47. Arti Sebenarnya Pemberontakan Terhadap Tuhan

47. Arti Sebenarnya Pemberontakan Terhadap Tuhan

Oleh Saudara Zhang Jun, Provinsi Liaoning

Di masa lalu, aku percaya bahwa "pemberontakan terhadap Tuhan" berarti mengkhianati Tuhan, meninggalkan gereja dan kembali ke dunia, atau melalaikan tugas kita; kupikir perilaku-perilaku ini merupakan pemberontakan, dan bahwa orang-orang yang memberontak terhadap Tuhan semuanya akan disingkirkan oleh Tuhan, dan pada akhirnya iman mereka kepada Tuhan akan berakhir dalam kegagalan. Jadi, aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh sama sekali memberontak terhadap Tuhan seperti yang mereka lakukan. Karena itu, aku bersikap hati-hati dalam semua upayaku dan dengan tunduk menerima semua tugas yang diatur oleh gereja untuk kulakukan. Aku tidak pernah menyerahkan tugasku saat aku ditangani dan dipangkas karena tidak melakukan tugasku dengan benar, juga tidak menarik diri dari gereja saat ujian menimpa, terlepas kesulitan apa pun. Karena itu, aku yakin bahwa aku tidak pernah sekalipun memberontak terhadap Tuhan, dan merasa bahwa aku telah mencapai tingkat pertumbuhan tertentu, yakin bahwa aku akan mengikuti Tuhan sampai akhir, dan memperoleh keselamatan pada akhirnya.

Suatu hari selama saat teduhku, aku membaca ini dalam sebuah khotbah: "Ada beberapa jenis pemberontakan terhadap Tuhan. Salah satu jenis pemberontakan adalah melawan kehendak Tuhan atau melawan firman-Nya; jenis yang lain adalah memiliki watak yang congkak, tidak memiliki Tuhan dalam hatinya, dan dengan demikian membual dan memusuhi Tuhan—inilah pemberontakan oleh karena tidak taat dan menentang Tuhan; ada satu jenis lagi, yakni pemberontakan karena mengkhianati Tuhan dan meninggalkan Tuhan. ... Perilaku memberontak yang sering kali kita bahas dalam persekutuan mengacu terutama pada kedua jenis yang pertama. Ini karena orang-orang yang mengkhianati dan meninggalkan Tuhan tidak berada dalam lingkup penyelamatan Tuhan, dan perilaku memberontak yang disebutkan dalam firman Tuhan juga merupakan kedua jenis yang pertama; jenis pemberontakan yang ketiga tidak disebutkan. Kita tidak boleh salah memahami atau salah menafsirkan maksud-maksud Tuhan, dengan berkeyakinan bahwa hanya mengkhianati atau meninggalkan Tuhanlah yang dapat disebut sebagai pengkhianatan terhadap Tuhan, seakan-akan melawan firman-Nya atau memiliki watak yang congkak bukanlah sejenis pemberontakan. Ini benar-benar pemahaman yang sepihak! Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemberontakan? Bagaimanakah seharusnya orang mengenalinya? Menurut firman Tuhan, semua hal yang tidak sesuai dengan Tuhan adalah musuh-Nya, dan semua hal yang bertentangan dengan firman Tuhan memberontak terhadap firman-Nya. Memberontak terhadap firman Tuhan berarti memberontak terhadap Tuhan, dan bertindak sebagai musuh-Nya juga berarti memberontak terhadap-Nya.Tampaknya kedua prinsip ini tidak sejalan dengan pemahaman manusia, tetapi justru inilah esensi masalahnya" (Persekutuan dari Atas). Setelah membaca khotbah ini, aku menyadari bahwa memberontak terhadap Tuhan bukanlah sekadar ungkapan orang mengkhianati Dia, meninggalkan gereja, ataupun melalaikan tugasnya. Sebaliknya, perilaku yang melawan kehendak Tuhan atau firman-Nya, atau perilaku yang menentang Tuhan juga merupakan bentuk pemberontakan. Dengan bimbingan Roh Kudus, aku mulai merenungkan tindakan-tindakanku: kehendak Tuhan adalah agar kita mengejar kebenaran dan berupaya mengubah watak kita selagi kita memenuhi tugas. Namun, aku hanya berfokus pada pekerjaan dan pada upaya memperoleh status yang tinggi di gereja saat memenuhi tugasku, agar saudara-saudari mengagumi dan menghargaiku. Tuhan menuntut kita untuk melaksanakan tugas kita dengan setia, memperhatikan kehendak-Nya saat menghadapi kesulitan, meninggalkan daging dan menerapkan kebenaran. Namun, aku selalu mencari cara yang hanya memerlukan upaya minimal dalam memenuhi tugasku, dan aku bersikap ceroboh dan berusaha menipu Tuhan. Aku hanya memedulikan dagingku di saat-saat sulit, mengeluh tentang kesulitanku dan malas dalam melakukan tugasku, sedemikian rupa sampai-sampai aku bahkan berpikir untuk benar-benar menyerah sebagai cara melepaskan diri dari tugasku. Tuhan menuntut kesetiaan mutlak dan pengabdian yang sepenuhnya. Namun, di hadirat Tuhan, pikiranku sering sibuk memikirkan keluarga dan kerabatku, dan kerap kali mendua dalam memikirkan tentang kepercayaanku kepada Tuhan dan tentang melaksanakan tugasku, dan aku tidak mampu mempersembahkan hatiku kepada Tuhan. Tuhan meminta agar kita memetik pelajaran dalam segala hal dan masuk ke dalam kenyataan firman-Nya sehingga kita dapat disempurnakan oleh-Nya. Namun, ketika menghadapi orang-orang atau masalah yang tidak menguntungkan, aku tidak percaya bahwa segala sesuatu diatur oleh Tuhan dan aku mendapati diriku terus-menerus hidup dalam keadaan mempertimbangkan tentang yang benar dan yang salah, serta tidak mampu tunduk pada pengaturan dan pengelolaan Tuhan. Tuhan meminta agar kita masuk ke dalam kenyataan kebenaran dan menerima penyelamatan Tuhan dalam berbagai lingkungan dan ujian kesengsaraan yang Dia atur bagi kita. Ketika menghadapi penanganan, pemangkasan, kemunduran, ataupun kegagalan, aku salah paham terhadap Tuhan dan menyalahkan Dia. Aku merasa putus asa mengenai jalan di depanku, dan kehilangan keyakinanku kepada Tuhan, sampai sedemikian rupa hingga aku bahkan mempertimbangkan untuk meninggalkan gereja. Tuhan meminta agar kita bersikap serius, nyata dan efektif dalam kehidupan rohani kita. Namun, aku sering kali mengikuti aturan dan prosedur, dan sibuk melakukan ritual keagamaan, yang mengakibatkan diriku sering tidak memiliki hubungan yang normal dengan Tuhan dan merasa mati rasa dalam rohku. Tuhan meminta kita agar meninggikan Dia dan bersaksi tentang Dia dalam pekerjaan kita dan memimpin orang ke hadapan-Nya. Namun, aku meninggikan dan bersaksi tentang diriku sendiri dalam segala hal, membua orang lain mengagumi dan mendengarkan aku, dan dengan demikian membawa mereka ke hadapanku. Tuhan meminta kita menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah kita. Namun, aku menyombongkan diri dan membicarakan tentang huruf-huruf tertulis dan doktrin di hadapan orang lain, aku membatasi orang lain dengan aturan, menyelesaikan masalah menurut cara-cara manusia, dan menekan orang lain dengan statusku. Tuhan meminta agar kita secara ketat bekerja sesuai dengan pengaturan kerja. Namun, aku sering kali mengikuti keinginanku sendiri saat melaksanakan tugasku, melakukan hal-hal dengan cara yang kuanggap cocok tanpa prinsip apa pun, dan seterusnya. Bukankah semua perilaku ini menyatakan pemberontakan terhadap Tuhan yang melaluinya aku telah melawan kehendak Tuhan dan firman-Nya dan menentang Tuhan?

Pada saat itu, aku tak dapat menahan perasaan takutku. Ternyata tanpa kusadari, aku telah memberontak terhadap Tuhan dalam semua tindakanku sembari secara keliru percaya bahwa, asalkan aku tidak mengkhianati gereja, atau meninggalkan gereja, atau melalaikan tugasku, aku tidak sedang memberontak terhadap Tuhan. Terlebih lagi, aku tanpa rasa malu berpikir bahwa tingkat pertumbuhanku akan membebaskanku dari kemampuan untuk memberontak terhadap Tuhan. Aku benar-benar tidak memiliki pengenalan akan diriku sendiri dan pemahamanku akan firman Tuhan begitu sepihak dan dangkal! Firman Tuhan berkata: "Tuhan telah menyingkapkan sifat dan hakikat umat manusia, tetapi manusia memahami bahwa cara hidup dan bicara mereka itu cacat dan rusak; oleh karena itu, bagi manusia, melakukan kebenaran merupakan tugas yang sangat berat. Manusia berpikir bahwa kesalahan mereka hanyalah perwujudan sementara yang dinyatakan secara gegabah dan bukannya penyingkapan dari sifat mereka" ("Memahami Sifat dan Mengamalkan Kebenaran" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Sifat manusia adalah hidup mereka, prinsip inilah yang merekapegang dalam bertahan hidup, dan mereka tidak mampu mengubahnya. Sama seperti sifat pengkhianatan—jika engkau dapat berbuat sesuatu yang mengkhianati seorang kerabat atau teman, ini membuktikan bahwa itulah bagian dari kehidupanmu dan sifat yang engkau miliki sejak lahir. Inilah hal yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun" ("Masalah yang Sangat Serius: Pengkhianatan (1)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Ya, bukankah aku jelas merupakan jenis orang yang mempermasalahkan perkara lahiriah, yang hanya merasa puas karena tidak terlalu memberontak, atau menentang dalam kepercayaanku kepada Tuhan dan dalam tugasku, yang merasa puas karena tidak berperilaku dengan cara yang jelas-jelas berdosa, tetapi yang tidak mengenal naturku sendiri? Perilaku umat manusia yang rusak didominasi oleh natur mereka, dan karenanya watak kita adalah ungkapan dari natur kita. Karena natur manusia pemberontak, kita pasti akan memberontak terhadap Tuhan; ini bukan sesuatu yang dapat kita kendalikan dengan kita bersikap hati-hati. Namun, aku tidak memusatkan perhatian untuk mengetahui naturku sendiri menurut apa yang diungkapkan dalam firman Tuhan. Sebaliknya, aku puas hanya dengan terus melakukan beberapa tindakan lahiriah dan mengikuti beberapa aturan, yang mengakibatkan diriku tidak mengerahkan upaya untuk mengejar kebenaran selama bertahun-tahun aku mengikuti Tuhan, dan mengakibatkan watak hidupku belum berubah sama sekali. Sebaliknya, aku telah terus-menerus hidup dengan naturku yang pemberontak, dan jika aku terus melakukan seperti ini, diberi lingkungan yang kondusif, atau ketika aku menghadapi penganiayaan dan kesengsaraan ataupun situasi yang membahayakan hidupku sendiri, aku pasti akan didominasi oleh naturku, dan aku akan mengkhianati gereja atau meninggalkan gereja. Dan, bukankah aku akan sepenuhnya kehilangan kesempatanku untuk memperoleh keselamatan? Ini benar-benar jalan yang berbahaya!

Syukur kepada Tuhan atas pencerahan-Nya yang telah memperbaiki pemahamanku yang keliru tentang pemberontakan terhadap Tuhan. Pencerahan-Nya telah memampukanku untuk mengerti bahwa meninggalkan dan melanggar firman-Nya adalah bentuk pemberontakan, dan telah menunjukkan kepadaku bahwa aku selalu berisiko memberontak terhadap Tuhan, dan bahkan lebih dari itu, aku selalu berada dalam bahaya mengkhianati Tuhan dan meninggalkan Dia. Mulai hari ini dan seterusnya, aku ingin mengerahkan upayaku ke dalam firman Tuhan dan lebih merenungkan tentang realitas firman-Nya, sehingga aku benar-benar memahami esensi kebenaran dan masuk serta melakukan penerapan secara ketat sesuai dengan kriteria kebenaran. Aku bertekad untuk menjunjung tinggi perkataan Tuhan dalam semua keadaan dan untuk benar-benar menyelesaikan masalah pemberontakanku.

47. Arti Sebenarnya Pemberontakan Terhadap Tuhan