Kembali ke Rumah

Oleh Saudari Muyi, Korea Selatan

Kasih Tuhan melimpah dib’rikan ke manusia, dilingkupi kasih-Nya. Manusia, tanpa dosa dan tiada yang mengikat, hidup bahagia di mata Tuhan. …Jika kau berhati nurani dan manusiawi, kamu ‘kan merasa hangat, dirawat dan dicintai, diberkati kebahagiaan” (“Lagu Pujian Firman Tuhan” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Setiap kali aku mulai menyanyikan lagu pujian dari firman Tuhan ini, sulit untuk mengendalikan emosi yang bergelora di dalam diriku. Itu karena aku pernah menjauhi Tuhan dan memberontak terhadap-Nya. Aku seperti anak domba yang tersesat, tidak dapat menemukan jalan pulang, dan kasih Tuhan yang setialah yang membawaku kembali ke rumah Tuhan. Dalam artikel berikut ini, aku ingin membagikan pengalamanku kembali ke rumah Tuhan kepada saudara-saudariku di dalam Tuhan, serta kepada teman-teman yang belum berpaling kepada Tuhan.

Aku hidup setiap hari dalam ketakutan sebagai seorang anak karena ibu dan ayahku selalu bertengkar. Setelah aku lulus dari SMP, ibuku mulai percaya kepada Tuhan Yesus atas dorongan dari seorang tetangga, dan aku mengikutinya ke gereja. Sejak saat itu, aku tahu bahwa Tuhan adalah Tuhan atas semua makhluk ciptaan, dan bahwa demi menebus umat manusia dari dosa, Tuhan yang berinkarnasi itu sendiri disalibkan di kayu salib untuk menjadi korban penghapus dosa bagi manusia—kasih Tuhan bagi manusia sungguh besar! Terinspirasi oleh kasih Tuhan, aku memutuskan untuk percaya kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan membalas kasih-Nya, dan dengan demikian aku menemukan arahan dan tujuan dalam hidup. Setelah itu, aku sering menghadiri ibadah, membaca Alkitab, dan memuji Tuhan, dan seiring berjalannya waktu aku mulai merasa bahagia. Terutama ketika aku membaca dalam Alkitab bahwa pada akhir zaman Tuhan akan datang kembali di atas awan dan menyambut kita ke dalam kerajaan surga, hatiku bahkan semakin dipenuhi dengan harapan. Selain itu, pendeta sering menguraikan ayat Alkitab ini secara terperinci untuk kami di ibadah: “Engkau semua, orang-orang Galilea, mengapa engkau sekalian berdiri memandang ke langit? Yesus yang sama ini, yang terangkat dari antara kalian ke surga, juga akan datang kembali dengan cara yang sama seperti engkau melihat Dia naik ke surga” (Kisah Para Rasul 1:9-11). Aku menjadi semakin yakin bahwa Tuhan Yesus akan turun di atas awan putih untuk menyambut kita ke dalam rumah surgawi kita!

Pada tahun 2005, aku bertemu dengan seorang pemuda Korea yang menjadi pacarku dan aku pergi bersamanya ke Korea. Karena kendala bahasa, aku berusaha mencari gereja ekspatriat Tionghoa tetapi aku tidak dapat menemukannya, dan akhirnya rohku menjadi semakin lemah. Tanpa menyadarinya, aku menjadi semakin jauh dari Tuhan. Kami menikah, tetapi karena perbedaan budaya yang terlalu besar, kami tidak mampu mempertahankan perkawinan kami, jadi kami segera bercerai. Kemunduran dalam perkawinanku ini sangat menggoncangkanku secara rohani, dan itu membuatku sangat menderita. Apa lagi dengan berada di negeri asing yang tanpa teman atau keluarga, aku merasa sangat kesepian. Yang bisa kulakukan adalah berdoa dalam hati kepada Tuhan dan menceritakan penderitaan di hatiku kepada-Nya. Aku memohon kepada Tuhan untuk menuntunku ke gereja Tionghoa sehingga aku dapat kembali ke rumah Tuhan.

Setahun kemudian aku menemukan sebuah pelayanan Tionghoa di sebuah gereja Presbiterian, dan aku sangat bahagia. Akhirnya, aku bisa kembali memuji Tuhan di gereja. Namun yang mengecewakanku adalah, setiap kali kami mengadakan ibadah, para pendeta hanya akan membacakan ayat-ayat Alkitab kepada kami dan menguraikan sedikit kepada kami tentang arti harfiah dari firman tersebut. Semua khotbah mereka sama sekali tidak memberikan pencerahan atau apa pun untuk dinikmati. Mereka sama sekali tidak membekali apa pun untuk hidup kami, dan ibadah menjadi hanya sekadar formalitas saja. Selama ibadah, beberapa orang akan saling berbisik, beberapa orang akan bermain permainan di ponsel mereka, beberapa akan tidur, beberapa hanya berada di sana untuk mencari pacar, dan bahkan akan ada beberapa orang yang menaruh lengan mereka di pundak satu sama lain. Aku berpikir: “Gereja adalah bait Tuhan, tempat untuk menyembah Tuhan. Kita datang ke sini untuk menghadiri ibadah tetapi tidak seorang pun yang bahkan memiliki hati yang takut akan Tuhan sedikit pun. Tuhan pasti sangat muak dengan apa yang dilihat-Nya! Bukankah Tuhan akan meninggalkan tempat yang kotor seperti ini?” Namun para pendeta dan pengkhotbah bersikap seolah-olah mereka tidak melihat semua yang sedang terjadi ini, dan mereka sama sekali tidak memperhatikannya.

Hidup di dalam kawah kejahatan yang sangat besar di dunia ini, perlahan-lahan aku mulai mengambil jalan kebejatan, dan akan sering pergi keluar minum-minum bersama teman-teman di waktu senggangku, tidak pernah berperilaku seperti orang yang percaya kepada Tuhan. Namun, setiap kali hatiku mulai menjauh dari Tuhan, firman-Nya akan muncul di benakku: “Ketika roh najis keluar dari manusia, dia berjalan berkeliling ke tempat-tempat yang kering, mencari tempat perhentian, dan tidak menemukannya. Kemudian dia berkata, aku akan kembali ke dalam rumah yang telah kutinggalkan sebelumnya; dan ketika dia datang, dia mendapati rumah itu kosong, tersapu bersih, dan terhias indah. Lalu pergilah dia, dan membawa bersamanya tujuh roh lainnya yang lebih jahat daripada dia, dan mereka masuk serta tinggal di sana: dan keadaan orang itu sekarang lebih buruk daripada yang sebelumnya” (Matius 12:43-45). Firman Tuhan menahan dan melindungiku, dan itu menghentikanku dari menjadi terlalu jauh dari Tuhan atau melakukan apa pun yang terlalu ekstrem, karena takut aku akan menjengkelkan Tuhan dan menyebabkan Dia menjadi muak kepadaku. Aku takut ditinggalkan oleh Tuhan dan jatuh ke tangan roh jahat.

Pada Natal tahun 2016, untuk membangkitkan semangat di gereja, gerejaku meminta sekelompok saudara-saudari yang berbakat untuk mengadakan sebuah pertunjukan. Ada seorang saudari yang belum pernah kulihat sebelumnya yang menyanyikan sebuah lagu kepada kami dalam pujian kepada Tuhan: “Adegan yang terlukis di Alkitab ‘P’rintah Tuhan kepada Adam’ menyentuh dan juga mengharukan. Meski hanya antara Tuhan dan manusia, hubungan antara mereka begitu intim hingga kita merasa heran dan juga kagum. Kasih Tuhan melimpah dib’rikan ke manusia, dilingkupi kasih-Nya. Manusia, tanpa dosa dan tiada yang mengikat, hidup bahagia di mata Tuhan. Tuhan jagai manusia di bawah sayap-sayap-Nya. S’mua perbuatan, ucapan manusia, m’nyatu dengan Tuhan, tak terpisah. Sejak saat pertama kali Tuhan menciptakan umat manusia, Tuhan miliki mereka dalam tanggung jawab-Nya. Dan itu artinya? Tuhan yang jaga manusia dan melindunginya. Dia berharap agar manusia percaya, percaya dan mematuhi firman-Nya. Ini hal pertama yang Tuhan harapkan dari umat manusia. Tentang hal ini Tuhan telah berfirman, ‘Dari setiap pohon di taman, kau bebas makan. Tapi pohon pengetahuan yang baik dan jahat, kau tak boleh memakan buahnya. Hari kau memakannya, pasti kau akan mati.’ Firman ini kehendak Tuhan, bahwa manusia t’lah diperhatikan-Nya. Jadi dalam firman ini, kita ta’u hati Tuhan. Kasih dalam hati-Nya. Kasih sayang dan perhatian. Itu ialah sesuatu yang bisa dirasakan. Jika kau berhati nurani dan manusiawi, kamu ‘kan merasa hangat, dirawat dan dicintai, diberkati kebahagiaan. Saat kau merasakannya, apa tindakanmu ke Tuhan? Bergantungkah pada-Nya? Akankah ada cinta mendalam tumbuh di hatimu? Mendekat kepada Tuhan? Kini kita tahu pentingnya kasihnya Tuhan. Tapi bahkan yang lebih penting lagi ialah merasakan dan mengerti kasih-Nya” (“Lagu Pujian Firman Tuhan” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”).

Mendengar setiap kata dari lagu tersebut, jantungku berdetak lebih cepat dan air mata haru tidak mau berhenti mengalir dari mataku. Aku merasa berada dalam gambar yang indah ditemani oleh Tuhan, dikasihi oleh Tuhan dan menikmati segala sesuatu yang Dia anugerahkan atas ciptaan. Udara, terang, air dan sebagainya—semuanya dipenuhi dengan kasih Tuhan! Aku menikmati segala sesuatu yang telah Tuhan berikan kepada kita, tetapi hatiku semakin menjauh dari Tuhan, dan Tuhan pasti merasa sedih karena hal ini. Aku khususnya merasakan bahwa kata-kata “Jika kau berhati nurani dan manusiawi, kamu ‘kan merasa hangat, dirawat dan dicintai, diberkati kebahagiaan” adalah panggilan Tuhan kepada hati dan jiwaku. Pada tahun 2007, ketika aku tidak bisa lagi hidup bersama dengan suamiku dan tidak punya tempat yang bisa kuanggap sebagai rumahku, Tuhan mengatur Pusat Hak Asasi Manusia Migran Wanita di Korea untukku. Mereka menyediakan makanan dan tempat tinggal gratis untukku di sana dan menemukanku seorang pengacara. Mereka mengurus proses hukum perceraianku secara cuma-cuma. Ketika tiba saatnya bagiku untuk mengajukan naturalisasi (pemerolehan kewarganegaraan bagi penduduk asing), Tuhan menggerakkan seorang pendeta dari gereja Presbiterian untuk berfungsi sebagai sponsorku. Biasanya, orang Korea jarang bersedia menjadi sponsor untuk seseorang, terutama karena aku adalah orang asing dan, selain itu, aku hanya pergi ke gereja itu tiga atau empat kali. Aku tahu ini semua dimungkinkan melalui pertolongan Tuhan yang tersembunyi. Ada juga fakta bahwa orang asing yang mengajukan naturalisasi harus memiliki 30 juta won dalam bentuk aset tetap, tetapi aku bahkan tidak memiliki 3 juta. Kantor Imigrasi memintaku untuk memberikan bukti pekerjaan untuk menunjukkan bahwa aku mampu memenuhi kebutuhanku sendiri, dan mereka sama sekali tidak menyulitkanku…. Tuhan selalu membuat mukjizat bagiku ketika aku sangat membutuhkannya, dan itu semua adalah demonstrasi dari kedaulatan-Nya! Kasih Tuhan sangat luas dan dalam, namun aku terlalu memberontak. Aku sudah lama melupakan Tuhan dan menghancurkan hati-Nya. Lagu pujian ini menjamah rohku, dan aku bertekad untuk mendapatkan kembali imanku dan tidak pernah lagi terlibat dalam pesta pora dan membuat Tuhan sedih.

Pada 19 Februari 2017, kepala dan mataku mulai terasa sangat sakit. Aku pergi ke rumah sakit tetapi perawatan yang kuterima tidak berhasil. Saudari Li, yang ada di gereja kami, memperkenalkanku kepada salah seorang temannya yang mengetahui pengobatan tradisional Tiongkok dan berkata bahwa perawatannya hanya akan memakan waktu satu minggu untuk menjadi efektif. Aku pergi bersamanya untuk mendapatkan perawatan, dan pada hari itu kami bertemu dengan seorang saudara yang bermarga Jin, yang adalah teman dari orang yang mengetahui pengobatan Tiongkok itu. Aku tidak berharap bertemu dengan seorang saudara di dalam Tuhan, dan menurutku itu pasti diatur oleh Tuhan. Aku harus berbicara tentang Alkitab dengan Saudara Jin. Saudara Jin membacakan kepada kami perumpamaan tentang sepuluh gadis dari Alkitab. Dia bertanya kepadaku, “Saudari, apakah kau sedang menantikan kedatangan Tuhan kembali?” Aku berkata, “Tentu saja!” Saudara itu berkata, “Lalu bagaimana caranya Tuhan akan datang kembali?” Aku menjawab tanpa ragu, “Alkitab mengatakan bahwa Dia akan turun di atas awan!” Saudara itu berkata, “Tahukah kau? Tuhan telah datang kembali.” Aku heran mendengarnya, dan berkata, “Markus pasal 13 ayat 32 mengatakan: ‘Tetapi tentang hari dan saat itu, tidak yang tahu, tidak ada malaikat di surga yang tahu, Anak juga tidak, hanya Bapa saja yang tahu‘ Tidak seorang pun yang tahu kapan Tuhan akan datang kembali. Kau mengatakan bahwa Tuhan telah datang kembali, tetapi bagaimana kau bisa tahu?” Saudara Jin tidak memberiku jawaban langsung tetapi malah menemukan beberapa nubuat dalam Alkitab tentang kedatangan Tuhan kembali. Lukas 12:40 mengatakan: “Karena itu hendaklah engkau juga bersiap sedia, karena Anak Manusia datang di waktu yang tidak engkau duga.” Lukas 17:24–26 mengatakan: “Karena sama seperti kilat yang memancar dari satu bagian di bawah langit, bersinar sampai ke bagian lain di bawah langit; demikian juga Anak Manusia saat hari kedatangan-Nya tiba. Tetapi pertama-tama Dia harus mengalami berbagai penderitaan dan ditolak oleh generasi ini. Dan sama seperti di zaman Nuh, begitu juga kelak di hari-hari Anak Manusia.” Wahyu 3:20 mengatakan: “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.” Yohanes 10:27 mengatakan: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku.

Setelah Dia selesai membaca, Saudara Jin berkata, “Tuhan meminta kita untuk berjaga-jaga karena tidak ada yang tahu hari di mana Dia akan datang. Namun menurut apa yang dikatakan oleh nubuat-nubuat, ketika Tuhan datang kembali, Dia akan datang dalam rupa Anak Manusia. Anak manusia adalah Tuhan yang menjadi manusia, yang berarti Tuhan berinkarnasi dalam daging. Meskipun kita tidak tahu kapan tepatnya Tuhan akan datang, kita akan mengenal Dia dari suara-Nya. Ini karena domba-domba Tuhan akan mendengar suara Tuhan, dan ketika mereka mendengarnya, mereka akan mengikuti-Nya….” Aku kemudian teringat tentang pendetaku yang mengatakan bahwa siapa pun yang bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali dalam daging adalah seorang penipu. Aku tidak boleh lagi mendengarkan apa yang dikatakan Saudara Jin, jadi aku mengirim SMS kepada pendetaku yang isinya, “Seseorang sedang mengatakan kepadaku bahwa Tuhan telah datang kembali berinkarnasi. Dari mana asal gereja mereka?” Pendetaku menjawab, “Mereka berasal dari Kilat dari Timur.” Dia menyuruhku untuk segera pergi dan tidak berhubungan lagi dengan mereka. Dia juga memintaku untuk tidak pernah membaca buku-buku mereka dan terus mengirimiku beberapa khotbah tentang cara menjaga diri terhadap penyesatan. Aku berpikir bahwa apa pun yang dikatakan pendetaku pasti benar, maka aku memutuskan untuk tidak mendengarkan persekutuan mereka lagi dan mengabaikannya.

Tidak kusangka, pada sore hari tanggal 20, Saudara Jin dan adik perempuannya datang ke tempat di mana aku sedang menjalani perawatan dan dia memberitahuku begitu banyak tentang pekerjaan Tuhan yang datang kembali. Namun, karena pagi itu aku baru saja menerima kabar tentang kematian ibuku, dan juga memiliki keraguan tentang apa yang sedang mereka beritakan, aku tidak bisa menerima apa pun yang mereka katakan. Ini berlangsung selama tiga hari, dan sepertinya Saudara Jin belum menyerah menyerah untuk memberitakan Injil kepadaku. Namun karena kekacauan batinku, aku menyuruhnya untuk jangan datang lagi. Aku berkata, “Sudahlah. Kalau kau terus berbicara kepadaku, maka jika kau tidak pergi, aku yang akan pergi!” Saudara Jin melihat bahwa aku benar-benar tidak mendengarkan dan tidak punya pilihan selain pergi. Aku mengira Saudara Jin tidak akan mencoba datang lagi, tetapi tak kusangka, keesokan harinya dia membawa seseorang yang bernama Saudara Cheng dan terus memberitakan Injil kepadaku. Aku berpikir dalam hati: “Mengapa dia terus seperti ini?” Untuk menyembunyikan rasa maluku, yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan, tetapi aku tidak melakukan diskusi apa pun dengan mereka. Meskipun aku bersikap dingin terhadap mereka, Saudara Cheng terus dengan sabar berbicara kepadaku. Dia berkata, “Tuhan telah datang berinkarnasi ke dalam dunia dan Dia sedang melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran….” Melihat betapa sabar dan penuh kasihnya dia dan bagaimana dia berpikir tidak merepotkan baginya untuk memberitakan Injil kepadaku, aku berpikir: “Jemaat di gereja kami lemah. Iman dan kasih mereka telah menjadi dingin. Mengapa iman dan kasih orang-orang yang percaya kepada Kilat dari Timur begitu besar? Kuasa apa yang mendukung mereka untuk bertahan dengan upaya mereka dalam menyebarkan Injil kepadaku? Jika itu bukan karena pekerjaan Roh Kudus, mereka tidak akan pernah mampu melakukan ini dengan kekuatan mereka sendiri!”

Media Terkait