Aku Telah Menemukan Rumah yang Sejati

Oleh Saudari Yangyang, Amerika Serikat

Ketika aku berumur tiga tahun, ayahku meninggal. Pada saat itu, ibuku baru saja melahirkan adik laki-lakiku, dan nenekku, karena percaya takhayul, berkata ibu dan adikkulah yang menyebabkan kematian ayahku. Karena tidak punya pilihan lain, ibu harus membawa adikku ke rumah ayahnya untuk bisa hidup, jadi sejauh yang bisa kuingat aku tinggal bersama kakek dan nenekku. Walau kakek nenekku memperlakukanku dengan baik, aku tetap merasa kesepian dan benar-benar ingin bersama ibu dan adikku. Aku merindukan kasih ibu yang sama yang diterima anak-anak lain. Sebenarnya, yang kuminta tidak banyak–aku hanya menginginkan keluarga yang sejati, seorang ibu yang menyayangiku dengan baik, yang bisa berbagi perasaannya yang sebenarnya denganku. Namun, bahkan permintaan sekecil ini berubah menjadi harapan yang terlalu tinggi, karena aku hanya bisa bertemu ibuku di akhir pekan. Kapan pun aku ada masalah di sekolah, ibu juga tidak pernah mendampingiku; aku bagaikan setangkai bunga rumput di pinggir jalan yang tidak menarik perhatian siapa pun. Seiring waktu, aku menjadi sangat rendah diri, aku menyimpan segala sesuatu di hatiku dan tidak mampu berinisiatif untuk berinteraksi dengan orang lain. Ketika aku berumur 16 tahun, beberapa orang di desaku pergi bekerja di luar negeri, dan pemikiran itu menggodaku. Aku berpikir: situasi di rumahku sangat tidak baik. Jika aku pergi ke luar negeri, maka aku bisa mencari nafkah sendiri bahkan bisa memberikan sebagian uang pendapatanku kepada keluargaku. Dengan begitu aku bisa membantu keluargaku untuk hidup sedikit lebih baik.

Bulan Agustus tahun 2000, aku pergi ke Amerika Serikat sendirian. Di Amerika Serikat, aku bangun pagi-pagi sekali dan bekerja sepanjang hari sampai larut malam dan tidak ada siapa-siapa yang kepadanya aku bisa berbagi apa yang kupikirkan. Dari luar aku terlihat tangguh, tetapi di dalam, aku merasa kesepian dan sendirian. Kapan pun aku merasa seperti ini, aku merasa rindu dengan keluargaku, dan aku bahkan lebih lagi merindukan punya keluarga yang bahagia.

Ketika aku berumur 21 tahun, aku mengenal suamiku selagi bekerja di sebuah restoran. Dia adalah orang yang baik dan berbakti pada orangtuanya, jadi aku punya kesan baik tentang dirinya. Suatu hari, kakiku terkilir karena kurang berhati-hati dan yang mengejutkan, dia berhenti kerja untuk merawatku, yang membuatku merasa sangat tersentuh. Perlahan, aku mulai bergantung kepadanya. April 2008, kami menikah. Aku merasa sepertinya telah menemukan seseorang yang kepadanya aku bisa memercayakan hidupku dan akhirnya aku merasa punya keluarga yang bisa kusebut keluargaku sendiri. Hatiku terasa sangat bahagia dan apa yang kuharapkan selama bertahun-tahun akhirnya terwujud. Setelah menikah, saudari suamiku dan aku bekerja sama untuk memulai sebuah perusahaan material bangunan, tetapi karena hanya aku seorang dalam keluargaku yang bisa berbahasa Inggris, seluruh perusahaan pada dasarnya dijalankan olehku. Aku merawat semua orang di keluargaku dan mengurus perusahaan. Melewati beberapa tahun pergumulan, aku bukan saja membantu suamiku membayar utang-utangnya yang dulu, tetapi juga mampu mengumpulkan uang bagi keluargaku. Awalnya, aku berpikir usahaku akan membuatku mendapatkan rasa hormat keluarga suamiku, tetapi kenyataannya bagaikan tamparan di wajahku. Begitu bisnis kami sudah sukses, kami berencana punya anak, tetapi aku tidak kunjung hamil. Oleh karena itu, aku minum banyak obat dan mengunjungi banyak dokter, tetapi aku tidak melihat setitik harapan pun. Suamiku adalah anak tertua di keluarganya dan orangtuanya serta kerabat lainnya menjadi sangat kecewa kepada kami karena kami belum bisa memberikan mereka cucu. Menghadapi tekanan seperti ini, sikap suamiku terhadapku juga berubah drastis. Kemudian, semua orang dalam keluarga suamiku ikut-ikutan berubah sikapnya terhadapku. Kakak perempuan suamiku sering mengatakan hal-hal yang membuatku terkucilkan bahkan memutarbalikkan fakta untuk mengatakan hal-hal buruk tentangku di depan suamiku. Aku merasa diperlakukan tidak adil, jadi aku mengatakan kepada suamiku apa yang aku rasakan. Dia bukan saja tidak bersimpati kepadaku, tetapi kadang ia juga akan meneriakiku, sehingga membuatku semakin terluka dan merasa teraniaya. Beberapa waktu kemudian, kami kembali pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan akhirnya diketahui masalah sebenarnya adalah pada suamiku. Namun, itu tidak lagi masalah, karena setelah beberapa tahun bertengkar, hubungan kami sudah mulai renggang. Mulai awal tahun 2012, suamiku sering pergi ke Tiongkok untuk berobat ke dokter dan menjalankan bisnis, hanya pulang enam bulan sekali. Setiap kali pulang, hanya untuk minta uang dengan mengatakan bahwa perusahaan yang dia jalankan di Tiongkok butuh uang untuk menutupi biaya, tetapi sikapnya sudah sangat berbeda terhadapku. Dengan cara ini kami hampir tidak pernah bersama selama tiga tahun dan hubungan kami semakin renggang.

September 2015, kami akhirnya bercerai. Yang membuatku sangat terluka adalah ketika kami membagi harta gono gini, suamiku sampai memberikan kuasa kepada pengacara untuk menyuruhku menandatangani kontrak yang mengatakan kalau pengadilan tidak menyetujui perceraian kami, maka aku harus memberikan kepada suamiku semua asetku dalam waktu satu minggu. Pengacara lain memintaku memikirkannya baik-baik: jika aku menandantangani kontrak, itu akan sangat merugikan aku dan dia berkata dia bisa membantuku membuat perjanjian yang akan membuatku memenangkan tunjangan dari suamiku. Melihat suamiku begitu dingin dan kejam membuatku sangat bingung. Dari sejak pertama kali jatuh cinta sampai menikah, selama hampir sepuluh tahun, aku telah memberikan segalanya kepada suamiku dan keluarganya, yang jumlahnya secara materi atau harta sudah tidak terhitung lagi. Namun, sekarang karena suamiku tidak bisa membuatku hamil, dia dan keluarganya menyalahkan aku dan menjadi begitu kejam terhadapku, tanpa memikirkan perasaanku sama sekali. Apa yang kudapatkan sebagai balasannya adalah banyak tuduhan dan rasa sakit. Aku merasa lelah. Aku tidak mau lagi berurusan dengan keluarga ini. Aku hanya ingin meninggalkan rumah ini secepatnya dan sejauh mungkin dari orang-orang yang telah sangat melukaiku. Jadi, tanpa ragu aku menandatanganinya.

Setelah bercerai, aku merasa sangat tidak berdaya. Aku tidak tahu siapa yang bisa kupercayai dan aku tidak tahu siapa yang bisa kuajak berbagi perasaan. Setiap kali memikirkan pernikahanku yang gagal, aku merasa tertekan dan sedih. Aku memeriksa kembali keadaan diriku saat ini. Supaya bisa punya anak, aku minum banyak sekali obat yang mengandung hormon sehingga berat badanku naik setengah dari berat awalku. Aku sangat takut orang lain melihatku dalam keadaan yang menyedihkan seperti sekarang, dalam situasi yang aku hadapi. Dari luar, aku bisa pura-pura kuat, tetapi hatiku sangat lemah. Aku benar-benar merindukan hari di mana aku bisa hidup dengan roh yang bebas. Dari sejak saat itu aku mulai memiliki kerinduan untuk percaya kepada Tuhan.

Tidak lama setelahnya, suatu hari aku bertemu Carmen di mal ketika sedang belanja pakaian. Dia sangat antusias menolongku dan kami bertukar nomor telepon. Setelahnya, aku melihat pesannya di WeChat dan aku jadi tahu ternyata dia adalah orang Kristen. Carmen sering membagikan kepadaku tentang kasih Tuhan bagi manusia dan hatiku merasa sangat tergerak. Aku secara bertahap menemukan bahwa aku yang selama ini selalu tertutup, telah mau membuka diriku dan berinteraksi dengan orang lain. Saat aku dan Carmen mengenal satu sama lain, semua penderitaan yang aku rasakan di hatiku selama beberapa tahun ini keluar. Carmen benar-benar mengerti penderitaanku dan dia berbagi denganku pengalaman yang mirip yang dia alami. Aku merasa telah bertemu seseorang yang benar-benar peduli dan itu membuat hatiku hangat. Suatu hari, Carmen mengundangku ke rumah saudari lain di mana aku bertemu Saudara Kevin dan beberapa saudari dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Saat bersama mereka, aku merasa mereka sangat berbeda dengan orang-orang yang pernah aku temui di masa lalu. Kapan pun aku bersama orang lain, entah mereka adalah saudara atau temanku, aku merasa aku tidak benar-benar mengerti mereka ketika aku membuka hatiku kepada mereka. Sebaliknya, aku khawatir nasib burukku akan menjadi bahan ejekan mereka, jadi aku tidak mau membagikan perasaanku dengan siapa pun. Namun, dengan Carmen dan orang-orang ini, aku merasa sangat damai, karena mereka mampu memahami penderitaanku dan mereka juga membagikan pengalaman mereka kepadaku. Aku tidak pernah membayangkan aku bisa membuka diriku dengan tulus dan berbicara dengan semua orang di sini padahal aku baru bertemu mereka pertama kalinya dan kami semua bisa saling membagikan pengalaman kami. Aku merasa saudara-saudari ini lebih memperlakukanku sebagai kerabat daripada keluargaku sendiri memperlakukan aku, sesuatu yang tidak pernah aku nikmati seumur hidupku di dunia selama puluhan tahun, dan ini membuat hatiku sangat tersentuh.

Kemudian, kami semua bersama-sama menonton pertunjukan musikal Kisah Xiaozhen dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, dan hatiku tergetar. Kisah di film itu benar sekali: sebagai seorang anak, tokoh utama di dalam film itu bermain dengan teman-temannya dengan lugu dan murni, tetapi begitu mereka bertumbuh dan mulai memiliki kepentingan berbeda, hati semua orang mulai berubah. Mereka masing-masing mulai punya rencana licik satu terhadap yang lain, bahkan menjadi musuh dan saling bertengkar. Tidak ada lagi kasih sayang atau persahabatan yang bisa dibicarakan. Aku langsung teringat tahun-tahun ketika aku dan suamiku bertengkar. Karena kami tidak bisa punya anak, hubungan kami menjadi retak dan pada akhirnya suamiku benar-benar melawanku demi setiap sen uang saat kami hendak membagi harta gono-gini. Aku jadi berpikir betapa buruknya manusia; ketika kepentingan mereka dipertaruhkan, semua perasaan dilupakan. Untungnya, tokoh utama dalam film itu akhirnya bertemu Tuhan dan kembali kepada keluarga Tuhan, di mana Tuhan menjadi Pribadi satu-satunya yang bisa dia andalkan dan dia tidak lagi merasa kesepian atau tidak berdaya atau tidak tahu harus berbuat apa. Aku merasa tersentuh setelah menontonnya, mataku berlinang air mata. Aku berpikir dalam hatiku: “Ketika Xiaozhen kembali kepada Tuhan, dia melepaskan topeng yang dia pakai untuk bertahan hidup; dia benar-benar hidup di hadirat Tuhan, menerima keselamatan-Nya, dan mampu hidup yang bebas dan lepas. Tuhan Yang Mahakuasa pasti akan menyelamatkan aku juga, sehingga aku bisa hidup bahagia seperti Xiaozhen.” Di film, aku mendengar Tuhan Yang Mahakuasa berkata: “Umat manusia, setelah meninggalkan pembekalan kehidupan dari Yang Mahakuasa, tidak mengetahui tujuan keberadaan hidup mereka, tetapi tetap saja takut akan kematian. Mereka tanpa bantuan maupun dukungan, tetapi tetap enggan menutup mata mereka, dan mereka menguatkan diri untuk menjalani keberadaan hidup mereka yang hina di dunia ini, sekarung daging tanpa jiwa di dalamnya. Engkau hidup dengan cara seperti ini, tanpa harapan, sama halnya dengan orang lain, tanpa tujuan. Di dalam legenda, hanya Yang Mahakuduslah yang akan datang untuk menyelamatkan mereka yang mengerang di tengah penderitaan dan sangat mendambakan kedatangan-Nya. Sejauh ini, keyakinan ini belum terwujud dalam diri mereka yang kurang memiliki kesadaran. Kendati demikian, orang-orang masih begitu merindukannya. Yang Mahakuasa memiliki belas kasihan untuk orang-orang yang sudah sangat menderita ini. Sementara itu, Dia muak dengan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran karena Dia sudah terlalu lama menunggu jawaban dari umat manusia. Dia ingin mencari, Dia hendak mencari hati dan rohmu, untuk membawakanmu air dan makanan, serta membangunkanmu, agar engkau tidak akan haus dan lapar lagi. Ketika engkau letih dan ketika engkau mulai merasakan adanya kehampaan suram di dunia ini, jangan kebingungan, jangan menangis. Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Penjaga, akan menyambut kedatanganmu kapan pun. Dia berjaga di sampingmu, menunggumu untuk berbalik. Dia menunggu hari ketika engkau tiba-tiba memperoleh kembali ingatanmu: menyadari kenyataan bahwa engkau berasal dari Tuhan, tetapi entah bagaimana, engkau kehilangan arah, entah bagaimana engkau jatuh tidak sadarkan diri di tepi jalan, kemudian entah bagaimana, engkau mendapatkan seorang ‘bapa’. Lebih dari itu, engkau menyadari bahwa Yang Mahakuasa selama ini selalu ada di sana, mengamati, menantikan engkau kembali, sudah begitu lama” (“Keluhan Yang Mahakuasa” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Setelah mendengar firman Tuhan ini, aku merasa seakan ibuku sedang memanggilku dan sepertinya aku telah kembali ke sisi ibuku, di mana aku merasakan kehangatan yang tak ada bandingannya dalam hatiku. Ternyata Tuhan selalu berada di sisiku, mengawasiku, menungguku kembali. Aku tidak lagi sendirian. Tuhan tahu kebutuhan dan penderitaanku. Selama masa aku paling membutuhkan, ketika rohku paling sakit, melalui saudara-saudari yang mengkhotbahkan Injil kepadaku, Dia membawaku kembali ke dalam rumah Tuhan, di mana aku menerima keselamatan Tuhan dan menikmati kasih yang Tuhan miliki bagiku. Pada saat itu, aku merasa seperti anak hilang yang akhirnya menemukan rumah, yang telah menemukan keluarganya, dan aku benar-benar merasa bahagia!

Setelah ini, aku mulai menjalani kehidupan bergereja dan lewat pembacaan firman Tuhan Yang Mahakuasa aku merasa aku telah menemukan sesuatu yang aku benar-benar bisa andalkan dan sekarang aku punya tujuan dan arah dalam hidupku. Namun, karena aku mengerti terlalu sedikit tentang kebenaran, setiap kali teringat pernikahanku yang gagal, aku masih merasa sakit dalam hatiku. Aku benci cara suamiku dan keluarganya memperlakukanku, dan setiap kali aku memikirkannya, aku akan berkubang dalam rasa sakit. Jadi, aku berdoa kepada Tuhan mengenai masalahku dan aku membuka diri kepada saudara-saudariku dan bersekutu dengan mereka tentang masalahku, mencari kebenaran untuk menyelesaikannya. Suatu kali, Saudara Kevin membagikan kepadaku satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Manusia telah berjalan melalui berbagai masa yang berbeda ini bersama Tuhan, tetapi tidak menyadari bahwa Tuhan mengatur nasib segala hal dan semua makhluk hidup, atau memahami cara Tuhan mengatur dan mengarahkan segala sesuatu. Ini adalah sesuatu yang gagal dipahami manusia sejak zaman dahulu kala sampai sekarang. Alasannya bukan karena perbuatan-perbuatan Tuhan terlalu sulit dipahami, atau karena rencana Tuhan masih belum diwujudkan, tetapi karena hati dan roh manusia terlalu jauh dari Tuhan sehingga manusia tetap melayani Iblis pada saat bersamaan dengan mengikuti Tuhan—dan sama sekali tidak menyadarinya. Tidak seorang pun berusaha mencari jejak langkah ataupun penampakan yang diwujudkan-Nya, dan tak seorang pun bersedia untuk hidup dalam pemeliharaan dan penjagaan Tuhan. Sebaliknya, mereka malah mau bergantung pada kebusukan Iblis, si jahat, agar bisa menyesuaikan diri dengan dunia ini dan aturan-aturan kehidupan yang diikuti oleh umat manusia yang jahat. Pada titik ini, hati dan roh manusia sudah dipersembahkan sebagai upeti kepada Iblis dan menjadi makanan Iblis. Lebih dari itu, hati dan roh manusia telah menjadi tempat Iblis berdiam dan menjadi tempat bermainnya yang pas. Dengan demikian, manusia tanpa sadar kehilangan pemahamannya tentang prinsip-prinsip kemanusiaan, dan nilai serta makna keberadaan manusia. Hukum Tuhan dan perjanjian antara Tuhan dan manusia perlahan menghilang dari hati manusia dan manusia berhenti mencari atau mengindahkan Tuhan. Dengan berlalunya waktu, manusia tak lagi mengerti alasan Tuhan menciptakan dirinya, maupun memahami perkataan yang keluar dari mulut-Nya dan segala hal yang datang dari Tuhan. Manusia kemudian mulai menentang hukum dan ketetapan-ketetapan Tuhan, hati dan rohnya menjadi mati rasa …. Tuhan kehilangan manusia yang Dia awalnya ciptakan, dan manusia kehilangan akar asal mula keberadaannya: Inilah kenestapaan umat manusia” (“Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Saudara Kevin lalu bersekutu tentang hal ini dengan mengatakan kepadaku: “Alasan hidup kita penuh dengan rasa sakit adalah karena kita menerima gagasan, cara pandang, dan dalil Iblis dan karena kita dilukai dan dirusak oleh Iblis. Sebenarnya, umat manusia telah dirusak Iblis selama ribuan tahun. Karena sudah lama sekali, kita telah terbiasa dengan apa yang Iblis tanamkan dalam diri kita. Kita mengandalkan aturan Iblis untuk bertahan hidup, membuat kita buta terhadap semua hal selain keuntungan pribadi, keegoisan, kehinaan, dan tanpa hati nurani. Keluarga mantan suamimu mampu memperlakukanmu seperti itu karena mereka juga dikendalikan oleh pikiran feodal seperti ‘meneruskan garis keturunan nenek moyang’, ‘ada tiga cara untuk berbakti, tidak punya anak laki-laki itu paling parah’, dan ‘membesarkan anak-anak supaya bisa dirawat di masa tua’ yang telah ditanamkan dalam diri mereka oleh Iblis. Dan ketika suamimu membagi harta gono-gini, dia tidak mengingat sama sekali sudah bertahun-tahun kalian bersama sebagai suami-istri, dan ini juga karena dia dipengaruhi dan dikendalikan oleh aturan bertahan hidup seperti ‘Uang adalah yang utama’ dan ‘Tiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan yang ketinggalan akan dimangsa’, dan dia menjadi egois dan tak punya perasaan. Karena kerusakan Iblis, manusia tidak bisa rukun satu sama lain, dan tidak ada kebahagiaan dalam kehidupan kita. Semua penderitaan yang kita alami disebabkan oleh siksaan Iblis. Semua keluarga kita ditindas Iblis juga, seluruh ras umat manusia berada dalam wilayah kekuasan Iblis dan tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kondisi disakiti oleh Iblis ini. Karena itu, tanpa bimbingan Tuhan, manusia yang hidup berdasarkan falsafah dan dalil Iblis menjalani hidup yang tanpa sukacita dan kebahagiaan sejati. Apa yang sangat kita butuhkan dalam hidup kita bukanlah kekayaan materiel ataupun cinta keluarga kita, tetapi keselamatan Tuhan. Apa yang kita butuhkan adalah dibekali dengan firman Tuhan. Hanya Tuhan saja yang bisa memimpin kita lepas dari kerusakan dan siksaan Iblis dan memulihkan hati nurani dan nalar kita, memampukan kita hidup seperti manusia sejati dan mendapatkan kebebasan dan kelepasan.” Setelah mendengar persekutuan Saudara Kevin, aku tiba-tiba menyadari: jadi, bukan hanya aku saja yang hidup dalam penderitaan, tetapi seluruh ras umat manusia ditipu oleh Iblis dan dirusak Iblis dan kita semua bergumul dalam penderitaan. Hanya dengan datang ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan Tuhan, manusia bisa lepas dari siksaan Iblis dan mengatasi penderitaan ini. Inilah satu-satunya cara mendapatkan kebahagiaan dan kebebasan. Begitu aku mengerti ini, pikirkanku merasa sangat jernih, dan aku merasa sangat dibebaskan.

Begitu aku mengerti akar masalah mengapa manusia hidup dalam penderitaan, aku menyadari bahwa kebencian antara diriku dan keluarga mantan suamiku disebabkan oleh siksaan Iblis, aku bahkan mau mencoba mengampuni mereka dan berhenti mendendam terhadap mereka. Ketika aku mulai melakukan firman Tuhan, aku merasakan lebih banyak sukacita dalam hatiku. Agustus 2016, aku tidak sengaja bertemu mantan suamiku di jalan. Kami saling menyapa dan aku merasakan dengan jelas dalam hatiku bahwa aku tidak lagi membencinya, karena aku tahu dia hidup di bawah siksaan Iblis, dan dia ditipu dan disiksa oleh Iblis. Jika aku punya kesempatan, aku akan membagikan Injil akhir zaman kepadanya, sehingga dia juga bisa datang ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan Sang Pencipta. Pada saat itu, aku merasa Tuhan benar-benar sangat indah, dan firman Tuhan adalah kebenaran. Jadi selama kita datang ke hadapan Tuhan dan menerima keselamatan-Nya, kita bisa membebaskan diri sendiri dari ikatan Iblis dan meraih kebebasan dan kelepasan, dan hidup bahagia dan diberkati.

Setiap kali menonton video lagu dan tarian Sukacita di Tanah Kanaan, aku merasa sangat bahagia dan aku merasa kata-kata lagu itu menyatakan dengan sempurna apa yang aku rasakan: “Kembali ke rumah Tuhan, kurasakan sukacita dan kegembiraan. Aku beruntung akhirnya dapat melihat Tuhan Mahakuasa yang praktis. Walau aku melewati lembah air mata, kasih yang Tuhan berikan padaku sungguh nyata. Hatiku ditahirkan oleh kesulitan dan ujian. Itu membuat kasihku bagi-Nya murni, dan bertumbuh hari demi hari. Kasih bagi Tuhan memenuhi hatiku dengan sukacita. Tuhan sungguh bisa dipercaya dan benar, mempesona dan memikatku. Betapa luar biasa indahnya watak Tuhan! Itu tertanam kuat dalam hatiku. Aku tak dapat cukup mengasihi kekudusan dan keindahan Tuhan. Jadi aku penuh dengan lagu pujian bagi-Nya. … Tanah Kanaan ialah kerajaan Kristus. Kasih kita bagi-Nya manis, kasih ini membuat kita menari sukacita. Di tanah Kanaan, umat Tuhan akan menyembah-Nya dalam kekekalan” Ketika aku memikirkan kembali jalan yang telah kutempuh, apa pun yang kualami di jalan ini, Tuhan selalu berada di sisiku mengawasiku dan pada akhirnya, Dia memimpinku kembali kepada keluarga-Nya. Sekarang setiap hari aku menikmati disirami dan dibekali oleh firman Tuhan Yang Mahakuasa. Rasa sakit yang kurasakan dalam hatiku sudah hilang dan aku telah menemukan arah dalam hidupku dan memperoleh kebebasan dan kebahagiaan sejati. Syukur kepada Tuhan karena sudah menyelamatkan aku. Aku akan berusaha mengejar kebenaran dan memenuhi tugasku sebagai makhluk ciptaan sebaik yang aku bisa untuk membalas kasih Tuhan!

Media Terkait

  • Diselamatkan Dari Ambang Kematian

    Oleh Saudara Zhao Guangming, Tiongkok Pada awal tahun 1980-an, aku berusia 30-an tahun dan bekerja di sebuah perusahaan konstruksi. Aku menganggap dir…

  • Pulangnya Sebuah Hati yang Mengembara

    Oleh Novo, Filipina Namaku Novo, dan aku dari Filipina. Aku telah mengikuti ibuku dalam kepercayaannya kepada Tuhan sejak aku kecil, dan mendengarkan …

  • Keberuntungan dan Kemalangan

    Oleh Saudari Dujuan, Jepang Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin di sebuah desa di pedesaan Tiongkok. Oleh karena kesulitan ekonomi keluargaku,…

  • Aku Telah Menemukan Kebahagiaan Sejati

    Saudari Zhang Hua, Kamboja Aku dilahirkan dalam keluarga petani biasa. Meskipun kami tidak kaya, ayah dan ibuku saling mencintai dan memperlakukanku d…