3. Alasan mengapa orang tidak dapat mencapai perubahan watak dan penyelamatan tanpa pengenalan diri

3. Alasan mengapa orang tidak dapat mencapai perubahan watak dan penyelamatan tanpa pengenalan diri

Firman Tuhan yang Relevan:

Mengubah watak manusia dimulai dengan mengetahui hakikat dirinya dan melalui perubahan dalam pemikiran, natur, dan pandangan mentalnya—yakni melalui perubahan-perubahan yang mendasar. Hanya dengan cara inilah, perubahan sejati akan tercapai dalam watak manusia. Watak rusak manusia berasal dari keberadaan dirinya yang telah dirusak dan diinjak-injak oleh Iblis, berasal dari kerusakan mengerikan yang telah Iblis sebabkan pada pemikiran, moralitas, wawasan, dan akalnya. Justru karena semua hal mendasar manusia ini telah dirusak oleh Iblis, dan manusia menjadi sama sekali tidak sama seperti ketika Tuhan menciptakan mereka pada mulanya, maka manusia pun menentang Tuhan dan tidak memahami kebenaran. Jadi, perubahan dalam watak manusia harus dimulai dengan perubahan dalam pemikiran, wawasan, dan akalnya yang akan mengubah pengetahuannya tentang Tuhan dan pengetahuannya tentang kebenaran. Mereka yang terlahir di negeri yang paling rusak dari negeri mana pun bahkan lebih tidak tahu tentang siapa Tuhan itu, atau apa artinya percaya kepada Tuhan. Semakin rusak manusia, semakin sedikit mereka mengetahui keberadaan Tuhan, dan semakin buruk akal dan wawasan mereka. Sumber penentangan dan pemberontakan manusia terhadap Tuhan adalah perusakan dirinya oleh Iblis. Karena kerusakan yang Iblis lakukan, hati nurani manusia telah menjadi mati rasa; dia tidak bermoral, pikirannya bobrok, dan dia memiliki pandangan mental terbelakang. Sebelum dirinya dirusak oleh Iblis, manusia tentu saja mengikuti Tuhan dan menaati firman-Nya setelah mendengarkannya. Dia tentu saja memiliki akal dan hati nurani yang sehat, dan kemanusiaan yang normal. Setelah dirusak Iblis, akal, hati nurani, dan kemanusiaan manusia yang semula menjadi tumpul dan dilemahkan oleh Iblis. Dengan demikian, manusia telah kehilangan ketaatan dan kasihnya kepada Tuhan. Akal manusia telah menyimpang, wataknya telah menjadi sama seperti watak binatang, dan pemberontakannya terhadap Tuhan menjadi jauh lebih sering dan memilukan. Namun, manusia tetap saja tidak tahu, juga tidak mengakui hal ini, dan hanya menentang dan memberontak secara membabi buta. Watak manusia tersingkap melalui diungkapkannya akal, wawasan, dan hati nuraninya; dan karena akal dan wawasannya tidak sehat, dan hati nuraninya telah menjadi sangat tumpul, maka wataknya pun menjadi suka memberontak terhadap Tuhan. Jika akal dan wawasan manusia tidak dapat berubah, maka perubahan dalam wataknya tidak mungkin terjadi, juga tidak mungkin bagi dirinya untuk menjadi selaras dengan kehendak Tuhan. Jika akal manusia tidak sehat, dia tidak dapat melayani Tuhan dan tidak layak untuk dipakai oleh Tuhan. "Akal yang normal" mengacu pada taat dan setia kepada Tuhan, merindukan Tuhan, memberi diri secara mutlak kepada Tuhan, dan memiliki hati nurani terhadap Tuhan. Itu mengacu pada satu hati dan pikiran terhadap Tuhan, dan tidak dengan sengaja menentang Tuhan. Mereka yang memiliki akal menyimpang tidak seperti ini. Karena manusia telah dirusak oleh Iblis, mereka telah menciptakan gagasan tertentu tentang Tuhan, tidak memiliki kesetiaan kepada Tuhan ataupun kerinduan akan Dia, dan terlebih dari itu, mereka tidak memiliki hati nurani terhadap Tuhan. Manusia dengan sengaja menentang Tuhan dan menghakimi-Nya, dan lebih dari itu, mereka melontarkan makian terhadap-Nya di belakang-Nya. Manusia menghakimi Tuhan di belakang-Nya padahal mengetahui dengan jelas bahwa Dia adalah Tuhan; manusia tidak berniat menaati Tuhan, dan hanya mengajukan tuntutan dan permintaan yang membabi buta kepada-Nya. Orang-orang seperti itu—orang-orang yang memiliki akal menyimpang—tidak mampu mengetahui perilaku tercela mereka sendiri ataupun menyesali pemberontakan mereka. Jika orang mampu mengenal diri mereka sendiri, mereka telah mendapatkan kembali sedikit akal mereka; semakin orang yang tidak mengenal diri sendiri memberontak terhadap Tuhan, semakin mereka tidak memiliki akal sehat.

Dikutip dari "Memiliki Watak yang Tidak Berubah Berarti Memusuhi Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Setiap hal apa pun yang ada dalam hati kita bertentangan dengan Tuhan. Ini termasuk hal-hal yang kita anggap baik dan bahkan apa yang sudah kita yakini sebagai hal-hal yang positif. Kita telah mendaftarkan hal-hal ini sebagai kebenaran, sebagai bagian dari kemanusiaan yang normal, dan sebagai hal yang positif. Namun, dari sudut pandang Tuhan, semua itu adalah hal-hal yang dibenci-Nya. Kesenjangan antara apa yang kita pikirkan dan kebenaran yang Tuhan katakan tak terukur. Karena itu, kita harus mengenal diri kita sendiri. Mulai dari gagasan, sudut pandang, dan tindakan kita hingga pendidikan budaya yang telah kita terima, masing-masing dari hal itu layak untuk digali dan dianalisis secara mendalam. Beberapa di antaranya berasal dari lingkungan sosial, beberapa berasal dari keluarga, beberapa berasal dari pendidikan sekolah, dan beberapa berasal dari buku. Beberapa juga berasal dari imajinasi dan gagasan kita. Hal-hal semacam inilah yang paling menakutkan, karena semua itu mengikat dan mengendalikan perkataan dan tindakan kita, menguasai pikiran kita, serta mengarahkan motif, maksud, dan tujuan dalam apa yang kita lakukan. Jika kita tidak menggali hal-hal ini, kita tidak akan pernah sepenuhnya menerima firman Tuhan dalam diri kita, dan kita tidak akan pernah menerima tuntutan Tuhan tanpa syarat dan melakukannya. Selama engkau memiliki gagasan dan sudut pandangmu sendiri, serta keyakinan pada hal-hal yang kauanggap benar, engkau tidak akan menerima firman Tuhan seutuhnya atau tanpa keraguan, demikian pula engkau tidak akan menerapkan firman itu dalam bentuk asalnya; engkau pasti hanya akan menerapkannya setelah terlebih dahulu memprosesnya dalam pikiranmu. Ini akan menjadi caramu melakukan sesuatu serta akan menjadi caramu dalam membantu orang lain: meskipun engkau mungkin juga bersekutu dengan firman Tuhan, engkau akan selalu memiliki pencemaranmu sendiri yang tercampur di dalamnya, dan engkau akan berpikir bahwa inilah arti menerapkan kebenaran, bahwa engkau telah memahami kebenaran, dan bahwa engkau memiliki segalanya. Bukankah keadaan umat manusia menyedihkan? Bukankah itu menakutkan? Sepatah atau dua patah kata tidak cukup untuk menjelaskan hal-hal ini secara keseluruhan, atau untuk membuatnya jelas. Tentu saja, ada banyak hal lainnya dalam hidup, seperti lebih dari seratus racun Iblis yang dirangkum sebelumnya. Engkau telah memahami firman, tetapi bagaimana engkau mengukur dirimu sendiri menggunakan firman itu? Pernahkah engkau melakukan perenungan diri? Bukankah engkau juga telah mengambil bagian dalam racun-racun ini? Racun-racun ini juga mencerminkan bagaimana engkau berpikir, bukan? Ketika engkau sedang melakukan segala sesuatu, bukankah engkau juga mengandalkan racun-racun ini? Engkau harus menggali jauh ke dalam pengalaman pribadimu dan mengukurnya menggunakan firman itu. Jika kita hanya membaca sambil lalu atau hanya melihat sekilas daftar racun-racun Iblis itu dan lalu menaruhnya kembali; atau kita mungkin hanya membaca firman Tuhan tanpa berpikir panjang, tidak mampu menghubungkannya dengan kenyataan atau melihat keadaan kita yang sebenarnya dan hanya sekadar mematuhi huruf-huruf yang tertulis dan aturan-aturan firman Tuhan di dalam penerapan kita sementara mengira bahwa kita sedang menerapkan kebenaran—apakah sesederhana itu? Manusia adalah makhluk hidup: mereka semua memiliki pemikiran dan hal-hal di dalam pemikiran mereka mengakar di hati mereka. Ketika orang mengambil tindakan, hal-hal ini pasti muncul, karena hal-hal ini telah menjadi hidup orang tersebut. Oleh sebab itu, dalam setiap hal yang kaulakukan, ada sudut pandang dan prinsip yang mengatur bagaimana engkau melakukannya, itu mengarahkan jalanmu. Ketika engkau bertindak, engkau akan mengetahui apakah hal-hal yang semacam itu ada di dalam dirimu atau tidak. Sekarang, tentu saja, ketika engkau memeriksa pemikiran dan pandanganmu, engkau merasa seolah-olah tidak ada yang memusuhi Tuhan; engkau merasa engkau jujur dan setia, sangat bersedia untuk melakukan tugasmu, mampu berkorban dan mengorbankan dirimu untuk Tuhan, dan bahwa engkau cukup kuat di setiap area. Namun, jika Tuhan menguji ketahananmu atau menyuruhmu melakukan suatu tugas, atau jika Tuhan melakukan sesuatu yang menimpamu, bagaimana engkau akan menangani hal itu? Pada saat seperti itu, pemikiran dan pandanganmu akan menyembur ke luar, seolah-olah pintu air telah diterobos; pemikiran dan pandanganmu akan berada di luar kendalimu—di luar kontrolmu—dan meskipun engkau membencinya, pemikiran dan pandanganmu akan tetap menyembur ke luar, semburan segala sesuatu yang semuanya menentang Tuhan. Ketika engkau berkata, "Mengapa aku tidak dapat melakukan apa pun tentang hal ini? Aku tidak ingin menentang Tuhan, jadi, mengapa aku melakukannya? Aku tidak ingin mengkritik Tuhan dan aku tidak ingin memiliki gagasan tentang apa yang Dia lakukan, jadi, bagaimana aku bisa memiliki gagasan seperti itu?"—saat itulah engkau harus berusaha keras untuk mengenal dirimu sendiri, untuk memeriksa apa yang ada di dalam dirimu yang menentang Tuhan, serta apa yang ada di dalam dirimu yang memusuhi dan bertentangan dengan pekerjaan yang sedang Dia lakukan saat ini.

Dikutip dari "Hanya dengan Mengenali Pandanganmu yang Salah Engkau Dapat Mengenal Dirimu Sendiri" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Ada beberapa keadaan dalam diri orang yang, jika mereka tidak memahami keadaan mereka dan tidak merasa bahwa mereka salah, maka, betapa pun bersungguh-sungguhnya pengejaran mereka atau betapa pun antusiasnya mereka, suatu hari kelak mereka dapat jatuh. Bagaimanapun, hanya sejumlah kecil orang yang dapat memperoleh kebenaran. Memahami kebenaran bukanlah perkara sederhana. Diperlukan waktu lama untuk memahami bahkan sebagian kecil saja dari kebenaran, diperlukan waktu lama untuk mendapatkan sedikit saja pengetahuan berdasarkan pengalaman, untuk memperoleh sesuatu dari pemahaman murni atau untuk memperoleh secercah cahaya. Jika engkau tidak membereskan semua ketidakmurnian di dalam dirimu, maka secercah cahaya itu dapat tenggelam kapan pun atau di mana pun. Kesulitan utama manusia pada saat ini adalah bahwa setiap orang memiliki berbagai imajinasi, gagasan, keinginan, dan cita-cita kosong di dalam diri mereka yang mereka sendiri pun tidak mampu untuk menemukannya. Hal-hal ini terus-menerus menyertai orang sebagai pencemaran di dalam diri mereka. Ini tentu sangat berbahaya, dan orang cenderung untuk mengutarakan keluhan kapan pun. Ada begitu banyak pencemaran dalam diri manusia. Walaupun orang mungkin memiliki cita-cita yang baik, ingin mengejar kebenaran dan ingin sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, mereka belum mampu untuk mencapainya. Hal seperti ini sering kali terjadi dalam pengalaman setiap orang: mereka menghadapi suatu masalah kecil, dan orang lain berpikir bahwa mereka seharusnya mampu untuk dengan mudah melepaskan hal itu. Mengapa mereka tidak mampu? Mengapa mereka yang relatif berpengalaman hampir sepanjang waktu, yang terlihat relatif kuat di mata orang lain, dan yang memiliki pikiran jernih jatuh ketika mereka menghadapi suatu masalah kecil, dan jatuh sedemikian cepatnya? Manusia benar-benar tunduk pada nasib yang tidak pasti; bagaimana mungkin ia dapat memperkirakannya? Di dalam diri setiap orang, ada beberapa hal yang ingin mereka kejar atau dapatkan, dan setiap orang mempunyai pilihan masing-masing. Sering kali, orang tidak dapat melihatnya sendiri, atau mereka yakin hal ini baik-baik saja, bahwa tidak ada yang salah dengan hal-hal tersebut. Kemudian, suatu hari, sesuatu yang seperti ini terjadi dan mereka tersandung; mereka menjadi negatif dan lemah, dan mereka tidak dapat bangkit kembali. Mereka sendiri mungkin tidak tahu apa masalahnya, merasa bahwa mereka benar dan bahwa Tuhanlah yang telah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Jika orang tidak memahami diri mereka sendiri, mereka tidak akan pernah mampu untuk mengetahui di mana letak kesulitan mereka, atau di area mana mereka cenderung gagal dan jatuh. Mereka menyedihkan. Oleh sebab itu, orang yang tidak memahami diri mereka sendiri kapan pun dapat jatuh, gagal, dan merusak diri mereka sendiri.

Dikutip dari "Hanya dengan Memahami Keadaanmu Sendiri, Engkau Dapat Memulai di Jalur yang Benar" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Saat ini, inilah keadaan kebanyakan orang dan tahap tingkat pertumbuhan yang mereka miliki: mereka mengakui bahwa cara mereka melakukan segala sesuatu adalah salah, bahwa mereka adalah orang jahat, bahwa mereka adalah Iblis si setan. Namun, mereka jarang mengakui bahwa kualitas mereka buruk dan pemahaman mereka keliru, atau aspek mana dari natur dan esensi mereka yang cocok dengan apa yang telah disingkapkan oleh Tuhan. Ini berarti kurangnya pengenalan sejati akan diri sendiri. Dan dapatkah orang yang tidak benar-benar mengenal dirinya sendiri mengakui bahwa mereka adalah orang yang rusak? (Tidak.) Membuat orang mengakui bahwa mereka adalah orang yang rusak bukanlah tugas yang mudah. Perilaku yang terus-menerus terjadi di antara orang-orang adalah bahwa setelah melakukan sesuatu yang salah, mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan, tetapi jika engkau bertanya kepada mereka tentang pemahaman mereka mengenai watak mereka yang rusak, mereka mengatakan bahwa kedua hal tersebut tidak ada hubungannya. Mereka mengeklaim bahwa tindakan itu hanyalah kekhilafan sesaat, bahwa mereka tidak berpikir panjang, mereka bertindak secara impulsif, dan tindakan itu tidak disengaja. Mengatakan bahwa tindakan tersebut adalah kekhilafan sesaat atau sesuatu yang tidak disengaja, juga dengan alasan objektif lainnya, seringkali merupakan tameng dan dalih untuk tidak mengakui watak mereka yang rusak. Apakah ini yang disebut benar-benar mengakui kerusakan mereka sendiri? Jika engkau terus-menerus membuat alasan atau mencari jalan keluar untuk tidak mengakui watak rusak yang kausingkapkan, itu berarti engkau benar-benar tidak mampu menghadapi watakmu yang rusak atau benar-benar mengakuinya, apalagi mampu mengenalinya. ... Sesuatu terjadi kepadamu dan engkau menyingkapkan watak yang rusak, tetapi betapapun orang mengatakan bahwa apa yang kaulakukan itu salah atau seserius apa pun konsekuensinya, engkau tetap tidak mau mengakui bahwa engkau melakukan kesalahan. Engkau tidak bersedia mengakui bahwa ini adalah konsekuensi dari menyingkapkan watakmu yang rusak. Engkau hanya bersedia untuk memperbaiki kesalahan tersebut, tetapi tidak pernah bersedia mengakui adanya watak yang rusak di dalam dirimu. Karena itu, ketika engkau kembali menghadapi masalah yang sama, meskipun ada perubahan dalam perilaku dan pendekatanmu terhadap segala sesuatu, watakmu sama sekali tetap tidak berubah. Beginilah susahnya mengubah watak seseorang. Seandainya engkau mengakui bahwa apa yang kausingkapkan adalah karena engkau memiliki watak yang rusak, yang mengakibatkan engkau berbuat sesuka hatimu, tidak mengindahkan aturan, tidak dapat bekerja sama dengan baik dengan orang lain, dan sombong, seandainya engkau mengakui bahwa hal ini disebabkan oleh watak yang congkak, apa keuntungannya bagimu? Keuntungannya, engkau akan menyingkapkan fakta-fakta ini dan berupaya menyelesaikan watak rusak yang tersingkap di dalam dirimu. Namun, apa yang akan menjadi konsekuensinya jika engkau hanya mengakui melakukan sesuatu yang salah? Engkau hanya akan berfokus dan berupaya keras untuk memperbaiki caramu bertindak; engkau akan memperbaiki caramu melakukan segala sesuatu, dan di luarnya, akan terlihat sepertinya engkau melakukan segala sesuatu tersebut dengan benar. Engkau akan menyembunyikan penyingkapan watakmu. Dengan melakukan hal itu, engkau akan menjadi makin licik, dan teknikmu untuk menipu orang lain akan menjadi makin maju. Engkau akan berpikir, "Alasan mengapa semua orang menyaksikan kesalahanku kali ini adalah karena aku tidak cukup berhati-hati; apa yang kukatakan terlalu jelas, dan aku membiarkan mereka melihat titik lemahku serta menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk melawanku. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi—aku tidak akan berbicara dengan terlalu jelas agar memberi lebih banyak ruang gerak bagi diriku." Engkau telah mengubah caramu bertindak dan engkau telah menyembunyikan watakmu, menjadi lebih licin, lebih licik, makin menjadi seperti orang Farisi. Engkau berfokus untuk memperbaiki caramu dalam melakukan atau mengatakan segala sesuatu; tidak ada masalah yang dapat dideteksi di permukaan, tak seorang pun dapat menemukan kesalahan, semuanya sempurna. Namun, belum ada perubahan sedikit pun dalam watak batinmu. Tanpa menerima dan mengakuinya, watakmu yang rusak tidak mungkin berubah.

Dikutip dari "persekutuan Tuhan"

Apakah watak yang rusak mudah diselesaikan? Ini melibatkan natur esensi seseorang. Manusia memiliki esensi ini, akar ini, dan itu harus digali sedikit demi sedikit. Itu harus digali dari setiap keadaan, dari niat di balik setiap kata yang kauucapkan. Itu harus dibedah dan dipahami dari perkataan yang kauucapkan. Ketika kesadaran seperti itu menjadi semakin jelas dan rohmu semakin tajam, maka engkau dapat mencapai perubahan. Menyelesaikan watak yang rusak membutuhkan perhatian dan ketekunan. Engkau harus sangat memperhatikan dan memeriksa niat dan keadaanmu sedikit demi sedikit. Ketika engkau terus-menerus memeriksa hal-hal ini, akan tiba harinya di mana engkau tiba-tiba menyadari tentang caramu biasanya berbicara: "Ini jahat, dan bukan pengungkapan kemanusiaan yang normal. Hal ini bertentangan dengan kebenaran dan aku harus mengubah cara bicaraku." Dari hari engkau memiliki kesadaran ini, engkau akan semakin jelas merasakan parahnya watak jahat ini. Jadi, apa yang seharusnya kaulakukan selanjutnya? Terus-menerus memeriksa niat-niat yang ada dengan cara yang sama seperti memeriksa cara bicaramu, dan melalui proses penggalian yang terus-menerus, engkau akan semakin dapat benar-benar dan secara akurat meyakini bahwa engkau memiliki esensi dan watak semacam ini. Ketika harinya tiba di mana engkau dapat sungguh-sungguh mengakui kepada dirimu sendiri bahwa engkau memang memiliki watak yang jahat, engkau akhirnya akan dapat merasa jijik dan membencinya. Ketika seseorang beralih dari memercayai bahwa mereka adalah orang yang baik, bahwa mereka bertindak dengan benar dan adil, bahwa mereka dikaruniai dengan rasa keadilan, bahwa mereka terhormat dan jujur, kepada mengenali natur esensi mereka adalah congkak, keras hati, curang, jahat, dan tidak mencintai kebenaran, baru setelah itulah mereka akan dapat mengetahui secara akurat posisi mereka, dan mengetahui siapa diri mereka yang sebenarnya. Sekadar mengakui atau mengenali dengan acuh tak acuh bahwa mereka memiliki perwujudan dan keadaan semacam itu tidak akan bisa membuat mereka memiliki kebencian sejati terhadap watak mereka yang rusak; kebencian sejati hanya dapat dicapai begitu mereka telah mengenali dalam tindakan mereka bahwa mereka memiliki watak-watak dan esensi-esensi yang rusak ini. ...

Ketika orang-orang dapat mengenali berbagai keadaan yang dihasilkan oleh berbagai watak, barulah akan mulai ada perubahan dalam watak mereka. Jika orang-orang tidak mengenali keadaan-keadaan ini, jika mereka tidak dapat memahami dan menerapkannya pada diri mereka sendiri, dapatkah ada perubahan dalam watak mereka? (Tidak.) Perubahan dalam watak dimulai dari mengenali berbagai keadaan yang dihasilkan oleh berbagai watak. Jika orang belum mulai mengenali hal ini, jika orang belum memasuki aspek kenyataan ini, perubahan dalam watak orang tidak mungkin terjadi. Jadi, karena perubahan watak tidak mungkin terjadi, apa peran yang dimainkan oleh mayoritas orang selama melakukan tugas mereka? Mereka bekerja keras, menyibukkan diri dengan tugas. Mereka melakukan tugas mereka, tetapi kebanyakan dari mereka bekerja keras. Kadang-kadang, ketika suasana hati mereka sedang baik, mereka mengerahkan lebih banyak energi, dan ketika suasana hati mereka sedang tidak baik, mereka mengerahkan lebih sedikit energi. Setelah mengerahkan lebih sedikit energi, mereka merenungkan hal itu dan merasa sedikit menyesal, jadi mereka mengerahkan sedikit energi ekstra dan merasa bahwa mereka telah bertobat. Sebenarnya, ini bukanlah perubahan sejati; ini bukanlah pertobatan sejati. Pertobatan sejati dimulai dari perilakumu. Jika terjadi perubahan dalam perilakumu, engkau mampu menyangkal dirimu sendiri dan tidak lagi melakukan segala sesuatu dengan cara seperti itu, tindakanmu tampak selaras dengan prinsip, dan sedikit demi sedikit, engkau mulai dapat melakukan segala sesuatunya dengan prinsip, baik dalam perkataan maupun perbuatan, maka ini adalah awal dari perubahan watak.

Dikutip dari "Hanya Ketika Engkau Mengenal Dirimu Sendiri Engkau Dapat Mengejar Kebenaran" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Semakin engkau mampu menemukan kerusakanmu sendiri, semakin akurat penemuan ini, dan semakin engkau dapat mengetahui esensimu sendiri, semakin besar kemungkinan engkau akan diselamatkan dan akan semakin dekat engkau pada penyelamatan. Sebaliknya, semakin engkau tidak mampu menemukan masalahmu, semakin engkau berpikir bahwa engkau adalah orang yang baik, orang yang cukup hebat, semakin jauh engkau dari jalan menuju penyelamatan, dan engkau masih dalam bahaya besar. Siapa pun yang menghabiskan sepanjang hari memamerkan diri mereka—menunjukkan prestasi mereka, mengatakan bahwa mereka pandai bicara, layak, bahwa mereka memahami kebenaran dan dapat menerapkan kebenaran—adalah orang yang tingkat pertumbuhannya sangat rendah. Orang macam apakah yang memiliki harapan keselamatan yang lebih besar dan mampu menempuh jalan keselamatan? Orang yang benar-benar mengetahui watak rusak mereka. Semakin mendalam pengetahuan mereka, semakin dekat mereka pada penyelamatan. Mengetahui watakmu yang rusak, menyadari bahwa engkau bukanlah apa-apa, tidak berguna, bahwa engkau adalah Iblis yang hidup—ketika engkau benar-benar mengetahui esensimu, ini bukanlah masalah yang serius. Ini adalah hal yang baik, bukan hal yang buruk. Adakah orang yang menjadi semakin negatif semakin mereka mengenal diri mereka, berpikir dalam hati: "Semuanya sudah berakhir, penghakiman dan hajaran Tuhan telah menimpaku, ini adalah hukuman dan pembalasan, Tuhan tidak menginginkanku dan aku tidak memiliki harapan keselamatan"? Akankah orang-orang ini memiliki khayalan seperti itu? Kenyataannya, semakin orang menyadari betapa tak berpengharapan mereka, semakin besar harapan bagi mereka; mereka tidak boleh bersikap negatif dan tidak boleh menyerah. Mengenal dirimu sendiri adalah hal yang baik—itu adalah jalan yang harus ditempuh menuju penyelamatan. Jika engkau sama sekali tidak sadar terhadap berbagai aspek watak dan esensimu yang rusak yang bertentangan dengan Tuhan, dan jika engkau belum memiliki rencana untuk berubah, engkau berada dalam masalah; orang semacam itu sudah semakin mati rasa, mereka sudah mati. Dapatkah orang mati dihidupkan kembali? Mereka sudah mati—mereka tidak dapat dihidupkan kembali.

Dikutip dari "Hanya Ketika Engkau Mengenal Dirimu Sendiri Engkau Dapat Mengejar Kebenaran" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Di antara orang-orang yang mencari hidup, Paulus adalah orang yang tidak memahami esensinya sendiri. Ia sama sekali tidak rendah hati ataupun taat, ia juga tidak memahami hakikatnya, yang bertentangan dengan Tuhan. Jadi, Paulus adalah seorang yang belum mengalami pengalaman terperinci, dan seorang yang tidak menerapkan kebenaran. Petrus berbeda. Ia tahu ketidaksempurnaannya, kelemahannya, dan wataknya yang rusak sebagai makhluk ciptaan Tuhan, dan dengan demikian ia memiliki jalan penerapan untuk mengubah wataknya; ia bukan salah seorang dari mereka yang hanya memiliki doktrin tetapi tidak memiliki kenyataan. Mereka yang berubah adalah orang-orang baru yang telah diselamatkan, mereka adalah orang-orang yang memenuhi syarat dalam mengejar kebenaran. Mereka yang tidak berubah termasuk orang-orang yang tentu saja sudah usang; mereka adalah orang-orang yang belum diselamatkan, yakni orang-orang yang dibenci dan ditolak oleh Tuhan. Mereka tidak akan diingat oleh Tuhan sebesar apa pun pekerjaan mereka. Pada saat engkau membandingkan hal ini dengan pengejaranmu sendiri, apakah engkau pada akhirnya adalah orang yang sejenis dengan Petrus ataukah dengan Paulus, itu seharusnya sudah jelas. Jika masih belum ada kebenaran dalam pencarianmu, dan jika bahkan sampai saat ini pun engkau masih congkak dan lancang seperti Paulus, dan masih licin lidah dan sombong seperti dirinya, tak diragukan lagi, engkau adalah orang bobrok yang gagal. Jika yang kaucari sama seperti Petrus, jika engkau mengusahakan penerapan dan perubahan sejati, dan tidak congkak ataupun keras kepala, tetapi berusaha melakukan tugasmu, maka engkau adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dapat meraih kemenangan. Paulus tidak mengetahui hakikat atau kerusakannya sendiri, terlebih lagi, dia tidak mengetahui ketidaktaatannya sendiri. Ia tak pernah menyebutkan penentangannya yang keji terhadap Kristus, dia juga tak pernah merasa terlalu menyesal. Ia hanya memberikan penjelasan singkat, dan jauh di lubuk hatinya, ia tidak sepenuhnya tunduk kepada Tuhan. Meskipun ia jatuh di jalan menuju ke Damsyik, ia tidak melihat jauh ke dalam dirinya. Ia puas dengan sekadar terus bekerja, dan ia tidak menganggap mengenal diri sendiri dan mengubah watak lamanya sebagai perkara yang paling penting. Ia puas dengan sekadar mengatakan kebenaran, dengan membekali orang lain sebagai obat bagi hati nuraninya sendiri, dan dengan tidak lagi menganiaya murid-murid Yesus demi menghibur dirinya sendiri dan memaafkan dirinya sendiri atas dosa masa lalunya. Tujuan yang dikejarnya tak lebih dari mahkota di masa mendatang dan pekerjaan sementara, tujuan yang dikejarnya adalah kasih karunia yang melimpah. Ia tidak mencari kebenaran yang memadai, ia juga tidak mengusahakan pertumbuhan yang lebih dalam ke dalam kebenaran yang sebelumnya tidak ia pahami. Jadi, pengetahuannya tentang dirinya sendiri dapat dikatakan palsu, dan ia tidak menerima hajaran ataupun penghakiman. Bahwa ia mampu bekerja, bukan berarti ia memiliki pengetahuan tentang natur atau hakikatnya sendiri; fokusnya hanya pada penerapan secara lahiriah. Bahkan, hal yang ia perjuangkan bukanlah perubahan, melainkan pengetahuan. Pekerjaannya adalah sepenuhnya hasil dari penampakan Yesus di jalan menuju ke Damsyik. Pekerjaan itu bukanlah sesuatu yang ia putuskan dari semula, bukan pula pekerjaan yang dilakukannya setelah ia menerima pemangkasan dari watak lamanya. Bagaimanapun ia bekerja, watak lamanya tidak berubah, jadi pekerjaannya itu tidak menebus dosa masa lalunya, melainkan sekadar memegang peranan tertentu di antara jemaat pada waktu itu. Bagi seorang yang seperti ini, yang watak lamanya tidak berubah—dengan kata lain, yang tidak mendapatkan keselamatan, bahkan yang tanpa kebenaran—ia sama sekali tak mampu menjadi salah seorang yang diterima oleh Tuhan Yesus.

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

3. Alasan mengapa orang tidak dapat mencapai perubahan watak dan penyelamatan tanpa pengenalan diri