Aku Tidak Lagi Menggunakan Kualitas yang Buruk sebagai Alasan

Oleh Saudari Lin Ran, Provinsi Henan

Pada waktu yang lalu, setiap kali aku dihadapkan dengan beberapa kesulitan ketika melaksanakan tugasku, atau melakukan pekerjaanku dengan buruk, aku berpikir bahwa itu adalah karena kualitasku terlalu buruk. Akibatnya, aku sering hidup dalam keadaan pasif yang negatif. Aku sering kali menggunakan kualitasku yang buruk sebagai alasan untuk membebankan tugas yang kurasa berat kepada orang lain, dan merasa tidak ada salahnya melakukan ini, bahwa aku sedang memikirkan pekerjaan gereja ketika meminta orang lain untuk melakukan sesuatu karena kualitasku buruk, dan aku tidak dapat melakukannya dengan baik. Hanya berkat membaca firman Tuhanlah, aku memutarbalikkan pandangan yang keliru ini, menyadari bahwa aku memandang berbagai hal melalui gagasan dan imajinasiku sendiri. Aku juga belajar sesuatu mengenai watakku sendiri yang rusak.

Suatu hari, seorang pemimpin mengirimkan dokumen yang membutuhkan pemrosesan mendesak. Saudari yang bekerja sama denganku sibuk dengan sesuatu yang lain, sehingga ia memintaku menanganinya. Dengan cepat aku mulai mengarang alasan: "Kualitasku terlalu buruk. Aku buruk dalam menulis dan mengedit teks. Akan lebih baik jika kau saja yang menanganinya." Dengan demikian aku secara otomatis membebankan sesuatu yang rumit kepada rekanku. Kemudian, ia berkata kepadaku, "Dari sejak kita bertemu, engkau selalu mengatakan kualitasmu buruk. Namun setelah bersamamu selama beberapa hari, aku memperhatikan engkau mampu menemukan beberapa masalah dalam pekerjaan. Kurasa kualitasmu tidaklah seburuk itu, tetapi setiap kali engkau dihadapkan dengan kesulitan dalam melakukan tugasmu, engkau selalu mengatakan kualitasmu buruk dan terkadang engkau bahkan membebankan tugasmu kepada orang lain. Aku tidak tahu apa motivasimu dengan terus saja mengatakan tentang betapa buruknya kualitasmu—aku merasa sepertinya engkau benar-benar bersikap palsu!" Mendengarnya mengatakan ini, aku terdiam, tetapi hatiku dipenuhi antipati: "Saat mengatakan kualitasku buruk, aku mengatakan yang sebenarnya. Engkau tidak tahu kenyataannya, dan engkau telah salah memahami diriku." Setelah itu, aku merenungkan mengapa saudariku mengatakan itu. Aku tidak berbohong ketika kukatakan kualitasku buruk —bagaimana ia bisa berkata aku punya motivasi tertentu? Dalam hatiku, aku benar-benar tidak bisa memahaminya.

Suatu hari, selama pertemuan dengan rekan kerjaku, aku membuka diri tentang kebingunganku kepada saudara-saudariku yang lain. Aku menyampaikan satu persatu alasan mengapa aku menganggap kualitasku buruk: Misalnya, aku mengetik sangat lambat, gaya penulisanku tidak terlalu bagus. Ketika mengerjakan teks bersama rekanku, ia melakukan sebagian besar pengetikan dan pengeditan, dan ketika membaca dokumen, ia menemukan masalah dengan sangat cepat, sedangkan aku lebih lambat, dan lain sebagainya. Setelah mendengarku bersekutu, pemimpin kami, saudara Liu berkata, "Saudari, apakah kita mengukur kualitas seseorang itu baik atau buruk berdasarkan hal-hal ini? Apakah ini sesuai dengan kebenaran? Apakah ini sesuai dengan kehendak Tuhan? Kita semua tahu bahwa orang-orang di dunia sangat menghargai bakat dan kecerdasan. Siapa pun yang pintar, pandai berbicara dan mahir dalam menangani masalah-masalah di dunia luar adalah orang-orang yang berkualitas baik, sementara mereka yang canggung dalam berbicara, bodoh dan kurang berpendidikan dipandang tidak memiliki kualitas; begitulah cara orang-orang tidak percaya melihat hal ini. Kita yang percaya kepada Tuhan haruslah memandang hal-hal berdasarkan pada firman Tuhan. Sudahkah kita mencari kehendak Tuhan dalam hal ini? Atas dasar apa Tuhan mengukur apakah kualitas orang itu baik atau buruk? Dan apa sebenarnya yang dimaksud dengan kualitas yang baik dan kualitas yang buruk?" Aku menggelengkan kepalaku, dan saudara Liu melanjutkan persekutuannya: "Mari kita membaca satu bagian khotbah ini: 'Apakah kualitas seseorang itu baik atau buruk terutama mengacu pada seberapa baik mereka mampu memahami firman Tuhan. Jika kekuatan pemahaman mereka baik, ini berarti ketika membaca firman Tuhan, mereka mampu meresapi makna harfiahnya dan memahami kehendak Tuhan, dapat memperoleh kebenaran melalui firman Tuhan serta tahu bagaimana harus bertindak untuk memastikan mereka mengikuti kehendak Tuhan. Memiliki kekuatan pemahaman seperti itu berarti mereka berkualitas baik. Kualitas tidaklah sama dengan berbakat, tidak sama dengan cerdas dan cakap. Beberapa orang tampak cukup pintar kelihatannya tetapi sama sekali tidak mahir dalam memahami firman Tuhan. Itulah yang dimaksud orang-orang tidak percaya ketika mereka berbicara tentang kualitas yang baik, tetapi kata-kata seperti itu tidak berlaku di rumah Tuhan. Beberapa orang adalah mahasiswa atau sangat pintar, tetapi di rumah Tuhan, mereka berada dalam kesulitan yang besar, dan sama sekali tidak mampu masuk ke dalam kebenaran. Dapatkah engkau mengatakan bahwa mereka berkualitas baik? Ada beberapa orang yang tidak berpendidikan yang hanya lulus dari sekolah dasar dan tidak memiliki karier penting di dunia luar, tetapi mereka telah berhasil dalam mengejar kebenaran dan menjadi orang-orang yang dipuji Tuhan. Hanya orang-orang inilah yang benar-benar berkualitas baik. Tingkat pendidikan bukan segala-galanya dan bukan akhir segalanya. Hal yang terpenting adalah apakah orang memahami roh' (Persekutuan dari Atas). Dari persekutuan ini kita melihat bahwa apakah kualitas seseorang itu baik atau buruk, itu tergantung pada kemampuan mereka memahami firman Tuhan. Ini bukanlah yang dimaksud oleh orang-orang tidak percaya ketika mereka mengatakan seseorang itu memiliki kualitas atau berbakat dan pintar. Orang-orang berkualitas baik dapat memahami kehendak Tuhan saat mereka selesai membaca firman-Nya, mereka dapat menemukan jalan penerapan dan masuk ke dalam kebenaran, dan mampu melakukan sesuai dengan yang Tuhan minta. Di sisi lain, ada orang-orang yang tampaknya sangat pintar dan sangat hebat dalam menangani masalah-masalah di dunia luar—tetapi mereka bingung begitu dihadapkan dengan kebenaran firman Tuhan. Orang-orang semacam itu tidak bisa dikatakan berkualitas baik. Itu sama seperti bagaimana orang-orang berpengetahuan dan berpendidikan tampak berbakat dan cerdas dari luarnya, tetapi tidak mampu memahami kebenaran firman Tuhan. Beberapa dari mereka bahkan memiliki sudut pandang yang konyol mengenai berbagai hal. Jadi, berpendidikan tinggi, cerdas dan cakap tidaklah merepresentasikan kualitas yang baik, juga bukan merupakan standar untuk mengukur kualitas seseorang. Hal yang terpenting adalah apakah orang memahami roh, apakah mereka mampu memahami kebenaran. Kita tidak dapat mengandalkan gagasan dan imajinasi kita sendiri untuk mengukur apakah kualitas seseorang itu baik atau buruk!" Mendengar ini, aku tiba-tiba mengerti: ternyata kepercayaanku hanyalah gagasan dan imajinasiku sendiri—semua itu tidak sesuai dengan kebenaran.

Selanjutnya, seorang saudari menemukan dua perikop firman Tuhan dan memintaku membacanya. Firman Tuhan berkata: "Ketika seseorang serius, bertanggung jawab, berdedikasi, dan bekerja keras, pekerjaannya itu akan dilakukan dengan benar. … Kerja sama manusia sangat penting, hati mereka sangat penting, dan ke mana mereka mengarahkan pemikiran dan gagasan mereka juga sangat penting. Mengenai maksud mereka dan seberapa banyak upaya yang mereka kerahkan untuk melakukan tugas-tugas mereka, Tuhan memeriksa dengan cermat dan dapat melihatnya. Amatlah penting bahwa orang mencurahkan segenap hati dan kekuatan mereka pada apa yang mereka lakukan. Kerja sama mereka juga sangat penting. Berjuang untuk tidak memiliki penyesalan atas tugas yang telah diselesaikan seseorang dan atas tindakan masa lalunya, dan sampai ke tempat di mana ia tidak berutang apa pun kepada Tuhan—inilah yang dimaksud dengan mencurahkan segenap hati dan kekuatan" ("Cara Mengatasi Sikap Ceroboh dan Asal-asalan Ketika Melakukan Tugasmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Jika engkau memiliki sikap yang benar dalam menghadapi kebenaran, memiliki sikap menerima kebenaran, dan bersikap rendah hati, maka sekalipun kualitasmu rendah, Tuhan akan tetap mencerahkanmu dan memperkenankanmu untuk mendapatkan sesuatu. Jika kualitasmu baik tetapi selalu congkak, selalu berpikir bahwa engkau benar dan selamanya tidak pernah bersedia menerima apa pun yang orang lain katakan, dan selalu menentang, maka Tuhan tidak akan bekerja di dalam dirimu. Tuhan akan berkata bahwa watakmu buruk dan engkau tidak layak menerima apa pun, dan Tuhan bahkan akan mengambil apa yang pernah engkau miliki. Inilah yang dikenal sebagai penyingkapan" ("Hanya Jika Orang Melakukan Kebenaran, Mereka Dapat Memiliki Kemanusiaan yang Normal" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Saudari itu berkata, "Firman Tuhan menunjukkan bahwa sikap kita ketika melaksanakan tugas sangatlah penting—sangatlah krusial. Jika kita memiliki mentalitas yang benar, jika kita dapat mencurahkan segenap hati dan kekuatan kita untuk melaksanakan tugas kita, Tuhan akan melihat, dan akan memperlakukan kita sesuai dengan sikap kita terhadap tugas kita. Bahkan seandainya kita berkualitas buruk, Tuhan akan tetap mencerahkan dan membimbing kita. Jika kita tidak memiliki mentalitas yang benar, jika kita tidak bersedia membayar harga dan bekerja sama dengan Tuhan, kita bukan saja tidak akan melakukan tugas kita dengan benar, tetapi kita juga akan ditolak oleh Tuhan. Jika kita melihat saudara-saudari di sekitar kita melalui firman Tuhan, kita melihat bahwa beberapa orang berkualitas biasa tetapi memiliki motivasi yang benar dalam melakukan tugas mereka; dihadapkan dengan kesulitan, mereka menerima tanggung jawab untuk mencari kebenaran, dan berfokus pada jalan masuk ke dalam prinsip-prinsip, dan mereka menjadi semakin efektif dalam melakukan tugas mereka. Sementara ada beberapa saudara-saudari yang tampaknya bagi kita berkualitas sangat baik, dan memiliki pemahaman yang murni akan firman Tuhan, tetapi karena mereka sombong, berpuas diri, tidak mendengarkan nasihat orang lain, dan mengambil kemuliaan Tuhan bagi diri mereka sendiri setiap kali mereka mengalami sedikit keberhasilan dalam melakukan tugas, mereka pada akhirnya kehilangan pekerjaan Roh Kudus. Beberapa orang bahkan mengganggu pekerjaan gereja dan dilucuti dari kelayakan mereka untuk melaksanakan tugas; dalam kasus serius, mereka bahkan dikeluarkan dari gereja. Fakta-fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa apakah kualitas seseorang baik atau buruk, tidaklah menentukan apakah mereka dipuji oleh Tuhan; hal yang terpenting adalah apakah mereka mengejar kebenaran atau tidak." Selanjutnya. saudara-saudari memanfaatkan pengalaman mereka sendiri untuk berbicara tentang bahaya dan konsekuensi dari mendefinisikan diri sendiri sesuai dengan gagasan dan imajinasi mereka sendiri. Baru pada saat itulah aku menyadari betapa bodohnya tidak memahami kebenaran; aku tidak mencari kebenaran, dan malah mendefinisikan diriku sendiri berkualitas buruk dengan hidup dalam gagasan dan imajinasiku sendiri, sampai-sampai aku sering kali membebankan tugas yang sulit kepada orang lain. Aku tidak berusaha meningkatkan diri, juga tidak mengandalkan Tuhan atau benar-benar membayar harga untuk menerobos rintangan-rintangan ini, yang bahkan membuatku tidak mampu melakukan tugas-tugas yang mampu kulakukan. Aku bukan saja tidak mampu menjalani pelatihan yang sebenarnya atau bertumbuh dalam kebenaran dan hidup, tetapi ini juga secara langsung memengaruhi efektivitasku dalam melakukan tugasku. Aku berpikir tentang betapa cepatnya saudari yang bekerja sama denganku mampu menemukan masalah. Meskipun ini berkaitan dengan kualitas bawaannya, yang terlebih penting adalah bahwa, karena sikapnya yang teliti dan bertanggung jawab terhadap tugasnya, ia mampu mengandalkan Tuhan dan menghadapi kesulitan langsung ketika ia menemukannya. Baru pada saat itulah ia dicerahkan dan diterangi oleh Roh Kudus. Aku, di sisi lain, berusaha menghindari masalah ketika aku menemuinya, dan menggunakan kualitas yang buruk sebagai alasan untuk melepaskan diri. Aku tidak mengandalkan Tuhan dan tidak menerima tanggung jawab untuk berusaha dan memecahkan masalah dengan mencari kebenaran yang relevan, yang berarti aku tidak dapat memperoleh pekerjaan Roh Kudus. Dari ini, aku melihat bahwa Tuhan itu adil dan benar kepada semua orang. Melalui persekutuan, aku juga menyadari bahwa Tuhan meminta dari kita berdasarkan apa yang mampu kita lakukan. Tuhan tidaklah "memaksa bebek hinggap di tempat elang bertengger." Aku sendiri harus berbuat yang benar; alih-alih memperhatikan kualitasku, aku harus berfokus hanya untuk mengerahkan segenap kekuatanku untuk melakukan tugasku. Aku harus mencari dan merenungkan prinsip-prinsip kebenaran, belajar dari kekuatan orang lain, mendengarkan nasihat orang lain dan memasukkan semua itu ke dalam apa yang benar-benar kulakukan—dan seiring waktu, aku pasti akan mendapatkan manfaat dan bertumbuh.

Setelah itu, kritikan saudari bergema di telingaku: "Aku tidak tahu apa motivasimu dengan terus saja mengatakan tentang betapa buruknya kualitasmu." Ia benar—aku selalu dengan cepat mengatakan bahwa kualitasku buruk. Motivasi apa dan watak rusak apa yang secara diam-diam mengendalikan aku?

Suatu hari, aku membaca kata-kata ini dari sebuah persekutuan: "Mereka yang selalu mengatakan kepada orang lain bahwa mereka rusak, bahwa mereka bodoh dan bebal, mati rasa dan dungu, berkualitas buruk —mereka tidak berbicara tentang motivasi mereka yang sebenarnya dan kecurangan dalam hati mereka; mereka menyembunyikan motivasi yang jahat ini dan menggunakan kerusakan, kebebalan dan kebodohan mereka sendiri sebagai penyangga, sebagai tameng. Tidak ada yang lebih licik dari orang-orang seperti ini, tidak ada yang lebih pandai berpura-pura, lebih pandai bersandiwara untuk membuat orang lain berpikir bahwa mereka baik, bahwa mereka mengenal diri sendiri bahwa mereka rendah hati, bahwa mereka terus-terang dan terbuka. Ini adalah kepura-puraan bagi orang lain; sebenarnya, orang-orang seperti ini adalah orang-orang munafik yang khianat dan licik …" (Persekutuan dari Atas). Hanya setelah membaca persekutuan ini, aku menyadari bahwa dengan selalu mengatakan tentang kualitasku yang buruk, aku sebenarnya diarahkan oleh naturku yang curang, dan bahwa motivasi yang buruk tersembunyi dalam diriku. Misalnya, ketika dihadapkan dengan tugas yang belum pernah kulakukan sebelumnya, hal pertama yang kulakukan adalah mengatakan kepada saudara dan saudari yang lain bahwa kualitasku buruk, karena aku takut mereka akan menganggapku remeh jika aku melakukan tugasku dengan buruk. Aku melakukan ini demi kesombongan dan statusku sendiri. Implikasinya adalah, bukan salahku jika aku melakukannya dengan buruk; bukan karena aku belum mengerahkan segenap kekuatanku di dalamnya, melainkan karena itu melampaui kualitasku. Setiap kali aku menghadapi kesulitan dalam melakukan tugasku, aku tidak mau menderita dan membayar harga untuk menghadapinya secara langsung. Aku juga selalu takut memikul tanggung jawab. Jadi, aku gunakan saja kualitasku yang buruk sebagai alasan untuk membebankan tugasku kepada orang lain, untuk membuat mereka berpikir bahwa aku adalah seorang yang rasional dan sadar diri. Hampir setiap kali aku mengalami kesulitan dan harus membayar harga atau memikul beberapa tanggung jawab, aku melangkah mundur. Sebenarnya, aku hidup berdasarkan falsafah antarpribadi si Iblis yaitu "tetap diam untuk perlindungan diri dan berusaha hanya agar tidak disalahkan." Tampaknya ini sangat cerdas—menggunakan cara-caraku sendiri untuk menghindari tanggung jawab—tetapi pada kenyataannya aku telah kehilangan banyak kesempatan untuk mencari dan memahami kebenaran. Sebenarnya, kualitas yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing sesuai untuk tujuannya; tetapi aku belum mengerahkan segenap hati dan kekuatanku untuk bekerja sama dengan Tuhan berdasarkan pada apa yang mampu kucapai, demi memperoleh pekerjaan Roh Kudus dan meningkatkan kualitasku; sebaliknya, aku selalu menggunakan kualitasku yang buruk sebagai alasan untuk tidak melakukan kebenaran, mencoba untuk mengelabui dan menipu Tuhan. Bukankah ini sangat licik, sangat jahat? Dan dengan demikian, bagaimana aku dapat dibimbing oleh Tuhan?

Firman Tuhan berkata: "Aku sangat menghargai orang-orang yang tidak menaruh curiga terhadap orang lain dan Aku juga sangat menyukai mereka yang siap menerima kebenaran. Kepada kedua jenis manusia ini, Aku menunjukkan perhatian yang besar, karena di mata-Ku mereka adalah orang-orang yang jujur" ("Cara Mengenal Tuhan yang di Bumi" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). "Perkataan selanjutnya, 'Meskipun kualitasku rendah, aku memiliki hati yang jujur.' Ketika kebanyakan orang mendengar perkataan ini, mereka merasa senang, bukan? Perkara ini melibatkan tuntutan Tuhan terhadap umat-Nya. Tuntutan apa? Jika orang kurang dalam kualitas, itu bukanlah akhir dunia, tetapi mereka harus memiliki hati yang jujur, ​​dan dengan demikian, akan dapat menerima pujian dari Tuhan. Apa pun situasimu, engkau harus menjadi orang yang jujur, berbicara dengan jujur, bertindak jujur, dapat melakukan tugasmu dengan segenap hati dan pikiran, serta setia; dan engkau tidak boleh melalaikan pekerjaanmu, licik atau menipu, bersikap curang, mencoba memperdaya orang lain, atau berbicara berbelit-belit; engkau harus menjadi orang yang mengasihi kebenaran dan mengejar kebenaran. … Engkau berkata, 'Kualitasku rendah, tetapi aku memiliki hati yang jujur.' Namun, ketika engkau menerima sebuah tugas, engkau takut bahwa tugas itu mungkin melelahkan atau engkau tidak dapat melakukannya dengan baik, dan karenanya engkau mencari-cari alasan untuk menghindarinya. Apakah ini ekspresi dari seseorang yang jujur? Jelas tidak. Bagaimanakah seharusnya orang yang jujur ​​bersikap? Mereka harus menerima dan menaati, dan kemudian sungguh-sungguh mengabdikan diri dalam melakukan tugas mereka dengan sebaik mungkin, berjuang untuk memuaskan kehendak Tuhan. Mengapa melakukan hal ini? Dalam hal ini ada beberapa aspek dari ekspresi tersebut. Salah satu aspeknya adalah engkau harus menerima tugasmu dengan hati yang jujur, tulus, tidak memikirkan apa pun lainnya dan pikiran tidak mendua, berkomplot demi kepentinganmu sendiri—inilah ekspresi dari kejujuran. Aspek lainnya adalah bahwa engkau harus mengerahkan seluruh kekuatan dan segenap hatimu, dan berkata, 'Aku akan mengungkapkan seluruh keberadaanku kepada Tuhan. Hanya inilah yang bisa kulakukan; aku akan menerapkannya seluruhnya, dan aku akan mengabdikannya sepenuhnya kepada Tuhan.' Engkau mengabdikan semua yang engkau miliki dan semua yang dapat engkau lakukan—inilah ekspresi dari kejujuran" ("Hanya dengan Menjadi Orang yang Jujur, Orang Bisa Benar-Benar Bahagia" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Firman Tuhan menawarkan kepadaku jalan penerapan: Tuhan tidak peduli apakah kualitas seseorang itu baik atau buruk; hal yang terpenting adalah apakah mereka memiliki hati yang jujur, apakah mereka dapat menerima kebenaran, dan melakukannya. Walaupun kualitasku buruk, dan aku sedikit lebih lambat dalam memahami kebenaran, dan terkadang aku mengikuti doktrin, jika hatiku jujur dan aku terus-menerus mengejar kebenaran untuk membereskan watakku yang rusak saat aku melakukan tugasku, jika aku melakukan semua yang kubisa untuk melaksanakan apa yang Tuhan minta, aku akan menerima bimbingan dan berkat Tuhan, dan akan berangsur mampu memahami kebenaran. Saat aku memasuki kebenaran, aku akan mampu menebus kekuranganku yang terkait dengan kualitasku yang buruk, dan semakin lama aku akan semakin baik dalam memahami dan melihat berbagai hal. Setelah memahami kehendak Tuhan, aku mulai mengandalkan Tuhan agar lebih baik lagi dalam melakukan tugasku. Aku tidak lagi membebankan hal-hal yang kurang jelas bagiku, yang tidak kumengerti, kepada orang lain, tetapi berusaha keras mencari dan memecahkannya sendiri. Syukur kepada Tuhan! Ketika aku melakukan seperti yang Tuhan minta, aku juga mampu melihat masalah yang ada dalam teks—dan walaupun beberapa kali masalah-masalah yang relatif kompleks tetap tidak jelas bagiku, dengan mencari prinsip-prinsip kebenaran bersama saudara-saudari, masalah-masalah itu berangsur menjadi jelas bagiku dan aku merasa lebih ringan dan lebih bebas ketika melakukan tugasku

Berkat mengalami lingkungan yang ditetapkan oleh Tuhan bagiku, aku memperoleh beberapa pengetahuan tentang kerusakan dan kekuranganku, dan menjadi sadar tentang bagaimana menghadapi masalah yang berkaitan dengan kualitasku. Ketika aku melakukan tugasku di masa lalu, aku tidak berfokus mencari kebenaran, juga tidak berusaha mengatasi watakku yang rusak. Aku selalu melihat berbagai hal melalui gagasan dan imajinasiku sendiri, yang membuatku sering membatasi diriku sendiri, dan mencoba melepaskan diriku dari berbagai hal dengan mengatakan bahwa kualitasku buruk. Kinerja tugasku penuh dengan pekerjaan yang asal-asalan, aku merintangi pekerjaan gereja, dan menderita kerugian dalam hidupku sendiri. Sekarang aku mengerti bahwa kualitas setiap orang ditentukan sebelumnya oleh Tuhan dan merupakan bagian dari maksud Tuhan yang mulia. Aku seharusnya tidak dibatasi oleh apakah kualitasku baik atau buruk. Di masa depan, aku akan berusaha mencari kebenaran dalam segala sesuatu, bertindak sesuai prinsip, dan menjadi seseorang yang jujur untuk memuaskan Tuhan.

Media Terkait