Hanya Kasih Tuhan yang Benar

Oleh Saudara Xiaodong, Provinsi Sichuan

Tuhan berfirman: “Bangsa Tionghoa yang telah dirusak selama ribuan tahun terus berlanjut hingga saat ini. Segala macam virus terus berkembang dan menyebar ke mana-mana seperti wabah. Hanya dengan melihat hubungan orang saja sudah cukup untuk melihat berapa banyak virus dalam diri orang. Sangat sulit bagi Tuhan untuk mengembangkan pekerjaan-Nya di daerah yang sangat tertutup dan terinfeksi virus seperti itu. Kepribadian orang, kebiasaan, cara mereka melakukan sesuatu, semua hal yang mereka ungkapkan dalam hidup mereka dan hubungan antar pribadi mereka semuanya rusak secara tidak masuk akal …” (“Jalan … (6)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Penyingkapan dalam firman Tuhan membuatku melihat betapa perusakan oleh Iblis membuat semua hubungan di antara orang menjadi tidak wajar, karena semuanya didasarkan pada filsosofi kehidupan Iblis, tanpa mengandung sedikit pun kebenaran. Tanpa keselamatan Tuhan, mataku akan tetap tertutup dan aku tetap akan terjebak oleh emosi, tetapi dengan mengalami pekerjaan Tuhan, aku memahami esensi dari arti “saling membantu” dan menunjukkan kepadaku kebenaran akan persahabatan, kasih, dan kasih sayang keluarga. Aku melihat bahwa hanya firman Tuhanlah yang benar, dan bahwa hanya melalui hidup menurut firman Tuhan kita dapat melepaskan diri dari pengaruh Iblis, dan bahwa hanya dengan bertingkah laku sesuai dengan kebenaran, seseorang dapat menjalani kehidupan yang bermakna.

Kedua orang tuaku adalah orang Kristen, dan pada saat itu iman kami kepada Yesus memberi kami banyak kasih karunia. Terutama dalam hal bisnis, Tuhan memberkati kami dengan banyak kenyamanan materi. Sebagian besar kerabatku tidak semakmur keluarga kami, dan orang tuaku merawat mereka secara finansial dan material. Kerabatku sangat menghormati orang tuaku, dan tentu saja mereka memandangku dengan pandangan yang sama. Itulah jenis lingkungan yang menguntungkan tempat aku tumbuh. Aku pikir teman-teman dan kerabatku luar biasa, dan apa pun yang dibutuhkan oleh keluarga kami, mereka bersedia membantu.

Pada 1998, seluruh keluargaku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa, dan karena itu bidang yang sulit, kami menghentikan bisnis keluarga kami. Pada saat itu, aku tidak memahami kebenaran, jadi hatiku masih merindukan dunia ini. Aku menghabiskan hari-hariku dengan makan, minum, dan berpesta pora bersama teman dan kerabat dekatku, dan karena membelanjakan uang dengan bermurah hati, aku mendapatkan semakin banyak teman, dan semakin banyak reuni teman sekelas, pesta, ulang tahun dan pernikahan teman dan teman sekelas, dan acara lain-lain tidak dapat diadakan tanpa mengundangku, karena aku terlalu “penting”. Selain itu, setiap hari Minggu aku harus menjemput dan mengantar pacarku, dan kami sering pergi bersama. Pada saat itu, meskipun tidak pernah melewatkan satu pun dari tiga kali seminggu kebaktianku di gereja, aku tetap sama sekali tidak mamahami firman Tuhan, hatiku tetap mengembara di dunia luar, dan kepercayaanku pada Tuhan terasa seperti beban aturan. Namun, Tuhan menggunakan lingkungan untuk membuatku memahami kebenaran. Dia menunjukkan kepadaku bahwa hubungan di antara orang-orang tidak didasarkan pada apa pun selain kepentingan bersama, dan bahwa tidak ada yang namanya perasaan atau kasih sejati dalam diri mereka.

Setelah bisnis berhenti, orang tuaku memperbaiki rumah kami dan harus membayar uang sekolah untuk aku dan saudariku, sehingga tabungan keluarga kami hampir habis setelah beberapa tahun. Sama seperti pepatah menggambarkan “anak-anak sungai mengering ketika induk sungai kekurangan air.” Oleh karena menggantungkan pendapatanku pada mereka, aku mengurangi pengeluaranku sendiri. Aku menghindari undangan pernikahan dan acara kumpul-kumpul, besar atau kecil, sebisa mungkin, jadi lingkaran pertemananku mulai menyusut dan statusku di mata teman-temanku menjadi semakin rendah. Seiring kekayaan teman-teman dan kerabatku yang lebih miskin meningkat, mereka juga semakin jarang bergaul dengan kami. Periode ini memurnikan bagiku, karena aku merasa tidak memiliki status di hati orang lain. Terutama pacarku, yang semakin menjauh karena aku tidak membelanjakan uang sebanyak dahulu, dan akhirnya meninggalkanku demi orang lain pada tahun 2001. Ketika aku mengetahuinya, aku tidak bisa menerima bahwa itu nyata. Aku tidak menunjukkannya di luar, tetapi hal itu bagai pisau yang menusuk hatiku. Aku setia kepadanya, upayaku untuknya tulus, jadi mengapa aku mendapatkan balasan pengkhianatan? Begitulah hubungan lima tahun kami berakhir. Aku tidak tahu cara melupakannya, jadi yang bisa aku lakukan hanyalah mengubur kepedihan di hatiku. Setelah itu, aku benci ketika orang lain menyebutkan insiden itu. Aku tidak bisa memahami bagaimana hal seperti ini bisa terjadi padaku. Lalu suatu hari, aku membaca ayat firman Tuhan berikut ini: “Kebanyakan orang hidup di dalam tempat Iblis yang busuk, dan menderita cemoohnya. Iblis menggoda mereka dengan cara ini dan itu sampai mereka setengah hidup setengah mati, menahankan setiap perubahan, setiap kesusahan di dunia manusia. Setelah mempermainkan mereka, Iblis mengakhiri nasib mereka. Jadi, orang melewati seluruh kehidupannya dalam keadaan linglung kebingungan, tak sekali pun menikmati segala yang baik yang telah Tuhan siapkan bagi mereka, sebaliknya malah dirusak oleh Iblis dan ditinggalkan dalam keadaan tercabik-cabik. Kini, mereka sangat rapuh dan lesu sampai-sampai mereka tak memiliki kecenderungan lagi untuk memperhatikan pekerjaan Tuhan” (“Pekerjaan dan Jalan Masuk (1)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Penyingkapan dalam firman Tuhan adalah penggambaran sejati kehidupan manusia. Memikirkan kembali betapa aku telah menghabiskan hari-hariku tenggelam dalam mabuk cinta, hidup dalam dunia khayalan “cinta romantis”. Aku sangat terjebak dan tidak tahu sama sekali bahwa hal-hal seperti ini adalah tipuan Iblis untuk membodohi manusia, kelicikan yang dirancang untuk menjebak orang-orang dan membuat mereka hidup tanpa tujuan apa pun dan tanpa kecenderungan untuk memperhatikan pekerjaan Tuhan. Meskipun menyebut diriku sendiri seorang yang percaya kepada Tuhan, aku menghabiskan hari-hariku dengan mengkhawatirkan dan bekerja keras demi persahabatan dan cinta, dan seandainya keadaan tidak berubah bagiku, aku tetap akan percaya pada “janji kasih abadi” dan “teman setia”, dan aku tidak akan pernah terlepas darinya. Karena putus cinta dengan pacarku, aku memutuskan semua hubunganku dengan teman sekelas; tanpa lingkungan yang sebising itu, aku bisa menenangkan hatiku dan mengabdikan diriku pada keyakinanku kepada Tuhan. Dalam kebaktian, melalui persekutuan tentang firman Tuhan bersama saudara-saudariku, aku memahami beberapa kebenaran dan mendapatkan jalan masuk ke dalam kasih dan persahabatan, dan menyadari bahwa hanya dengan mengejar dan memahami kebenaran, sudut pandang seseorang tentang berbagai hal dapat berubah, dan mereka tidak akan pernah dibodohi oleh Iblis. Perlahan-lahan, hatiku yang terluka mulai pulih. Aku merasakan sukacita yang sudah lama terlupakan, tidak lagi tersesat atau hidup dalam kepedihan. Karena tidak ada gangguan dari dunia luar, aku bisa menenangkan pikiranku dan berfokus pada kebaktian. Aku menjadi semakin tertarik pada iman kepada Tuhan, dan sejak saat itu, aku mulai memenuhi tugasku.

Ketika kerabatku mengetahui bahwa aku percaya kepada Tuhan, gangguan dari mereka tidak kunjung berakhir. Mereka beranggapan aku tidak semestinya memercayai Tuhan di usia yang begitu muda. Bibiku dari pihak ibu sering meminta bantuanku, bibiku dari pihak ayah memintaku untuk berbisnis dengannya, bahkan ibu angkatku mendorongku untuk menikah, dengan mengatakan bahwa dia akan merawat anakku setelah dia terlahir nanti (karena dia sendiri tidak punya anak laki-laki), dan nenekku menangis, katanya, “Aku sama sekali tidak keberatan jika orang tuamu percaya kepada Tuhan, karena mereka telah bekerja separuh hidup mereka dan memberikan semua yang mereka miliki untuk membuka jalan bagimu, jadi sekaranglah saatnya membiarkan mereka beristirahat. Engkau harus berfokus memulai keluarga dan karier.” Dia kemudian menjelaskan bagaimana ayahku tumbuh dalam kemiskinan, bagaimana dia memulai segalanya dari nol, betapa banyak dia pernah menderita, betapa kerasnya dia bekerja, dan mengatakan bahwa aku berada dalam keadaan lingkungan yang baik, dan bahwa aku tidak punya cita-cita. Bagiku, “kekhawatiran” mereka yang tiba-tiba sangat bernada menyanjung. Aku bingung, karena sepertinya apa yang mereka semua katakan benar, mereka semua menginginkan yang terbaik untukku, dan karena mereka adalah kerabat terdekatku, tentu saja mereka tidak akan menyakitiku. Aku hidup dalam pemurnian, dan meskipun aku tahu bahwa ini adalah peperangan rohani, aku tidak punya kekuatan untuk bertempur lagi. Dalam sebuah kebaktian, seorang pemimpin menunjukkan kepadaku ayat-ayat firman Tuhan berikut ini:”Selama ribuan tahun, bangsa Tiongkok telah menjalani kehidupan sebagai budak, dan hal ini telah begitu membatasi pikiran, konsep, kehidupan, bahasa, perilaku, dan tindakan mereka hingga mereka tidak memiliki kebebasan sedikit pun. Sejarah yang beberapa ribu tahun lamanya ini telah membuat orang-orang sangat penting dikuasai oleh roh dan itu melemahkan mereka sehingga mereka menjadi sesuatu yang mirip dengan mayat-mayat yang tidak lagi memiliki roh. Banyak dari antara mereka hidup di bawah pisau jagal Iblis…. Secara lahiriah, manusia tampak “lebih tinggi dari hewan”; pada kenyataannya, mereka hidup dan tinggal dengan setan-setan yang cemar. Tanpa seorang pun yang mengurus mereka, manusia hidup dalam sergapan Iblis, terperangkap dalam kerja keras tanpa memiliki jalan keluar. Tidaklah tepat mengatakan bahwa manusia berkumpul dengan orang-orang terkasih di rumah yang nyaman, menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan, lebih tepat orang mengatakan bahwa manusia sedang hidup di dunia orang mati, berurusan dengan setan dan bergaul dengan Iblis” (“Pekerjaan dan Jalan Masuk (5)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Melalui penyingkapan dalam firman Tuhan dan persekutuan dengan saudara-saudariku, aku menyadari bahwa meskipun secara lahiriah mereka tampaknya kerabatku, dan perkataan mereka sesuai dengan kebutuhan dagingku, tetapi pikiran, konsep, kehidupan, bahasa, perilaku, dan tindakan mereka terbatas karena perusakan oleh Iblis. Mereka semuanya orang yang tidak percaya, semua sudut pandang mereka dan semua yang mereka diskusikan berasal dari Iblis, dan apa yang mereka kejar semuanya adalah keinginan jahat dari daging, tidak ada yang sesuai dengan kebenaran. Jika mendengarkan mereka, aku akan jatuh ke dalam rencana jahat Iblis. Aku tidak punya kebenaran dan tidak punya ketajaman berpikir, dan kontak lebih lanjut dengan mereka justru akan membuatku semakin merosot. Aku tidak akan mendapatkan apa-apa darinya, mereka hanya bisa membawaku pada kehancuran. Pada saat itu, aku mendapatkan beberapa pemahaman tentang firman Tuhan: “Semua orang yang tidak percaya serta mereka yang tidak melakukan kebenaran, adalah roh-roh jahat,” tetapi aku tetap belum mengerti sepenuhnya. Belakangan, Tuhan mengatur keadaan yang menunjukkan kepadaku esensi sejati dari ikatan keluarga.

Keluarga kami selalu menjadi tuan rumah kebaktian, dan suatu hari pada tahun 2005, gara-gara laporan seseorang yang jahat, orang tuaku dan beberapa saudara-saudari ditangkap oleh polisi PKT. Untungnya, saudari kandungku selamat setelah nyaris tenggelam saat dia melarikan diri, nyawanya selamat hanya karena Tuhan melindunginya. Orang tuaku dan saudara-saudari di rumah keluargaku ditahan dan didenda, dan semuanya disiksa, semuanya keluar dengan luka-luka. Saat mendengar berita itu, aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku tidak sanggup untuk memenuhi tugasku. Aku berpikir, “Pada saat seperti ini aku harus pulang, apa pun yang terjadi. Orang tuaku telah membesarkan aku, dan sekarang mereka dalam masalah, meskipun aku tidak bisa melakukan apa-apa, setidaknya aku harus ada di sana untuk memeriksa dan menghibur mereka.” Jadi, aku naik kereta pulang dan langsung pergi ke rumah bibiku dari pihak ayah (yang juga percaya kepada Tuhan) untuk menemui orang tuaku. Pada saat aku melihat luka-luka mereka belum sembuh, batinku merasa ngeri, dan air mata mengalir dari mataku. Rasanya seolah-olah orang tuaku telah dipermalukan. Saat itulah orang tuaku memberitahuku: saat melarikan diri dari polisi, saudari kandungku terjun ke sungai (ini terjadi pada bulan Desember, setelah gelap). Airnya setinggi lehernya, dan arus sungainya kuat, tanaman liar ditemukan tersangkut di kaki celananya, sepatunya terjebak di lumpur, dan dia tidak tahu cara berenang. Jadi, menjadi sebuah misteri bagaimana dia bisa selamat. Tuhan pasti secara ajaib melindunginya, jika tidak, akibatnya pasti terlalu mengerikan untuk direnungkan (air yang dalam dan arus yang kuat telah merenggut nyawa seorang pria berusia 40-an beberapa hari sebelumnya). Kemudian, saudari kandungku bersembunyi di rumah seorang saudari yang lebih tua, yang memberi saudariku pakaian ganti sambil menangis saat dia mengeringkan pakaiannya yang basah di atas api, dan merawatnya dengan sangat baik. Beberapa hari setelah itu, dia mengetahui bahwa rumah saudari ini tidak aman lagi, jadi saudari kandungku pergi untuk bersembunyi di rumah bibiku dari pihak ibu. Dia keluar pada siang hari untuk membawa surat ke gereja kami guna memberi tahu pemimpin kami tentang situasi keluargaku, tetapi ketika dia kembali, putri bibiku dari pihak ibu yang lebih muda berkata kepadanya, “Hai, sepupu, mengapa kau kembali? Kukira kau sudah pergi. Kami sudah melipat tempat tidur.” Saudariku menyadari bahwa bibiku dari pihak ibu takut terlibat dan tidak mau membiarkannya tinggal di sana. Jadi, sambil menangis, dia meninggalkan rumah mereka, dan pulang dengan risiko ditangkap, karena dia tidak punya tempat tujuan lain. Setelah orang tuaku dibebaskan, saat mereka mengetahui tentang saudariku yang hampir tenggelam dan bagaimana dia diusir oleh bibiku dari pihak ibu, mereka sangat marah, tetapi bibiku dari pihak ibu, dengan nada meyakinkan bahwa dia benar, menjawab dengan, “Benar, kami takut terlibat. Kalian sendiri yang menyebabkan penangkapan ini. Kalian sudah punya kehidupan yang sangat baik, tetapi kalian malah mengacaukannya, dan sekarang kalian hampir membuat seseorang terbunuh!” Aku tidak pernah membayangkan bahwa kerabat terdekatku, orang-orang terdekatku di masa lalu, pada saat PKT menangkap keluargaku dan hidup mereka dalam bahaya, pada saat mereka paling membutuhkan penghiburan lebih dari segalanya, bisa-bisanya melontarkan kata-kata yang tidak manusiawi atau melakukan hal sekejam itu. Aku menjadi sangat sedih ketika tahu mereka mampu bersikap sedemikian rupa. Tidak satu pun dari orang-orang yang paling kami bantu di masa lalu datang untuk mengunjungi kami atau menghibur kami. Mereka yang memiliki hubungan terbaik dengan kami tidak hanya tidak berbicara kepada orang tuaku ketika mereka bertemu di jalan, mereka juga minggir dari jalur orang tuaku. Beberapa orang yang dahulu mengangguk dan menyapa kami sekarang memunggungi kami dan bergosip tentang kami. Hanya saudara-saudari kami yang datang mengunjungi kami dan bersekutu pada malam hari. Aku tidak pernah percaya keluarga kami bisa sampai pada keadaan sehina ini. Aku lagi-lagi terjebak dalam kepedihan, dan pikiran untuk mengkhianati Tuhan terbersit di hatiku. Kemudian, setelah menerima penyingkapan dari Tuhan, aku mengalami apa yang telah dipersekutukan oleh saudara-saudariku, “Hubungan di antara orang-orang tidak didasarkan pada apa pun selain kepentingan bersama, keluarga dan teman-teman hanya saling membantu satu sama lain atas dasar saling memanfaatkan.” Aku juga teringat kembali pembicaraan orang tuaku tentang apa yang mereka peroleh dari pengalaman mereka saat ditangkap, misalnya: ketika polisi menggunakan cambuk kulit untuk memukuli ayahku, dia berkata dia tidak merasa terlalu sakit, dan bahwa ikat pinggang itu putus menjadi tiga saat mereka memukulnya. Saudariku mengatakan dia tidak merasa takut sama sekali selama pengalamannya, dan meskipun saat itu bulan Desember, dia mengatakan tidak pernah merasa dingin keluar dari air. Tuhan memberinya kekuatan dan kepercayaan diri tambahan. Penangkapan oleh PKT benar-benar membuat iman mereka lebih teguh. Hal itu membuat mereka lebih kuat. Ayahku mengatakan bahwa dia dahulu tidak percaya firman Tuhan tentang bagaimana Tuhan menyingkap kejahatan PKT, kebencian mereka terhadap kebenaran, dan bahwa dia adalah pengagum raja iblis, tetapi kejadian ini menunjukkan kepadanya bahwa PKT hanyalah segerombolan penjahat, bandit yang akan mengambil apa pun di rumah kami yang bernilai uang, dan lebih suka menangkap orang-orang percaya kepada Tuhan yang taat hukum daripada para pembunuh dan pembakar. Aku malu ketika memahami bahwa kita semua hidup di bawah kepemimpinan Tuhan, semua yang kita alami adalah bagian dari kedaulatan dan pengaturan Tuhan, tidak ada orang yang memiliki kekuatan untuk menolong orang lain, kasih sayang keluarga hanya akan membuat kita menjauh dari Tuhan, dan bahwa hal-hal yang dapat dilakukan manusia untuk saling membantu hanya selaras dengan daging, bukan dengan kebenaran. Pemikiran seperti “tidak ingin daging orang tuaku menderita” bukan hanya tidak bermanfaat bagi kehidupan mereka, semua itu tidak membawa manfaat bagi keselamatan mereka. Hanya Tuhan yang tahu apa yang dibutuhkan manusia, dan Dialah yang paling mengasihi manusia. Aku membaca ayat-ayat firman Tuhan yang mengatakan, “Sejak Ia menciptakan dunia, Tuhan telah melakukan banyak pekerjaan yang meliputi vitalitas hidup, yang memberikan kehidupan bagi manusia, dan telah membayar harga yang mahal agar manusia bisa beroleh hidup. Tuhan melakukannya karena Tuhan sendiri adalah hidup yang kekal, dan Tuhan sendirilah jalan kebangkitan bagi manusia. Tuhan tidak pernah menjauh dari hati manusia, dan selalu tinggal di antara manusia. Ia menjadi kekuatan penggerak dalam hidup manusia, landasan eksistensi manusia, dan simpanan yang melimpah bagi eksistensi manusia setelah dilahirkan. Ia menyebabkan manusia dilahirkan kembali, dan memampukan manusia menjalani setiap perannya dengan gigih. Berkat kuasa-Nya, dan kekuatan hidup-Nya yang tidak terpadamkan, manusia telah hidup selama generasi demi generasi, dan selama itulah kuasa kehidupan Tuhan telah menjadi landasan bagi eksistensi manusia, dan karenanya Tuhan telah membayar harga yang tidak pernah dibayarkan oleh manusia biasa mana pun. Kekuatan hidup Tuhan dapat mengatasi kekuatan mana pun, serta melampaui kekuatan lainnya. Kehidupan-Nya kekal, kuasa-Nya menakjubkan, dan kekuatan hidup-Nya tidak mudah ditundukkan oleh makhluk ciptaan atau kekuatan musuh mana pun. Kekuatan hidup Tuhan sungguh nyata, dan memancarkan cahaya terang kapan pun dan di mana pun. Kehidupan Tuhan tetap kekal untuk selama-lamanya melewati pergolakan surga dan bumi. Segala sesuatu akan berlalu, tetapi kehidupan Tuhan tetap bertahan, karena Tuhan adalah sumber eksistensi dari segala sesuatu, dan akar dari segala eksistensi itu. Kehidupan manusia berasal dari Tuhan, surga pun ada karena Tuhan, dan eksistensi bumi berasal dari kekuatan kehidupan Tuhan. Tidak ada satu objek pun yang memiliki vitalitas yang dapat melampaui kedaulatan Tuhan, dan tidak ada apa pun yang cukup kuat untuk melepaskan diri dari jangkauan otoritas Tuhan. Oleh karena itu, siapa pun mereka, semua orang harus tunduk di bawah kekuasaan Tuhan, semua orang harus hidup mematuhi perintah Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang bisa luput dari kendali-Nya” (“Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Melalui firman Tuhan dan kenyataan, aku melihat keluarbiasaan dan kehebatan kekuatan hidup Tuhan, bahwa setiap saat Dia hidup di antara manusia, setiap saat membimbing umat manusia dan menunjukkan kekuatan-Nya, dan bahwa setiap orang hidup dalam pengaturan yang direncanakan oleh Tuhan. Menghadapi firman Tuhan, aku melihat betapa kecilnya diriku dan betapa tidak pentingnya ikatan emosional. Apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi keluargaku? Bukankah Tuhan yang melindungi mereka, merawat mereka, dan menuntun mereka melewati krisis? Bisakah kasih manusia kepada manusia lain lebih besar daripada kasih Tuhan kepada manusia? Pada saat yang sama, firman Tuhan menghakimiku: “Siapa di antaramu yang bisa benar-benar berkorban sepenuhnya bagi-Ku dan mempersembahkan seluruh keberadaan mereka bagi-Ku? Engkau semua setengah hati, pikiranmu berputar-putar, memikirkan rumah, dunia luar, makanan, dan pakaian. Walaupun engkau berada di hadapan-Ku melakukan segala sesuatu bagi-Ku, dalam hatimu engkau masih memikirkan istrimu, anak-anakmu, dan orang tuamu di rumah. Apakah semua ini hartamu? Mengapa engkau tidak memberikannya ke tangan-Ku? Apakah engkau tidak cukup percaya pada-Ku? Atau apakah engkau takut Aku akan membuat pengaturan yang tidak pantas bagimu? Mengapa engkau selalu merindukan rumahmu? Dan merindukan orang-orang lain juga! Apakah Aku menempati posisi tertentu di hatimu? Dan engkau masih berbicara tentang membiarkan Aku memiliki kekuasaan dalam dirimu dan memenuhi seluruh keberadaanmu–itu semua adalah kebohongan yang menipu! Berapa banyak dari antaramu yang mendukung gereja dengan sepenuh hati? Dan siapa di antaramu yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi mendukung kerajaan sekarang? Pikirkan baik-baik hal ini” (“Bab 59, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Aku melihat bahwa apa yang aku pedulikan dalam hatiku tetaplah keluargaku. Oleh karena aku tidak memiliki iman sejati kepada Tuhan, aku masih tidak bisa sepenuhnya memercayakan mereka ke tangan Tuhan. Aku melihat bahwa aku tidak hidup dalam kebenaran, dan meskipun aku melakukan tugas-tugasku di rumah Tuhan, aku sering mengkhawatirkan keluargaku, dan tidak membiarkan Tuhan memenuhi hatiku. Aku tidak bisa menghormati Tuhan di atas semua yang lain dan dengan setia melakukan tugasku. Aku telah dibodohi dan ditindas oleh Iblis. Andaikan hal-hal “malang” ini tidak terjadi padaku, aku tidak akan pernah memahaminya dengan jelas. Sama seperti yang dinyatakan dalam nyanyian pujian firman Tuhan ini, “Berkaitan dengan keadaan kehidupannya, manusia masih harus menemukan kehidupan yang sejati, ia masih belum bisa melihat melalui keadaan dunia yang penuh ketidakadilan, tandus, dan kacau—dan jika bukan karena kedatangan bencana, kebanyakan orang akan masih ada dalam pelukan Ibu Pertiwi dan masih mengabdikan diri mereka sendiri kepada aroma “kehidupan”. Bukankah ini realita kehidupan? Bukankah ini suara keselamatan yang Aku sampaikan kepada manusia? Mengapa, di antara umat manusia, tidak ada seorang pun yang benar-benar mengasihi Aku? Mengapa manusia hanya mengasihi Aku di tengah hajaran dan ujian, tetapi tidak ada yang mengasihi Aku di bawah perlindungan-Ku?” (“Manusia Tidak Tahu Keselamatan Tuhan” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Jika bukan karena apa yang diungkapkan oleh keadaan ini kepadaku, aku tidak akan pernah benar-benar memahami hubungan di antara orang-orang, dan aku tetap akan dikendalikan oleh ikatan keluarga, kasih, dan persahabatan, sangat terjebak dalam mengejar hal-hal ini, tertipu dan dibuat menderita oleh mereka, gembira dalam ketidaktahuanku; selain itu, aku tidak akan pernah menerima kebenaran, tidak akan pernah mengambil jalan hidup yang benar. Keselamatan Tuhanlah yang memungkinkan aku untuk tidak pernah merasakan rasa “hidup” lagi. Saat memahami semua ini, aku memutuskan bahwa aku akan dengan sepenuh hati percaya kepada Tuhan dan mengejar kebenaran untuk membalas kasih Tuhan kepadaku.

Aku sekarang telah melakukan tugasku dalam keluarga Tuhan selama beberapa tahun, dan dalam keluarga Tuhan, aku telah mengalami kasih Tuhan. Di mana pun aku melakukan tugasku, Tuhan selalu ada untuk menjagaku. Aku bergaul dengan saudara-saudariku seakan-akan mereka keluarga sendiri, kami tidak saling memanfaatkan, dan tidak ada pertukaran kepentingan. Saudara-saudariku sangat tulus sehingga bahkan jika kami menunjukkan kerusakan kami satu sama lain di waktu-waktu tertentu, dengan membuka hati kami dan membicarakan pemahaman kami tentang diri kami sendiri, tidak akan ada dendam atau rasa curiga. Kami saling membantu dan menawarkan kasih kepada satu sama lain, semua orang dipandang setara, dan tidak ada yang diperlakukan berbeda karena mereka miskin atau kaya. Aku memiliki masalah kesehatan, sehingga aku sering sakit, tetapi saudara-saudariku sangat perhatian dan merawatku dengan sangat baik, yang membuatku mengalami bahwa bahkan tanpa ikatan darah di antara saudara-saudariku, mereka bisa lebih dekat daripada kerabat. Aku rukun dengan saudara-saudariku, dan dengan bimbingan Tuhan, kami semua mengejar kebenaran dan berusaha untuk melakukan tugas-tugas kami.

Pengalamanku selama bertahun-tahun ini juga telah membantuku berangsur-angsur memahami kehendak Tuhan, serta melihat bahwa pekerjaan yang telah dilakukan Tuhan kepadaku adalah pekerjaan keselamatan dan kasih, firman yang diungkapkan oleh Tuhan adalah kebenaran, tetapi terlebih lagi, itu adalah firman yang menyelamatkan hidup kita. Kebenaran ini telah menjadi kepedulian dan perlindungan terbaik Tuhan bagiku. Jika aku menyimpang dari firman ini atau tidak melihat sesuatu atas dasar yang diberikan oleh firman ini, aku akan merusak diriku sendiri. Aku sangat dirusak oleh Iblis dan tidak dapat memahami secara langsung makna firman Tuhan, sehingga Tuhan mengatur banyak keadaan, orang, masalah, dan berbagai hal, yang dirancang untuk kebutuhanku, untuk memberi manfaat dan menyempurnakan aku, untuk membantuku memahami firman-Nya. Di tengah kesulitan dan ujianku, tanpa disadari aku melihat bahwa firman yang diungkapkan oleh Tuhan ini adalah seluruh kebenaran, bahwa itulah hal-hal yang dibutuhkan oleh umat manusia. Tidak hanya dapat memberikan kehidupan kepada manusia dan memungkinkan manusia menjalani kehidupan manusia normal, firman tersebut juga menunjukkan jalan yang benar dalam hidup, karena Tuhan adalah kebenaran, jalan, dan kehidupan. Firman Tuhan itulah yang membawaku sampai hari ini. Aku bersedia menyimpan firman-Nya sebagai semboyanku, rambu jalan untuk maju, dan panduan untuk bertindak. Meskipun ada banyak kebenaran yang tidak aku pahami, melalui pengejaranku yang terus-menerus akan kebenaran dan dengan memenuhi kewajibanku, Tuhan akan memberiku pencerahan dan penerangan sehingga aku dapat memahami firman-Nya. Masih ada banyak kerusakan dalam diriku yang harus disucikan, dan aku perlu mengalami lebih banyak pekerjaan Tuhan serta penghakiman dan hajaran Tuhan dan juga kesulitan dan pemurnian yang menyertainya. Aku akan berusaha keras untuk mengejar kebenaran. Kesengsaraan atau kesulitan apa pun yang menimpaku di masa depan, aku akan mengikuti Tuhan sampai akhir!

Media Terkait