Kasih yang Berbeda

Oleh Chengxin, Brasilia

Sebuah kesempatan yang tak terduga pada tahun 2011 memungkinkan aku untuk datang ke Brasilia dari Tiongkok. Ketika baru saja tiba, aku diliputi dengan pengalaman-pengalaman yang baru dan menyegarkan serta dipenuhi rasa ingin tahu, dan aku memiliki perasaan yang baik tentang masa depan. Namun setelah beberapa saat, perasaan yang baru dan menyegarkan ini segera digantikan oleh kesepian dan rasa sakit karena mendapati diriku berada di negeri asing yang jauh. Setiap hari aku pulang ke rumah sendirian dan makan sendirian, sambil menatap dinding di sekelilingku hari demi hari tanpa ada seorang pun yang bisa diajak bicara. Aku merasa sangat kesepian, dan kerap menangis dengan diam-diam. Tepat ketika aku merasa sangat tertekan dan tidak berdaya, Tuhan Yesus membawaku ke sebuah pertemuan melalui seorang teman. Melalui pembacaan firman Tuhan, menyanyikan lagu-lagu pujian, dan berdoa dalam pertemuan-pertemuan, hatiku yang sepi dihibur oleh Tuhan. Aku mengetahui dari Alkitab bahwa langit dan bumi dan segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan, dan bahwa manusia juga merupakan ciptaan Tuhan. Aku juga mengetahui bahwa Tuhan Yesus disalibkan demi penebusan umat manusia, bahwa Tuhan Yesus–lah yang menebus kita dari dosa, dan bahwa Dialah satu-satunya Penebus umat manusia. Setelah memasuki hadirat penyelamatan Tuhan, yang lebih besar dari segalanya, aku merasa sangat tersentuh dan bertekad untuk mengikuti Tuhan selama sisa hidupku. Karena itu aku dibaptis pada hari Thanksgiving dan secara resmi menjadi seorang Kristen. Karena aku suka menyanyi, terutama menyanyikan lagu pujian untuk memuji Tuhan, setelah dibaptis, aku secara aktif terlibat dalam pekerjaan bagi gereja dengan menjadi anggota paduan suara. Oleh bimbingan dan berkat Tuhan, aku hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan. Setiap kali aku menghadiri pertemuan atau memuji Tuhan dalam ibadah, aku merasa penuh dengan semangat.

Namun masa-masa indah tidak berlangsung selamanya, dan ketika aku memasuki barisan pelayanan gereja, secara berangsur-angsur aku mulai melihat bahwa saudara-saudari di gereja di luarnya tampak saling memperhatikan dan menjaga, dan mereka semuanya tampak rukun satu sama lain, tetapi sebenarnya semua yang mereka katakan dan lakukan adalah demi kepentingan mereka sendiri. Mereka tidak ingin menanggung kerugian secara pribadi ketika melakukan pekerjaan pelayanan gereja, dan sering bergosip di belakang satu sama lain tentang siapa yang berbuat lebih banyak dan siapa yang berbuat lebih sedikit. Bahkan pendetanya sangat gila hormat. Dia memperlakukan orang berdasarkan jumlah sumbangan mereka, dan secara khusus menyebutkan tentang sumbangan setiap kali dia berkhotbah. Setiap kali dia datang ke sebuah pertemuan, masalah yang paling diperhatikan pendeta adalah apakah orang memberikan sumbangan atau tidak, dan berapa banyak yang mereka berikan, dan dia tidak mau mendengar apa pun tentang kehidupan saudara-saudari. Dia berbicara tentang kasih tetapi aku tidak pernah melihatnya mengambil tindakan nyata. Setiap kali seorang saudara atau saudari mengalami kesulitan, pendeta tidak akan membantu atau mendukung mereka. Namun yang lebih keterlaluan lagi adalah bahwa ia masih juga akan mengkritik orang serta memandang rendah saudara-saudari yang tak berdaya dan tidak punya uang itu. Ketika aku melihat situasi ini di gereja, aku kecewa tetapi juga bingung: Bagaimana mungkin gereja telah berubah menjadi tiada bedanya dengan masyarakat pada umumnya? Perlahan-lahan, aku kehilangan kasih dan iman yang telah kumiliki pada awalnya, dan aku tidak lagi berpartisipasi dengan begitu aktif ketika aku pergi ke gereja pada hari Minggu. Aku bahkan tidak ingin bernyanyi. Setiap minggu ketika aku pergi ke gereja, aku akan berdiri di luar minum kopi atau tidur sebentar di bangku gereja. Ketika khotbah selesai, aku akan memberikan sumbangan dan berjalan keluar, dan aku akan selalu pergi dengan perasaan sedih dan tak berdaya di hatiku.

Pada suatu hari Minggu di bulan Agustus 2016, aku bertemu saudari Li Min di sebuah taman. Dia datang dari Amerika dan dahulu adalah teman sekelas dari saudari Gao Xiaoying dan Liu Fang. Kami semua percaya kepada Tuhan, dan mengobrol sambil duduk di rumput. Kami terus berbicara dan sampai pada topik mengenai situasi di gereja, dan aku memberi tahu mereka semua yang telah kulihat di gereja. Setelah aku selesai berbicara, saudari Li Min mengangguk dengan penuh pertimbangan dan berkata, “Saat ini, bukan hanya gerejamu yang telah menjadi seperti ini, tetapi seluruh dunia religius telah kehilangan pekerjaan Roh Kudus, dan telah jatuh ke dalam kegelapan dan kegersangan. Tuhan Yesus pernah bernubuat: ‘Dan karena kedurhakaan akan bertambah banyak, kasih banyak orang akan menjadi dingin‘ (Matius 24:12). Kita sekarang berada pada bagian penghabisan dari akhir zaman, dan pelanggaran hukum menjadi semakin merajalela dalam agama. Para pendeta dan penatua tidak menaati perintah Tuhan, mereka tidak mempraktekkan jalan Tuhan, dan mereka pikir bukan masalah besar untuk hidup dalam dosa seperti itu. Kita semua tahu bahwa perkembangan gereja adalah hasil yang dicapai oleh pekerjaan Roh Kudus. Pada saat ini, Tuhan telah melakukan pekerjaan yang baru, dan pekerjaan Roh Kudus telah beralih kepada sekelompok orang yang menerima dan menaati pekerjaan Tuhan yang baru. Para pendeta dan penatua dalam agama tidak membimbing orang-orang percaya untuk mencari dan menyelidiki pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, tetapi sebaliknya mereka menentang dan mengutuk pekerjaan Tuhan yang baru dengan menyebarluaskan segala macam desas-desus dan kepalsuan agar manusia berhenti berpaling kepada Tuhan. Mereka berhadapan dengan kebencian dan penolakan Tuhan, dengan demikian seluruh dunia religius hidup tanpa berkat Tuhan, telah sepenuhnya kehilangan pekerjaan Roh Kudus, serta ditolak dan disingkirkan oleh Tuhan. Karena itu gereja menjadi semakin gersang dan gelap. Kejadian ini seperti pada waktu Tuhan Yesus berinkarnasi untuk melakukan pekerjaan-Nya. Pekerjaan Tuhan Yesus memulai Zaman Kasih Karunia dan mengakhiri Zaman Hukum. Karena orang-orang yang mengikuti Tuhan Yesus menerima dan menaati pekerjaan Tuhan yang baru, mereka kemudian mendapatkan pekerjaan Roh Kudus, sedangkan Roh Kudus tidak bekerja di antara mereka yang tidak menerima Tuhan Yesus dan tetap tinggal di bait suci saja. Maka, bait suci yang dahulu dipenuhi dengan kemuliaan Tuhan dan tempat orang-orang percaya menyembah Tuhan menjadi tempat berbisnis dan sarang pencuri. Dengan kata lain, ada dua alasan bagi kegersangan gereja: Yang pertama adalah karena para pendeta dan penatua tidak berpegang pada perintah Tuhan atau mempraktekkan firman Tuhan, dan karena mereka terus-menerus berbuat dosa dan melakukan kejahatan; alasan kedua adalah karena Tuhan sedang melakukan pekerjaan yang baru, karena pekerjaan Roh Kudus telah beralih, dan karena orang tidak mengikuti jejak langkah Tuhan. Namun, ada kehendak Tuhan di balik kehancuran gereja, dan ada kebenaran yang harus dicari di sini. Melalui kegersangan gereja, Tuhan mendesak semua orang yang percaya kepada-Nya dengan hati yang sungguh-sungguh dan haus akan kebenaran untuk meninggalkan agama, sehingga mereka dapat mencari pekerjaan Roh Kudus, mengikuti jejak langkah Tuhan, datang ke hadirat Tuhan, serta mendapatkan pekerjaan dan penyelamatan dari Tuhan sekarang ini.”

Setelah mendengarkan persekutuan saudari Li, aku mengangguk dan berkata, “Apa yang kaukatakan itu benar. Memang keadaannya seperti yang kaukatakan. Aku tak pernah mampu memahami masalah ini. Gereja pada awalnya adalah tempat untuk menyembah Tuhan, tetapi tidak ada lagi perbedaan antara gereja dan masyarakat pada umumnya. Lebih lanjut, tidak ada terang baru dalam apa yang dikhotbahkan para pendeta, demikian pula tidak ada kegembiraan dalam mendengarkan mereka, dan semua orang sekarang ini hidup dalam kegelapan. Ternyata, itu karena kita belum mengikuti perkembangan pekerjaan Tuhan yang baru, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang untuk mengikuti perkembangan pekerjaan Tuhan yang baru?” Saudari Li berkata, “Tuhan Yesus telah lama kembali. Pada akhir zaman, Tuhan telah berinkarnasi sebagai Anak Manusia untuk mengungkapkan kebenaran atas nama Tuhan yang Mahakuasa, dan untuk melakukan tahap pekerjaan menghakimi serta menyucikan umat manusia. Kita harus mengikuti perkembangan pekerjaan Tuhan pada akhir zaman dan menerima penghakiman dari firman Tuhan, dan baru pada saat itulah kita akan bisa mendapatkan pekerjaan Roh Kudus.” Ketika aku mendengar bahwa Tuhan Yesus telah kembali dan sedang melakukan pekerjaan penghakiman, aku sangat terkejut. Aku berpikir, “Bukankah penghakiman berarti menghukum seseorang setelah dia dinyatakan berdosa? Tuhan datang pada akhir zaman untuk menghakimi mereka yang tidak percaya kepada Tuhan, dan kita yang percaya kepada Tuhan Yesus telah dibebaskan dari dosa-dosa kita dan telah dianugerahi dengan keselamatan. Kita tidak perlu menerima penghakiman Tuhan, karena ketika Tuhan datang Dia akan langsung mengangkat kita ke kerajaan sorga. Bagaimana mungkin Dia datang untuk menghakimi kita?” Dengan pemikiran seperti itu, aku menyuarakan pendapatku, dan pada saat itulah saudari Liu Fang berkata, “Saudaraku, aku telah menyelidiki pekerjaan Tuhan yang Mahakuasa pada akhir zaman bersama saudari Gao selama seminggu. Melalui pembacaan firman Tuhan yang Mahakuasa, kami telah mengenalinya sebagai suara Tuhan. Tuhan yang Mahakuasa benar-benar adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Bacalah firman Tuhan yang Mahakuasa, dan kemudian kau akan mengerti. Alasan mengapa Tuhan Yesus telah kembali untuk melakukan pekerjaan penghakiman adalah, walaupun kita yang percaya kepada Tuhan telah diampuni dari dosa-dosa kita, kita masih selalu hidup dalam dosa dan tidak dapat membebaskan diri kita sendiri darinya. Kita tidak mampu membebaskan diri kita dari belenggu dan kendali dosa, dan kita benar-benar perlu agar Tuhan mengungkapkan kebenaran untuk menghakimi dan menyucikan kita, serta membasmi natur kita yang berdosa dan watak kita yang rusak dan jahat. Pekerjaan penghakiman Tuhan yang Mahakuasa pada akhir zaman adalah pekerjaan yang lebih baru dan lebih tinggi yang dibangun atas dasar pekerjaan penebusan Tuhan Yesus. Pekerjaaan itu sepenuhnya menyucikan dan menyelamatkan manusia melalui penghakiman firman, dan menuntun manusia ke tempat tujuan yang indah.” Setelah itu, mereka dengan sabar bersekutu denganku mengenai lebih banyak kebenaran. Tetapi apa pun yang mereka katakan, aku tetap tidak dapat menerima bahwa Tuhan telah datang kembali untuk menghakimi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sementara menangani konflik batin ini, aku juga merasa bingung: saudari Gao dan saudari Liu adalah orang-orang yang sangat saleh, dan setiap orang mengakui kepercayaan mereka dan kasih mereka bagi Tuhan, jadi bagaimana mungkin mereka percaya bahwa Tuhan Yesus sedang datang kembali untuk menghakimi kita semua yang percaya kepada-Nya, dan bahwa Dia tidak akan mengangkat kita secara langsung ke dalam kerajaan sorga? Mungkinkah ada beberapa misteri atau kebenaran yang tidak kuketahui dalam hal ini?

Sementara aku sedang memikirkannya, saudari Li Min mengeluarkan sebuah buku dan berkata dengan sungguh-sungguh kepadaku, “Saudaraku, Tuhan Yesus berkata, ‘Diberkatilah orang yang miskin dalam roh: karena kerajaan surga adalah milik mereka‘ (Matius 5:3). Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan, OK? Pertama-tama mari kita lihat apakah firman Tuhan yang Mahakuasa adalah suara Tuhan, dan apakah firman itu dapat membekali kehidupan kita, dan apakah firman itu dapat menyucikan dan menyelamatkan kita, kemudian kita akan mengetahui apakah Tuhan yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali atau bukan. Aku percaya bahwa domba-domba Tuhan akan mendengar suara Tuhan, jadi mari kita membaca firman Tuhan bersama-sama!” Aku merasa sedikit enggan dan tidak menjawabnya. Ketiga saudariku itu menjadi agak sedih melihat sikapku. Tiba-tiba saudari Liu menyarankan, “Pertama-tama mari kita berdoa, dan kemudian membaca firman Tuhan.” Ketiga saudari kemudian mulai berdoa, dan aku tidak mempunyai pilihan selain mengikuti mereka. Tetap saja, sementara aku berdoa, aku nyaris tak dapat menenangkan hatiku. Meskipun aku tidak dapat mendengar apa yang didoakan para saudariku, aku tersentuh oleh cara mereka berperilaku. Sikap mereka terhadap Tuhan begitu tulus, dan mereka mencari kehendak Tuhan dalam segala hal. Mereka berharap agar aku mau menyelidiki pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, dan harapan ini juga lahir dari kasih Tuhan. Setelah berdoa, saudari Li menyerahkan sebuah buku dan berkata dengan sungguh-sungguh kepadaku, “Sebagian besar pertanyaan dalam buku ini, Seratus Pertanyaan dan Jawaban tentang Menyelidiki Jalan yang Benar, diajukan oleh orang-orang dari semua denominasi. Bagian-bagian yang terkait telah dipilih dari firman Tuhan untuk menjawab masing-masing pertanyaan. Silakan melihatnya.” Aku tidak ingin mengambil buku itu, tetapi melihat betapa tulusnya dia berbicara, aku memandang saudari Gao dan saudari Liu sekali lagi, dan melihat betapa mereka sangat berharap aku mau menyelidiki dan mencari tahu tentang hal ini. Aku pikir sungguh sebuah perkara yang penting untuk menyambut kedatangan Tuhan, dan aku tidak seharusnya menganggap sembarangan perkara itu. Jadi, aku menerima buku itu dan berkata, “Baiklah, aku bersedia menerima buku ini. Kita tidak usah membicarakan hal ini lagi hari ini. Aku akan membaca buku ini terlebih dahulu, baru kemudian kita akan membicarakannya lagi.”

Setelah pulang ke rumah, aku menyisihkan buku itu–pikiranku kacau. Aku memikirkan tentang apa yang saudari Li Min telah sampaikan dalam persekutuan dan semuanya terasa jelas dan nyata bagiku. Semua yang telah dikatakannya benar, tetapi hal yang tak bisa kumengerti adalah mengapa Tuhan akan melakukan pekerjaan penghakiman ketika Dia datang kembali? Aku merenungkannya dengan cermat, tetapi tetap saja tidak mengerti. Akan tetapi, mengenai perkara kedatangan Tuhan yang kedua kali, karena aku sekarang telah mendengarnya, aku tidak bisa secara membabi buta mengambil keputusanku sendiri tentang hal itu dan duduk dengan pasrah menerima nasibku. Kukira adalah ide yang bagus untuk melihat-lihat isi buku itu dan mengembangkan beberapa pemahaman. Karena itu aku menghabiskan waktu enam hari untuk membaca buku itu dari awal sampai akhir. Aku melihat bahwa Tuhan yang Mahakuasa telah mengungkapkan begitu banyak kebenaran dan misteri yang belum pernah kudengar sebelumnya, dan aku merasa mendapatkan dukungan yang besar dengan membacanya. Juga, ketika aku membaca firman Tuhan yang Mahakuasa, aku merasa bahwa ada banyak hal yang diucapkan senada dengan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus. Firman itu memiliki otoritas dan kuasa, seolah-olah Tuhan sendiri yang sedang berbicara. Maka, setelah aku selesai membaca buku itu, aku ingin lebih memahami tentang apakah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan yang Mahakuasa itu, dan aku memutuskan untuk pergi mencari saudari Gao untuk menanyakan kepadanya tentang hal itu.

Esok harinya, aku pergi ke rumah saudari Gao, dan secara kebetulan bertemu dengan beberapa temannya. Mereka semua telah menerima pekerjaan Tuhan yang Mahakuasa pada akhir zaman dan sedang mengadakan pertemuan dan persekutuan dengan yang lainnya. Kami saling menyapa, dan saudari Li Min langsung menuju pokok permasalahan dengan bertanya kepadaku, “Saudaraku, pemahaman seperti apa yang kaumiliki saat ini? Aspek apa dari pekerjaan Tuhan pada akhir zaman yang ingin kaupahami? Kita dapat bersekutu bersama. “Aku berkata,” Kau menyebutkan bahwa gereja telah menjadi gersang pada akhir zaman karena pekerjaan Roh Kudus telah beralih. Aku dapat menerima hal ini, tetapi kita yang percaya kepada Tuhan sudah dibebaskan dari dosa-dosa kita, dan Tuhan tidak memandang kita sebagai orang berdosa. Mengapa Tuhan masih ingin melakukan pekerjaan penghakiman? Tidak bisakah kita diangkat ke dalam kerajaan sorga jika Tuhan tidak melakukan tahap pekerjaan ini? Ketika Tuhan menghakimi seseorang, bukankah orang itu kemudian dihukum? Haruskah kita semua dihukum? Lalu bagaimana kita bisa diangkat ke dalam kerajaan surga?” Saudari Li Min berkata, “Sejauh yang dipahami oleh kebanyakan orang, mereka yang dihakimi oleh Tuhan yang datang kembali adalah orang-orang tak beriman yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa, karena Tuhan menghakimi seseorang, itu artinya orang tersebut dikutuk dan dihukum. Mereka percaya bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan telah dibebaskan dari dosa mereka, dan bahwa ketika Tuhan datang, Dia akan langsung mengangkat mereka ke dalam kerajaan sorga, dan tentu saja tidak akan menghakimi mereka. Karena itu mereka tidak bersedia untuk menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Dengan melakukan hal ini, mereka sama sekali salah dalam memahami kehendak Tuhan dan hal ini memperlihatkan bahwa mereka tidak mengenal pekerjaan Tuhan. Sebenarnya, pekerjaan Tuhan yang Mahakuasa pada akhir zaman—yakni mengungkapkan kebenaran dan menghakimi serta menyucikan manusia—dilakukan justru demi mengangkat orang-orang percaya ke dalam kerajaan sorga. Kita semua tahu Alkitab mengatakan, ‘Penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan‘ (1 Petrus 4:17). Nubuat ini memberi tahu kita dengan jelas bahwa pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman dimulai pertama kali di rumah Tuhan. Artinya, penghakiman itu dimulai dengan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dengan hati yang sungguh-sungguh dan menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Jadi, kita mengira bahwa percaya kepada Tuhan Yesus berarti kita tidak perlu menerima penghakiman Tuhan, tetapi ini pandangan yang salah. Pada akhir zaman, Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menghakimi semua orang yang datang di hadapan takhta-Nya, dan Dia menyucikan serta menyelamatkan orang-orang ini, dan membuat sekelompok orang menjadi pemenang sebelum malapetaka datang. Setelah itu, ketika malapetaka yang besar datang, Dia akan memberi pahala kepada orang-orang yang baik dan menghukum mereka yang jahat. Demikianlah berlangsungnya penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Tak seorang pun dapat meloloskan diri dari pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman, tetapi bagi mereka yang menerima dan menaati penghakiman Tuhan, hal itu merupakan penyucian, penyelamatan, dan penyempurnaan. Sedangkan bagi mereka yang menolak dan menentang pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman, meskipun mereka dapat bersembunyi dari penghakiman firman Tuhan, pada akhirnya mereka tetap tidak dapat meloloskan diri dari penghakiman malapetaka yang besar. Ini fakta! Alasan mengapa Tuhan ingin menghakimi kita pada akhir zaman diterangkan dengan sangat jelas dalam firman Tuhan yang Mahakuasa. Mari kita baca bersama-sama satu bagian dari firman Tuhan. Tuhan yang Mahakuasa berfirman, ‘Engkau hanya tahu bahwa Yesus akan turun ke bumi pada akhir zaman, tetapi bagaimana tepatnya Dia akan turun? Orang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, yang belum diubahkan, atau disempurnakan Tuhan, mungkinkah engkau berkenan di hati Tuhan? Bagimu, engkau yang masih berada dalam diri manusia yang lama, memang benar bahwa engkau diselamatkan oleh Yesus, dan engkau tidak terhitung sebagai orang berdosa karena penyelamatan Tuhan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa engkau tidak berdosa, dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau bisa kudus jika engkau belum diubahkan? Di dalam dirimu, engkau dipenuhi dengan kenajisan, egois dan kasar, tetapi engkau masih berharap untuk dapat turun bersama Yesus—enak sekali kau! Engkau melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan: engkau baru hanya ditebus, tetapi belum diubahkan. Agar engkau dapat berkenan di hati Tuhan, Tuhan harus langsung melakukan pekerjaan pengubahan dan pembersihan terhadapmu. Jika engkau hanya ditebus, engkau tidak akan dapat mencapai kekudusan. Dengan begini, engkau tidak akan layak mendapat bagian dalam berkat-berkat Tuhan yang baik, sebab engkau melewatkan satu tahap dalam pekerjaan Tuhan dalam mengelola manusia, yaitu tahap kunci berupa pengubahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, engkau, seorang berdosa yang baru ditebus saja, tidak dapat langsung menerima warisan Tuhan‘ (“Mengenai Sebutan dan Identitas” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Kita mengerti dari firman Tuhan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus hanya bisa mengampuni dosa kita. Percaya kepada Tuhan Yesus tidak berarti bahwa kita tidak berbuat dosa, atau bahwa kita tidak berdosa. Pada kenyataannya, kita semua hidup dalam lingkaran setan berbuat dosa dan mengakuinya, dan kita masih perlu agar Tuhan mengungkapkan firman-Nya untuk menghakimi dan mentahirkan kita. Baru setelah kita ditahirkan kita akan memenuhi syarat untuk diangkat ke dalam kerajaan sorga. Hal ini dicatat dalam Alkitab: ‘Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus‘ (Imamat 11:45). ‘Karena tanpa kekudusan, tidak ada manusia yang bisa melihat Tuhan’ (Ibrani 12:14). Tuhan itu kudus. Orang-orang yang tercemar dan rusak tidak mungkin dapat melihat wajah Tuhan dan tidak layak untuk memasuki kerajaan Tuhan. Pekerjaan penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus hanya membebaskan kita dari dosa-dosa kita, tetapi tidak membebaskan kita dari watak kita yang rusak dan natur kita yang berdosa. Karena itu, watak kita yang rusak dan jahat tetap ada, seperti sifat angkuh dan sombong, serong dan licik, egois dan tercela, jahat dan serakah, merasa benci terhadap kebenaran dan bergembira karena ketidakadilan. Justru watak yang rusak inilah merupakan penyebab utama yang mengakibatkan kita berbuat dosa dan menentang Tuhan. Jika masalah ini tidak diselesaikan, kita akan sering berbuat dosa, saling bersaing untuk mendapatkan ketenaran dan keuntungan, terlibat dalam perselisihan karena iri hati, berbohong dan menipu, meninggikan diri sendiri, menjadi kesaksian bagi diri kita sendiri, dan banyak lagi. Khususnya ketika pekerjaan Tuhan tidak sesuai dengan pemahaman kita, kita tetap mengandalkan pemahaman dan imajinasi kita untuk menghakimi, menyangkal, dan mengutuk Tuhan, dan untuk menentang pekerjaan Tuhan. Bagaimana orang-orang yang menentang Tuhan seperti ini dapat diangkat ke dalam kerajaan sorga? Tuhan mengungkapkan kebenaran dan melakukan pekerjaan penghakiman pada akhir zaman, dan tujuan-Nya dalam melakukan hal itu adalah untuk mentahirkan kita dari watak kita yang rusak dan jahat serta memenuhi impian kita untuk diangkat ke dalam kerajaan sorga. Ketika kita menerima penghakiman Tuhan, terbebas dari watak kita yang rusak, serta disucikan dan diubahkan sepenuhnya, kita kemudian akan memenuhi syarat untuk mewarisi janji Tuhan dan dipimpin oleh Tuhan ke dalam kerajaan.”

Setelah mendengarkan persekutuan dari saudari itu dan firman Tuhan yang Mahakuasa, aku berpikir, “Ketika seseorang percaya kepada Tuhan, dosa-dosanya memang diampuni, tetapi itu tidak berarti bahwa dia tidak lagi berbuat dosa. Ini sungguh benar! Melihat mereka yang ada di gereja, mulai dari para pendeta dan penatua sampai pada anggota-anggota biasa, termasuk diriku sendiri, setiap orang hidup dalam suatu keadaan di mana kita berbuat dosa pada siang hari dan mengakui dosa-dosa kita pada malam hari, dan kita tidak mampu melarikan diri dari perbudakan dan kendali dosa. Tampaknya manusia pasti tidak akan dapat melihat wajah Tuhan tanpa terlebih dahulu dihakimi dan disucikan oleh firman Tuhan. Jika demikian halnya, Tuhan mutlak perlu untuk datang dan melakukan pekerjaan penghakiman dan penyucian manusia! Dahulu aku pernah percaya bahwa jika seseorang memiliki iman kepada Tuhan Yesus, ia tidak perlu dihakimi. Aku berpikir bahwa Tuhan akan datang untuk menghakimi mereka yang tidak percaya kepada-Nya. Sekarang aku mengerti bahwa pemahaman ini sama sekali tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, dan bahwa hal itu adalah pemahaman yang salah.” Pada saat itulah, saudari Gao memutar sebuah video dari Gereja Tuhan yang Mahakuasa untukku dengan nyanyian dan tarian yang berbunyi Sukacita di Tanah Kanaan: “Kembali ke rumah Tuhan, kurasakan sukacita dan kegembiraan. Aku beruntung akhirnya dapat melihat Tuhan Mahakuasa yang praktis. Firman-Nya menuntun manusia masuk ke dalam Zaman Kerajaan. Firman-Nya menunjukkan jalan padaku, dan aku mengerti jalan yang harus aku tempuh sebagai manusia. Aku tak lagi mencari, impianku tentang kerajaan surga akhirnya jadi nyata. Aku telah disirami Tuhan dengan air kehidupan. Berhadapan muka dengan-Nya ialah kenikmatan tiada tara. Tanah Kanaan yang indah ialah dunia firman Tuhan” (“Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Seluruh nyanyian itu penuh keceriaan dan membangkitkan semangat, serta sangat menginspirasi. Aku melihat bahwa wajah setiap saudara dan saudari dalam video itu meluap dengan kebahagiaan, dan mau tak mau kami ikut bergabung dengan menyanyikan lagu pujian itu. Kami mulai menari mengikuti irama musik dan hati kami dipenuhi dengan sukacita. Aku melihat bahwa saudara-saudari yang memiliki perbekalan firman Tuhan diberkati dan penuh sukacita. Meskipun telah mengalami penghakiman dan hajaran dari Tuhan, mereka tetap tidak memiliki kekhawatiran sama sekali, tetapi sebaliknya merdeka, bebas, penuh sukacita, dan bahagia. Aku memikirkan tentang betapa iman dan semangatku sendiri dalam hal agama nyaris telah lenyap, dan yang kulihat hanyalah kegersangan dan kegelapan gereja. Di lain pihak, saudara-saudari dari Gereja Tuhan yang Mahakuasa dipenuhi dengan pekerjaan Roh Kudus. Ada terang yang bersinar dari persekutuan mereka tentang kebenaran, mereka memuji Tuhan dengan penuh semangat, dan mereka menjadi kesaksian bagi Tuhan dengan penuh kegembiraan dan gairah. Apabila dibandingkan, mereka tampaknya hidup di dunia yang sama sekali berbeda denganku. Tepat pada saat itu, aku merasa seperti anak yatim piatu yang berjalan tanpa arah, tetapi telah kembali ke rumah dan sedang menikmati kehangatan pelukan ibunya. Aku berpikir, “Sungguh ada kebenaran yang harus dicari di sini. Aku harus mendengarkan dengan baik persekutuan yang diberikan oleh saudara-saudari tentang kebenaran pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman agar aku tidak akan kehilangan kesempatanku untuk menyambut kedatangan Tuhan dan diangkat ke dalam kerajaan sorga.

Setelah itu, saudari Li membacakan kepada kami dua bagian lagi dari firman Tuhan: “Jadi melalui apa kesempurnaan manusia bisa dicapai? Melalui watak-Nya yang benar. Watak Tuhan terutama terdiri dari kebenaran, murka, keagungan, penghakiman, dan kutukan. Penyempurnaan-Nya akan manusia terutama dicapai melalui penghakiman. Sejumlah orang tidak paham, dan bertanya mengapa Tuhan hanya bisa menjadikan manusia sempurna melalui penghakiman dan kutukan. Mereka berkata. ‘Jika Tuhan mengutuk manusia, bukankah manusia akan mati? Jika Tuhan menghakimi manusia, bukankah manusia akan terhukum? Lalu bagaimana ia masih bisa disempurnakan?’ Demikianlah perkataan orang yang tidak mengenal pekerjaan Tuhan. Yang Tuhan kutuk adalah ketidaktaatan manusia, dan yang dihakimi-Nya adalah dosa-dosa manusia. Walaupun Dia berbicara dengan keras, dan tanpa memperhatikan perasaan sedikit pun, Dia mengungkapkan segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia, dan melalui perkataan yang keras ini Dia mengungkapkan apa yang penting di dalam diri manusia. Namun, melalui penghakiman seperti itu, Dia memberi manusia pengetahuan yang besar akan hakikat kedagingan, dan dengan demikian manusia tunduk kepada ketaatan di hadapan Tuhan. Daging manusia itu berdosa, berasal dari Iblis, tidak taat, dan merupakan sasaran hajaran Tuhan—jadi, untuk memungkinkan manusia mengenal dirinya sendiri, perkataan penghakiman Tuhan harus dijatuhkan atasnya dan harus digunakan berbagai jenis pemurnian; barulah saat itu pekerjaan Tuhan bisa efektif” (“Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”) “Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkanmanusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya” (“Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Saudari Li bersekutu dengan kami, dan mengatakan, “Setelah dirusak oleh Iblis, kita semua hidup di bawah wilayah kekuasaan Iblis dan menjadi orang-orang tak bermoral yang menentang Tuhan. Menurut substansi Tuhan yang benar dan kudus, kita semua merupakan sasaran kutukan dan pemusnahan Tuhan, tetapi bukan merupakan kehendak Tuhan untuk memusnahkan umat manusia, tetapi sebaliknya kehendak-Nya adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Jadi, untuk sepenuhnya menyelamatkan manusia dari wilayah kekuasaan Iblis, Tuhan mengungkapkan firman-Nya serta melakukan pekerjaan menghakimi dan menyucikan manusia pada akhir zaman. Pekerjaan penghakiman itu sebenarnya adalah Tuhan menggunakan firman-Nya untuk menyingkapkan perkataan, tindakan, sifat, dan esensi manusia yang memberontak dan menentang Tuhan, sehingga manusia dapat mengetahui esensi mereka yang rusak dan kenyataan kerusakan mereka, untuk mengenali watak Tuhan yang benar dan kudus, dan untuk mencapai kebencian terhadap diri sendiri. Dengan demikian, manusia bisa sungguh-sungguh bertobat dan berubah, dan mereka bisa membebaskan diri dari watak mereka yang rusak dan jahat serta didapatkan oleh Tuhan. Dengan cara ini, manusia akan mendapatkan keselamatan sepenuhnya. Hanya melalui penghakiman dan hajaran dari firman Tuhan-lah kita dapat melihat bahwa kita penuh dengan kerusakan, bahwa di semua waktu dan di segala tempat, kita memperlihatkan watak yang rusak seperti keegoisan, kecongkakan, kecurangan, dan keserakahan, dan bahwa kita penuh dengan gagasan dan imajinasi, keinginan yang berlebihan, dan tuntutan yang tak masuk akal sehubungan dengan Tuhan, dan bahwa kita tidak memiliki hati nurani atau akal budi, kesetiaan atau ketaatan. Semakin kita menerima penghakiman Tuhan, semakin kita mengakui betapa rusaknya kita dan betapa kita memang tidak memiliki kemanusiaan. Kita mulai merasa muak terhadap diri sendiri, dan membenci diri kita sendiri dalam hati kita. Semakin kita menerima penghakiman Tuhan, semakin kita melihat kekudusan dan kebenaran Tuhan, dan semakin hati kita menghormati Tuhan. Kita menjadi rela meninggalkan keinginan daging kita dan hidup sesuai dengan firman Tuhan. Selanjutnya, terjadi perubahan total dalam pandangan kita tentang segala sesuatu dan pada watak kita yang rusak, dan kita mulai hidup dalam kemiripan dengan manusia sejati. Kemudian kita benar-benar mulai memahami bahwa penghakiman dan hajaran Tuhan adalah kasih dan penyelamatan Tuhan yang agung bagi kita. Tanpa penghakiman dan hajaran Tuhan, kita semua akan menjadi sasaran pemusnahan.”

Saudari itu mengakhiri persekutuannya di sini, dan aku merasa sangat tersentuh oleh apa yang telah dikatakannya dan melihat betapa kasih Tuhan itu agung dan sejati. Dialah Tuhan yang mengasihi umat manusia! Akulah yang telah salah memahami maksud baik Tuhan dalam menyelamatkan manusia. Dahulu aku mengira bahwa Tuhan menghakimi manusia untuk mengutuk dan menghukum mereka, dan tidak pernah berpikir bahwa Tuhan yang mengungkapkan firman-Nya dan menghakimi manusia pada akhir zaman bisa saja adalah kasih yang lebih sejati, atau bahwa itu adalah penyelamatan yang bahkan lebih besar bagi kita! Syukur kepada Tuhan yang Mahakuasa! Melalui pembacaan firman Tuhan yang Mahakuasa dan dari persekutuan para saudari, aku mendapatkan beberapa pemahaman tentang pekerjaan penghakiman Tuhan dan pemahamanku yang salah tentang Tuhan menjadi terhapus. Aku sampai pada keyakinan yang kuat bahwa Tuhan yang Mahakuasa tidak lain adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan aku menjadi rela untuk menerima pekerjaan penghakiman Tuhan. Aku telah sepenuhnya timbul dari kabut kekalutan, dan wajahku berseri-seri dengan senyum penuh kegembiraan. Saudari Li berkata dengan bahagia, “Syukur kepada Tuhan karena Dia telah membimbingmu. Semua ini adalah hasil dari firman Tuhan. Dari sini kita dapat melihat bahwa, sebelum kita mulai memahami kebenaran, meskipun gagasan tentang Tuhan dan pekerjaan Tuhan mungkin muncul, asalkan kita mencari dan menerima kebenaran, serta mendengarkan firman Tuhan, kita akan memahami kebenaran dan memiliki pengenalan akan pekerjaan Tuhan; dan gagasan serta imajinasi kita akan tertiup laksana gumpalan asap. Kemudian kita akan dapat memahami kehendak Tuhan dan tidak akan lagi salah memahami Tuhan.” Aku mengangguk dengan gembira dan bersyukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan diriku.

Setelah menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, aku memasang aplikasi pesan di ponselku sehingga saudari Gao dan yang lainnya sering berbagi denganku film-film Injil, video musik, dan nyanyian pujian dari Gereja Tuhan yang Mahakuasa. Ketika aku menonton film injili dari Gereja Tuhan yang Mahakuasa berjudul Dari Takhta Mengalir Air Kehidupan, hal itu berdampak besar padaku. Situasi yang gersang dari gereja di dalam film itu sama seperti situasi di gereja kita sendiri, dan film itu memperlihatkan penyebab utama dari kegersangan ini dengan kejelasan yang sempurna. Karena pekerjaan Tuhan telah beralih, dan Tuhan tidak lagi bekerja di dalam gereja yang religius, orang-orang yang tidak bersedia untuk menerima pekerjaan Tuhan yang Mahakuasa pada akhir zaman semuanya menderita kelaparan. Orang-orang yang menerima firman Tuhan yang Mahakuasa mendapatkan perbekalan air kehidupan dari Tuhan dan tidak lagi kekeringan, dan mereka menjalani kehidupan yang diberkati bersama Tuhan. Ketika aku menonton film Penantian, aku mau tak mau menarik napas. Pendeta tua dalam film itu telah mempercayai Tuhan seumur hidupnya dan berpikir bahwa kerja kerasnya patut mendapatkan pujian. Dia hanya menunggu Tuhan datang agar dia bisa diangkat ke sorga. Tetapi dia dengan keras kepala berpegang teguh pada keyakinan bahwa ketika Tuhan datang, Dia akan turun ke atas awan dan akan memberikan wahyu kepadanya terlebih dahulu. Karena sikapnya yang keras kepala ini, ia menentang dan tidak bersedia untuk menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, jadi pada akhirnya dia tertinggal dengan hanya menatap langit, menantikan awan, dan mati dengan penuh penyesalan. Pelajaran yang pahit ini benar-benar membuat pemirsa harus berpikir dengan cermat! Pada saat yang sama, aku bersukacita dalam hatiku dan berterima kasih kepada Tuhan yang Mahakuasa karena telah menyelamatkan aku, seorang anak yang suka memberontak yang hanya berusaha untuk mendapatkan berkat dari-Nya tetapi enggan menerima penghakiman dan penyucian-Nya, dan karena telah membimbingku ke hadapan takhta-Nya untuk mendapatkan penyelamatan-Nya pada akhir zaman.

Sekarang aku menjalani kehidupan bergereja di Gereja Tuhan yang Mahakuasa, dan dengan sungguh-sungguh mengalami penghakiman dan hajaran dari firman Tuhan, aku perlahan-lahan mulai memahami betapa Tuhan secara nyata dan praktis melakukan pekerjaan penghakiman. Ketika Tuhan membedah sifat manusia yang suka berkhianat, aku merasa bahwa karena aku sendiri tidak pernah berbohong, aku menolak untuk mengakui situasi nyata yang diungkapkan oleh perkataan Tuhan. Ketika aku menjumpai sebuah situasi praktis yang telah Tuhan atur bagiku, tanpa kusadari aku begitu saja mengatakan kebohongan untuk melindungi kepentinganku sendiri dan menutupi keangkuhanku. Selain itu, aku merasakan pengkhianatan dan kecurangan di hatiku, dan aku juga memiliki banyak rahasia yang tidak kuinginkan untuk diketahui secara terbuka. Hal ini membuatku menyadari bahwa segala sesuatu yang diungkapkan oleh firman Tuhan adalah kebenaran dan situasi yang nyata, dan bahwa itu adalah natur dan esensi manusia. Baru pada saat itulah aku benar-benar yakin akan firman Tuhan, dan aku memiliki kerinduan yang mendesak untuk mencari kebenaran dan mengubah sifatku sendiri yang curang. Setelah mengalami hal ini, aku mulai menyadari bahwa jika bukan karena penghakiman dan hajaran Tuhan yang nyata, aku tidak akan pernah mengenal sifatku sendiri yang suka berkhianat, dan aku tidak akan pernah bisa mempraktekkan kebenaran untuk mengubah watakku sendiri yang curang. Penghakiman dan hajaran Tuhan benar-benar mentahirkan dan menyelamatkanku, dan itu adalah kasih yang berbeda. Aku ingin menghargai kasih yang istimewa ini dengan baik dan menerima penghakiman serta hajaran Tuhan, dan aku ingin berubah sesegera mungkin menjadi manusia baru agar aku dapat memuaskan Tuhan.

Media Terkait