Jenis Keselamatan yang Lain

Oleh Saudari Huang Lin, Tiongkok

Dahulu aku adalah orang percaya biasa di Gereja Karismatik, dan sejak mulai percaya kepada Tuhan, aku tidak pernah melewatkan ibadah satu kali pun. Ini terutama karena aku tahu kita berada pada akhir zaman dan nubuat-nubuat di Alkitab tentang kedatangan Tuhan kembali pada dasarnya telah digenapi; Tuhan akan segera datang kembali jadi aku menghadiri ibadah bahkan dengan lebih antusias, dengan semangat menantikan kedatangan-Nya, takut aku akan kehilangan kesempatan bertemu dengan Tuhan.

Suatu hari, adik perempuanku datang dan dengan berseri-seri berkata kepadaku, “Hei, aku datang untuk mengatakan kabar paling baik yang pernah ada—Tuhan Yesus sudah datang kembali! Dan lebih lagi, Dia telah datang kembali dalam daging. Dia mengungkapkan kebenaran dan melaksanakan pekerjaan-Nya pada akhir zaman untuk menghakimi dan mentahirkan manusia, dan dengan demikian menggenapi nubuat di Alkitab ‘Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan‘ (1 Petrus 4:17). Jangan buang waktu lagi—ikuti pekerjaan baru Tuhan!” Ketika mendengar kabar bahwa Tuhan telah datang kembali, aku kaget dan juga dipenuhi keraguan. Aku berkata, “Dikatakan dalam kitab Wahyu, ‘Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya‘ (Wahyu 1:7). Dan lagi gembala dan penatua sering mengatakan kepada kita ketika Tuhan datang Dia akan datang kepada kita dalam awan putih. Kau bilang Tuhan telah datang kembali dan Dia telah datang dalam daging. Bagaimana mungkin?” Adikku dengan nada serius menjawab, “Kau mengatakan Tuhan Yesus akan datang dalam awan, tetapi apa kau yakin tentang ini? Juga dinubuatkan di Alkitab: ‘Lihatlah, Aku datang bagaikan pencuri‘ (Wahyu 16:15) dan ‘Dan pada tengah malam terdengar teriakan, Lihat, mempelai laki-laki datang; keluarlah menyambutnya‘ (Matius 25:6). Apa kau berani mengatakan Tuhan tidak mungkin datang secara diam-diam? Ada misteri dalam hal kedatangan Tuhan kembali, jadi kita harus mencarinya dengan pikiran terbuka! Jika kita berpegang pada gagasan dan imajinasi sendiri, bagaimana kita bisa menyambut kedatangan Tuhan?” Namun, bagaimanapun adikku memberikan persekutuannya, aku tetap tidak teryakinkan, sebaliknya aku percaya Tuhan akan kembali dalam awan putih dan Dia tidak mungkin datang dalam daging. Ia kemudian mengkhotbahkan Injil kepada anggota keluarga yang lain, dan setelah membagikan persekutuannya beberapa kali, suamiku, putra bungsuku dan istrinya (yang selama ini adalah orang tidak percaya) semuanya menerima pekerjaan akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa. Tetapi aku tetap berpegang pada gagasanku sendiri, menolak menerimanya.

Setelahnya, aku terus menghadiri ibadah di gereja lamaku, sementara suami, putra bungsuku dan istrinya menghadiri pertemuan di Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Setiap kali pulang dari ibadah, aku merasa lesu, dan merasa bahwa semua yang mereka lakukan hanyalah hafalan; hatiku kosong dan aku merasa tidak mendapatkan apa-apa. Di sisi lain, mereka selalu begitu bahagia ketika kembali dari pertemuan, dan mereka akan sering mengadakan persekutuan dan bersama-sama mencari hal-hal seperti watak rusak apa yang mereka ungkapkan ketika menghadapi masalah, bagaimana mereka seharusnya mencari kehendak Tuhan dan bagaimana mereka seharusnya mengenal dan merenungkan diri mereka sendiri. Mereka juga akan mendiskusikan bagaimana cara mengamalkan kebenaran dan hidup sesuai dengan firman Tuhan, bagaimana meninggalkan watak rusak mereka dan disucikan, dan seterusnya. Mendengar mereka mendiskusikannya membuatku bingung, dan aku berpikir: “Sebelumnya, mereka hampir tidak punya iman sama sekali; bagaimana mereka bisa tahu bahwa mereka harus mencari kehendak Tuhan ketika menghadapi masalah, bahwa mereka mampu menemukan jalan pengamalan dan semua yang mereka katakan begitu masuk akal? Aku telah percaya kepada Tuhan Yesus selama bertahun-tahun; aku telah berdoa, menghadiri ibadah, dan membaca Alkitab secara konsisten, tetapi mengapa aku tidak pernah bisa mengerti kehendak Tuhan ketika sesuatu terjadi pada diriku? Dan bukan hanya aku—semua saudara dan saudariku di gerejaku juga sama. Kami semua terikat oleh segala macam dosa dan tidak dapat membebaskan diri kami; roh kami kering, gelap, dan tak berdaya, dan kami merasa semakin lama semakin jauh dari Tuhan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?” Topik-topik yang mereka diskusikan sangat baru dan menarik, tentang watak rusak apa yang mereka ungkapkan, tentang bagaimana cara merenungkan dan mengenal diri mereka sendiri, tentang cara disucikan, dan lain-lain. Aku telah percaya Tuhan selama bertahun-tahun tetapi belum pernah mendengar gembala atau penatua di gerejaku mengkhotbahkan hal-hal itu dan aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa paham begitu banyak! Aku bingung.

Dalam sekejap mata, saat panen tiba; dua putraku memanen jagung mereka dan membawanya pulang. Pada tahun-tahun sebelumnya, aku selalu menolong putra sulungku membersihkan jagung terlebih dahulu lalu menolong putra bungsuku, tetapi tahun ini putra bungsuku dan istrinya melakukannya sendiri. Aku berpikir: “Aku belum menolong keluarga putra bungsuku dengan panen mereka tahun ini, istrinya pasti marah kepadaku. Ia akan mengatakan aku pilih kasih.” Namun, yang mengejutkanku, ia bukan saja tidak marah, tetapi ia berkata kepadaku dengan senang hati, “Bu, ayah dan ibu sudah tua. Tidak usah khawatirkan kami dan membantu pekerjaan kami. Jaga kesehatan kalian saja!” Aku sangat kaget mendengarnya berkata demikian. Itu benar-benar pertama kalinya ia mengatakan sesuatu yang penuh perhatian kepada kami. Ia tidak pernah mengatakan sesuatu seperti ini sebelumnya! Dan hal itu terjadi lagi—aku berkata kepada kedua putraku dan istri-istri mereka, “Anak-anak kalian akan segera masuk SD, jadi ibu akan membelikan mereka masing-masing sebuah sepeda.” Jadi aku membelikan sepeda untuk anak putra sulungku, tetapi terjadi sesuatu dan aku harus menggunakan semua uang yang tersisa; aku tidak bisa lagi membelikan sepeda untuk anak putra bungsuku. Ibu menantu perempuanku akhirnya membelikannya sepeda. Aku merasa tidak enak dan berpikir: “Menantuku pasti marah kepadaku dan ia akan berkata aku tidak menepati kata-kataku.” Namun, yang mengejutkanku, bukan saja ia tidak marah, tetapi ia menghiburku dengan mengatakan. “Bu, tidak perlu sedih karena tidak bisa membelikan sepeda buat anakku. Ayah dan ibu simpan saja uangnya mulai sekarang dan pakai untuk diri kalian. Jangan khawatirkan kami!” Aku benar-benar terkejut dengan dua kejadian itu. Sejak menantuku mulai percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, ia tidak lagi bertengkar denganku karena berbagai hal, sebaliknya ia menunjukkan perhatian dan rasa sayang kepada kami—ia benar-benar sudah berubah. Dan suamiku yang dulu sangat mudah marah—bahkan hal kecil saja bisa membuatnya marah. Namun, sekarang ia selalu tersenyum ketika berbicara denganku, bahkan kadang ketika aku marah kepadanya, ia akan mendengarkan dengan sabar dan dengan tenang berkata kepadaku, “Kita percaya kepada Tuhan yang sama. Hubungan daging kita adalah suami dan istri, tetapi secara roh, kita adalah saudara-saudari. Kita harus saling mengasihi, memahami dan mengampuni satu sama lain, dan hidup berdasarkan firman Tuhan. Bukannya begitu menurutmu? Aku dulu mudah marah dan gampang meledak dan ini disebabkan karena watak rusak Iblis dalam diriku. Aku terlalu sombong dan congkak dan kurang kemanusiaan yang cukup. Sekarang aku telah membaca banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa, dan sudah mengerti bahwa pekerjaan akhir zaman Tuhan adalah menyelamatkan manusia dengan mengungkapkan firman-Nya. Dalam usaha mendapatkan keselamatan Tuhan, manusia perlu menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan nyata, dan menangani setiap masalah sesuai dengan prinsip kebenaran. Aku harus meninggalkan dagingku, melakukan sesuai dengan firman Tuhan, dan hidup dalam kemanusiaan yang normal.” Memperhatikan suami, anakku dan istrinya, membuatku terus berpikir: “Mereka baru menerima pekerjaan akhir zamanTuhan Yang Mahakuasa dua tahun lalu, bagaimana bisa mereka berubah begitu banyak? Mau tak mau, aku sangat diyakinkan oleh ini. Sedangkan diriku, aku sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan aku membaca Alkitab dan berdoa setiap hari, tetapi mengapa aku belum berubah sama sekali selama ini? Ketika sesuatu terjadi padaku, mengapa aku selalu tenggelam dalam dosa yang tidak bisa kulepaskan dari diriku? Hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk mengubah manusia. Benarkah Tuhan Yang Mahakuasa yang mereka percayai adalah Tuhan Yesus yang datang kembali? Jika ini memang benar dan aku terus menolak untuk menerimanya, tidakkah Tuhan akan meninggalkan aku? Betapa bodohnya aku kalau gagal mendapatkan keselamatan yang jelas-jelas diletakkan di depan mataku.” Memikirkan ini, aku langsung merasa cemas. Aku ingin mencari tahu dan menyelidikinya, tetapi aku malu berbicara kepada keluargaku tentang hal ini.

Suatu hari ketika suamiku sedang keluar, aku diam-diam mengambil buku yang selalu ia baca. Waktu aku melihat sampulnya, tertulis enam kata dengan huruf besar dan warna emas berkilauan yang seperti melompat ke arahku, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia dan aku berpikir: “Misteri apa yang ada dalam buku ini sebenarnya? Buku ini bisa sangat mengubah orang—aku harus membacanya dengan saksama.” Dengan hati-hati aku membuka buku itu dan melihat kata-kata ini tertulis di sana: “Inkarnasi ini adalah inkarnasi kedua Tuhan setelah pekerjaan Yesus selesai. Tentu saja, inkarnasi ini tidak terjadi secara terpisah, tetapi merupakan tahap ketiga pekerjaan setelah Zaman Hukum Taurat dan Zaman Kasih Karunia. Setiap tahap baru dalam pekerjaan Tuhan selalu membawa permulaan yang baru dan zaman yang baru. Demikian juga, ada perubahan dalam watak Tuhan, dalam cara kerja-Nya, dalam lokasi pekerjaan-Nya, dan dalam nama-Nya. Maka tidak heran jika manusia sulit menerima pekerjaan Tuhan di zaman yang baru. Namun, betapa pun Tuhan ditentang oleh manusia, Tuhan selalu melakukan pekerjaan-Nya dan selalu memimpin seluruh umat manusia bergerak maju. Ketika Yesus datang ke dalam dunia manusia, Ia membawa Zaman Kasih Karunia dan mengakhiri Zaman Hukum Taurat. Pada akhir zaman, Tuhan sekali lagi menjadi daging, dan ketika Ia menjadi daging, Ia mengakhiri Zaman Kasih Karunia dan memulai Zaman Kerajaan. Semua orang yang menerima inkarnasi Tuhan yang kedua akan dipimpin ke dalam Zaman Kerajaan, dan dapat menerima bimbingan Tuhan secara pribadi” (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Setelah membacanya, aku merenungkan: jika inkarnasi Tuhan yang kedua mengakhiri Zaman Kasih Karunia, mungkinkah Tuhan tidak lagi bekerja di dalam gereja-gereja dari Zaman Kasih Karunia? Sudahkah kita sekarang masuk ke dalam Zaman Kerajaan? Dikatakan di sini: “Semua orang yang menerima inkarnasi Tuhan yang kedua akan dipimpin ke dalam Zaman Kerajaan, dan dapat menerima bimbingan Tuhan secara pribadi.” Karena suami, anakku dan istrinya menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka benar-benar berubah banyak. Mungkinkah Tuhan Yang Mahakuasa yang mereka percayai benar-benar Tuhan Yesus yang datang kembali? Apakah mereka benar-benar mengikuti jejak langkah Tuhan dan menerima bimbingan pribadi Tuhan? Jika tidak, bagaimana mereka bisa mengerti begitu banyak kebenaran dan bagaimana mereka bisa berubah begitu banyak? Ini pasti hasil pekerjaan Roh Kudus—ini bukan sesuatu yang bisa mereka raih sendiri, tanpa pekerjaan Roh Kudus. Saat pikiran ini muncul, aku tiba-tiba melihat suamiku datang. Aku cepat-cepat menaruh buku itu ke tempatnya sebelumnya, dan berpikir: ia tidak boleh tahu aku telah membaca bukunya, atau ia akan menertawakanku.

Keesokan harinya ketika suamiku pergi untuk menghadiri pertemuan, aku sekali lagi mengambil buku itu dan mulai membacanya. Aku membaca bagian ini: “Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Ia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia, tetapi tidak melepaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis. Jadi, setelah dosa manusia diampuni, Tuhan kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru. Tuhan memulai melakukan hajaran dan penghakiman, dan pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan menerima berkat yang lebih besar. Mereka benar-benar hidup dalam terang dan akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup” (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Aku benar-benar merenungkan bagian ini. Tuhan Yesus menebus semua umat manusia dengan disalibkan, tetapi Dia tidak menghapuskan watak rusak manusia. Natur berdosa tetap ada dalam diri manusia—ini benar sekali. Sedang bagi kita yang percaya kepada Tuhan, kita sering gagal memegang pengajaran Tuhan, dan kita berbohong, curang, dan setiap hari kita berbuat dosa lalu mengakui dosa kita, selalu berkubang dalam dosa, dan tak berdaya untuk melepaskan diri kita sendiri dari ikatan dosa. Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Tiba-tiba saja firman Tuhan dalam Alkitab teringat olehku: “Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Imamat 11:45). Tuhan minta kita mendapatkan kekudusan, tetapi kita sering berdosa dan tidak menyenangkan Tuhan—bagaimana bisa itu disebut kudus? Tuhan itu kudus dan kerajaan-Nya tidak bisa ternoda. Jadi bagaimana bisa kita, yang begitu sering berbuat dosa, masuk ke dalam kerajaan surga? Pikiran ini membuatku sedikit frustasi dan aku membaca ulang bagian itu: “Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis.” Mungkinkah pekerjaan akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa merupakan pekerjaan lebih besar yang dilakukan oleh Tuhan Yesus yang telah datang kembali? Apakah hanya dengan menerima dan mengalami penghakiman Tuhan Yang Mahakuasa kita bisa dilepaskan dari dosa dan disucikan dan diubahkan? Mungkinkah perubahan yang terjadi dalam diri suami dan menantuku adalah karena mereka mengalami pekerjaan penghakiman dan hajaran Tuhan Yang Mahakuasa? Suamiku, anakku dan istrinya telah percaya Tuhan untuk waktu yang singkat, tetapi mereka telah mengerti beberapa kebenaran, dan lagi mereka bisa menjelaskan pemahaman mereka tentang watak rusak mereka, mencari kehendak Tuhan ketika sesuatu terjadi pada diri mereka dan menemukan jalan pengamalan. Sementara aku di sisi lain, telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun tetapi ketika seseorang bertanya apa tepatnya arti beriman kepada Tuhan atau apa tepatnya yang dimaksud dengan kehendak Tuhan, sejujurnya aku tidak bisa menjawab, apalagi berbicara tentang perubahan watakku. Aku benar-benar merasa malu, memikirkan kondisiku dibandingkan mereka! Sepertinya aku harus meyelidiki pekerjaan akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa dengan sungguh-sungguh.

Sejak itu, setiap hari aku diam-diam membaca buku Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia tanpa sepengetahuan suamiku dan semakin aku membacanya, semakin aku merasakan terang di dalam hatiku dan semakin aku suka membacanya. Kadang aku bahkan tidak ingin menghadiri ibadah di gerejaku, tetapi tinggal di rumah membaca buku ini. Aku pernah membaca perkataan Tuhan Yang Mahakuasa ini: “Aku pasti akan menerangi dan mencerahkan semua orang yang lapar dan haus akan kebenaran dan yang mencari dengan ketulusan. Aku akan menunjukkan kepada engkau semua misteri dunia rohani dan menunjukkan kepada engkau semua jalan ke depan, menyebabkan engkau membuang watak rusakmu yang lama sesegera mungkin, sehingga engkau dapat mencapai kedewasaan hidup dan berguna bagi-Ku, dan pekerjaan Injil dapat segera berjalan tanpa rintangan. Baru setelah itu, Kehendak-Ku akan dipuaskan, baru setelah itu rencana pengelolaan enam ribu tahun Tuhan diselesaikan secepat mungkin. Tuhan akan memperoleh kerajaan dan akan turun ke bumi, dan bersama-sama kita akan masuk ke dalam kemuliaan!” (“Bab 8, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”) Mau tak mau, aku memikirkan perkataan Tuhan Yesus: “Diberkatilah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran: karena mereka akan dipuaskan” (Matius 5:6). Semakin aku membaca, semakin aku merasa bahwa perkataan yang diucapkan Tuhan Yang Mahakuasa dan perkataan yang diucapkan Tuhan Yesus berasal dari sumber yang sama. Perkataan Mereka memiliki otoritas dan kuasa dan bagiku sangat mungkin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali! Pikiran ini mengejutkanku: aku tahu jika ini benar, aku harus segera menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, karena jika aku terus menolaknya, aku akan benar-benar ketinggalan pekerjaan Tuhan! Namun, bagaimana aku bisa mengatakannya kepada keluargaku? Mereka telah cukup banyak membagikan Injil kepadaku di masa lalu, tetapi aku selalu menolak untuk menerimanya. Jika aku berkata sekarang aku mau menerima pekerjaan akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa apa yang akan mereka pikirkan tentangku? Saat aku bimbang, Tuhan membukakan jalan bagiku.

Suatu hari menantuku dan seorang saudari datang untuk membagikan Injil kepadaku lagi. Aku tahu ini adalah kesempatan yang diberikan Tuhan, jadi aku berkata kepada mereka dengan jujur: “Sebenarnya, diam-diam aku sudah banyak membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa dan aku merasa firman ini datang dari Tuhan. Tidak mungkin manusia bisa mengatakan kata-kata yang mengandung otoritas dan kuasa seperti itu.” Menantuku kaget mendengarku mengatakan hal itu dan ia menengok ke saudari itu dan tertawa penuh sukacita. Aku meneruskan: “Tetapi ada sesuatu yang aku tidak mengerti. Tuhan Yesus menubuatkan: “Dan mereka akan melihat Anak Manusia datang di awan dengan kuasa dan kemuliaan besar” (Lukas 21:27). Kita orang percaya semuanya menantikan kedatangan kembali Tuhan Yesus, karena Dia akan datang ke antara kita dalam awan putih. Tetapi kau mengatakan Tuhan telah datang kembali, bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Jadi mengapa kita belum melihat Tuhan datang dalam awan putih? Tolong bersekutulah denganku tentang hal ini.”

Saudari itu dengan semangat merespons, “Puji Tuhan! Seperti yang kita semua ketahui, ada banyak ayat di Alkitab yang menubuatkan kedatangan Tuhan kembali. Tetapi jika kita perhatikan dengan saksama, kita akan melihat bahwa kedatangan Tuhan dinubuatkan dengan dua cara berbeda: satu, Tuhan akan datang secara terbuka dalam awan dan semua orang akan melihat-Nya, seperti yang Lukas 21:27 katakan, ‘Dan mereka akan melihat Anak Manusia datang di awan dengan kuasa dan kemuliaan besar‘ Satu lagi adalah Tuhan akan datang secara diam-diam seperti pencuri dan tidak ada yang akan tahu seperti dalam Matius 24:36: ‘Tetapi mengenai hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, tidak juga malaikat di surga, maupun Anak, hanya Bapa-Ku yang di surga yang tahu.’ Kita bisa melihat bahwa kedatangan Tuhan akan terjadi dalam dua tahap: pertama, Dia akan datang diam-diam dan setelahnya Dia melakukan satu tahap pekerjaan-Nya, lalu kedatangan-Nya akan dinyatakan secara terbuka. Apa yang kau bicarakan adalah nubuat tentang kedatangan Tuhan secara terbuka, sementara kita sedang ada dalam tahap penggenapan nubuat kedatangan-Nya secara diam-diam. Ini adalah tahap di mana Tuhan menjadi daging untuk melakukan pekerjaan-Nya dan menyelamatkan umat manusia. Begitu Tuhan telah selesai bekerja dalam daging, Dia kemudian akan datang secara terbuka sehingga semua orang bisa melihat-Nya …”

Mendengar persekutuan ini menerangi hatiku dan aku berpikir: “Ternyata, dinubuatkan dalam Alkitab bahwa Tuhan akan datang dengan dua cara berbeda. Pertama, Dia akan datang diam-diam, dan setelahnya Dia akan datang secara terbuka—ini benar-benar misteri! Aku telah membaca Alkitab selama bertahun-tahun, tetapi bagaimana bisa aku tidak pernah menemukan ini? Namun, sekarang saat aku memikirkannya, aku yakin bahwa ini benar!”

Menantuku berkata kepadaku, “Bu, saat Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan-Nya di dalam daging untuk menghakimi dan menyucikan manusia dengan firman, itu adalah tahap di mana Tuhan Yang Mahakuasa datang diam-diam dan itu adalah saat Tuhan mengungkapkan manusia dan memisahkan kita menurut jenis kita. Mari kita baca firman Tuhan Yang Mahakuasa untuk lebih mengerti aspek kebenaran ini.” Ia lalu membaca: “Mungkin banyak orang tidak peduli dengan apa yang Aku katakan, tetapi Aku tetap ingin memberi tahu setiap orang yang disebut orang suci yang mengikuti Yesus bahwa, ketika engkau sekalian melihat Yesus turun dari surga di atas awan putih dengan matamu sendiri, itu akan menjadi penampakan terbuka dari Sang Matahari kebenaran. Barangkali itu akan menjadi saat yang sangat menyenangkan bagimu, tetapi ketahuilah bahwa saat engkau menyaksikan Yesus turun dari surga, saat itulah engkau turun ke neraka untuk dihukum. Itulah tanda berakhirnya rencana pengelolaan Tuhan, dan saatnya Tuhan memberi upah kepada orang baik dan menghukum yang jahat. Penghakiman Tuhan akan berakhir sebelum manusia melihat tanda-tanda, ketika hanya ada pengungkapan kebenaran. Mereka yang menerima kebenaran dan tidak mencari tanda-tanda, sehingga mereka disucikan, akan kembali ke hadapan takhta Tuhan dan masuk ke dalam pelukan Sang Pencipta. Hanya mereka yang bersikeras percaya bahwa ‘Yesus yang tidak datang kembali di atas awan putih adalah Kristus palsu’ akan menerima hukuman abadi, karena mereka hanya percaya kepada Yesus yang menunjukkan tanda-tanda, tetapi tidak mengakui Yesus yang mengumumkan penghakiman yang berat dan menunjukkan jalan kehidupan yang sebenarnya. Jadi, hanya dengan cara itulah Yesus menangani mereka pada saat Ia secara terbuka datang kembali di atas awan putih. Mereka terlalu keras kepala, terlalu percaya diri, terlalu sombong. Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak berakhlak itu bisa diberi upah oleh Yesus? Kedatangan Yesus kembali adalah keselamatan besar bagi orang-orang yang mampu menerima kebenaran, tetapi bagi mereka yang tidak dapat menerima kebenaran, itu adalah tanda penghukuman” (“Saat Engkau Melihat Tubuh Rohani Yesus adalah Saat Tuhan Menciptakan Langit dan Bumi yang Baru” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Saudari itu meneruskan persekutuannya. “Dari firman Tuhan, kita bisa melihat bahwa ketika Tuhan Yang Mahakuasa melakukan pekerjaan-Nya secara diam-diam, Dia hanya melakukan pekerjaan menghakimi dan menghajar manusia dengan firman. Ini artinya, Dia mengungkapkan semua kebenaran untuk membekali kita dengan apa yang kita butuhkan dalam hidup, dan semua orang yang menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, yang mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan, yang akhirnya mengerti kebenaran dan mengenal Tuhan, dan yang watak hidupnya berubah, adalah para pemenang yang akan dijadikan Tuhan sebelum bencana. Begitu para pemenang ini telah dijadikan, pekerjaan agung Tuhan juga akan sepenuhnya lengkap, dan pekerjaan yang Dia lakukan secara diam-diam juga akan berakhir. Baru setelah itulah, Tuhan akan datang dalam awan dan menampakkan diri secara terbuka pada semua bangsa dan semua manusia. Sebagian orang secara membabi buta berpegang teguh pada gagasan mereka sendiri, hanya menantikan Tuhan Yesus yang datang dengan awan, tetapi mereka menolak menerima kebenaran apa pun yang diungkapkan oleh Tuhan ketika Ia mengerjakan pekerjaan-Nya secara diam-diam. Mereka semua ini adalah orang-orang yang memberontak terhadap Tuhan dan menentang Dia dan jika mereka tidak bisa berbalik kepada Tuhan dan menerima keselamatan-Nya pada akhir zaman, mereka akan meratap dan menggertakkan gigi di tengah bencana besar. Dinubuatkan dalam Wahyu 1:7, ‘Lihatlah, Dia datang dengan awan-awan; dan setiap mata akan melihat-Nya, juga mereka yang menikam Dia: dan semua orang di bumi akan meratap karena Dia. Jadilah demikian, Amin.’ Coba pikirkan: ketika Tuhan datang dengan awan, semua orang akan melihat-Nya dan apa lagi yang akan mereka lakukan selain menyambut kedatangan-Nya dengan sukacita besar? Jadi mengapa semua orang meratap? Itu karena ketika Tuhan datang secara terbuka, mereka akan melihat bahwa Tuhan Yang Mahakuasa yang mereka tentang ternyata adalah benar Tuhan Yesus yang datang kembali, jadi bagaimana bisa mereka tidak memukuli dada, meratap, dan menggertakkan gigi?”

Aku terus menganggukkan kepala sambil mendengarkan persekutuan saudari itu dan aku berkata, “Ah, aku belum pernah mengerti ayat ini sebelumnya. Aku bertanya kepada gembala di gerejaku, tetapi ia tidak menjelaskan dengan jelas. Ternyata ayat ini tentang semua orang yang menolak menerima keselamatan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, tentang semua orang yang menentang Dia.” Pada saat itu, aku tidak bisa tidak teringat betapa seringnya keluargaku membagikan Injil kepadaku, tetapi aku menolak dan menentang untuk menerimanya—aku merasa sangat tertekan. Dengan penuh penyesalan aku berkata kepada saudari itu, “Jika aku belum membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, jika firman Tuhan Yang Mahakuasa belum membukakan pintu hatiku dan membuatku memiliki hati yang mau mencari, aku takut aku masih tidak akan mendengarkan persekutuanmu, tetapi masih akan terobsesi dengan menantikan Tuhan Yesus datang kembali dalam awan puih dan menampakkan diri secara terbuka kepada manusia. Aku benar-benar tidak tahu dan bodoh! Baru sekaranglah aku mengerti bahwa tahap pekerjaan diam-diam Tuhan memang adalah kesempatan indah untuk kita menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan dan membuang watak rusak kita sehingga kita bisa mendapatkan keselamatan penuh! Ketika Tuhan datang di awan dan menampakkan diri secara terbuka kepada seluruh manusia, pekerjaan keselamatan-Nya sudah akan berakhir dan Dia akan mulai memberi upah kepada yang baik dan menghukum yang jahat. Dan ketika itu terjadi, bahkan jika aku benar-benar menyesal, sudah akan terlambat. Aku bersyukur kepada Tuhan karena tidak meninggalkan aku dan memberiku kesempatan untuk diselamatkan. Aku ingin menerima pekerjaan akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa!”

Aku kemudian mengambil inisiatif dan minta untuk bergabung dengan Gereja Tuhan Yang Mahakuasa dan sama seperti suami, anakku, dan menantuku, aku membaca firman Tuhan dan bersekutu tentang kebenaran setiap hari dan aku mengalami penghakiman, hajaran, pemurnian, dan keselamatan oleh firman Tuhan. Dalam keluarga besar Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, aku menjalani kehidupan bergereja yang benar dan rohku penuh dengan damai dan suka cita. Aku benar-benar merasakan betapa besarnya kasih Tuhan bagiku, hanya saja dulu aku begitu mati rasa dan membiarkan Tuhan menunggu begitu lama. Aku bersyukur kepada Tuhan karena dengan cermat merancang semua orang, semua peristiwa, dan segala hal untuk membimbingku langkah demi langkah agar kembali ke dalam keluarga Tuhan—aku bersyukur kepada Tuhan karena membawaku kepada jenis keselamatan yang berbeda!

Media Terkait