19. Secercah Cahaya Kehidupan di Sarang Monster yang Gelap

19. Secercah Cahaya Kehidupan di Sarang Monster yang Gelap

Oleh Saudari Lin Ying, Provinsi Shandong

Namaku Lin Ying, dan aku adalah seorang Kristen di Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Sebelum mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, aku selalu ingin mengandalkan kemampuanku sendiri dan bekerja keras untuk membuat hidupku sedikit lebih baik, tetapi segalanya tidak berubah seperti yang kuinginkan; sebaliknya, aku menghadapi kesulitan demi kesulitan, dan mengalami kemunduran demi kemunduran. Setelah mengalami begitu banyak kesukaran hidup yang pahit, aku merasa lelah dalam tubuh dan pikiranku dan aku menderita tak terkatakan. Di tengah kepedihan dan keputusasaanku, seorang saudari memberitakan Injil Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman kepadaku. Ketika aku membaca firman Tuhan yang mengatakan, "Ketika engkau letih dan ketika engkau mulai merasakan adanya kehampaan suram di dunia ini, jangan kebingungan, jangan menangis. Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Penjaga, akan menyambut kedatanganmu kapan pun. Dia berjaga di sampingmu, menunggumu untuk berbalik" ("Keluhan Yang Mahakuasa" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"), aku tidak bisa menghentikan air mataku. Perkataan yang dipenuhi kasih seorang ibu dari Tuhan Yang Mahakuasa sangat menghiburku, dan aku merasa seperti anak yatim yang telah berkeliaran selama bertahun-tahun dan akhirnya menemukan jalan kembali ke pelukan ibunya—aku tidak lagi merasa kesepian dan tak berdaya. Sejak itu, aku rajin membaca firman Tuhan setiap hari. Dengan menghadiri pertemuan dan persekutuan dengan saudara-saudari di Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, aku memahami banyak kebenaran, dan aku melihat bahwa orang-orang ini semuanya begitu baik dan sangat jujur. Tidak ada perselisihan penuh dengki di antara mereka dan tidak seorang pun merencanakan yang licik terhadap satu sama lain, dan kapan pun seseorang memiliki masalah, semua saudara-saudari akan bersekutu tentang kebenaran dengan sungguh-sungguh untuk membantu mereka menyelesaikannya. Bantuan selalu diberikan tanpa syarat, dan tidak seorang pun yang pernah meminta imbalan apa pun, dan berada di antara mereka aku merasakan kebebasan dan kegembiraan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku memiliki perasaan yang mendalam bahwa Gereja Tuhan Yang Mahakuasa adalah tempat yang kudus, dan aku menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah satu-satunya Tuhan yang benar yang dapat menyelamatkan umat manusia dari lautan penderitaan! Namun, tepat di saat aku menikmati kasih Tuhan, pemerintah PKT (Partai Komunis Tiongkok) menangkap dan menganiaya aku secara tidak sah, dan itu menghancurkan hidupku yang bahagia dan gembira.

Di tengah malam pada tanggal 12 Agustus 2003, aku sedang tidur nyenyak ketika tiba-tiba aku terbangun setelah dikejutkan oleh gedoran pintu yang sangat keras, dan aku mendengar seseorang berteriak, "Buka! Buka!" Sebelum aku bahkan bisa berpakaian, aku mendengar suara benturan keras, pintu apartemenku terbanting, dan enam polisi bengis dan kasar menerobos masuk. Terkejut, aku bertanya, "Ada apa ini?" Pemimpin polisi itu menghardikku, katanya, "Jangan pura-pura bodoh!" Lalu dengan lambaian tangannya, ia berteriak, "Jungkirbalikkan tempat ini!" Beberapa polisi kemudian mulai mengubrak-abrik lemari pakaian dan lemariku seolah-olah mereka perampok. Dalam beberapa saat, panci dan wajan, pakaian, seprai, makananku... semuanya dilemparkan ke lantai, dan apartemenku porak poranda. Setelah mereka menggeledah rumahku, mereka mendorong dan menyeretku ke mobil polisi. Mereka mengambil CD player yang baru saja kubeli seharga 240 yuan, dan mereka mengambil uang tunai 80 yuan dan setumpuk buku firman Tuhan. Bahkan dalam mimpiku pun aku tidak bisa membayangkan keadaan seperti itu: ini adalah sesuatu yang hanya terjadi dalam program TV, akan tetapi sekarang hal itu terjadi pada diriku. Aku merasa sangat panik dan takut, dan jantungku berdetak kencang. Aku terus berdoa kepada Tuhan, memohon agar Dia melindungiku sehingga aku bisa menjadi kesaksian bagi-Nya, dan agar aku bisa mati sebelum aku mengkhianati saudara-saudariku dan menjadi seorang Yudas. Tepat pada saat itu, firman Tuhan Yang Mahakuasa tiba-tiba muncul di benakku: "Engkau tidak perlu takut akan ini dan itu. Tidak peduli berapa banyak kesulitan dan bahaya yang engkau hadapi, engkau harus tetap teguh di hadapan-Ku; jangan terhalang oleh apa pun agar kehendak-Ku dapat terlaksana. ... Jangan takut; dengan dukungan-Ku, siapa yang bisa menghalangi jalan? Ingat ini! Ingat!" ("Bab 10, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan sangat menghiburku dan membantu menenangkan hatiku sedikit demi sedikit. Firman Tuhan membuatku sadar bahwa Dia yang kupercayai adalah Penguasa yang menciptakan segala sesuatu di surga dan di bumi, bahwa segala sesuatu berada di tangan-Nya, bahwa Iblis dan setan berada di bawah kaki-Nya dan bahwa, tanpa seizin Tuhan, tidak ada yang bisa diperbuat Iblis atasku. Sekarang aku mendapati diriku berada di saat yang genting dalam pertempuran Tuhan melawan Iblis: pada saat inilah Tuhan membutuhkan aku untuk menjadi kesaksian, dan inilah saatnya bagiku untuk mengalami firman Tuhan dan mendapatkan kebenaran; aku tahu bahwa aku harus bertahan dan menerapkan sesuai dengan firman Tuhan, dan aku tidak akan pernah bersujud hormat atau menyerah kepada Iblis!

Mobil polisi meraung dan melengking di halaman kantor polisi. Tidak lama setelah kami berhenti, polisi dengan kasar mendorongku keluar dari mobil. Aku melangkah maju dengan tangan terentang dan hanya berhenti ketika aku menabrak dinding. Aku bisa mendengar mereka tertawa histeris di belakangku. Mereka kemudian mendorongku ke sebuah ruangan kecil dan, sebelum aku sempat mengatur napas, salah seorang polisi membacakan sebuah daftar nama dan bertanya apakah aku mengenal mereka. Melihat aku tidak memberi tanggapan apa pun, mereka terus mengepung, meninju dan menendangku, dan memanggilku dengan nama-nama ejekan sembari melakukan semua itu. Seorang polisi jahat kemudian menjambak rambutku dan menyeretku, lalu menampar wajahku dua kali dengan keras. Kepalaku serasa berputar-putar dan mataku menjadi buram, dan darah merah cerah menetes dari sudut mulutku.

Salah satu polisi kemudian mengeluarkan selembar kertas berisi daftar nama dan melemparkannya di depanku, lalu berkata dengan garang, "Kau tahu nama-nama orang ini, bukan? Siapa namamu?" Aku merasa sangat kesakitan saat itu sehingga aku bahkan tidak bisa berbicara dan, melihat aku tidak mau menjawab, tiga polisi jahat menerkam dan memukuli serta menendangku lagi sampai aku jatuh pingsan.

Dini hari berikutnya, polisi jahat itu membawaku ke ruang interogasi di Bagian Investigasi Kriminal dari Biro Keamanan Publik. Saat dibawa ke dalam ruangan itu, aku melihat beberapa pria kekar yang semuanya menatapku seolah-olah mereka ingin membunuhku. Ruangan itu dipenuhi dengan segala macam alat penyiksaan, dan pemandangan yang mengadangku itu langsung membuatku merasa cemas—aku merasa seolah-olah telah terjatuh ke dalam jurang setan. Aku benar-benar ketakutan, dan perasaan takut dan gelisah kembali melandaku. Aku berpikir dalam hati: "Kemarin, mereka menyiksaku seperti itu dan itu bahkan bukan interogasi resmi. Sepertinya tidak mungkin bagiku untuk terhindar dari apa yang akan terjadi hari ini. Apakah aku sanggup menahannya jika mereka menyiksaku dengan kejam?" Aku berdoa dengan tulus kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku sangat takut sekarang, dan aku takut tidak akan sanggup menanggung siksaan yang ditimpakan padaku oleh setan-setan ini dan aku akan kehilangan kesaksianku. Kumohon jagalah hatiku. Aku lebih baik dipukuli sampai mati daripada mengkhianati Engkau!" Sederet firman Tuhan kemudian muncul dalam pikiranku: "Mereka yang berkuasa mungkin tampak ganas dari luar, tetapi jangan takut, karena ini disebabkan engkau semua memiliki sedikit iman. Selama imanmu tumbuh, tidak akan ada yang terlalu sulit" ("Bab 75, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan mengandung otoritas dan kuasa. Firman itu langsung memenuhiku dengan kekuatan batin, dan aku berpikir: "Bersama Tuhan di sampingku, aku tidak akan takut apa pun. Bagaimanapun cara mereka menindasku, mereka hanyalah macan kertas yang hanya terlihat buas dari luar. Tidak ada yang perlu ditakuti dari mereka, karena mereka sudah dikalahkan oleh Tuhan." Saat itu, salah satu polisi jahat berteriak, "Katakan kepada kami apa posisimu di gereja! Kepada siapa kau melapor?" Karena aku memiliki firman Tuhan sebagai penopangku, aku sama sekali tidak merasa takut, jadi aku tidak menjawab pertanyaannya. Melihat bagaimana aku menolak untuk menjawab, polisi itu membentakku seperti binatang buas yang mengamuk: "Berdirikan pelacur busuk ini! Suruh dia berjinjit, biar dia benar-benar paham kalau kita serius!" Dua polisi jahat kemudian menyerbuku dan secara kasar memuntir lenganku ke belakang dan mengangkatnya. Aku langsung merasakan sakit yang merobek dan aku menjerit, kemudian jatuh pingsan .... Ketika bangun, aku melihat diriku berbaring di lantai dan hidungku berdarah. Jelas bagiku bahwa, setelah aku jatuh pingsan, polisi jahat itu melemparkan aku begitu saja ke lantai. Melihatku terbangun, mereka kemudian menyeretku ke sebuah ruangan yang sangat gelap, sedemikian gelapnya sampai-sampai aku bahkan tidak bisa melihat tanganku di depan wajahku. Ruangan itu gelap gulita, dingin dan lembap, berbau pesing dan aku sulit bernapas. Salah satu polisi jahat berkata dengan masam sambil menutup pintu, "Pikirkan lagi. Jika kau tidak mengaku, kami akan membuatmu kelaparan sampai mati." Aku merosot ke lantai beku. Seluruh tubuhku nyeri, dan aku merasa lemah dan sakit hati. Aku berpikir: "Merupakan hukum yang tidak dapat diubah bagi makhluk ciptaan untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah Dia, jadi apa salahnya dengan percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa? Percaya kepada Tuhan memungkinkan kita untuk menempuh jalan yang benar, dan ini bukan ilegal ataupun kejahatan. Namun sekelompok setan ini memperlakukan aku seolah-olah aku telah melakukan kejahatan yang layak dijatuhi hukuman mati. Ini benar-benar tidak dapat diterima!" Ketika aku menderita dalam rasa sakitku, aku memikirkan satu nyanyian pujian dari firman Tuhan: "Tidak seorang pun dapat merampas pekerjaan yang telah dilakukan di dalam dirimu, termasuk pelbagai berkat yang telah dianugerahkan di dalam dirimu, dan tidak ada yang dapat merampas segala sesuatu yang telah diberikan kepadamu. ... Karena itu, engkau semua harus lebih berdedikasi kepada Tuhan, bahkan harus lebih setia lagi kepada-Nya. Karena Tuhan meninggikan engkau, engkau harus meningkatkan upayamu dan harus mempersiapkan tingkat pertumbuhanmu untuk menerima amanat dari Tuhan. Engkau harus berdiri teguh di tempat yang telah diberikan Tuhan kepadamu dan berusaha keras untuk menjadi salah seorang dari umat Tuhan, menerima pelatihan dari kerajaan dan didapatkan oleh Tuhan, dan pada akhirnya, menjadi kesaksian yang mulia bagi Tuhan. Jika engkau memiliki tekad seperti itu, pada akhirnya engkau pasti didapatkan oleh Tuhan dan akan menjadi kesaksian yang mulia bagi Tuhan. Engkau harus memahami bahwa amanat yang utama adalah didapatkan oleh Tuhan dan menjadi kesaksian yang mulia bagi Tuhan. Ini adalah kehendak Tuhan" ("Engkau Tidak Dapat Mengecewakan Kehendak Tuhan" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). Aku terus menyanyikannya di benakku dan kehangatan menyebar ke seluruh tubuhku. Aku merasa seolah-olah Tuhan sedang berdiri tepat di sampingku, menghibur dan mendorongku seperti seorang ibu yang pengasih, yang khawatir kalau aku akan menjadi lemah, jatuh, dan kehilangan imanku, dan dengan lembut menasihati dan mengarahkan diriku. Seolah-olah Dia mengatakan kepadaku bahwa situasi menyakitkan yang kualami ini adalah pelatihan untuk kerajaan, bahwa itu adalah kesaksian kemenangan atas Iblis untuk menerima berkat kekal Tuhan, bahwa itu adalah kekayaan paling berharga dalam kehidupan yang Tuhan bisa berikan, dan bahwa itu adalah kesaksian indah yang diberikan terutama untuk masuk ke dalam kerajaan. Aku sangat tersentuh sehingga air mata mengalir dari mataku, dan aku berpikir: "Ya Tuhan Yang Mahakuasa, aku akan mengingat dengan baik apa yang telah Engkau percayakan kepadaku agar kulakukan dan aku rela mengikuti pelatihan ini. Aku akan bekerja sama dengan-Mu dengan sungguh-sungguh dan memberikan kesaksian yang mulia bagi-Mu, dan aku tidak akan menjadi lemah dan membiarkan diriku menjadi bahan tertawaan Iblis!"

Pada pagi hari ketiga, beberapa polisi membawaku ke ruang interogasi sekali lagi. Seorang pejabat polisi yang jahat memukul kepalaku dengan tongkatnya, dan berkata dengan senyum palsu, "Apakah engkau sudah mempertimbangkannya?" Kemudian ia menunjukkan padaku sebuah daftar nama anggota gereja dan memintaku untuk mengidentifikasi mereka. Aku mengucapkan doa kepada Tuhan dalam hati: "Ya Tuhan yang Mahakuasa, Iblis telah datang untuk mencobaiku sekali lagi, dan berusaha membuat aku mengkhianati-Mu dan mengorbankan saudara-saudariku. Aku benar-benar menolak kehidupan tercela yang berlalu tanpa tujuan seperti halnya Yudas. Aku hanya memohon agar Engkau menjaga hatiku, dan kiranya Engkau mengutukku jika aku melakukan sesuatu untuk mengkhianati-Mu!" Aku langsung merasakan kekuatan yang bangkit dalam diriku, dan aku berkata dengan teguh, "Aku tidak mengenal satu pun dari mereka!" Tidak lama setelah aku mengatakan ini, dua polisi jahat menerkamku. Salah satunya menarik satu kakiku, dan yang lain menginjak lututku dengan sepatu kulit yang keras. Saat menginjaknya, ia berkata dengan sengit, "Tidak kenal siapa pun, hah? Kau benar-benar tidak mengenal siapa pun?" Rasa sakit yang luar biasa membuatku kembali jatuh pingsan. Aku tidak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri sebelum mereka membangunkan aku dengan mengguyurkan air dingin kepadaku. Segera setelah aku bangun, seorang polisi jahat mengangkat tinjunya dan memukul dadaku, dan ia memukulku dengan keras sehingga butuh waktu lama sebelum aku bisa menarik napas lagi. Polisi jahat lain kemudian menjambak rambutku, menyeretku ke sebuah kursi besi dan memborgolku di kursi itu sehingga aku tidak bisa bergerak. Ia kemudian menutup mataku dengan kain kotor. Mereka bergantian menarik telingaku ke atas dengan sekuat tenaga dan menginjak kakiku sekuat tenaga—rasa sakit yang mengoyak-ngoyak itu membuatku berteriak sesekali. Melihatku diliputi rasa sakit dan kesedihan, gerombolan polisi jahat itu tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka terdengar seolah-olah bergema keluar dari perut neraka—tawa itu mengerikan untuk didengar, dan membuat hatiku bergetar. Menghadapi kekejaman yang demikian, aku benar-benar melihat dengan jelas bahwa "Polisi Rakyat" ini, sebagaimana mereka dinyatakan oleh pemerintah PKT, semuanya adalah binatang buas yang kejam dan jahat. Mereka hanyalah hantu yang cuma ingin menyakiti orang! Aku dahulu selalu menganggap polisi sebagai pahlawan yang membela keadilan, yang mengurung orang-orang jahat dan menjaga orang-orang baik agar tetap aman, sehingga orang dapat berpaling kepada polisi kapan pun mereka berada dalam bahaya atau kesulitan. Meskipun aku telah ditangkap dan dianiaya oleh mereka sejak aku mulai percaya kepada Tuhan, aku tidak pernah benar-benar menganggap mereka sebagai Iblis, si setan. Sekarang, Tuhan yang Mahakuasa telah secara pribadi mengungkapkan kepadaku kebenaran yang sesungguhnya, dan baru pada saat itulah, aku melihat bahwa mereka mengenakan wajah setan berhati iblis yang bengis dan jahat. Dalam hatiku, diam-diam aku bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena telah membuka mata rohaniku pada akhirnya dan memungkinkan aku untuk melihat dengan jelas perbedaan antara yang benar dan yang salah; aku merasa bahwa menderita semua rasa sakit ini sepadan untuk mengetahui hal ini! Jika Tuhan tidak melakukan ini, aku tidak akan pernah bangkit dari kebohongan dan tipu daya Iblis, dan hampir tidak mungkin bagiku untuk melepaskan diri dari pengaruh gelap Iblis dan mendapatkan keselamatan Tuhan.

Setelah beberapa saat, pejabat polisi yang jahat itu bertanya, "Masih tidak bicara? Kau akan bicara atau tidak?" Melihatku tidak mengatakan apa pun, dua polisi jahat mendatangiku, memegang kepalaku dan mulai mencabuti alisku. Salah satu pria yang memegangku itu menamparku beberapa kali, memukulku begitu keras sehingga aku menjadi pusing. Penghinaan dan rasa sakit menyebabkan aku merasakan kesedihan dan kebencian sekaligus, dan aku menangis karena semua rasa malu ini. Oh, betapa aku membenci orang-orang biadab tanpa hati nurani ini yang menghujat Tuhan! Dalam penderitaanku, aku berpikir tentang bagaimana Tuhan Yesus mengalami penghinaan, cemoohan dan pukulan yang dilakukan oleh para prajurit demi menebus umat manusia, dan bagaimana Dia disalibkan di kayu salib, dan aku merenungkan tentang peringatan dan nasihat Tuhan yang berulang-ulang: "Mungkin engkau semua ingat firman ini: 'Sebab penderitaan ringan kami, yang hanya sementara, mengerjakan bagi kami kemuliaan yang lebih besar dan kekal.' Di masa lalu, engkau semua telah mendengar perkataan ini, namun tidak ada yang memahami arti sebenarnya dari perkataan ini. Saat ini, engkau tahu betul maknanya yang sesungguhnya" ("Apakah Pekerjaan Tuhan Begitu Sederhana Seperti yang Dibayangkan Manusia?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membawa penghiburan besar ke dalam hatiku, dan aku menyadari bahwa penghinaan dan rasa sakit yang kuderita sekarang akan diingat oleh Tuhan; rasa sakit ini diderita demi memperoleh kebenaran, ini adalah kesaksian yang mulia, dan itulah berkat dalam hidupku. "Karena aku percaya kepada Tuhan," pikirku, "maka aku harus memiliki iman dan keberanian untuk menerima berkat Tuhan, dan aku harus memiliki keberanian untuk menjadi kesaksian bagi kemenangan Tuhan." Saat itu, ekspresi wajah petugas polisi berubah, dan ia berkata, "Beri tahu kami apa yang ingin kami ketahui dan aku akan membiarkanmu pergi sekarang." Aku memandangnya dengan jijik dan berkata, "Langkahi dahulu mayatku!" Membara dengan kemarahan, ia memerintahkan dua polisi jahat untuk menyeretku kembali ke sel tahanan gelap.

Setelah beberapa sesi penyiksaan kejam, aku babak belur dan memar, dan tidak punya kekuatan lagi. Lengan dan kakiku terutama menjadi sangat bengkak sehingga aku sama sekali tidak berani menggerakkannya. Tanpa kekuatan, aku meringkuk di sana, seperti seekor domba yang menunggu untuk disembelih. Setiap kali memikirkan wajah-wajah brutal polisi yang jahat itu dan seringai mengerikan ketika mereka menggunakan alat penyiksaan itu, pikiranku pasti akan dipenuhi dengan kecemasan. Terutama ketika aku mendengar langkah kaki mendekati sel tahananku, jantungku akan berdebar makin lama makin kencang. Kengerian dan ketakutan adalah satu-satunya tentang diriku saat itu, dan aku merasa tidak berdaya dan sedih. Aku menangis; oh betapa aku menangis! Dan aku mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan: "Ya Tuhan Yang Mahakuasa! Aku sangat takut sekarang, dan aku merasa sangat lemah. Aku tidak tahu jalan mana yang harus kutempuh. Kumohon selamatkan aku. Aku benar-benar tidak mau lagi berada di tempat yang seperti neraka ini." Tepat ketika aku merasa lemah dan putus asa, firman Tuhan muncul dalam diriku, mendorong dan menghiburku: "Di dunia yang luas ini, siapakah yang secara pribadi telah Kuperiksa? ... Mengapa Aku berulang-ulang menyebut Ayub? Dan mengapa Aku sering kali merujuk kepada Petrus? Pernahkah engkau semua mengerti apa yang Kuharapkan darimu? Engkau seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk merenungkan hal-hal semacam ini" ("Bab 8, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memberiku iman dan kekuatan. "Ya!" Pikirku. "Di seluruh langit dan bumi, siapakah di antara umat manusia yang dapat melakukan seperti yang kita lakukan dan secara pribadi menerima ujian Tuhan di sarang Iblis si setan ini? Siapakah yang dapat dibangkitkan oleh Tuhan dan memiliki nasib baik untuk menjalani ujian api ini, dikepung di semua sisi oleh semua pasukan Iblis? Aku sangat lemah dan tidak berdaya, tetapi hari ini Tuhan memberiku kasih seperti itu. Dipilih oleh Tuhan adalah berkat hidupku dan inilah kehormatanku. Aku tidak dapat menghindari ujian ini, juga tidak seharusnya berusaha keluar dari ujian ini. Sebaliknya, aku harus memiliki martabat, berdiri teguh di hadapan Iblis seperti yang dilakukan Ayub dan Petrus, memakai hidupku untuk menjadi kesaksian bagi Tuhan dan menjunjung tinggi nama Tuhan, dan tidak menyebabkan Tuhan bersedih atau kecewa." Pada saat itu, hatiku dipenuhi dengan rasa syukur dan kebanggaan. Aku merasa telah cukup beruntung dalam hidup ini untuk menjalani penderitaan dan ujian yang sangat luar biasa dan berharga seperti ini!

Hari keempat tiba dan, sekali lagi dengan menggenggam daftar anggota gereja, petugas polisi yang jahat menudingkan jarinya ke arahku, lalu berkata, "Katakan semua yang kau ketahui dan beri tahu aku siapa pemimpinmu. Jika kau memberi tahu aku, aku akan membiarkanmu pergi. Jika tidak, kau akan mati di sini!" Ia melihat bahwa aku tetap tidak mau memberi tahu apa pun, jadi ia memekik, "Ayo, gantung dia dengan tangan di belakang punggungnya. Bunuh saja dia!" Dua bawahan segera mengikat tanganku di belakang punggungku dan menggantungku dengan tali sehingga aku hanya bisa berjinjit. Petugas polisi kemudian menggunakan ancaman dan bujukan padaku, mengatakan, "Mengapa repot-repot bertahan seperti ini? Engkau perlu memahami realitas situasimu. Tiongkok adalah milik Partai Komunis dan apa yang kami katakan berlaku. Jika kau memberi tahu kami apa yang ingin kami ketahui, aku akan membiarkanmu pergi saat itu juga, dan aku bahkan dapat mengatur pekerjaan untukmu. Jika tidak, aku akan memberi tahu sekolah putramu tentang dirimu dan membuat dia dikeluarkan ...." Ketika mendengar kata-katanya yang tak tahu malu itu, aku merasa sedih dan marah. Untuk mengganggu dan menghancurkan pekerjaan Tuhan dan merusak peluang kami untuk mendapatkan keselamatan, pemerintah PKT akan berusaha sekuat tenaga dan melakukan kejahatan apa pun! Seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Di tengah masyarakat yang gelap seperti ini, di mana Iblis begitu kejam dan tidak manusiawi, bagaimana mungkin raja Iblis, yang menghabisi orang-orang dalam sekejap mata, menoleransi keberadaan Tuhan yang baik, penuh kasih, dan kudus? Bagaimana mungkin ia akan menyambut kedatangan Tuhan dengan gembira? Para penjilat! Mereka membayar kebaikan dengan kebencian, mereka sudah lama membenci Tuhan, mereka memperalat Tuhan, mereka berlaku kasar sekasar-kasarnya, mereka sama sekali tidak menghargai Tuhan, mereka merampas dan merampok, mereka sudah kehilangan hati nurani, dan tidak ada kebaikan yang tersisa, dan mereka menggoda orang tidak bersalah agar kehilangan hati nuraninya. ... Kebebasan beragama? Hak dan kepentingan yang sah bagi warga negara? Semua itu hanya tipuan untuk menutupi dosa!" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Tepat pada saat itulah, aku mendapatkan gambaran jelas tentang wajah buruk pemerintah PKT, dan aku melihat kejahatannya yang jahat dan keji terhadap Surga. PKT adalah musuh yang membenci Tuhan dan musuh itu sangat menentang Tuhan, dan itulah musuh bebuyutanku yang benar-benar tidak dapat diperdamaikan kembali—aku tidak pernah bisa menyerah kepadanya! Melihat aku tetap diam, mereka meninggalkan aku tergantung di sana dan perlahan-lahan aku kehilangan kesadaran: mereka meninggalkan aku tergantung di sana selama satu hari dan satu malam penuh. Ketika mereka menurunkan aku, yang bisa kurasakan hanyalah seseorang menyentuh hidungku. Ketika siapa pun itu yang melihat aku masih bernapas, ia meninggalkan aku begitu saja di lantai. Melalui kabut yang menyelimuti pikiranku, aku mendengar mereka berkata, "Aku kehabisan ide. Aku terkejut karena wanita jalang ini begitu tangguh. Ia lebih tangguh daripada Partai Komunis. Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa ini benar-benar luar biasa!" Ketika mendengar mereka mengatakan ini, aku mengalami perasaan yang tidak terlukiskan dalam diriku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyatakan puji dan syukur kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang telah memimpinku untuk mengalahkan Iblis.

Aku dikurung di dalam sel tahanan gelap di Biro Keamanan Publik selama delapan hari. Pemerintah PKT memikirkan setiap taktik dan menggunakan setiap trik dalam buku, tetapi tetap saja tidak mendapatkan informasi apa pun yang mereka inginkan dariku. Pada akhirnya, yang bisa dilakukan polisi jahat itu adalah mengirimku ke rumah tahanan. Selama masa ini, mereka mengambil kesempatan yang diusahakan oleh keluargaku yang mengunjungi aku dengan memeras 3.000 yuan dari suamiku. Aku berpikir bahwa rumah tahanan akan sedikit lebih baik, tetapi ternyata aku keliru. Di negara Tiongkok yang membenci Tuhan ini, setiap sudut begitu gelap gulita dan penuh dengan kekerasan, kekejaman dan pembunuhan. Tempat seperti ini tidak memungkinkan kebenaran untuk bertahan, apalagi tempat bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk mendapatkan pijakan. Berada di rumah tahanan itu seperti lolos dari wajan penggorengan tetapi hanya untuk jatuh ke dalam api. Polisi jahat itu tetap tidak mau mengakui kekalahannya, dan mereka terus menanyaiku setelah aku sampai di sana. Karena mereka tidak mendapatkan informasi apa pun yang mereka inginkan dariku, tiga polisi segera menyerbu dan memukuliku habis-habisan. Aku dibiarkan dengan luka-luka baru dan memar di atas cedera lama yang belum sembuh, dan aku dipukuli hingga babak belur sampai mereka meninggalkan aku tertelungkup di lantai dan tidak dapat bergerak. Kepala polisi berjongkok, menunjuk kepalaku dan mengancam aku, mengatakan, "Jika kau tidak mengaku, jangan berharap untuk bertahan hidup di sini!" Seorang polisi jahat datang menghampiriku dan menendangku dengan keras beberapa kali lagi, lalu dua bawahan menyeretku ke halaman dan mengikatku ke tiang telepon. Aku dibiarkan terikat di sana sepanjang hari tanpa minum setetes air pun, dan tubuhku dipenuhi luka dan memar. Khawatir kalau aku mungkin mati di sana, mereka melemparkanku ke sel tahanan. Tepat ketika aku berada di ambang kematian dan aku merasa paling lemah, dua saudari yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan yang juga dipenjara di rumah tahanan itu bergegas mendatangiku. Mereka membuka ritsleting pakaian mereka, melepasnya dan memelukku, menggunakan kehangatan tubuh mereka sendiri untuk menghangatkanku. Meskipun kami benar-benar orang asing satu sama lain, kasih Tuhan membuat hati kami dekat. Aku bisa mendengar tangisan samar-samar kedua saudari ini, dan para tahanan lain mendiskusikan kami, mengatakan, "Polisi ini sangat kejam! Orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa begitu berbelas kasih. Kupikir kalian dari keluarga yang sama, tetapi sebenarnya kalian tidak saling mengenal sama sekali." Aku juga mendengar dua saudari itu berkata, "Tuhanlah yang menciptakan manusia dan kita semua adalah satu keluarga ...." Akhirnya aku menderita demam tinggi, aku mengalami sakit parah dan merasa hampir mati. Polisi jahat itu tidak memedulikan apa pun, tetapi kedua saudari itu membayar terlalu mahal untuk membeli pakaian dan obat-obatan dari polisi itu. Dengan hati-hati, kedua saudari itu mengobati lukaku dan merawatku setiap hari. Di bawah perawatan mereka yang penuh perhatian, perlahan aku mulai lebih membaik. Aku tahu ini adalah kasih Tuhan: sekalipun Tuhan telah mengizinkan kesusahan menimpaku, Dia selalu memperhatikan kelemahan dan rasa sakitku, dan Dia telah mempersiapkan segalanya untukku secara diam-diam, dan mengatur dua saudari ini untuk merawat dan menghiburku. Kami saling menghibur dan mendorong, dan dengan harapan dan tujuan yang sama dalam pikiran kami, masing-masing kami berdoa untuk yang lain secara diam-diam, memohon kepada Tuhan untuk memberi kami iman dan kekuatan sehingga kami dapat menjadi saksi atas kemenangan Tuhan di sarang setan ini.

Pergi ke rumah tahanan itu seperti memasuki neraka di bumi; di dalam tembok itu, kami menjalani kehidupan yang tidak manusiawi. Kami tidak pernah mempunyai cukup makanan dan kami harus bekerja sendiri secara kasar, bekerja mulai dari jam tujuh pagi hingga sepuluh malam sebelum bisa kembali ke sel tahanan kami—setiap hari kami benar-benar kelelahan dan semua energi kami terkuras. Tetapi karena aku bisa sering bersekutu tentang firman Tuhan dengan kedua saudari ini, meskipun dagingku sangat menderita dan selalu kelelahan, hatiku terasa nyaman dan dipenuhi dengan terang. Sering kali selama waktu itu, aku merenungkan nyanyian pujian dari firman Tuhan ini: "Maka bawalah t'rus kesaksianmu s'lama akhir zaman. Seb'rapa pun kau derita, s'lama kau masih bernafas, tetap setia, pada Tuhan. Itu kasih sejati, s'buah kesaksian yang kuat, kesaksian kuat" ("Berusahalah Kasihi Tuhan Tak Peduli Seberapa Besar Penderitaanmu" dalam "Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru"). Setiap kali menyanyikan lagu pujian ini, aku merasakan kekuatan luar biasa yang menopangku, dan tanpa menyadarinya, kelelahan, depresi, dan rasa sakit yang kurasakan di dalam diriku semuanya akan lenyap. Di saat yang sama, aku juga menyadari bahwa kesanggupanku untuk menderita rasa sakit ini adalah kebaikan dan berkat terbesar yang Tuhan bisa berikan kepadaku. Tidak peduli seberapa besar penderitaanku, aku bertekad untuk mengikuti Tuhan sampai akhir, dan bahkan jika aku hanya memiliki satu tarikan napas yang tersisa, aku akan berusaha untuk mengasihi Tuhan dan memuaskan Dia. Didorong oleh kasih Tuhan, aku bertahan selama 20 hari yang hampir tak tertahankan di rumah tahanan. Dalam sarang monster yang gelap itu, terang kehidupan dari Tuhan Yang Mahakuasa itulah yang mengusir kegelapan dan yang memungkinkan aku untuk terus memuji Tuhan dan menikmati perbekalan kehidupan dari firman Tuhan—inilah kasih dan keselamatan terbesar yang bisa Tuhan berikan kepadaku. Ketika akhirnya aku dibebaskan, polisi jahat itu masih mengancamku tanpa malu, mengatakan, "Jangan pernah berpikir untuk memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi denganmu di sini ketika engkau pulang!" Melihat polisi jahat dengan wajah manusia dan hati mereka yang kejam, keburukan karena kerelaan mereka untuk melakukan hal-hal jahat tetapi tidak menerima tanggung jawab atas hal itu, semakin menguatkan iman dan tekadku untuk meninggalkan Iblis dan mengikuti Tuhan serta menjadi kesaksian bagi Tuhan. Aku membulatkan tekad untuk bekerja sama dengan Tuhan dan menyebarkan Injil, untuk membawa lebih banyak jiwa yang hidup di bawah kuasa Iblis si setan itu ke dalam terang, sehingga mereka juga dapat menerima kasih dan keselamatan dari Sang Pencipta.

Sepanjang pengalaman dianiaya dengan kejam oleh pemerintah PKT, Tuhan Yang Mahakuasa-lah yang menuntun aku selangkah demi selangkah untuk mengatasi kepungan iblis, dan membawaku keluar dari sarang monster Iblis. Ini membuatku sampai pada kesadaran yang sungguh-sungguh: Tidak peduli seberapa jahat, kejam, dan merajalelanya Iblis, ia akan selamanya menjadi musuh Tuhan yang sudah ditaklukkan, dan hanya Tuhan Yang Mahakuasa-lah yang memiliki otoritas tertinggi yang dapat menjadi penopang kita yang setia, yang dapat menuntun kita untuk menjadi menang atas Iblis dan menang atas maut, dan yang dapat memampukan kita untuk hidup dengan kegigihan di dalam terang Tuhan. Seperti Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: "Kekuatan hidup Tuhan dapat mengatasi kekuatan mana pun, serta melampaui kekuatan lainnya. Kehidupan-Nya kekal, kuasa-Nya menakjubkan, dan kekuatan hidup-Nya tidak mudah ditundukkan oleh makhluk ciptaan atau kekuatan musuh mana pun. Kekuatan hidup Tuhan sungguh nyata, dan memancarkan cahaya terang kapan pun dan di mana pun. Langit dan bumi dapat mengalami perubahan dahsyat, tetapi kehidupan Tuhan tetap kekal untuk selama-lamanya. Segala sesuatu akan berlalu, tetapi kehidupan Tuhan tetap bertahan, karena Tuhan adalah sumber eksistensi dari segala sesuatu, dan akar dari segala eksistensi itu" ("Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Mulai hari ini dan seterusnya, aku ingin terus mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa, melakukan yang terbaik untuk mengejar kebenaran, dan memenangkan kehidupan kekal yang Tuhan anugerahkan kepada manusia.

19. Secercah Cahaya Kehidupan di Sarang Monster yang Gelap