Kebangkitan dari Tempat Tidur Orang Sakit

Oleh Saudari Yang Fan, Tiongkok

Setelah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, aku membaca firman Tuhan setiap hari serta mendedikaskan diri memberitakan Injil dan melakukan tugasku. Aku tidak pernah berhenti, apa pun yang terjadi. Lalu, aku didiagnosis hipertiroidisme ringan dan dokter menyuruhku banyak istirahat. Namun, kupikir, "Menyambut kedatangan Tuhan kembali tidaklah mudah, dan aku tidak bisa membiarkan penyakit kecil ini mengganggu tugasku. Asalkan tetap melakukan tugasku, Tuhan akan menjaga dan melindungiku."

Lebih dari setahun berlalu dan penyakitku makin parah. Bahkan menelan pun menjadi sulit, jadi aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan kesehatan. Dokter memberitahuku bahwa kondisiku kini parah dan harus segera dioperasi. Dia bilang jika tidak, kondisiku bisa fatal. Aku tercengang. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak pernah membayangkan penyakit ini bisa menjadi begitu buruk. Aku masih berusia 20-an saat itu, dan kupikir, "Aku masih sangat muda. Bagaimana jika aku tidak bisa disembuhkan dari kondisi ini? Aku selalu melakukan tugasku dengan antusias sejak mulai percaya kepada Tuhan. Aku bahkan berhenti dari pekerjaanku. Mengapa Tuhan tidak melindungiku? Bagaimana penyakit ini bisa makin parah?" Sore hari sebelum hari operasi, aku melewati bangsal lain di rumah sakit. Salah satu pasien di sana telah meninggal dan anggota keluarganya menangis. Ini benar-benar membuatku takut. Aku merasa seolah-olah kematian juga mendekatiku dan aku akan dioperasi keesokan paginya. Dokter berkata risikonya besar dan sulit untuk memprediksi hasil operasinya. Aku pikir, "Bagaimana jika operasinya tidak berhasil? Aku telah membuat begitu banyak pengorbanan dalam imanku, apakah semuanya sia-sia?" Setelah kembali ke bangsal, aku berbaring di tempat tidur, makin kupikirkan, makin panik diriku. Aku terus memanggil Tuhan, meminta Dia untuk melindungiku dan membuatku tetap damai di hadapan-Nya, serta agar menjauhkanku dari perasaan terkekang oleh apa yang terjadi. Setelah berdoa, aku teringat dengan bagian firman Tuhan ini: "Siapakah dari seluruh umat manusia yang tidak diperhatikan di mata Yang Mahakuasa? Siapakah yang tidak hidup menurut apa yang telah ditentukan dari semula oleh Yang Mahakuasa? Apakah kehidupan dan kematian manusia terjadi karena pilihannya sendiri? Apakah manusia mengendalikan nasibnya sendiri? Banyak orang menginginkan kematian, tetapi kematian menjauh dari mereka; banyak orang ingin menjadi orang yang kuat dalam kehidupan dan takut akan kematian, tetapi tanpa sepengetahuan mereka, hari kematian mereka semakin mendekat, menjerumuskan mereka ke dalam jurang maut; banyak orang menatap ke langit dan menghela napas panjang; banyak orang menangis tersedu-sedu; banyak orang jatuh di tengah ujian; dan banyak orang menjadi tawanan pencobaan" ("Bab 11, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memberiku iman. Tuhan memegang nasib seluruh umat manusia di tangan-Nya, dan manusia tidak bisa menentukan nasib mereka sendiri. Entah operasinya akan berhasil atau tidak, dan apakah aku akan bertahan atau tidak, semuanya ada di tangan Tuhan. Dibimbing oleh firman Tuhan, aku tidak lagi merasa terlalu khawatir atau takut. Aku bersedia berharap kepada Tuhan dan memercayakan operasiku kepada-Nya, serta tunduk pada kekuasaan-Nya.

Malam itu, semua pasien lain di bangsal sedang tidur, tetapi aku hanya berbaring di sana, tidak bisa tidur sekejap pun. Aku terus bertanya-tanya apa kehendak Tuhan dengan membiarkan penyakit ini menimpaku dan pelajaran apa yang harus kupelajari. Kemudian sebuah lagu pujian firman Tuhan muncul di benakku: "Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya agar Aku dapat menyembuhkan mereka. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya agar Aku dapat menggunakan kuasa-Ku untuk mengusir roh-roh najis dari tubuh mereka, dan begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya supaya mereka dapat menerima damai dan sukacita dari-Ku. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya untuk menuntut lebih banyak kekayaan materi dari-Ku. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya untuk menjalani hidup ini dengan damai dan agar aman dan selamat di dunia yang akan datang. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku untuk menghindari penderitaan neraka dan menerima berkat-berkat surga. Begitu banyak orang percaya kepada-Ku hanya demi kenyamanan sementara, tetapi tidak berusaha memperoleh apa pun dari dunia yang akan datang. Saat Aku menjatuhkan murka-Ku ke atas manusia dan mengambil semua sukacita dan damai yang pernah mereka miliki, manusia menjadi bimbang. Saat Aku memberi kepada manusia penderitaan neraka dan menarik kembali berkat-berkat surga, rasa malu manusia berubah menjadi amarah. Saat manusia meminta-Ku untuk menyembuhkan mereka, Aku tidak memedulikan dan merasakan kebencian terhadap mereka; manusia meninggalkan-Ku untuk mencari cara pengobatan lewat perdukunan dan ilmu sihir. Saat Aku mengambil semua yang telah manusia tuntut dari-Ku, semua orang menghilang tanpa jejak. Maka dari itu, Aku berkata bahwa manusia beriman kepada-Ku karena Aku memberi terlalu banyak kasih karunia, dan ada terlalu banyak yang bisa didapatkan" ("Apa yang Kauketahui tentang Iman?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Firman Tuhan menggambarkan keadaanku dengan tepat. Aku percaya kepada Tuhan untuk mendapatkan kasih karunia dan berkat dari-Nya sebagai imbalan. Aku memiliki iman kepada Tuhan hanya untuk keuntunganku. Aku menyadari bahwa aku telah berdebat dengan Tuhan dalam hati sejak dokter mengatakan penyakitku makin parah, berpikir karena aku telah melepaskan segalanya dan mengorbankan diri untuk Tuhan, maka Dia harus menjaga dan melindungiku, serta aku seharusnya tidak menderita penyakit yang begitu serius. Aku penuh dengan kesalahpahaman dan keluhan tentang Tuhan. Lalu, aku melihat adegan di bangsal lain dengan pasien yang meninggal itu dan makin khawatir operasiku akan gagal. Aku merasa semua yang telah kulepaskan dan kukorbankan dalam imanku tidak bisa menyelamatkanku atau memasukkanku ke kerajaan Tuhan, serta aku tidak mendapatkan apa-apa. Menyandingkan pengungkapan firman Tuhan dengan faktanya, kini aku melihat bahwa sudut pandangku dalam melakukan tugas adalah untuk mendapatkan berkat dan manfaat. Saat Tuhan tidak memberikan kedamaian dan sukacita daging kepadaku, aku salah paham dan menyalahkan Dia. Itu bukanlah iman kepada Tuhan! Aku hanya membuat kesepakatan dengan Tuhan. Aku sangat egois dan hina! Bagaimana iman seperti itu bisa selaras dengan kehendak Tuhan? Guna menyelamatkan kita selamanya dari wilayah kekuasaan Iblis, Tuhan secara pribadi menjadi daging untuk melaksanakan pekerjaan-Nya, untuk mengungkapkan kebenaran demi mentahirkan dan menyelamatkan manusia, agar kita bisa bebas dari pengaruh Iblis dan watak hidup kita bisa berubah, serta kita bisa diselamatkan. Aku menikmati penyiraman dan pembekalan dari begitu banyak firman Tuhan. Namun, saat menjadi sakit, aku tidak berusaha memahami kehendak Tuhan atau memikirkan cara untuk menjadi kesaksian demi memuaskan Tuhan, tetapi aku tetap menginginkan berkat dan kasih karunia Tuhan. Aku baru mulai mengeluh saat jatuh sakit. Aku begitu memberontak, tanpa sedikit pun hati nurani atau nalar. Aku tidak pantas hidup di hadapan Tuhan. Namun, Tuhan tidak menyerah pada diriku, melainkan menggunakan firman-Nya untuk mencerahkan dan membimbingku agar bisa memahami kehendak-Nya serta mengenali kerusakan dan kekuranganku. Aku merasakan kasih Tuhan untukku dan benar-benar tersentuh. Jadi, aku menaikkan doa dalam hati kepada Tuhan, mengatakan bahwa aku ingin menerima dan menghadapi operasi esok hari dengan hati yang patuh. Keesokan paginya, aku dibawa ke ruang operasi, merasa sangat tenang. Hampir 9 jam kemudian, operasiku selesai. Saat bangun, dokter memberitahuku operasinya sukses. Aku beryukur kepada Tuhan dalam hatiku. Aku tahu Tuhan telah menjaga dan melindungiku sepanjang waktu. Setelah keluar dari rumah sakit, aku pulih dengan sangat cepat, lalu tidak lama kemudian, aku kembali ke gereja untuk melakukan tugasku lagi.

Dua tahun berlalu, dan aku mulai merasakan jantungku berdebar kencang setelah mengerahkan tenaga sekecil apa pun, jadi aku pergi ke rumah sakit lagi untuk pemeriksaan. Dokter memberitahuku bahwa hipertiroidismeku kambuh lagi dan mereka harus menanganinya secara konvensional, itulah satu-satunya cara mengendalikannya. Aku berpikir dalam hati, "Penyakit ini terjadi dengan izin Tuhan. Apa pun yang terjadi dengan penyakit ini, aku harus tunduk kepada Tuhan, dan aku tidak boleh menyalahkan Tuhan." Selama waktu itu, aku terus melakukan tugasku sambil minum obat. Namun, seiring berlalunya waktu, kesehatanku terus memburuk. Aku tidak memiliki energi sama sekali, kakiku bengkak dan mati rasa, punggungku juga sangat sakit sehingga tidak bisa berdiri tegak. Hanya berjalan menaiki beberapa anak tangga membuatku terengah-engah, dengan jantungku yang berdegup sangat kencang sehingga rasanya seperti akan meledak keluar dari dadaku. Aku merasa sepertinya aku bisa pingsan setiap saat. Aku mulai khawatir. "Jika penyakitku memburuk, bagaimana aku akan melakukan tugasku? Jika tidak bisa melakukan tugasku, akankah aku dipuji oleh Tuhan dan mendapatkan kesudahan dan tempat tujuan yang baik? Akankah semua imanku sia-sia?" Namun, kemudian kupikir, "Aku hanya harus terus mengorbankan diri untuk Tuhan dan Dia akan menjaga serta melindungiku. Aku akan terus melakukan tugasku dan mempersiapkan perbuatan baik sampai napas terakhirku. Lalu, aku akan memiliki tempat tujuan yang baik." Jadi, aku menahan rasa sakit dari penyakit ini dan terus melakukan tugasku.

Suatu hari, aku baru saja selesai sarapan saat gusiku tiba-tiba mulai berdarah tanpa sebab. Pendarahannya masih belum berhenti sampai malam, jadi aku bergegas ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Dokter memberitahuku bahwa aku menderita lupus eritematosus sistemik dan lupus nefritis. Dia mengatakan kondisi ini sulit diobati dan memiliki tingkat kematian yang tinggi. Dia berkata komunitas medis tidak memiliki cara untuk menyembuhkannya secara permanen, bahwa kondisiku sangat parah, dan aku mungkin tidak akan bertahan hidup sebulan lagi. Aku benar-benar tercengang oleh ini. Kupikir, "Aku terus melakukan tugasku selama sakit dan membuat kemajuan dalam tugas. Bagaimana aku bisa mendapatkan penyakit yang sangat sulit diobati ini, yang berarti aku mungkin hanya akan hidup sebulan lagi? Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun. Aku melepaskan keluarga dan pekerjaanku demi mengorbankan diri untuk Tuhan. Bukankah aku melakukan semuanya untuk dipuji oleh Tuhan, untuk masuk ke kerajaan-Nya, dan menerima berkat-Nya? Namun, kini aku bukan hanya tidak diberkati oleh Tuhan, tetapi akan segera mati. Aku sangat kesakitan sekarang."

Malam itu, aku terbaring gelisah di tempat tidur, tidak bisa tidur. Aku tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana aku mungkin tidak akan hidup sebulan lagi. Aku masih muda dan perjalanan hidupku akan segera berakhir. Aku tidak pernah menyangka setelah begitu lama percaya kepada Tuhan, aku akan mati tanpa melihat keindahan kerajaan. Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak bisa menghentikan air mataku. Aku sangat kesakitan dan merasa sangat lemah. Aku berdoa kepada Tuhan: "Ya Tuhan, meskipun aku tahu bahwa ada kehendak-Mu untuk aku kembali sakit dan aku seharusnya menjadi kesaksian untuk memuaskan-Mu, kini aku sedang merasa lemah dan tidak bisa menerima penyakit ini atau tunduk. Kumohon bimbinglah aku untuk memahami kehendak-Mu."

Setelah berdoa, aku membaca ini dalam firman Tuhan: "Dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan, yang orang cari adalah mendapatkan berkat untuk di masa depan; inilah tujuan dalam iman mereka. Semua orang memiliki niat dan harapan ini. Walaupun demikian, kerusakan di dalam natur manusia harus diselesaikan melalui ujian. Dalam aspek mana saja engkau tidak lulus, dalam aspek itulah engkau harus dimurnikan—ini adalah pengaturan Tuhan. Tuhan menciptakan sebuah lingkungan untukmu, yang memaksamu dimurnikan di sana untuk mengetahui kerusakanmu sendiri. Pada akhirnya, engkau mencapai titik di mana engkau lebih suka mati dan meninggalkan rencana dan keinginanmu, dan tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Jadi, jika orang tidak mengalami beberapa tahun pemurnian, jika mereka tidak menanggung tingkat penderitaan tertentu, mereka tidak akan dapat menyingkirkan ikatan kerusakan daging dalam pikiran dan hati mereka. Dalam aspek mana saja engkau masih tunduk pada perbudakan Iblis, dalam aspek mana saja engkau masih memiliki keinginanmu sendiri, tuntutanmu sendiri—dalam aspek inilah engkau harus menderita. Hanya dalam penderitaan, pelajaran dapat dimengerti, yang berarti orang bisa mendapatkan kebenaran dan memahami kehendak Tuhan. Sebenarnya, banyak kebenaran dipahami selama pengalaman ujian yang menyakitkan. Tidak ada orang yang dapat memahami kehendak Tuhan, mengakui kemahakuasaan dan hikmat Tuhan atau menghargai watak Tuhan yang benar ketika berada di lingkungan yang nyaman dan mudah, atau ketika keadaan baik. Itu tidak mungkin!" ("Bagaimana Seharusnya Orang Memuaskan Tuhan di Tengah Ujian" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"). "Apa dasar yang dahulu dipakai manusia untuk menjalani hidup? Semua orang hidup untuk diri mereka sendiri. Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri—inilah ringkasan dari natur manusia. Orang percaya kepada Tuhan demi diri mereka sendiri; mereka meninggalkan segala sesuatu, mengorbankan diri mereka bagi Dia, dan setia kepada Dia, tetapi mereka tetap melakukan semua hal ini demi diri mereka sendiri. Singkatnya, semua itu dilakukan dengan tujuan mendapatkan berkat bagi diri mereka sendiri. Di masyarakat, segala sesuatu dilakukan demi keuntungan pribadi; percaya kepada Tuhan semata-mata dilakukan untuk mendapatkan berkat. Demi mendapatkan berkat, orang meninggalkan segalanya dan mampu menanggung banyak penderitaan: semua ini merupakan bukti empiris dari natur manusia yang rusak" ("Perbedaan antara Perubahan Lahiriah dan Perubahan Watak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"). Setelah membaca firman Tuhan, aku menyadari bahwa kita telah dirusak sedemikian dalamnya oleh Iblis sehingga jika aku tidak menderita sakit berulang kali, menyingkapkan watakku yang rusak, aku pasti telah bergumul untuk benar-benar mengenal diriku sendiri, mengubah pandanganku yang keliru tentang pengejaran dan benar-benar tunduk kepada Tuhan. Mengingat kembali ketika di awal aku percaya kepada Tuhan, aku menganggap Tuhan sebagai semacam kornukopia, sebuah sumur harapan tanpa dasar. Kupikir dengan melepaskan banyak hal dan mengorbankan diri untuk Tuhan, maka Tuhan akan menjaga dan melindungiku jika aku sakit. Saat tahu bahwa aku mengidap lupus dan hanya akan bertahan hidup satu bulan, kerinduanku akan berkat benar-benar remuk dan aku mulai berdebat dengan Tuhan serta menyalahkan-Nya karena bersikap tidak adil. Meski aku telah mengidap sebuah penyakit dan tahu bahwa aku tidak boleh membiarkan imanku dimotivasi oleh hasrat akan berkat, saat masa depan dan nasibku terlibat, aku tidak bisa menahan diri menyalahkan Tuhan dan salah paham terhadap-Nya. Hasratku akan berkat sangat kuat. Aku telah hidup berpedoman pada racun Iblis: "Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri". Semua yang kulakukan adalah demi keuntunganku sendiri, aku bahkan membuat kesepakatan dengan Tuhan dan mencoba memanfaatkan Dia saat menjalankan tugasku. Bagaimana itu bisa disebut melakukan tugasku? Bukankah aku hanya memberontak dan menentang Tuhan? Aku teringat tentang bagaimana Paulus bekerja untuk Tuhan serta bagaimana dia menderita dan mengorbankan dirinya. Setelah bekerja beberapa saat, dia mulai menggunakan pekerjaan ini untuk modalnya, tanpa berpikir panjang menginginkan Tuhan memberinya upah dan mahkota kebenaran sebagai imbalan. Dia bahkan tanpa malu menyatakan, "Aku sudah melakukan pertandingan yang baik. Aku sudah menyelesaikan perlombaanku, aku sudah menjaga imanku: Mulai dari sekarang sudah tersedia bagiku mahkota kebenaran" (2 Timotius 4:7–8). Paulus tidak mengejar kebenaran, tetapi hanya mengejar berkat; jalan yang dia tempuh adalah jalan penentangan akan Tuhan, dan pada akhirnya Tuhan menghukum dia. Aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan imbalan kasih karunia dan berkat. Saat aku menghadapi sebuah penyakit yang mengancam nyawa, aku dengan berani marah dan melawan Tuhan—bukankah itu membuatku sama seperti Paulus? Esensi Tuhan adalah benar dan kudus, kerajaan juga tidak menoleransi orang najis untuk masuk. Bagaimana bisa seseorang sepertiku yang begitu dipenuhi watak rusak iblis bisa memasuki kerajaan Tuhan? Aku tahu jika terus bersikap seperti itu, aku akan berakhir dihukum di neraka sama seperti Paulus! Kemudian aku membaca satu bagian firman Tuhan: "Diperhadapkan dengan keadaan manusia dan sikap manusia terhadap Tuhan, Tuhan telah melakukan pekerjaan baru, yang memungkinkan manusia untuk memiliki pengetahuan serta ketaatan kepada-Nya, dan kasih juga kesaksian. Jadi, manusia harus mengalami pemurnian Tuhan terhadap dirinya, juga penghakiman, penanganan, dan pemangkasan Tuhan terhadap dirinya, karena tanpa itu manusia tidak akan pernah dapat mengenal Tuhan dan tidak pernah akan mampu sungguh-sungguh mengasihi dan menjadi kesaksian bagi-Nya. Pemurnian manusia oleh Tuhan bukanlah semata-mata demi mencapai dampak yang sepihak, tetapi demi mencapai dampak dari berbagai segi. Hanya dengan cara inilah Tuhan melakukan pekerjaan pemurnian dalam diri mereka yang bersedia mencari kebenaran, yaitu agar tekad dan kasih mereka disempurnakan oleh Tuhan. Bagi mereka yang bersedia mencari kebenaran dan yang mendambakan Tuhan, tidak ada hal lain yang lebih bermakna, atau lebih membantu, daripada pemurnian seperti ini. Watak Tuhan tidak semudah itu diketahui atau dipahami oleh manusia, karena Tuhan, bagaimanapun juga, adalah Tuhan. Yang terutama, tidaklah mungkin bagi Tuhan untuk memiliki watak yang sama dengan manusia, dan karena itu tidaklah mudah bagi manusia untuk mengetahui watak-Nya. Kebenaran tidak dimiliki oleh manusia secara inheren, dan itu tidak mudah dipahami oleh mereka yang telah dirusak Iblis; manusia tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki tekad untuk melakukan kebenaran, dan jika dia tidak menderita dan tidak dimurnikan atau dihakimi, tekadnya tersebut tidak pernah akan dijadikan sempurna. Bagi semua orang, pemurnian sungguh menyiksa, dan sangat sulit untuk diterima—tetapi, selama pemurnianlah Tuhan menjadikan watak-Nya yang adil dapat dipahami dengan jelas oleh manusia, dan membuat tuntutan-Nya terhadap manusia terbuka, dan memberikan lebih banyak pencerahan, dan lebih banyak pemangkasan dan penanganan yang nyata; lewat pembandingan antara fakta dan kebenaran, Dia memberi kepada manusia pengetahuan yang lebih besar tentang dirinya sendiri dan tentang kebenaran, dan memberi kepada manusia pemahaman yang lebih besar tentang kehendak Tuhan, sehingga manusia dapat memiliki kasih akan Tuhan yang lebih benar dan lebih murni. Itulah tujuan-tujuan Tuhan dalam menjalankan pemurnian. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan dalam diri manusia memiliki tujuan dan makna penting; Tuhan tidak melakukan pekerjaan yang tidak berarti, dan Dia juga tidak melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat bagi manusia. Pemurnian bukan berarti menyingkirkan manusia dari hadapan Tuhan, dan juga bukan berarti menghancurkan mereka di neraka. Sebaliknya, pemurnian berarti mengubah watak manusia selama pemurnian, mengubah niat-niatnya, pandangan-pandangan lamanya, mengubah kasihnya kepada Tuhan, dan mengubah seluruh hidupnya. Pemurnian merupakan ujian nyata manusia, dan suatu bentuk pelatihan yang nyata, dan hanya selama pemurnianlah kasih manusia dapat memenuhi fungsinya yang inheren" ("Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Saat merenungkan firman Tuhan, aku memahami bahwa Tuhan mengatur berbagai lingkungan untuk menyingkapkan watak manusia yang rusak, sehingga kita mulai mengenal diri kita sendiri, menyingkirkan kerusakan, dan ditahirkan. Setelah itu kita mampu benar-benar tunduk kepada Tuhan. Kondisiku yang memburuk adalah sesuatu yang Tuhan izinkan terjadi, jadi aku harus tunduk padanya dan belajar. Aku menaikkan doa dalam hati kepada Tuhan, berharap untuk menempatkan diriku sepenuhnya di dalam tangan-Nya. Bagaimanapun seriusnya kondisiku jadinya, bahkan jika aku mati, aku hanya ingin tunduk pada kekuasaan dan pengaturan Tuhan.

Aku membaca kutipan firman Tuhan ini suatu pagi: "Bagaimana seharusnya manusia mengasihi Tuhan selama pemurnian? Dengan menggunakan tekad untuk mengasihi Tuhan untuk menerima pemurnian-Nya: selama pemurnian engkau akan merasa tersiksa dalam batinmu, seolah-olah sebuah pisau dipelintir dalam hatimu, tetapi engkau bersedia memuaskan Tuhan dengan menggunakan hatimu yang mengasihi-Nya, dan engkau tidak mau memedulikan daging. Inilah yang dimaksud dengan menyatakan kasih kepada Tuhan. Engkau terluka dalam batinmu, dan penderitaanmu telah mencapai titik tertentu, tetapi engkau tetap bersedia datang ke hadapan Tuhan dan berdoa: 'Ya, Tuhan! Aku tidak dapat meninggalkan Engkau. Walaupun ada kegelapan dalam diriku, aku ingin memuaskan-Mu; Engkau mengenal hatiku, dan aku ingin Engkau menanamkan lebih banyak kasih-Mu dalam diriku.' Inilah yang dilakukan selama pemurnian. Jika engkau menggunakan kasih kepada Tuhan sebagai dasar, pemurnian dapat membuatmu lebih dekat kepada Tuhan dan menjadikanmu lebih intim dengan Tuhan. Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus menyerahkan hatimu di hadapan Tuhan. Jika engkau mempersembahkan dan menyerahkan hatimu di hadapan Tuhan, maka selama pemurnian engkau tidak akan mungkin menyangkal Tuhan, ataupun meninggalkan Tuhan. Dengan cara demikian, hubunganmu dengan Tuhan akan menjadi jauh lebih dekat dan jauh lebih normal, dan persekutuanmu dengan Tuhan akan menjadi jauh lebih sering. Jika engkau selalu melakukan seperti ini, engkau akan menghabiskan lebih banyak waktu di dalam terang Tuhan dan lebih banyak waktu berada di bawah petunjuk firman-Nya. Juga akan terjadi semakin banyak perubahan dalam watakmu, dan pengetahuanmu akan bertambah hari demi hari" ("Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan memberiku jalan penerapan. Meskipun daging kita mungkin menderita melalui penyakit, tetapi jika kita tetap bisa meninggalkan daging dan tunduk kepada pengaturan dan penataan Tuhan, berdoa kepada Tuhan, dan mencari kehendak-Nya, kita bisa mendapatkan bimbingan-Nya, memahami kebenaran, watak rusak kita yang jahat secara berangsur-angsur akan berubah, dan kita akan mulai mengenal Tuhan. Aku teringat akan doa Petrus kepada Tuhan selama pemurnian yang dia jalani: "Bahkan jika aku mati setelah mengenal-Mu, bagaimana mungkin aku tidak melakukannya dengan senang hati dan gembira?" ("Bab 6, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Aku mungkin tidak memiliki tingkat pertumbuhan seperti Petrus," pikirku, "tetapi aku masih dapat berusaha meniru dia. Aku dapat mengejar kebenaran apa pun situasinya, menyerahkan diriku ke dalam tangan Tuhan serta tunduk kepada kekuasaan dan pengaturan-Nya." Saat merenungkan hal itu seperti ini, aku tidak lagi merasa terkekang oleh penyakitku atau kematian. Setelahnya, aku melanjutkan perawatan seperti biasa. Aku berdoa kepada Tuhan dan membaca firman-Nya setiap hari, dan merasakan hatiku menjadi makin dekat kepada Tuhan. Perasaan damai tertinggi bersemi di dalam diriku. Setelah kira-kira dua minggu, kondisiku mulai membaik dan kesehatanku perlahan mulai pulih. Warna kulitku juga mulai terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Aku mulai kembali melaksanakan tugasku di gereja setelah itu dan merasa tenang setiap hari.

Sekitar enam bulan kemudian, aku pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan mendapati semua indikator untuk kondisiku telah kembali normal. Dokterku berkata dengan takjub, "Aku tidak pernah menduga setelah sakit begitu parah, engkau akan pulih sangat cepat hanya dalam enam bulan! Engkau tidak terlihat sakit sama sekali saat ini. Sulit dipercaya!" Mendengar dokter mengatakan itu, aku mengucapkan terima kasih yang tulus dan memuji Tuhan. Aku tahu ini adalahkemahakuasaan dan kedaulatan Tuhan yang sedang bekerja, dan aku bisa merasakan kasih dan keselamatan-Nya untukku!

Menderita sakit berulang kali seperti itu, meskipun aku mengalami rasa sakit dan kelemahan, dengan bimbingan firman Tuhan, aku mulai memahami makna di balik pekerjaan Tuhan yang berupa ujian dan pemurnian. Aku juga mulai sedikit paham tentang kehendak Tuhan untuk menyelamatkan manusia, serta motif dan pandangan keliru yang kupegang dalam imanku telah diperbaiki. Dari lubuk hatiku, aku bersyukur kepada Tuhan karena memberiku harta yang begitu berharga dalam hidup!

Ketika bencana melanda, bagaimana seharusnya kita orang Kristen menghadapinya? Anda diundang untuk bergabung dengan pertemuan online kami, di mana kita dapat menyelidiki bersama dan menemukan jalannya.
Hubungi kami via Whatsapp
Hubungi kami via Messenger

Media Terkait

  • Mengungkap Pemimpin Palsu: Sebuah Perjuangan Pribadi

    Oleh Saudari Zheng Yi, KoreaTahun lalu, aku bertugas di sebuah gereja di luar kota, tetapi aku kembali pulang setelah digantikan karena tidak melakuka…

  • Bukan Lagi Seorang Tukang Pamer

    Oleh Saudara Mo Wen, SpanyolAku ingat pada tahun 2018, aku memegang tugas penginjilan di gereja, dan kemudian diberi tanggung jawab atas pekerjaan itu…

  • Tuhan Itu Teramat Benar

    Oleh Saudara Zhang Lin, JepangPada bulan September 2012, aku bertanggung jawab atas pekerjaan gereja saat bertemu dengan pemimpinku, Yan Zhuo. Aku men…

  • Penyiksaan Ruang Interogasi

    Oleh Saudari Xiao Min, TiongkokPada 2012, saat mengabarkan Injil, aku ditangkap oleh Partai Komunis Tiongkok. Menjelang sore pada tanggal 13 September…