3. Apakah memahami pengetahuan alkitabiah dan teori teologis berarti memahami kebenaran dan mengenal Tuhan atau tidak

3. Apakah memahami pengetahuan alkitabiah dan teori teologis berarti memahami kebenaran dan mengenal Tuhan atau tidak

Firman Tuhan yang Relevan:

Banyak orang bertekun membaca firman Tuhan hari demi hari, bahkan sampai pada tahap berkomitmen untuk menghafalkan dengan saksama semua nas klasik di dalamnya sebagai harta paling berharga, dan bahkan mengkhotbahkan firman Tuhan di mana-mana, membekali dan membantu orang lain dengan firman Tuhan. Mereka berpikir bahwa melakukan ini berarti bersaksi tentang Tuhan, bersaksi tentang firman-Nya, bahwa melakukan ini berarti mengikuti jalan Tuhan; mereka berpikir bahwa dengan melakukan ini berarti mereka hidup berdasarkan firman Tuhan, bahwa melakukan ini berarti menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, bahwa melakukan ini akan memungkinkan mereka untuk menerima pujian dari Tuhan, serta diselamatkan dan disempurnakan. Namun, bahkan pada saat mereka mengkhotbahkan firman Tuhan, mereka tidak pernah menaati firman Tuhan dalam penerapannya, atau mencoba bercermin dengan apa yang disingkapkan dalam firman Tuhan. Sebaliknya, mereka menggunakan firman Tuhan untuk mendapatkan kekaguman dan kepercayaan orang lain lewat tipu daya, untuk masuk ke dalam pengelolaan mereka sendiri, lalu menggelapkan dan mencuri kemuliaan Tuhan. Dengan sia-sia mereka berharap untuk menggunakan kesempatan yang datang melalui penyebaran firman Tuhan agar dianugerahi pekerjaan Tuhan dan pujian dari-Nya. Bertahun-tahun telah lewat, tetapi orang-orang ini bukan saja tak mampu mendapatkan pujian dari Tuhan selama proses mengkhotbahkan firman Tuhan, dan mereka bukan saja tak mampu menemukan jalan yang harus mereka ikuti selama proses memberikan kesaksian tentang firman Tuhan, dan mereka bukan saja tidak menunjang atau membekali diri mereka sendiri selama proses menunjang dan membekali orang lain dengan firman Tuhan, dan mereka bukan saja tak mampu mengenal Tuhan, atau membangkitkan dalam diri mereka penghormatan yang sejati kepada Tuhan, selama proses melakukan semua hal ini; tetapi sebaliknya, kesalahpahaman mereka tentang Tuhan menjadi semakin mendalam, ketidakpercayaan mereka terhadap-Nya menjadi semakin parah, dan imajinasi mereka tentang diri-Nya menjadi semakin dilebih-lebihkan. Dibekali dan dibimbing oleh teori-teori mereka sendiri tentang firman Tuhan, mereka tampak seolah-olah benar-benar piawai, seakan-akan menggunakan kecakapan mereka dengan mudahnya, seakan-akan mereka telah menemukan tujuan hidup mereka, misi mereka, dan seakan-akan mereka telah memenangkan hidup yang baru dan telah diselamatkan, seolah-olah jika firman Tuhan yang mereka hafalkan bisa dilafalkan dengan baik, mereka telah mendapatkan kebenaran, memahami maksud Tuhan, dan menemukan jalan untuk mengenal Tuhan, seolah-olah, selama proses mengkhotbahkan firman Tuhan, mereka telah sering berhadapan muka dengan Tuhan. Selain itu, mereka sering kali merasa "tergerak" untuk meratap, dan sering kali dipimpin oleh "Tuhan" dalam firman Tuhan, mereka tampak tak henti-hentinya mencoba mendapatkan perhatian tulus dan maksud baik Tuhan, dan pada saat yang sama telah memahami tentang penyelamatan manusia oleh Tuhan dan pengelolaan-Nya, dan telah mengetahui esensi-Nya, dan telah memahami watak-Nya yang benar. Berdasarkan landasan ini, mereka tampak semakin teguh percaya akan keberadaan Tuhan, tampak lebih sadar akan keadaan-Nya yang mulia, dan semakin dalam merasakan keagungan dan keluarbiasaan-Nya. Dipenuhi dengan pengetahuan dangkal akan firman Tuhan, iman mereka tampak seperti telah bertumbuh, ketetapan hati mereka untuk menanggung penderitaan tampak telah bertambah kuat, dan pengenalan mereka akan Tuhan tampak semakin mendalam. Mereka tidak tahu bahwa, sebelum mereka benar-benar mengalami firman Tuhan, semua pengenalan mereka akan Tuhan dan gagasan mereka tentang Dia hanya berasal dari angan-angan dan dugaan mereka sendiri. Iman mereka tidak akan bertahan terhadap jenis ujian apa pun dari Tuhan, yang mereka sebut sebagai kerohanian dan tingkat pertumbuhan sama sekali tidak akan bertahan dalam ujian dan pemeriksaan Tuhan, ketetapan hati mereka hanyalah istana yang dibangun di atas pasir, dan yang mereka sebut pengenalan akan Tuhan tak lebih dari isapan jempol dari imajinasi mereka. Sebenarnya, orang-orang ini, yang tampak telah mengerahkan segenap upaya mereka ke dalam firman Tuhan, tidak pernah sungguh-sungguh menyadari apa arti iman yang nyata, apa arti ketaatan yang nyata, apa arti kepedulian yang nyata, atau apa arti pengenalan yang nyata akan Tuhan. Mereka menggunakan teori, imajinasi, pengetahuan, karunia, tradisi, takhayul, dan bahkan nilai moral kemanusiaan, dan menjadikan hal-hal tersebut "modal" dan "persenjataan" dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan dan dalam mengikut Dia, bahkan menjadikan hal-hal tersebut landasan kepercayaan mereka kepada Tuhan dan landasan mereka mengikut Dia. Pada saat yang sama, mereka juga menggunakan modal dan persenjataan ini dan menjadikannya jimat ajaib untuk mengenal Tuhan, untuk menghadapi dan berurusan dengan pemeriksaan, ujian, hajaran, dan penghakiman Tuhan. Pada akhirnya, yang mereka kumpulkan tetap tak lebih dari kesimpulan tentang Tuhan yang dipenuhi dengan konotasi keagamaan, takhayul feodal, dan segala hal yang penuh fantasi, yang tidak masuk akal, dan penuh teka-teki. Cara mereka mengenal dan mendefinisikan Tuhan adalah dengan memakai cetakan yang sama dengan yang dipakai orang-orang yang hanya percaya kepada Surga yang di Atas Sana, atau Orang Tua di Langit, sedangkan mengenai kenyataan Tuhan, esensi-Nya, watak-Nya, kepunyaan dan wujud-Nya, dan hal lainnya—semua yang berkaitan dengan Tuhan yang nyata itu sendiri—adalah hal-hal yang gagal dipahami oleh pengetahuan mereka, sama sekali tak ada kaitannya bahkan bertentangan dengan pengetahuan mereka.

Dikutip dari "Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apa perwujudan utama dari kemunafikan orang-orang Farisi? Mereka hanya mempelajari Kitab Suci dengan teliti dan tidak mencari kebenaran. Ketika mereka membaca firman Tuhan, mereka tidak berdoa atau mencari; sebaliknya, mereka mempelajari firman Tuhan itu, mereka mempelajari apa yang Tuhan katakan dan lakukan, sehingga mereka mengubah firman-Nya menjadi semacam teori, menjadi doktrin yang mereka ajarkan kepada orang lain. Inilah arti dari mempelajari firman Tuhan dengan teliti. Jadi mengapa mereka melakukan hal itu? Apa yang mereka pelajari dengan teliti? Di mata mereka, ini bukanlah firman Tuhan, ini bukanlah pengungkapan Tuhan, apalagi kebenaran, melainkan sebuah bentuk ilmu. Ilmu seperti itu, di mata mereka, harus diteruskan, harus disebarkan, dan hanya inilah yang akan menyebarkan jalan Tuhan dan Injil. Inilah yang mereka sebut "berkhotbah", dan khotbah yang mereka sampaikan itu adalah teologi.

... Orang-orang Farisi menganggap teologi dan teori yang telah mereka kuasai sebagai semacam pengetahuan, sebagai alat untuk menghukum orang dan menilai apakah mereka benar atau salah. Mereka bahkan menerapkan hal itu pada Tuhan Yesus—begitulah cara Tuhan Yesus dihukum. Penilaian orang Farisi terhadap orang lain, dan cara mereka memperlakukan orang lain, tidak pernah didasarkan pada esensi mereka, atau pada apakah yang mereka katakan itu benar atau salah, apalagi didasarkan pada sumber atau asal usul perkataan itu. Mereka hanya menghukum dan menilai orang berdasarkan perkataan-perkataan dan doktrin-doktrin yang dengan kukuh telah mereka kuasai. Jadi, meskipun orang-orang Farisi ini mengetahui bahwa yang dilakukan Tuhan Yesus bukanlah dosa, dan tidak melanggar hukum, mereka tetap menghukum-Nya, karena apa yang dikatakan Tuhan Yesus tampaknya bertentangan dengan pengetahuan dan ilmu yang telah mereka kuasai dan teori teologi yang mereka uraikan. Orang-orang Farisi sama sekali tidak mau melonggarkan cengkeraman mereka terhadap perkataan-perkataan dan ungkapan-ungkapan ini, mereka berpegang teguh pada pengetahuan ini dan tidak mau melepaskannya. Pada akhirnya, apa satu-satunya akibat yang mungkin? Mereka tidak mau mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang akan datang, atau bahwa ada kebenaran dalam apa yang dikatakan Tuhan Yesus, apalagi mengakui bahwa yang dilakukan Tuhan Yesus adalah sesuai dengan kebenaran. Mereka menemukan beberapa tuduhan yang tidak berdasar untuk menghukum Tuhan Yesus—tetapi sebenarnya, di dalam hati mereka, tahukah mereka apakah dosa-dosa yang mereka tuduhkan kepada-Nya ini benar atau tidak? Mereka tahu. Jadi mengapa mereka tetap menghukum-Nya? (Mereka tidak mau memercayai bahwa Tuhan yang agung dan perkasa dalam pikiran mereka adalah Tuhan Yesus, gambar seorang Anak Manusia yang biasa-biasa saja ini.) Mereka tidak mau menerima kenyataan ini. Dan apa dasar dari penolakan mereka untuk menerima hal ini? Bukankah ada usaha untuk bernalar dengan Tuhan dalam hal ini? Yang mereka maksudkan adalah, "Mungkinkah Tuhan melakukan hal itu? Jika Tuhan berinkarnasi, Dia pasti dilahirkan dari garis keturunan yang terhormat. Terlebih lagi, Dia harus menerima bimbingan dari para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mempelajari pengetahuan ini, dan banyak membaca Kitab Suci. Setelah memiliki pengetahuan ini barulah Dia dapat menggunakan label 'inkarnasi' ini." Mereka yakin bahwa, pertama, Engkau tidak memenuhi syarat, jadi Engkau bukan Tuhan; kedua, tanpa pengetahuan ini Engkau tidak bisa melakukan pekerjaan Tuhan, apalagi bisa menjadi Tuhan; ketiga, Engkau tidak bisa bekerja di luar bait suci—Engkau tidak berada dalam bait suci sekarang, Engkau selalu berada di antara orang-orang berdosa, jadi pekerjaan yang Engkau lakukan berada di luar lingkup pekerjaan Tuhan. Berasal dari mana dasar penghukuman mereka? Dari Kitab Suci, dari pikiran manusia, dan dari pendidikan teologi yang telah mereka terima. Karena mereka dibanjiri dengan gagasan, imajinasi, dan pengetahuan, mereka yakin bahwa pengetahuan ini benar, adalah kebenaran, adalah dasar, dan Tuhan tidak akan pernah bisa ikut campur terhadap hal-hal ini. Apakah mereka mencari kebenaran? Tidak. Yang mereka cari adalah gagasan dan imajinasi mereka sendiri, serta pengalaman mereka sendiri, dan mereka mencoba menggunakan hal-hal ini untuk membatasi Tuhan dan menentukan apakah Dia benar atau salah. Apa hasil akhir dari hal ini? Mereka mengutuk pekerjaan Tuhan dan memakukan Dia ke kayu salib.

Dikutip dari "Mereka Jahat, Berbahaya, dan Curang (III)" dalam "Menyingkapkan Antikristus"

Bagaimana orang beragama yang percaya kepada Tuhan telah dibatasi maknanya menjadi "orang Kristen"? Mengapa sekarang ini, mereka digolongkan sebagai kelompok agama, bukan sebagai rumah Tuhan, gereja Tuhan, objek pekerjaan Tuhan? Mereka memiliki dogma, mereka menyusun pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan, dan firman yang Dia ucapkan, menjadi sebuah buku, menjadi bahan-bahan pengajaran, dan kemudian membuka sekolah-sekolah untuk melantik dan melatih segala macam teolog. Apakah para teolog ini mempelajari kebenaran? (Tidak). Jadi apa yang sedang mereka pelajari? Mereka mempelajari pengetahuan teologi, yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Tuhan atau dengan kebenaran yang Tuhan katakan. Dengan melakukan hal itu, mereka membatasi diri mereka menjadi orang Kristen. Apa yang didukung oleh Kekristenan? Jika engkau pergi ke gereja, orang akan bertanya kepadamu sudah berapa lama engkau percaya kepada Tuhan, dan ketika engkau mengatakan engkau baru saja percaya, mereka akan mengabaikanmu. Namun jika engkau masuk ke dalam gereja sambil menggenggam sebuah Alkitab, dan berkata "Aku baru saja lulus dari Seminari Teologi anu," mereka akan memintamu untuk datang dan duduk di kursi kehormatan. Inilah Kekristenan. Beberapa orang yang berdiri di mimbar itu semuanya telah mempelajari teologi, dilatih di seminari, memiliki pengetahuan dan teori teologi—semua itu pada dasarnya adalah pendukung utama Kekristenan. Kekristenan melatih orang-orang seperti itu untuk berkhotbah di mimbar, berkeliling menginjili dan bekerja. Mereka mengira bahwa nilai Kekristenan terletak pada orang-orang yang memiliki kemampuan seperti para mahasiswa teologi, para pendeta dan teolog yang berkhotbah ini; orang-orang ini adalah modal mereka. Jika pendeta sebuah gereja lulus dari seminari, pandai menguraikan Kitab Suci, telah membaca beberapa buku rohani, serta memiliki sedikit pengetahuan dan fasih berbicara, maka gereja itu akan berkembang, dan memiliki reputasi yang jauh lebih baik daripada gereja-gereja lainnya. Apa yang didukung oleh orang-orang dalam Kekristenan ini? Pengetahuan. Berasal dari mana pengetahuan ini? Pengetahuan ini telah diwariskan dari zaman kuno. Pada zaman kuno ada Kitab Suci, yang diwariskan dari generasi ke generasi, setiap generasi membaca dan mempelajarinya, sampai sekarang ini. Manusia membagi Alkitab ke dalam berbagai bagian dan menciptakan berbagai edisi untuk dibaca dengan teliti dan dipelajari. Namun yang mereka pelajari bukanlah bagaimana memahami kebenaran dan mengenal Tuhan, atau bagaimana memahami kehendak Tuhan serta memperoleh rasa takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan; sebaliknya, mereka mempelajari pengetahuan yang terkandung di dalamnya dengan teliti. Paling-paling, mereka menyelidiki misteri yang terkandung di dalamnya, mereka mengarahkan perhatian untuk melihat nubuat mana dari Kitab Wahyu yang digenapi dalam periode tertentu, kapan malapetaka yang besar akan datang, kapan masa seribu tahun akan tiba—inilah hal-hal yang mereka pelajari. Dan apakah hal-hal yang mereka pelajari berhubungan dengan kebenaran? Tidak. Mengapa mereka mempelajari hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran? Semakin banyak mereka mempelajarinya, semakin mereka mengira bahwa mereka memahaminya, dan semakin mereka memperlengkapi diri mereka dengan huruf-huruf yang tertulis dan doktrin. Modal mereka juga berkembang. Semakin tinggi kualifikasi mereka, semakin mereka mengira bahwa mereka memiliki kemampuan, semakin yakin mereka bahwa iman mereka kepada Tuhan semakin mantap, dan semakin besar kemungkinannya mereka berpikir bahwa mereka akan diselamatkan dan memasuki ke kerajaan surga.

... Semua orang Kristen yang mempelajari teologi, Kitab Suci, dan bahkan sejarah pekerjaan Tuhan—apakah mereka orang-orang percaya yang sejati? Apakah mereka berbeda dari orang-orang percaya dan para pengikut Tuhan yang Tuhan bicarakan? Di mata Tuhan, apakah mereka percaya kepada Tuhan? (Tidak.) Mereka mempelajari teologi, mereka mempelajari tentang Tuhan. Adakah perbedaan antara orang-orang yang mempelajari tentang Tuhan ini dan mereka yang mempelajari hal-hal lainnya? Tidak ada. Mereka sama saja dengan orang-orang yang mempelajari sejarah, filsafat, hukum, biologi, atau astronomi—hanya saja mereka tidak menyukai sains, atau biologi, atau mata pelajaran lainnya; mereka hanya menyukai teologi. Orang-orang ini mempelajari tentang Tuhan dengan mencari petunjuk-petunjuk dan informasi yang menyingkapkan pekerjaan Tuhan—dan apa hasil dari penelitian mereka? Dapatkah mereka menentukan apakah Tuhan itu ada atau tidak? Tidak akan pernah. Dapatkah mereka menentukan kehendak Tuhan? (Tidak). Mengapa? Karena mereka hidup di tengah-tengah kata-kata dan frasa, mereka hidup di tengah-tengah pengetahuan, mereka hidup di tengah-tengah filsafat, mereka hidup di tengah-tengah pikiran dan pemikiran manusia. Mereka tidak akan pernah bisa melihat Tuhan, mereka tidak akan pernah mendapatkan pencerahan Roh Kudus. Sebagai apa Tuhan mendefinisikan mereka? Sebagai orang-orang tidak percaya, sebagai orang-orang yang tidak beriman. Orang-orang yang tidak percaya dan tidak beriman ini berbaur dengan apa yang disebut sebagai komunitas Kristen, bertingkah seperti orang-orang yang percaya kepada Tuhan, bertingkah seperti orang-orang Kristen—tetapi apakah mereka sebenarnya sungguh-sungguh menyembah Tuhan? Apakah mereka sungguh-sungguh menaati-Nya? Tidak. Mengapa? Satu hal yang pasti: itu karena, di dalam hati mereka, mereka tidak percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia, bahwa Dia berkuasa atas segala sesuatu, bahwa Dia dapat menjadi daging, apalagi percaya bahwa Tuhan itu ada. Apa yang ditunjukkan oleh ketidakpercayaan ini? Keraguan, penyangkalan, dan bahkan sikap mengharapkan nubuat-nubuat yang diucapkan oleh Tuhan—terutama nubuat-nubuat mengenai bencana—tidak menjadi kenyataan dan tidak digenapi. Dengan sikap inilah mereka memperlakukan kepercayaan kepada Tuhan, dan inilah juga esensi dan wajah yang sesungguhnya dari apa yang mereka sebut iman. Orang-orang ini mempelajari tentang Tuhan karena mereka memiliki minat khusus pada ilmu dan pengetahuan teologi, dan tertarik pada fakta-fakta sejarah mengenai pekerjaan Tuhan. Mereka tidak lebih daripada sekelompok intelektual yang sedang mempelajari teologi. Para "intelektual" ini tidak percaya akan keberadaan Tuhan, jadi apa yang mereka lakukan ketika Tuhan datang untuk melakukan pekerjaan dan firman-Nya digenapi? Apa reaksi pertama mereka ketika mendengar bahwa Tuhan telah menjadi daging, dan sedang melakukan pekerjaan yang baru? "Mustahil!" Mereka mengutuk siapa pun yang memberitakan pekerjaan Tuhan yang baru, dan bahkan ingin membunuhnya. Perwujudan dari apakah ini? Bukankah ini perwujudan mereka sebagai antikristus yang sejati? Mereka memusuhi pekerjaan Tuhan dan penggenapan firman-Nya, terlebih lagi daging inkarnasi-Nya: "Jika Engkau tidak berinkarnasi dan firman-Mu tidak digenapi, Engkau adalah Tuhan. Jika firman-Mu telah digenapi dan Engkau berinkarnasi, Engkau bukanlah Tuhan." Apa makna yang tersembunyi dari hal ini? Maknanya adalah bahwa mereka tidak mengizinkan inkarnasi Tuhan selama mereka masih ada. Bukankah ini adalah antikristus yang sejati? Ini adalah antikristus yang sejati. Adakah pernyataan-pernyataan tegas seperti itu dalam masyarakat beragama? Pernyataan-pernyataan tegas seperti itu didengungkan dengan sangat keras, dan juga dengan sangat tegas: "Adalah keliru bahwa Tuhan telah berinkarnasi, itu mustahil! Inkarnasi dalam bentuk apa pun adalah tipuan!" Beberapa orang bertanya, "Apakah orang-orang ini telah disesatkan?" Tentu saja tidak. Mereka hanya tidak memiliki iman yang sejati kepada Tuhan. Mereka tidak percaya pada keberadaan Tuhan, mereka tidak percaya pada inkarnasi Tuhan, mereka tidak percaya pada pekerjaan Tuhan menciptakan dunia, apalagi percaya pada pekerjaan Tuhan yang disalibkan dan menebus seluruh umat manusia. Bagi mereka, teologi yang mereka pelajari adalah serangkaian peristiwa sejarah, itu adalah semacam doktrin atau teori.

Dikutip dari "Mereka Jahat, Berbahaya, dan Curang (III)" dalam "Menyingkapkan Antikristus"

Bukankah banyak orang menentang Tuhan dan merintangi pekerjaan Roh Kudus karena mereka tidak mengetahui berbagai dan beragam pekerjaan Tuhan, dan lebih jauh lagi, karena mereka memiliki sedikit sekali pengetahuan dan doktrin yang mereka gunakan untuk mengukur pekerjaan Roh Kudus? Meskipun pengalaman orang-orang semacam ini dangkal, pada dasarnya, mereka congkak dan berpuas diri dan mereka memandang rendah pekerjaan Roh Kudus, mengabaikan pendisiplinan Roh Kudus, dan lebih dari itu, menggunakan argumen mereka yang usang dan remeh untuk "menegaskan" pekerjaan Roh Kudus. Mereka juga berlagak, dan sepenuhnya yakin akan pembelajaran dan pendidikan rohani mereka sendiri, dan yakin bahwa mereka bisa menjelajahi dunia. Bukankah orang-orang semacam ini adalah orang yang dipandang hina dan ditolak oleh Roh Kudus, dan bukankah mereka akan disingkirkan oleh zaman yang baru? Bukankah orang yang datang ke hadapan Tuhan dan menentang-Nya secara terbuka adalah orang-orang jahat yang bodoh dan tidak tahu apa-apa, yang hanya mencoba menunjukkan betapa pintarnya mereka? Dengan hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang Alkitab, mereka berusaha berperilaku liar di dunia "akademisi"; dengan hanya memiliki doktrin yang dangkal untuk mengajar orang, mereka berusaha memutarbalikkan pekerjaan Roh Kudus, dan berupaya membuat pekerjaan Roh Kudus itu hanya berkisar di sekitar proses berpikir mereka sendiri. Dengan pandangan mereka yang sempit, mereka berusaha melihat 6.000 tahun pekerjaan Tuhan dalam sekilas pandang saja. Orang-orang ini tidak punya akal sehat apa pun yang layak untuk disebutkan! Sebenarnya, semakin besar pengetahuan orang tentang Tuhan, semakin lambat mereka menghakimi pekerjaan-Nya. Selain itu, mereka hanya akan berbicara sedikit tentang pengetahuannya mengenai pekerjaan Tuhan pada zaman sekarang, tetapi mereka tidak terburu-buru dalam menghakimi. Semakin sedikit pengetahuan orang tentang Tuhan, semakin mereka congkak dan terlalu percaya diri, dan semakin sembarangan mereka membuat pernyataan tentang wujud Tuhan—tetapi mereka hanya membicarakan teori, dan tidak menawarkan bukti nyata. Orang-orang semacam ini sama sekali tidak ada nilainya. Orang yang memandang pekerjaan Roh Kudus sebagai permainan adalah orang yang sembrono! Orang-orang yang tidak berhati-hati ketika mereka menghadapi pekerjaan baru Roh Kudus, yang terlalu banyak bicara, yang terlalu cepat menghakimi, yang memberi kebebasan pada temperamen mereka untuk menyangkal kebenaran pekerjaan Roh Kudus, dan yang juga menghina dan menghujatnya—bukankah orang-orang yang tidak hormat ini tidak tahu apa pun tentang pekerjaan Roh Kudus? Bukankah, lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang sangat congkak, yang pada dasarnya sombong dan tak dapat diatur? Bahkan jika tiba saatnya di mana orang-orang semacam ini menerima pekerjaan baru dari Roh Kudus, Tuhan tetap tidak akan menoleransi mereka. Mereka bukan saja memandang rendah orang-orang yang bekerja untuk Tuhan, tetapi mereka juga menghujat Tuhan itu sendiri. Orang-orang nekat seperti ini tidak akan diampuni, baik pada zaman ini maupun pada zaman yang akan datang, dan mereka akan selamanya binasa di neraka! Orang-orang yang kurang ajar dan manja ini berpura-pura percaya kepada Tuhan, dan semakin orang-orang bersikap seperti ini, semakin besar kemungkinan mereka untuk melanggar ketetapan administratif Tuhan. Bukankah semua orang congkak yang pada dasarnya tak terkendali, dan yang tidak pernah mematuhi siapa pun itu, semuanya menempuh jalan ini? Bukankah mereka menentang Tuhan hari demi hari, Tuhan yang selalu baru dan tidak pernah usang?

Dikutip dari "Mengenal Tiga Tahap Pekerjaan Tuhan adalah Jalan untuk Mengenal Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Manusia telah dirusak dan hidup dalam perangkap Iblis. Semua manusia hidup dalam daging, hidup dalam keinginan yang egois, dan tak seorang pun dari antara mereka yang sesuai dengan-Ku. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka sesuai dengan-Ku, tetapi orang-orang semacam itu semuanya menyembah berhala yang samar-samar. Meskipun mereka mengakui bahwa nama-Ku kudus, mereka menapaki jalan yang bertentangan dengan-Ku, dan perkataan mereka penuh dengan kecongkakan dan keyakinan diri. Ini karena, pada dasarnya, mereka semua menentang-Ku dan tidak sesuai dengan-Ku. Setiap hari mereka mencari jejak-Ku di dalam Alkitab dan menemukan perikop-perikop yang "cocok" secara acak yang tak habis-habisnya mereka baca ucapkan sebagai Kitab Suci. Mereka tidak tahu bagaimana menjadi sesuai dengan-Ku ataupun apa arti melawan-Ku. Mereka sekadar membaca Kitab Suci secara membabi buta. Di dalam Alkitab, mereka membatasi Tuhan yang samar yang belum pernah mereka lihat, dan yang tidak dapat mereka lihat, dan mengeluarkan Alkitab untuk dilihat di waktu senggang mereka. Mereka percaya kepada keberadaan-Ku hanya dalam ruang lingkup Alkitab, dan mereka menyamakan-Ku dengan Alkitab; tanpa Alkitab, Aku tidak ada, dan tanpa Aku, Alkitab tidak ada. Mereka tidak mengindahkan keberadaan atau tindakan-Ku, melainkan mencurahkan perhatian yang berlebihan dan khusus pada setiap kata dalam Kitab Suci. Lebih banyak lagi bahkan meyakini bahwa Aku tidak boleh melakukan apa pun yang Kuinginkan kecuali jika hal itu telah dinubuatkan dalam Kitab Suci. Mereka menganggap Kitab Suci terlalu penting. Dapat dikatakan bahwa mereka melihat kata-kata dan ungkapan sebagai sesuatu yang sangat penting, sampai-sampai mereka memakai ayat-ayat dari Alkitab untuk menilai setiap kata yang Kuucapkan dan untuk mengecam-Ku. Yang mereka cari bukanlah cara agar sesuai dengan-Ku atau cara agar sesuai dengan kebenaran, tetapi cara agar sesuai dengan perkataan Alkitab, dan mereka meyakini bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan Alkitab, tanpa terkecuali, bukanlah pekerjaan-Ku. Bukankah orang-orang semacam ini adalah keturunan orang Farisi yang berbakti? Orang Farisi Yahudi menggunakan hukum Musa untuk mengecam Yesus. Mereka tidak berupaya untuk sesuai dengan Yesus pada waktu itu, tetapi dengan giat mematuhi hukum Taurat hingga ke huruf-hurufnya, sampai—setelah menuduh-Nya tidak mematuhi hukum Taurat dalam Perjanjian Lama dan menuduh-Nya bukan Mesias—mereka akhirnya memakukan Yesus yang tak berdosa itu ke kayu salib. Apa esensi mereka? Bukankah itu berarti mereka tidak mencari cara agar dapat sesuai dengan kebenaran? Mereka terobsesi dengan setiap kata dalam Kitab Suci tetapi tidak mengindahkan kehendak-Ku ataupun langkah serta cara-Ku bekerja. Mereka bukanlah orang yang mencari kebenaran, melainkan orang yang dengan kaku berpegang pada kata-kata; mereka bukanlah orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi orang yang percaya pada Alkitab. Intinya, mereka adalah anjing-anjing penjaga Alkitab. Untuk menjaga kepentingan Alkitab, menjunjung tinggi martabat Alkitab, dan melindungi reputasi Alkitab, mereka bahkan sampai memakukan Yesus yang penuh belas kasihan itu ke kayu salib. Hal ini mereka lakukan hanya demi membela Alkitab, dan demi mempertahankan status setiap kata dalam Alkitab di hati manusia. Jadi mereka memilih meninggalkan masa depan dan korban penghapus dosa mereka untuk menghukum Yesus, yang tidak sesuai dengan doktrin Kitab Suci, sampai mati. Bukankah mereka semua adalah kacung-kacung bagi setiap kata dalam Kitab Suci?

Lalu, bagaimana dengan orang-orang di zaman sekarang ini? Kristus telah datang untuk mengabarkan kebenaran, tetapi mereka lebih suka mengusir-Nya dari dunia ini sehingga mereka bisa mendapatkan jalan masuk ke dalam surga dan menerima kasih karunia. Mereka lebih suka sepenuhnya menolak datangnya kebenaran demi melindungi kepentingan Alkitab, dan mereka lebih suka memakukan lagi Kristus yang sudah datang kembali dalam daging ke kayu salib demi memastikan keberadaan Alkitab untuk selamanya. Bagaimana mungkin manusia dapat menerima keselamatan-Ku jika hatinya begitu jahat, dan naturnya begitu berlawanan dengan-Ku? Aku hidup di tengah manusia, tetapi manusia tidak mengetahui keberadaan-Ku. Saat Kupancarkan terang-Ku ke atas manusia, mereka tetap tidak mengetahui keberadaan-Ku. Saat Kulepaskan murka-Ku ke atas manusia, dia menyangkali keberadaan-Ku bahkan dengan semangat yang lebih besar. Manusia mencari kesesuaian dengan firman dan kesesuaian dengan Alkitab, tetapi tak seorang pun datang ke hadapan-Ku untuk mencari cara agar sesuai dengan kebenaran. Manusia menengadah kepada-Ku di surga dan mencurahkan perhatian khusus pada keberadaan-Ku di surga, tetapi tak seorang pun memedulikan diri-Ku dalam rupa manusia, karena diri-Ku yang hidup di antara manusia sama sekali terlalu tak berarti. Orang-orang yang hanya mencari kesesuaian dengan firman di Alkitab dan yang hanya mencari kesesuaian dengan Tuhan yang samar-samar menjadi pemandangan yang menyedihkan bagi-Ku. Itu karena apa yang mereka sembah adalah kata-kata yang mati, dan sesosok Tuhan yang mampu memberi mereka kekayaan yang tak terkira; yang mereka sembah adalah sesosok Tuhan yang menyerahkan diri-Nya pada belas kasihan manusia—sesosok Tuhan yang tidak ada. Lalu, apakah yang dapat diperoleh orang-orang semacam ini dari-Ku? Manusia terlalu rendah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Orang-orang yang menentang-Ku, yang membuat tuntutan tanpa batas kepada-Ku, yang tidak mencintai kebenaran, yang memberontak terhadap-Ku—bagaimana mungkin mereka bisa sesuai dengan-Ku?

Orang-orang yang menentangku adalah mereka yang tidak sesuai dengan-Ku. Begitu pula dengan orang-orang yang tidak mencintai kebenaran. Orang-orang yang memberontak terhadap-Ku bahkan lebih menentang-Ku dan tidak sesuai dengan-Ku. Kuserahkan ke dalam tangan si jahat semua orang yang tidak sesuai dengan-Ku, dan aku melepaskan mereka kepada kerusakan si jahat, memberi mereka keleluasaan penuh untuk mengungkapkan kejahatan mereka, dan akhirnya menyerahkan mereka kepada si jahat untuk ditelan. Aku tak peduli berapa banyak orang yang menyembah-Ku, dengan kata lain, Aku tak peduli berapa banyak orang yang percaya kepada-Ku. Satu-satunya yang penting bagi-Ku adalah berapa banyak orang yang sesuai dengan-Ku. Itu karena semua orang yang tidak sesuai dengan-Ku adalah orang jahat yang mengkhianati-Ku; mereka adalah musuh-musuh-Ku, dan Aku tidak akan "mengabadikan" musuh-musuh-Ku di dalam rumah-Ku. Orang-orang yang sesuai dengan-Ku akan melayani-Ku selamanya di dalam rumah-Ku, dan orang-orang yang menentang-Ku akan selamanya menderita hukuman-Ku. Orang-orang yang hanya peduli pada perkataan Alkitab dan yang tidak peduli dengan kebenaran ataupun mencari jejak langkah-Ku—mereka menentang-Ku, karena mereka membatasi-Ku menurut Alkitab, dan mengekang-Ku di dalam Alkitab, dan karena itu sangat menghujat-Ku. Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu datang ke hadapan-Ku? Mereka tidak mengindahkan perbuatan-perbuatan-Ku, atau kehendak-Ku, atau kebenaran, melainkan terobsesi dengan kata-kata—kata-kata yang membunuh. Bagaimana mungkin orang-orang semacam itu dapat sesuai dengan-Ku?

Dikutip dari "Engkau Harus Mencari Cara agar Sesuai dengan Kristus" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

3. Apakah memahami pengetahuan alkitabiah dan teori teologis berarti memahami kebenaran dan mengenal Tuhan atau tidak