70. Mengapa Aku Sudah Mengambil Jalan Orang Farisi?

70. Mengapa Aku Sudah Mengambil Jalan Orang Farisi?

Oleh Saudari Suxing, Provinsi Shanxi

Aku seorang dengan natur yang sombong dan angkuh yang terlalu peduli pada jabatan. Selama bertahun-tahun dalam iman, aku sudah terikat oleh reputasi dan jabatan dan belum mampu membebaskan diri darinya. Berulang kali aku sudah dipromosikan dan lalu digantikan; aku sudah mengalami banyak kemunduran dalam jabatanku dan sudah mengalami banyak kendala sepanjang perjalanan. Setelah bertahun-tahun ditangani dan dimurnikan, aku merasa bahwa aku tidak lagi begitu khawatir dengan jabatanku. Aku tidak mau menjadi seperti diriku di masa lalu, yang berpikir bahwa selama aku seorang pemimpin, aku dapat disempurnakan oleh Tuhan dan jika aku bukan seorang pemimpin, aku tidak punya harapan. Aku mengerti bahwa tugas apa pun yang kulakukan, aku hanya perlu mengejar kebenaran dan aku akan disempurnakan oleh Tuhan, dan bahwa mengejar reputasi dan kedudukan adalah jalan antikristus dan itu menyinggung watak Tuhan. Kemudian aku berpikir: tugas apa pun yang aku lakukan, aku dapat menerimanya dan taat tanpa memiliki suatu jabatan. Terkadang, ketika kerusakanku yang mengejar ketenaran dan kedudukan tersingkap, aku dapat memecahkannya dengan mencari kebenaran. Kesulitan apa pun yang aku hadapi sementara melakukan tugas, aku bersedia membayar harganya. Oleh karenanya, aku berpikir bahwa aku sudah melangkah di jalan mengejar kebenaran. Aku berpikir bahwa aku sudah mendapatkan kembali sedikit kemanusiaan dan akal budi. Namun melalui apa yang disingkapkan oleh fakta yang ada, aku melihat bahwa aku belum benar-benar melangkah di jalan mengejar kebenaran. Aku masih sangat jauh dari sasaran.

Pada akhir Juni 2013, pemimpin di sini digantikan karena dia tidak melakukan pekerjaan yang nyata, dan ketika nominasi pemimpin dilaksanakan, saudara-saudari memilihku untuk menjadi pemimpin yang baru. Saat mendengar bahwa aku akan memikul suatu tanggung jawab yang begitu besar, aku menjadi sedikit khawatir, merasa bahwa aku tidak memiliki realitas kebenaran dan bahwa aku tidak akan mampu melakukan pekerjaan itu. Aku berpikir: "Ruang lingkupnya begitu luas dan ada begitu banyak saudara-saudari. Bagaimana aku dapat memimpin mereka? Mereka yang berkualitas lebih tinggi dariku sudah digantikan. Bagaimana aku bisa melakukan yang lebih baik? Aku takut, pada akhirnya aku akan digantikan juga; aku tidak lagi ingin mengejar jabatan setinggi itu. Asalkan aku bisa melakukan tugasku, itu sudah bagus." Jadi, aku langsung menolaknya: "Tidak, aku tidak kompeten untuk pekerjaan ini." Aku mengajukan segala macam penjelasan dan alasan. Aku sepenuhnya percaya bahwa aku bertindak rasional dalam melakukan ini dan itulah yang sebenarnya. Sesudahnya, aku bisa mengenali melalui persekutuan dengan saudara-saudariku bahwa aku takut disingkapkan jika aku kembali menjadi seorang pemimpin karena aku memegang erat racun-racun Iblis dalam diriku; yakni, "Semakin besar, semakin hebat jatuhnya" dan "Sungguh kesepian berada di puncak." Aku selalu merasa bahwa menjadi seorang pemimpin adalah suatu hal yang berbahaya. Meskipun aku tahu secara teori bahwa alasan orang-orang itu diberhentikan adalah karena mereka tidak mengejar kebenaran, karena natur mereka terlalu jahat, dan karena mereka melakukan segala macam kejahatan; dalam lubuk hatiku, aku percaya bahwa kalau aku bukan seorang pemimpin utama, tidak akan ada kesempatan bagiku untuk melakukan kejahatan. Aku hanyalah melindungi diriku sendiri. Kemudian terlintas di benakku bahwa karena imanku dan karena mengkhotbahkan Injil, aku dikejar-kejar oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok) dan tidak bisa pulang. Aku tidak punya jalan keluar. Jika aku menjadi seorang pemimpin utama dan pada akhirnya menyinggung watak Tuhan dan dikeluarkan karena aku tidak mempunyai kebenaran dan melakukan yang jahat, maka aku sungguh tidak akan mampu untuk terus hidup. Aku hidup dalam kegelapan dan siksaan, terikat oleh gagasan-gagasan dan racun-racun ini. Dalam penderitaan, satu-satunya yang dapat kulakukan adalah berseru kepada Tuhan: "Ya Tuhan, menghadapi tanggung jawab ini, aku tahu bahwa Engkau sudah meninggikan diriku. Aku tahu bahwa menolak berarti mengkhianati-Mu. Tetapi saat ini, aku sedang hidup terikat oleh racun Iblis dan aku tidak mampu membebaskan diriku darinya. Aku sangat takut bahwa sesudah mengemban tanggung jawab besar ini, aku akan dihukum karena melakukan suatu kejahatan besar yang menyinggung watak-Mu karena naturku berbahaya dan aku tidak mempunyai kebenaran. Ya Tuhan! Aku menderita dan bingung. Aku tidak tahu bagaimana tunduk kepada-Mu. Aku mohon kepada-Mu, Tuhan, tolonglah aku dan selamatkanlah aku." Dalam doaku, Tuhan mencerahkanku untuk merenungkan suatu bagian dari firman Tuhan: "Pengenalanmu tentang Aku tidak berhenti pada kesalahpahaman ini, yang lebih buruk lagi adalah penghujatanmu terhadap Roh Tuhan dan penistaan terhadap Surga. Inilah sebabnya Aku mengatakan bahwa cara beriman sepertimu hanya akan menyebabkan engkau semua menyimpang lebih jauh dari-Ku dan semakin menentang Aku. Melalui pekerjaan selama bertahun-tahun, engkau semua telah melihat banyak kebenaran, tetapi apakah engkau tahu apa yang telah didengar telinga-Ku? Berapa banyak di antaramu yang bersedia menerima kebenaran? Engkau semua percaya bahwa engkau bersedia membayar harga untuk kebenaran, tetapi berapa banyak yang sudah benar-benar menderita karena kebenaran? Semua yang ada di dalam hatimu adalah kedurhakaan, dan karena itu engkau semua percaya bahwa setiap orang, siapa pun dia, adalah penipu dan pembohong" ("Cara Mengenal Tuhan yang di Bumi" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman penghakiman Tuhan mengubah kebingungan dan penderitaanku menjadi ketakutan dan kegentaran. Teristimewa, firman "penghujatanmu terhadap Roh Tuhan," "penistaan terhadap Surga," dan "Semua yang ada di dalam hatimu adalah kedurhakaan" bagai sebilah pedang yang menembus hatiku, membuatku merasakan kebenaran, kemegahan, dan murka dari watak Tuhan. Aku melihat bahwa keadaanku saat itu benar-benar menentang dan menghujat Tuhan, dan bahwa natur dari keadaanku ini sangatlah serius! Hanya pada saat itulah hatiku yang memberontak mampu berpaling. Aku sujud di hadapan Tuhan untuk memeriksa dan menyelidiki kerusakanku, berusaha tunduk kepada-Nya. Aku mengenangkan kembali seluruh tahun-tahun percayaku kepada Tuhan. Aku sudah mengalami penghakiman dan hajaran-Nya berulang kali. Akan tetapi, aku bukan saja tidak mengenali kasih dan penyelamatan Tuhan dalam semuanya itu, namun sesungguhnya aku salah mengerti dan semakin menghindari-Nya. Aku mempersalahkan Tuhan untuk semua yang tidak benar, seolah pekerjaan Tuhan terlalu menyusahkan manusia. Setelah bertahun-tahun mengalami pekerjaan Tuhan, hubunganku dengan Tuhan tidak menjadi lebih dekat atau lebih baik. Malahan, aku menjadi lebih asing dan jauh dari Tuhan; hubunganku dengan-Nya sudah menjadi jurang yang tidak bisa aku seberangi. Apakah hubungan seperti itu yang sudah kuperoleh sesudah bertahun-tahun ini? Aku kemudian menjadi mampu mengenali bahwa naturku yang mementingkan diri sendiri dan tercela itu menghantarku untuk mengkhianati hati nuraniku. Aku sudah melupakan harga yang telah Tuhan bayar bagiku, penyelamatan dan pengasuhan-Nya bagiku selama bertahun-tahun. Saat itu, aku dipenuhi kecaman terhadap diriku sendiri dan penyesalan, dan kembali aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku tidak mau lagi hidup dengan racun Iblis; aku tidak mau lagi melukai hati-Mu. Aku mau menerima penghakiman dan hajaran-Mu dan berbalik dari sudut pandangku yang keliru dan melakukan tugasku dengan baik demi menghibur hati-Mu." Kemudian aku membaca suatu bagian dari sebuah khotbah: "Setiap orang yang tidak mengasihi Tuhan berada di jalan antikristus dan pada akhirnya akan disingkapkan dan disingkirkan. Pekerjaan Tuhan pada akhir zaman adalah menyelamatkan dan menyempurnakan manusia dan setiap orang jahat yang tidak diselamatkan akan disingkapkan dan disingkirkan. Oleh karenanya, setiap orang akan mengikuti jenisnya masing-masing. Mengapa begitu banyak orang tersingkap melakukan segala macam kejahatan dengan jabatan dan kekuasaan mereka? Bukan karena jabatan mereka yang mencelakai mereka. Masalah fundamentalnya adalah esensi dari natur manusia. Sebuah jabatan tentu dapat menyingkap manusia, tetapi jika seorang yang baik hatinya memiliki jabatan yang tinggi, mereka tidak akan melakukan berbagai kejahatan. Sebagian orang tidak akan melakukan kejahatan ketika mereka tidak punya jabatan, mereka tampak seperti orang-orang yang baik di permukaan, tetapi begitu mereka mendapatkan suatu jabatan, mereka akan melakukan segala macam kejahatan" ("Persekutuan dari Atas"). Melalui persekutuan ini, aku dapat melihat betapa tak masuk akal dan menggelikannya gagasan-gagasan yang ada dalam hatiku. Sesungguhnya, apakah seorang dapat berjalan di jalan mengejar kebenaran atau tidak, itu bukan tergantung pada apakah mereka punya jabatan atau tidak, dan bukan karena punya jabatan, orang lantas menjadi sulit berjalan di jalan tersebut. Kuncinya terletak pada apakah natur seorang itu mencintai kebenaran atau tidak, dan apakah mereka mengasihi Tuhan atau tidak. Aku berpikir bahwa melalui bertahun-tahun aku "ditempa," aku sudah menjadi kurang peduli pada jabatanku, dengan berpikir bahwa aku seperti sehelai rumput yang tidak berusaha tumbuh menjadi sebatang pohon besar, dan bahwa aku mampu untuk jujur dalam mengejar kebenaran dan melakukan tugasku. Kupikir aku tidak akan seperti diriku sebelumnya, merasakan sakit, kelemahan, kenegatifan dan keputusasaan apabila aku melihat gereja mempromosikan orang-orang lain dan bukannya diriku. Karena perwujudan-perwujudan inilah, aku percaya bahwa watakku sudah sedikit banyak diubah dan bahwa aku sudah berjalan di jalan Petrus. Namun kemudian, dalam terang fakta dan kebenaran, aku bisa melihat dengan jelas diriku yang sebenarnya: aku tidak benar-benar melepaskan kedudukan, tetapi aku justru bertindak lebih pintar dan lebih licik; watakku yang rusak hanya menjadi lebih tersembunyi. Bahkan sesudah ditangani berulang kali, aku masih belum memberikan hatiku kepada Tuhan dan dengan jujur berusaha untuk mengasihi Tuhan. Malahan, aku belajar bagaimana menganalisis dan mengamati, dan telah menjadi lebih berfokus melindungi diriku sendiri. Prospek masa depanku selalu menjadi pertimbangan dalam pikiranku. Aku sudah menanamkan gagasan tak masuk akal dalam hatiku bahwa "Kedudukan yang tinggi itu tidak aman." Bukankah itu kesalahpahaman dan menghindari Tuhan? Bagaimana itu dapat menunjukkan kasih kepada Tuhan dan berjalan di jalan Petrus?

Mengenai pandanganku yang keliru, aku membaca "Prinsip-prinsip Menentukan Tugas dan Tempat Seseorang" juga "Prinsip-prinsip Mempersembahkan Diri bagi Tuhan" dalam "Penerapan dan Latihan bagi Perilaku yang Berprinsip." Aku membaca doa Petrus berikut: "Engkau tahu apa yang dapat aku lakukan, dan Engkau lebih tahu peran apa yang dapat aku jalankan. Aku akan melakukan semua keinginan-Mu dan aku akan mempersembahkan segala milikku kepada-Mu. Hanya Engkau yang tahu apa yang dapat aku lakukan untuk-Mu. Walaupun Iblis sering kali memperdayaku dan aku pernah memberontak terhadap-Mu, aku percaya Engkau tidak mengingatku menurut pelanggaran-pelanggaran itu, dan Engkau tidak memperlakukan aku berdasarkan pelanggaran-pelanggaran itu. Aku ingin mempersembahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Aku tidak meminta apa pun, dan tidak memiliki harapan atau rencana lain. Aku hanya ingin bertindak sesuai dengan niat-Mu dan melakukan kehendak-Mu. Aku akan minum dari cawan-Mu, dan aku siap menjalankan perintah-Mu" ("Cara Petrus Mengenal Yesus" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Tidak ada hubungan antara tugas manusia dan apakah dia diberkati atau dikutuk. Tugas adalah apa yang manusia harus lakukan; itu adalah tugas wajibnya dan tidak bergantung pada kondisi, alasan, atau kompensasi. Hanya dengan demikianlah dia melakukan tugasnya. Manusia yang diberkati menikmati kebaikan ketika disempurnakan setelah penghakiman. Manusia yang dikutuk menerima penghakiman ketika wataknya tidak berubah setelah mengalami hajaran dan penghakiman, karena dia tidak disempurnakan. Sebagai makhluk ciptaan, manusia harus memenuhi tugasnya, melakukan apa yang harus dilakukan, dan melakukan apa yang mampu dilakukannya, terlepas dari apakah dia akan diberkati atau dikutuk. Ini adalah persyaratan dasar bagi manusia, yang mencari Tuhan. Engkau tidak seharusnya melakukan kewajibanmu hanya untuk diberkati, dan engkau tidak seharusnya menolak bertindak karena takut dikutuk. Aku beritahukan satu hal: Jika manusia mampu melakukan tugasnya, itu berarti dia melakukan apa yang harus dilakukannya. Jika manusia tidak mampu melakukan kewajibannya, itu menunjukkan pemberontakannya" ("Perbedaan Antara Pelayanan Tuhan yang Berinkarnasi dan Tugas Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dapat dilihat dari firman Tuhan bahwa Petrus berupaya untuk sungguh dapat mengasihi Tuhan sepanjang hidupnya dan bahwa dia menaati pengaturan Tuhan dalam segala sesuatu. Dia tidak menetapkan pilihan-pilihan atau tuntutan-tuntutannya sendiri. Bagaimanapun Tuhan mengatur segala sesuatu baginya, dia selalu tunduk. Pada akhirnya, dia memenuhi tugasnya sebagai makhluk ciptaan, mencapai ketaatan sampai mati dan kasih tertinggi kepada Tuhan. Keberhasilan Petrus dalam kepercayaannya kepada Tuhan tidak ada hubungannya dengan statusnya. Petrus adalah seorang rasul dan Tuhan Yesus memberinya amanat agung menggembalakan gereja-gereja. Dia tidak bekerja dalam posisinya sebagai seorang rasul—dia tak dikenal, dia giat dan bersungguh-sungguh dalam melakukan tugas-tugasnya sebagai makhluk ciptaan untuk mengasihi Tuhan dan tunduk kepada-Nya. Dia mendapatkan kepuasan Tuhan dengan melakukan tugas-tugasnya dengan segenap hati, segenap kekuatan dan segenap akal budinya. Inilah rahasia keberhasilannya. Membandingkan diriku sendiri dengan doa Petrus dan penghakiman serta hajaran dari firman Tuhan, aku merasa sangat malu. Firman Tuhan menampar hatiku dan membuatku melihat bahwa aku tidak tunduk dan menentang Tuhan. Dalam imanku, aku selalu mempertahankan pilihan, tuntutan, dan rencanaku sendiri. Selama bertahun-tahun ini, aku sibuk bergegas mengejar tempat tujuanku, prospek masa depanku, demi ketenaran, keuntungan dan kedudukan. Sementara aku hanya melakukan sebagian dari tugas-tugasku, aku berusaha untuk membuat kesepakatan dengan Tuhan dan bahkan menghendaki Tuhan untuk menempatkan meterai persetujuan-Nya di atasnya guna menjamin bahwa aku akan diselamatkan. Tuntutanku terhadap Tuhan untuk melakukan ini bagiku menyingkapkan bahwa naturku terlalu mementingkan diri sendiri. Aku tidak punya akal budi dan hati nurani yang seharusnya dimiliki makhluk ciptaan. Aku menolak amanat karena naturku yang menipu. Aku menolak panggilan Tuhan demi melindungi diriku sendiri; lebih dari itu, aku menggunakan argumentasi yang tidak masuk akal dan mencari-cari alasan. Aku berunding dengan Tuhan; sungguh tak masuk akal diriku. Aku lalu membaca firman Tuhan: "Jika manusia mampu melakukan tugasnya, itu berarti dia melakukan apa yang harus dilakukannya. Jika manusia tidak mampu melakukan kewajibannya, itu menunjukkan pemberontakannya." Hati nuraniku merasa sangat tertuduh; semua yang kumiliki telah diberikan oleh Tuhan dan apa pun yang bisa aku lakukan, apa pun yang aku alami, semuanya adalah pengaturan Tuhan. Berulang kali, penghakiman dan hajaran Tuhan telah datang atasku supaya aku dapat memperoleh kembali akal budi dan hati nurani, membalikkan pikiranku yang keliru, dan memampukanku untuk dapat sungguh melakukan tugas-tugasku sebagai makhluk ciptaan. Maksud baik Tuhan ada dalam semua itu! Apa pun yang Tuhan tuntut dariku, aku seharusnya mempersembahkan diriku dan membalas kasih Tuhan. Melakukan selain dari itu adalah pengkhianatan dan pantas mendapat hukuman! Amanat itu tidak diatur oleh seorang manusia pun. Melainkan merupakan ujian Tuhan di jalan yang sudah aku jalani dan merupakan tingkat pertumbuhanku yang sebenarnya dari semua tahun itu. Aku tidak memiliki realitas kebenaran dan tingkat pertumbuhanku rendah. Tuhan memberiku tanggung jawab, namun Ia tidak menuntutku untuk sepenuhnya kompeten pada saat itu; sebaliknya, Ia bermaksud untuk membuatku meningkatkan diri dalam pengejaranku akan kebenaran, untuk menerima pelatihan, untuk memperbaiki kekuranganku, mampu memberikan semua yang aku miliki, dan masuk ke dalam realitas mengasihi Tuhan dengan segenap hatiku, segenap jiwaku, segenap kekuatanku dan segenap akal budiku. Di masa lalu, aku hidup dengan gagasan-gagasan yang tak masuk akal. Aku percaya bahwa aku sudah memastikan tugas-tugas dan kedudukanku. Aku merenungkan: meski aku melakukan tugas-tugasku dengan sikap dan latar belakang seperti itu dan aku tidak mengalami banyak pemurnian atau berada di bawah banyak tekanan, tidak ada terlalu banyak kemajuan dalam hidupku dan watakku tidak banyak berubah. Hal itu malahan menyingkapkan watak rusakku yang tidak mengejar kebenaran, dengan bersenang-senang pada waktu luang dan menjadi puas dengan keadaanku sendiri. Itu juga menyingkapkan bahwa caraku melakukan tugas-tugasku dalam imanku hanyalah sekadar untuk mendapatkan berkat dan tempat tujuan yang baik, bukan demi berusaha untuk mengasihi dan memuaskan Tuhan. Pada saat ini, pada akhirnya aku sampai pada: sesudah semua tahun-tahun itu, kupikir aku sudah berjalan di jalan tempat Petrus mengejar kebenaran. Tetapi pada hari itu, fakta-fakta menyingkapkan bahwa aku sudah mengikatkan sejumlah besar kepentingan bagi prospek mendatangku. Aku tidak memiliki sedikit pun tingkat kasih kepada Tuhan dan aku tidak bersedia menanggung beban berat atau mempersembahkan segenap diriku untuk Tuhan. Bagaimana itu dapat sejalan dengan pengejaran Petrus?

Dalam perjalanan pencarianku, aku membaca firman Tuhan: "Sebagai ciptaan Tuhan, manusia harus berupaya untuk melakukan tugas ciptaan Tuhan, dan berusaha mengasihi Tuhan tanpa membuat pilihan lain, sebab Tuhan layak menerima kasih manusia. Orang-orang yang berusaha untuk mengasihi Tuhan seharusnya tidak mencari keuntungan pribadi atau keuntungan yang didambakannya sendiri. Inilah sarana pengejaran yang paling benar. Jika perkara yang kaucari adalah kebenaran, perkara yang kaulakukan adalah kebenaran, dan perkara yang kaucapai adalah perubahan watakmu, jalan yang kautapaki adalah jalan yang benar. Jika perkara yang kaucari adalah berkat daging, dan perkara yang kaulakukan adalah kebenaran yang berasal dari konsepsimu sendiri, dan jika tidak ada perubahan pada watakmu, dan engkau sama sekali tidak taat kepada Tuhan dalam daging, dan engkau masih hidup dalam ketidakjelasan, perkara yang engkau upayakan tentu akan membawamu ke neraka, sebab jalan yang kautempuh adalah jalan kegagalan. Apakah engkau disempurnakan atau dilenyapkan tergantung pada pengejaranmu sendiri. Dengan kata lain, keberhasilan dan kegagalan tergantung pada jalan yang dilalui manusia" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Dijalani Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Firman Tuhan adalah kebenaran, jalan dan hidup, dan sudah mengungkapkan jalan Petrus menuju keberhasilan, juga jalan penerapan menuju keberhasilan. Jalan Petrus menuju keberhasilan bukan sekadar tidak mencari jabatan atau tidak memilih-milih tugasnya. Bukan sekadar ditaklukkan aspek-aspek negatifnya. Yang lebih penting adalah secara positif berusaha untuk mengasihi Tuhan dan melakukan tugas makhluk ciptaan. Lagipula, berjalan di jalan yang benar akan mendatangkan banyak hasil yang positif dan nyata, seperti mengenal Tuhan dengan lebih baik, semakin tunduk melalui mengejar kebenaran dan menerapkannya, dan tidak lagi memiliki tuntutan, harapan dan ketidakmurnianmu sendiri. Watakmu akan diubah, dan yang lebih penting, kau akan masuk ke dalam kebenaran dengan lebih baik dan memiliki kasih yang semakin murni kepada Tuhan sehingga engkau dapat sepenuhnya mempersembahkan dirimu kepada Tuhan dengan tanpa memiliki tuntutan lain, dan engkau akan dengan setia mengasihi Tuhan sepanjang hidupmu. Akan tetapi, dalam fakta-fakta yang disingkapkan di atas, di manakah pengungkapanku masuk ke dalam realitas kebenaran? Di manakah pengungkapanku mendapatkan kebenaran dan mengubah watakku? Di manakah pengungkapanku yang sungguh mengasihi Tuhan? Tidak ada satu pun yang seperti itu! Jika aku sungguh sudah memasukinya, aku tentu sudah dapat tunduk pada apa pun pengaturan yang Tuhan buat bagiku dan aku tentu akan lebih bersedia mempersembahkan diriku kepada Tuhan dan membalas kasih-Nya. Melalui fakta-fakta ini dan melalui penghakiman dan hajaran oleh firman Tuhan, aku dapat melihat bahwa aku berjalan di jalan yang salah. Aku tidak berjalan di jalan melakukan tugas-tugasku sebagai makhluk ciptaan, aku juga tidak berusaha mengasihi Tuhan. Sebaliknya, aku menapaki jalan mencari kepentingan-kepentinganku sendiri dan harapan-harapan pribadi. Itu adalah jalan yang menipu Tuhan, mengikuti-Nya di bawah paksaan dan mengorbankan diriku hanya pada tingkat terbatas demi melindungi diriku sendiri. Aku selama ini selalu mengejar kesenangan daging. Demi memuaskan kenyamanan sementara, aku tidak bersedia menerima penghakiman dan hajaran Tuhan dan mendapatkan kebenaran. Dalam lubuk hatiku, pandanganku adalah: "Sekadar berusaha melakukan tugas-tugasku dengan damai, dan tidak menyinggung watak Tuhan. Pada akhirnya, aku akan mendapatkan tempat tujuan yang baik dan itu akan cukup." Firman Tuhan telah berulang kali menunjukkan bahwa sebab utama dari kegagalan Paulus terletak pada persepakatan yang ia buat terhadap Tuhan. Dia bekerja keras demi upah dan mahkota masa depannya, namun ia tidak memiliki sedikit pun tingkat ketundukan dan kasih kepada Tuhan atas ciptaan. Pada akhirnya, hal itu berakibat dia gagal dan menanggung hukuman Tuhan. Firman Tuhan jelas memperingatkan kita: "... mereka yang bekerja hanya demi tujuan akhir hidupnya akan mengalami kekalahan yang mutlak, karena kegagalan orang di dalam kepercayaannya kepada Tuhan terjadi karena tertipu" ("Tentang Tempat Tujuan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Itu memang benar! Investasi macam ini tidak dilakukan dalam ketulusan; sekadar kepura-puraan dan penipuan. Aku sudah sungguh bertegar tengkuk dan menghindari penghakiman Tuhan dengan berjalan di jalanku sendiri. Ketika pekerjaan penyelamatan Tuhan datang kepadaku, aku tidak dapat membedakan yang baik dari yang jahat dan menolak untuk menerima amanat Tuhan. Aku tidak membalas apa pun kepada Tuhan selain dari kesalahpahaman, penentangan, dan pengkhianatan. Saat itulah aku dapat melihat dengan jelas betapa naturku mementingkan diri sendiri dan tercela. Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini dan menikmati Tuhan, meski begitu masih berencana menentang-Nya, dengan terus bertransaksi dengan-Nya. Aku tidak memiliki sedikit pun tingkat kasih kepada Tuhan dalam hatiku. Itulah tepatnya alasan mengapa aku berjalan di jalan yang salah dan aku tepat seperti apa yang Tuhan bicarakan: "Karena manusia tidak cakap dalam mengabdikan seluruh dirinya kepada Tuhan, karena manusia tidak bersedia melakukan tugasnya kepada Sang Pencipta, karena manusia sudah melihat kebenaran, tetapi menghindarinya dan menempuh jalannya sendiri, karena manusia selalu berusaha mengikuti jalan orang-orang yang sudah gagal, karena manusia selalu menentang Surga, dengan demikian, manusia selalu gagal, selalu terjebak dalam tipu daya Iblis, dan terjerat dalam jeratnya sendiri" ("Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Dijalani Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Kemudian aku membaca yang berikut ini dari sebuah khotbah: "Ada orang-orang yang secara tak terelakkan memiliki ketakutan-ketakutan ini: 'Aku melakukan tugasku, tetapi aku takut berjalan di jalan antikristus; aku takut melakukan sesuatu yang salah dan menentang Tuhan.' Apakah ada banyak orang dengan ketakutan semacam ini? Khususnya mereka yang melayani sebagai pekerja dan pemimpin, mereka sudah melihat bahwa orang ini dan orang itu, yang berusaha dengan giat di masa lalu, memiliki berbagai karunia dan pikiran yang baik, dan lalu dia jatuh. Orang ini dan orang itu sungguh pandai berkhotbah, tetapi akhirnya, dia jatuh juga, tak disangka-sangka. Mereka mengatakan: 'Jika aku melakukan hal-hal itu, akankah aku akhirnya seperti mereka dan jatuh juga?' Jika engkau seorang yang mengasihi Tuhan, apakah engkau masih takut akan hal-hal seperti ini? Jika engkau memiliki kasih yang benar kepada Tuhan, akankah engkau masih dikendalikan oleh ketakutan-ketakutanmu? Orang-orang yang mengasihi Tuhan selalu mempertimbangkan kehendak-Nya dan tidak akan melakukan hal yang salah ... Jika engkau memiliki pemahaman yang benar mengenai apa artinya berjalan di jalan antikristus dan apa artinya berjalan di jalan mengejar kebenaran dan disempurnakan, mengapa engkau takut bahwa engkau mengambil jalan antikristus? Bukankah ketakutan itu membuktikan bahwa engkau masih ingin menjalaninya dan bahwa engkau tidak mau meninggalkan jalan yang salah? Bukankah ini masalahnya?" ("Bagaimana Berusaha Mengasihi Tuhan dan Bersaksi tentang Tuhan" dalam "Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke Dalam Kehidupan IX"). Dari firman Tuhan dan khotbah ini, aku bisa melihat dengan lebih jelas bahwa mereka yang tidak mengasihi Tuhan berada di jalan antikristus dan bahwa tidak mengasihi Tuhan adalah sumber kegagalan dalam iman. Aku juga melihat dengan lebih jelas penjelasan dan alasan-alasan jahat yang sudah aku sembunyikan dalam diriku. Aku tidak mau menerima tanggung jawab yang lebih besar dan aku takut berjalan di jalan kegagalan—itu menyingkapkan bahwa naturku mementingkan diri sendiri, tercela dan jahat. Itu menyingkapkan bahwa aku sudah terlalu mengasihi diriku sendiri dan Iblis. Aku juga bisa sungguh-sungguh mengerti bahwa orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun namun masih belum memiliki kasih kepada Tuhan, mereka tidak punya kemanusiaan yang normal. Bisa dikatakan bahwa mereka semua memiliki natur jahat tertentu; mereka semua adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri, tercela dan jahat. Pada saat yang sama, itu juga menghantarku untuk dengan sungguh membalikkan pandangan-pandanganku yang keliru, mendapatkan pembebasan jiwaku, dan mendapatkan petunjuk yang benar dalam pengejaran dan jalan penerapannya. Aku tidak mau lagi hidup dengan mementingkan diri sendiri dan tercela hanya demi diriku sendiri. Aku hanya ingin tunduk kepada Tuhan dan menaati segala pengaturan-Nya; aku akan mengejar kebenaran dan menerapkan kasih bagi Tuhan sementara melakukan tugas-tugasku.

Terpujilah Tuhan atas penghakiman dan hajaran-Nya yang mengubah tujuan pengejaranku dan membawaku kembali dari jalan yang salah. Hal itu membuatku sungguh mengenali esensi dari natur Iblis dalam diriku dan menemukan sumber kegagalanku. Aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun ini, tetapi aku tidak pernah mengasihi Tuhan, dan aku merasa malu dan menyalahkan diri sendiri. Hatiku rindu untuk menumbuhkan kasih yang benar kepada Tuhan. Petrus disempurnakan karena dia sungguh mengasihi Tuhan dan karena dia memiliki kemauan dan ketekunan dalam mengejar kebenaran. Meski aku jauh dari itu, aku tidak akan lagi hidup sedemikian hina dan memuakkan demi melindungi diriku sendiri. Aku mau menjadikan mengasihi Tuhan sebagai tujuan dari pengejaranku—aku akan melakukan segala upaya dan aku akan membayar harga dalam melakukan tugas-tugasku. Aku akan dengan sungguh menanggung beban tanggung jawabku dan melakukan kebenaran dan masuk ke dalam realitas mengasihi Tuhan sementara melakukan tugas-tugasku.

70. Mengapa Aku Sudah Mengambil Jalan Orang Farisi?