Setelah Melepaskan Keegoisan, Aku Dibebaskan

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: "Dalam watak orang normal tidak terdapat kebohongan atau tipu daya, orang memiliki hubungan yang normal satu dengan lain, mereka tidak sendirian, dan hidup mereka tidaklah sederhana atau pun mundur. Maka, Tuhan dimuliakan di antara semuanya, firman-Nya merasuk di antara manusia, orang hidup dalam damai satu sama lain dan dalam pemeliharaan dan penjagaan Tuhan, bumi dipenuhi keharmonisan, tanpa campur tangan Iblis, dan kemuliaan Tuhan menjadi yang paling utama di antara manusia. Orang-orang seperti itu bagaikan malaikat: murni, bersemangat, tak pernah mengeluh tentang Tuhan, dan mengabdikan seluruh daya upaya hanya untuk kemuliaan Tuhan di bumi" ("Bab 16, Penafsiran Rahasia Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa watak manusia normal tidaklah mengandung kebengkokan, kecurangan, keegoisan, dan kehinaan. Melaksanakan amanat Tuhan dengan tulus, bekerja secara harmonis dengan saudara-saudari, dan melakukan tugas mereka dengan sebaik mungkin adalah hal paling mendasar yang harus mampu dilakukan seseorang. Dahulu aku hidup menurut falsafah iblis seperti "Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri" dan "Seorang murid akan merebut posisi gurunya." Aku egois, hina, bengkok, dan licik, sama sekali tidak memiliki keserupaan dengan manusia. Hanya setelah aku mengalami penghakiman dan hajaran firman Tuhan barulah watakku yang jahat ini mulai berubah.

Saat itu bulan Juni 2018 ketika Saudara Zhang bergabung dengan tim kami untuk bekerja sama denganku dalam tugasku. Pada saat itu aku berpikir, "Aku sudah melakukan tugas ini selama beberapa waktu sekarang, jadi aku telah memahami prinsip-prinsipnya dan aku telah melihat beberapa hasil. Mungkin pada satu titik aku akan meninggalkan tim ini untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Aku harus membantu Saudara Zhang untuk mempelajari tugas ini sesegera mungkin sehingga dia dapat mengambil tanggung jawab pekerjaan dalam tim kami." Aku melanjutkan dengan mengajarinya keterampilan dasar yang telah kupelajari dalam tugasku. Tiga bulan kemudian aku melihat bahwa Saudara Zhang telah memiliki pemahaman dasar tentang semuanya dan dia membuat kemajuan yang sangat cepat. Pada saat itu aku mulai merasa terancam, berpikir, "Saudara Zhang telah berkembang begitu cepat dalam tugasnya. Jika ini terus berlanjut, bukankah dia akan segera melampauiku? Jika pemimpin mengetahui seberapa cepat kemajuannya, bukankah dia akan memberi Saudara Zhang kedudukan penting?" Ketika ini terpikir olehku, aku berpikir, "Tidak, aku harus menghambat kemajuannya. Aku tidak boleh lagi membagikan semua yang kuketahui kepadanya." Sejak saat itu dalam pekerjaan kami, ketika aku menemukan keterampilan Saudara Zhang ada sedikit kekurangan, aku hanya memberitahukan kepadanya beberapa hal yang dangkal tanpa membagikan pengetahuanku sepenuhnya. Aku sadar bahwa itu bukan hal yang benar untuk dilakukan, tetapi kemudian aku memikirkan tentang pepatah lama, "Seorang murid akan merebut posisi gurunya." Jika dia menjadi pusat perhatian, bagaimana aku bisa memamerkan diriku? Aku tidak boleh membiarkan dia melebihiku. Saat kami terus bekerja bersama, apa pun yang ditanyakan Saudara Zhang kepadaku, aku selalu memberinya jawaban yang tidak lengkap dan tidak memberitahukan sisanya.

Tak lama setelah itu, pemimpin mencari Saudara Zhang untuk membahas sebuah tugas penting. Jantungku berdegup kencang ketika aku mendengar hal ini. Kupikir, "Aku telah berada di tim lebih lama dari Saudara Zhang. Mengapa pemimpin tidak mau berbicara kepadaku? Apakah aku tidak secakap dia? Akulah orang yang telah melatihnya, tetapi sekarang dia adalah anak kesayangan dan aku disingkirkan. Dia menjadi pusat perhatian dan aku dilupakan. Jika aku terus mengajarinya, bukankah dia akan belajar jauh lebih cepat? Jika dia mendapatkan kedudukan penting, lalu siapa yang akan mengagumiku?" Jadi sejak itu, dalam pekerjaan kami bersama, ketika aku melihat Saudara Zhang mengalami kesulitan, aku tidak mau membantunya. Kemajuan kami terhambat sebagai akibat dari hal-hal yang tidak diselesaikan secara tepat waktu ini, dan ini akhirnya menghambat kemajuan pekerjaan gereja. Aku merasa sedikit bersalah dan tidak nyaman, tetapi aku sama sekali tidak merenungkan diriku sendiri. Suatu hari ketiakku tiba-tiba mulai gatal, dan aku tidak bisa menghilangkannya. Bahkan mengoleskan salep pun tidak membantu. Keesokan harinya, lenganku mulai terasa sangat sakit sehingga aku tak mampu menggerakkannya. Aku menyadari bahwa kondisi ini bukanlah suatu kebetulan, jadi aku datang ke hadapan Tuhan dalam doa dan mencari. Aku berkata, "Ya Tuhan, kondisi ini mulai kurasakan begitu tiba-tiba. Aku tahu maksud baik-Mu ada di balik ini. Namun aku terlalu tidak peka dan aku tidak mengetahui apa kehendak-Mu. Kumohon berilah aku pencerahan dan bimbinglah aku."

Suatu hari selama saat teduhku, firman Tuhan ini tiba-tiba muncul di benakku: "Jika engkau tidak mau menyerahkan semua yang engkau miliki, jika engkau menyembunyikan dan memendamnya, licik dalam tindakanmu, …" ("Hanya dengan Menjadi Orang yang Jujur, Orang Bisa Benar-Benar Bahagia" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan ini adalah peringatan untuk menyadarkanku. Aku telah hidup dalam keadaan bersaing untuk mengejar ketenaran dan keuntungan, takut kalau-kalau saudara ini akan melampauiku, sehingga aku tidak pernah sepenuhnya jujur dalam pekerjaan kami, dan aku tidak mau membagi pengetahuanku kepadanya. Aku memahami bahwa ini adalah Tuhan yang sedang memperingatkanku dengan keadaan itu, agar aku mau merenungkan diriku sendiri. Kemudian aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Orang tidak percaya memiliki sejenis watak rusak tertentu. Ketika mereka mengajarkan sebuah pengetahuan profesional atau keterampilan kepada orang lain, mereka percaya pada gagasan bahwa 'Begitu seorang murid mengetahui segala sesuatu yang diketahui gurunya, guru pun akan kehilangan mata pencahariannya.' Mereka percaya bahwa apabila mereka mengajarkan segala sesuatu yang mereka ketahui kepada orang lain, maka tak seorang pun yang akan mengagumi mereka lagi dan mereka akan kehilangan status mereka. Oleh sebab itu, mereka merasa perlu untuk menahan sebagian dari pengetahuan ini, hanya mengajarkan kepada orang delapan puluh persen dari apa yang mereka ketahui dan memastikan mereka masih memiliki ilmu simpanan; mereka merasa ini adalah satu-satunya cara agar mereka dapat menunjukkan derajat mereka sebagai guru. Selalu menahan informasi dan merahasiakan sebagian kecil ilmu mereka—natur macam apakah ini? Itu adalah kecurangan. … Jangan berpikir bahwa engkau telah melakukannya dengan baik atau berpikir bahwa engkau tidak menahan pengetahuan hanya karena engkau telah memberi tahu semua orang hal-hal yang paling dangkal atau mendasar; ini tidak dapat diterima. Terkadang engkau hanya mengajarkan beberapa teori atau hal-hal yang dapat dipahami orang secara harfiah, tetapi para pemula sama sekali tidak mampu menyadari esensi atau pokok penting apa pun. Engkau hanya memberikan garis besarnya, tanpa menjabarkan atau merincinya, sambil tetap berpikir dalam hatimu, 'Yah, bagaimanapun juga, aku telah memberitahukannya kepadamu, dan aku tidak bermaksud menahan apa pun. Jika engkau tidak mengerti, itu karena kualitasmu terlalu buruk, jadi jangan salahkan aku. Kita lihat saja bagaimana Tuhan akan membimbingmu sekarang.' Pemikiran seperti ini mengandung kecurangan, bukan? Bukankah itu egois dan hina? Mengapa engkau tidak mau mengajarkan kepada orang-orang segala sesuatu yang ada di hatimu dan semua yang engkau pahami? Mengapa engkau malah menahan pengetahuan? Ini adalah masalah dengan niat dan watakmu" (Rekaman Pembicaraan Kristus). Firman Tuhan secara tepat menyingkapkan keadaanku sendiri. Aku tidak mau mengajarkan keterampilan yang telah kupelajari kepadanya demi reputasi dan kedudukanku sendiri. Aku takut dia akan semakin terampil dalam pekerjaan itu dan melampauiku dengan mudah, sehingga terpikirkan bahwa murid akan dapat merebut posisi gurunya. Dengan selalu menghambat kemajuannya, bukankah aku sedang dikendalikan oleh natur jahatku yang egois, hina, dan bengkok? Aku juga teringat tentang saat Saudara Zhang baru saja bergabung dengan tim kami. Motivasiku untuk mengajarinya adalah agar dia bisa mengambil tanggung jawab dalam pekerjaan tim sesegera mungkin. Lalu aku akan punya seseorang yang dapat mengambil alih tugasku karena aku berharap untuk mengambil kedudukan yang lebih penting. Namun ketika aku melihat betapa cepatnya dia belajar dan bahwa pemimpin sangat menghargainya, aku menjadi sangat khawatir. Aku khawatir bahwa jika dia terus bekerja dengan baik, cepat atau lambat dia akan melampauiku, dan dia akan menggantikanku. Akibatnya, aku tidak mau membagikan apa yang kuketahui kepadanya. Terkadang saat aku tahu dia mengalami kesulitan dalam tugasnya, aku tidak mau membantunya, yang akhirnya menunda pekerjaan gereja. Aku menyadari bahwa aku selalu bekerja demi melindungi reputasi dan kedudukanku sendiri tanpa sama sekali memikirkan pekerjaan rumah Tuhan. Aku benar-benar egois dan curang. Tanpa pendisiplinan Tuhan yang tepat waktu, yang membuatku mengalami kondisi gatal-gatal ini, aku pasti tidak akan merenungkan diriku sendiri. Kemudian aku membaca firman Tuhan ini: "Sejak percaya kepada Tuhan, engkau telah makan dan minum firman Tuhan; engkau ingin menerima penghakiman dan hajaran-Nya serta menerima penyelamatan-Nya. Namun, jika prinsip-prinsip yang dengannya engkau bertindak dan tujuanmu melakukan segala sesuatu serta perilakumu sebagai seorang manusia tidak berubah, jika engkau sama dengan orang-orang tidak percaya, apakah Tuhan akan mengakuimu sebagai seorang yang percaya kepada Tuhan? Tidak. Dia akan mengatakan engkau masih menempuh jalan orang tidak percaya. Dengan demikian, entah engkau sedang memenuhi tugasmu ataukah sedang mempelajari pengetahuan profesional, engkau harus menaati prinsip-prinsip dalam segala sesuatu yang engkau lakukan. Engkau harus memperlakukan segala sesuatu yang engkau lakukan sesuai dengan kebenaran, dan melakukan penerapan sesuai dengan kebenaran. Engkau harus menggunakan kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah, menyelesaikan masalah watak rusak yang telah tersingkap di dalam dirimu, dan menyelesaikan masalah cara dan pemikiranmu yang keliru. Engkau harus terus-menerus mengatasi masalah ini. Salah satunya, engkau harus memeriksa dirimu sendiri. Setelah engkau melakukannya, bila engkau menemukan watak yang rusak, engkau harus menyelesaikan, menundukkan, dan meninggalkannya. Setelah engkau menyelesaikan masalah-masalah ini, ketika engkau tidak lagi melakukan segala sesuatu berdasarkan watakmu yang rusak, dan ketika engkau mampu melepaskan motif dan kepentinganmu serta melakukan penerapan sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran, baru pada saat itulah engkau akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang yang benar-benar mengikuti Tuhan" (Rekaman Pembicaraan Kristus). "Engkau harus mengambil esensi dan pokok-pokok utama dari pengetahuan profesional itu— hal-hal yang belum dipahami atau diketahui orang lain—dan memberitahukan semua itu kepada orang-orang sehingga mereka semua dapat berupaya keras untuk mencapai hasil tertentu, dan kemudian mengetahui lebih banyak lagi hal-hal yang lebih mendalam dan lebih matang. Jika engkau mengkontribusikan semua hal ini, itu akan bermanfaat bagi orang-orang yang sedang memenuhi tugas ini serta berguna bagi pekerjaan rumah Tuhan. … Ketika kebanyakan orang pertama kali diperkenalkan pada beberapa aspek khusus dari pengetahuan profesional, mereka hanya mampu memahami makna harfiahnya, sedangkan bagian yang menyangkut pokok-pokok dan esensi utamanya membutuhkan latihan selama jangka waktu tertentu sebelum orang dapat memahaminya. Jika engkau telah memahami pokok-pokok dan esensi utama ini, engkau harus memberi tahu mereka secara langsung; jangan membuat mereka mengambil jalan memutar dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk sampai ke sana. Ini adalah tanggung jawabmu; itulah yang harus engkau lakukan. Hanya ketika engkau memberi tahu mereka apa yang engkau yakini sebagai pokok-pokok dan esensi utama barulah bisa dikatakan bahwa engkau tidak menahan apa pun, dan baru pada saat itulah engkau tidak akan bersikap egois" (Rekaman Pembicaraan Kristus). Dari firman Tuhan aku menyadari bahwa aku perlu berfokus untuk merenungkan diriku sendiri dalam tugasku dan mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah natur jahatku yang egois dan hina. Aku harus meninggalkan pemikiran dan gagasanku yang salah dan dapat bekerja sebagai satu tim dengan saudara-saudari dalam tugasku. Aku menyadari bahwa setiap kita memiliki begitu banyak kekurangan, entah itu dalam hal kebenaran ataupun dalam pekerjaan kita, jadi saudara-saudari perlu saling membantu dan mendukung dalam tugas mereka, dan mempersekutukan apa yang mereka pahami tanpa menahan apa pun. Dengan menutupi kekurangan masing-masing dengan cara ini, akan jauh lebih kecil kemungkinannya kita harus mengambil jalan memutar. Sebenarnya, aku bisa sedikit lebih terampil daripada Saudara Zhang sepenuhnya adalah karena kebaikan Tuhan. Aku seharusnya memikirkan kehendak Tuhan, melepaskan keegoisanku, dan mengajarkan semua yang kuketahui kepadanya sehingga dia mampu melakukan tugasnya dengan baik sesegera mungkin. Hanya itulah yang akan sesuai dengan kehendak Tuhan. Segera setelah aku menyadari itu, aku segera datang ke hadapan Tuhan dalam doa, bersedia meninggalkan pemikiranku yang salah dan tidak lagi hidup berdasarkan watak jahatku yang hina dan egois. Aku kemudian mencari Saudara Zhang untuk berbicara jujur ​​kepadanya tentang keadaanku yang sekarang, dan untuk membedah watakku yang jahat ini. Aku juga membagikan hal-hal penting dari keterampilan yang kumiliki kepadanya. Ketika aku mulai melakukan penerapan dengan cara ini, aku merasa jauh lebih nyaman, dan masalah kesehatan itu terselesaikan tanpa kusadari.

Kupikir bahwa, setelah melewati peristiwa itu, aku telah berubah, tetapi watak jahat ini benar-benar mengakar kuat. Segera setelah kondisi yang tepat muncul, aku sama sekali tidak berdaya selain membiarkan racun itu muncul kembali.

Pada bulan Maret 2019, aku dan Saudara Zhang dipilih pada saat yang bersamaan untuk menjadi pemimpin gereja. Awalnya, kami berdua bekerja dengan sangat baik. Apakah itu menyelesaikan masalah di dalam gereja, ataupun mengatasi kesulitan yang kami hadapi, kami mampu mencari kebenaran bersama-sama untuk menyelesaikannya. Namun suatu hari, aku mendengar seseorang di gereja berkata, "Persekutuan Saudara Zhang tentang kebenaran cukup praktis, dan dia benar-benar bertanggung jawab dalam tugasnya." Mendengar ini aku kembali mengalami kekacauan batin dan kupikir, "Jika aku dikalahkan oleh Saudara Zhang, aku akan segera tidak punya martabat sama sekali!" Setelah itu, dalam semua diskusi pekerjaan kami aku hanya menunjukkan kesalahan dan kekurangan dan tidak memberitahukan jalan penerapan untuk menyelesaikannya. Terkadang ketika dia datang kepadaku untuk mencari kebenaran, aku hanya akan menggertakkan gigiku dan menjawab sekenanya, takut jika dia mengerti terlalu banyak, dia hanya akan menyelesaikan masalah-masalah itu tanpa aku bisa pamer. Aku ingat pernah suatu kali ketika dia hendak pergi memberikan dukungan kepada beberapa saudara-saudari yang mengalami kelemahan. Dia takut bahwa tanpa persekutuan yang tepat, itu tidak akan membuahkan hasil, jadi dia datang untuk berkonsultasi denganku tentang kebenaran apa yang terbaik untuk difokuskan. Namun pertimbanganku pada saat itu adalah bahwa jika aku memberi tahu dia semua yang kuketahui, lalu dia pergi dan menangani masalah itu, saudara-saudari pasti akan mengaguminya, lalu apa yang akan kubagikan dalam persekutuan selanjutnya? Bukankah itu akan membuat dia terlihat lebih baik daripada diriku? Jadi pada saat itu aku berpikir, "Tidak, aku harus menahan sebagian agar aku dapat mempersekutukan sesuatu di pertemuan berikutnya sehingga mereka dapat melihat bahwa akulah yang lebih mampu menyelesaikan masalah-masalah." Aku hanya memberi Saudara Zhang penjelasan secara umum tetapi tidak menjelaskan hal-hal spesifik, atau apa pun yang benar-benar penting. Karena aku menyembunyikan keegoisanku sendiri dan tidak mau membagikan semua yang kuketahui kepadanya, aku sengaja menghindari Saudara Zhang dalam pekerjaan kami bersama dan waktu yang kami gunakan untuk membahas segala sesuatu semakin berkurang daripada yang biasa kami lakukan. terkadang aku merasa sangat bersalah dan berpikir dalam hati, "Dengan melakukan tugasku seperti ini, aku sedang tidak bekerja secara harmonis dengan saudaraku, dan itu bukan sesuatu yang akan Tuhan sukai." Namun kemudian aku berpikir, "Jika dia melampauiku, semua orang akan mengaguminya," jadi aku tidak mau lagi melakukan kebenaran. Aku terus-menerus berada dalam keadaan berkeras hati selama waktu itu, dan watak benar Tuhan datang kepadaku. Pikiranku terus-menerus berputar. Persekutuanku dalam pertemuan tidak mengandung terang dan aku tidak mencapai apa pun dalam tugasku, Dan aku terkantuk-kantuk dan tidur lebih awal setiap malam. Aku juga merasa semakin gelisah. Pada saat itu aku menyadari bahwa Tuhan telah meninggalkanku, dan kemudian aku menjadi takut. Aku bergegas datang ke hadapan Tuhan dan berdoa. "Ya Tuhan, aku telah hidup dalam watak jahatku yang penuh keegoisan dan kehinaan. Aku tahu ini menjijikkan bagi-Mu, tetapi aku tak mampu menahan diriku. Aku tidak mampu melepaskan diri darinya. Tuhan, kumohon berilah pencerahan kepadaku agar aku bisa sampai pada pemahaman yang sejati tentang natur dan esensiku sendiri."

Setelah berdoa, aku membaca bagian firman Tuhan ini: "Sebelum manusia mengalami pekerjaan Tuhan dan beroleh kebenaran, natur Iblislah yang menguasai dan mendominasi mereka dari dalam. Secara spesifik, apa yang terkandung dalam natur itu? Misalnya, mengapa engkau egois? Mengapa engkau mempertahankan posisimu? Mengapa emosimu begitu kuat? Mengapa engkau menyukai hal-hal yang tidak benar? Mengapa engkau menyukai kejahatan? Apa yang menjadi dasar dari kesukaanmu akan hal-hal ini? Dari mana asal hal-hal ini? Kenapa engkau begitu senang menerimanya? Saat ini, engkau sekalian telah mencapai pemahaman bahwa alasan utama di balik semua ini adalah karena hal-hal itu mengandung racun Iblis. Adapun apa yang dimaksud dengan racun Iblis, dapat dinyatakan sepenuhnya lewat perkataan. Misalnya, jika engkau bertanya kepada orang-orang yang melakukan kejahatan mengapa mereka bertindak seperti itu, mereka akan menjawab: 'Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri.' Satu frasa ini saja mengungkapkan akar terdalam dari masalahnya: Logika Iblis telah menjadi kehidupan manusia. Mereka mungkin melakukan sesuatu untuk tujuan ini atau itu, tetapi mereka melakukannya hanya demi diri sendiri. Semua orang berpikir bahwa karena tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri, mereka harus hidup demi dirinya sendiri, berupaya sekuat tenaga untuk mengamankan kedudukan yang baik serta makanan dan pakaian yang mereka butuhkan. Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri'—ini adalah kehidupan dan falsafah manusia dan falsafah manusia dan juga merepresentasikan natur manusia. Pernyataan ini jelas merupakan racun Iblis, dan ketika diinternalisasikan oleh manusia, itu menjadi natur mereka. Natur Iblis dinyatakan lewat kata-kata ini; perkataan ini sepenuhnya mewakilinya. Racun ini menjadi kehidupan orang sekaligus dasar keberadaan mereka; dan umat manusia yang telah rusak telah didominasi oleh racun ini selama ribuan tahun" ("Cara Menempuh Jalan Petrus" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Membaca firman Tuhan menunjukkan kepadaku bahwa aku tak mampu untuk tidak hidup dengan natur jahatku yang egois dan hina karena racun Iblis seperti "Tiap orang memperjuangkan kepentingannya sendiri" dan "Seorang murid akan merebut posisi gurunya" telah menjadi hidupku. Aku menganggapnya sebagai hal-hal yang positif, sebagai aturan hidup, berpikir bahwa itulah seharusnya cara hidup manusia, itulah satu-satunya cara untuk melindungi diri kita sendiri. Akibatnya, aku menjadi semakin egois dan hina, hanya memikirkan diriku sendiri. Aku terus-menerus takut Saudara Zhang akan lebih baik daripada diriku dalam tugas yang kami laksanakan bersama, sehingga setiap kali kami berbicara tentang pekerjaan, aku selalu saja menutupi segala sesuatu, mengerjakan dengan seadanya, tanpa membagikan semua yang kuketahui Ketika Saudara Zhang mengalami masalah dalam tugasnya dan datang kepadaku untuk mencari kebenaran, bukan pekerjaan rumah Tuhan yang menjadi kekhawatiranku, tetapi aku khawatir jika aku mengajari dia semuanya, aku tidak lagi akan memiliki kesempatan untuk bersinar di gereja. Bahkan ketika aku tahu betul bahwa itu bukan pendekatan yang tepat, aku tetap tidak mau membantunya. Aku bisa melihat bahwa aku tidak melakukan tugasku karena memikirkan kehendak Tuhan atau untuk menjunjung tinggi pekerjaan rumah Tuhan, tetapi aku melakukannya demi mengejar reputasi dan status pribadi. Aku sungguh sangat egois dan licik. Dengan mengandalkan watakku yang jahat dalam tugasku, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan bimbingan dan berkat Tuhan? Kupikir dengan tidak mengajarkan apa yang kuketahui kepada orang lain aku bisa menjadi yang terbaik di gereja dan dihargai oleh semua orang, tetapi ternyata semakin aku menahan yang kuketahui, rohku semakin gelap, dan aku semakin kehilangan bimbingan Tuhan. Itu mencapai titik di mana aku bahkan tidak mampu melakukan apa yang mampu kulakukan sebelumnya. Kemudian firman dari Tuhan Yesus ini muncul di benakku: "Karena barang siapa yang memiliki, kepada dia akan diberikan, dan dia akan memilikinya lebih melimpah; tetapi barang siapa yang tidak memiliki, apa pun yang dia miliki akan diambil darinya" (Matius 13:12). Mengalami peristiwa itu membuatku benar-benar menghargai watak benar Tuhan. Ketika aku merenungkannya lebih lanjut, aku memahami bahwa jika aku mampu melihat beberapa masalah dalam tugasku, itu sepenuhnya merupakan tuntunan dan pencerahan Tuhan, dan tanpa bimbingan firman Tuhan, aku buta, Benar. tidak dapat memahami apa pun, dan tidak dapat menyelesaikan masalah apa pun. Namun aku sama sekali tidak punya kesadaran diri, dan aku tanpa malu menganggap pencerahan Roh Kudus sebagai kemampuanku sendiri. Bukankah itu berarti aku telah mencoba mencuri kemuliaan Tuhan? Tuhan sanggup melihat ke dalam hati dan pikiran manusia. Aku tahu bahwa jika aku terus melakukan tugasku dengan mengandalkan watak-watak jahat itu, aku pasti akan ditolak dan disingkirkan oleh Tuhan. Saat merenungkan semua itu aku segera datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa, berkata, "Ya Tuhan, aku tidak mau lagi melakukan tugasku dengan egois dan hina. Aku benar-benar ingin bekerja dengan baik bersama Saudara Zhang dan melakukan tugasku dengan baik."

Setelah itu, aku membaca firman Tuhan ini: "Jangan selalu melakukan hal-hal demi kepentinganmu sendiri. Jangan selalu mempertimbangkan kepentinganmu sendiri, dan jangan mempertimbangkan status, nama baik atau reputasimu sendiri. Jangan mempertimbangkan kepentingan orang lain. Engkau pertama-tama harus mempertimbangkan kepentingan rumah Tuhan dan menjadikannya prioritas utamamu; engkau harus mempertimbangkan kehendak Tuhan. Mulailah dengan merenungkan apakah engkau murni ataukah tidak dalam memenuhi tugasmu, apakah engkau telah berusaha sekuatmu untuk setia dalam menyelesaikan tanggung jawabmu dan memberikan seluruh dirimu, dan apakah engkau dengan sepenuh hati memikirkan tugasmu dan pekerjaan rumah Tuhan. Engkau perlu memikirkan hal-hal ini. Pertimbangkan hal-hal ini sesering mungkin, dan engkau akan mudah melaksanakan tugasmu dengan baik" ("Engkau Dapat Memperoleh Kebenaran Setelah Menyerahkan Hatimu yang Sejati kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Bila engkau menyingkapkan dirimu sebagai orang yang egois dan hina, dan telah menjadi sadar akan masalah ini, engkau harus mencari kebenaran: Apa yang harus kulakukan supaya aku menjadi selaras dengan kehendak Tuhan? Bagaimana aku harus bertindak agar tindakanku bermanfaat bagi semua orang? Artinya, engkau harus memulai dengan mengesampingkan kepentinganmu sendiri, secara berangsur-angsur melepaskan kepentinganmu sesuai dengan tingkat pertumbuhanmu, sedikit demi sedikit. Setelah engkau mengalami ini beberapa kali, engkau akan mampu mengesampingkan kepentinganmu itu sepenuhnya, dan saat engkau telah mengesampingkannya, engkau akan merasa semakin mantap. Semakin engkau mengesampingkan kepentinganmu, engkau akan semakin merasa bahwa sebagai manusia, engkau haruslah memiliki hati nurani dan nalar. Engkau akan merasakan bahwa tanpa motif yang egois, engkau menjadi orang yang jujur dan tulus, dan engkau melakukan segala sesuatu sepenuhnya untuk memuaskan Tuhan. Engkau akan merasa bahwa perilaku seperti itu membuatmu layak disebut 'manusia', dan bahwa dengan hidup seperti ini di bumi, engkau sedang bersikap terbuka dan jujur, engkau menjadi seorang yang tulus, engkau memiliki hati nurani yang murni, dan layak menerima segala sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepadamu. Semakin engkau hidup seperti ini, engkau merasa semakin mantap dan bahagia. Dengan demikian, bukankah itu berarti engkau telah berjalan di jalur yang benar?" ("Engkau Dapat Memperoleh Kebenaran Setelah Menyerahkan Hatimu yang Sejati kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Setelah membaca ini, aku memahami bahwa jika aku ingin melakukan tugasku dengan baik, aku harus terlebih dahulu berpikir tentang bagaimana menjunjung tinggi pekerjaan rumah Tuhan, bagaimana mengerahkan segenap kemampuanku dalam tugasku, dan bagaimana melakukannya dengan tanggung jawab penuh. Fokus Tuhan adalah pada sikap kita dalam tugas kita. Harapan-Nya adalah agar kita menghadap Dia dengan hati yang tulus, di mana kita mengerahkan segenap kemampuan kita untuk melakukan tugas dengan baik, dan kita menjadi orang-orang yang memiliki hati nurani dan kemanusiaan. Begitu aku memahami kehendak-Nya, aku berdoa kepada Tuhan di dalam hatiku, mengatakan kepada-Nya bahwa aku siap untuk melepaskan keegoisanku dan berhenti memikirkan kepentingan pribadiku, dan aku akan melakukan apa saja yang bermanfaat bagi kehidupan bergereja dan saudara-saudariku. Setelah itu, aku pergi ke gereja dan berbicara kepada Saudara Zhang, memberitahukan kepadanya tentang natur jahatku yang hina dan egois dan motifku yang curang. Kami juga bersama-sama mencari kebenaran untuk menyelesaikan masalah-masalah dan kekurangan dalam pekerjaan kami, dan aku membagikan persekutuan tentang semua yang kuketahui, tanpa menahan apa pun. Ketika aku melakukan penerapan dengan cara itu, aku mengalami perasaan yang sedemikian damai. Aku merasakan betapa indahnya menjadi orang seperti itu, bersikap terbuka dan sepenuhnya jujur. Hidup seperti itu luar biasa! Keadaanku secara berangsur-angsur semakin membaik dan aku mulai melihat beberapa hasil dalam tugasku. Meskipun terkadang aku masih menunjukkan natur jahatku yang egois dan hina, saat aku berpikir tentang betapa jijiknya Tuhan terhadap diriku, aku akan menghadap Tuhan dalam doa, meninggalkan pemikiranku yang salah, dan ingin melakukan penerapan sesuai dengan firman-Nya.

Setelah mengalami pengalaman semacam itu, aku benar-benar merasa bahwa melakukan tugas kita dengan mengandalkan watak jahat dan racun-racun Iblis hanya akan membuat kita semakin egois, hina, dan mementingkan diri sendiri. Kita akan kehilangan seluruh keserupaan dengan manusia, tidak hanya menyebabkan diri kita menderita, tetapi juga menjadi tidak mampu bekerja dengan baik bersama orang lain. Ditambah lagi, itu tidak menghasilkan apa-apa selain merusak pekerjaan rumah Tuhan. Ketika aku menerapkan kebenaran sebagai orang yang jujur sesuai dengan firman Tuhan, dan tidak lagi membuat rencana demi kepentinganku sendiri, Aku mendapatkan pencerahan dan bimbingan Roh Kudus dalam tugasku, dan aku merasakan kedamaian batin. Penghakiman dan hajaran firman Tuhan-lah yang memberiku sedikit pemahaman tentang natur jahatku yang egois dan penuh kecurangan, dan akhirnya aku mampu melakukan sedikit kebenaran dan hidup dalam sedikit keserupaan dengan manusia.

Media Terkait