3. Cara orang seharusnya melakukan kebenaran supaya masuk ke dalam kenyataan kebenaran

3. Cara orang seharusnya melakukan kebenaran supaya masuk ke dalam kenyataan kebenaran

Firman Tuhan yang Relevan:

Tuhan tidak menuntut manusia untuk mampu berbicara tentang realitas; itu terlalu mudah, bukan begitu? Mengapa kemudian Tuhan berbicara tentang jalan masuk ke dalam kehidupan? Mengapa Dia berbicara tentang perubahan? Jika orang hanya mampu mengatakan omong kosong tentang realitas, dapatkah mereka mencapai perubahan watak? Laskar kerajaan yang baik bukan dilatih untuk menjadi sekelompok orang yang hanya mampu berbicara tentang realitas atau membual; sebaliknya, mereka dilatih untuk hidup dalam firman Tuhan setiap saat, pantang menyerah apa pun kemunduran yang mereka hadapi, dan selalu hidup sesuai dengan firman Tuhan serta tidak kembali kepada dunia. Inilah realitas yang Tuhan maksudkan; inilah tuntutan Tuhan terhadap manusia. Oleh karena itu, jangan memandang realitas yang diucapkan oleh Tuhan itu terlalu sederhana. Sekadar mengalami pencerahan Roh Kudus tidak sama artinya dengan memiliki realitas. Ini bukanlah tingkat pertumbuhan manusia—ini adalah anugerah Tuhan, dan manusia tidak memiliki sumbangsih di dalamnya. Setiap orang harus menanggung penderitaan Petrus, dan bahkan lebih lagi, memiliki kemuliaan Petrus, yang harus mereka hidupi setelah mereka memperoleh pekerjaan Tuhan. Hanya ini yang bisa disebut realitas. Jangan berpikir bahwa engkau memiliki realitas hanya karena engkau mampu membicarakannya; ini merupakan kekeliruan. Pemikiran semacam itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan tidak memiliki makna penting yang nyata. Jangan mengatakan hal-hal seperti itu di masa mendatang—hentikan perkataan seperti itu! Semua orang yang memiliki pemahaman yang salah akan firman Tuhan adalah orang yang tidak percaya. Mereka tidak memiliki pengetahuan nyata, apalagi tingkat pertumbuhan yang nyata; mereka hanyalah orang-orang bodoh tanpa realitas. Dengan kata lain, semua orang yang hidup di luar esensi firman Tuhan adalah orang-orang yang tidak percaya. Mereka yang dianggap orang tidak percaya oleh manusia adalah binatang buas di mata Tuhan, dan mereka yang dianggap orang tidak percaya oleh Tuhan adalah mereka yang tidak memiliki firman Tuhan sebagai hidup mereka. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa mereka yang tidak memiliki realitas firman Tuhan dan yang gagal untuk hidup dalam firman Tuhan adalah orang yang tidak percaya. Maksud Tuhan adalah untuk menjadikan setiap orang hidup dalam realitas firman Tuhan—bukan sekadar membuat setiap orang membicarakan realitas, tetapi lebih dari itu, untuk memungkinkan setiap orang untuk hidup dalam realitas firman-Nya.

Dikutip dari "Hanya Melakukan Kebenaranlah yang Berarti Memiliki Realitas" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apa hal terpenting dalam menerapkan kebenaran? Bukankah engkau harus terlebih dahulu memahami prinsip-prinsip? Apa arti prinsip? Prinsip adalah sisi praktis dari kebenaran. Ketika engkau membaca kalimat firman Tuhan, engkau berpikir itu adalah kebenaran, tetapi engkau tidak memahami prinsip-prinsip di dalamnya; engkau merasa kalimat itu benar, tetapi engkau tidak tahu dalam hal apa kalimat itu bersifat praktis, atau keadaan apa yang dituju. Engkau tidak dapat memahami prinsip atau jalan penerapannya. Bagimu, kebenaran yang kaurasakan ini hanyalah doktrin. Namun, begitu engkau memahami kebenaran kenyataan dari kalimat itu, serta apa tuntutan Tuhan—jika engkau benar-benar memahami hal-hal ini, dan mampu membayar harga dan menerapkannya—engkau akan mendapatkan kebenaran itu. Ketika engkau mendapatkan kebenaran itu, sedikit demi sedikit, watakmu yang rusak diselesaikan, dan kebenaran itu bekerja dalam dirimu. Ketika engkau mampu menerapkan kenyataan kebenaran, dan ketika pelaksanaan tugasmu, setiap tindakanmu, dan tingkah lakumu sebagai pribadi didasarkan pada prinsip-prinsip penerapan kebenaran ini, bukankah engkau kemudian berubah? Di atas segalanya, engkau telah menjadi orang yang memiliki kebenaran kenyataan. Bukankah orang yang memiliki kebenaran kenyataan sama dengan orang yang bertindak dengan prinsip? Dan bukankah orang yang bertindak dengan prinsip sama dengan orang yang memiliki kebenaran? Bukankah orang yang memiliki kebenaran juga mampu sesuai dengan kehendak Tuhan? Begitulah hal-hal ini berhubungan.

Dikutip dari "persekutuan Tuhan"

Terlepas dari aspek realitas kebenaran mana yang telah engkau dengar, jika engkau menentangnya, jika engkau melakukan firman ini dalam hidupmu sendiri, dan memasukkannya ke dalam penerapanmu sendiri, engkau pasti akan mendapatkan sesuatu, dan pasti akan berubah. Jika engkau memasukkan firman ini ke dalam perutmu, dan menghafalnya di otakmu, engkau tidak akan pernah berubah. Saat mendengarkan khotbah, engkau seharusnya merenung sebagai berikut: "Keadaan seperti apa yang dimaksud oleh firman ini? Aspek esensi apa yang firman maksudkan? Dalam hal apa aku harus menerapkan aspek kebenaran ini? Setiap kali aku melakukan sesuatu yang berhubungan dengan aspek kebenaran ini, apakah aku sedang melakukan penerapan sesuai dengan firman? Dan ketika aku menerapkannya, apakah keadaanku sesuai dengan firman ini? Jika tidak, lalu apakah aku harus mencari, bersekutu, atau menunggu?" Apakah engkau melakukan penerapan dengan cara ini dalam hidupmu? Jika tidak, itu berarti hidupmu tanpa Tuhan dan tanpa kebenaran. Engkau hidup menurut huruf-huruf yang tertulis dan doktrin atau berdasarkan kepentingan, keyakinan, dan antusiasmemu sendiri. Orang yang tidak memiliki kebenaran sebagai kenyataan adalah orang yang tidak memiliki kenyataan, dan orang yang tidak memiliki firman Tuhan sebagai kenyataan mereka adalah orang yang belum memasuki firman-Nya. Apakah engkau memahami apa yang Kukatakan? Yang terbaik adalah jika engkau memahaminya, tetapi apa pun pemahamanmu tentang hal-hal itu, dan sebanyak apa pun engkau memahami apa yang telah kaudengar, yang terpenting adalah engkau mampu untuk memasukkan apa yang telah kaupahami ke dalam hidupmu dan menerapkannya. Hanya dengan begitulah tingkat pertumbuhanmu akan dapat bertumbuh, dan baru setelah itulah, perubahan akan terjadi dalam watakmu.

Dikutip dari "Pengamalan Paling Mendasar untuk Menjadi Orang Jujur" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Masuk ke dalam kenyataan kebenaran bukanlah perkara sederhana. Kuncinya adalah berfokus pada mencari kebenaran dan menerapkan kebenaran. Engkau harus menyimpan hal-hal ini di dalam hatimu setiap hari. Masalah apa pun yang engkau hadapi, jangan selalu melindungi kepentinganmu sendiri; sebaliknya, belajarlah untuk mencari kebenaran dan refleksi diri. Kerusakan apa pun yang disingkapkan dalam dirimu, engkau tidak boleh membiarkannya begitu saja; yang terbaik adalah jika engkau dapat berefleksi dan mengenali esensi rusakmu. Jika, dalam situasi sehari-hari, pikiranmu tertuju pada bagaimana menyelesaikan watak rusakmu, bagaimanamenerapkan kebenaran, dan apa kebenaran prinsip itu, itu berarti engkau mampu belajar cara menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalahmu sesuai dengan firman Tuhan. Dengan melakukannya, engkau akan secara berangsur masuk ke dalam kenyataan. Jika hatimu dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana mencapai posisi yang lebih tinggi, atau apa yang harus kaulakukan di hadapan orang lain untuk membuat mereka mengagumimu, engkau sedang berada di jalan yang salah. Itu berarti engkau sedang melakukan sesuatu untuk Iblis; engkau sedang memberikan pelayanan. Jika hatimu dipenuhi dengan pemikiran tentang bagaimana agar engkau berubah sehingga engkau semakin memiliki keserupaan dengan manusia, sehingga engkau sesuai dengan maksud Tuhan, bisa tunduk kepada-Nya, mampu menghormati-Nya, menunjukkan penguasaan diri dalam segala hal yang engkau lakukan, dan dapat sepenuhnya menerima pemeriksaan-Nya, maka keadaanmu semakin lama akan menjadi semakin baik. Inilah artinya menjadi orang yang hidup di hadapan Tuhan. Dengan demikian, ada dua jalan: jalan yang satu hanya menekankan perilaku, memenuhi ambisi, keinginan, niat, dan rencananya sendiri; ini artinya hidup di hadapan Iblis dan hidup di bawah wilayah kekuasaannya. Jalan lainnya menekankan bagaimana memuaskan kehendak Tuhan, memasuki kenyataan kebenaran, tunduk kepada Tuhan, tidak memiliki kesalahpahaman atau ketidaktaatan terhadap-Nya, semua bertujuan agar dapat memperoleh rasa hormat kepada Tuhan dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Inilah artinya hidup di hadapan Tuhan.

Dikutip dari "Hanya Jika Orang Melakukan Kebenaran, Mereka Dapat Memiliki Kemanusiaan yang Normal" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Orang yang sungguh-sungguh mengorbankan diri mereka bagi Tuhan menyerahkan segenap keberadaan mereka di hadapan-Nya; mereka sungguh-sungguh tunduk pada semua perkataan-Nya, dan mampu menerapkan firman-Nya. Mereka menjadikan firman Tuhan sebagai fondasi keberadaan mereka, dan mampu dengan sungguh-sungguh mencari di dalam firman Tuhan untuk menemukan bagian mana yang harus mereka terapkan. Orang-orang seperti itulah yang benar-benar hidup di hadapan Tuhan. Jika apa yang engkau lakukan bermanfaat bagi hidupmu, dan melalui makan dan minum firman-Nya engkau dapat memenuhi kebutuhan batin dan kekuranganmu sehingga watak hidupmu berubah, engkau akan memuaskan kehendak Tuhan. Jika engkau bertindak sesuai dengan tuntutan Tuhan, dan jika engkau tidak memuaskan daging, melainkan memuaskan kehendak-Nya, maka dalam hal ini engkau telah masuk ke dalam kenyataan firman-Nya. Ketika membicarakan tentang masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan secara lebih nyata, maksudnya adalah engkau mampu melaksanakan tugasmu dan memenuhi tuntutan Tuhan. Hanya tindakan-tindakan praktis semacam inilah yang dapat disebut masuk ke dalam kenyataan firman-Nya. Jika engkau mampu masuk ke dalam kenyataan ini, engkau akan memiliki kebenaran. Inilah awal dari masuk ke dalam kenyataan; engkau harus terlebih dahulu menjalani latihan ini dan hanya setelah itulah engkau akan mampu masuk ke dalam kenyataan yang jauh lebih dalam.

Dikutip dari "Orang yang Sungguh-Sungguh Mengasihi Tuhan adalah Mereka yang Mampu Sepenuhnya Tunduk pada Kenyataan Diri-Nya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sejak manusia percaya kepada Tuhan, mereka telah menyimpan banyak niat yang tidak benar. Ketika engkau tidak melakukan kebenaran, engkau merasa semua niatmu benar, tetapi ketika sesuatu terjadi kepadamu, engkau akan melihat bahwa ada banyak niat yang tidak benar dalam dirimu. Oleh karena itu, ketika Tuhan menyempurnakan manusia, Dia membuat mereka menyadari bahwa ada banyak pemahaman dalam diri mereka yang menghalangi pengenalan mereka akan Tuhan. Ketika engkau menyadari bahwa niatmu salah, ketika engkau berhenti bertindak menuruti pemahaman dan niatmu, dan ketika engkau dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan serta berdiri teguh di posisimu dalam segala hal yang terjadi kepadamu, ini membuktikan bahwa engkau telah memberontak terhadap kedaginganmu. Ketika engkau memberontak terhadap daging, akan ada peperangan dalam dirimu yang tidak terelakkan. Iblis akan berusaha untuk membuat orang-orang mengikutinya, akan berusaha untuk membuat mereka mengikuti pemahaman daging dan menjunjung tinggi kepentingan daging—tetapi firman Tuhan akan mencerahkan dan menerangi orang-orang di dalam batin mereka, dan pada saat ini, tergantung pada dirimu apakah engkau mengikuti Tuhan atau mengikuti Iblis. Tuhan meminta orang untuk melakukan kebenaran terutama untuk menangani hal-hal dalam diri mereka, untuk menangani pemikiran dan pemahaman yang tidak berkenan di hati Tuhan. Roh Kudus menjamah hati manusia dan mencerahkan serta menerangi mereka. Jadi ada peperangan di balik semua hal yang terjadi: setiap kali orang melakukan kebenaran, atau menerapkan kasih mereka kepada Tuhan, ada peperangan besar, dan walaupun daging mereka tampak baik-baik saja, sebenarnya di lubuk hati mereka, peperangan antara hidup dan mati akan terus terjadi—dan setelah peperangan yang sengit ini, setelah banyak perenungan, barulah kemenangan atau kekalahan dapat diputuskan. Orang tidak tahu entah harus tertawa atau menangis. Karena banyak niat yang salah dalam diri manusia, atau karena banyak pekerjaan Tuhan yang berseberangan dengan pemahaman mereka, tatkala orang melakukan kebenaran, peperangan yang dahsyat pun terjadi di balik layar. Setelah melakukan kebenaran ini, di balik layar, orang akan meneteskan begitu banyak air mata kesedihan sebelum pada akhirnya memutuskan untuk memuaskan Tuhan. Karena peperangan inilah manusia menanggung penderitaan dan pemurnian; inilah penderitaan yang sejati. Ketika peperangan menghampirimu, jika engkau dapat sungguh-sungguh berdiri di pihak Tuhan, engkau akan dapat memuaskan Tuhan. Saat melakukan kebenaran, tidak terhindarkan bahwa orang akan menderita dalam batinnya; apabila, ketika mereka melakukan kebenaran, segala sesuatu dalam diri mereka benar, mereka tidak perlu disempurnakan oleh Tuhan. Tidak akan ada peperangan, dan mereka tidak akan menderita. Karena ada banyak hal dalam diri manusia yang membuatnya tidak layak untuk dipakai Tuhan, dan karena ada banyak watak pemberontak dalam daging, maka manusia harus belajar memberontak terhadap kedagingan secara lebih mendalam. Inilah yang Tuhan sebut penderitaan yang Dia minta untuk dijalani manusia bersama-Nya. Ketika engkau menghadapi kesulitan, bergegaslah berdoa kepada Tuhan: "Ya, Tuhan! Aku ingin memuaskan-Mu, aku ingin menanggung penderitaan terakhir ini untuk memuaskan hati-Mu, dan betapa pun besarnya rintangan yang kuhadapi, aku harus tetap memuaskan-Mu. Sekalipun aku harus menyerahkan seluruh hidupku, aku harus tetap memuaskan-Mu!" Dengan tekad ini, tatkala engkau berdoa seperti ini, engkau akan dapat berdiri teguh dalam kesaksianmu. Setiap kali orang-orang melakukan kebenaran, setiap kali mereka menjalani pemurnian, setiap kali mereka diuji, dan setiap kali pekerjaan Tuhan datang kepada mereka, manusia harus menanggung penderitaan yang bukan kepalang. Semua ini adalah ujian bagi manusia, dan karena itu di dalam diri mereka semua terjadi peperangan. Inilah harga sebenarnya yang mereka bayar. Lebih banyak membaca firman Tuhan dan lebih menyibukkan diri adalah sebagian dari harga itu. Itulah yang harus dilakukan orang, itulah tugas mereka, dan tanggung jawab yang harus mereka penuhi, tetapi manusia harus mengesampingkan hal-hal yang perlu dikesampingkan di dalam diri mereka. Jika engkau tidak mengesampingkannya, sebesar apa pun penderitaan lahiriahmu, dan sebesar apa pun kesibukanmu, semuanya akan sia-sia! Artinya, hanya perubahan dalam dirimu yang dapat menentukan apakah penderitaan lahiriahmu berharga. Ketika watak batiniahmu telah berubah dan engkau telah melakukan kebenaran, barulah semua penderitaan lahiriahmu akan mendapatkan perkenanan Tuhan; jika tidak ada perubahan dalam watak batiniahmu, sebanyak apa pun penderitaan yang kautanggung atau sesibuk apa pun engkau secara lahiriah, tidak akan ada perkenanan dari Tuhan—dan penderitaan yang tidak diperkenan oleh Tuhan adalah sia-sia. Dengan demikian, apakah harga yang telah kaubayar diperkenan oleh Tuhan atau tidak, itu ditentukan oleh apakah ada perubahan dalam dirimu atau tidak, dan ditentukan oleh apakah engkau melakukan kebenaran dan memberontak terhadap niat dan pemahamanmu sendiri untuk memuaskan kehendak Tuhan, memperoleh pengenalan akan Tuhan, dan menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan atau tidak. Sesibuk apa pun dirimu, jika engkau tidak pernah tahu bagaimana memberontak terhadap niatmu sendiri, tetapi hanya mengupayakan aktivitas dan semangat lahiriah, dan tidak pernah memperhatikan hidupmu, maka penderitaanmu itu akan sia-sia. Jika, dalam lingkungan tertentu, ada sesuatu yang ingin kaukatakan, tetapi, di dalam dirimu, engkau merasa bahwa mengatakan hal itu tidaklah baik, bahwa mengatakannya tidaklah berguna untuk saudara-saudarimu dan mungkin akan menyakiti mereka, engkau tidak akan mengatakannya, engkau lebih memilih untuk menderita di dalam dirimu, karena perkataan ini tidak dapat memenuhi kehendak Tuhan. Pada saat ini, akan ada peperangan dalam dirimu, tetapi engkau akan bersedia mengalami penderitaan dan melepaskan apa yang kausukai, Engkau akan bersedia menanggung penderitaan ini demi memuaskan Tuhan, dan walaupun engkau akan menderita kesakitan di dalam dirimu, engkau tidak menuruti keinginan dagingmu, dan hati Tuhan akan dipuaskan, dan karena itu engkau sendiri akan merasa dihiburkan di dalam dirimu. Seperti inilah sesungguhnya membayar harga, dan inilah harga diinginkan Tuhan. Jika engkau melakukan penerapan seperti ini, Tuhan pasti akan memberkatimu; jika engkau tidak dapat mencapai ini, sebanyak apa pun pemahamanmu, atau sefasih apa pun engkau berbicara, semua itu tidak ada artinya! Jika, dalam jalan mengasihi Tuhan, engkau dapat berdiri di pihak Tuhan ketika Dia berperang melawan Iblis, dan engkau tidak kembali kepada Iblis, berarti engkau telah memiliki kasih kepada Tuhan, dan engkau akan berdiri teguh dalam kesaksianmu.

Dikutip dari "Hanya Mengasihi Tuhan yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Kesimpulannya, menempuh jalan Petrus dalam iman seseorang kepada Tuhan berarti menempuh jalan mengejar kebenaran, yang juga merupakan jalan untuk benar-benar belajar mengenal diri sendiri dan mengubah watak seseorang. Hanya dengan menempuh jalan Petrus, orang akan berada di jalan disempurnakan oleh Tuhan. Seseorang harus mengetahui dengan jelas bagaimana tepatnya menempuh jalan Petrus dan juga cara melakukannya. Pertama, orang itu harus mengesampingkan niat pribadinya, pengejarannya yang tidak benar, dan bahkan keluarga dan semua hal yang berkaitan dengan dagingnya sendiri. Dia harus berbakti dengan sepenuh hati; yang berarti, dia harus sepenuhnya mengabdikan diri kepada firman Tuhan, berfokus pada makan dan minum firman Tuhan, memusatkan perhatian pada pencarian akan kebenaran dan pencarian akan maksud Tuhan di dalam firman-Nya, dan berusaha memahami kehendak Tuhan dalam segala hal. Inilah metode penerapan yang paling mendasar dan paling vital. Inilah yang dahulu dilakukan Petrus setelah berjumpa dengan Yesus, dan hanya dengan melakukan penerapan dengan cara inilah orang mampu mencapai hasil terbaik. Pengabdian sepenuh hati kepada firman Tuhan terutama melibatkan pencarian akan kebenaran, mencari maksud Tuhan dalam firman-Nya, berfokus pada memahami kehendak Tuhan, dan memahami serta mendapatkan lebih banyak kebenaran dari firman-Nya. Ketika membaca firman-Nya, Petrus tidak berfokus pada pemahaman doktrin, apalagi pada memperoleh pengetahuan teologis. Sebaliknya, dia memusatkan perhatian pada memahami kebenaran dan memahami kehendak Tuhan, dan juga mencapai pemahaman tentang watak-Nya dan keindahan-Nya. Petrus juga berupaya memahami berbagai keadaan manusia yang rusak dari firman Tuhan serta natur manusia yang rusak dan kekurangan manusia yang sebenarnya, sehingga memenuhi semua aspek tuntutan yang Tuhan buat terhadap manusia untuk memuaskan-Nya. Petrus melakukan begitu banyak penerapan yang benar sesuai firman Tuhan; inilah yang paling selaras dengan kehendak Tuhan, dan inilah cara terbaik bagi seseorang untuk bekerja sama dalam mengalami pekerjaan Tuhan. Ketika mengalami ratusan ujian dari Tuhan, Petrus memeriksa dirinya sendiri dengan ketat terhadap setiap firman penghakiman Tuhan atas manusia, setiap firman pengungkapan manusia oleh Tuhan, dan setiap firman mengenai tuntutan-Nya terhadap manusia, dan berusaha keras untuk memahami makna dari firman itu. Dengan sungguh-sungguh, dia berusaha merenungkan dan menghafalkan setiap kata yang Yesus katakan kepadanya, dan mencapai hasil yang sangat baik. Melalui cara penerapan ini, dia mampu mencapai pemahaman tentang dirinya sendiri dari firman Tuhan, dan dia tidak hanya menjadi paham tentang berbagai keadaan manusia yang rusak, tetapi dia juga menjadi paham tentang esensi, natur, dan berbagai kekurangan manusia. Inilah yang dimaksud dengan benar-benar memahami diri sendiri. Dari firman Tuhan, Petrus tidak hanya mencapai pemahaman yang benar tentang dirinya sendiri, tetapi dari hal-hal yang diungkapkan dalam firman Tuhan—watak Tuhan yang benar, apa yang Dia miliki dan siapa Dia, kehendak Tuhan bagi pekerjaan-Nya, tuntutan-Nya terhadap umat manusia—dari firman ini dia mulai mengenal Tuhan sepenuhnya. Dia mulai mengenal watak Tuhan dan esensi-Nya; dia mulai mengenal dan memahami apa yang Tuhan miliki dan siapa Dia, juga keindahan Tuhan dan tuntutan Tuhan terhadap manusia. Sekalipun Tuhan pada waktu itu tidak berbicara sebanyak yang dilakukan-Nya pada saat ini, ada berbagai hasil yang tercapai dalam diri Petrus dalam aspek-aspek ini. Ini adalah hal yang langka dan berharga. Petrus mengalami ratusan ujian tetapi tidak menderita dengan sia-sia. Dia tidak hanya menjadi paham tentang dirinya sendiri dari firman dan pekerjaan Tuhan, tetapi dia juga menjadi kenal akan Tuhan. Di samping itu, dia juga secara khusus memusatkan perhatiannya pada tuntutan Tuhan atas manusia di dalam firman-Nya, dan dalam aspek apa sajakah manusia seharusnya memuaskan Tuhan agar sejalan dengan kehendak Tuhan. Dia berusaha keras dalam aspek ini dan mencapai kejelasan penuh; ini sangat bermanfaat bagi jalan masuknya sendiri. Apa pun yang Tuhan firmankan, selama firman itu dapat menjadi hidup dan merupakan kebenaran, dia mampu mengukirnya di dalam hatinya untuk sering merenungkannya dan memahaminya. Setelah mendengar firman yang Yesus katakan, dia mampu mengingatnya, yang menunjukkan bahwa dia sangat berfokus pada firman Tuhan, dan dia benar-benar mencapai hasil pada akhirnya. Artinya, dia dapat dengan bebas menerapkan firman Tuhan, melakukan kebenaran secara akurat dan sejalan dengan kehendak Tuhan, bertindak sepenuhnya sesuai dengan maksud Tuhan, dan meninggalkan pendapat serta imajinasi pribadinya. Dengan cara ini dia masuk ke dalam kenyataan firman Tuhan.

Dikutip dari "Cara Menempuh Jalan Petrus" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

3. Cara orang seharusnya melakukan kebenaran supaya masuk ke dalam kenyataan kebenaran