Pengalaman Kristen: Aku Akhirnya Menemukan Jalan untuk Membuang Dosa

Sara sebelumnya merasa tertekan karena ketidakmampuannya membuang ikatan dosa. Di kemudian hari, di bawah bimbingan Tuhan, dia akhirnya menemukan jalan untuk membuang dosa dan disucikan. Apa yang dia alami? Bacalah terus untuk mengetahuinya ...

Oleh Sara, Amerika Serikat

Ketidakmampuanku untuk Membuang Dosa Menyebabkan Aku Mengalami Banyak Kesusahan

Aku seorang Kristen. Sebagai seorang wanita muda, sebelum aku mulai percaya kepada Tuhan, aku selalu memiliki dorongan yang kuat untuk mengungguli orang lain. Aku selalu merasa bahwa aku lebih berpendidikan daripada ibuku dan aku selalu mengabaikan nasihat ibuku. Ibuku juga memiliki pendirian yang sangat keras, selalu berusaha membuatku melakukan apa yang dia katakan, jadi kami berdua seringkali berselisih karena berbeda pendapat. Aku merasa sangat kesal dengan hubunganku yang buruk ini dengan ibuku, tetapi aku merasa tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubahnya. Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, saudara-saudariku memberiku persekutuan dengan mengatakan, "Tuhan Yesus disalibkan di kayu salib untuk menebus kita dan Dia mengampuni dosa-dosa kita agar kita dapat menikmati anugerah-Nya yang berlimpah. Tuhan mengasihi kita dan mengajar kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk mengasihi orang lain ...." Kasih Tuhan Yesus menyentuhku amat dalam, dan aku ingin melakukan sesuai dengan ajaran Tuhan dan mengasihi keluargaku dan orang-orang di sekitarku. Setelah itu, setiap kali aku tidak setuju dengan ibuku tentang hal apapun, aku akan membiarkan ibuku berbicara terlebih dahulu dan aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak berdebat dengannya. Jika aku gagal berdamai pada saat itu dan kami akhirnya berdebat tentang sesuatu, aku kemudian akan mendatanginya dan mengakui kesalahanku. Setelah beberapa saat, aku merasa bahwa kesabaranku meningkat pesat, dan hubunganku dengan ibuku menjadi sedikit lebih mudah.

Aku kemudian berpikir bahwa hubunganku dengan ibuku akan menjadi semakin baik, tetapi ternyata tidak seperti itu. Seiring berjalannya waktu, aku masih tidak mampu mengendalikan sifat pemarahku dan aku mulai berdebat lagi dengan ibuku. Meskipun kadang-kadang aku tidak mengatakan apa pun kepadanya, aku tetap bersungut-sungut di dalam hati. Ibuku juga menegurku, katanya, "Kamu percaya kepada Tuhan sekarang, jadi bagaimana mungkin kamu masih berperangai buruk seperti itu?" Mendengarnya mengatakan ini membuatku merasa tidak enak, dan aku merasa seakan-akan semua kerja keras dan perubahan yang telah kulalui sia-sia belaka. Akan tetapi, ketika memikirkannya lagi, inilah yang sebenarnya telah terjadi. Meskipun aku ingin berubah, aku tidak bisa menahan diri agar tak kehilangan kesabaranku sepanjang waktu. Pada saat itu, aku mau tidak mau memiliki beberapa pertanyaan, "Mengapa aku masih sering bertengkar dengan ibuku? Mengapa aku tidak bisa melakukan firman Tuhan? Bagaimana aku bisa membuang ikatan dosa?"

Belakangan, aku berbicara dengan saudara-saudariku di gereja tentang masalah ini, dan beberapa dari mereka berkata kepadaku, "Engkau harus belajar menahan diri. Ketika hubungan kita dengan Tuhan semakin dekat, kita menjadi semakin toleran terhadap anggota keluarga kita." Dan beberapa dari mereka berkata kepadaku, "Tahap pasang surut ini benar-benar normal, tetapi perubahan kita selalu bergerak naik ke atas, dan yang pasti adalah bahwa kita menjadi semakin baik ketika kita berubah semakin banyak, jadi jangan punya keraguan apa pun. Keselamatan Tuhan sepenuhnya lengkap dan Dia akan memulai pekerjaan-Nya dalam kehidupan kita agar kita menjadi ciptaan yang baru." Aku juga menghibur diri dengan berpikir, "Mungkin aku hanya kurang keras mencobanya. Terlebih lagi, aku belum lama percaya kepada Tuhan dan tingkat pertumbuhanku kecil, itulah sebabnya aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Jika aku sudah percaya kepada Tuhan dalam waktu yang lama, aku akan bisa menerapkan firman Tuhan." Setelah itu, setiap kali aku berdebat dengan ibuku tentang perbedaan pendapat kami, aku melakukan segala yang aku bisa untuk menahan diriku agar tidak marah. Berlatih dengan cara ini kadang-kadang memberikan hasil, tetapi aku tidak pernah bisa menahan diri untuk waktu yang lama sebelum aku kembali kehilangan kesabaranku. Dalam kesakitanku, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, "Ya Tuhan! Aku tidak pernah bisa menahan diri agar tidak marah dan aku tidak bisa mengekang diri. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kumohon dapatkah Engkau membantuku? ..."

Akankah Tuhan Melakukan Pekerjaan Baru Ketika Dia Datang Kembali?

Sebuah kebetulan membuatku berkenalan tanpa sengaja dengan beberapa saudara-saudari secara online. Kami sering belajar Alkitab dan menghadiri pertemuan dengan satu sama lain, dan bersama-sama membahas pemahaman dan pengetahuan kami tentang ayat-ayat Alkitab. Secara khusus, persekutuan dari Saudara Lin khususnya menerangi dan mencerahkan; aku menuai banyak manfaat darinya dan memahami banyak kebenaran yang belum pernah kupahami sebelumnya. Aku sangat suka menghadiri pertemuan dengan saudara-saudari ini.

Pada suatu pertemuan, kami membahas topik tentang kedatangan Tuhan Yesus kembali. Saudara Lin mengirimi kami dua ayat dari Alkitab, "Jadi Kristus satu kali dikorbankan untuk menanggung dosa banyak orang; dan kepada mereka yang mencari-Nya, Dia akan menampakkan diri kedua kalinya tanpa dosa untuk keselamatan" (Ibrani 9:28). "Yang dijaga oleh kuasa Tuhan oleh iman kepada keselamatan yang siap untuk dinyatakan pada akhir zaman" (1 Petrus 1:5). Dia kemudian memberikan kami persekutuan dengan mengatakan, "Kita dapat melihat dari kedua ayat ini bahwa ketika Tuhan Yesus datang kembali pada akhir zaman, Dia akan melakukan pekerjaan baru untuk menyelamatkan kita sepenuhnya dari ikatan dosa agar kita dapat disucikan dan mencapai keselamatan Tuhan yang sejati."

Mendengarkan persekutuan Saudara Lin, aku merasa bahwa aku tidak bisa sepenuhnya menerima apa yang ia katakan, jadi aku memberi tahu dia pendapatku, "Meskipun kita masih mampu melakukan dosa, penyaliban Tuhan Yesus telah menebus kita dan Dia tidak lagi menganggap kita sebagai orang berdosa. Terlebih lagi, Tuhan berfirman, 'Selesai sudah' ketika Dia tergantung di kayu salib, yang menunjukkan bahwa keselamatan Tuhan sudah lengkap dan pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia sudah selesai. Jadi bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa Tuhan masih memiliki pekerjaan baru untuk dilakukan pada akhir zaman?"

Saudara Lin berkata, "Saudari, apa sebenarnya yang Tuhan Yesus maksudkan ketika Dia berkata, 'Selesai sudah' di atas kayu salib? Jika mengikuti pemahaman kita sendiri dan mengatakan bahwa dengan mengucapkan, 'Selesai sudah,' maksud Tuhan Yesus adalah bahwa pekerjaan Tuhan sepenuhnya selesai, lalu bagaimana firman Tuhan akan digenapi ketika Dia bernubuat, "Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu" (Yohanes 16:12-13). Juga, Tuhan bernubuat bahwa, ketika Dia datang kembali pada akhir zaman, Dia akan melakukan pekerjaan memisahkan gandum dari jerami, domba dari kambing dan gadis-gadis yang bijaksana dari gadis-gadis yang bodoh. Dalam Wahyu 14:6 dikatakan, "Dan aku melihat malaikat lain terbang di tengah-tengah langit, membawa Injil kekal untuk diberitakan kepada mereka yang tinggal di bumi, dan kepada seluruh bangsa, kaum, bahasa, dan suku." Jika Tuhan tidak melakukan pekerjaan baru pada akhir zaman, bukankah nubuat semacam ini akan sia-sia? Oleh karena itu, keyakinan kita adalah bahwa dengan mengatakan 'Selesai sudah,' maksud Tuhan Yesus adalah bahwa pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia sudah selesai sepenuhnya, tentunya merupakan pemahaman yang muncul dari konsepsi dan imajinasi kita sendiri, dan kenyataannya tidak sesuai dengan fakta-fakta pekerjaan Tuhan. "

Ketika aku mendengarkan persekutuan Saudara Lin, aku merasa terdorong untuk berpikir, "Itu benar. Jika pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia sudah selesai, lalu bagaimana nubuat-nubuat yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini akan terjadi? Tuhan itu setia, dan nubuat-nubuat-Nya tidak mungkin sia-sia .... "

Saudara Lin melanjutkan persekutuannya, mengatakan, "Fakta sebenarnya, ketika Tuhan Yesus berkata, 'Selesai sudah' di atas kayu salib, maksud-Nya adalah bahwa pekerjaan Tuhan untuk menebus umat manusia sudah selesai, dan bukan bahwa pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia sudah sepenuhnya selesai. Ini karena pekerjaan Tuhan Yesus adalah pekerjaan penebusan dan dilakukan-Nya untuk membebaskan kita dari dosa-dosa kita; akan tetapi, pekerjaan ini tidak menghilangkan natur dosa dan watak-watak Iblis dalam diri kita. Karena itu, kita membutuhkan Tuhan untuk melakukan tahap pekerjaan lebih lanjut yang secara menyeluruh mengubah dan mentahirkan kita. Sekarang mari kita membaca beberapa bagian yang membahas masalah ini." Saudara Lin kemudian membaca, "Bagi manusia, penyaliban Tuhan mengakhiri pekerjaan inkarnasi Tuhan, menebus seluruh umat manusia, dan membuat-Nya mampu merebut kunci ke alam maut. Semua orang berpikir pekerjaan Tuhan selesai sudah sepenuhnya. Padahal, bagi Tuhan, hanya sebagian kecil dari pekerjaan-Nya yang selesai sudah. Dia hanya menebus umat manusia; Dia belum menaklukkan umat manusia, apalagi mengubah keburukan Iblis dalam diri manusia. Itu sebabnya Tuhan berkata: "Walaupun inkarnasi daging-Ku harus melewati rasa sakit kematian, itu bukanlah seluruh tujuan inkarnasi-Ku. Yesus adalah Anak-Ku yang Kukasihi dan dikayu salib bagi-Ku, tetapi Dia tidak menyelesaikan seluruh pekerjaan-Ku. Dia hanya melakukan sebagian darinya" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (6)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak." ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Setelah selesai membaca, Saudara Lin melanjutkan persekutuannya. "Kedua bagian ini berbicara dengan sangat jelas. Di Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus menjadi manusia dan melakukan pekerjaan-Nya, Dia mengungkapkan jalan 'Bertobatlah engkau: karena Kerajaan Surga sudah dekat' (Matius 4:17), dan Dia mengajarkan orang untuk memahami banyak kebenaran. Setelah itu, Dia disalibkan, dan dengan demikian menyelesaikan pekerjaan-Nya untuk menebus umat manusia. Ketika kita percaya kepada Tuhan, selama kita datang ke hadapan Tuhan untuk bertobat dan mengakui dosa-dosa kita, maka dosa-dosa kita akan diampuni. Namun demikian, kita telah begitu dalam dirusak oleh Iblis sehingga watak-watak Iblis seperti menjadi congkak dan sombong, egois dan hina, bengkok dan menipu, jahat dan serakah, telah menjadi hidup kita; kita semua mendambakan kekayaan, status, ketenaran dan keberuntungan, dan, seperti halnya orang-orang duniawi, kita mengejar kehidupan mewah dan kebobrokan, dan kita menikmati kesenangan dari dosa. Ketika kita bergaul dengan orang lain, kita selalu berpikir bahwa pandangan kita sendiri amat pintar dan kita selalu berusaha unggul atas orang lain, untuk membuat orang lain mendengarkan kita, dan kita tidak memiliki toleransi atau kesabaran terhadap orang lain. Kita merasa kesulitan bahkan untuk bergaul dengan teman-teman dan keluarga kita sendiri. Seperti yang Rasul Paulus katakan, 'Karena dalam diriku ada kehendak; tetapi aku tidak mendapati cara berbuat apa yang baik. Karena apa yang baik yang aku mau tidak aku lakukan: tetapi yang jahat yang aku tidak mau, itu yang aku lakukan' (Roma 7:18-19). Kita tunduk pada ikatan dan belenggu watak-watak Iblis dalam diri kita, dan kita seringkali tidak mampu menghentikan diri kita sendiri untuk berbuat dosa dan melawan Tuhan. Sekalipun dosa-dosa kita diampuni seribu kali, kita akan tetap menjadi orang-orang yang telah sangat dirusak oleh Iblis. Bisakah kita mengatakan bahwa pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia sudah selesai? Jika Tuhan tidak datang pada akhir zaman untuk bekerja dan menyelamatkan kita, bagaimana kita—yang benar-benar kotor dan hina—dapat memenuhi syarat untuk memandang wajah Tuhan dan diangkat ke dalam kerajaan surga? Firman Tuhan berkata, 'Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus' (Imamat 11:45). Tuhan itu kudus dan watak-Nya benar dan tidak dapat diganggu-gugat. Akibatnya, Tuhan tidak akan membawa orang-orang yang kotor dan rusak masuk ke dalam kerajaan-Nya. Hanya dengan menerima kehadiran dan pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, dengan sepenuhnya membuang ikatan dan belenggu dosa dan mencapai perubahan dalam watak-watak kita, kita akan dapat mencapai keselamatan Tuhan secara lengkap dan memenuhi syarat untuk memandang wajah Tuhan dan masuk ke dalam surga."

Apakah Perilaku Baik Menunjukkan Bahwa Watak Kita Telah Berubah?

Setelah mendengarkan persekutuan Saudara Lin, aku berpikir dalam hati, "Kita benar-benar hidup dalam dosa dan tidak mampu melepaskan diri kita sendiri, dan ini adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal oleh siapapun. Namun kita telah sedikit berubah ...." Jadi aku berkata kepada Saudara Lin," Saudara, apa yang baru saja kau persekutukan adalah kebenaran. Benar bahwa kita sekarang sering berbuat dosa dan kita belum membuang ikatan dosa. Namun kita telah sedikit berubah sejak kita mulai percaya kepada Tuhan. Beberapa saudara-saudariku di gereja, misalnya, menjalani kehidupan yang sederhana dan tidak pernah bertengkar dengan siapa pun. Beberapa orang percaya memiliki hubungan yang buruk dengan pasangan mereka sebelum mereka percaya kepada Tuhan, tetapi setelah itu, hubungan mereka membaik. Ada juga beberapa orang yang sebelumnya selalu berkelahi atau menghina orang lain, tetapi sejak mereka mulai percaya kepada Tuhan, mereka menjadi toleran dan sabar—bukankah ini merupakan perubahan? Aku berpikir bahwa selama kita benar-benar percaya kepada Tuhan dan bertindak sesuai dengan firman-Nya, kita akan dapat membuang ikatan dosa sedikit demi sedikit dan disucikan, dan ketika Tuhan datang, kita kemudian akan dapat diangkat ke surga." Satu demi satu, saudara-saudari lainnya setuju dengan pandanganku.

Saudara Lin melanjutkan dengan sabar dan mengatakan, "Banyak orang mengalami perubahan perilaku setelah mereka mulai percaya kepada Tuhan. Misalnya, mereka tidak lagi terlibat perkelahian atau menghina orang lain, mereka bisa mengasihi orang lain, mereka bisa bertoleransi dan sabar dan dapat memberi kepada orang-orang yang membutuhkan dan mendedikasikan diri mereka kepada Tuhan, dan seterusnya. Namun memiliki perilaku-perilaku baik yang tampak dari luar ini tidak menunjukkan bahwa kita sedang membuang ikatan dosa atau bahwa watak-watak kita sedang berubah. Karena natur dosa kita masih belum terselesaikan, kita masih berada dalam bahaya terus-menerus untuk melawan Tuhan dan mengkhianati Tuhan." Setelah mengatakan ini, Saudara Lin kemudian membacakan firman ini bagi kami, "Perubahan yang hanya berkaitan dengan perilaku tidak akan bertahan. Jika tidak ada perubahan dalam watak kehidupan seseorang, maka cepat atau lambat, sisi jahatnya akan tampak dengan sendirinya. Karena sumber perubahan dalam perilaku mereka adalah semangat, diikuti oleh sedikit pekerjaan Roh Kudus pada saat itu, sangat mudah bagi mereka untuk menjadi bersemangat, atau menunjukkan kebaikan pada suatu waktu. Seperti yang dikatakan orang tidak percaya, 'Melakukan satu perbuatan baik itu mudah, yang sulit adalah melakukan perbuatan baik seumur hidup.' Manusia tidak mampu melakukan perbuatan baik seumur hidup mereka. Perilaku mereka diarahkan oleh kehidupan, apa pun kehidupan mereka, begitu juga perilaku mereka dan hanya apa yang dinyatakan secara alamilah yang merepresentasikan kehidupan dan sifat seseorang. Hal-hal yang palsu tidak akan bertahan. ... Memiliki sikap baik tidak sama dengan menaati Tuhan, apalagi menjadi serupa dengan Kristus. Perubahan dalam perilaku didasarkan pada doktrin dan lahir dari semangat—bukan didasarkan pada pengetahuan sejati akan Tuhan, atau akan kebenaran, dan perubahan itu tidak berdasar pada bimbingan Roh Kudus. Walau ada waktu-waktu di mana sebagian dari apa yang manusia lakukan diarahkan oleh Roh Kudus, ini bukanlah ungkapan kehidupan, apalagi dianggap sama dengan mengenal Tuhan, tidak peduli seberapa baik perilaku seseorang, hal itu tidak membuktikan mereka menaati Tuhan atau mereka melakukan kebenaran" ("Perbedaan antara Perubahan Lahiriah dan Perubahan Watak, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Saudara Lin melanjutkan persekutuannya, mengatakan, "Perikop ini memperlihatkan kepada kita bahwa perilaku baik berasal dari semangat dan kebaikan orang, serta sedikit pekerjaan Roh Kudus. Dengan meninggalkan kedagingan kita untuk sementara waktu, kita kemudian dapat menerapkan perilaku yang baik, tetapi ini tidak menunjukkan bahwa kita telah mengambil kebenaran sebagai hidup kita, juga tidak menunjukkan bahwa watak-watak kita telah berubah. Jika natur berdosa kita tetap tidak terselesaikan dan, melalui perilaku yang baik, kita dapat menahan diri untuk sementara waktu, kemudian seiring berjalannya waktu mau tidak mau kita akhirnya mengulangi pelanggaran yang sama seperti yang kita lakukan di masa lalu, sedemikian rupa sehingga kita bahkan menjadi mampu melakukan hal-hal yang melawan Tuhan setiap saat, menyinggung watak Tuhan, dan lalu kita akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keselamatan sejati. Dalam hidup kita, kita semua dapat menghargai bahwa, biasanya, kita dapat menerapkan toleransi dan kesabaran dalam pergaulan kita dengan orang lain, dan kita bisa menghindari pertengkaran dengan mereka. Namun demikian, ketika orang lain mulai melanggar kepentingan kita, kita bisa membuat keributan dan bertengkar dengan mereka, dan kita bahkan bisa menjadi musuh bebuyutan. Banyak saudara-saudari yang tampaknya memiliki perilaku yang baik dari luar, tetapi saat bencana buatan manusia atau bencana alam menghampiri mereka atau sesuatu yang buruk menimpa keluarga mereka, mereka kemudian menyalahkan dan salah paham terhadap Tuhan, sedemikian rupa sehingga mereka bahkan dapat menyangkal dan mengkhianati Tuhan. Beberapa pemimpin gereja dan rekan kerja mungkin tampak rendah hati dan sabar dari luar, tetapi sifat mereka congkak dan, ketika mereka bekerja dan memberikan khotbah, mereka tidak meninggikan Tuhan, mereka tidak memimpin orang untuk menerapkan atau mengalami firman Tuhan, tetapi sebaliknya mereka memamerkan diri pada setiap kesempatan, selalu berbicara tentang pengalaman-pengalaman penderitaan mereka demi Tuhan agar orang lain menghargai mereka dan mengagumi mereka. Beberapa bahkan bersaing untuk memperebutkan kekuasaan dan posisi di dalam gereja dan mereka menyalahgunakan dana gereja. Orang-orang Farisi pada zaman Yesus tampaknya hidup sangat saleh, mereka bersikap mengasihi orang lain, dan mereka memberi kepada orang-orang yang membutuhkan dan mendedikasikan diri mereka bagi Tuhan—bahkan jumbai pada jubah mereka bertuliskan ayat-ayat Kitab Suci. Namun demikian, ketika Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan-Nya, mereka dengan panik menentang dan mengutuk-Nya sampai pada titik di mana mereka bahkan bersekongkol dengan penguasa Romawi untuk menyalibkan Dia di atas kayu salib. Ini menunjukkan bahwa, seberapa pun baiknya perilaku luar kita, hal ini tidak dapat menunjukkan bahwa kita mengenal Tuhan atau menaati Tuhan, atau bahwa kita sesuai dengan Tuhan, apalagi bahwa kita telah disucikan. Karena itu, perubahan perilaku lahiriah tidaklah sama dengan perubahan dalam watak, dan kemampuan kita untuk menerapkan beberapa ajaran Tuhan secara lahiriah tidak menunjukkan bahwa kita telah membuang ikatan dosa."

Setelah mendengarkan persekutuan Saudara Lin, aku merasa bahwa aku menyetujuinya dengan sepenuh hatiku, dan aku berkata, "Saudara, persekutuanmu sesuai dengan diri kita yang sebenarnya! Meskipun perilaku lahiriah kita mungkin sedikit berubah, natur berdosa kita masih mendominasi kita dari dalam, sehingga perilaku baik kita tidak pernah bisa bertahan lama. Sebagai contoh, aku selalu berusaha keras untuk menahan diri agar tidak bertengkar dengan ibuku dan, meskipun dari luar aku tampak agak sabar, aku masih tidak merasakan hal ini dalam hatiku, dan mau tidak mau aku akhirnya bertengkar dengannya. Ini menunjukkan bahwa aku masih berada di bawah kendali natur berdosaku dan bahwa aku belum disucikan. Ketika kita melihat orang lain, kita hanya melihat luarnya saja; namun demikian, Tuhan tidak hanya meminta kita untuk mengubah luarnya saja. Yang terpenting, Tuhan menuntut agar kehidupan batin kita mengalami perubahan."

Saat itu juga, salah seorang saudari lainnya berkata, "Ya, memang benar bahwa kita hanya mengubah perilaku lahiriah kita dan bahwa hidup kita belum berubah sama sekali. Setiap kali aku berselisih dengan rekan kerjaku, aku membenci orang itu dari lubuk hatiku, dan aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Meskipun aku tahu bahwa Tuhan mengajarkan kepada kita untuk bersikap toleran dan sabar, dan aku dapat menahan diriku mungkin sekali atau dua kali, seiring berjalannya waktu, aku tidak bisa lagi menahan diri. Tampaknya seolah-olah jika kita hanya mengubah perilaku lahiriah kita sementara watak-watak hidup kita tidak berubah, kita tidak dapat melakukan firman Tuhan untuk waktu yang lama dan kita masih seringkali berbuat dosa." Saudara-saudari lainnya kemudian secara bergiliran berbicara tentang kesakitan mereka karena tunduk pada ikatan dosa selama bertahun-tahun mereka hidup sebagai orang yang percaya kepada Tuhan.

Setelah diskusi selesai, Saudara Lin melanjutkan, "Saudara-saudari, pekerjaan penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa-dosa kita, tetapi natur dosa kita tetap belum terselesaikan di dalam diri kita. Akibatnya, tidak peduli seberapa banyak kita membaca Alkitab, seberapa banyak kita mengaku dosa dan bertobat atau seberapa banyak kita berusaha mengendalikan diri, kita tetap tidak mampu membuang ikatan dosa. Tuhan tahu kebutuhan kita dan, pada akhir zaman, Dia telah datang kembali menjadi manusia dengan nama Tuhan Yang Mahakuasa untuk melakukan pekerjaan penghakiman yang dimulai di rumah Tuhan demi memungkinkan kita membuang dosa secara menyeluruh dan disucikan. Hal ini secara tepat menggenapi nubuat dalam Alkitab, 'Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu' (Yohanes 16:12-13). 'Dan kalau ada orang yang mendengar perkataan-Ku, dan tidak percaya, Aku tidak menghakiminya: karena Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia. Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman' (Yohanes 12:47-48). 'Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan' (1 Petrus 4:17). Hanya dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman, dengan mengalami penghakiman dan hajaran oleh firman Tuhan dan dengan mengubah watak-watak kita yang rusaklah kita dapat memperoleh keselamatan sejati dan masuk ke dalam kerajaan surga."

Pada titik ini, aku dan saudara-saudari lainnya tercengang, dan kami bertanya dengan penuh semangat, "Apakah Tuhan Yesus telah datang kembali? Apakah ini benar? Hal ini tidak terbayangkan!" Aku berkata, "Aku merasa seolah-olah perkataan-perkataan yang telah kita baca selama pertemuan ini bukanlah perkataan biasa, tetapi semua itu memang merupakan firman Tuhan. Aku tidak pernah membayangkan, bahkan dalam mimpiku yang paling liar, bahwa aku akan pernah bisa menyambut kedatangan Tuhan kembali—aku sangat diberkati! Saudara Lin, setelah mendengarkan firman Tuhan dan persekutuanmu, aku sekarang mengerti bahwa pekerjaan penebusan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus membebaskan kita dari dosa-dosa kita. Namun natur berdosa kita masih belum terselesaikan di dalam diri kita, jadi meskipun kita tampaknya melakukan perbuatan-perbuatan baik, kita masih mampu terus-menerus berbuat dosa dan melawan Tuhan. Jika Tuhan tidak melakukan pekerjaan-Nya untuk menyelamatkan kita, kita sama sekali tidak akan mampu membuang ikatan dan belenggu dosa dengan kekuatan kita sendiri. Aku dulu berpikir bahwa selama aku selalu berpegang pada jalan Tuhan, aku akan disucikan, tetapi sekarang aku melihat bahwa hal ini sama sekali tidak benar. Namun demikian, engkau baru saja mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali pada akhir zaman dan sedang melakukan pekerjaan penghakiman untuk benar-benar mengubah dan menyucikan manusia. Lalu bagaimanakah cara Tuhan melakukan pekerjaan menyucikan dan mengubah manusia ini? Apakah engkau dapat bersekutu dengan kami lebih lanjut tentang hal ini?"

Jadi, Beginilah Cara Tuhan Menghakimi dan Menyucikan Manusia

Saudara Lin tertawa dan berkata, "Saudari, engkau telah mengangkat topik yang amat penting! Mengenai bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman untuk menyucikan manusia, mari kita membaca satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa bersama-sama. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman, 'Pada akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah firman dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan firman biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan. Tujuan pekerjaan penghakiman agar manusia mengetahui wajah Tuhan yang sejati dan kebenaran tentang pemberontakannya sendiri. Pekerjaan penghakiman memungkinkan manusia untuk mendapatkan banyak pemahaman akan kehendak Tuhan, tujuan pekerjaan Tuhan, dan misteri-misteri yang tidak dapat dipahami manusia. Pekerjaan ini juga memungkinkan manusia untuk mengenali dan mengetahui hakikatnya yang rusak dan akar dari kerusakannya, dan juga mengungkapkan keburukan manusia. Semua hasil ini dicapai melalui pekerjaan penghakiman, karena substansi pekerjaan ini adalah pekerjaan membukakan kebenaran, jalan, dan hidup Tuhan kepada semua orang yang beriman kepada-Nya. Pekerjaan ini adalah pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan'" ("Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Setelah selesai membaca, Saudara Lin memberikan persekutuan dengan mengatakan, "Pada akhir zaman, Tuhan Yang Mahakuasa terutama mengungkapkan kebenaran untuk menghakimi dan menyucikan manusia. Kebenaran ini tidak semata-mata ditujukan pada perilaku kita, seperti misalnya seberapa rendah hati tampaknya kita, seberapa toleran dan sabarnya, bagaimana kita tidak terlibat pertengkaran dengan orang lain dan bagaimana kita bergaul dengan orang lain, dan seterusnya. Sebaliknya, kebenaran yang diungkapkan Tuhan Yang Mahakuasa secara langsung mengungkapkan akar dosa kita, yaitu watak Iblis dalam diri kita dan esensi natur kita yang tersembunyi di dalam diri kita, seperti kecongkakan dan kesombongan, keegoisan dan kehinaan, kebengkokan dan tipu daya, keserakahan dan kejahatan, dan seterusnya. Kita dulu percaya bahwa, jika perilaku lahiriah kita sedikit berubah dan kita dapat menerapkan beberapa ajaran Tuhan, itu berarti kita adalah orang-orang yang baik. Namun melalui penghakiman dan penyingkapan oleh firman Tuhan Yang Mahakuasa, kita akhirnya telah melihat betapa kita amat dirusak oleh Iblis, dan bahwa kita mengungkapkan watak-watak rusak Iblis dalam segala hal yang kita lakukan dan katakan. Sebagai contoh, di bawah dominasi sifat congkak kita, meskipun kita tahu Tuhan menuntut kita untuk menjadi rendah hati dan sabar, kita masih selalu ingin mengungguli dan merendahkan orang lain dalam hubungan kita dan kita ingin menjadi pemegang keputusan akhir dalam segala sesuatu. Di bawah dominasi sifat egois kita, kita selalu berbicara dan bertindak dengan motif-motif pribadi dan dalam hubungan kita dengan orang lain kita bertujuan untuk mendapatkan keuntungan bagi diri kita sendiri, dan ketika kita bekerja dan mengorbankan diri kita bagi Tuhan, itu bukanlah karena kita mengasihi Tuhan atau karena kita ingin memuaskan Dia, tetapi hal itu dilakukan untuk mencapai kesepakatan dengan Tuhan dan untuk mendapatkan berkat dari kerajaan surga sebagai balasannya. Natur kita jahat dan kita menginginkan kesenangan-kesenangan fisik; meskipun kita tahu bahwa Tuhan menuntut kita untuk memisahkan diri dari orang-orang duniawi, kita masih tidak dapat menahan godaan, kita mengikuti tren-tren jahat dunia, kita pergi mengejar ketenaran, kekayaan dan status, dan kita menginginkan kesenangan-kesenangan yang timbul dari dosa. Ini hanya beberapa contoh. Melalui penghakiman dan penyingkapan oleh firman Tuhan, kita akhirnya telah melihat bahwa kita mengungkapkan watak-watak rusak Iblis dalam segala hal yang kita katakan dan lakukan, bahwa kita telah sedemikian dirusak oleh Iblis sehingga kita hampir-hampir tidak lagi manusiawi, dan bahwa kita tidak memiliki kemiripan yang nyata dengan seorang manusia. Pada saat yang sama, kita juga memahami dari firman Tuhan tentang penghakiman dan penyingkapan bahwa Tuhan mengasihi orang-orang yang jujur dan memberkati orang-orang yang mengejar kebenaran, dan yang menaati dan mengasihi Tuhan, dan Dia membenci orang-orang yang penuh tipu daya. Jika seseorang tidak mengupayakan perubahan dalam watak mereka, tetapi sebaliknya selalu hidup di tengah watak mereka yang rusak, melawan Tuhan, orang itu tentu akan dibenci, ditolak dan dihukum oleh Tuhan. Penghakiman dan hajaran oleh firman Tuhan memampukan kita untuk melihat kebenaran akan kerusakan kita di tangan Iblis, dan memungkinkan kita untuk mengetahui watak Tuhan yang benar dan kudus. Hati yang menghormati Tuhan kemudian secara bertahap muncul dalam diri kita dan kita menciptakan kebencian nyata akan watak-watak kita yang rusak, dan kita menjadi bertekad untuk tidak pernah lagi hidup dengan watak-watak Iblis yang rusak. Sebaliknya, kita ingin mengejar kebenaran dengan sungguh-sungguh, bertindak dan berlaku sesuai dengan firman Tuhan, dan kita ingin menjalani kehidupan yang menyerupai manusia sejati. Dengan mengalami penghakiman dan hajaran Tuhan, sedikit demi sedikit kita dapat meninggalkan kedagingan kita dan menerapkan firman Tuhan, kita memahami semakin banyak kebenaran, dan pandangan kita tentang kehidupan dan nilai-nilai kita secara bertahap berubah; ketika kita menghadapi masalah, kita kemudian dapat mencari kehendak Tuhan, hidup dengan firman-Nya dan, sedikit demi sedikit, kita memiliki rasa hormat dan ketaatan yang benar terhadap Tuhan. Inilah hasil dari pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Dengan mengalaminya, kita mulai menghargai bahwa penghakiman dan hajaran Tuhan pada akhir zaman benar-benar memberikan kita perlindungan terbesar, dan penghakiman dan hajaran tersebut penuh dengan kasih Tuhan yang mendalam bagi kita. "

Aku merasa bahwa firman yang dibacakan oleh Saudara Lin kepada kami sungguh luar biasa—firman itu berotoritas dan berkuasa, dan aku belum pernah mendengar firman yang seperti itu sebelumnya. Saudara Lin juga bersekutu dengan sangat jelas. Aku berkata dengan penuh semangat, "Terima kasih Tuhan! Jadi, ternyata Tuhan telah datang kembali dan menggunakan firman-Nya untuk melakukan pekerjaan menghakimi dan menyucikan manusia. Melalui firman-Nya, Dia mengungkapkan watak-watak kita yang rusak dan memungkinkan kita untuk mengenali kerusakan kita sendiri. Kemudian, dengan mengejar kebenaran, watak-watak kita yang rusak diubah, sampai akhirnya kita dapat hidup sesuai dengan firman Tuhan dan kita menjadi orang-orang yang menghormati dan menaati Tuhan. Ini pekerjaan yang sangat bermakna!"

Saudara Lin berkata dengan riang, "Syukur kepada Tuhan karena telah membimbing kita untuk memahami hal-hal ini!" Setelah itu, karena waktunya sudah larut malam, kami mengakhiri pertemuan kami dan menyetujui waktu diadakannya pertemuan kami berikutnya. Aku sangat menantikan persekutuan Saudara Lin, dan aku benar-benar ingin mendengarkannya membacakan lebih banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa kepada kami.

Aku Mengenali Suara Tuhan dan Dengan Penuh Sukacita Menyambut Kedatangan Tuhan Kembali

Ketika saatnya tiba bagi pertemuan kami berikutnya, Saudara Lin memberi kami persekutuan tentang berbagai hal seperti makna penting Tuhan menggunakan nama yang berbeda-beda di Zaman Hukum Taurat dan Zaman Kasih Karunia, misteri inkarnasi Tuhan, tiga tahap pekerjaan Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, dan tempat tujuan akhir dan kesudahan bagi umat manusia. Setelah mendengarkan semuanya ini, aku sangat bersemangat, dan berkata dengan gembira, "Meskipun aku sebelumnya telah mendengarkan banyak khotbah di gereja, aku tidak pernah mengerti banyak kebenaran. Sekarang karena aku membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, kebingungan yang ada di hatiku telah lenyap, aku sekarang mengerti banyak kebenaran di dalam Alkitab dan rohku telah amat disegarkan. Firman ini benar-benar merupakan suara Tuhan!"

Saudara Lin berkata dengan gembira, "Syukur kepada Tuhan, karena domba-domba-Nya telah mendengarkan suara-Nya. Dengan rahmat Tuhan kita dapat mengenali firman Tuhan Yang Mahakuasa sebagai suara Tuhan dan datang ke hadapan-Nya. Sekarang ini, mereka yang benar-benar percaya kepada Tuhan dari semua denominasi datang ke hadapan Tuhan Yang Mahakuasa satu demi satu dan menghadiri perjamuan Anak Domba. Dengan mengalami penghakiman dan hajaran oleh firman Tuhan, mereka yang mengejar kebenaran sedang menyaksikan perubahan dalam watak-watak hidup mereka pada tingkat yang berbeda, dan ada banyak kesaksian dari saudara-saudari di situs web Gereja Tuhan Yang Mahakuasa yang menggambarkan bagaimana watak-watak mereka yang rusak telah berubah dengan mengalami penghakiman oleh firman Tuhan Yang Mahakuasa." Saudara Lin kemudian menunjukkan kepadaku situs web Gereja Tuhan Yang Mahakuasa serta aplikasi ponsel mereka. Ada begitu banyak konten di sana: ada firman yang Tuhan nyatakan pada akhir zaman, video pelafalan firman Tuhan, nyanyian pujian bagi Tuhan, film Injil, serta pengalaman dan kesaksian umat pilihan Tuhan, berbagai variety show, sketsa pendek, video nyanyian dan tarian, dan banyak lagi. Segala sesuatu yang diinginkan orang ada di sana, dan aku tidak pernah merasa puas menontonnya! Aku merasa amat senang. Dahulu kala Tuhan berinkarnasi dan datang ke dalam dunia dan Dia telah mengungkapkan begitu banyak firman—hal ini benar-benar terlalu berharga! Pada saat itu, aku merasa dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan, dan aku berterima kasih kepada Tuhan karena telah menyebarkan Injil kepadaku melalui saudara-saudari tersebut, karena mengizinkan aku memiliki keberuntungan untuk mendengarkan suara-Nya, karena memungkinkan aku untuk memahami alasan mengapa aku hidup dalam dosa, dan karena mengizinkan aku menemukan jalan untuk ditahirkan.

Setelah itu, selama periode pertemuan-pertemuan dan penyelidikan, aku menjadi sepenuhnya yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa memang adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dan dengan penuh sukacita aku menerima pekerjaan baru Tuhan. Terima kasih kepada Tuhan!

media terkait