Firman Tuhan Menuntunku untuk Memberikan Kesaksian

Oleh Saudari Xiao Min, Provinsi Shandong

Aku terlahir di daerah pedesaan yang miskin dan terbelakang, dan menjalani kehidupan yang keras dan sengsara sebagai seorang anak. Untuk meraih kehidupan yang lebih baik sesegera mungkin, setelah menikah, aku mulai bekerja gila-gilaan. Namun, pada akhirnya aku jatuh sakit karena terlalu banyak bekerja, dan kondisiku berubah dari sehat dan bugar menjadi lemah dan sakit-sakitan. Aku hidup dalam kondisi menderita yang disebabkan oleh penyakitku dan aku mencari saran dan perawatan medis di mana pun sebisaku. Akhirnya aku menghabiskan banyak uang, tetapi penyakitku tidak pernah membaik. Pada musim semi tahun 1999, dua orang saudari mengkhotbahkan Injil tentang pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman kepadaku. Dengan membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku merasakan otoritas dan kuasa firman Tuhan, aku tahu bahwa tidak mungkin ada manusia yang bisa mengucapkannya, dan bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa benar-benar suara Tuhan. Aku menjadi benar-benar yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan bahwa Dia dapat menyelamatkan kita dari semua kepedihan. Saat aku semakin banyak membaca firman Tuhan, aku mulai memahami beberapa kebenaran dan memiliki pemahaman menyeluruh mengenai banyak hal di dunia. Jiwaku yang sakit dan tak berdaya merasa terbebaskan, dan lambat laun aku sembuh dari penyakitku. Rasa syukurku kepada Tuhan tidak mengenal batas, dan aku mulai aktif mengkhotbahkan Injil dan memberikan kesaksian tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman.

Namun, tak lama kemudian, aku ditangkap tiga kali berturut-turut oleh pemerintah PKT (Partai Komunis Tiongkok) karena memberitakan injil, dan setiap kali aku ditangkap, Tuhan Yang Mahakuasa membimbingku untuk mengatasi penganiayaan Iblis tersebut. Pada 2012, dalam menjalankan tugasku untuk gereja, sekali lagi aku jatuh ke sarang monster itu dan menjadi sasaran penyiksaan di tangan Iblis, si setan …

Menjelang sore pada tanggal 13 September 2012, aku kembali ke rumah tumpanganku dan, seperti yang selalu kulakukan, aku memarkir skuterku di luar dan menekan bel pintu. Yang mengejutkanku, tak lama setelah aku membuka pintu, empat pria kekar menerkamku seperti serigala. Mereka memelintir lenganku ke belakang dan memborgolku, lalu mendorongku ke sebuah kursi dan menjepitku di sana. Beberapa orang polisi langsung mulai menggeledah tasku …. Diperhadapkan dengan peristiwa pemaksaan yang tiba-tiba dan ganas ini, aku tercengang ketakutan, dan merasa seperti domba kecil menyedihkan yang ditangkap oleh kawanan serigala jahat, tanpa kekuatan apa pun untuk melawan. Mereka kemudian membawaku keluar dan menempatkanku di bagian belakang mobil sedan hitam. Di dalam mobil, kepala polisi, yang terlihat seperti pria kecil menyedihkan yang mabuk dengan kesuksesannya sendiri, menoleh dan menyeringai licik ke arahku sambil berkata, “Hah! Apa kau tahu bagaimana kami menangkapmu?” Takut bahwa aku mungkin akan mencoba melarikan diri, para petugas polisi menahanku di kedua sisi, seolah-olah aku adalah penjahat berbahaya. Aku merasa marah sekaligus panik dan tidak bisa menebak bagaimana polisi itu akan menghukum dan menyiksaku. Aku sangat takut bahwa aku tidak akan mampu menahan siksaan mereka dan akan menjadi seorang Yudas dan mengkhianati Tuhan. Namun kemudian, aku memikirkan firman Tuhan: “Selama engkau sering berdoa dan memohon di hadapan-Ku, Aku akan memberikan semua iman kepadamu. Mereka yang berkuasa mungkin tampak ganas dari luar, tetapi jangan takut, karena ini disebabkan engkau semua memiliki sedikit iman. Selama imanmu tumbuh, tidak akan ada yang terlalu sulit. Bersorak dan melompatlah sesuka hatimu! Semuanya berada di bawah kakimu dan di dalam genggaman-Ku. Bukankah keberhasilan atau kehancuran ditentukan oleh satu firman-Ku?” (“Bab 75, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan Yang Mahakuasa tersebut memberiku iman dan kekuatan dan, berangsur-angsur, firman itu membantuku untuk tenang. “Ya,” pikirku. “Sebiadab dan seganas apa pun polisi jahat itu, mereka hanyalah pion di tangan Tuhan dan mereka berada dalam pengaturan-Nya. Selama aku berdoa dan memanggil Tuhan dengan hati yang tulus, maka Tuhan akan menyertaiku dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Jika polisi-polisi jahat ini menyiksa dan memukulku dengan kejam, maka itu berarti Tuhanlah yang ingin menguji imanku. Tak peduli bagaimana mereka mungkin menyiksa dagingku, mereka tidak akan pernah bisa menghentikan hatiku untuk mencari Tuhan dan berseru kepada-Nya. Meskipun mereka membunuh dagingku, mereka tidak bisa membunuh jiwaku, karena semua yang aku miliki berada di tangan Tuhan.” Begitu aku memikirkan hal ini, aku tidak takut lagi kepada Iblis, si setan, dan menjadi penuh tekad untuk menjadi kesaksian bagi Tuhan. Oleh karena itu, aku berseru dalam hati, “Ya Tuhan Yang Mahakuasa! Apa pun yang mereka lakukan kepadaku hari ini, aku bersedia menghadapi semuanya. Meskipun tubuhku lemah, aku berharap hidup dengan mengandalkan-Mu dan tidak memberi satu kali kesempatan pun kepada Iblis untuk mengeksploitasiku. Kumohon lindungilah aku, jangan biarkan aku mengkhianati-Mu, dan jangan biarkan aku menjadi Yudas yang memalukan.” Saat kami melaju, aku terus menyanyikan dalam pikiranku salah satu nyanyian pujian gereja: “Dengan rencana dan kedaulatan-Nya, kuhadapi ujianku. Bagaimana kudapat menyerah? Kemuliaan-Nya yang utama. Dalam masa sulit, Firman-Nya tuntun, imanku dism’purnakan. Aku sungguh dan s’penuhnya berbakti, berbakti pada Tuhan tanpa takut maut. Kehendak-Nya di atas s’galanya” (“I Ask Only That God Be Satisfied” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Saat aku bernyanyi dalam hati, hatiku dipenuhi dengan kekuatan yang tiada habisnya, dan aku menjadi bertekad untuk mengandalkan hikmat dan kekuatan yang Tuhan berikan kepadaku untuk memerangi Iblis sampai mati. Begitu mereka membawaku ke ruang interogasi, aku terkejut melihat bahwa seorang saudari yang melakukan tugas gereja yang sama denganku, saudari dari rumah tumpanganku, dan seorang pemimpin gereja juga ada di sana. Mereka semua juga tertangkap! Salah seorang petugas polisi melihatku memandangi saudari-saudariku dari gereja lalu dia memelototi aku dan memarahiku sambil berkata, “Apa yang kau lihat? Masuk ke sana!” Untuk mencegah kami saling berbicara, polisi mengunci kami di ruang interogasi yang berbeda. Mereka menggeledahku dengan kasar, melepas ikat pinggangku, dan menggoncang-goncangkan seluruh tubuhku. Rasanya seperti penghinaan yang luar biasa, dan aku melihat betapa benar-benar jahat, tercela, dan kejamnya bawahan Iblis pemerintah PKT ini! Aku merasa sangat marah, tetapi aku harus menahan amarahku, karena tidak ada tempat untuk akal sehat di sarang monster ini. Setelah mereka menyita skuter baru milik gereja dan uang lebih dari 600 yuan kepunyaanku, mereka mulai menanyaiku. “Siapa namamu? Apa jabatanmu di gereja? Siapa pemimpinmu? Di mana mereka sekarang?” Aku tidak menjawab, jadi polisi itu membentakku, “Apa menurutmu kami tidak akan mengetahuinya kalau kau tidak memberi tahu kami? Kau tidak tahu apa yang bisa kami lakukan! Kau harus tahu bahwa kami juga telah menangkap para pemimpin tingkat atasmu!” Mereka kemudian melanjutkan dengan mendaftar beberapa nama dan bertanya apakah aku mengenal mereka, dan terus menanyaiku. “Di mana semua uang gerejamu disimpan? Katakan kepada kami!” Aku menolak semua yang mereka katakan dengan berkata, “Aku tidak kenal siapa pun! Aku tidak tahu apa-apa!” Saat melihat bahwa babak pertama interogasi mereka telah gagal, mereka memutuskan untuk memainkan kartu as mereka dan mulai bergiliran menginterogasi dan menyiksaku dalam upaya untuk melemahkanku. Polisi menginterogasi dan menyiksaku tanpa henti selama tiga hari empat malam. Selama masa sulit ini, aku berseru kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, dan firman Tuhan membimbingku: “Engkau tidak perlu takut akan ini dan itu. Tidak peduli berapa banyak kesulitan dan bahaya yang engkau hadapi, engkau harus tetap teguh di hadapan-Ku; jangan terhalang oleh apa pun agar kehendak-Ku dapat terlaksana. Ini akan menjadi kewajibanmu, … Jangan takut; dengan dukungan-Ku, siapa yang bisa menghalangi jalan? Ingat ini! Ingat! Segala sesuatu terjadi dengan niat baik-Ku dan semuanya ada dalam pengamatan-Ku” (“Bab 10, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Ya!” Pikirku. “Tuhan Yang Mahakuasa adalah menaraku yang kuat, dan dengan Tuhan Yang Mahakuasa sebagai pendukung setiaku, aku tidak perlu takut apa pun! Selama aku memiliki iman untuk bekerja sama dengan Tuhan, maka aku percaya bahwa Tuhan akan membantuku mengatasi pencobaan Iblis dan melewati masa sulit ini.”

Oleh karena pada hari pertama polisi tidak berhasil mendapatkan informasi yang mereka inginkan dariku, mereka pun dipermalukan sampai marah, dan seorang kepala di antara mereka berkata dengan keras kepadaku, “Aku tidak akan menyerah pada sikapmu yang keras kepala. Siksa dia!” Saat mendengarnya mengatakan ini, hatiku bimbang dan aku mulai merasa ketakutan, dan aku khawatir bahwa aku sudah hancur karena siksaan mereka. Yang bisa kulakukan hanyalah memanggil Tuhan dengan tulus: “Ya Tuhan Yang Mahakuasa! Aku merasa sangat lemah sekarang dan tak ada lagi kekuatan dalam diriku. Namun, polisi ingin menyiksaku dan aku benar-benar tidak tahu apakah aku bisa tetap berdiri teguh. Kumohon sertailah aku dan berilah aku kekuatan.” Polisi memegang tanganku yang diborgol yang masih berada di punggungku dan menggantungnya di atas meja yang rusak, kemudian mereka memaksaku untuk mempertahankan posisi setengah jongkok. Mereka memelototiku dengan pandangan memusuhi dan mendesakku dengan pertanyaan. “Di mana pemimpinmu? Di mana semua uang gereja?” Mereka benar-benar tidak sabar ingin membuatku hancur di bawah tekanan penyiksaan itu dan menyerah pada mereka. Setelah polisi jahat itu melanjutkan siksaan ini selama sekitar setengah jam, kakiku mulai kesakitan dan gemetar. Jantungku berdetak kencang dan lenganku juga terasa sangat sakit. Aku berada pada batas daya tahanku dan merasa seolah-olah tidak bisa bertahan lebih lama lagi, dan karena itu aku berseru dengan sungguh-sungguh di dalam hatiku: “Ya Tuhan Yang Mahakuasa! Selamatkanlah aku. Aku tidak tahan lagi. Aku tidak ingin mengkhianati-Mu sebagai seorang Yudas. Kumohon lindungilah aku.” Saat itu juga, firman Tuhan ini muncul di benakku: “Di balik setiap tahap yang Tuhan lakukan di dalam dirimu, terdapat pertaruhan antara Iblis dengan Tuhan—di balik semua itu ada pertempuran. … Ketika Tuhan dan Iblis bertempur di alam rohani, bagaimanakah seharusnya engkau memuaskan Tuhan, dan bagaimanakah cara agar engkau berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi-Nya? Engkau harus tahu bahwa segala sesuatu yang terjadi kepadamu adalah sebuah ujian besar dan merupakan saat ketika Tuhan membutuhkan engkau untuk menjadi kesaksian” (“Hanya Mengasihi Tuhan-lah yang Berarti Sungguh-Sungguh Percaya kepada Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan membangunkanku dan memampukan aku untuk menyadari bahwa Iblis sedang menyiksaku dengan cara ini untuk membuatku mengkhianati Tuhan dan membuatku menyerah untuk tidak lagi mengejar kebenaran. Ini adalah peperangan yang sedang dilancarkan di dunia roh: Iblislah yang sedang berusaha mencobaiku, dan ini juga cara Tuhan untuk mengujiku. Inilah saatnya ketika Tuhan membutuhkanku untuk menjadi kesaksian. Tuhan menaruh harapan-Nya pada diriku dan begitu banyak malaikat mengawasiku saat ini, begitu juga Iblis, semuanya menunggu aku untuk menyatakan posisiku. Aku tidak boleh menyerah dan berbaring begitu saja dan aku tidak boleh menyerah kepada Iblis; aku tahu aku harus membiarkan pekerjaan Tuhan terlaksana melalui diriku demi memuaskan kehendak Tuhan. Dengan prinsip yang tak tergoyahkan, ini adalah tugas yang harus kulakukan sebagai makhluk ciptaan—inilah panggilanku. Pada saat yang genting ini, sikap dan perilakuku akan berdampak langsung pada kemampuanku untuk menjadi kesaksian kemenangan bagi Tuhan, dan terlebih lagi berdampak langsung pada kemampuanku untuk menjadi saksi kekalahan Iblis oleh Tuhan dan Tuhan yang memperoleh kemuliaan-Nya. Aku tahu aku tidak dapat membuat Tuhan bersedih atau mengecewakan-Nya, dan aku tidak bisa membiarkan rancangan licik iblis yang membuatku menderita berhasil. Memikirkan pikiran-pikiran ini, kekuatan tiba-tiba bangkit dalam hatiku dan aku berkata dengan tegas, “Kau bisa memukuliku sampai mati, tetapi aku tetap tidak tahu apa-apa!” Tepat pada saat itu, seorang polisi wanita masuk ke ruangan. Dia melihatku dan berkata, “Cepatlah, turunkan dia. Apa yang kau coba lakukan, membunuhnya? Kau yang bertanggung jawab jika ada apa-apa dengannya!” Aku tahu di dalam hatiku bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah mendengar doa-doaku dan telah membuatku aman dari bahaya pada saat membahayakan ini. Ketika polisi jahat itu menurunkanku, aku langsung ambruk ke lantai. Aku tidak bisa berdiri; lengan dan kakiku benar-benar mati rasa. Aku hampir tidak punya kekuatan untuk bernapas dan tidak bisa merasakan keempat anggota badanku sama sekali. Aku merasa sangat takut saat itu dan air mata mengalir tanpa henti. Aku berpikir: “Apakah aku akan lumpuh pada akhirnya?” Namun, meskipun demikian, para polisi jahat itu tetap tidak melepaskan aku. Dengan satu orang di kedua sisiku, mereka memegangi tanganku dan menyeretku seperti mayat ke sebuah kursi yang rusak, dan mendorongku ke atasnya. Salah seorang polisi berkata dengan kejam, “Jika dia tidak bicara, gantung dia dengan tali!” Dengan cepat sekali, polisi jahat lainnya mengeluarkan tali nilon tipis dan menggunakannya untuk menggantung tanganku yang diborgol pada pipa pemanas. Lenganku langsung ditarik lurus, dan punggung dan bahuku mulai kesakitan. Polisi jahat itu terus menginterogasiku, bertanya, “Apa kau akan memberi tahu kami apa yang ingin kami ketahui?” Namun, aku tidak menjawab. Mereka menjadi sangat marah sehingga menyiramkan secangkir air ke wajahku, katanya itu untuk membangunkanku. Pada saat ini, aku sudah disiksa sampai pada titik di mana aku bahkan tidak punya kekuatan sedikit pun, dan mataku sangat lelah sehingga aku bahkan tidak bisa membukanya. Melihat bahwa aku tetap diam, salah satu dari polisi jahat itu dengan kejam dan tanpa malu memaksa membuka mataku dengan tangannya untuk mengolok-olokku. Setelah menjalani beberapa jam interogasi dan penyiksaan, para polisi jahat itu telah melakukan semua trik dalam buku panduan mereka, tetapi upaya mereka untuk membuatku bicara, sekali lagi, semuanya berakhir dengan kegagalan.

Melihat bahwa mereka tidak bisa mendapatkan apa pun dariku dengan menanyaiku, para polisi jahat itu memutuskan untuk menggunakan rencana keji: mereka mendatangkan seseorang dari kota yang menyebut dirinya “pakar interogasi” untuk menghadapiku. Mereka membawaku ke ruangan lain dan memerintahkanku untuk duduk di sebuah kursi logam, kemudian mereka merantai pergelangan kakiku erat-erat pada kaki kursi dan tanganku pada lengan kursi. Beberapa saat kemudian, seorang pria berkacamata dan berwajah tampan datang membawa tas kantor. Dia tersenyum lebar ke arahku dan, pura-pura bersikap baik, dia melepas rantai yang mengikat tangan dan pergelangan kakiku pada kursi dan membiarkanku duduk di atas dipan di satu sisi ruangan. Sesaat kemudian, dia menuangkanku secangkir air, kemudian memberiku permen. Dia menghampiriku dan berkata dengan keramahan yang dibuat-buat, “Mengapa menderita seperti ini? Kau sudah sangat menderita, tetapi sebenarnya itu bukan masalah besar. Beri tahu kami apa yang ingin kami ketahui, dan semuanya akan baik-baik saja ….” Menghadapi situasi baru ini, aku tidak tahu bagaimana harus bekerja sama dengan Tuhan, jadi aku buru-buru berdoa dalam hati kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya untuk mencerahkan dan membimbingku. Saat itulah, aku memikirkan firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Engkau harus menanggung cobaan apa pun, dan menerima semua yang datang dari Aku. Engkau harus mengikuti apa pun yang Roh Kudus lakukan untuk memimpin engkau. Engkau harus memiliki roh yang peka dan kemampuan untuk membedakan hal-hal. Engkau harus memahami orang-orang dan tidak membabi buta mengikuti orang lain, menjaga mata rohanimu tetap terang dan memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang berbagai hal” (“Bab 18, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan menunjukkan kepadaku jalan pengamalan dan membantuku menyadari bahwa iblis akan selalu menjadi iblis, dan bahwa iblis tidak pernah dapat mengubah esensi setannya yang menentang dan membenci Tuhan. Baik mereka menggunakan taktik keras ataupun taktik lunak, tujuan mereka selalu untuk membuatku mengkhianati Tuhan dan meninggalkan jalan yang benar. Berkat peringatan dari firman Tuhan, aku akhirnya memiliki sedikit pemahaman tentang rancangan licik iblis, pikiranku menjadi jernih, dan aku dapat mengambil sikap tegas. Interogator itu kemudian berkata kepadaku, “Pemerintah PKT melarang orang-orang untuk percaya kepada Tuhan. Jika kau terus percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, maka seluruh keluargamu akan terlibat, dan itu akan memengaruhi masa depan, prospek pekerjaan, dan prospek pelayanan sipil bagi anak-anak dalam keluargamu. Kau sebaiknya memikirkannya dengan saksama ….” Setelah dia mengatakan ini, pertempuran mulai berkecamuk dalam diriku, dan aku merasa sangat terganggu. Tepat saat aku merasa tersesat, tiba-tiba aku teringat akan pengalaman Petrus ketika dia berhasil menjadi kesaksian di hadapan Iblis; Petrus selalu berusaha memahami Tuhan melalui setiap rencana licik yang Iblis lontarkan kepadanya. Jadi, jauh di lubuk hatiku, aku mengandalkan Tuhan dan memercayakan segalanya kepada-Nya, dan aku mencari kehendak Tuhan. Tanpa kusadari, firman Tuhan Yang Mahakuasa muncul di benakku: “Hanya Tuhan yang menghibur umat manusia dan hanya Tuhan yang peduli pada umat manusia ini siang dan malam. Perkembangan dan kemajuan manusia tidak dapat dipisahkan dari kedaulatan Tuhan, dan sejarah serta masa depan umat manusia berkaitan erat dengan rancangan-rancangan Tuhan. … Hanya Tuhan sendiri yang mengetahui nasib suatu negara atau bangsa, dan hanya Tuhan sendiri yang mengendalikan perjalanan umat manusia ini” (“Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan memenuhiku dengan cahaya. “Ya!” pikirku. “Tuhan adalah sang Pencipta dan nasib kita sebagai manusia berada di tangan Tuhan. Iblis, si setan, adalah penentang Tuhan. Jika mereka bahkan tidak dapat mengubah nasib mereka sendiri yang ditakdirkan masuk neraka, lalu bagaimana mereka bisa mengatur nasib manusia? Nasib manusia sudah ditentukan dari sejak semula oleh Tuhan, dan pekerjaan apa pun yang mungkin dilakukan oleh anak-anakku di masa depan dan bagaimanapun prospek mereka, semuanya itu berada di tangan Tuhan—Iblis tidak memiliki kendali atas hal-hal ini sama sekali.” Memikirkan ini, aku jadi bisa melihat dengan lebih jelas betapa tercela dan tak tahu malunya Iblis dan setan-setannya itu. Jadi, untuk memaksaku menyangkal dan menolak Tuhan, Iblis menggunakan taktik yang berbahaya dan keji—”permainan pikiran” ini—untuk memancingku agar aku tertipu. Jika bukan karena pencerahan dan bimbingan yang tepat waktu dari Tuhan Yang Mahakuasa, aku pasti sudah dijatuhkan dan ditawan oleh Iblis. Sekarang setelah aku tahu betapa tercela dan jahatnya Iblis, kepercayaan diriku untuk tidak menyerah pada rencana liciknya semakin menguat. Pada akhirnya, polisi jahat itu kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, jadi dia pergi dengan kesal.

Pada hari ketiga, kepala polisi melihat bahwa mereka tidak mendapat informasi dariku dan menjadi marah, mengeluhkan ketidakmampuan bawahannya. Dia mendatangiku dan, dengan senyum tanpa ekspresi di wajahnya, berbicara dengan sinis, mengatakan, “Mengapa kau belum mengaku juga? Kau pikir kau siapa, Liu Hulan? Kau pikir kami sudah melakukan yang terburuk sehingga kau tidak takut, hah? Mengapa Tuhanmu Yang Mahakuasa tidak datang dan menyelamatkanmu? …” Saat berbicara, dia menakuti-nakutiku dengan melambaikan alat setrum kecil di depan mataku yang berderak dan berkelap-kelip dengan cahaya biru, kemudian jarinya menunjuk pada alat setrum besar yang saat ini sedang diisi daya dan mengancamku dengan berkata, “Apa kau lihat itu? Alat setrum kecil ini akan segera kehabisan daya. Sebentar lagi, aku akan menggunakan alat setrum besar yang terisi penuh itu untuk menyetrummu, dan kemudian kita akan lihat apa kau akan bicara! Aku tahu kau akan mulai bicara nanti!” Aku melihat alat setrum besar itu dan mau tidak mau mulai panik: “Polisi jahat ini begitu kejam dan jahat. Apakah dia akhirnya akan membunuhku? Apakah aku akan bisa menanggung siksaan ini? Apakah aku akan disetrum sampai mati?” Pada saat itu, kelemahan, kepengecutan, rasa sakit dan ketidakberdayaan kurasakan semuanya membanjiri pikiranku …. Aku buru-buru berseru kepada Tuhan: “Ya Tuhan Yang Mahakuasa, meskipun dagingku sangat sakit dan sangat lemah, aku tetap tidak mau memberi Iblis apa yang diinginkannya. Dagingku ini hina dan tidak berharga, dan aku hanya ingin Engkau mendapatkan hatiku dan menerima hatiku. Kumohon lindungilah aku dan jagalah aku agar tidak mengkhianati-Mu dan menjadi Yudas yang pengkhianat.” Saat aku berseru kepada Tuhan, beberapa kalimat dari nyanyian pujian dari firman Tuhan terlintas dalam pikiranku: “Iman adalah seperti jembatan satu kayu gelondong kayu, mereka yang hidup secara tercela akan mengalami kesulitan menyeberanginya, namun mereka yang siap untuk berkorban dapat menyeberanginya tanpa perlu merasa khawatir. Jika manusia memiliki pikiran yang kerdil dan penakut, mereka sedang diperdayai Iblis. Iblis takut jika kita akan menyeberangi jembatan iman untuk masuk ke dalam Tuhan” (“Jika Sakit Datang, Ada Kasih Tuhan” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Firman Tuhan Yesus ini juga muncul di benakku: “Dan jangan takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi tidak mampu membunuh jiwa: sebaliknya, takutlah kepada Dia yang mampu menghancurkan tubuh dan jiwa di neraka” (Matius 10:28). Firman Tuhan menyebabkan air mataku mengalir deras—aku merasa sangat terharu. Kekuatan di hatiku bagai api yang mengamuk. “Bahkan jika aku harus mati hari ini,” pikirku, “apa yang perlu kutakutkan? Mati demi Tuhan itu sungguh mulia, dan aku akan menyerahkan segalanya untuk bertarung melawan Iblis sampai mati!” Tepat pada saat itu, beberapa baris dari nyanyian pujian Tuhan yang lain muncul di benakku: “Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus merasakan kesakitan, seolah-olah pisau sedang dipilin dalam hati-Nya, namun Dia tidak memiliki niat sedikit pun untuk mengingkari firman-Nya; selalu ada kekuatan dahsyat yang mendorong-Nya menuju ke tempat Dia akan disalibkan. Pada akhirnya, Dia dipaku di kayu salib dan menjadi serupa dengan daging pendosa, menunaikan pekerjaan penebusan umat manusia” (“Meneladani Tuhan Yesus” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Aku terus bernyanyi dalam hatiku, dan air mata jatuh tanpa henti di pipiku. Pemandangan Tuhan Yesus Kristus disalibkan berputar di depan mataku: Tuhan Yesus diejek, dicaci maki, dan difitnah oleh orang-orang Farisi, algojo-Nya mencambuk-Nya dengan cambuk yang diikat besi sampai Dia penuh luka dan memar, sampai akhirnya Dia dipakukan dengan kejam pada kayu salib, tetapi Dia tidak pernah mengeluarkan suara …. Segala sesuatu yang dilalui Tuhan Yesus dialami demi kasih-Nya kepada umat manusia, dan kasih ini mengalahkan kasih-Nya terhadap hidup-Nya sendiri. Pada saat itu, hatiku tergugah dan tersentuh oleh kasih Tuhan, dan aku dipenuhi dengan kekuatan dan iman yang luar biasa. Aku merasa tidak takut pada apa pun dan merasa betapa mulianya untuk mati bagi Tuhan, sedangkan menjadi seorang Yudas akan menjadi hal yang sangat memalukan. Yang mengejutkanku, ketika aku memutuskan untuk menjadi kesaksian bagi Tuhan bahkan dengan mengorbankan nyawaku sendiri, Tuhan sekali lagi membantuku untuk lolos dari cengkeraman maut, dan Dia membukakan jalan keluar untukku. Pada saat itu, seorang polisi jahat berlari masuk ke dalam ruangan sambil berkata, “Ada masalah di alun-alun kota, kita harus memobilisasi pasukan polisi untuk mengatasinya dan menjaga ketertiban umum!” Polisi jahat itu bergegas pergi. Pada saat mereka kembali, hari sudah larut malam, dan mereka tidak lagi punya tenaga untuk menginterogasiku. Mereka berkata dengan kejam kepadaku, “Karena kau tak mau bicara, kami akan mengirimmu ke rumah tahanan!”

Pada pagi hari keempat, polisi jahat itu mengambil fotoku dan menggantungkan tanda kotak besar di leherku dengan namaku tertulis di atasnya dengan kuas. Aku seperti penjahat tercela, yang diejek dan diolok-olok oleh polisi jahat itu. Aku merasa seperti menjadi sasaran penghinaan terbesar dan batinku terasa sangat lemah. Namun, aku menyadari bahwa keadaan pikiranku tidak benar, dan karena itu aku segera berseru kepada Tuhan dalam hatiku: “Ya Tuhan! Kumohon lindungilah hatiku dan mampukanlah aku untuk memahami kehendak-Mu dan tidak jatuh ke dalam perangkap rencana licik Iblis. “Setelah berdoa, satu bagian dari firman Tuhan muncul dengan jelas dalam pikiranku: “Engkau adalah makhluk ciptaan—tentu saja engkau harus menyembah Tuhan dan mengejar kehidupan yang bermakna. … Karena engkau adalah manusia, engkau harus mengorbankan diri untuk Tuhan dan menanggung semua penderitaan! Engkau harus dengan senang hati dan pasti menerima penderitaan kecil yang engkau alami hari ini dan menjalani kehidupan yang bermakna, … Engkau semua adalah orang-orang yang mengejar jalan yang benar, yang mencari peningkatan. Engkau semua adalah orang-orang yang bangkit di negeri si naga merah besar, orang-orang yang Tuhan sebut sebagai orang benar. Bukankah itulah kehidupan yang paling berarti?” (“Penerapan (2)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan membawa otoritas dan kekuatan, memenuhi hatiku dengan cahaya dan mengusir semua kegelapan, dan firman Tuhan memampukan aku untuk memahami makna dan nilai kehidupan. Firman Tuhan memungkinkanku untuk memahami bahwa, mampu mengejar kebenaran sebagai makhluk ciptaan, dan hidup untuk menyembah Tuhan dan memuaskan-Nya, merupakan kehidupan yang paling bermakna dan berharga. Diriku dapat ditangkap pada hari ini dan ditahan karena kepercayaanku kepada Tuhan, menderita semua penghinaan dan rasa sakit ini, dan dapat mengambil bagian dalam kesengsaraan dan dalam kerajaan Kristus, bukanlah hal yang memalukan, tetapi sesuatu yang sungguh mulia. Iblis tidak menyembah Tuhan; sebaliknya, ia melakukan sebisa mungkin untuk mengganggu dan menghalangi pekerjaan Tuhan, dan inilah yang hal yang paling memalukan dan tercela. Memikirkan pikiran-pikiran ini, aku jadi dipenuhi dengan kekuatan dan sukacita. Polisi jahat itu melihat senyum di wajahku dan menatapku dengan takjub, dan berkata, “Apa yang membuatmu begitu bahagia?” Aku menjawab dengan tepat dan bertenaga, “Sangat dibenarkan untuk percaya kepada Tuhan dan menyembah Tuhan. Sama sekali tidak ada yang salah dengan melakukannya. Mengapa aku tidak boleh bahagia?” Di bawah bimbingan Tuhan, sekali lagi aku bisa mengandalkan Tuhan untuk mengalahkan iblis.

Aku kemudian dibawa ke rumah tahanan. Segala sesuatu di tempat itu bahkan lebih suram dan menakutkan, dan aku merasa seperti turun ke tempat semacam neraka. Untuk setiap makanan, aku diberi sepotong kecil roti kukus hitam dan sawi rebus dalam semangkuk sup bening dengan beberapa daun sayur yang mengambang di atasnya. Aku sangat lapar sepanjang hari setiap hari, perutku sangat menginginkan makanan. Namun demikian, aku tetap harus bekerja seperti binatang pembawa beban, dan jika aku tidak memenuhi kuotaku, aku dipukuli atau dipaksa berjaga sebagai hukuman. Karena siksaan kejam ini berlangsung selama berhari-hari, aku memar dan terluka dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan bahkan untuk berjalan saja sulit, tetapi para sipir tetap memaksaku untuk membawa beban berat berupa kawat tembaga. Karena pekerjaan berat ini, punggungku yang terluka menjadi sangat menyakitkan, dan yang bisa aku lakukan pada akhir setiap hari adalah merangkak ke tempat tidur. Namun pada malam hari, polisi jahat itu akan menyuruhku berjaga untuk para tahanan juga, dan pekerjaan yang berlebihan dan melelahkan ini tidak mungkin ditanggung. Suatu malam saat aku sedang bertugas jaga, aku memanfaatkan ketidakhadiran polisi jahat itu dan, diam-diam, aku berjongkok, berharap untuk beristirahat. Namun, tanpa diduga, seorang polisi jahat melihatku melalui kamera di ruang pengawasan dan menyerbu ke arahku sambil berteriak, “Siapa yang bilang kau boleh duduk?” Salah seorang tahanan lain berbisik kepadaku, “Cepat minta maaf kepadanya, kalau tidak dia akan membuatmu ‘tidur di ranjang kayu.'” Dengan mengatakan ini, yang dia maksudkan adalah siksaan ketika papan pintu kayu dimasukkan ke dalam sel tahanan, kaki mereka dirantai padanya, dan pergelangan tangan mereka diikat di sana. Tahanan kemudian diikat pada papan dan tidak diizinkan bergerak lagi selama dua minggu. Mendengar ini, aku dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian, tetapi aku tahu aku tidak boleh menunjukkan perlawanan sedikit pun—yang bisa aku lakukan hanyalah menelan kemarahanku dan tetap diam. Aku merasa intimidasi dan siksaan seperti itu sulit ditanggung. Malam itu, aku berbaring di tempat tidurku yang dingin dan membeku menangisi ketidakadilan semua itu, hatiku dipenuhi dengan keluhan dan tuntutan kepada Tuhan dengan berpikir: “Kapan ini akan berakhir? Satu hari saja di tempat neraka ini sudah terlalu lama.” Aku kemudian memikirkan firman Tuhan: “Engkau memahami pentingnya kehidupan manusia, dan engkau berada di jalan kehidupan manusia yang benar. Di masa depan, tidak peduli bagaimana Tuhan menanganimu, engkau akan tunduk pada rancangan-Nya tanpa keluhan atau pilihan apa pun. Engkau tidak akan menghadapi tuntutan Tuhan. Dengan cara ini, engkau akan memiliki nilai” (“Bagaimana Engkau Seharusnya Menempuh Bagian Jalan Terakhir” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan ini membuatku malu akan diriku sendiri. Aku memikirkan bagaimana aku selalu mengatakan bahwa aku akan menanggung rasa sakit demi Tuhan, bahwa aku akan selalu menaati Tuhan dalam segala hal, seperti yang dilakukan Petrus, sebesar apa pun rasa sakit atau kesulitannya, dan bahwa aku tidak akan membuat keputusan atau tuntutan demi diriku sendiri. Namun, ketika penganiayaan dan kesulitan menimpaku, dan aku harus menderita dan membayar harganya, aku sepenuhnya gagal mewujudkan kata-kataku dalam kenyataan. Aku dipenuhi dengan tuntutan yang tidak masuk akal kepada Tuhan dan perlawanan terhadap Tuhan, dan aku hanya ingin melarikan diri dari kesulitan ini sehingga dagingku tidak perlu lagi menderita—bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan kebenaran dan kehidupan yang Tuhan berikan kepadaku dengan melakukan hal itu? Baru pada saat itulah aku akhirnya memahami maksud baik Tuhan: Tuhan membiarkan kesengsaraan ini menimpaku untuk mengeraskan tekadku menanggung penderitaan, dan memungkinkanku untuk belajar bagaimana patuh dalam penderitaanku, sehingga aku dapat tunduk pada pengaturan Tuhan dan memenuhi syarat untuk menerima janji-Nya. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan untukku dilakukan karena kasih, semua itu dilakukan untuk menyelamatkanku dan untuk mengubahku menjadi manusia sejati. Setelah itu hatiku terbebaskan, dan aku tidak lagi merasa dirugikan atau sedih. Yang aku inginkan hanyalah tunduk pada pengaturan dan penataan Tuhan, untuk bekerja sama dengan sungguh-sungguh dengan Tuhan dalam situasi ini, dan berusaha untuk mendapatkan kebenaran.

Sebulan kemudian, meskipun mereka tidak mendapatkan banyak bukti dariku, polisi melepaskanku. Namun, mereka melabeliku dengan tuduhan “mengganggu penegakan hukum dan terlibat dalam organisasi Xie Jiao (ajaran sesat)” untuk membatasi kebebasan pribadiku. Selama setahun, aku tidak diizinkan meninggalkan provinsi atau kotamadya, dan aku harus selalu siap mematuhi perintah kapan pun mereka menginginkanku. Baru setelah pulang ke rumah, aku mengetahui bahwa semua barang yang kusimpan di rumah tumpanganku telah dirampas dan diambil oleh polisi. Selain itu, polisi jahat itu telah menggeledah rumahku seperti penjahat, dan telah mengancam keluargaku, mengatakan bahwa mereka harus menyerahkan 25.000 yuan sebelum mereka melepaskanku. Ibu mertuaku tidak tahan dengan semua itu dan mengalami serangan jantung, dan baru pulih setelah dirawat di rumah sakit dan menerima perawatan, dengan biaya lebih dari 2.000 yuan. Pada akhirnya, keluargaku terpaksa meminta pinjaman dari semua orang yang mereka kenal sehingga mereka bisa mengumpulkan 3.000 yuan untuk polisi, dan baru setelah itulah aku dibebaskan. Karena penyiksaan kejam yang dilakukan kepadaku oleh polisi jahat itu, tubuhku akhirnya mengalami efek samping yang parah: lengan dan kakiku sering bengkak dan menjadi sakit karena tekanan hebat yang diberikan selama masa tahananku; aku bahkan tidak bisa mengangkat dua setengah kilogram sayuran atau mencuci pakaian dan benar-benar kehilangan kemampuan untuk bekerja. Penganiayaan kejam yang ditimpakan kepadaku oleh pemerintah PKT telah membuatku semakin membenci Iblis—aku membenci Iblis yang reaksioner dan menentang Surga ini.

Dengan mengalami penganiayaan dan kesulitan ini, aku akhirnya benar-benar menghargai bahwa pekerjaan Tuhan sangat nyata dan bijaksana. Selama penderitaanku, Tuhan menanamkan kebenaran dalam diriku, sedikit demi sedikit, sehingga memampukan aku untuk meninggalkan kegelapan, lolos dari maut, dan memenangkan kebebasan dan pembebasan dalam kebenaran. Inilah cara Tuhan menuntunku untuk mengalahkan iblis, berulang-ulang, melalui penganiayaan dan kesulitan yang ditimbulkan oleh Iblis kepadaku. Dia mengizinkanku untuk mendapatkan penyiraman dan perbekalan dari firman-Nya, memahami kebenaran dan mengembangkan pemahamanku, dan Dia mengeraskan kehendakku, menyempurnakan imanku, mengajariku untuk berpaling kepada-Nya dan bergantung kepada-Nya, dan hidupku perlahan-lahan tumbuh dan semakin matang. Aku akhirnya benar-benar melihat bahwa Tuhan sudah menang dan bahwa Iblis sudah dikalahkan, sebagaimana dikatakan dalam nyanyian pujian firman Tuhan ini: “Bukti dari keruntuhan si naga merah yang sangat besar secara terus-menerus dapat terlihat dalam kedewasaan yang berlanjut dari orang-orangnya. Hal ini dapat terlihat jelas oleh siapa pun. Kedewasaan dari orang-orang tersebut merupakan tanda kematian musuh. Tetapi Aku sendiri akan pergi ke tempat si naga merah yang sangat besar itu bergelung, untuk bertempur dengannya. Dan ketika semua umat manusia mengenal-Ku dari dalam daging, dan mampu melihat perbuatan-perbuatan-Ku dari dalam daging, maka sarang si naga merah yang sangat besar akan berubah menjadi abu dan lenyap tanpa jejak” (“Naga Merah yang Sangat Besar Jatuh Seiring Dewasanya Umat Tuhan” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”).

Media Terkait