4. Cara agar orang dapat memasuki doa yang benar

4. Cara agar orang dapat memasuki doa yang benar

Firman Tuhan yang Relevan:

Saat berdoa, hatimu harus damai di hadapan Tuhan, dan engkau harus memiliki hati yang tulus. Engkau sungguh-sungguh bersekutu dan berdoa dengan Tuhan—engkau tidak boleh berusaha membodohi Tuhan dengan kata-kata yang terdengar bagus. Doa harus berpusat pada apa yang Tuhan ingin selesaikan saat ini. Mintalah Tuhan untuk memberimu pencerahan dan penerangan yang lebih besar, bawalah keadaan dan masalahmu yang sebenarnya ke hadapan Tuhan saat berdoa, termasuk tekad yang kaubuat di hadapan Tuhan. Doa bukanlah mengikuti suatu prosedur tertentu, melainkan mencari Tuhan dengan hati yang tulus. Mintalah agar Tuhan melindungi hatimu, sehingga sering merasakan damai di hadapan Tuhan; sehingga dalam lingkungan tempat Dia menempatkanmu, engkau mampu mengenal diri sendiri, merendahkan dirimu sendiri, dan meninggalkan dirimu, sehingga memungkinkan engkau menjalin hubungan yang normal dengan Tuhan dan menjadi orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.

Dikutip dari "Tentang Penerapan Doa" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Standar terendah yang Tuhan tuntut dari manusia adalah bahwa mereka dapat membuka hati mereka kepada-Nya. Jika manusia memberikan hatinya yang sejati kepada Tuhan dan mengatakan yang sebenarnya ada dalam hatinya, Tuhan bersedia bekerja di dalam diri manusia. Tuhan tidak menginginkan hati manusia yang bengkok, melainkan hati yang murni dan tulus. Jika manusia tidak sungguh-sungguh menyampaikan isi hatinya kepada Tuhan, Tuhan tidak akan menjamah hati manusia, atau bekerja di dalam dirinya. Dengan demikian, hal yang paling penting dalam berdoa adalah berbicara kepada Tuhan dari dalam hatimu, memberi tahu Tuhan tentang kelemahan atau watak pemberontakmu, sepenuhnya membuka dirimu di hadapan Tuhan; hanya setelah itu, Tuhan akan tertarik pada doa-doamu, jika tidak, Tuhan akan menyembunyikan wajah-Nya darimu. Kriteria minimum untuk doa adalah engkau harus dapat menjaga hatimu tetap damai di hadapan Tuhan, dan hatimu tidak boleh menjauh dari Tuhan. Mungkin, selama periode ini, engkau belum mendapatkan wawasan yang lebih baru atau lebih tinggi, tetapi engkau harus terus menggunakan doa untuk menjaga semua hal sebagaimana adanya—engkau tidak boleh mundur. Ini target minimum yang harus engkau capai. Jika engkau bahkan tidak dapat mencapai target ini, itu membuktikan bahwa kehidupan rohanimu belum berada di jalur yang benar. Sebagai akibatnya, engkau tidak akan dapat berpegang teguh pada visi awalmu, engkau akan kehilangan iman kepada Tuhan, dan tekadmu akan perlahan-lahan menghilang. Salah satu tanda apakah engkau sudah memasuki kehidupan rohani atau belum adalah memeriksa apakah doa-doamu berada di jalur yang benar. Semua orang harus memasuki kenyataan ini; mereka semua harus melakukan usaha untuk secara sadar melatih diri mereka dalam doa, bukan menunggu secara pasif, tetapi secara sadar berusaha agar dijamah oleh Roh Kudus. Hanya dengan begitu mereka akan menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.

Dikutip dari "Tentang Penerapan Doa" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Doa bukanlah urusan menjalankan formalitas, mengikuti prosedur, atau melafalkan firman Tuhan. Artinya, doa tidak berarti mengulang kata-kata dan meniru orang lain. Dalam doa, engkau harus mencapai kondisi di mana engkau dapat menyerahkan hatimu kepada Tuhan, membuka hatimu sehingga engkau dapat dijamah oleh Tuhan. Agar doamu efektif, maka doamu harus didasarkan pada pembacaan firman Tuhan. Hanya dengan berdoa berdasarkan firman Tuhan, engkau dapat menerima lebih banyak pencerahan dan penerangan. Perwujudan dari doa yang benar adalah memiliki hati yang merindukan segala hal yang Tuhan minta, dan terlebih lagi, memiliki hasrat untuk memenuhi tuntutan-Nya, membenci semua yang dibenci Tuhan, dan kemudian, dengan landasan ini, engkau memperoleh pemahaman tentangnya, serta memiliki pengetahuan dan kejernihan tentang kebenaran yang dijelaskan oleh Tuhan. Jika ada tekad, iman, pengetahuan, dan jalan penerapan setelah berdoa, barulah ini bisa disebut doa yang benar, dan hanya doa seperti ini yang bisa efektif. Namun, doa harus dibangun di atas dasar menikmati firman Tuhan, doa harus dilandaskan atas persekutuan dengan Tuhan dalam firman-Nya, dan hatimu harus mampu mencari Tuhan dan damai di hadapan-Nya. Doa seperti ini telah memasuki tahap persekutuan sejati dengan Tuhan.

Pengetahuan dasar tentang berdoa:

1. Jangan sembarang mengucapkan apa pun yang terlintas dalam pikiranmu. Harus ada beban di dalam hatimu, yang berarti, engkau harus memiliki tujuan ketika berdoa.

2. Doamu harus berisi firman Tuhan; doa harus didasarkan pada firman Tuhan.

3. Ketika berdoa, engkau tidak boleh mengulangi hal-hal yang sudah ketinggalan zaman. Doamu harus berhubungan dengan firman Tuhan di masa kini, dan ketika engkau berdoa, sampaikanlah kepada Tuhan pikiran dalam lubuk hatimu.

4. Doa bersama harus berfokus pada suatu inti, yaitu pekerjaan Roh Kudus hari ini.

5. Semua orang harus belajar doa syafaat. Ini juga merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap kehendak Tuhan.

Kehidupan doa pribadi didasarkan pada pemahaman mengenai pentingnya doa dan pengetahuan dasar tentang doa. Dalam kehidupan sehari-hari, seringlah berdoa untuk kekuranganmu sendiri, berdoalah untuk menghasilkan perubahan watakmu dalam hidup, dan berdoalah berdasarkan pengetahuanmu akan firman Tuhan. Setiap orang harus membangun kehidupan doa mereka sendiri, mereka harus berdoa demi memahami firman Tuhan, dan mereka harus berdoa untuk mencari pengetahuan tentang pekerjaan Tuhan. Ungkapkan keadaan pribadimu yang sebenarnya di hadapan Tuhan, dan bersikaplah jujur tanpa membingungkan tentang cara engkau berdoa, dan kuncinya adalah untuk mencapai pemahaman yang sejati, dan memperoleh pengalaman nyata tentang firman Tuhan. Orang yang berusaha mengejar jalan masuk kehidupan rohani harus dapat berdoa dengan berbagai cara. Doa dalam hati, merenungkan firman Tuhan, berusaha mengetahui pekerjaan Tuhan—semua ini merupakan contoh-contoh pekerjaan persekutuan rohani yang memiliki tujuan, demi mencapai jalan masuk ke dalam kehidupan rohani yang normal, yang membuat keadaanmu di hadapan Tuhan menjadi semakin baik, dan mendorongmu untuk maju semakin pesat dalam hidup. Singkatnya, semua yang engkau lakukan, apakah itu makan dan minum firman Tuhan, atau berdoa dalam hati, atau mengucapkan doa dengan nyaring, adalah untuk memungkinkanmu melihat dengan jelas firman Tuhan, pekerjaan-Nya, dan apa yang ingin Dia capai di dalam dirimu. Yang lebih penting, semua yang engkau perbuat dilakukan untuk mencapai standar yang Tuhan tuntut dan mengangkat hidupmu ke tingkat berikutnya.

Dikutip dari "Tentang Penerapan Doa" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Dan bagaimana caramu berusaha agar dijamah oleh Roh Kudus? Yang penting ialah hidup dalam firman Tuhan pada masa sekarang dan berdoa berdasarkan pada tuntutan Tuhan. Setelah berdoa dengan cara ini, Roh Kudus pasti akan menjamahmu. Jika engkau tidak mencari berdasarkan fondasi firman yang diucapkan oleh Tuhan pada zaman sekarang, itu tidak akan ada hasilnya. Engkau harus berdoa, dan berkata: "Ya, Tuhan! Aku telah menentang-Mu, dan aku sangat berutang kepada-Mu; aku sangat tidak taat, dan tidak pernah dapat memuaskan-Mu. Ya, Tuhan, kumohon Engkau menyelamatkan aku, aku ingin melayani-Mu sampai akhir, aku rela mati demi Engkau. Hakimilah aku dan hajarlah aku, dan aku tidak akan mengeluh; aku telah menentang Engkau dan aku layak mati, sehingga semua orang dapat melihat watak-Mu yang benar dalam kematianku." Ketika engkau berdoa dari dalam hatimu dengan cara ini, Tuhan akan mendengarmu dan akan membimbingmu; jika engkau tidak berdoa berlandaskan firman yang Roh Kudus ucapkan pada zaman sekarang, tidak ada kemungkinan bagi Roh Kudus untuk menjamahmu. Jika engkau berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan dan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan untuk kaulakukan sekarang ini, engkau akan berkata: "Ya, Tuhan! Aku ingin menerima amanat-Mu dan setia kepada amanat-Mu, dan aku bersedia mencurahkan seluruh hidupku demi kemuliaan-Mu, sehingga apa pun yang kulakukan dapat mencapai standar umat Tuhan. Biarlah hatiku dijamah oleh-Mu. Aku mohon agar Roh-Mu senantiasa mencerahkan aku, supaya semua yang kulakukan mempermalukan Iblis, sehingga aku pada akhirnya didapatkan oleh-Mu." Jika engkau berdoa seperti ini, dengan cara yang berpusat pada kehendak Tuhan, Roh Kudus pasti akan bekerja di dalam dirimu. Tidak penting berapa banyak kata yang kauucapkan dalam doamu—yang terpenting ialah apakah engkau memahami kehendak Tuhan atau tidak. Engkau semua mungkin pernah memiliki pengalaman berikut ini: Adakalanya, ketika berdoa dalam kebaktian, dinamika pekerjaan Roh Kudus mencapai puncaknya, menyebabkan kekuatan setiap orang bertambah. Beberapa orang menangis getir dan berlinang air mata ketika berdoa, diliputi penyesalan di hadapan Tuhan, dan beberapa orang menunjukkan ketetapan hatinya dan membuat ikrar. Seperti itulah dampak yang harus dicapai oleh pekerjaan Roh Kudus. Sekarang ini, sangat penting bahwa semua orang benar-benar mencurahkan hati mereka ke dalam firman Tuhan. Jangan pusatkan perhatianmu pada firman yang diucapkan sebelumnya; jika engkau masih berpegang pada apa yang datang sebelumnya, Roh Kudus tidak akan bekerja di dalam dirimu. Apakah engkau mengerti betapa pentingnya hal ini?

Dikutip dari "Kenalilah Pekerjaan Terbaru Tuhan dan Ikutilah Jejak Langkah-Nya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Ketika engkau mulai berdoa, jangan terlalu memaksa diri dan berharap mencapai segalanya sekaligus. Engkau tidak boleh menyampaikan permintaan yang berlebihan, dengan harapan bahwa segera setelah engkau membuka mulut, engkau akan dijamah oleh Roh Kudus, atau engkau akan menerima pencerahan dan penerangan, atau Tuhan akan menghujanimu dengan kasih karunia. Itu tak akan terjadi; Tuhan tidak melakukan hal-hal yang supernatural. Tuhan mengabulkan doa manusia pada waktu-Nya sendiri dan kadang-kadang Dia menguji imanmu untuk melihat apakah engkau setia di hadapan-Nya. Ketika engkau berdoa, engkau harus memiliki iman, ketekunan, dan tekad. Ketika mulai melatih diri untuk berdoa, kebanyakan orang menjadi kecil hati karena tidak dijamah oleh Roh Kudus. Ini tidak akan berhasil! Engkau harus memiliki ketekunan; engkau harus berfokus untuk merasakan jamahan Roh Kudus, dan pada pencarian dan pendalaman. Terkadang, jalan penerapanmu salah, dan terkadang, niat dan pemahamanmu tidak mampu berdiri teguh di hadapan Tuhan, dan karena itulah Roh Tuhan tidak dapat menjamahmu. Terkadang, Tuhan melihat apakah engkau setia atau tidak. Singkatnya, dalam berlatih, engkau harus mencurahkan lebih banyak upaya. Jika engkau menemukan dirimu menyimpang dari jalan penerapanmu, engkau dapat mengubah caramu berdoa. Selama engkau berusaha dengan hati yang tulus dan ingin sekali menerima, Roh Kudus pasti akan membawamu ke dalam kenyataan ini. Terkadang engkau berdoa dengan hati yang tulus tetapi tidak merasa dijamah secara khusus. Pada saat seperti inilah engkau harus mengandalkan imanmu, dan percaya bahwa Tuhan memperhatikan doa-doamu; engkau harus memiliki ketekunan dalam doa-doamu.

Dikutip dari "Tentang Penerapan Doa" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Aku telah menemukan masalah yang dialami semua orang: ketika sesuatu terjadi pada diri mereka, mereka datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, tetapi, bagi mereka, doa adalah satu hal, dan masalah yang dihadapi adalah hal yang berbeda. Mereka percaya bahwa tidak seharusnya mereka membicarakan apa yang sedang terjadi pada diri mereka dalam doa. Engkau semua jarang berdoa dengan sungguh-sungguh, dan ada beberapa orang yang bahkan tidak tahu cara berdoa. Sebenarnya, berdoa pada dasarnya adalah mengatakan apa yang ada di hatimu, seolah-olah engkau sedang berbicara seperti biasanya. Namun, ada orang yang lupa posisinya segera setelah mereka mulai berdoa; mereka bersikeras agar Tuhan memberi mereka sesuatu, tanpa memedulikan apakah itu sesuai dengan kehendak-Nya atau tidak, dan, akibatnya, doa-doa mereka kering. Ketika engkau berdoa, apa pun yang kauminta di dalam hatimu, apa pun yang kaurindukan; atau, mungkin, ada masalah yang ingin kautangani, tetapi engkau tidak memiliki wawasan, dan engkau meminta agar Tuhan memberimu hikmat atau kekuatan, atau agar Dia mencerahkanmu—apa pun permohonanmu, engkau harus bijaksana dalam mengucapkannya. Jika engkau tidak bijaksana, lalu berlutut dan berkata, "Tuhan, berilah aku kekuatan; biarlah aku memahami naturku; kumohon kepada-Mu untuk bekerja; kumohon kepada-Mu untuk melakukan ini dan itu; kumohon kepada-Mu untuk menjadikanku ini dan itu ...." "Permohonan"-mu itu bersifat memaksa; ini adalah upaya untuk menekan Tuhan, untuk memaksa Dia melakukan apa yang kauinginkan—yang syarat-syaratnya telah kautentukan secara sepihak sebelumnya, tidak kurang dari itu. Dari sudut pandang Roh Kudus, efek apa yang dapat dihasilkan dari doa seperti itu, ketika engkau telah menetapkan syarat-syarat dan memutuskan apa yang ingin kaulakukan? Orang harus berdoa dengan hati yang mencari dan tunduk. Ketika sesuatu telah menimpamu, misalnya, dan engkau tidak yakin bagaimana menanganinya, engkau mungkin berkata, "Tuhan! Aku tidak tahu harus berbuat apa tentang hal ini. Aku ingin memuaskanmu dalam masalah ini, dan mencari kehendak-Mu. Kiranya kehendak-Mu yang jadi. Aku hanya ingin melakukan sebagaimana yang Engkau kehendaki, bukan sebagaimana yang kukehendaki. Engkau tahu bahwa semua kehendak manusia bertentangan dengan kehendak-Mu, dan menentang-Mu, dan tidak sesuai dengan kebenaran. Kumohon agar engkau mencerahkanku, memberiku bimbingan dalam hal ini, dan biarlah aku tidak menyinggung-Mu ...." Itulah nada yang tepat untuk sebuah doa. Jika engkau hanya berkata, "Tuhan, kumohon agar Engkau membantuku, membimbingku, memberiku lingkungan yang tepat dan orang yang tepat, dan biarlah aku melakukan pekerjaanku dengan baik ...," maka, setelah doamu, engkau akan tetap tidak memahami kehendak Tuhan, karena engkau akan meminta Tuhan untuk bertindak sesuai dengan keinginanmu sendiri.

Engkau sekarang harus memastikan apakah kata-kata yang kaugunakan dalam doa itu bijaksana atau tidak. Jika doamu tidak bijaksana, tidak peduli apakah ini karena kebodohanmu atau karena disengaja, Roh Kudus tidak akan bekerja dalam dirimu. Oleh karena itu, saat engkau berdoa, engkau harus berbicara dengan bijaksana, dengan nada yang sesuai. Katakan ini: "Tuhan! Engkau tahu kelemahanku dan pemberontakanku. Aku hanya memohon agar Engkau memberiku kekuatan dan membantuku menanggung keadaanku, tetapi hanya sesuai dengan kehendak-Mu. Inilah yang kupinta. Aku tidak tahu apa kehendak-Mu, tetapi kiranya kehendak-Nya yang jadi. Bahkan sekalipun aku diciptakan untuk melakukan pelayanan, atau menjadi kontras, aku akan melakukannya dengan sukarela. Kumohon agar Engkau memberiku kekuatan dan hikmat, dan biarlah aku memuaskan-Mu dalam hal ini. Aku hanya ingin tunduk pada pengaturan-Mu ...." Setelah doa seperti itu, hatimu akan merasa tenang. Jika satu-satunya yang kaulakukan adalah terus-menerus memohon, maka, sebanyak apa pun perkataanmu, semua itu akan menjadi kata-kata kosong; Tuhan tidak akan bekerja sebagai tanggapan atas permohonanmu, karena engkau telah memutuskan apa yang kauinginkan sebelumnya. Saat engkau berlutut dalam doa, katakan ini: "Tuhan! Engkau tahu kelemahan manusia, dan Engkau tahu keadaan manusia. Kumohon agar Engkau mencerahkanku dalam masalah ini. Biarkan aku memahami kehendak-Mu. Aku hanya ingin tunduk kepada semua yang Engkau atur; hatiku mau menaati-Mu ...." Berdoalah demikian, dan Roh Kudus akan menjamahmu. Jika caramu berdoa tidak benar, doamu akan kering, dan Roh Kudus tidak akan menjamahmu. Jangan mengoceh, berbicara untuk dirimu sendiri—melakukan itu tidak lain adalah sembarangan dan asal-asalan. Akankah Roh Kudus bekerja jika engkau sembarangan dan asal-asalan? Ketika orang datang ke hadapan Tuhan, mereka harus bersikap baik dan sopan, dengan sikap yang saleh, seperti para imam pada Zaman Hukum Taurat, yang semuanya berlutut ketika mereka mempersembahkan korban. Berdoa bukanlah hal yang sederhana. Bagaimana mungkin orang bisa layak menghadap Tuhan dengan sikap mengancam, atau berdoa telentang sambil mendekap selimut mereka, percaya bahwa Tuhan dapat mendengar mereka? Itu bukanlah kesalehan! Tujuan-Ku mengatakan ini bukanlah untuk menuntut agar orang-orang mematuhi aturan tertentu yang spesifik; setidaknya yang bisa orang lakukan adalah mencondongkan hatinya kepada Tuhan, dan datang ke hadapan-Nya dengan sikap yang saleh.

Dikutip dari "Makna Penting dan Praktik Doa" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Doa-doamu sekalian terlalu sering tidak masuk akal; engkau selalu berdoa dengan nada berikut: "Ya Tuhan! Karena Engkau telah membuat aku mengerjakan tugas ini, Engkau harus membuat semua yang kukerjakan menjadi tepat sehingga pekerjaan-Mu tidak akan terganggu dan kepentingan keluarga Tuhan tidak akan menderita kerugian apa pun. Engkau harus melindungiku ...." Doa seperti itu terlalu tidak masuk akal, bukan? Akankah Tuhan bekerja atasmu jika engkau datang ke hadapan-Nya dan berdoa sedemikian rupa? Apakah Aku akan mendengarkan jika engkau datang ke hadapan-Ku dan berbicara sedemikian rupa? Aku akan menendangmu keluar dari pintu! Bukankah engkau sama di hadapan Roh sebagaimana engkau di hadapan Kristus? Ketika orang datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, mereka harus mempertimbangkan bagaimana mereka dapat melakukannya dengan masuk akal, dan bagaimana mereka dapat menyesuaikan keadaan batin mereka untuk mencapai kesalehan dan mampu untuk tunduk. Setelah melakukannya, kemudian tidak masalah bagimu untuk melanjutkan dan berdoa; engkau akan merasakan hadirat Tuhan. Sering kali, orang berlutut dalam doa; mereka menutup mata, dan tidak ada kata-kata yang keluar kecuali, "Ya, Tuhan! Ya Tuhan!" Mengapa engkau berteriak begitu, tanpa kata-kata, untuk waktu yang lama? Keadaanmu salah. Apakah engkau semua pernah melakukan hal ini? Engkau semua sekarang tahu apa yang dapat kaulakukan dan sampai sejauh mana engkau dapat melakukannya, dan engkau telah mengevaluasi dirimu sendiri, tetapi ada banyak kali ketika engkau berada dalam keadaan abnormal. Terkadang, meskipun keadaanmu mungkin telah disesuaikan, engkau mungkin tidak tahu bagaimana ini telah terjadi, dan, lebih sering daripada tidak, tidak ada kata-kata yang muncul di benakmu dalam doa. Engkau bahkan malah menghubungkan keadaan ini dengan kurangnya pendidikan. Apakah orang harus berpendidikan tinggi untuk berdoa? Doa bukanlah sebuah karangan—hanya berbicara dengan tulus, dengan nalar orang normal. Lihatlah doa-doa Yesus (walaupun doa-doa-Nya tidak disebutkan di sini untuk membuat orang-orang mengambil tempat atau posisi-Nya): di taman Getsemani, Dia berdoa, "Jikalau mungkin, ...." Artinya, "Jika itu bisa dilakukan." Perkataan seperti ini biasa dikatakan dalam diskusi; Dia tidak berkata, "Aku memohon kepada-Mu." Dengan hati yang taat dan dalam keadaan tunduk, Dia berdoa, "Jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku: tetapi bukan seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti kehendak-Mu" (Matius 26:39). Dia tetap menaikkan doa seperti ini untuk kedua kalinya, dan yang ketiga kalinya Dia berdoa, "Jadilah kehendak-Mu." Setelah memahami maksud Bapa, Dia berkata, "Jadilah kehendak-Mu." Dia mampu sepenuhnya tunduk tanpa membuat pilihan pribadi sama sekali. Dia berkata, "Jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku." Apa artinya itu? Dia berdoa seperti itu karena Dia memikirkan penderitaan besar karena harus mencurahkan darah di kayu salib sampai napas terakhir-Nya—dan ini menyentuh masalah kematian—dan karena Dia belum sepenuhnya memahami maksud Bapa. Mengingat bahwa Dia dapat menaikkan doa seperti itu meskipun berpikir tentang penderitaan, Dia benar-benar sangat tunduk. Cara doa-Nya normal; Dia tidak mengusulkan kondisi apa pun dalam doa-Nya, dan Dia juga tidak mengatakan cawan itu harus disingkirkan. Sebaliknya, tujuan-Nya adalah untuk mencari maksud Tuhan dalam situasi yang tidak dipahami-Nya. Pertama kali Dia berdoa, Dia tidak paham, dan Dia berkata, "IJikalau mungkin, ... melainkan seperti kehendak-Mu." Dia telah mencari dan berdoa kepada Tuhan dalam keadaan ketundukan. Kedua kalinya, Dia berdoa dengan cara yang sama. Secara keseluruhan, Dia berdoa tiga kali (tentu saja, tiga doa ini tidak terjadi hanya dalam tiga hari), dan dalam doa terakhir-Nya, Dia sepenuhnya telah memahami maksud Tuhan, di mana setelah itu Dia tidak lagi memohon apa pun. Dalam dua doa-Nya yang pertama, Dia mencari dalam kondisi ketundukan. Namun, manusia sama sekali tidak berdoa seperti itu. Dalam doa-doa mereka, orang berkata, "Tuhan, aku memohon kepada-Mu untuk melakukan ini dan itu, dan aku memohon Engkau untuk menuntunku dalam hal ini dan itu, dan aku memohon agar Engkau menyiapkan kondisi tertentu bagiku ...." Mungkin Dia tidak akan menyiapkan kondisi yang sesuai untukmu dan akan membiarkanmu menanggung kesukaran. Jika orang selalu mengatakan, "Tuhan, aku memohon agar Engkau membuat persiapan untuk-Ku dan memberiku kekuatan," berdoa seperti itu sangat tidak masuk akal! Engkau harus masuk akal ketika berdoa, dan engkau harus melakukannya dengan dasar pikiran bahwa engkau sedang menundukkan dirimu. Jangan membatasi doa-doamu. Bahkan sebelum engkau mulai berdoa, engkau sudah membatasi demikian: Aku harus memohon kepada Tuhan dan meminta Dia untuk melakukan ini dan itu. Cara berdoa seperti ini sangat tidak masuk akal. Sering kali, Tuhan sama sekali tidak mendengarkan doa manusia, jadi ketika orang berdoa, mereka tidak merasakan apa pun.

Dikutip dari "Makna Penting dan Praktik Doa" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Berdoa dan mencari di hadapan Tuhan bukanlah masalah memaksa Tuhan untuk melakukan ini atau itu. Apa arti doa yang masuk akal? Apa arti doa yang tidak masuk akal? Engkau akan mengetahui hal-hal ini dari pengalaman setelah beberapa saat. Misalnya, setelah engkau berdoa, engkau mungkin merasa bahwa Roh Kudus tidak melakukan apa yang kaudoakan atau membimbingmu seperti yang kaudoakan. Lain kali engkau berdoa, engkau akan berdoa secara berbeda. Engkau tidak akan berusaha untuk memaksa Tuhan seperti yang engkau usahakan saat terakhir kali engkau berdoa atau mengajukan permohonan kepada-Nya berdasarkan keinginanmu sendiri. Engkau akan berkata: "Oh, Tuhan! Semuanya dilakukan sesuai dengan kehendak-Mu." Selama engkau berfokus pada pendekatan ini, maka, setelah beberapa saat engkau terus berdoa, engkau akan tahu apa arti bersikap tidak masuk akal. Ada juga keadaan di mana engkau merasakan dalam rohmu bahwa ketika engkau berdoa sesuai dengan keinginanmu sendiri, doamu menjadi membosankan dan engkau segera mendapati dirimu tidak tahu lagi harus berkata apa. Makin banyak yang kaukatakan, makin canggung perkataan dalam doamu. Ini membuktikan bahwa ketika engkau berdoa seperti ini, engkau sepenuhnya mengikuti keinginan daging, dan Roh Kudus tidak akan bekerja atau membimbingmu seperti itu. Ini juga adalah masalah pencarian dan pengalaman. Meskipun sekarang Aku telah selesai membicarakan denganmu tentang hal ini, kemungkinan besar engkau akan menjumpai beberapa situasi khusus dalam pengalamanmu. Doa terutama adalah tentang berbicara dengan jujur. "Ya Tuhan! Engkau tahu kerusakan manusia. Saat ini aku telah melakukan hal tidak masuk akal lainnya. Aku memiliki motif—aku orang yang curang. Aku tidak bertindak sesuai dengan kehendak-Mu atau kebenaran. Aku bertindak menurut keinginanku dan berusaha untuk membenarkan diriku sendiri. Sekarang, aku menyadari kerusakanku. Kumohon kepada-Mu untuk lebih mencerahkanku dan memungkinkanku untuk memahami kebenaran, melakukannya, dan menyingkirkan kerusakan ini." Berbicaralah seperti ini; berikan penjelasan faktual tentang hal-hal yang faktual. Kebanyakan orang sering kali tidak berdoa dengan sungguh-sungguh; mereka hanya mengingat kembali masa lalu, dengan sedikit pengetahuan dalam pikiran mereka dan kesediaan untuk bertobat, tetapi mereka tidak merenungkan ataupun memahami kebenaran. Merenungkan firman Tuhan dan mencari kebenaran sambil berdoa adalah jauh lebih mendalam daripada sekadar kenangan dan pengetahuan. Jamahan yang melawatmu oleh pekerjaan Roh Kudus serta pencerahan dan penerangan pekerjaan-Nya yang disediakan bagimu melalui firman Tuhan, itulah yang menuntunmu pada pengetahuan sejati dan pertobatan sejati; semua ini jauh lebih mendalam daripada pemikiran dan pengetahuan manusia. Ini adalah sesuatu yang harus kauketahui dengan baik. Jika engkau hanya sibuk dengan pemikiran dan pemeriksaan yang dangkal dan sembarangan, jika engkau tidak memiliki jalan yang tepat untuk melakukan penerapan, dan jika engkau membuat sedikit kemajuan ke arah kebenaran, engkau akan tetap tidak mampu untuk berubah.

Dikutip dari "Makna Penting dan Praktik Doa" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Bagaimana manusia bisa menjaga hubungan dengan Tuhan? Dan apa yang seharusnya mereka andalkan untuk melakukan hal ini? Mereka harus mengandalkan pada menaikkan permohonan kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan berkomunikasi dengan Tuhan di dalam hati mereka. Dengan hubungan seperti ini, orang selalu hidup di hadapan Tuhan, dan orang semacam itu sangat damai. Sebagian orang menghabiskan seluruh waktu mereka dalam tindakan lahiriah, menyibukkan diri mereka dengan tugas-tugas lahiriah. Setelah satu atau dua hari tanpa kehidupan rohani, mereka tidak merasakan apa pun; setelah tiga atau lima hari, atau satu atau dua bulan, mereka tetap tidak merasakan apa pun; mereka tidak berdoa, menaikkan permohonan, atau mengadakan persekutuan rohani. Menaikkan permohonan adalah ketika sesuatu terjadi padamu, dan engkau meminta Tuhan untuk menolong, membimbing, membekali, mencerahkanmu, dan membuatmu dapat memahami kehendak-Nya dan tahu apa yang harus dilakukan sejalan dengan kebenaran. Lingkup doa lebih luas: terkadang engkau mengucapkan apa yang di dalam hatimu, berbicara kepada Tuhan tentang kesulitan atau kenegatifan dan kelemahanmu; jadi, engkau juga berdoa kepada Tuhan ketika engkau memberontak, atau kalau tidak, engkau berbicara kepada-Nya tentang hal-hal yang terjadi padamu setiap hari, baik hal-hal itu jelas bagimu atau tidak. Inilah yang disebut doa. Lingkup doa pada dasarnya berbicara dan membuka diri kepada Tuhan. Terkadang doa dilakukan secara teratur waktunya, terkadang tidak; engkau bisa berdoa kapan pun dan di mana pun yang kauinginkan. Persekutuan rohani tidak terlalu formal. Terkadang itu dilakukan karena engkau memiliki masalah, terkadang bukan karena engkau memiliki masalah. Terkadang itu melibatkan kata-kata, terkadang tidak. Ketika engkau memiliki masalah, engkau membicarakannya dengan Tuhan dan berdoa; ketika engkau tidak memiliki masalah, engkau berpikir tentang betapa Tuhan mengasihi manusia, betapa Dia peduli terhadap manusia, bagaimana Dia menegur manusia. Engkau dapat berbicara dengan Tuhan kapan pun atau di mana pun. Inilah yang dimaksud dengan persekutuan rohani. Terkadang, ketika engkau sedang melakukan apa yang biasanya kaulakukan dan engkau memikirkan sesuatu yang membuatmu kesal, engkau tidak perlu berlutut atau menutup mata. Engkau hanya perlu berkata kepada Tuhan di dalam hatimu: "Ya Tuhan, kumohon bimbing aku dalam hal ini. Aku lemah, aku tidak mampu mengatasinya." Hatimu terjamah; engkau hanya mengucapkan beberapa patah kata yang sederhana, dan Tuhan tahu. Terkadang, engkau merindukan kampung halaman dan berkata, "Ya Tuhan! Aku sangat merindukan kampung halaman ...." Engkau tidak mengatakan siapa yang secara khusus kaurindukan. Engkau hanya merasa sedih dan membicarakan hal ini kepada Tuhan. Masalah hanya bisa diselesaikan ketika engkau berdoa kepada Tuhan dan mengatakan apa yang ada di hatimu. Bisakah berbicara dengan orang lain menyelesaikan masalah? Tidak apa-apa jika engkau bertemu dengan seseorang yang memahami kebenaran, tetapi jika mereka tidak memahami kebenaran—jika engkau bertemu dengan seseorang yang negatif dan lemah—engkau dapat memengaruhi mereka. Jika engkau berbicara kepada Tuhan, Tuhan akan menghiburmu dan menjamahmu. Jika engkau dapat membaca firman Tuhan dengan tenang di hadapan Tuhan, engkau akan dapat memahami kebenaran dan menyelesaikan masalah tersebut. Firman Tuhan akan membuatmu menemukan jalan keluar, untuk melewati rintangan kecil ini. Rintangan ini tidak akan membuatmu tersandung, tidak akan membatasimu, juga tidak akan memengaruhi pelaksanaan tugasmu. Ada kalanya engkau tiba-tiba merasa sedikit sedih atau gelisah di dalam hatimu. Di saat seperti itu, jangan ragu untuk berdoa kepada Tuhan. Mungkin engkau tidak menaikkan permohonan kepada Tuhan, engkau mungkin tidak ingin Tuhan melakukan sesuatu atau mencerahkan-Mu—engkau hanya berbicara kepada Tuhan dan terbuka kepada-Nya kapan pun, di mana pun engkau berada. Apa yang harus selalu kaurasakan? Yaitu, "Tuhan selalu menyertaiku, Dia tidak pernah meninggalkanku, aku bisa merasakannya. Di mana pun aku berada atau apa pun yang kulakukan—aku mungkin sedang beristirahat atau berada dalam sebuah pertemuan, atau sedang melaksanakan tugasku—di dalam hatiku, aku tahu bahwa tanganku dituntun oleh Tuhan, bahwa Dia tidak pernah meninggalkanku." Terkadang, mengingat bagaimana engkau telah melewati setiap hari selama beberapa tahun terakhir, engkau merasa bahwa tingkat pertumbuhanmu telah bertambah, bahwa engkau telah dibimbing oleh Tuhan, bahwa kasih Tuhan telah melindungimu selama ini. Merenungkan hal-hal ini, engkau berdoa dalam hati, menaikkan ucapan syukur kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu! Aku sangat lemah dan rapuh, begitu mendalam kerusakanku. Tanpa Engkau membimbingku seperti ini, aku tidak akan bisa hidup sampai sekarang dengan mengandalkan diriku sendiri." Bukankah ini yang disebut persekutuan rohani? Jika orang sering dapat berbicara dengan Tuhan dengan cara ini, bukankah mereka akan memiliki banyak hal untuk dikatakan kepada Tuhan? Mereka tidak akan bisa melewati berhari-hari tanpa berbicara kepada Tuhan. Ketika engkau tidak memiliki apa pun untuk dikatakan kepada Tuhan, Tuhan tidak ada di dalam hatimu. Jika Tuhan ada di dalam hatimu, dan engkau memiliki iman kepada Tuhan, engkau akan dapat berbicara tentang segala sesuatu yang ada di dalam hatimu kepada-Nya, termasuk hal-hal yang kaubicarakan dengan sahabat karibmu. Bahkan, Tuhan adalah sahabat karibmu yang paling dekat. Jika engkau memperlakukan Tuhan sebagai sahabat karibmu yang paling dekat, sebagai keluargamu yang kepada-Nya engkau paling bergantung, paling andalkan, paling percayai, menjadi sosok yang paling kaupercaya untuk mengungkapkan isi hatimu, yang kepada-Nya engkau paling dekat, maka akan mustahil bagimu untuk tidak memiliki apa pun untuk dikatakan kepada Tuhan. Jika engkau selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan kepada Tuhan, bukankah engkau akan selalu hidup di hadapan Tuhan? Jika engkau selalu dapat hidup di hadapan Tuhan, di setiap saat, engkau akan merasakan bagaimana Tuhan membimbingmu, bagaimana Dia memelihara dan melindungimu, bagaimana Dia memberimu kedamaian dan sukacita, bagaimana Dia memberkatimu, bagaimana Dia mencerahkanmu, dan bagaimana Dia menegurmu, mendisiplinkanmu, mendidikmu, dan menghakimi serta menghajarmu; semua ini akan menjadi jelas dan nyata bagimu di dalam hatimu. Engkau tidak hanya akan kebingungan setiap hari, tidak tahu apa pun, hanya mengatakan engkau percaya kepada Tuhan, melaksanakan tugasmu dan menghadiri pertemuan hanya demi penampilan lahiriah, membaca firman Tuhan dan berdoa setiap hari, hanya melakukan segalanya dengan asal-asalan—semua aktivitasmu ini tidak hanya akan menjadi ritual keagamaan lahiriah seperti ini. Sebaliknya, di dalam hatimu, engkau akan memandang Tuhan dan berdoa kepada Tuhan di setiap waktu, engkau akan berbicara dengan Tuhan setiap saat, dan engkau akan dapat tunduk kepada Tuhan, dan hidup di hadapan Tuhan.

Dikutip dari "Mereka yang Tidak Dapat Selalu Hidup Di hadapan Tuhan Adalah Orang yang Tidak Percaya" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

4. Cara agar orang dapat memasuki doa yang benar