Pernikahan yang Bahagia Dimulai dengan Menerima Keselamatan Tuhan

Oleh Saudari Zhui Qiu, Malaysia

Aku adalah seorang ahli kecantikan dan suamiku adalah seorang petani; kami bertemu di Malaysia di sebuah acara melempar jeruk, kegiatan tradisional untuk wanita yang berusaha menemukan cinta. Pernikahan kami, yang diberkati oleh pendeta, diadakan di sebuah gereja setahun kemudian. Aku sangat tersentuh oleh doa pendeta itu untuk pernikahan kami dan meskipun aku bukan orang yang religius, dalam hati aku memohon kepada Tuhan: “Semoga laki-laki ini dengan tulus menghargai dan memeliharaku , dan menjadi pendampingku sepanjang sisa hidupku.”

Setelah memulai kehidupan pernikahan, konflik di antara aku dan suamiku muncul satu demi satu. Dia akan berangkat dari rumah pada pukul 4 pagi setiap hari untuk menjual sayuran dan baru pulang setelah lewat pukul 7 malam, sedangkan aku baru akan pulang kerja setelah lewat pukul 10 malam. Kami tidak memiliki banyak waktu bersama. Setiap kali aku menyeret tubuhku yang kelelahan pulang ke rumah, aku sangat berharap untuk berada di pihak penerima perhatian, kepedulian, dan pengertian dari suamiku; aku ingin dia bertanya kepadaku tentang keadaan pekerjaanku, apakah aku bahagia atau tidak. Namun aku merasa kecewa karena hampir setiap kali aku pulang dari bekerja, jika dia tidak menonton TV, dia sibuk dengan ponselnya, dan terkadang dia bahkan tidak mau repot-repot menyapaku. Seolah-olah aku ini tidak ada. Ini membuatku benar-benar sedih dan lambat laun aku semakin tidak puas dengan suamiku.

Suatu kali, aku berselisih dengan seorang pelanggan dan merasa sangat jengkel dan benar-benar merasa diperlakukan tidak adil. Sesampainya di rumah, aku menceritakannya kepada suamiku dengan harapan dia akan menghiburku, tetapi tidak kusangka, sementara sibuk dengan ponselnya, dia nyaris tidak menjawabku, hampir tidak memperhatikan ceritaku sedikit pun. Lalu dia menundukkan kepalanya dan langsung kembali sibuk dengan ponselnya. Sikap acuh tak acuhnya terhadapku benar-benar menjengkelkan, jadi aku menghampirinya dan berteriak, “Apa kau terbuat dari batu? Kau bahkan tidak bisa ngobrol? Apa kau peduli dengan siapa pun?” Melihatku sangat marah, dia menolak untuk menjawab. Semakin banyak sikap diamnya terhadapku, semakin amarahku meningkat. Aku terus menerus mengomelinya, benar-benar bertekad untuk membuatnya mengatakan sesuatu. Secara tak terduga, tiba-tiba dia balik berteriak kepadaku, “Apa sudah cukup omelanmu?” Ini membuatku merasa semakin marah, dan semakin merasa diperlakukan tidak adil, jadi aku terus berusaha bernalar dengannya. Akhirnya, dia sama sekali menolak untuk mengatakan apa pun, jadi perdebatan kami dianggap selesai. Di lain waktu, aku mengeluh kepada suamiku tentang sesuatu yang membuatku kesal di tempat kerja dengan berpikir bahwa dia akan berusaha membuatku merasa lebih baik, tetapi sebaliknya dia menjawab dengan tiba-tiba, menyindirku, “Dibutuhkan dua orang untuk berselisih paham. Yang kau lihat adalah masalah orang lain—mengapa kau tidak introspeksi diri?” Emosiku meluap dengan cepat dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memarahinya. Dipenuhi dengan kebencian, aku berpikir, “Orang macam apa dia ini? Mengapa aku menikahi orang seperti dia? Dia sama sekali tidak memikirkan perasaanku—dia tidak memberiku sepatah pun kata penghiburan!” Sejak saat itu aku hampir sepenuhnya berhenti menceritakan kepadanya apa yang terjadi di tempat kerjaku. Ada kalanya sesekali, dia mencoba bertanya kepadaku tentang pekerjaanku, tetapi aku tidak pernah merasa ingin memberikannya perhatian. Lambat laun dia berhenti bertanya kepadaku tentang apa pun. Topik pembicaraan bersama kami semakin berkurang dan setiap kali terjadi sesuatu yang membuatku frustrasi, aku pergi mencari seorang teman untuk mendengarkanku. Terkadang aku bergadang sampai larut malam berbicara dengan seseorang dan tidak akan pulang sampai lewat tengah malam. Bahkan ketika aku pulang larut malam, dia tampak tetap tidak peduli tetapi hanya berkata bahwa aku memperlakukan rumah kami seperti hotel. Aku sungguh merasa kesal, dan ketidakpuasanku terhadap suamiku semakin besar, membuat kami sering bertengkar dan berdebat. Kami berdua menderita. Aku tidak menginginkan segala sesuatu terus berlanjut seperti itu, jadi aku memutuskan untuk mencari kesempatan berbicara dengannya dari hati ke hati.

Suatu hari setelah makan malam, aku bertanya kepadanya, “Kau benar-benar tidak tahan ya terhadapku? Mengapa kau tidak pernah memperhatikan aku? Jika kau ada masalah denganku, langsung saja katakan kepadaku.” Ketika dia tidak menjawab sepatah kata pun, aku terus mencecarnya. Yang mengejutkan, dia berteriak kepadaku dengan jengkel, “Berhenti menanyakan kepadaku semua pertanyaan ini! Bagimu semuanya adalah masalah—aku muak!” Mendapatkan jawaban semacam itu darinya membangkitkan kemarahanku, dan kami mulai berdebat lagi, saling menyerang satu sama lain. Ini berlangsung selama beberapa waktu sampai dia berdiri dan mendorongku; aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke sofa. Melihat suamiku akan memukulku benar-benar memilukan. Aku berpikir, “Inikah suami yang kupilih dengan hati-hati? Inikah pernikahan yang kuharapkan? Bagaimana dia bisa memperlakukanku seperti ini?” Sejak itu aku tidak lagi menaruh harapan apa pun kepadanya.

Pada bulan April 2016, secara kebetulan, seorang saudari membagikan Injil Tuhan Yesus kepadaku. Dia berkata bahwa Tuhan mengasihi kita dan dipakukan di atas kayu salib demi menyelamatkan kita. Aku benar-benar tersentuh oleh kasih-Nya, dan karena itu aku menerima Injil Tuhan. Belakangan, ketika aku berbicara dengan pendetaku tentang masalah dalam pernikahanku, dia berkata kepadaku, “Kita tidak mampu mengubah orang lain kecuali kita mengubah diri kita terlebih dahulu. Kita harus mengikuti teladan Tuhan Yesus dan menerapkan toleransi dan kesabaran terhadap orang lain.” Jadi, aku mulai berusaha mengubah diriku. Aku akan bergegas pulang ke rumah sepulang kerja dan membersihkan rumah, dan terkadang ketika suamiku mengabaikanku dan aku akan kehilangan kesabaran, aku akan berdoa kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk memberikan toleransi dan kesabaran kepadaku. Di saat aku tidak mampu mengendalikan diriku dan bertengkar dengan suamiku, setelah itu aku berusaha memulai upaya untuk memperbaiki keadaan. Melihat perubahan yang terjadi pada diriku, suamiku juga mulai percaya kepada Tuhan. Begitu kami berdua menjadi orang percaya, kami semakin jarang berdebat dan lebih banyak berkomunikasi. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan setelah melihat keselamatan pribadi-Nya bagi kami.

Namun dengan berjalannya waktu, kami masih tetap tidak mampu mengendalikan suasana hati kami sendiri. Perselisihan rumah tangga terkadang masih terjadi, dan khususnya ketika salah satu dari kami sedang berada dalam suasana hati yang buruk, tak satu pun dari kami yang bisa menerapkan toleransi dan kesabaran, sehingga akibatnya pertengkaran kami menjadi semakin sengit. Hatiku dipenuhi dengan rasa sakit setelah setiap pertengkaran, dan aku akan berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, Engkau mengajar kami untuk bersikap toleran dan sabar, tetapi sepertinya aku tidak sanggup melakukan itu. Ketika aku melihat suamiku melakukan sesuatu yang tidak kusukai, aku merasa sangat tidak puas dengannya. Tuhan, apa yang harus kulakukan?” Aku kemudian mulai menghadiri setiap kelas yang diadakan oleh gereja dengan harapan menemukan jalan penerapan, tetapi aku tidak mendapatkan apa yang kuharapkan dari setiap kelas itu. Aku meminta bantuan ketua kelompok kami, yang hanya berkata, “Aku dan istriku juga sering bertengkar. Bahkan Paulus berkata: ‘Karena aku tahu, bahwa di dalam aku (yaitu, di dalam dagingku), tidak ada hal yang baik, karena dalam diriku ada kehendak; tetapi aku tidak mendapati cara berbuat apa yang baik’ (Roma 7:18). Tak seorang pun yang memiliki solusi untuk masalah yang kita hadapi dari siklus terus menerus berbuat dosa dan mengaku dosa. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa kepada Tuhan dan memohon belas kasihan-Nya.” Mendengarnya mengatakan ini membuatku merasa bingung: mungkinkah kita ditakdirkan untuk menghabiskan sisa hidup kita terperosok dalam konflik?

Pada bulan Maret 2017, suamiku, yang tadinya pendiam, tiba-tiba berubah menjadi orang yang suka bicara dengan penuh semangat. Selain itu, dia sering membagikan persekutuan denganku tentang pemahamannya akan ayat-ayat Alkitab, dan yang lebih mengherankanku adalah, apa yang dia bagikan dalam persekutuan benar-benar mencerahkan. Aku bingung; sepertinya dia tiba-tiba menjadi orang yang berbeda, dan segala sesuatu yang dia katakan benar-benar berwawasan luas. Aku benar-benar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. Suatu hari, aku secara tidak sengaja menemukan bahwa dia adalah anggota grup di sebuah aplikasi media sosial, dan langsung bertanya kepadanya apa yang dia bicarakan dengan mereka. Dengan wajah yang sangat serius, dia mengatakan kepadaku bahwa dia sedang merenungkan pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali dan nama-Nya adalah Tuhan Yang Mahakuasa. Dia mengatakan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah mengucapkan jutaan firman dan sedang melakukan pekerjaan penghakiman dan penahiran umat manusia pada akhir zaman. Dia juga mengatakan bahwa itu menggenapi nubuat Alkitab ini: “Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan” (1 Petrus 4:17). Suamiku mengatakan kepadaku bahwa jika kita mencari penampakan Tuhan dan pekerjaan Tuhan, kita harus memusatkan perhatian kita untuk mendengar suara Tuhan dan bukan secara membabi buta berpegang teguh pada gagasan dan imajinasi kita. Jika kita tidak mencari kebenaran tetapi hanya dengan pasif menunggu penyingkapan Tuhan, kita tidak akan dapat menyambut kedatangan Tuhan kembali. Mendengar ini membuatku tertegun dan itu tampaknya tidak dapat dibayangkan. Kemudian terpikir olehku bahwa aku telah mendengar seorang pendeta India pernah berkata bahwa jika kita sampai mendengar sesuatu tentang kedatangan Tuhan kembali, kita harus mencari dengan hati terbuka dan menyelidikinya dengan sungguh-sungguh; kita tidak bisa bergantung pada gagasan dan imajinasi kita dan hanya menghakimi secara membabi buta. Jadi aku berdoa kepada Tuhan: “Tuhan, jika Tuhan Yang Mahakuasa benar-benar adalah kedatangan-Mu kembali, kumohon pimpin dan bimbinglah aku sehingga aku bisa mencari kebenaran dan menyelidikinya dengan hati yang terbuka. Kalau bukan, kumohon lindungilah hatiku agar aku tidak menyimpang dari-Mu. Amin!”

Setelah menaikkan doa ini, aku membuka Alkitab dan melihat ini dalam Wahyu 3:20: “Lihatlah, Aku berdiri di pintu dan mengetuk: kalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membuka pintu itu, Aku akan datang masuk kepadanya, dan bersantap dengannya, dia bersama-Ku.” Tiba-tiba aku mendapat inspirasi dan merasa bahwa Tuhanlah yang sedang berbicara kepadaku, memberitahuku bahwa ketika Dia datang kembali, Dia akan mengetuk pintuku; aku merasa Dialah yang memerintahkan kepadaku untuk mendengarkan suara-Nya dan membuka pintu. Itu sama seperti gadis bijaksana di dalam Alkitab yang bergegas menyambut mempelai laki-laki ketika mereka mendengar suaranya. Aku kemudian teringat akan Yohanes 16:12–13: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu.” Ketika aku merenungkan ayat-ayat Alkitab ini, perasaan gembira muncul di dalam hatiku. Aku menyadari bahwa Tuhan telah lama mengatakan kepada kita bahwa saat kedatangan-Nya kembali, Dia akan mengucapkan lebih banyak firman dan mengaruniakan kebenaran kepada kita. Dan pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman adalah pekerjaan mengungkapkan firman untuk menghakimi dan mentahirkan umat manusia—mungkinkah Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali? Jika Tuhan benar-benar telah datang kembali dan telah mengungkapkan kebenaran untuk menyelesaikan semua kesulitan manusia, maka ada harapan bagi kita untuk melepaskan diri dari ikatan dosa. Jadi, bukankah masalah antara aku dan suamiku dapat diselesaikan? Aku langsung meminta suamiku untuk menghubungkanku dengan saudara-saudari dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa; aku juga ingin menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman.

Ketika berada dalam sebuah ibadah, beberapa saudara-saudari dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa memilih beberapa ayat Alkitab untuk bersekutu denganku mengenai berbagai aspek kebenaran, seperti cara Tuhan datang kembali, nama baru Tuhan, dan pekerjaan apa yang akan Dia lakukan. Persekutuan mereka sangat meyakinkan dan benar-benar baru bagiku. Aku benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, jadi aku terus menerus berdoa kepada Tuhan, memohon kepada-Nya untuk mencerahkanku sehingga aku dapat memahami firman Tuhan. Dengan membaca firman Tuhan dan mendengarkan persekutuan saudara-saudari, lambat laun aku mendapatkan pemahaman tentang tujuan Tuhan dalam pengelolaan-Nya terhadap umat manusia, tiga tahap pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan manusia, dan hasil serta tempat tujuan manusia. Sementara menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, aku tetap tidak mampu menahan diri untuk bertengkar dengan suamiku karena beberapa hal sepele. Setelah kejadian itu, aku akan merasa sangat bersalah dan kecewa, dan aku akan bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa aku tidak pernah bisa melakukan firman Tuhan?” Ini membuatku bingung. Dalam suatu ibadah, aku bertanya kepada seorang saudari, “Mengapa aku dan suamiku selalu bertengkar? Mengapa kami tidak bisa hidup rukun dengan damai?” Dia menemukan beberapa bagian firman Tuhan untukku. “Sebelum manusia ditebus, banyak racun Iblis yang telah tertanam kuat di dalam dirinya. Setelah ribuan tahun dirusak oleh Iblis, di dalam diri manusia terdapat sifat dasar yang selalu menolak Tuhan. Oleh karena itu, ketika manusia telah ditebus, manusia mengalami tidak lebih dari penebusan, di mana manusia dibeli dengan harga yang mahal, namun sifat beracun dalam dirinya masih belum dihilangkan. Manusia masih begitu tercemar sehingga harus mengalami perubahan sebelum layak untuk melayani Tuhan. Melalui pekerjaan penghakiman dan hajaran ini, manusia akan sepenuhnya menyadari substansi mereka sebenarnya yang najis dan rusak, dan mereka akan dapat sepenuhnya berubah dan menjadi tahir. Hanya dengan cara ini manusia dapat dilayakkan untuk kembali menghadap takhta Tuhan” (“Misteri Inkarnasi (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Ia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia, tetapi tidak melepaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis. Jadi, setelah dosa manusia diampuni, Tuhan datang kembali menjadi daging untuk memimpin manusia memasuki zaman yang baru. Tuhan memulai melakukan hajaran dan penghakiman, dan pekerjaan ini telah membawa manusia ke dalam alam yang lebih tinggi. Semua orang yang tunduk di bawah kekuasaan-Nya akan menikmati kebenaran yang lebih tinggi dan menerima berkat yang lebih besar. Mereka benar-benar hidup dalam terang dan akan mendapatkan kebenaran, jalan, dan hidup” (Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia).

Dia kemudian membagikan persekutuan ini: “Pada mulanya, Adam dan Hawa hidup bahagia di hadapan Tuhan di Taman Eden. Tidak ada percekcokan; tidak ada penderitaan. Namun setelah mereka mendengarkan si ular dan memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, mereka menjadi semakin jauh dari Tuhan dan mengkhianati Dia, kehilangan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan dan hidup di bawah kuasa Iblis. Hari-hari kesedihan dan penderitaan pun dimulai. Keadaan seperti ini sudah berlangsung lama sampai sekarang, dan kita menjadi semakin dalam dirusak oleh Iblis. Kita penuh dengan watak Iblis yang rusak; kita semua sangat congkak, egois, curang, dan keras kepala. Kita mementingkan diri sendiri dalam segala hal, selalu ingin orang lain mendengarkan kita. Itulah sebabnya orang saling bertengkar dan membunuh. Bahkan orang tua dan anak-anak serta suami dan istri tidak memiliki toleransi dan kesabaran terhadap satu sama lain dan tidak dapat hidup rukun secara harmonis satu sama lain—kita bahkan tidak memiliki hati nurani dan nalar yang paling mendasar sekalipun. Meskipun kita telah ditebus oleh Tuhan Yesus, meskipun kita berdoa kepada Tuhan, mengaku dosa, dan bertobat, dan kita berusaha keras untuk menaati ajaran-ajaran Tuhan, kita tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak berbuat dosa dan menentang Tuhan. Itu karena Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan menebus umat manusia; Dia tidak melakukan pekerjaan penyelamatan dan penahiran manusia sepenuhnya. Menerima keselamatan Tuhan Yesus hanya berarti bahwa kita tidak lagi berdosa dan kita memiliki kesempatan untuk datang ke hadapan Tuhan dalam doa, untuk menerima belas kasihan-Nya, dan diampuni dari dosa-dosa kita. Namun, kita belum ditahirkan dari watak kita yang rusak. Natur dosa kita masih berakar dalam di dalam diri kita; kita masih membutuhkan Tuhan untuk datang kembali pada akhir zaman dan melakukan tahap pekerjaan untuk mentahirkan dan mengubah umat manusia, sehingga menyelesaikan masalah natur dosa kita. Dan sekarang Tuhan sekali lagi menjadi manusia, mengungkapkan firman untuk melakukan pekerjaan penghakiman dan penahiran untuk sepenuhnya menyelamatkan kita dari watak kita yang rusak dan memungkinkan kita untuk melepaskan diri dari pengaruh Iblis dan diselamatkan sepenuhnya. Selama kita terus mengikuti pekerjaan baru Tuhan, menerima penghakiman dan hajaran firman-Nya, mencari kebenaran, dan melakukan firman Tuhan, watak kita yang rusak akan berubah secara bertahap. Itulah satu-satunya cara kita akan dapat hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati, dan baru pada saat itulah kita dapat mencapai keharmonisan dalam hubungan kita dengan orang lain.”

Akhirnya aku menyadari dari firman Tuhan dan persekutuan saudari ini bahwa alasan kita selalu hidup dalam keadaan berbuat berdosa dan kemudian mengaku dosa adalah karena meskipun Tuhan Yesus telah melakukan pekerjaan menebus umat manusia, dosa-dosa kita sebagai orang percaya hanya diampuni; namun, natur batiniah kita yang berdosa masih mengakar sangat dalam dan watak Iblis dalam diri kita belum ditahirkan. Contoh yang sempurna adalah ketika aku bermaksud menerapkan kesabaran dan toleransi sesuai dengan ajaran Tuhan, tetapi begitu suamiku mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak aku sukai, aku tidak mampu menahan diriku untuk tidak marah. Sebesar apa pun upayaku, aku tidak mampu mengendalikan diriku. Tanpa pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan kita, tidak mungkin bagi kita untuk membuang watak Iblis kita yang rusak dengan mengandalkan usaha kita sendiri. Dan sekarang, Tuhan telah berinkarnasi sekali lagi, datang untuk melakukan pekerjaan menghakimi dan mentahirkan umat manusia. Dengan menerima pekerjaan baru Tuhan dan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, kita memiliki kesempatan untuk mencapai perubahan watak. Aku merasa benar-benar tersentuh dan sangat bersyukur atas anugerah Tuhan yang memungkinkanku untuk mendengar suara-Nya. Namun, aku masih belum sepenuhnya jelas—aku tahu bahwa Tuhan telah datang kali ini untuk mengucapkan firman untuk menyucikan dan mengubah kita, tetapi bagaimana caranya firman dapat menghakimi dan mentahirkan watak kita yang rusak? Jadi, aku menjelaskan kebingunganku.

Saudari itu membacakan bagian lain dari firman Tuhan untukku. “Di akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah kata-kata dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan” (“Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Dia melanjutkan untuk berbagi lebih banyak persekutuan denganku. “Firman Tuhan dengan jelas menerangkan kepada kita cara Dia melakukan pekerjaan penghakiman. Dia menggunakan firman untuk menghakimi dan menyucikan umat manusia; Dia terutama menggunakan firman untuk secara langsung menyingkapkan dan membedah natur dan esensi kita yang rusak serta watak Iblis dalam diri kita. Dia juga dengan jelas memberi tahu kita cara kita seharusnya tunduk kepada Tuhan dan menyembah-Nya, cara hidup dalam kemanusiaan yang sebenarnya, cara mengejar kebenaran untuk mencapai perubahan watak, cara menjadi orang yang jujur, serta apa kehendak dan tuntutan Tuhan terhadap manusia. Dia telah memberi tahu kita orang macam apa yang Dia sukai dan orang macam apa yang Dia singkirkan, dan masih banyak lagi. Dia juga mengatur orang, peristiwa, segala sesuatu, dan lingkungan untuk memangkas dan menangani kita, untuk menguji dan memurnikan kita. Ini menyingkapkan watak kita yang rusak dan memaksa kita untuk datang ke hadapan Tuhan dan mencari kebenaran, untuk menerima penghakiman dan hajaran firman-Nya, serta merenungkan dan mengenal diri kita sendiri. Ketika kita menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan, kita merasa seakan-akan Dia sedang berbicara dengan kita, muka ke muka, dengan jelas, sepenuhnya menyingkapkan pemberontakan dan penentangan kita terhadap-Nya, motif dan gagasan serta imajinasi kita yang keliru. Baru pada saat itulah kita dapat melihat bahwa natur dan esensi kita penuh dengan kecongkakan, kesombongan, tipu muslihat, kebengkokan, keegoisan, dan kejahatan. Kita melihat bahwa kita sama sekali tidak memiliki hati yang penuh sikap hormat kepada Tuhan dan bahwa kita hidup sepenuhnya berdasarkan pada natur Iblis kita yang rusak, bahwa segala sesuatu yang kita ungkapkan adalah watak Iblis dalam diri kita, dan kita sama sekali tidak memiliki keserupaan dengan manusia. Kita mulai membenci diri kita sendiri dan dibuat jijik oleh diri kita sendiri dari dalam hati kita dan berharap untuk tidak lagi hidup di bawah pengaruh Iblis, serta dipermainkan dan dilukai oleh Iblis. Yang terutama, melalui penghakiman dan hajaran Tuhan, kita melihat esensi-Nya yang kudus dan watak benar-Nya yang tidak menoleransi pelanggaran. Hati yang penuh sikap hormat kepada Tuhan bertumbuh di dalam diri kita dan kita jadi rela melakukan kebenaran demi memuaskan Tuhan. Begitu kita mulai melakukan kebenaran, watak Tuhan yang penuh kebaikan dan belas kasihan muncul di hadapan kita. Dengan terus membaca firman Tuhan dan mengalami penghakiman dan hajaran-Nya, kita memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang natur kita yang rusak, kita lebih memahami kebenaran yang diungkapkan oleh Tuhan, dan menjadi semakin bersedia untuk menerima dan tunduk pada penghakiman dan hajaran-Nya, meninggalkan kedagingan, melakukan kebenaran, dan memuaskan Tuhan. Kita semakin sedikit menyingkapkan kerusakan, melakukan kebenaran menjadi semakin mudah, dan kita secara bertahap masuk ke jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Dengan mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan, kita semua dapat memastikan dari dalam hati kita bahwa ini adalah obat mujarab yang menyelamatkan dan menyembuhkan kita dari watak kita yang rusak. Ini adalah kasih Tuhan yang paling sejati bagi kita manusia yang rusak, dan tanpa mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan, kita tidak akan pernah mampu untuk hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati.”

Firman Tuhan dan persekutuan saudari itu berdampak sangat besar terhadapku. Aku merasa bahwa pekerjaan penghakiman dan hajaran Tuhan pada akhir zaman benar-benar sangat praktis, dan bahwa jika kita menginginkan watak kita yang rusak diubah, kita harus mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan. Kalau tidak, kita akan hidup selamanya dalam siklus berbuat dosa dan mengaku dosa, dan kita tidak akan pernah lepas dari ikatan dosa. Jadi aku menaikkan doa kepada Tuhan di dalam hatiku, memohon kepada-Nya untuk menyirami dan memberiku makan dengan firman-Nya, dan mengatur lingkungan untuk menghakimi dan menghajarku sehingga aku dapat mengenal diriku sendiri, watakku yang rusak dapat segera diubahkan suatu hari nanti, dan aku bisa hidup dalam keserupaan dengan manusia sejati.

Setelah menerima pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, aku juga mendapatkan pemahaman baru tentang pernikahan yang telah Tuhan atur untukku. Pada satu titik, seorang saudari membacakan beberapa bagian firman Tuhan untukku. “Orang pada umumnya punya banyak bayangan tentang pernikahan sebelum mereka mengalaminya sendiri, dan semua bayangan ini nampak indah. Wanita biasanya membayangkan pasangan mereka kelak adalah Pangeran Tampan, dan para pria membayangkan akan menikahi Putri Salju. Fantasi-fantasi seperti ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki persyaratan yang berbeda akan pernikahan, sejumlah tuntutan dan standar mereka sendiri” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Pernikahan adalah titik peristiwa penting dalam hidup seseorang. Peristiwa ini merupakan produk dari nasib seseorang, mata rantai penting dalam nasibnya, tidak dibangun di atas kemauan atau pilihan pribadi seseorang, dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar, melainkan sepenuhnya ditentukan oleh nasib kedua belah pihak, oleh pengaturan Sang Pencipta dan penentuan nasib pasangan tersebut” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Jadi, ketika seseorang memasuki pernikahan, perjalanan hidupnya akan memengaruhi dan bersentuhan dengan perjalanan hidup belahan jiwanya. Begitu juga sebaliknya, perjalanan hidup pasangannya akan memengaruhi dan bersentuhan dengan perjalanan hidupnya. Dengan kata lain, nasib manusia saling berkaitan, dan tidak seorang pun yang mampu memenuhi misinya atau perannya secara terpisah dari orang lain. Kelahiran seseorang terjadi di atas sebuah rantai pertalian yang sangat besar; proses pertumbuhan seseorang juga melibatkan sebuah rantai pertalian yang sangat kompleks; demikian juga pernikahan tentu hadir dan mempertahankan jejaring hubungan manusia yang kompleks dan luas, melibatkan setiap anggota dan memengaruhi nasib siapa pun yang menjadi bagian di dalamnya. Sebuah pernikahan bukanlah produk dari keluarga kedua pihak, ataupun keadaan tempat mereka bertumbuh, penampilan mereka, usia, sifat, bakat mereka, atau faktor-faktor lain; pernikahan lahir dari misi bersama dan nasib yang saling berkaitan. Inilah asal-usul pernikahan, sebuah produk dari nasib manusia yang diatur dan ditata oleh Sang Pencipta” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Dia kemudian membagikan persekutuannya denganku. “Setiap pernikahan kita telah ditentukan dari semula oleh Tuhan, dan Tuhan sejak lama telah menentukan dengan siapa kita akan memulai sebuah keluarga—ini semua diatur melalui hikmat Tuhan sendiri. Pernikahan yang Dia pilih untuk kita tidak tergantung pada status sosial, penampilan lahiriah, atau kualitas kita, tetapi itu ditentukan oleh tugas kedua orang tersebut dalam kehidupan. Namun, kita dikendalikan oleh watak kita yang rusak, jadi kita terus-menerus memiliki banyak tuntutan terhadap pasangan kita, selalu ingin mereka melakukan sesuatu dengan cara kita. Ketika mereka tidak melakukannya, kita menolak untuk menerima ini dan merasa tidak puas; kita berdebat dengan mereka dan menjadi marah, atau bahkan mengeluh, dan kita menyalahkan dan salah memahami Tuhan. Ini membawa kedua orang tersebut hidup dalam penderitaan. Penderitaan semacam itu tidak disebabkan oleh orang lain, juga bukan disebabkan oleh aturan dan pengaturan Tuhan, tetapi itu terjadi karena kita hidup dengan watak kita yang congkak dan sombong. Watak rusak semacam itu membuat kita berseberangan dengan aturan Tuhan; kita tidak mampu tunduk pada pengaturan dan rencana-Nya.”

Mendengar persekutuan saudari ini, aku mengingat kembali tentang hubunganku dengan suamiku. Aku selalu menyatakan ketidakpuasan terhadapnya dan selalu menuntut agar dia melakukan segala sesuatu dengan caraku—kalau dia tidak memikirkanku, menunjukkan perhatian dan memedulikanku, kalau dia tidak menanyakan kesehatanku, aku akan mengeluhkannya dan berpikir bahwa dia tidak baik. Aku akan memandang rendah dirinya dengan segala cara dan mengobarkan perang dingin dengannya, mengabaikannya. Akhirnya aku melihat bahwa aku benar-benar adalah orang yang congkak, sombong, egois, dan tercela. Aku adalah orang yang hanya memikirkan kepentinganku sendiri dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Setelah merenungkannya dengan saksama, aku memahami bahwa sesungguhnya tidak benar suamiku tidak peduli kepadaku, hanya saja kepribadiannya lebih tertutup dan tidak terlalu ekspresif secara emosi. Dia juga memiliki pemikiran dan kesukaannya sendiri, tetapi aku bersikeras memaksanya untuk melakukan segala sesuatu yang tidak dia sukai. Aku selalu ingin semua yang dia lakukan selalu tentangku, dan itulah yang menyebabkan banyak konflik terbangun di antara kami. Lalu aku tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa menyesal atas perilaku masa laluku. Aku juga teringat tentang apa yang dikatakan suamiku, bahwa di masa lalu, akulah yang telah membagikan Injil Tuhan kepadanya, tetapi sekarang malah dia yang membagikan Injil Tuhan pada akhir zaman kepadaku. Ini adalah anugerah Tuhan yang besar bagi kami dan pengaturan-Nya yang menakjubkan. Kami berdua adalah orang yang sangat diberkati, tetapi aku benar-benar tidak tahu terima kasih. Sebaliknya, aku tidak mau tunduk pada pernikahan yang telah Tuhan atur untukku, terus-menerus menyalahkan Tuhan. Aku melihat bahwa aku sangat congkak, terlalu tidak berakal sehat! Syukur kepada Tuhan karena membimbingku dengan firman-Nya. Aku telah menemukan akar dari segala penderitaan dalam pernikahanku—aku mendapatkan perasaan yang nyaman dan bebas di hatiku. Aku juga mulai mau bersandar kepada Tuhan dan mencari Tuhan dalam hidupku sejak saat itu, meninggalkan watakku yang congkak dan sombong, dan berhubungan secara harmonis dengan suamiku.

Sejak itu, aku dan suamiku sering membaca firman Tuhan dan mempersekutukan kebenaran bersama-sama, dan kami melaksanakan tugas makhluk ciptaan dengan sebaik-baiknya. Kami juga diberi makan dan disirami oleh firman Tuhan setiap hari; ketika kami menghadapi masalah, kami mencari kehendak-Nya berdasarkan firman-Nya. Jika kami memang menyingkapkan kerusakan atau bertengkar, kami berdua akan datang di hadapan Tuhan, dan merenungkan serta mengenal diri kami sendiri. Ketika kami melakukannya, kami mendapatkan lebih banyak pengertian dan saling mengampuni. Pertengkaran kami semakin jarang, kehidupan rumah tangga kami menjadi harmonis, dan hidup kami telah semakin memberi kepuasan. Yang paling mengharukan bagiku adalah pemahaman suamiku tentang kebenaran lebih baik daripada pemahamanku. Dia sering membagikan persekutuan denganku tentang pemahamannya akan firman Tuhan, dan ketika dia melihatku menyingkapkan sebuah watak yang rusak, dia mempersekutukan kebenaran dan kehendak Tuhan bersamaku. Aku benar-benar merasakan perhatian dan cintanya kepadaku—aku merasakan kebahagiaan di hatiku. Mengingat kembali bagaimana kehidupan kami di masa lalu, aku dan dia masih orang yang sama; hanya saja karena kami telah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dan telah memahami beberapa kebenaran, semuanya sama sekali telah berubah. Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena menyelamatkan kami!

Media Terkait