumahku berkata, "Sudah malam, kau bisa pergi besok." Begitu putranya melihat bahwa aku berniat untuk tetap tinggal malam itu, ia malah semakin ngotot, benar-benar mendorong dan mendesakku keluar dari pintu sambil berteriak, "Bagaimana mungkin aku, kader pemerintah dan penerima dana publik, memperbolehkan seorang misionaris di rumahku? Keluar sekarang juga!" Bersamaan dengan itu, dengan marah ia mengangkat sepedaku dan melemparnya ke arahku, lalu mendorong aku serta sepedaku ke luar pintu. Nyonya rumah mengejarku dengan niat membawaku ke rumah keluarga asuh yang lain, tetapi putranya tidak membolehkannya, menariknya masuk ke dalam lalu mengunci pintu. Saat aku pergi, aku mendengar nyonya rumah itu menangis" "Menurutmu ke mana seorang gadis harus pergi seorang diri di tengah malam?" "Biarkan saja ia pergi ke mana ia mau pergi—dengan perlindungan Tuhannya ia tidak perlu takut bukan?" teriak putranya membalas sambil menarik ibunya kembali ke dalam.

Menatap kosong ke bintang-bintang yang berkedip di langit malam dan kilasan lampu mobil yang menderu di jalan tol, aku merasa sedih dan berat hati. Perasaan duka memenuhi hatiku: tak mengapa jika kau tidak menginginkan aku tinggal di rumahmu, tetapi tidak ada alasan untuk menghentikan ibumu membawaku ke rumah keluarga asuh yang lain. Bagaimana kau bisa begitu tidak manusiawi, begitu kejam? Bahkan seorang pengemis tidak boleh diperlakukan seperti ini! Aku tidak tahu di mana keluarga asuh yang lain berada dan tidak ada tempat yang kutuju di kelamnya malam. Apa yang harus aku lakukan? ... Dengan pikiran-pikiran seperti itu berseliweran di kepala, airmataku mengalir. Pada saat itu, kesan bagusku terhadap karisma, pengetahuan, status dan keberadaban putra nyonya rumahku lenyap total. Aku memikirkan perkataan dalam sebuah khotbah: "Bagaimana mungkin kita menyebut mereka yang menentang atau menganiaya Tuhan sebagai orang yang benar-benar baik? Sejak manusia dirusak oleh Iblis, dia telah menjadi ahli dalam penyamaran dan dalam menutupi dirinya dengan falsafah kehidupan. Secara lahiriah, ia terlihat seperti seorang manusia, tetapi ketika dia mulai bersaksi bagi Tuhan, natur Iblisnya tersingkap. Tidak banyak orang yang menyadari hal ini, sehingga mereka sering kali dibutakan dan dibodohi oleh kata-kata hampa dan perkataan baik orang lain. Firman dan pekerjaan Tuhan dapat menyingkapkan manusia dengan sangat baik. Mereka yang tanpa kebenaran hanyalah orang-orang munafik. Mereka yang memahami kebenaran akan melihat dengan jelas berkenaan dengan masalah ini. Mereka yang tidak memahami kebenaran gagal melihat apa pun dengan jelas dan akibatnya sudut pandang mereka tidak masuk akal" (Persekutuan dari Atas). Merenungkan perkataan-perkataan ini, aku tiba-tiba mendapat kesadaran. Memang benar, persekutuan ini sungguh tepat: orang-orang yang rusak semuanya pintar berpura-pura, dan hanya karena mereka tampak berpendidikan dan sopan di luarnya, bukan berarti mereka secara hakikat baik. Hanya mereka yang mengasihi kebenaran dan dapat menerima kebenaran yang merupakan orang-orang yang baik hatinya. Jika orang tampak baik di luarnya, tetapi mereka tidak mengakui Tuhan ataupun menerima kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan—bahkan mampu menentang, mengganggu dan membenci—mereka tidak bisa disebut orang baik. Namun, aku malah menggunakan imajinasi dan cara pandang duniawiku sendiri untuk menilai orang lain. Aku selalu berpikir bahwa mereka yang memiliki pengetahuan, status dan beradab pastilah manusiawi, rasional dan memahami orang lain. Sudut pandangku ini terlalu konyol. Aku tidak tahu bahwa mereka yang tidak percaya kepada Tuhan adalah setan-setan yang menentang Tuhan. Dari luar mereka mungkin tampak santun dan anggun, tetapi di dalamnya, mereka muak terhadap kebenaran dan membenci kebenaran. Sikap pejabat pemerintah ini terhadap iman dan orang yang beriman adalah sebuah contoh yang sempurna. Di permukaan, orang itu memiliki karisma, kefasihan dalam berbicara, dan berbudaya, tetapi begitu aku mengangkat soal iman, ia sepenuhnya lepas kendali. Dengan menuduhku, mengusir dan mengancamku, ia sepenuhnya mengungkapkan natur Iblis dalam dirinya yang memusuhi Tuhan. Menghadapi fakta-fakta ini, aku menyadari bahwa aku tidak boleh menilai orang dari apa yang terlihat di luarnya; yang paling penting untuk kulihat adalah bagaimana sikap mereka terhadap Tuhan dan terhadap kebenaran. Jika mereka tidak mencintai dan menerima kebenaran, seberapa pun besarnya keahlian mereka atau setinggi apa pun status mereka, seberkesan apa pun mereka tampak dari luarnya, seberapa pun sopannya mereka, mereka tetap bukan orang yang baik.

Melalui pengalaman ini, aku sadar bahwa selama ini aku tidak melihat orang-orang sebagaimana mereka sebenarnya, tetapi aku mendasarkan penilaianku pada penampilan mereka. Betapa menyedihkannya, betapa bodohnya aku. Terungkap bahwa meski aku telah bertahun-tahun mengikuti Tuhan, aku masih belum mengerti kebenaran dan jelas belum memiliki kebenaran. Karena, hanya mereka yang memiliki kebenaranlah yang bisa membedakan orang-orang dan melihat natur sesungguhnya dari berbagai situasi; mereka yang tidak mengerti kebenaran tidaklah dapat melihat natur yang sebenarnya dari apa pun. Di masa mendatang aku bersumpah untuk mengabdikan diri untuk berusaha mengerti dan memiliki kebenaran, belajar membedakan orang-orang dan situasi berdasarkan firman Tuhan, memperbaiki semua sudut pandang yang tidak masuk akal dan berusaha keras untuk menjadi orang yang sesuai dengan Tuhan.

44. Sungguh Tak Masuk Akal Menilai Orang Berdasarkan Penampilannya