Tuhan Yang Mahakuasa Memimpinku Menuju Jalan Beroleh Pentahiran

Oleh Gangqiang, AS

Aku datang ke Singapura seorang diri pada tahun 2007 untuk mencoba mencari nafkah. Singapura sangat panas sepanjang tahun, sehingga aku bermandi keringat setiap hari di tempat kerja. Keadaannya sungguh menyedihkan, dan lebih jauh lagi aku berada di suatu tempat yang sama sekali tidak kukenal, tanpa keluarga atau teman—hidup begitu membosankan dan menjemukan. Pada suatu hari di bulan Agustus, aku menerima sebuah selebaran injil di jalan pulang dari tempat kerja yang berbunyi: "Tetapi Tuhan, sumber segala kasih karunia, yang sudah memanggil engkau kepada kemuliaan kekal-Nya dalam Kristus Yesus, setelah engkau menderita sebentar, menjadikanmu sempurna, menegakkan, menguatkan, membuatmu kokoh" (1 Petrus 5:10). Aku merasakan kehangatan dalam hatiku ketika membaca firman ini. Setelah itu, aku pergi ke gereja dengan seorang saudara, di mana sambutan yang antusias dari saudara-saudari, yang menanyakan mengenai keadaanku, membuatku merasakan kehangatan keluarga sudah lama tidak kurasakan. Mataku tiba-tiba sembab dengan air mata—aku merasa seperti aku baru saja pulang ke rumah. Sejak saat itu, setiap hari Minggu pergi ke gereja menjadi sebuah keharusan bagiku.

Aku dibaptis pada bulan Desember itu, untuk secara resmi menapak di jalan iman. Dalam suatu ibadah gereja, aku mendengar pengkhotbah membaca Injil Matius pasal 18 ayat 21-22: "Lalu datanglah Petrus kepada-Nya dan berkata: 'Tuhan, berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia bersalah kepadaku dan aku mengampuninya? Sampai tujuh kali?' Yesus berkata kepadanya, Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, tapi tujuh puluh kali tujuh kali." Ketika mendengar ini, aku berpikir dalam hati: "Bagaimana bisa pengampunan dan kesabaran Tuhan Yesus begitu besar? Dia mengampuni orang tujuh puluh kali tujuh kali. Jika manusia benar-benar bisa melakukan hal ini, tidak akan lagi pertikaian, melainkan hanya ada kasih dan kehangatan!" Aku begitu tergerak oleh firman Tuhan itu, dan aku bertekad untuk bertindak selaras dengan ajaran-Nya.

Dua atau tiga tahun kemudian, bosku memberiku tanggung jawab untuk mengelola sebuah situs konstruksi, sehingga aku mengerahkan segenap energiku untuk pekerjaan itu dan berhenti menghadiri kebaktian serutin sebelumnya. Aku kemudian diperkenalkan oleh seorang teman kepada Bapak Li, seorang pemodal bisnis, dan kami mendirikan sebuah perusahaan konstruksi bersama. Aku sangat senang, dan bertekad untuk benar-benar mencurahkan seluruh upayaku ke dalamnya. Aku kemudian sepenuhnya masuk ke dalam pusaran uang dan sama sekali berhenti pergi ke gereja untuk menghadiri kebaktian. Aku ingin proyek-proyek diselesaikan dengan baik untuk mendapatkan pujian bagi kompetensiku, sehingga aku menjadi semakin menuntut terhadap para pekerjaku. Aku akan menegur mereka setiap kali aku melihat mereka tidak melakukan sesuatu yang benar atau tidak memenuhi persyaratanku. Pemimpin tim sering kali menangis karena teguran kerasku. Para pekerja takut setiap kali mereka melihatku dan bahkan bersembunyi dariku. Bahkan orang yang dulunya adalah teman baik menjadi dingin dan tidak ingin lagi mengobrol denganku. Melihat hal ini membuatku merasa sangat sedih. Tuhan Yesus mengajar kita untuk memaafkan orang lain tujuh puluh kali tujuh kali, dan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Namun demikian, aku sama sekali belum melakukannya, bahkan belum satu kali pun. Bagaimana itu bisa disebut sebagai menjadi seorang Kristen? Aku sadar aku berdosa dan aku sering berdoa kepada Tuhan, mengakui dosaku dan bertobat. Aku bertekad untuk berubah. Namun, setiap kali sesuatu terjadi, meski tidak kuinginkan, aku masih saja berbuat dosa. Aku benar-benar sedih.

Pada bulan Agustus 2015, kami menangguhkan operasi bisnis karena perusahaan tidak berjalan baik, dan aku pulang ke negaraku. Karena merasa putus asa dan sedih, aku minum dan berjudi sepanjang hari. Ketika istriku mengatakan kepadaku aku harus berhenti minum, aku hanya berteriak kepadanya: "Ini uangku, aku menghasilkannya, dan aku akan menghabiskannya semauku ..." Tidak ada yang bisa dilakukannya, sehingga dia hanya terduduk dan menangis. Tiap kali aku membiarkan amarahku meledak, aku merasa amat menyesal dan membenci diriku sendiri, tetapi aku sungguh tidak dapat mengendalikan diriku sendiri. Saat itu, aku sepenuhnya kehilangan semua kepantasan Kristen; perilaku dan tabiatku seluruhnya sama seperti seorang yang tidak percaya.

Dalam kesengsaraan dan ketakberdayaanku, aku kembali ke gereja untuk beribadah lagi. Selama masa itu, aku terus-menerus berdoa kepada Tuhan Yesus: "Ya, Tuhan! Aku telah melakukan begitu banyak hal yang tidak ingin kulakukan, mengatakan begitu banyak hal yang menyakiti orang lain. Aku telah hidup dalam dosa dan memberontak terhadap-Mu. Tiap kali aku berbuat dosa, aku merasa menyesal dan sungguh membenci diriku sendiri, tetapi aku tidak dapat mengendalikan diriku sendiri! Aku mengakui dosa-dosaku pada waktu malam, tetapi kemudian pada waktu siang aku kembali ke cara-caraku yang lama dan berbuat dosa lagi. Ya, Tuhan! Aku mohon kepada-Mu untuk menyelamatkanku, apa yang dapat kulakukan untuk membebaskan diri dari dosa?"

Pada Tahun Baru 2016, aku menjejakkan kaki di tanah Amerika—aku datang ke New York untuk mencari uang. Aku tetap pergi ke gereja pada waktu luangku dan juga bergabung dengan sebuah kelompok doa, membaca Alkitab dan berdoa dengan saudara-saudari lain. Di sana, aku berkenalan dengan seorang saudari bernama Qinglian. Pada suatu hari, Saudari Qinglian meneleponku untuk mengatakan bahwa ada berita baik yang ingin dibagikannya denganku. Aku berkata, "Berita baik apa?" Dia menjawab, "Ada seorang misionaris berkunjung. Apakah engkau ingin mendengar yang dikatakannya?" Aku berkata, "Bagus! Di mana?" Dia kemudian mengaturkan jadwal bagiku untuk pergi ke rumahnya.

Aku pergi ke rumah Saudari Qinglian pada hari itu. Beberapa saudara-saudari lain ada di sana, dan setelah bertemu dan saling bertukar salam, kami semua mulai mendiskusikan Alkitab. Persekutuan Saudari Zhao sangat mencerahkan dan hal itu sungguh membangun kerohanianku. Aku kemudian menceritakan kepadanya mengenai dosa dan pengakuanku yang terus-menerus, dan rasa sengsara karena tidak mampu membersihkan diriku sendiri dari dosa, dan aku mencari bantuannya. Dalam persekutuan, dia mengatakan bahwa bahkan setelah kita mulai percaya pada Tuhan, kita masih berbuat dosa sepanjang waktu, dan bahwa menjalani hidup dalam siklus tanpa akhir di mana kita berdosa di siang hari dan mengaku di malam hari, tidak pernah mampu membersihkan diri kita sendiri darinya, bukanlah persoalan yang menderaku sendiri. Sebaliknya, persoalan ini dialami oleh semua orang yang percaya. Saudari Zhao kemudian meminta kami untuk menonton sebuah video pendarasan firman Tuhan. Beginilah bunyi firman itu: " Jadi, Aku katakan bahwa akal manusia telah kehilangan fungsi aslinya, dan bahwa hati nurani manusia juga telah kehilangan fungsi aslinya. ...Watak manusia harus diubah mulai dari pengetahuan tentang substansinya hingga perubahan dalam pemikiran, sifat, dan pandangan mentalnya—melalui perubahan fundamental. Hanya dengan cara ini perubahan sejati akan dicapai dalam watak manusia. Watak rusak manusia berasal dari Iblis yang meracuni dan menginjak-injaknya, dari bahaya mengerikan yang telah Iblis timbulkan pada pemikiran, moralitas, wawasan, dan akalnya. Justru karena semua hal mendasar manusia ini telah dirusak oleh Iblis, dan sepenuhnya tidak lagi serupa dengan bagaimana Tuhan menciptakan mereka pada awalnya, sehingga manusia menentang Tuhan dan tidak memahami kebenaran. Jadi, perubahan dalam watak manusia harus dimulai dengan perubahan dalam pemikiran, wawasan, dan akalnya yang akan mengubah pengetahuannya tentang Tuhan dan pengetahuannya tentang kebenaran" ("Memiliki Watak yang Tidak Berubah Berarti Memusuhi Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia").

Aku sungguh tergerak, dan berpikir, "Bukankah itu aku yang mereka bicarakan? Aku selalu merendahkan orang lain, mencela mereka karena ini atau meneriaki mereka karena itu. Aku tidak memiliki moralitas dan nalar, dan telah kehilangan jejak kepantasan yang kudus." Firman ini menembusku hingga ke inti diriku. Aku belum pernah membaca sesuatu seperti ini sebelumnya, dan aku juga belum pernah mendengar seorang pengkhotbah menyampaikan khotbah semacam ini. Aku merasa tertekan karena terus-menerus jatuh ke dalam dosa, tetapi masih belum mampu membebaskan diri dari ikatan dosa. Firman ini menunjukkan kepadaku jalan untuk meninggalkan dosa, dan aku takjub: Firman ini sungguh tepat. Siapa yang telah menuliskannya?

Saudari Zhao memberitahuku bahwa ini adalah firman Tuhan, bahwa Tuhan Yesus sudah kembali dalam daging, dan saat ini Dia sedang melakukan pekerjaan penghakiman dan pentahiran manusia melalui firman-Nya pada akhir zaman. Aku benar-benar tidak berani memercayai telingaku sendiri. Orang percaya mana yang tidak merindukan kedatangan-Nya kembali? Secara tiba-tiba mendengar berita tentang kembalinya Tuhan ini, aku merasa begitu senang sehingga aku agak bingung: Sungguhkah Tuhan telah kembali? Dengan bersemangat, aku memintanya untuk melanjutkan persekutuannya. Saudari Zhao berkata: “Tuhan Yesus sungguh telah kembali dan Dia adalah Tuhan Yang Mahakuasa—Kristus yang berinkarnasi pada akhir zaman. Dia telah mengungkapkan semua kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan manusia, dan telah memulai pekerjaan penghakiman diawali dengan rumah Tuhan. Dia akan sepenuhnya menyelamatkan kita dari wilayah kekuasaan Iblis, yang telah terikat oleh sifat jahat dan hidup dalam dosa yang darinya kita tidak dapat melepaskan diri kita sendiri. Akhirnya, kita akan mencapai keselamatan penuh dan didapatkan oleh Tuhan. Di Zaman Kasih Karunia, Tuhan Yesus hanya melakukan pekerjaan penebusan; Dia menebus kita dari dosa dan mengampuni dosa-dosa kita sehingga kita tidak lagi dihukum di bawah hukum Taurat. Walaupun Tuhan telah mengampuni dosa-dosa kita, Dia tidak memaafkan sifat jahat kita atau watak jahat kita. Keangkuhan, kelicikan, keegoisan, keserakahan, kedengkian, dan watak-watak rusak lain masih ada di dalam diri manusia. Semuanya ini adalah hal yang tertanam lebih dalam dan yang lebih membandel daripada dosa. Oleh karena watak-watak jahat dan sifat jahat ini belum terselesaikan, kita terus berdosa betapa pun kita tak menginginkannya, dan kita bahkan berbuat dosa yang lebih serius daripada melanggar hukum. Sedangkan orang-orang Farisi pada masa itu, bukankah alasan mengapa mereka menolak dan mengutuk Tuhan, sampai titik di mana mereka bahkan menyalibkan-Nya, adalah sifat berdosa manusia yang belum terselesaikan? Sebenarnya, kita semua memiliki apresiasi yang dalam terhadap hal ini karena kita sendiri dikendalikan oleh watak-watak yang jahat ini. Maka, kita sering berdusta, bertindak dengan licik, angkuh dan sombong, dan mencerca orang lain dengan cara yang merendahkan. Kita tahu dengan jelas bahwa Tuhan menuntut agar kita memaafkan orang lain dan mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, tetapi kita tidak melakukan hal ini. Orang berkomplot untuk saling menjatuhkan, berebut kemasyhuran dan kekayaan, dan tidak mampu berhubungan dengan harmonis. Ketika menderita sakit, atau tertimpa bencana alam atau malapetaka akibat perbuatan manusia, kita masih menyalahkan Tuhan, dan kita bahkan mengingkari atau mengkhianati Tuhan. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa jika kita tidak menyelesaikan sifat jahat kita dan watak-watak jahat kita, kita tidak akan pernah mampu membebaskan diri dari siklus berbuat dosa dan mengakuinya, kemudian mengakuinya dan berbuat dosa lagi. Karena itu, untuk sepenuhnya menyelamatkan manusia dari dosa, Tuhan perlu melakukan tahapan pekerjaan penghakiman dan pentahiran-Nya untuk menyelesaikan sifat kita yang penuh dosa. Inilah satu-satunya cara kita dapat disucikan dan sepenuhnya diselamatkan oleh Tuhan, dan didapatkan oleh-Nya. Marilah kita baca beberapa kutipan terpilih dari firman Tuhan Yang Mahakuasa dan kau akan mengerti."

Saudari Zhao membuka kitab firman Tuhan dan mulai membaca: "Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Meskipun Yesus melakukan banyak pekerjaan di antara manusia, Ia hanya menyelesaikan penebusan seluruh umat manusia dan menjadi korban penghapus dosa manusia, tetapi tidak melepaskan manusia dari wataknya yang rusak. Menyelamatkan manusia sepenuhnya dari pengaruh Iblis tidak hanya membuat Yesus harus menanggung dosa manusia sebagai korban penghapus dosa, tetapi juga membuat Tuhan wajib melakukan pekerjaan yang lebih besar untuk melepaskan manusia dari wataknya yang telah dirusak Iblis" (Prakata, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). "Dosa manusia diampuni karena pekerjaan penyaliban Tuhan, tetapi manusia tetap hidup dalam watak lama Iblis yang rusak. Dengan demikian, manusia harus sepenuhnya diselamatkan dari watak rusak Iblis sehingga sifat dosa manusia sepenuhnya dibuang dan tidak akan pernah lagi berkembang, sehingga memungkinkan watak manusia berubah. Hal ini mengharuskan manusia memahami jalan pertumbuhan dalam kehidupan, jalan hidup, dan cara untuk mengubah wataknya. Hal ini juga mengharuskan manusia untuk bertindak sesuai dengan jalan ini sehingga watak manusia dapat secara bertahap diubahkan dan ia dapat hidup di bawah cahaya terang, sehingga segala sesuatu yang ia lakukan sesuai dengan kehendak Tuhan, sehingga ia dapat membuang watak rusak Iblisnya, dan supaya dia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kegelapan Iblis, sehingga ia pun benar-benar lepas dari dosa. Hanya dengan begitu, manusia akan menerima keselamatan yang lengkap" ("Misteri Inkarnasi (4)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Saudari Zhao mengatakan dalam persekutuan: "Setelah kita membaca firman Tuhan ini, kita memahami mengapa kita selalu terikat oleh sifat jahat kita dan tidak mampu membersihkan diri kita sendiri dari dosa, betul? Selama Zaman Kasih Karunia, Tuhan hanya melakukan pekerjaan penebusan, bukan pekerjaan akhir zaman untuk menghakimi, mentahirkan, dan sepenuhnya menyelamatkan manusia. Maka, tidak peduli bagaimanapun kita mengakui dosa-dosa kita dan bertobat, bagaimanapun kita berusaha menaklukkan diri kita sendiri, bagaimanapun kita berpuasa dan berdoa, kita tidak akan mampu mencapai kemerdekaan dari dosa. Itu berarti bahwa jika kita ingin membebaskan diri dari ikatan dan kendali sifat kita yang penuh dosa, mengalami pekerjaan penebusan Tuhan Yesus saja tidaklah cukup. Kita harus menerima pekerjaan penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan Yesus yang kembali. Ini karena dengan melakukan pekerjaan penghakiman akhir zaman-Nya, Tuhan menyampaikan banyak aspek kebenaran untuk menghakimi serta mengungkap sifat jahat manusia yang menentang dan mengkhianati Tuhan. Dia menyingkapkan watak Tuhan yang benar, kudus, dan tak bisa diganggu gugat, memungkinkan umat manusia untuk dengan jelas melihat kebenaran tentang kerusakannya sendiri yang parah oleh Iblis melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan, untuk sungguh-sungguh mengenal watak Tuhan yang benar yang tidak membiarkan pelanggaran manusia, untuk mengembangkan suatu hati yang takut akan Tuhan, dan dengan demikian mengubah dan menyucikan watak jahat manusia serta menyelamatkan manusia dari pengaruh Iblis. Dalam penghakiman dan hajaran Tuhan yang megah dan penuh murka, kita melihat Tuhan seakan-akan bertatap muka—kita melihat cahaya yang amat benderang memancar dari langit. Seperti pedang bermata dua, firman Tuhan menembus hati kita, menyingkapkan sifat jahat kita yang menentang dan mengkhianati Tuhan dan bahkan watak rusak kita di lubuk hati kita yang terdalam yang kita sendiri tidak mungkin menemukannya. Firman Tuhan membuat kita menyadari bahwa esensi sifat kita dipenuhi dengan watak-watak jahat seperti keangkuhan, kesombongan, keegoisan, kehinaan, kelicinan, dan kelicikan, bahwa kita benar-benar tidak memiliki keserupaan sedikit pun dengan manusia, dan sepenuhnya merupakan penjelmaan Iblis. Baru saat itulah kita tersungkur di hadapan Tuhan, mulai membenci dan mengutuk diri kita sendiri. Pada waktu yang sama, kita juga menyadari secara mendalam bahwa semua firman Tuhan adalah kebenaran, semuanya adalah pernyataan watak Tuhan serta apakah kehidupan Tuhan itu. Kita melihat bahwa watak Tuhan yang benar tidak membiarkan pelanggaran, dan bahwa esensi Tuhan yang kudus tidak bisa dinodai. Hasilnya adalah berkembangnya suatu hati yang penuh hormat kepada Tuhan; kita mulai mencari kebenaran dengan segenap kemampuan kita dan berperilaku menurut firman Tuhan. Seiring dengan semakin bertambahnya pemahaman kita akan kebenaran, kita akan semakin mengerti tentang sifat dan watak jahat kita, dan memperoleh ketajaman yang semakin besar. Pengetahuan kita akan Tuhan juga akan meningkat. Watak-watak batin kita yang rusak akan secara pelan-pelan ditahirkan dan kita akan dibebaskan dari belenggu dosa. Kita akan memperoleh kebebasan sejati dan hidup dengan bebas di hadapan Tuhan. Inilah persisnya hasil yang dicapai dalam diri umat manusia melalui pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Karenanya, bisa dilihat bahwa pekerjaan ‘penebusan’ pada Zaman Kasih Karunia dan pekerjaan ‘pembersihan manusia dari dosa’ pada akhir zaman adalah dua tahapan pekerjaan yang berbeda. ‘Penebusan’ semata-mata adalah Tuhan Yesus memikul dosa sebagai pengganti manusia dan memungkinkan manusia terbebas dari hukuman yang semestinya mereka tanggung karena dosa-dosa mereka. Namun, itu tidak berarti bahwa manusia tanpa dosa, apalagi bahwa mereka tidak akan pernah berbuat dosa lagi atau bahwa mereka akan sepenuhnya disucikan. Sementara ‘pembersihan manusia dari dosa’ berarti sepenuhnya mengungkap sifat umat manusia yang penuh dosa sehingga kita dapat hidup dengan tidak mengandalkan sifat rusak kita lagi, sehingga kita dapat mencapai suatu perubahan dalam watak kehidupan kita dan menjadi disucikan sepenuhnya. Karena itu, hanya dengan menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman watak-watak kita yang rusak dapat sepenuhnya diperbaiki, kita dapat membersihkan diri kita sendiri dari pengaruh Iblis dan diselamatkan, dituntun ke dalam kerajaan Tuhan dan memperoleh janji dan berkat Tuhan."

Setelah mendengar firman Tuhan dan persekutuan para saudari, aku merasa bahwa hal itu sepenuhnya sejalan dengan realitas dan sangat praktis. Aku teringat kembali pada tahun-tahunku sebagai seorang beriman: Aku tidak hanya sering berdusta dan berbuat curang, tetapi aku juga angkuh dan tanpa kendali, kasar dan tidak masuk akal, serta degil. Orang yang bekerja denganku takut kepadaku dan terus menjaga jarak dariku, dan bahkan di rumahku sendiri istri dan putriku sedikit takut kepadaku. Tidak seorang pun ingin membuka diri kepadaku dan aku bahkan tidak memiliki seorang sahabat dekat untuk menjadi tempatku bercerita. Itu menyakitkan dan aku merasa tak berdaya. Walaupun aku sering membaca Alkitab dan berdoa, mengakui dosa-dosaku kepada Tuhan, dan bahkan merasa jijik pada diriku sendiri, aku terus melakukan hal-hal mengerikan yang sama. Aku sama sekali tidak bisa mengubah diriku sendiri. Seseorang sepertiku yang terus-menerus berbuat dosa dan menentang Tuhan sangat membutuhkan pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman! Tuhan Yesus kini sudah kembali—Dia adalah Tuhan Yang Mahakuasa yang berinkarnasi. Hari ini, setelah diberi kesempatan untuk mendengar suara Tuhan dan untuk mengetahui bahwa Tuhan Yesus telah datang lagi untuk menyampaikan kebenaran dan melaksanakan pekerjaan penghakiman, pentahiran, dan penyelamatan manusia, aku benar-benar merasa sangat beruntung! Saudari itu melihat bahwa aku dipenuhi dengan kerinduan, maka dia memberiku sebuah salinan dari kitab yang berisi firman Tuhan: Domba-domba Tuhan mendengarkan suara Tuhan. Aku menerimanya dengan gembira dan bertekad untuk sungguh-sungguh melakukan imanku kepada Tuhan Yang Mahakuasa!

Aku membaca banyak firman Tuhan setelah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Aku membaca mengenai tiga tahapan pekerjaan Tuhan, misteri inkarnasi, makna nama Tuhan dan kisah sebenarnya di balik Alkitab, dan juga bagaimana para pemenang dibentuk, bagaimana kerajaan Kristus diwujudkan, bagaimana kesudahan dan tempat tujuan akhir dari tiap-tiap jenis orang akan ditentukan, serta aspek-aspek lain dari kebenaran, secara bertahap memperoleh pemahaman tentang hal-hal itu. Aku juga memperoleh iman yang lebih besar pada Tuhan.

Pada awalnya, ketika aku membaca firman Tuhan yang menghakimi dan mengungkap manusia dengan begitu keras, aku merasa tertekan dan tidak nyaman dan memiliki beberapa gagasan tentangnya; aku merasa firman Tuhan terlalu keras. Tidak bisakah Dia sedikit lebih lembut? Jika Tuhan menghakimi secara demikian, tidakkah itu berarti manusia dikutuk? Bagaimana manusia lalu bisa benar-benar diselamatkan? Kemudian, aku membaca dalam firman Tuhan: "Di akhir zaman, Kristus menggunakan berbagai kebenaran untuk mengajar manusia, mengungkapkan hakikat manusia, dan membedah kata-kata dan perbuatan-perbuatannya. Firman ini terdiri dari berbagai kebenaran, seperti tugas-tugas manusia, bagaimana manusia harus menaati Tuhan, bagaimana setia kepada Tuhan, bagaimana hidup dalam kemanusiaan yang normal, serta hikmat dan watak Tuhan, dan lain-lain. Firman ini semuanya ditujukan pada hakikat manusia dan wataknya yang rusak. Secara khusus, firman yang mengungkapkan bagaimana manusia menolak Tuhan diucapkan karena manusia merupakan perwujudan Iblis dan kekuatan musuh yang melawan Tuhan. Dalam melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya, Tuhan bukannya begitu saja menjelaskan tentang sifat manusia hanya dengan beberapa kata. Dia menyingkapkannya, menanganinya, dan memangkasnya sekian lama. Cara-cara penyingkapan, penanganan, dan pemangkasan ini tidak bisa digantikan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan kebenaran yang tidak dimiliki oleh manusia sama sekali. Hanya cara-cara seperti ini yang dianggap penghakiman, hanya melalui penghakiman jenis ini manusia bisa ditundukkan dan diyakinkan sepenuhnya untuk tunduk kepada Tuhan, dan bahkan memperoleh pengenalan yang sejati akan Tuhan" ("Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Jadi melalui apa kesempurnaan manusia bisa dicapai? Melalui watak-Nya yang benar. Watak Tuhan terutama terdiri dari kebenaran, murka, keagungan, penghakiman, dan kutukan. Penyempurnaan-Nya akan manusia terutama dicapai melalui penghakiman. Sejumlah orang tidak paham, dan bertanya mengapa Tuhan hanya bisa menjadikan manusia sempurna melalui penghakiman dan kutukan. Mereka berkata. 'Jika Tuhan mengutuk manusia, bukankah manusia akan mati? Jika Tuhan menghakimi manusia, bukankah manusia akan terhukum? Lalu bagaimana ia masih bisa disempurnakan?' Demikianlah perkataan orang yang tidak mengenal pekerjaan Tuhan. Yang Tuhan kutuk adalah ketidaktaatan manusia, dan yang dihakimi-Nya adalah dosa-dosa manusia. Walaupun Dia berbicara dengan keras, dan tanpa memperhatikan perasaan sedikit pun, Dia mengungkapkan segala sesuatu yang ada di dalam diri manusia, dan melalui perkataan yang keras ini Dia mengungkapkan apa yang penting di dalam diri manusia. Namun, melalui penghakiman seperti itu, Dia memberi manusia pengetahuan yang besar akan hakikat kedagingan, dan dengan demikian manusia tunduk kepada ketaatan di hadapan Tuhan. Daging manusia itu berdosa, berasal dari Iblis, tidak taat, dan merupakan sasaran hajaran Tuhan—jadi, untuk memungkinkan manusia mengenal dirinya sendiri, perkataan penghakiman Tuhan harus dijatuhkan atasnya dan harus digunakan berbagai jenis pemurnian; barulah saat itu pekerjaan Tuhan bisa efektif" ("Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Dari firman Tuhan, aku menyadari bahwa Tuhan melaksanakan pekerjaan penghakiman-Nya pada akhir zaman dengan cara menyampaikan kebenaran, dan bahwa Dia secara keras menghakimi, menyingkapkan, dan mengutuk watak manusia yang rusak, sifatnya yang jahat, dan perbuatan-perbuatan tercelanya yang menentang Tuhan. Tuhan melakukan ini agar kita secara jelas menyadari kebenaran dari kerusakan kita sendiri, secara menyeluruh memahami esensi dari watak kita yang rusak, dan mengetahui sifat jahat kita sendiri serta sumber dari kerusakan kita. Ini adalah satu-satunya jalan kita dapat mengingkari diri kita sendiri dan meninggalkan daging. Selain itu, hanya karena Tuhan menunjukkan watak-Nya yang benar, megah, dan penuh murka melalui penghakiman dan hajaran-Nyalah kita dapat melihat kebenaran dan kekudusan-Nya, dan juga dengan jelas menyadari kenajisan, keburukan, dan kekejian kita sendiri. Tuhan juga melakukan ini sehingga kita bisa mengetahui sifat jahat kita sendiri dan kebenaran dari kerusakan ini. Jika Tuhan tidak menghakimi manusia dengan begitu keras, jika Tuhan tidak mengungkap kerusakan manusia dengan menembak tepat ke inti masalah, dan jika Dia tidak menyingkapkan watak-Nya yang benar dan megah, kita manusia, yang telah begitu dalam dirusak oleh Iblis, tidak akan mampu merenung tentang diri kita sendiri atau mengenal diri kita sendiri. Kita tidak akan mampu mengenal kebenaran tentang kerusakan kita sendiri atau sifat jahat kita. Jika demikian keadaannya, bagaimana kita dapat membersihkan diri kita sendiri dari sifat kita yang penuh dosa dan disucikan? Dari hasil-hasil yang didapat oleh firman Tuhan yang keras, kita dapat melihat bahwa yang tersembunyi di baliknya adalah kasih Tuhan yang sejati akan manusia dan upaya-Nya yang sungguh-sungguh untuk menyelamatkan manusia. Semakin aku membaca firman Tuhan, semakin aku merasa betapa menakjubkannya pekerjaan penghakiman Tuhan. Pekerjaan Tuhan begitu praktis! Hanya penghakiman Tuhan yang keras dapat menyucikan, mengubah, dan menyelamatkan manusia. Pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zamanlah yang sungguh-sungguh kita butuhkan!

Karena sifatku yang arogan dan merasa paling benar, ketika berbicara kepada orang lain aku sering menggurui mereka dengan cara yang merendahkan, dan di dalam tindakan-tindakanku aku semauku sendiri. Aku selalu senang bila orang lain mendengarkan aku dan cenderung untuk pamer. Beberapa kali dalam kebaktian, aku memberi persekutuan tentang bagaimana aku telah menangani berbagai persoalan dalam unit kerjaku, bagaimana aku mengomeli staf yang tidak mengikuti instruksi dan membuat mereka patuh, dan juga bagaimana istri dan putriku melakukan apa yang kukatakan kepada mereka. Khususnya, ketika aku berbagi persekutuan tentang firman Tuhan, aku akan mengatakan hal-hal seperti, "Aku yakin bacaan firman Tuhan ini berarti ini," dan "inilah yang kupikirkan." Seorang saudara melihat bahwa aku selalu menyingkapkan watak yang angkuh dan merasa paling benar tanpa aku menyadarinya sendiri. Dia menunjukkan hal ini kepadaku dalam suatu kebaktian, sembari mengatakan bahwa berbicara dan bertindak dengan cara ini merupakan ungkapan keangkuhan, perasaan sebagai yang paling benar, dan ketidakmasukalan. Jika seseorang menyampaikan kepadaku dengan cara seperti itu di masa lalu, dan di depan begitu banyak orang, aku pasti akan membela diriku dan menolak mereka mentah-mentah. Namun pada waktu itu, aku memilih untuk diam tanpa mendebat atau membela diriku sendiri, sebab firman dari "Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk ke dalam Kehidupan" ini terlintas di benakku: "Jika engkau selalu mengatakan 'aku pikir' ketika berhadapan dengan subjek apa pun, baiklah, hal yang terbaik adalah engkau melepaskan opinimu. Aku mendesakmu untuk melepaskan opinimu dan mencari kebenaran. Lihatlah apa yang dikatakan oleh firman Tuhan. 'Opini'-mu bukanlah kebenaran! ... Engkau terlalu angkuh dan merasa paling benar! Di hadapan kebenaran, engkau bahkan tidak dapat melepaskan dan mengingkari pemahaman dan ilusimu sendiri. Engkau tidak mau mematuhi Tuhan sedikit pun! Dari antara mereka yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan sungguh-sungguh memiliki hati yang menghormati Tuhan, siapa yang masih berkata 'aku pikir'? Perkataan ini sudah dihapuskan. Perkataan ini menyatakan watak jahat." Persekutuan ini mengingatkanku bahwa, setiap kali aku menghadapi suatu masalah, kata-kata seperti "aku rasa", "aku yakin", dan "aku percaya" biasanya ada di bibirku, selalu dimulai dengan kata "aku", dan diriku sendiri selalu menjadi penentu akhir dari segala sesuatu. Aku percaya bahwa aku dapat memahami semuanya sendiri, dan dapat menangani berbagai persoalan. Aku selalu memaksa orang lain melakukan apa yang kukatakan dan mematuhiku. Dengan selalu memandang diriku sendiri dengan begitu tinggi, tidakkah hal itu dengan tepat menyingkapkan suatu watak yang angkuh? Apa yang saudara itu katakan kepadaku, ketika dia menunjukkan watakku, benar semata, dan aku seharusnya menerimanya. Hal-hal yang aku yakini timbul dari gagasan dan imajinasiku, itu semua berasal dari Iblis, dan pastinya bukan kebenaran. Aku berpikir tentang bagaimana aku selalu bertingkah laku seakan-akan aku adalah nomor satu, entah di rumah, di tempat kerja, atau di antara para sejawatku. Jika seseorang tidak mendengarkan aku atau melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan pandanganku, aku akan marah dan mengusir mereka. Fakta bahwa aku sanggup menyingkapkan hal-hal ini berarti bahwa tidak ada tempat bagi Tuhan di hatiku, bahwa aku tidak menghormati Tuhan sebagai yang agung, tetapi sebaliknya menganggap diriku sendiri sebagai yang agung. Seperti itulah biasanya aku berbicara dan bertingkah laku, yang menunjukkan suatu watak yang luar biasa angkuh yang kumiliki!

Aku kemudian membaca firman Tuhan itu: "Jika engkau benar-benar memiliki kebenaran di dalam dirimu, jalan yang engkau tempuh akan secara alami menjadi jalan yang benar. Tanpa kebenaran, adalah mudah untuk melakukan kejahatan, dan engkau akan melakukannya meskipun engkau sendiri tidak mau. Misalnya jika engkau memiliki kecongkakan dan kesombongan dalam dirimu, tidak mungkin bagimu untuk tidak menentang Tuhan, sebaliknya, engkau akan membuat dirimu menentang Dia. Engkau tidak akan melakukannya dengan sengaja; engkau akan melakukannya di bawah dominasi sifatmu yang congkak dan sombong. Kecongkakan dan kesombonganmu akan membuatmu memandang rendah Tuhan, membuatmu melihat Tuhan tidak penting, membuatmu meninggikan diri sendiri, membuatmu selalu menonjolkan diri dan pada akhirnya membuat dirimu duduk di tempat Tuhan dan menjadi saksi bagi dirimu sendiri. Pada akhirnya engkau akan membuat gagasan, pemikiran dan pemahamanmu sendiri menjadi kebenaran yang harus disembah. Lihatlah betapa banyak kejahatan yang dilakukan manusia di bawah dominasi sifat mereka yang congkak dan sombong! Untuk bisa mengatasi perbuatan jahatnya, seseorang harus terlebih dahulu mengatasi masalah dalam sifat mereka. Tanpa perubahan dalam watak, tidak mungkin untuk mengatasi masalah ini secara fundamental" ("Hanya dengan Mengejar Kebenaran Engkau Dapat Mengalami Perubahan dalam Watakmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Setiap firman yang diucapkan oleh Tuhan adalah kebenaran—aku sepenuhnya yakin. Aku terpikir pada bagaimana aku biasa menggurui orang lain dengan sikap yang merendahkan di situs konstruksi, di antara sejawatku, dan ketika aku ada di rumah. Semuanya ini adalah diriku yang dikuasai oleh sifatku yang jahat, angkuh; itu terjadi bukan karena aku seorang pemarah, atau karena aku seorang yang bertabiat buruk atau kurang bisa mengendalikan diri. Aku percaya bahwa diriku memiliki kualitas dan talenta dan kemampuan menghasilkan uang yang baik, sehingga aku menganggap diriku sendiri lebih baik daripada orang lain. Aku memandang rendah semua orang lain, aku berpikir bahwa aku lebih baik daripada semua orang lain dan selalu mendominasi orang lain. Hal-hal ini memperkuat keangkuhanku dan menjadi aturan umum dari hidupku. Aku telah menemukan sumber dosaku dan telah menyadari konsekuensi-konsekuensi yang membahayakan jika aku membiarkan watakku yang jahat dan rusak tak terselesaikan. Karena itu, aku berusaha untuk mencari dan membaca banyak firman Tuhan yang menghakimi dan mengungkap sifat angkuh manusia, dan membandingkan diriku sendiri dengannya. Melalui firman penghakiman dan penyingkapan Tuhan dan juga melalui persekutuan saudara-saudari dalam kebaktian, aku mulai memperoleh suatu pemahaman yang dangkal mengenai sifatku sendiri yang angkuh. Aku melihat bahwa aku sebenarnya tidak lebih baik daripada semua orang lain, dan bahwa semua kemampuan dan kekayaanku adalah anugerah Tuhan, sehingga aku tak punya apa pun untuk kubangga-banggakan. Jika Tuhan tidak telah menganugerahkan hikmat dan kecerdasan kepadaku, jika Tuhan tidak memberkatiku, apa yang bisa kulakukan dengan hanya mengandalkan diriku sendiri? Ada begitu banyak orang yang berbakat di dunia; mengapa mereka bekerja keras dan membanting tulang sepanjang hidup mereka hanya untuk berakhir dengan tangan kosong? Aku juga menemukan jalan untuk mengatasi sifat angkuhku di dalam firman Tuhan, yaitu dengan lebih terbuka untuk dipangkas dan ditangani oleh saudara-saudari, lebih terbuka pada penghakiman, hajaran, ujian dan pemurnian oleh Tuhan, merenungkan tentang diriku sendiri dalam terang firman Tuhan, mencapai pengetahuan tentang diri sendiri dan rasa benci pada diri sendiri yang sejati, dan untuk tidak lagi bertindak menurut watak jahatku tetapi bertindak sejalan dengan firman Tuhan. Aku kemudian mengalami banyak kejadian di mana aku dihakimi dan dihajar, dipangkas dan ditangani, dan aku mengalami banyak kemunduran dan kegagalan. Pengetahuanku akan sifat jahatku dan esensi rusakku secara bertahap semakin dalam, dan aku juga memperoleh pemahaman yang dangkal akan kebesaran, kebenaran, dan kekudusan Tuhan. Semakin aku mengenal kebenaran dan kekudusan Tuhan, semakin aku menyadari kenajisan, kehinaan, dan betapa tidak berarti dan memprihatinkannya diriku. Hal-hal yang sebelumnya kupikir penting atau telah kubangga-banggakan, kemudian kuanggap bahkan tak layak untuk disebut. Tanpa kusadari, watakku yang angkuh mulai berubah. Siapa pun yang mengatakan sesuatu yang benar—saudara-saudari, sejawatku, atau keluargaku—aku mau menerimanya. Aku tidak lagi berbicara kepada orang lain dengan merendahkan, tetapi bertindak dengan rendah hati dan aku tidak lagi bertindak semau-mauku sendiri. Setiap kali timbul masalah, aku akan mendiskusikannya dengan orang lain dan aku mau bertindak menurut saran yang benar dari siapa pun. Secara pelan-pelan, relasiku dengan orang-orang di sekitarku mulai menjadi normal. Aku merasakan damai dan sukacita dalam hatiku, dan aku merasa bahwa aku akhirnya hidup dengan sedikit keserupaan dengan manusia.

Dengan secara teratur membaca firman Tuhan dan menghayati hidup gereja, aku semakin merasa betapa menyenangkannya bahwa aku mampu menerima pekerjaan penghakiman Tuhan pada akhir zaman. Aku sungguh mengalami bahwa aku tidak akan menemukan cara untuk mengatasi watakku yang rusak sendiri. Hanya melalui penghakiman dan hajaran firman Tuhan, secara bertahap aku telah diubah dan ditahirkan. Dalam Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, aku melihat banyak saudara-saudari yang bekerja keras untuk mencari kebenaran, dan menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan Yang Mahakuasa. Setiap kali seseorang menyingkapkan kerusakan, yang lain menunjukkannya dan semua orang membantu satu sama lain. Kami semua merenung mengenai diri kami sendiri dan mengenali diri kami dalam terang firman Tuhan, dan kami mencari kebenaran untuk menyelesaikan kerusakan kami. Setiap orang berlatih untuk menjadi orang yang jujur dan murni dan terbuka; kami menerima dan tunduk pada persekutuan apa pun yang sejalan dengan kebenaran dan watak kami yang rusak pun semakin berubah. Firman Tuhan Yang Mahakuasa sungguh dapat memurnikan dan mengubah orang. Tuhan yang berinkarnasi telah datang di antara kami, Dia secara pribadi mengungkapkan firman-Nya untuk menghakimi dan memurnikan kami, dan Dia menuntun kami untuk meninggalkan dosa dan sepenuhnya diselamatkan—kami begitu beruntung! Ketika memikirkan tentang orang-orang percaya sejati yang menantikan kedatangan-Nya kembali dengan tidak sabar, yang rindu untuk membebaskan diri dari belenggu dosa dan ditahirkan, tetapi masih hidup dalam kesengsaraan, tanpa jalan untuk diikuti, aku berdoa kepada Tuhan dan membuat tekad: "Aku ingin mengkhotbahkan injil kerajaan-Mu kepada orang lain sehingga mereka bisa sepertiku, mengikuti jejak-Mu dan melangkah di jalan menuju penyucian dan keselamatan penuh!"

media terkait