Bagaimana Tuhan telah memimpin dan memenuhi kebutuhan umat manusia hingga hari ini

Jalan hidup bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh siapa pun, dan juga bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan mudah oleh siapa pun. Ini karena hidup hanya bisa berasal dari Tuhan, yang artinya, hanya Tuhan sendiri yang memiliki hakikat hidup, dan hanya Tuhan sendiri yang memiliki jalan hidup. Dengan demikian, hanya Tuhanlah sumber hidup dan sumber air hidup yang abadi. Sejak Dia menciptakan dunia, Tuhan telah melakukan banyak pekerjaan yang meliputi vitalitas hidup, telah mengerjakan banyak pekerjaan yang memberikan hidup bagi manusia, dan telah membayar harga yang mahal agar manusia bisa beroleh hidup. Ini karena Tuhan sendiri adalah hidup yang kekal, dan Tuhan sendirilah jalan kebangkitan bagi manusia. Tuhan selalu hadir dalam hati manusia, dan Dia selalu tinggal di antara manusia. Dia menjadi penggerak hidup manusia, akar keberadaan manusia, dan simpanan berlimpah bagi keberadaan manusia setelah dilahirkan. Dia membuat manusia dilahirkan kembali, dan memampukan manusia untuk hidup dalam setiap perannya dengan gigih. Berkat kuasa-Nya, dan daya hidup-Nya yang tidak terpadamkan, manusia telah hidup dari generasi ke generasi, dan selama itulah kuasa hidup Tuhan telah menjadi landasan bagi keberadaan manusia, dan yang untuknya Tuhan telah membayar harga yang tidak pernah dibayarkan oleh manusia biasa mana pun. Daya hidup Tuhan dapat menang atas kekuatan mana pun; terlebih lagi, daya hidup-Nya melampaui kekuatan apa pun. Hidup-Nya kekal, kuasa-Nya menakjubkan, dan daya hidup-Nya tidak bisa ditundukkan oleh makhluk ciptaan atau kekuatan musuh mana pun. Daya hidup Tuhan sungguh ada dan memancarkan cahaya terangnya kapan pun dan di mana pun. Langit dan bumi mungkin mengalami perubahan dahsyat, tetapi hidup Tuhan tetap sama selama-lamanya. Segala sesuatu mungkin berlalu, tetapi hidup Tuhan akan tetap, karena Tuhan adalah sumber keberadaan dari segala sesuatu, dan akar dari keberadaannya. Hidup manusia berasal dari Tuhan, surga pun ada karena Tuhan, dan keberadaan bumi berasal dari kuasa hidup Tuhan. Tidak ada satu objek pun yang memiliki daya hidup dapat melampaui kedaulatan Tuhan, dan tidak ada suatu pun yang memiliki energi bisa menghindarkan diri dari wilayah kekuasaan otoritas Tuhan. Dengan cara ini, siapa pun mereka, semua orang harus tunduk di bawah wilayah kekuasaan Tuhan, semua orang harus hidup di bawah perintah Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang bisa luput dari tangan-Nya.

Dikutip dari "Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sejak Tuhan menciptakan segala sesuatu, segala sesuatu telah berfungsi dan terus berkembang secara teratur dan sesuai dengan hukum yang Dia tentukan. Di bawah pengawasan-Nya, di bawah kekuasaan-Nya, umat manusia telah bertahan hidup, dan selama itu pula, segala sesuatu telah berkembang secara teratur. Tidak ada satu hal pun yang mampu mengubah atau menghancurkan hukum-hukum ini. Oleh karena kekuasaan Tuhan, semua makhluk bisa berkembang biak, dan oleh karena kekuasaan serta pengelolaan Tuhan, semua makhluk bisa bertahan hidup. Ini berarti di bawah kekuasaan Tuhan, semua makhluk menjadi ada, berkembang, lenyap, dan bereinkarnasi secara teratur. Ketika musim semi tiba, hujan gerimis menghadirkan perasaan musim yang segar dan melembapkan bumi. Tanah mulai gembur, dan rerumputan tumbuh keluar dari dalam tanah dan mulai bertunas, sementara pepohonan berangsur menjadi hijau. Semua makhluk hidup ini memberikan daya hidup yang segar bagi bumi. Seperti inilah pemandangan saat semua makhluk menjadi ada dan berkembang. Segala jenis hewan keluar dari liang mereka untuk merasakan kehangatan musim semi dan memulai tahun yang baru. Semua makhluk berjemur di bawah sinar mentari selama musim panas dan menikmati kehangatan yang dihadirkan oleh musim tersebut. Mereka tumbuh dengan cepat. Pepohonan, rumput, dan semua jenis tumbuhan tumbuh sangat cepat, hingga akhirnya, semuanya bermekaran dan berbuah. Semua makhluk sangat sibuk selama musim panas, termasuk manusia. Di musim gugur, hujan menghadirkan kesejukan musim gugur, dan semua jenis makhluk hidup mulai merasakan tibanya musim panen. Semua makhluk menghasilkan buah, dan manusia mulai memanen berbagai jenis buah ini untuk menyiapkan makanan untuk musim dingin. Di musim dingin, semua makhluk berangsur mulai tenang dalam kesunyian dan beristirahat saat cuaca dingin dimulai, dan orang juga berehat selama musim ini. Dari musim ke musim, peralihan dari musim semi ke musim panas ke musim gugur, dan ke musim dingin—semua perubahan ini terjadi menurut hukum yang ditetapkan oleh Tuhan. Dia menuntun segala sesuatu dan umat manusia dengan menggunakan hukum-hukum ini dan telah merancangkan bagi umat manusia sebuah cara hidup yang kaya dan penuh warna, menyiapkan sebuah lingkungan untuk kelangsungan hidup yang memiliki suhu dan musim berbeda. Oleh karenanya, di dalam lingkungan yang tertata untuk kelangsungan hidup seperti inilah, manusia bisa bertahan hidup dan berkembang biak secara teratur. Manusia tidak bisa mengubah hukum-hukum ini, dan tidak satu orang atau makhluk pun bisa melanggarnya. Meskipun perubahan yang tak terhitung jumlahnya telah terjadi—lautan telah menjadi ladang, sementara ladang telah menjadi lautan—hukum-hukum ini terus ada. Semua itu ada karena Tuhan ada, dan karena kekuasaan dan pengelolaan-Nya. Dengan tipe lingkungan yang tertata dan berskala besar ini, hidup manusia berlanjut di dalam hukum dan kekuasaan ini. Manusia dari generasi demi generasi dibesarkan di bawah semua hukum ini, dan manusia dari generasi demi generasi telah bertahan hidup di bawah semua hukum ini. Orang telah menikmati lingkungan yang tertata untuk kelangsungan hidup ini, juga semua dari banyak hal yang diciptakan oleh Tuhan bagi generasi demi generasi. Meski orang merasa bahwa tipe hukum ini adalah bawaan, meski mereka mengabaikannya begitu saja, dan meski mereka tidak mampu merasakan bahwa Tuhan mengatur semua hukum ini, bahwa Tuhan berkuasa atas semua hukum ini, apa pun yang terjadi, Tuhan senantiasa terlibat dalam pekerjaan yang tidak berubah ini. Tujuan-Nya dalam pekerjaan yang tidak berubah ini adalah kelangsungan hidup umat manusia, sehingga manusia dapat terus menjalani hidup.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik IX" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Tuhan memerintahkan aturan yang mengatur beroperasinya segala sesuatu; Dia memerintahkan aturan yang mengatur kelangsungan hidup segala sesuatu; Dia mengendalikan segala sesuatu dan menetapkan segala sesuatu untuk saling menguatkan dan bergantung satu sama lain, sehingga semua itu tidak binasa atau menghilang. Hanya dengan demikianlah, umat manusia dapat hidup; hanya dengan demikianlah mereka dapat hidup di bawah bimbingan Tuhan dalam lingkungan seperti itu. Tuhan adalah penguasa atas aturan beroperasi ini, dan tak seorang pun bisa turut campur ataupun mengubahnya. Hanya Tuhan itu sendiri yang mengetahui aturan-aturan ini dan hanya Tuhan itu sendiri yang mengelola semua itu. Kapan pohon akan bertunas, kapan hujan akan turun; seberapa banyak air dan seberapa banyak zat gizi yang akan tanah berikan pada tanaman; pada musim apa daun akan berguguran; pada musim apa pohon akan berbuah; seberapa banyak zat gizi yang akan sinar matahari berikan pada pepohonan; apa yang akan pohon hembuskan setelah diberi makan oleh sinar matahari—semua ini telah ditetapkan sebelumnya oleh Tuhan ketika Dia menciptakan segala sesuatu, sebagai aturan yang tak dapat dilanggar oleh siapa pun. Hal-hal yang Tuhan ciptakan, baik yang hidup, maupun yang di mata manusia tidak hidup, berada di tangan-Nya, di mana Dia mengendalikan dan berkuasa atas semua itu. Tak seorang pun dapat mengubah atau melanggar aturan-aturan ini. Dengan kata lain, ketika Tuhan menciptakan segala sesuatu, Dia telah menetapkan sebelumnya bahwa tanpa tanah, pohon tidak dapat menumbuhkan akar dan tunas, dan bertumbuh; bahwa tanah, jika tanpa pohon, akan mengering; bahwa pohon harus menjadi rumah bagi burung dan tempat di mana mereka dapat berlindung dari angin. Dapatkah pohon hidup tanpa sinar matahari? (Tidak.) Pohon juga tidak dapat hidup hanya dengan tanah. Semua hal ini adalah untuk manusia, untuk kelangsungan hidup manusia. Dari pohon, manusia menerima udara segar, dan manusia hidup di atas tanah, yang dilindungi oleh pohon. Manusia tidak dapat hidup tanpa sinar matahari atau beragam makhluk hidup. Meskipun hubungan in rumit, engkau harus ingat bahwa Tuhan menciptakan aturan yang mengatur segala sesuatu sehingga semua itu dapat saling menguatkan, saling bergantung satu sama lain dan hidup bersama. Dengan kata lain, setiap hal yang Dia ciptakan memiliki nilai dan makna penting. Jika Tuhan menciptakan sesuatu tanpa makna penting, Tuhan pasti akan menghilangkannya. Ini adalah salah satu metode yang Tuhan gunakan untuk menyediakan kebutuhan segala sesuatu.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VII" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

"Tuhan menyediakan bagi segala sesuatu" adalah sebuah frasa dengan makna penting dan cakupan yang sangat luas. Tuhan tidak sekadar menyediakan bagi manusia makanan dan minuman mereka sehari-hari; Dia menyediakan bagi manusia segala sesuatu yang mereka butuhkan, termasuk segala sesuatu yang bisa mereka lihat, juga yang tidak bisa mereka lihat. Tuhan menegakkan, mengelola, dan berkuasa atas lingkungan hidup ini, yang sangat penting bagi umat manusia. Dengan kata lain, lingkungan apa pun yang manusia butuhkan untuk setiap musimnya, Tuhan telah menyiapkannya. Tuhan juga mengelola jenis udara dan suhu sehingga itu sesuai untuk kelangsungan hidup manusia. Aturan yang mengatur hal-hal ini tidak ada dengan sendirinya atau secara acak; semua itu adalah hasil dari kedaulatan dan perbuatan Tuhan. Tuhan itu sendiri adalah sumber semua aturan ini dan sumber kehidupan bagi segala sesuatu. Entah engkau memercayainya atau tidak, entah engkau dapat melihatnya atau tidak, entah engkau dapat memahaminya atau tidak, ini tetap merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri dan tak dapat disangkal.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VII" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apakah syarat dasar yang mendasari berbagai gaya hidup manusia ini? Bukankah benar-benar perlu bahwa lingkungan di mana mereka mampu bertahan hidup dilestarikan pada tingkat dasar? Yang berarti, jika mereka yang hidup dari berburu kehilangan hutan pegunungan atau burung-burung dan satwa liar, sumber mata pencaharian mereka akan hilang. Arah ke mana etnis ini dan orang-orang semacam ini harus pergi akan menjadi tidak pasti, dan mereka bahkan mungkin menghilang. Dan bagaimana halnya dengan mereka yang menggembalakan ternak sebagai pencaharian mereka? Apa yang mereka andalkan? Apa yang sebenarnya mereka andalkan bukanlah ternak mereka, tetapi lingkungan tempat ternak mereka mampu bertahan hidup—padang rumput. Jika tidak ada padang rumput, di mana para penggembala akan memberi makan ternak mereka? Apa yang akan dimakan oleh sapi dan domba? Tanpa ternak, orang-orang nomaden ini tidak akan punya mata pencaharian. Tanpa sumber bagi mata pencaharian mereka, ke manakah orang-orang tersebut akan pergi? Akan sulit bagi mereka untuk terus bertahan hidup; mereka tidak akan memiliki masa depan. Jika tidak ada sumber air, serta sungai dan danau sepenuhnya mengering, apakah semua ikan, yang mengandalkan air untuk hidup, tetap ada? Semua ikan tersebut tidak akan ada. Apakah orang-orang yang mengandalkan air dan ikan sebagai mata pencaharian mereka akan terus bertahan hidup? Ketika mereka tidak lagi memiliki makanan, ketika mereka tidak lagi memiliki sumber mata pencaharian mereka, orang-orang tersebut tidak akan dapat terus bertahan hidup. Yang berarti, jika etnis tertentu menghadapi suatu masalah dengan mata pencaharian mereka atau kelangsungan hidup mereka, etnis tersebut tidak akan lagi melanjutkan hidup, dan mereka bisa menghilang dari muka bumi dan menjadi punah. Dan jika mereka yang bertani sebagai mata pencaharian kehilangan tanah mereka, jika mereka tidak bisa menanam segala jenis tumbuhan dan mendapatkan makanan dari tumbuhan tersebut, akan seperti apa kesudahannya? Tanpa makanan, bukankah orang akan mati kelaparan? Jika orang mati kelaparan, bukankah ras manusia akan binasa? Jadi, inilah tujuan Tuhan mempertahankan berbagai macam lingkungan. Tuhan hanya memiliki satu tujuan dalam mempertahankan berbagai lingkungan dan ekosistem serta semua makhluk hidup yang berbeda-beda dalam setiap lingkungan dan ekosistem tersebut—dan itu untuk memelihara semua jenis orang, memelihara orang yang hidup dalam lingkungan geografis yang berbeda-beda.

Jika segala macam ciptaan kehilangan hukumnya sendiri, semua ciptaan tidak akan lagi ada; jika hukum segala sesuatu hilang, makhluk hidup di antara segala sesuatu tidak akan dapat melanjutkan hidup. Manusia juga akan kehilangan lingkungan yang mereka andalkan untuk kelangsungan hidup. Jika manusia kehilangan semua hal tersebut, mereka tidak akan mampu terus hidup, seperti yang telah mereka lakukan, untuk berkembang biak dan bertambah banyak dari generasi demi generasi. Alasan manusia telah bertahan hidup sampai sekarang adalah karena Tuhan telah membekali mereka dengan segala macamciptaan untuk memelihara mereka, memelihara umat manusia dalam berbagai cara. Hanya karena Tuhan memelihara umat manusia dalam berbagai cara, mereka bisa bertahan hidup sampai sekarang, hari ini. Dengan lingkungan yang tetap untuk kelangsungan hidup yang baik dan di mana hukum alam tertata dengan baik, semua jenis orang di bumi, semua jenis ras bisa bertahan hidup dalam wilayah yang telah ditentukan untuk mereka sendiri. Tidak seorang pun bisa melampaui wilayah-wilayah ini atau batas-batas di antara wilayah-wilayah tersebut karena Tuhanlah yang telah menetapkannya.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik IX" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Tuhan menciptakan dunia ini dan menghadirkan manusia, makhluk hidup yang ke dalam dirinya Dia anugerahkan kehidupan. Selanjutnya, manusia memiliki orang tua dan kerabat dan tidak sendirian lagi. Sejak pertama kali manusia melihat dunia lahiriah ini, dia telah ditakdirkan untuk berada dalam penentuan Tuhan dari semula. Napas kehidupan dari Tuhanlah yang menyokong setiap makhluk hidup sepanjang masa pertumbuhannya hingga dewasa. Selama proses ini, tak seorang pun merasa bahwa manusia bertumbuh dewasa di bawah pemeliharaan Tuhan; melainkan, mereka meyakini bahwa manusia bertumbuh dewasa di bawah pemeliharaan yang penuh kasih dari orang tuanya, dan bahwa naluri kehidupannya sendirilah yang mengatur proses pertumbuhannya. Anggapan ini ada karena manusia tidak memahami siapa yang menganugerahkan kehidupannya dan dari mana kehidupan itu berasal, apalagi cara naluri kehidupan menciptakan keajaiban. Manusia hanya tahu bahwa makanan adalah dasar keberlanjutan hidupnya, bahwa kegigihan adalah sumber keberadaannya, dan bahwa keyakinan dalam benaknya adalah modal yang menjadi sandaran kelangsungan hidupnya. Tentang kasih karunia dan perbekalan Tuhan Tuhan, manusia sama sekali tidak menyadarinya, dan dengan demikian, manusia menyia-nyiakan kehidupan yang dianugerahkan kepadanya oleh Tuhan .... Tak seorang pun di antara umat manusia yang dipelihara Tuhan siang dan malam mengambil inisiatif untuk menyembah-Nya. Tuhan hanya terus membentuk manusia tanpa mengharapkan apa pun darinya, sebagaimana yang telah direncanakan-Nya. Dia berbuat demikian dengan harapan bahwa, suatu hari, manusia akan terjaga dari mimpinya dan tiba-tiba memahami nilai dan makna kehidupan, harga yang Tuhan bayar untuk semua yang telah diberikan-Nya kepada manusia, dan perhatian penuh semangat yang dengannya Tuhan menantikan manusia berbalik kepada-Nya. Tak seorang pun pernah menyelidiki rahasia yang mengatur asal mula dan kelanjutan hidup manusia. Hanya Tuhan, yang memahami semua ini, yang dalam secara diam-diam menahan kepedihan dan pukulan yang diberikan kepada-Nya oleh manusia, yang telah menerima segalanya dari Tuhan, tetapi tidak bersyukur. Manusia tidak menghargai segala yang diberikan hidup, dan demikian pula, "tidak mengherankan" jika Tuhan dikhianati oleh manusia, dilupakan oleh manusia, dan diperas oleh manusia. Mungkinkah rencana Tuhan benar-benar sangat penting? Mungkinkah manusia, makhluk hidup yang berasal dari tangan Tuhan ini, benar-benar sangat penting? Rencana Tuhan tentu saja penting; kendati demikian, makhluk hidup yang diciptakan oleh tangan Tuhan ini ada demi rencana-Nya. Oleh karena itu, Tuhan tidak dapat menyia-nyiakan rencana-Nya karena kebencian terhadap umat manusia ini. Demi rencana-Nya dan demi napas yang Dia embuskan, Tuhan menanggung segala siksaan, bukan demi daging manusia, tetapi demi hidup manusia. Dia melakukannya bukan demi mendapatkan daging manusia kembali, melainkan demi mendapatkan kembali hidup yang telah diembuskan-Nya. Inilah rencana-Nya.

Semua yang datang ke dalam dunia ini harus melewati kehidupan dan kematian, dan sebagian besar di antaranya melewati siklus kematian dan kelahiran kembali. Mereka yang hidup akan segera mati dan mereka yang mati akan segera kembali. Semua ini adalah jalan kehidupan yang ditetapkan Tuhan bagi setiap makhluk hidup. Namun, perjalanan dan siklus ini justru adalah fakta sebenarnya yang Tuhan harap dilihat manusia: bahwa hidup yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia itu tak berujung, tak terkekang oleh kejasmanian, waktu, atau ruang. Inilah misteri kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia dan bukti bahwa kehidupan berasal dari-Nya. Meskipun banyak orang mungkin tidak percaya bahwa kehidupan berasal dari Tuhan, manusia pasti menikmati semua yang berasal dari Tuhan, entah mereka percaya atau menyangkal keberadaan-Nya. Seandainya Tuhan suatu hari tiba-tiba berubah pikiran dan ingin mengambil kembali semua yang ada di dunia ini dan menarik kembali hidup yang telah diberikan-Nya, maka semua akan lenyap. Tuhan memakai hidup-Nya untuk menyokong segala sesuatu, baik yang bernyawa maupun yang tak bernyawa, membuat segalanya teratur dengan menggunakan kekuatan dan otoritas-Nya. Ini adalah fakta yang tak terpikirkan atau dipahami oleh siapa pun, dan fakta-fakta yang tak terpahami ini adalah perwujudan dan bukti dari kekuatan hidup Tuhan. Sekarang biarkan Aku memberitahukan kepadamu sebuah rahasia: kebesaran kehidupan Tuhan dan kuasa kehidupan-Nya tidak terselami oleh makhluk mana pun. Demikianlah adanya saat ini, sama seperti demikianlah dahulu, dan demikian pula adanya di masa yang akan datang. Rahasia kedua yang akan Kuberitahukan adalah ini: sumber kehidupan bagi semua makhluk ciptaan berasal dari Tuhan, bagaimanapun perbedaan makhluk-makhluk itu dalam wujud dan bangunnya. Jenis makhluk hidup apa pun dirimu, engkau tidak dapat bergerak berlawanan dengan jalan kehidupan yang telah Tuhan tetapkan. Bagaimanapun, yang kuinginkan adalah agar manusia memahami ini: tanpa pemeliharaan, penjagaan, dan perbekalan Tuhan, manusia tidak dapat menerima segala sesuatu yang semestinya diterimanya, betapapun tekun upayanya atau betapapun gigih perjuangannya. Tanpa penyediaan kehidupan dari Tuhan, manusia kehilangan sudut pandang terhadap nilai dan makna kehidupan. Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan manusia, yang dengan sembrono menyia-nyiakan nilai kehidupan-Nya, menjadi begitu riang? Seperti yang telah Kukatakan sebelumnya: jangan lupakan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupanmu. Jika manusia gagal menghargai semua yang telah Tuhan anugerahkan, Tuhan bukan saja akan menarik kembali semua yang telah diberikan-Nya pada awalnya, tetapi Dia akan menagih manusia dua kali lipat untuk mengganti rugi semua yang telah Dia berikan.

Dikutip dari "Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Pekerjaan pengelolaan Tuhan dimulai pada penciptaan dunia, dan manusia berada pada inti pekerjaan ini. Dapat dikatakan, segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah demi kepentingan manusia. Karena pekerjaan pengelolaan-Nya berlangsung selama ribuan tahun dan tidak dilakukan hanya dalam hitungan menit atau detik, atau sekejap mata, atau bahkan dalam waktu satu atau dua tahun, Dia harus menciptakan lebih banyak hal yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti matahari, bulan, berbagai macam makhluk hidup, makanan, dan lingkungan yang ramah. Inilah awal pengelolaan Tuhan.

Setelah itu, Tuhan menyerahkan umat manusia kepada Iblis, dan manusia hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis, yang secara perlahan membawa kepada pekerjaan Tuhan pada zaman pertama: kisah Zaman Hukum Taurat.... Lebih dari beberapa ribu tahun selama Zaman Hukum Taurat, umat manusia menjadi terbiasa dengan tuntunan Zaman Hukum Taurat, dan mulai tidak menghargainya. Secara berangsur-ansur, manusia meninggalkan pemeliharaan Tuhan. Jadi, sementara mengikuti hukum Taurat, mereka juga menyembah berhala dan melakukan perbuatan jahat. Mereka hidup tanpa perlindungan Yahweh, dan sekadar menjalani hidup mereka di depan mezbah Bait Suci. Sesungguhnya, pekerjaan Tuhan telah meninggalkan mereka sejak lama, dan meskipun orang Israel masih memegang hukum Taurat, menyebut nama Yahweh, dan bahkan dengan bangga meyakini hanya merekalah umat Yahweh dan umat pilihan Yahweh, kemuliaan Tuhan diam-diam telah meninggalkan mereka ...

Ketika Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, Dia selalu diam-diam meninggalkan satu tempat dan dengan lembut melakukan pekerjaan baru di tempat lain. Hal ini tampaknya sangat sulit dipercaya orang yang telah mati rasa. Orang telah selalu menghargai hal-hal lama dan memandang hal-hal baru yang tak dikenal dengan permusuhan atau melihatnya sebagai gangguan. Jadi, pekerjaan baru apa pun yang Tuhan lakukan, dari awal hingga akhir, manusialah yang terakhir mengetahuinya di antara segala sesuatu.

Seperti yang selalu terjadi, setelah pekerjaan Yahweh pada Zaman Hukum Taurat, Tuhan memulai pekerjaan baru-Nya pada tahap kedua: mengambil rupa sebagai daging—berinkarnasi sebagai manusia selama sepuluh, dua puluh tahun—serta berfirman dan melakukan pekerjaan-Nya di antara orang percaya. Namun, tanpa terkecuali, tak seorang pun yang mengetahuinya, dan hanya sejumlah kecil orang yang mengakui bahwa Dia adalah Tuhan yang menjadi daging setelah Tuhan Yesus dipakukan di kayu salib dan dibangkitkan. ... Begitu tahap kedua pekerjaan Tuhan selesai—setelah penyaliban—pekerjaan Tuhan untuk memulihkan manusia dari dosa (dengan kata lain, mendapatkan kembali manusia dari tangan Iblis) diselesaikan. Jadi, sejak saat itu, umat manusia hanya perlu menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat agar dosa-dosanya diampuni. Secara teori, dosa manusia tidak lagi menjadi penghalang baginya untuk mencapai keselamatan dan datang ke hadapan Tuhan, dan tidak lagi menjadi pijakan yang dapat digunakan Iblis untuk mendakwa manusia. Hal itu karena Tuhan itu sendiri telah melakukan pekerjaan yang nyata, telah menjadi serupa dan mencicipi daging yang dikuasai dosa, dan Tuhan itu sendiri yang menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian, manusia turun dari kayu salib, dan ditebus, serta diselamatkan melalui daging Tuhan—yang serupa dengan daging yang berdosa ini. Jadi, setelah ditawan oleh Iblis, manusia menjadi selangkah lebih dekat untuk menerima keselamatan-Nya di hadapan Tuhan. Tentu saja, tahap pekerjaan ini lebih mendalam dan lebih berkembang daripada pengelolaan Tuhan selama Zaman Hukum Taurat.

Demikianlah pengelolaan Tuhan: menyerahkan umat manusia kepada Iblis—umat manusia yang tidak mengenal siapa Tuhan, siapa itu Pencipta, bagaimana menyembah Tuhan, atau mengapa manusia harus tunduk kepada Tuhan—dan membiarkan Iblis untuk merusaknya. Selangkah demi selangkah, Tuhan kemudian menyelamatkan manusia dari tangan Iblis, sampai manusia sepenuhnya menyembah Tuhan dan menolak Iblis. Inilah pengelolaan Tuhan. Ini mungkin terdengar seperti dongeng khayalan, dan ini mungkin tampak membingungkan. Orang merasa bahwa cerita ini seperti cerita khayalan karena mereka sama sekali tidak dapat membayangkan betapa banyaknya yang telah terjadi pada manusia selama beberapa ribu tahun terakhir, apalagi membayangkan betapa banyaknya kisah yang telah terjadi di alam semesta dan cakrawala. Dan selain itu, itu karena mereka tidak dapat memahami adanya dunia yang lebih mencengangkan dan menakutkan di luar dunia yang lahiriah, dunia yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani mereka. Perkara ini tampaknya tidak dapat dipahami oleh manusia karena manusia tidak memiliki pemahaman mengenai pentingnya pekerjaan penyelamatan Tuhan bagi umat manusia atau pentingnya pekerjaan pengelolaan-Nya, dan tidak memahami apa yang pada akhirnya Tuhan harapkan bagi umat manusia. Apakah untuk menjadi sama sekali tidak dirusak oleh Iblis, seperti Adam dan Hawa? Tidak! Tujuan pengelolaan Tuhan adalah untuk mendapatkan sekelompok orang yang menyembah Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Meskipun orang-orang ini telah dirusak oleh Iblis, mereka tidak lagi memandang Iblis sebagai bapa mereka; mereka mengenali wajah Iblis yang menjijikkan dan menolaknya, dan mereka datang ke hadapan Tuhan untuk menerima penghakiman dan hajaran Tuhan. Dia akhirnya mengetahui apa yang buruk dan bagaimana yang buruk itu berlawanan dengan yang kudus, dan mengakui kebesaran Tuhan dan kejahatan Iblis. Umat manusia yang semacam ini tidak akan lagi bekerja untuk Iblis, atau menyembah Iblis, atau memuja Iblis. Hal itu karena merekalah sekelompok orang yang benar-benar telah didapatkan oleh Tuhan. Inilah makna penting pekerjaan Tuhan dalam mengelola umat manusia. Selama pekerjaan pengelolaan Tuhan pada zaman ini, umat manusia merupakan sasaran perusakan Iblis dan sekaligus sasaran penyelamatan Tuhan, dan manusia adalah ciptaan yang diperebutkan oleh Tuhan dan Iblis. Saat Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, Dia secara berangsur-angsur mendapatkan kembali manusia dari tangan Iblis, dan karena itu manusia menjadi semakin dekat dengan Tuhan ...

Dan kemudian datanglah Zaman Kerajaan, yang merupakan tahap pekerjaan yang lebih praktis, tetapi yang juga paling sulit diterima oleh manusia. Hal itu karena semakin dekat manusia datang kepada Tuhan, semakin dekat tongkat hajaran Tuhan mendekati manusia, dan semakin jelas wajah Tuhan disingkapkan kepada manusia. Setelah penebusan umat manusia, manusia secara resmi kembali ke dalam keluarga Tuhan. Manusia berpikir bahwa sekaranglah saatnya untuk bersenang-senang, tetapi dia malah menjadi sasaran serangan terbuka oleh Tuhan, hal yang tidak pernah dapat diperkirakan seorang pun sebelumnya: ternyata, inilah baptisan yang harus "dinikmati" oleh umat Tuhan. Mendapatkan perlakuan semacam itu, manusia tidak mempunyai pilihan lain selain berhenti sejenak dan merenung, "Aku adalah anak domba yang telah hilang selama bertahun-tahun yang Tuhan tebus dengan harga yang sangat mahal, lalu mengapa Tuhan memperlakukanku seperti ini? Apakah ini cara Tuhan untuk mengolok-olok dan menelanjangiku? ..." Setelah bertahun-tahun berlalu, manusia telah menjadi letih, setelah mengalami beratnya pemurnian dan hajaran. Meskipun manusia telah kehilangan "kemuliaan" dan "keromantisan" masa lampau, tanpa sadar, dia telah mulai memahami prinsip tentang perilaku manusia, dan telah mulai menghargai tahun-tahun pengabdian Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Manusia perlahan-lahan mulai membenci kebiadabannya sendiri. Dia mulai membenci betapa liarnya dia, semua kesalahpahamannya terhadap Tuhan, dan tuntutan-tuntutannya yang tidak masuk akal terhadap-Nya. Waktu tidak dapat diputar kembali. Peristiwa masa lalu menjadi kenangan yang sangat disesalkan bagi manusia, dan perkataan serta kasih Tuhan menjadi kekuatan pendorong dalam kehidupan baru manusia. Luka manusia semakin pulih dari hari ke hari, kekuatannya kembali, dan dia bangkit dan memandang wajah Yang Mahakuasa ... hanya untuk mendapati bahwa Dia selalu berada di sisiku, dan bahwa senyuman dan raut wajah-Nya yang indah masih begitu menggetarkan perasaan. Hati-Nya masih menaruh perhatian pada umat manusia yang diciptakan-Nya, dan tangan-Nya masih sehangat dan sekuat semula. Seolah-olah manusia kembali lagi ke Taman Eden, tetapi kali ini manusia tidak lagi mendengarkan godaan si ular, tidak lagi berpaling dari wajah Yahweh. Manusia berlutut di hadapan Tuhan, melihat wajah Tuhan yang tersenyum, dan memberikan pengorbanannya yang paling berharga—Oh! Tuhanku, Tuhanku!

Dikutip dari "Manusia Hanya Dapat Diselamatkan di Tengah Pengelolaan Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sejak keberadaan pengelolaan Tuhan, Ia selalu sepenuhnya berdedikasi untuk melakukan pekerjaan-Nya. Sekalipun menyelubungi pribadi-Nya dari manusia, Ia selalu berada di sisi manusia, melakukan pekerjaan dalam diri manusia, mengungkapkan watak-Nya, membimbing semua manusia dengan esensi-Nya, dan melakukan pekerjaan-Nya dalam diri setiap orang melalui kekuatan-Nya, hikmat-Nya, dan otoritas-Nya, sehingga membuat Zaman Hukum Taurat, Zaman Kasih Karunia, dan sekarang Zaman Kerajaan terwujud. Meskipun Tuhan menyembunyikan pribadi-Nya dari manusia, watak-Nya, wujud-Nya, milik-Nya, dan kehendak-Nya terhadap umat manusia secara terang-terangan diungkapkan kepada manusia agar dilihat dan dialami manusia. Dengan kata lain, meskipun manusia tidak dapat melihat atau menyentuh Tuhan, watak dan esensi Tuhan yang telah dijumpai manusia adalah mutlak pengungkapan Tuhan itu sendiri. Bukankah ini adalah faktanya? Terlepas dari metode atau sudut pendekatan yang Tuhan pilih untuk pekerjaan-Nya, Ia selalu memperlakukan orang melalui identitas-Nya yang sebenarnya, melakukan pekerjaan yang menjadi kewajiban-Nya, dan mengatakan apa yang harus Ia katakan. Tidak peduli dari posisi apa Tuhan berbicara—Ia bisa saja berdiri di surga tingkat ketiga, atau berdiri dalam daging, atau bahkan sebagai manusia biasa—Ia selalu berbicara kepada manusia dengan segenap hati-Nya dan dengan segenap pikiran-Nya, tanpa ada tipu daya ataupun sesuatu yang disembunyikan. Ketika Ia melakukan pekerjaan-Nya, Tuhan mengungkapkan firman-Nya dan watak-Nya, dan mengungkapkan apa yang Ia miliki dan siapa diri-Nya, tanpa menahan apa pun. Ia membimbing umat manusia dengan hidup-Nya, wujud-Nya, dan milik-Nya.

Dikutip dari "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri I" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Beberapa ribu tahun telah berlalu, dan umat manusia masih menikmati cahaya dan udara yang dianugerahkan oleh Tuhan, masih mengembuskan napas yang diembuskan oleh Tuhan itu sendiri, masih menikmati bunga, burung, ikan dan serangga yang diciptakan oleh Tuhan, dan menikmati semua hal yang disediakan oleh Tuhan; siang dan malam masih terus saling berganti; empat musim bergantian seperti biasa; angsa yang terbang di langit berangkat di musim dingin, dan masih kembali di musim semi berikutnya; ikan di air tidak pernah meninggalkan sungai dan danau—yang merupakan rumah mereka; tonggeret di tanah bernyanyi dengan sepenuh hati mereka selama musim panas; jangkrik di rumput dengan lembut bersenandung selaras dengan angin selama musim gugur; angsa-angsa berkumpul dalam kawanan, sementara elang tetap menyendiri; kawanan singa menghidupi diri mereka dengan berburu; rusa tidak menyimpang dari rumput dan bunga. ... Setiap jenis makhluk hidup di antara segala sesuatu pergi dan kembali, dan kemudian pergi lagi, sejuta perubahan terjadi dalam sekejap mata—tetapi apa yang tidak berubah adalah naluri dan hukum kelangsungan hidup mereka. Mereka hidup di bawah perbekalan dan pemeliharaan Tuhan, dan tidak ada yang dapat mengubah naluri mereka, dan tidak ada yang dapat merusak aturan kelangsungan hidup mereka. Meski umat manusia, yang hidup di antara segala sesuatu, telah dirusak dan ditipu oleh Iblis, manusia tetap tidak dapat hidup tanpa air yang diciptakan oleh Tuhan, dan udara yang diciptakan oleh Tuhan, dan segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, dan manusia tetap hidup dan berkembang biak di ruang yang diciptakan oleh Tuhan ini. Naluri umat manusia tidak berubah. Manusia masih mengandalkan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar, otaknya untuk berpikir, hatinya untuk memahami, kaki dan tungkainya untuk berjalan, tangannya untuk bekerja, dan seterusnya; semua naluri yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia agar dia dapat menerima perbekalan dari Tuhan tetap tidak berubah, kemampuan yang digunakan oleh manusia untuk bekerja sama dengan Tuhan tidak berubah, kemampuan manusia untuk melaksanakan tugas makhluk ciptaan tidak berubah, kebutuhan rohani manusia tidak berubah, hasrat manusia untuk menemukan asal-usulnya tidak berubah, kerinduan manusia untuk diselamatkan oleh Sang Pencipta tidak berubah. Seperti itulah keadaan umat manusia saat ini, yang hidup di bawah otoritas Tuhan, dan yang telah mengalami penghancuran sangat kejam yang dilakukan oleh Iblis. Meskipun manusia telah diinjak-injak oleh Iblis, dan bukan lagi merupakan Adam dan Hawa dari awal penciptaan, melainkan penuh dengan hal-hal yang bertentangan dengan Tuhan, seperti pengetahuan, imajinasi, gagasan, dan sebagainya, dan penuh dengan watak rusak Iblis dalam dirinya, di mata Tuhan, manusia masih merupakan manusia yang sama yang Dia ciptakan. Umat manusia masih dikuasai dan diatur oleh Tuhan, dan masih hidup di jalur yang ditetapkan oleh Tuhan, dan demikian di mata Tuhan, umat manusia, yang telah dirusak oleh Iblis, hanya ditutupi dengan kotoran, dengan perut keroncongan, dengan reaksi yang agak lambat, ingatan yang tidak sebagus dahulu, dan yang sedikit lebih tua—tetapi semua fungsi dan naluri manusia sama sekali tidak rusak. Ini adalah manusia yang ingin Tuhan selamatkan. Umat manusia ini hanyalah harus mendengar panggilan Sang Pencipta, dan mendengar suara Sang Pencipta, dan dia akan berdiri dan bergegas mencari sumber suara ini. Umat manusia ini hanyalah harus melihat sosok Sang Pencipta dan dia akan mengabaikan semua hal lain, dan meninggalkan segala sesuatu, sehingga ia mengabdikan dirinya kepada Tuhan, dan bahkan akan mengorbankan nyawanya bagi-Nya. Ketika hati umat manusia memahami firman Sang Pencipta yang sepenuh hati, umat manusia akan menolak Iblis dan datang ke sisi Sang Pencipta; ketika umat manusia telah sepenuhnya mencuci kotoran dari tubuhnya, dan sekali lagi menerima perbekalan dan pemeliharaan dari Sang Pencipta, maka ingatan umat manusia akan dipulihkan, dan pada saat ini umat manusia akan benar-benar kembali berada di bawah kekuasaan Sang Pencipta.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Hubungi kami via Whatsapp
Hubungi kami via Messenger

Media Terkait