Penganiayaan dan Penderitaan Membuatku Jauh Lebih Mengasihi Tuhan

Oleh Saudari Liu Zhen, Provinsi Shandong

Namaku Liu Zhen. Aku berusia 78 tahun dan hanya seorang Kristen biasa di Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Aku berterima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena telah memilihku, seorang wanita tua dari desa yang biasa-biasa saja di mata dunia. Setelah menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman, setiap hari aku berdoa kepada Tuhan, mendengarkan pembacaan firman-Nya, dan pergi ke pertemuan dan bersekutu dengan saudara-saudariku, dan lambat laun, aku mulai memahami beberapa kebenaran dan memiliki pemahaman yang jelas tentang hal-hal tertentu. Aku merasa dipenuhi dengan sukacita dan hidup dengan kebahagiaan yang belum pernah kualami sebelumnya. Karena sudah tua dan sulit berjalan, aku tidak dapat meninggalkan rumah untuk menghadiri pertemuan-pertemuan gereja, jadi karena kepedulian terhadapku, saudara-saudariku mengadakan pertemuan di rumahku. Mereka tidak pernah melewatkan pertemuan karena musim dingin atau musim panas; angin, hujan, dan salju tidak pernah menghentikan mereka untuk datang mengunjungi dan merawatku, yang hanya seorang wanita tua. Terutama ketika kami membaca firman Tuhan, jika ada sesuatu yang tidak kumengerti, mereka akan selalu dengan sabar bersekutu denganku tentang hal itu, dan tidak pernah mengabaikan atau merendahkanku. Aku sangat tersentuh oleh hal ini, karena jika bukan karena kasih Tuhan, siapa yang akan menunjukkan kesabaran dan kasih sayang seperti itu kepadaku? Dalam interaksiku dengan saudara-saudariku, aku melihat bahwa mereka sangat berbeda dari orang awam. Apa yang mereka hidupi adalah toleransi dan kasih, dan mereka mampu membuka hati dan memperlakukan satu sama lain dengan tulus, tanpa pembatas atau jarak di antara mereka. Mereka sedekat keluarga, dan ini membuatku merasa jauh lebih yakin tentang pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa. Saat aku mulai memahami lebih banyak kebenaran, aku menyadari bahwa aku harus memenuhi tugasku sebagai makhluk ciptaan, jadi aku memberi tahu gereja bahwa aku ingin menerima tugas. Namun, karena usia menghalangiku untuk melakukan sebagian besar tugas, gereja memberiku tugas menyelenggarakan pertemuan di rumahku. Aku menerimanya, bersyukur kepada Tuhan karena menugasiku sesuai kemampuanku. Maka, aku bergaul dengan saudara-saudariku dengan sangat baik dan merasakan kelegaan luar biasa dalam raga maupun pikiran. Beberapa penyakit yang selama ini kuderita juga mulai membaik, dan karenanya aku semakin bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas kasih karunia dan rahmat-Nya.

Namun, masa-masa indah itu tidak berlangsung lama, karena aku dan saudara-saudariku di desa dilaporkan oleh seseorang yang jahat. Semua saudara-saudariku ditangkap oleh polisi, dan mereka memerintahkan sekretaris Partai desa untuk membawaku ke kantor polisi. Begitu tiba di sana, polisi bertanya kepadaku, "Bagaimana kau bisa percaya kepada Tuhan? Mengapa kau percaya kepada Tuhan?" Aku berkata, "Percaya kepada Tuhan adalah prinsip yang tidak bisa diubah. Dengan membaca firman Tuhan setiap hari, kita dapat memahami banyak kebenaran, menjadi orang baik sesuai firman Tuhan, dan menempuh jalan yang benar dalam hidup. Orang yang percaya kepada Tuhan tidak memukul atau mengutuk orang lain, dan kami selalu mematuhi hukum. Jadi, apa salahnya percaya kepada Tuhan? Mengapa kau menangkap kami?" Petugas itu menatapku dengan jijik dan bertanya dengan kasar, "Siapa yang memberitakan Injil kepadamu? Apakah ada orang lain di keluargamu yang percaya?" Aku berkata akulah satu-satunya di keluargaku yang percaya. Melihat bahwa mereka tidak akan mendapatkan informasi apa pun dariku, mereka membebaskanku hari itu juga. Setelah meninggalkan kantor polisi, aku bertanya-tanya mengapa polisi dengan mudah membebaskan aku. Baru setelah tiba di rumah aku mengetahui bahwa, ketika keluargaku mengetahui aku telah dibawa ke kantor polisi, mereka telah menggunakan koneksi mereka dan membayar 3.000 yuan kepada polisi untuk membebaskanku. Namun, polisi tetap menabur benih perselisihan antara aku dan keluargaku, karena mereka meminta keluargaku untuk mencegahku percaya kepada Tuhan. Menantu perempuanku bertengkar dengan putraku tentang hal ini dan mengancam akan bunuh diri dengan minum pestisida jika aku terus percaya kepada Tuhan. Saat itulah, aku menyadari bahwa polisi PKT (Partai Komunis Tiongkok) benar-benar busuk. Aku memiliki keluarga yang sangat damai, tetapi sekarang mereka telah mengacaukan kami sampai sedemikian rupa sehingga kami semuanya saling bertengkar! Aku percaya kepada satu Tuhan yang benar yang menciptakan segala sesuatu di surga dan di bumi, dan sekarang ini, Tuhan Yang Mahakuasa telah datang untuk menyelamatkan kita dengan meminta kita untuk memahami kebenaran, hidup dalam keserupaan dengan manusia, berbicara dan bertindak dengan cara yang sesuai dengan hati nurani kita dan apa yang benar, dan tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kemanusiaan atau moralitas kita. Yang aku lakukan hanyalah tinggal di rumah dan membaca firman Tuhan, mengadakan pertemuan, dan memenuhi tugasku, tetapi polisi PKT benar-benar menjebakku dan menuduhku "mengganggu ketertiban umum". Mereka jelas-jelas mengubah fakta, sengaja memelintir kebenaran, dan dengan semena-mena menuduh orang melakukan kejahatan palsu! Iblis benar-benar tercela. Itu tidak lain adalah fitnah yang memalukan dan jahat. Polisi telah mengetahui dari informan bahwa aku menyelenggarakan pertemuan dengan saudara-saudariku di rumahku, jadi mereka tidak berhenti menggangguku setelah itu. Segera setelah itu, mereka membawaku ke kantor polisi untuk menanyaiku, dan mengancamku dengan mengatakan, "Katakan kepada kami nama-nama pemimpin gerejamu dan orang-orang yang kau tampung di pertemuan. Jika kau tidak memberi tahu kami, kami akan memenjarakanku!" Dengan tegas tetapi benar, aku menjawab, "Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak punya apa pun untuk kukatakan kepadamu." Polisi itu marah besar, tetapi karena Tuhan melindungiku, mereka tidak berani menyentuhku.

Setelah polisi membebaskanku, mereka terus mengawasiku, sia-sia berharap menggunakan diriku sebagai umpan untuk menangkap "ikan yang lebih besar". Aku takut menjerumuskan saudara-saudariku, jadi aku tidak lagi berani terus berhubungan dengan mereka, dan setelah itu aku keluar dari kehidupan bergereja. Tanpa kehidupan bergereja, hatiku terasa hampa dan tanpa perlindungan, dan aku berangsur-angsur menjadi terasing dari Tuhan. Aku menghabiskan setiap hari hidup dalam kepanikan dan ketakutan, sangat takut polisi akan datang untuk membawaku pergi lagi. Dahulu, aku telah menghabiskan setiap hari mendengarkan firman Tuhan, Khotbah, dan Persekutuan, tetapi sekarang itu tidak mungkin lagi, karena jika mereka melihatku berdoa atau bahkan menyebutkan kata "Tuhan", aku akan mendapatkan teguran keras dari keluargaku. Menantu perempuanku berbicara dengan dingin kepadaku sepanjang waktu karena aku telah didenda oleh polisi, dan suami serta putraku memarahiku pada setiap kesempatan. Keluarga yang dahulu mendukung kepercayaanku kepada Tuhan Yang Mahakuasa sekarang menentang dan menganiaya aku sebisa mereka. Ini membuatku merasa sangat sedih, rohku merasa sangat tertekan, dan aku hidup dalam kegelapan dan kepedihan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Karena tidak ada pembacaan firman Tuhan untuk kudengarkan dan aku tidak dapat bersekutu dengan saudara-saudariku, rohku terasa sangat kering. Setiap malam aku berguling-guling di tempat tidur dan tidak bisa tidur, dan aku sering merindukan masa-masa bahagia yang aku habiskan di pertemuan dengan saudara-saudariku. Pada saat-saat seperti ini, aku membenci pemerintah PKT. Mereka telah menyebabkan semua kesengsaraan ini, mereka telah membuat aku kehilangan hak-hakku sebagai makhluk ciptaan untuk secara bebas percaya kepada Tuhan dan menyembah-Nya, mereka telah membuatku kehilangan kehidupan bergerejaku, menghentikanku agar tidak lagi bersekutu tentang firman Tuhan dengan saudara-saudariku, dan menghentikanku agar tidak melakukan tugas-tugasku. Dalam kesengsaraanku, aku hanya bisa berdoa dalam hati kepada Tuhan: "Ya Tuhan! Aku hidup dalam kegelapan, aku merasa rohku menjadi kering, dan aku ingin menjalani kehidupan bergereja bersama saudara-saudariku. Ya Tuhan! Aku mohon kepada-Mu, bukakanlah jalan untukku!"

Aku datang ke hadapan Tuhan dan terus berseru kepada-Nya dengan cara ini, dan Tuhan benar-benar mendengar doa-doaku, karena Dia mengatur agar saudara-saudariku mengunjungiku. Salah seorang saudariku tahu bahwa aku sering pergi ke ladang kapas untuk memetik kapas, jadi dia diam-diam pergi ke sana untuk menemuiku, dan kami mengatur waktu untuk mengadakan pertemuan di sana. Setiap kali kami bertemu, aku pergi ke ladang mengambil kapas lebih awal, dan ketika semua orang sedang makan siang, aku berjongkok dengan saudariku di ladang untuk membaca firman Tuhan. Melihat saudariku seperti melihat kerabat yang telah lama hilang. Aku tidak bisa menghentikan cucuran air mata kebahagiaan. Aku mengatakan kepadanya tentang ketidakadilan dan kesengsaraan yang telah aku alami, serta kesalahpahaman keluargaku. Dia menghiburku sementara firman Tuhan menyiramiku, dan dia bersekutu tentang kehendak Tuhan bersamaku, dan berangsur-angsur, keadaanku mulai membaik. Beginilah bagaimana penganiayaan oleh pemerintah PKT dilakukan sehingga aku hanya bisa mengadakan pertemuan sambil berjongkok di ladang kapas. Suatu hari, kami membaca satu bagian firman Tuhan: "Di antaramu, tidak ada seorang pun yang menerima perlindungan hukum; malahan, engkau dihukum oleh undang-undang, dan yang lebih sulit lagi adalah tidak ada orang yang memahami dirimu baik itu keluargamu, orang tuamu, temanmu, atau kolegamu. Tidak ada yang memahami dirimu. Jika Tuhan menolakmu, tidak mungkin bagimu untuk bisa terus hidup di bumi. Akan tetapi, sekalipun demikian, orang tidak mungkin sanggup untuk meninggalkan Tuhan. Ini adalah makna penaklukan Tuhan atas manusia, dan ini adalah kemuliaan Tuhan. … Berkat tidak dapat diterima dalam satu atau dua hari; tetapi harus didapatkan melalui banyak pengorbanan. Artinya, engkau harus memiliki kasih yang dimurnikan, iman yang besar, dan banyak kebenaran yang Tuhan mau engkau dapatkan; dan lagi, engkau harus sanggup mengarahkan wajahmu ke arah keadilan dan tidak pernah takut atau menyerah, dan engkau harus memiliki kasih yang terus-menerus dan tak kenal lelah bagi Tuhan. Darimu dituntut ketetapan hati, juga perubahan dalam watak hidupmu. Kerusakanmu harus diperbaiki, dan engkau harus menerima semua pengaturan Tuhan tanpa mengeluh, dan bahkan taat sampai mati. Inilah yang harus kau capai. Inilah tujuan akhir pekerjaan Tuhan, dan tuntutan yang Tuhan tuntut dari sekelompok orang ini" ("Apakah Pekerjaan Tuhan Begitu Sederhana Seperti yang Dibayangkan Manusia?" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku memahami bahwa penderitaanku saat ini adalah sesuatu yang harus aku tanggung. Tiongkok adalah negara yang dikuasai oleh ateisme di mana orang-orang yang percaya kepada Tuhan dianiaya dan dipermalukan, tetapi penderitaan ini bersifat sementara dan terbatas, dan diatur dengan saksama oleh Tuhan untuk menyempurnakan iman dan ketaatanku kepada-Nya, agar aku bisa lebih baik dalam menerima janji dan berkat-berkat Tuhan di masa mendatang. Sekarang aku tidak punya keinginan lain, karena memiliki Tuhan saja sudah cukup. Pada saat yang sama, aku melihat bahwa hukum yang dirumuskan oleh pemerintah PKT hanyalah tipu muslihat untuk menipu orang-orang. Kepada dunia luar, mereka mengklaim mendukung kebebasan beragama, tetapi pada kenyataannya, orang-orang yang percaya kepada Tuhan bahkan tidak memiliki hak untuk membaca firman Tuhan atau mengadakan pertemuan. Mereka sama sekali tidak menoleransi keberadaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan dan tidak membiarkan orang-orang untuk mengikuti Tuhan atau menempuh jalan yang benar dalam hidup. Tepat seperti yang dinyatakan dalam firman Tuhan Yang Mahakuasa: "Kebebasan beragama? Hak dan kepentingan yang sah bagi warga negara? Semua itu hanya tipuan untuk menutupi dosa!" ("Pekerjaan dan Jalan Masuk (8)" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Langit dan bumi yang diciptakan oleh Tuhan itu sangat luas, tetapi di Tiongkok orang-orang yang percaya kepada Tuhan bahkan tidak punya pijakan. Siapa pun yang percaya kepada Tuhan mengalami penangkapan dan penganiayaan oleh PKT dan kebebasannya dibatasi. PKT tidak menginginkan apa pun selain membunuh semua orang yang percaya kepada Tuhan dan mengubah Tiongkok menjadi negara tak bertuhan. PKT sangat rusak, jahat, dan reaksioner. Mereka benar-benar tidak dapat didamaikan dengan Tuhan, sosok musuh Tuhan yang tidak dapat menoleransi keberadaan-Nya!

Begitulah, aku terus bertemu dengan saudariku secara diam-diam di ladang kapas. Namun, waktu terus berlalu, dan tak lama lagi musim dingin akan tiba. Daun-daun pohon kapas layu dan berguguran, dan ladang kapas tidak lagi menyediakan penyamaran bagi kami untuk mengadakan pertemuan, jadi sekali lagi aku mendapati diriku tanpa saudara-saudari yang bersekutu tentang firman Tuhan. Pada awalnya, aku mampu menyimpan firman Tuhan dalam hatiku dan mempertahankan hubungan yang normal dengan-Nya, tetapi tanpa perbekalan dan penyiraman firman Tuhan, rohku menjadi semakin gersang dan kering, dan tak lama kemudian, aku kembali jatuh ke dalam kegelapan. Aku merasa bahwa aku telah jatuh dari surga ke neraka dan merasa sangat menderita sehingga lebih memilih untuk mati. Keluargaku percaya kebohongan polisi, jadi mereka mengawasiku setiap hari, dan mengancam akan memukuliku jika aku terus percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Di rumah, aku tidak berani berdoa. Aku hanya bisa berdoa sambil bersembunyi di bawah selimutku pada malam hari atau ketika tidak ada orang lain di rumah, dan aku melewati setiap hari dengan cara ini. Selain menahan tuduhan dari keluargaku, aku juga harus menahan desas-desus dan gosip dari penduduk desa. Menghadapi semua ini, aku merasa sangat sedih, secara rohani aku merasa lemah dan tidak berdaya, dan semangatku rendah setiap hari. Aku merasa bahwa, setelah kehilangan kehidupan bergereja, tidak dapat membaca firman Tuhan, dan tidak dapat bertemu saudara-saudariku, hidup begitu saja adalah kesengsaraan, bahwa kehidupan telah kehilangan semua sukacitanya. Aku memikirkan bagaimana dahulu, ketika aku merasa sengsara dan lemah, firman Tuhan selalu menghiburku, saudara-saudariku dengan sabar mendukungku, dan setelah memahami kehendak Tuhan, aku akan segera merasa nyaman dan terbebaskan, dan semangatku akan bangkit kembali. Namun sekarang, karena penganiayaan dan pengawasan polisi, aku kehilangan hak untuk membaca firman Tuhan dan bahkan tidak dapat bertemu saudara-saudariku. Setiap hari adalah perjuangan yang panjang dan pahit, dan melihat caraku hidup tanpa merasa hidup, seolah-olah aku sudah mati, dan mengingat betapa penuhnya kehidupanku pada masa lalu ketika aku hidup di hadirat Tuhan di gereja, aku merasa sedih dan sengsara. Dan saat memikirkan bagaimana keluargaku telah dibodohi dan ditipu oleh PKT, bagaimana mereka tidak memahamiku, dan bagaimana mereka mengikuti PKT dalam membatasi kebebasanku, aku bahkan merasa lebih sedih lagi. Namun, ketika aku merasa sepertinya tidak punya tempat untuk berpaling, aku terus-menerus berdoa kepada Tuhan dan memohon kepada-Nya agar membukakan jalan bagiku: "Ya Tuhan! Sekarang, aku tidak bisa membaca firman-Mu, juga tidak bisa menjalani kehidupan bergereja, dan hidup ini terlalu berat untuk kutanggung. Ya Tuhan! Keluargaku telah tertipu oleh pemerintah PKT dan berusaha dengan segenap kekuatan mereka untuk mencegahku percaya kepada-Mu. Kumohon, tolonglah aku, izinkan aku untuk bersaksi tentang perbuatan-Mu, dan menghentikan mereka agar tidak lagi tertipu dan dimanfaatkan oleh Iblis. Ya Tuhan! Aku ingin memercayakan keluargaku kepada-Mu, dan aku meminta-Mu agar menunjukkan jalan keluar kepadaku."

Syukur kepada Tuhan, Dia sungguh-sungguh mendengar doaku. Beberapa waktu kemudian, pada suatu malam tiba-tiba aku pingsan di depan tempat tidurku. Suamiku sangat ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa, jadi putraku dengan cepat menghubungi layanan darurat. Ketika rumah sakit pertama yang menjawab mendengar bahwa pasiennya adalah seorang wanita tua yang sakit parah, mereka menolak menerimaku. Putraku menelepon saluran darurat rumah sakit lain, dan dokter mengatakan aku tidak punya banyak kesempatan untuk mendapatkan kembali kesadaranku, bahwa tidak ada gunanya melakukan apa pun untuk menyelamatkanku, dan bahwa keluargaku harus siap menghadapi yang terburuk. Namun putraku pantang menyerah, dan memohon kepada mereka sampai mereka tidak punya pilihan selain menyerah dan membawaku ke rumah sakit. Namun, bahkan setelah prosedur penyelamatan darurat, aku tetap tidak sadar. Tidak ada yang bisa dokter lakukan, dan keluargaku yakin aku tidak akan selamat. Namun bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil, karena saat itulah mukjizat terjadi! Setelah koma parah selama 18 jam, perlahan-lahan aku sadar kembali. Semua orang yang hadir tercengang. Saat aku membuka mata dan melihat para dokter, aku pikir aku sedang melihat para malaikat. Aku bertanya kepada mereka di mana aku berada, salah seorang dari mereka memberitahukan kepadaku bahwa aku berada di rumah sakit, dan sambil buru-buru memeriksa tanda-tanda vitalku, mereka terus bergumam, "Ini benar-benar keajaiban…." Tidak lama kemudian, aku duduk, dan aku merasa sangat lapar. Perawat menyuapiku, dan setelah selesai makan, aku merasa penuh energi dan kekuatan. Aku tahu bahwa ini adalah salah satu perbuatan ajaib Tuhan Yang Mahakuasa, bahwa Tuhan telah mendengar doaku dan membukakan jalan ke depan bagiku. Saat aku duduk di tempat tidur, aku tidak bisa menahan diri untuk bernyanyi memuji Tuhan. Dokter yang kaget langsung bertanya kepadaku, "Nyonya, siapakah Tuhan yang Anda percayai ini?" Aku berkata, "Aku percaya kepada satu-satunya Tuhan yang benar yang menciptakan segala sesuatu di surga dan di bumi—Tuhan Yang Mahakuasa!" Dokter itu merespons dengan menatapku kaget, dan keluargaku tampak terkejut dan senang saat mereka menyaksikan aku bernyanyi. Setelah keluar dari rumah sakit, aku pulang ke rumah, dan satu per satu tetanggaku datang menemuiku, berkata, "Luar biasa! Semua dokter mengatakan tidak ada harapan untukmu, tetapi engkau benar-benar bangun. Benar-benar keajaiban!" Aku bersaksi tentang Tuhan kepada mereka, dengan mengatakan bahwa ini karena kuasa Tuhan yang besar, bahwa Tuhan telah menyelamatkan aku, bahwa tanpa Tuhan aku sudah mati sekarang, dan bahwa Tuhanlah yang telah memberiku kesempatan kedua dalam hidupku. Aku mengatakan kepada mereka bahwa semua manusia diciptakan oleh Tuhan, bahwa hidup diberikan kepada kita oleh Tuhan, bahwa Tuhan mengatur dan mengelola hidup kita, dan bahwa manusia tidak dapat berpaling dari bimbingan Tuhan, karena berpaling dari Tuhan berarti kematian. Setelah mengalami hal ini, keluargaku tidak lagi menentang kepercayaanku kepada Tuhan, dan Tuhan juga memberiku berkat yang tak terduga—suamiku juga menerima tahap pekerjaan Tuhan saat ini. Setelah itu, suamiku sering pergi ke pertemuan bersamaku untuk bersekutu, dan aku merasa sangat bahagia, damai, dan aman. Aku kemudian menghabiskan setiap hari hidup dalam sukacita, karena aku benar-benar melihat kemahakuasaan dan hikmat Tuhan. Aku bersyukur dan memuji Tuhan dari lubuk hatiku!

Melalui pengalamanku, aku benar-benar menghargai bahwa apa pun yang Tuhan lakukan kepada seseorang, Dia melakukannya karena kasih. Di balik perbuatan-Nya mengizinkan Iblis menganiayaku, terdapat maksud baik Tuhan. PKT ingin menggunakan penangkapan dan penganiayaanku untuk membuatku menjauhi dan mengkhianati Tuhan, tetapi mereka tidak tahu bahwa hikmat Tuhan dilaksanakan berdasarkan tipu muslihat Iblis. Penindasan PKT tidak hanya gagal membuatku menjauhi atau mengkhianati Tuhan, tetapi sebaliknya memungkinkan aku untuk melihat dengan jelas esensi jahat PKT yang menentang Tuhan dan bertindak menentang Surga, dan semakin memperkuat kepastianku bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa adalah jalan, kebenaran, dan hidup! Penindasan PKT juga memungkinkanku melihat kuasa Tuhan yang besar dan perbuatan ajaib Tuhan, sehingga dengan demikian memperkuat kasih dan kesetiaanku kepada Tuhan. Sebagaimana difirmankan oleh Tuhan Yang Mahakuasa: "Dalam perencanaan-Ku, Iblis selalu berusaha meremukkan tumit setiap langkah, dan sebagai kontras dari hikmat-Ku, ia selalu berusaha mencari cara dan sarana untuk mengganggu rencana-Ku yang semula. Tetapi, mungkinkah Aku menyerah pada rancangan tipu dayanya? Semua yang di surga dan yang di bumi melayani Aku—dapatkah rancangan tipu daya si Iblis mengubahnya? Inilah justru titik temu hikmat-Ku, inilah justru yang menakjubkan tentang perbuatan-Ku. Inilah prinsip yang melaluinya seluruh rencana pengelolaan-Ku dijalankan" ("Bab 8, Firman Tuhan kepada Seluruh Alam Semesta" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Semakin PKT secara liar menentang Tuhan dan menganiaya umat pilihan-Nya, semakin kita mampu memahami dan meninggalkannya, dan semakin kita dapat memahami kebenaran dan mengenal hikmat dan perbuatan Tuhan yang ajaib. Iman kita dalam mengikuti Tuhan juga bertumbuh, dan kita menjadi semakin mampu menghasilkan kesaksian yang kuat bagi Tuhan. Dengan mengalami penganiayaan PKT, aku melihat dengan jelas bahwa, dalam pekerjaan Tuhan, Iblis hanya bertindak sebagai kontras, dan merupakan objek yang melayani Tuhan, dan aku juga akhirnya mengetahui semakin jelas keinginan tulus Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Di masa mendatang, apa pun kesulitan atau hambatan yang aku hadapi, aku ingin memenuhi tugasku sebaik mungkin dan melakukan bagianku untuk memuaskan kehendak Tuhan.

media terkait