Teka-teki Tritunggal Terungkap

Oleh Saudari Jingmo, Malaysia

Aku beruntung pada tahun 1997 menerima Injil Tuhan Yesus dan, saat aku dibaptis, pendeta berdoa dan membaptisku dalam nama Tritunggal—Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sejak saat itu, setiap kali berdoa, aku memanjatkan doaku dalam nama Tritunggal, yaitu Bapa surgawi yang pengasih, Tuhan Yesus Sang Juru Selamat, dan Roh Kudus. Namun, selalu ada semacam ketidakpastian di dalam hatiku: bagaimana mungkin tiga menjadi satu? Aku tidak pernah bisa sepenuhnya menerangkan atau memahami apa itu Tritunggal.

Dua tahun kemudian, aku menjadi diaken di gerejaku, dan ketika aku akan menemani calon orang percaya dalam studi agama mereka, sering kali ada seseorang yang bertanya kepadaku apa arti Tritunggal. Orang-orang juga sering bertanya tentang Tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus selama pengakuan dosa. Oleh karena aku juga tidak memahami misteri ini, aku tidak pernah bisa menjawabnya, dan ini sangat membuatku sedih. Aku sangat ingin mendapatkan kejelasan tentang masalah ini, jadi aku meminta pendeta dan pengkhotbah untuk menjelaskannya kepadaku, dengan harapan mendapatkan jawaban yang pasti. Namun, tanggapan mereka pada dasarnya terdiri dari: “Tuhan adalah Tritunggal, terdiri dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa menetapkan rencana untuk keselamatan kita, Anak menggenapinya, sementara Roh Kudus yang melaksanakan rencana itu. Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan juga—tiga pribadi, yang bersama-sama membentuk satu Tuhan yang benar.” Penjelasan ini hanya membuatku semakin bingung, dan aku bertanya, “Namun, jika Dia adalah tiga pribadi, bagaimana bisa Dia menjadi satu Tuhan?” Mereka kemudian berkata kepadaku, “Tritunggal adalah sebuah misteri. Jangan terlalu dalam memikirkannya. Andalkan saja imanmu dan percayai itu, hanya itulah yang perlu engkau lakukan.” Meskipun aku masih merasa sangat kebingungan dengan hal ini, aku memaksakan diri untuk menerimanya, berpikir: “Jangan memikirkannya lagi. Percayai saja itu!” Saat berdoa, aku masih berdoa kepada Tritunggal: Bapa surgawi yang pengasih, Tuhan Yesus Sang Juru Selamat, dan Roh Kudus. Aku merasa seolah-olah hanya dengan berdoa seperti itu Tuhan akan mendengar doa-doaku, dan aku takut bahwa, jika aku berdoa hanya kepada salah satu pribadi Tuhan, Dia tidak akan mendengarkanku. Maka dari itu, aku terus mengalami kebingungan seperti itu selama bertahun-tahun, percaya kepada Tritunggal dengan imajinasiku sendiri. Setelah itu, setiap kali saudara-saudari di gereja bertanya kepadaku apa yang dimaksud dengan Tritunggal, aku tetap tidak tahu bagaimana meresponsnya. Yang bisa aku lakukan hanyalah menjawab mereka sesuai dengan apa yang dikatakan pendeta kepadaku, meskipun aku bisa tahu dari wajah mereka bahwa mereka tidak benar-benar mengerti. Ini membuatku merasa tidak berdaya, dan yang bisa aku lakukan hanyalah datang ke hadapan Tuhan, berdoa: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa surgawi yang terkasih! Saat saudara-saudari dan calon orang percaya menanyakan kepadaku tentang Tritunggal, aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Aku mohon kepada-Mu, bantulah aku. Semoga Roh Kudus membimbingku sehingga aku dapat memahami apa yang dimaksud dengan Tritunggal, sehingga aku tidak lagi kebingungan dengan masalah ini, dan semoga semakin banyak orang mengenal-Mu.”

Pada Mei 2017, aku bertemu seorang saudari di Facebook. Dia sangat pengasih dan penyabar, dan setelah kami berbagi dan berdiskusi mengenai beberapa bagian Alkitab, aku menemukan bahwa ada terang dalam persekutuannya. Aku mendapatkan banyak sekali hal darinya, dan aku ingin bertukar ide dengan saudari itu. Dia kemudian membawaku dan beberapa saudara-saudari lainnya ke beberapa kebaktian. Melalui persekutuan yang dibagikan dalam pertemuan-pertemuan ini, aku memahami beberapa kebenaran yang belum pernah aku pahami sebelumnya, misalnya apa yang dimaksud dengan inkarnasi dan cara Tuhan akan datang, dan seterusnya. Aku mendapatkan banyak manfaat dari mereka dan memperoleh pemahaman yang lebih jelas tentang beberapa bagian dari Alkitab. Saat aku bertanya kepada saudari itu bagaimana dia bisa memahami banyak hal dari membaca Alkitab, padahal aku tidak bisa, dia memberitahuku, “Segala sesuatu yang aku pahami berasal dari membaca firman Tuhan. Tuhan Yesus sudah datang kembali. Dia telah berinkarnasi sebagai Anak manusia untuk mengungkapkan firman-Nya dan melakukan pekerjaan baru pada akhir zaman ….” Aku tercengang dan gembira mendengar berita ini, dan aku mengajukan serentetan pertanyaan kepada saudari itu: “Benarkah? Apakah Tuhan benar-benar sudah datang kembali?” Dia menjawab dengan pasti, “Ya, itu benar!” Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Tuhan telah datang kembali dalam wujud inkarnasi pada akhir zaman, tetapi nama Tuhan telah berubah. Tuhan sekarang disebut Tuhan Yang Mahakuasa, menjadi “Yang Mahakuasa” yang dinubuatkan dalam Kitab Wahyu. Saat aku mendengar nama “Tuhan Yang Mahakuasa,” jantungku berdetak kencang, dan aku berpikir: “Tuhan Yang Mahakuasa? Bukankah itu Kilat dari Timur? Pendeta kami meminta kami untuk waspada terhadap Kilat dari Timur dan mengatakan kepada kami agar tidak berhubungan apa pun dengan mereka. Terlebih lagi, kami percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi saudari ini mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali dan telah mengambil nama Tuhan Yang Mahakuasa, jadi mengapa nama-Nya berbeda? Apakah aku akan tersesat?” Namun kemudian, aku berpikir: “Karena aku kenal saudari ini, aku mendapati bahwa persekutuannya tidak hanya sesuai dengan Alkitab, tetapi juga sangat menerangi, dan itu jelas mengandung pencerahan dari Roh Kudus. Jika jalan ini salah, bagaimana ini bisa memiliki pekerjaan Roh Kudus? Haruskah aku terus mendengarkannya, atau tidak?”

Tepat ketika aku merasa terkoyak oleh perasaan yang bertentangan, tiba-tiba aku teringat akan suatu bagian yang sebelumnya dibagikan oleh saudari itu kepadaku: “Tuhan yang menjadi daging adalah Kristus, dan karena itu, Kristus yang bisa memberikan kebenaran kepada orang-orang adalah Tuhan. Tidak ada yang berlebihan dalam hal ini” (“Hanya Kristus Akhir Zaman yang Bisa Memberi Manusia Jalan Hidup yang Kekal” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Bagian ini menyebutkan Kristus dan mengatakan bahwa Kristus dapat memberikan kebenaran kepada orang-orang. Dalam Injil Yohanes, pasal 14, ayat 6, Tuhan Yesus berkata: “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup: tidak ada manusia yang datang kepada Bapa, tanpa melalui Aku.” Tuhan Yesus adalah Kristus, Tuhan menjadi daging, dan Dia berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup.” Baik firman Tuhan Yang Mahakuasa maupun Yesus menyebutkan Kristus dan kebenaran. “Jika Tuhan Yang Mahakuasa adalah Kristus,” pikirku, “Dia pasti dapat mengungkapkan kebenaran dan menyediakan makanan bagi kehidupan manusia.” Aku memikirkan banyak firman Tuhan Yang Mahakuasa yang baru saja dibacakan saudari itu kepadaku. Saat mendengarkannya, aku merasa firman itu memiliki otoritas dan kuasa, dan aku merasa bahwa firman Tuhan Yang Mahakuasa adalah kebenaran dan berasal dari Roh Kudus! Oleh karena itu, aku menyadari bahwa jalan ini pasti jalan yang benar, dan tidak mungkin jalan yang salah. Dikatakan dalam Alkitab: “Demikianlah iman datang dengan mendengar, dan mendengar firman Tuhan” (Roma 10:17). Jika Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan yang datang kembali, dan aku gagal mencari atau menyelidiki jalan ini, melainkan hanya percaya secara membabi buta pada apa yang dikatakan oleh para pendeta dan penatua, bukankah aku akan kehilangan keselamatan Tuhan dan tidak dapat menyambut kedatangan-Nya kembali? Memikirkan hal ini, aku memutuskan untuk menghadiri beberapa kebaktian lagi agar aku dapat lebih memahami pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman.

Di kebaktian lain, saudari itu membagikan bagian firman Tuhan ini dengan kami: “Pekerjaan yang dilakukan pada masa sekarang telah mendorong maju pekerjaan Zaman Kasih Karunia. Artinya, pekerjaan di bawah rencana pengelolaan enam ribu tahun telah bergerak maju. Meskipun Zaman Kasih Karunia telah berakhir, pekerjaan Tuhan telah mengalami kemajuan. Mengapa Aku katakan berulang kali bahwa tahap pekerjaan ini dibangun di atas Zaman Kasih Karunia dan Zaman Hukum Taurat? Ini berarti bahwa pekerjaan di masa sekarang merupakan kelanjutan dari pekerjaan yang dilakukan di Zaman Kasih Karunia dan merupakan kemajuan atas apa yang telah dilakukan di Zaman Hukum Taurat. Ketiga tahap saling terkait erat dan setiap mata rantai terpaut erat dengan yang berikutnya. Mengapa Aku juga mengatakan bahwa tahap pekerjaan ini dibangun di atas pekerjaan yang telah Yesus lakukan? Seandainya tahap ini tidak dibangun di atas pekerjaan yang Yesus lakukan, penyaliban harus kembali terjadi di tahap ini, dan pekerjaan penebusan dari tahap sebelumnya harus dilakukan kembali. Semua ini akan menjadi tidak berarti. Jadi, bukan berarti bahwa pekerjaan itu sudah sepenuhnya selesai, tetapi bahwa zaman telah bergerak maju dan tingkat pekerjaan telah ditingkatkan bahkan lebih tinggi dari sebelumnya. Dapat dikatakan bahwa tahap pekerjaan ini dibangun di atas landasan Zaman Hukum Taurat dan di atas batu karang pekerjaan Yesus. Pekerjaan dibangun tahap demi tahap dan tahap ini bukan sebuah awal yang baru. Hanya gabungan ketiga tahaplah yang dapat dianggap sebagai rencana pengelolaan enam ribu tahun” (“Kedua Inkarnasi Melengkapi Makna Penting Inkarnasi” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Saudari itu kemudian memberikan persekutuan dengan mengatakan, “Pekerjaan Tuhan terus bergerak maju, dan Dia melakukan pekerjaan yang berbeda dan menggunakan nama-nama yang berbeda pada zaman yang berbeda sesuai dengan kebutuhan manusia. Namun, apa pun tahap pekerjaan yang Tuhan lakukan dengan nama apa pun, pada dasarnya, selalu Tuhan sendiri yang melakukan pekerjaan untuk menyelamatkan umat manusia. Pada Zaman Hukum Taurat, Tuhan menggunakan nama Yahweh untuk melakukan pekerjaan-Nya: Dia menyatakan hukum dan perintah untuk membimbing kehidupan manusia di bumi, dan Dia memampukan manusia untuk mengetahui apa itu dosa, aturan apa yang harus mereka ikuti, bagaimana mereka harus menyembah Tuhan, dan seterusnya; pada Zaman Kasih Karunia, Tuhan menjadi manusia dan mengambil nama Yesus dan, atas dasar pekerjaan pada Zaman Hukum Taurat, Dia melakukan pekerjaan menebus umat manusia lewat penyaliban, yang mendatangkan pengampunan atas dosa-dosa manusia. Sekarang, pada Zaman Kerajaan, zaman terakhir, Tuhan telah menjadi manusia untuk kedua kalinya dan, dengan menggunakan nama Tuhan Yang Mahakuasa, Dia melakukan pekerjaan-Nya untuk menghakimi dan menyucikan manusia atas dasar pekerjaan penebusan tersebut. Akibat dari hal ini adalah bahwa natur berdosa dan watak rusak yang dimiliki manusia dihapuskan, dan akar penyebab dari manusia melakukan dosa dan menentang Tuhan dicabut, sekali untuk selamanya. Tiga tahap pekerjaan saling melengkapi dengan sempurna, dengan setiap tahap pekerjaan lebih tinggi dan lebih mendalam daripada yang terakhir. Tidak ada tahap pekerjaan Tuhan yang bisa berdiri sendiri—hanya tiga tahap pekerjaan yang saling terkait membentuk pekerjaan lengkap untuk menyelamatkan umat manusia yang dilakukan oleh Tuhan, dan bersama-sama, ketiganya membentuk rencana pengelolaan enam ribu tahun dari Tuhan untuk umat manusia. Tuhan hanya menggunakan nama-Nya untuk menandai batas zaman dan mengubah zaman, dan itulah sebabnya kita melihat bahwa nama Tuhan selalu berubah seiring dengan zaman. Namun, terlepas dari bagaimana nama Tuhan dapat berubah, Tuhan tetaplah Tuhan yang satu.” Setelah mendengarkan firman Tuhan dan persekutuan saudari itu, aku kagum. Aku telah percaya kepada Tuhan selama ini dan tidak pernah bertemu dengan siapa pun yang mampu menjelaskan pekerjaan pengelolaan enam ribu tahun dari Tuhan, tetapi firman Tuhan Yang Mahakuasa telah mengungkap misteri ini—firman ini benar-benar suara Tuhan! Aku tidak tersesat dalam keyakinanku: Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali. Hanya saja Tuhan mengubah nama-Nya dari satu zaman ke zaman lainnya, itu saja. Namun, Dia tetap Tuhan yang satu.

Aku terus menyelidikinya selama beberapa hari. Saudari itu memberi kami persekutuan tentang aspek-aspek kebenaran seperti pekerjaan penghakiman yang dilakukan Tuhan pada akhir zaman dan pentingnya nama-nama Tuhan, dan semakin aku mendengar, semakin aku memperoleh kejelasan. Suatu hari, dia berkata, “Firman Tuhan telah mengungkapkan semua misteri dalam Alkitab,” dan ketika aku mendengar hal ini, hatiku langsung menjadi cerah; aku mengatakan kepadanya tentang masalah Tritunggal yang telah membuatku sangat khawatir selama bertahun-tahun. Saudari itu kemudian membacakan kepadaku bagian dari firman Tuhan. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: “Jika ada di antaramu yang mengatakan bahwa Tritunggal memang ada, jelaskanlah apa sebenarnya satu Tuhan dalam tiga pribadi ini. Apa itu Bapa yang Suci? Apa itu Anak? Apa itu Roh Kudus? Apakah Yahweh itu Bapa yang Suci? Apakah Yesus itu Anak? Lalu bagaimana dengan Roh Kudus? Bukankah Bapa adalah Roh? Bukankah substansi Anak juga Roh? Bukankah pekerjaan Yesus adalah pekerjaan Roh Kudus? Bukankah pekerjaan Yahweh yang pada waktu itu dilakukan oleh Roh sama dengan Yesus? Berapa banyak Roh yang dapat Tuhan miliki? Menurut penjelasanmu, ketiga pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu; jika demikian, ada tiga Roh, tetapi memiliki tiga Roh berarti ada tiga Tuhan. Ini berarti bahwa tidak ada satu Tuhan yang benar; bagaimana mungkin Tuhan yang seperti ini masih memiliki substansi yang melekat pada Tuhan? Jika engkau menerima bahwa hanya ada satu Tuhan, lalu bagaimana Dia bisa memiliki satu anak dan menjadi bapa? Bukankah ini semua hanyalah gagasanmu? Hanya ada satu Tuhan, hanya satu pribadi dalam Tuhan ini, dan hanya satu Roh Tuhan, sama seperti yang tertulis dalam Alkitab bahwa ‘hanya ada satu Roh Kudus dan hanya satu Tuhan.’ Terlepas dari apakah Bapa dan Anak yang engkau katakan ada, bagaimanapun hanya ada satu Tuhan, dan substansi Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang engkau sekalian percayai adalah substansi Roh Kudus. Dengan kata lain, Tuhan adalah Roh, tetapi Dia mampu menjadi manusia dan hidup di antara manusia, serta berada di atas segalanya. Roh-Nya mencakup segalanya dan maha hadir. Dia bisa secara bersamaan menjadi manusia dan di seluruh alam semesta. Karena semua orang mengatakan bahwa Tuhan adalah satu-satunya Tuhan yang benar, maka ada satu Tuhan, yang tidak dapat dibagi oleh siapa pun! Tuhan hanyalah satu Roh, dan hanya satu pribadi; dan itu adalah Roh Tuhan” (“Apakah Tritunggal Itu Ada?” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Saudari itu memberikan persekutuan, dengan mengatakan, “Firman Tuhan sudah sangat jelas. Tuhan itu unik dan hanya ada satu Tuhan. Juga, hanya ada satu Roh Kudus. Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu esensi, yaitu Roh. Tuhan dapat bekerja dalam Roh, seperti Yahweh, tetapi Dia juga dapat bekerja dengan berinkarnasi sebagai Anak manusia, seperti Yesus dan Tuhan Yang Mahakuasa. Namun, entah Tuhan bekerja dalam Roh atau dalam daging, pada hakikatnya, itu tetap Roh Tuhan yang melakukan pekerjaan-Nya sendiri. Oleh karena itu, konsep Tritunggal berkaitan dengan gagasan dan imajinasi manusia dan sepenuhnya tidak dapat dipertahankan. Sebenarnya, konsep Tritunggal dicetuskan lebih dari 300 tahun setelah Tuhan, dalam konsili ekumenis Nicea. Pada konsili itu, para ahli agama dari seluruh agama Kristen terlibat dalam debat seru tentang natur Tuhan yang tunggal dan beragam sampai akhirnya mereka menetapkan konsep Tritunggal berdasarkan gagasan, imajinasi, dan kesimpulan logis mereka. Sejak saat itu, orang mendefinisikan satu Tuhan yang benar yang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu sebagai Tritunggal, dengan keyakinan bahwa, selain Tuhan Yesus Sang Anak yang Suci, ada Bapa yang Suci di surga dan juga alat yang digunakan oleh Bapa dan Anak, yang adalah Roh Kudus. Ini terlalu tidak masuk akal. Jika kita menuruti penafsiran dunia agama dan percaya kepada Tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus, itu artinya ada tiga Roh dan tiga Tuhan, dan tidakkah itu bertentangan dengan kenyataan bahwa ada satu Tuhan yang unik? Sebenarnya, Tritunggal itu tidak ada. Ini adalah interpretasi yang lahir sepenuhnya dari pikiran manusia dan merupakan kesimpulan yang dibuat oleh manusia yang rusak berdasarkan gagasan dan imajinasi kita. Tuhan tidak pernah mengatakan hal seperti itu, tidak ada nabi atau rasul yang diilhami oleh Tuhan yang pernah mengatakan hal seperti itu, dan tidak ada catatan tentang hal seperti itu di mana pun di dalam Alkitab.”

Beberapa kebingungan masih ada di dalam hatiku saat aku mendengarkan firman Tuhan dan persekutuan saudari itu, dan aku bertanya, “Alkitab menyatakan bahwa setelah Yesus dibaptis, surga terbuka dan Roh Kudus datang seperti burung merpati dan turun ke atas Yesus, dan sebuah suara dari surga berkata: ‘Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan‘ (Matius 3:17). Juga, sebelum Dia disalibkan, Tuhan Yesus berdoa dan berkata: ‘Oh, Bapa-Ku, jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku: tetapi bukan seperti yang Aku kehendaki, melainkan seperti kehendak-Mu‘ (Matius 26:39). Kitab suci mengatakan bahwa Tuhan di surga menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, dan Yesus menyebut Tuhan di surga sebagai Bapa-Nya ketika Dia berdoa. Jadi, di sini kita memiliki Bapa, Anak, dan Roh Kudus—bukankah ini menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tritunggal? Mengapa dikatakan dalam firman Tuhan Yang Mahakuasa bahwa Tritunggal tidak ada dan bahwa itu tidak lebih dari gagasan dan imajinasi manusia? Apa artinya semua ini?”

Sebagai jawaban atas pertanyaanku, saudari itu memberikan persekutuan, dengan mengatakan, “Tidak ada konsep Tritunggal dalam Perjanjian Lama. Baru setelah Tuhan Yesus menjadi manusia dan turun ke bumi untuk melakukan pekerjaan-Nya maka kita memiliki interpretasi ‘Bapa dan Anak.’ Tercatat dalam Injil Yohanes bahwa Filipus tidak mengenal Tuhan dan percaya bahwa, selain Tuhan Yesus di bumi, ada juga Bapa yang Suci di surga, dan karena itu dia berkata kepada Yesus, ‘Tuhan, tunjukkan kepada kami Bapa itu.’ Tuhan Yesus mengoreksi pandangannya yang keliru dan mengungkap misteri ini, Yesus berkata kepadanya, ‘Aku sudah begitu lama bersamamu, tetapi engkau belum mengenal Aku, Filipus? Ia yang sudah melihat Aku sudah melihat Bapa; lalu bagaimana engkau berkata, tunjukkan kepada kami Bapa itu?‘ (Yohanes 14:9). Dia juga berkata: ‘Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku’ (Yohanes 14:10). ‘Aku dan Bapaku adalah satu‘ (Yohanes 10:30). Bapa adalah Anak, dan Anak adalah Bapa; Bapa dan Anak adalah satu, Mereka adalah satu Roh. Dengan mengatakan ini, Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa Dia dan Bapa adalah satu Tuhan, bukan dua.”

Saudari itu kemudian memperlihatkan kepadaku sebuah klip video yang luar biasa berjudul Mengungkap Misteri “Bapa dan Anak.” Setelah itu, kami melanjutkan membaca satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Masih ada orang yang berkata, ‘Bukankah Tuhan secara tegas menyatakan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih?’ Yesus adalah Anak Tuhan yang terkasih, yang kepadanya Dia berkenan—ini tentu diucapkan oleh Tuhan Sendiri. Itu adalah Tuhan yang memberi kesaksian tentang diri-Nya, tetapi hanya dari perspektif yang berbeda, yaitu perspektif Roh di surga yang memberikan kesaksian mengenai inkarnasi-Nya sendiri. Yesus adalah inkarnasi-Nya, bukan Anak-Nya di surga. Apakah engkau paham? Bukankah perkataan Yesus, ‘Aku ada di dalam Bapa, dan Bapa ada di dalam Aku,’ menunjukkan bahwa Mereka adalah satu Roh? Dan bukankah karena inkarnasilah Mereka dipisahkan di antara langit dan bumi? Kenyataannya, Mereka tetap satu; bagaimanapun, itu hanyalah Tuhan yang bersaksi mengenai diri-Nya. … Karena Dia adalah inkarnasi, Dia disebut Anak Tuhan yang terkasih, dan, dari sini, muncullah hubungan antara Bapa dan Anak. Itu hanya karena pemisahan antara langit dan bumi. Yesus berdoa dari sudut pandang manusia. Karena Dia telah menjelma menjadi manusia normal, maka Dia berkata dari perspektif manusia: ‘Jasmani-Ku adalah jasmani makhluk ciptaan. Karena Aku menjelma menjadi manusia untuk datang ke bumi ini, Aku sangat jauh sekali dari surga.’ Karena alasan ini, Dia hanya bisa berdoa kepada Tuhan Sang Bapa dari perspektif manusia. Ini adalah tugas-Nya, dan tugas yang harus diberikan kepada Roh Tuhan yang berinkarnasi. Tidak dapat dikatakan bahwa Dia bukan Tuhan hanya karena Dia berdoa kepada Bapa dari perspektif manusia. Meskipun Dia disebut Anak Tuhan yang terkasih, Dia tetap Tuhan Sendiri, karena Dia adalah inkarnasi dari Roh, dan substansi-Nya tetaplah Roh” (“Apakah Tritunggal Itu Ada?” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Saudari itu berkata, “Saat Tuhan menjadi manusia pertama kalinya sebagai Tuhan Yesus dan datang untuk melakukan pekerjaan-Nya, tidak ada yang mengenal Tuhan, mereka tidak memahami kebenaran inkarnasi, dan mereka tidak tahu apa itu inkarnasi. Jika Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka secara langsung bahwa Dia adalah Tuhan Yahweh yang mereka sembah, mereka tidak akan dapat menerimanya karena tingkat pertumbuhan mereka pada waktu itu, dan Tuhan Yesus akan dikutuk dan ditolak oleh umat manusia sebelum Dia bahkan mulai melakukan pekerjaan-Nya. Pekerjaan Tuhan untuk menebus umat manusia pada waktu itu akan mustahil, dan umat manusia tidak akan pernah memperoleh Yesus sebagai korban penghapus dosa. Agar manusia mau menerima Tuhan Yesus, percaya kepada-Nya, dan memperoleh keselamatan Tuhan, sebelum Yesus secara resmi memulai pekerjaan-Nya, Tuhan memberikan kesaksian kepada diri-Nya sendiri dari sudut pandang Roh-Nya dan menyebut tubuh-Nya sendiri sebagai Anak-Nya, sehingga orang-orang dapat melihat bahwa Yesus benar-benar datang dari Tuhan; ini membantu memfasilitasi penerimaan kita akan keselamatan Tuhan Yesus. Dan ketika Tuhan Yesus berdoa dan menyebut Tuhan di surga sebagai Bapa-Nya, ini adalah inkarnasi Anak manusia sedang memanggil Roh dalam diri-Nya Bapa dari sudut pandang kedagingan. Ini dilakukan atas dasar perbedaan antara Roh dan daging; itu tidak berarti bahwa ada Bapa dan Anak yang terpisah. Bahkan, penafsiran Bapa dan Anak hanya tepat selama masa inkarnasi Tuhan. Ketika pekerjaan Tuhan di bumi sudah diselesaikan, yaitu, ketika Tuhan Yesus menggenapkan pekerjaan penebusan, dibangkitkan, dan naik ke surga, tidak ada lagi kebutuhan untuk penafsiran Bapa dan Anak. Oleh karena itu, kita tidak dapat menggunakan penafsiran Bapa dan Anak yang dibuat oleh gagasan manusia dan menerapkannya secara keseluruhan kepada Tuhan, dengan mengatakan dalam Tuhan ada Bapa dan Anak, dan bahwa ada juga alat yang digunakan oleh Bapa dan Anak—Roh Kudus—dan bahwa Tuhan adalah Tritunggal. Mengatakan hal seperti itu bertentangan dengan firman Tuhan dan bertentangan dengan fakta. Kita tidak mengerti kebenaran sebelumnya, dan ketika kita mengatakan hal seperti itu, Tuhan tidak menghukum kita. Namun sekarang Tuhan telah sepenuhnya mengungkapkan kebenaran dan misteri ini, dan kita harus menerima kebenaran dan mengenal Tuhan dalam terang firman-Nya. Hanya ini yang benar, dan hanya ini yang sesuai dengan kehendak Tuhan.”

Melalui persekutuan saudari ini, aku memahami mengapa Tuhan Yesus menyebut Tuhan di surga sebagai Bapa-Nya. Itu karena Dia telah menjelma sebagai Anak Manusia dan sedang berdoa kepada Bapa surgawi dari sudut pandang seorang manusia. Tuhan memberikan kesaksian tentang Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, dan inilah Tuhan yang menjadi saksi atas daging-Nya sendiri yang berinkarnasi dari sudut pandang Roh. Satu ada di surga dan Satu di bumi tetapi Mereka, pada hakikatnya, adalah dari satu Roh. Hanya saja Tuhan mengatakan hal-hal ini dari sudut pandang yang berbeda, dan begitulah munculnya penafsiran “Bapa dan Anak”. Tuhan adalah satu-satunya Tuhan yang benar, Dia adalah satu Roh, yang mencakup segalanya dan ada di mana-mana. Dia bisa ada di surga, Dia bisa ada di bumi, dan Dia bisa menjadi manusia. Setelah aku memahami semua ini, semuanya tiba-tiba menjadi jelas, kebingungan yang telah menjadi temanku selama bertahun-tahun ini hilang dalam sekejap, dan aku merasakan penerangan dan kelepasan yang luar biasa.

Setelah itu, saudari itu memperlihatkan kepadaku sebuah film kesaksian Injil berjudul Eksplorasi atas “Tritunggal” di mana aku melihat firman Tuhan berikut ini: “Selama bertahun-tahun ini, engkau sekalian telah membagi Tuhan dengan cara ini, dibagi menjadi semakin kecil pada setiap generasi, sehingga satu Tuhan telah secara terbuka dibagi menjadi tiga Tuhan. Dan sekarang tidak mungkin bagi manusia untuk menyatukan kembali Tuhan menjadi satu, karena engkau sekalian telah membagi-Nya terlalu kecil! Jika bukan karena pekerjaan segera-Ku datang sebelum terlambat, sulit untuk mengatakan berapa lama engkau akan tetap seperti ini! Jika terus membagi Tuhan seperti ini, bagaimana mungkin Dia masih menjadi Tuhanmu? Apakah engkau sekalian masih mengenal Tuhan? Apakah engkau masih akan kembali kepada-Nya? Seandainya Aku terlambat tiba, kemungkinan engkau sekalian akan mengirim ‘Bapa dan Anak,’ Yahweh dan Yesus, kembali ke Israel dan menyatakan bahwa engkau sendiri adalah bagian dari Tuhan. Untungnya, sekarang adalah akhir zaman. Akhirnya, hari yang telah lama Kutunggu ini telah tiba, dan hanya setelah Aku melakukan tahap pekerjaan ini dengan tangan-Ku sendiri, perbuatanmu membagi Tuhan Sendiri telah terhenti. Jika bukan karena ini, engkau sekalian akan semakin menjadi-jadi, bahkan menempatkan semua Iblis di antaramu ke mezbah pemujaan. Inilah kelicikanmu! Caramu membagi Tuhan! Apakah engkau sekalian akan terus melakukannya sekarang? Biarkan Aku bertanya: Berapa banyak Tuhan yang ada? Tuhan mana yang akan memberi keselamatan kepadamu? Apakah kepada Tuhan pertama, kedua, atau ketiga engkau sekalian selalu berdoa? Manakah dari Mereka yang selalu engkau percayai? Apakah Bapa? Ataukah Anak? Atau Roh? Katakan kepada-Ku siapa yang engkau percayai. Walaupun dengan setiap kata yang engkau katakan engkau percaya pada Tuhan, apa yang sebenarnya engkau sekalian percayai adalah otakmu sendiri! Sebenarnya, tidak ada Tuhan di dalam hatimu sekalian! Namun, dalam pikiranmu ada beberapa ‘Tritunggal’ ini! Engkau sekalian setuju, bukan?” (“Apakah Tritunggal Itu Ada?” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Setelah kami selesai menonton film, aku merasa bahagia, tetapi aku juga merasa kesal dan sedikit mencela diri. Aku senang karena kebingungan yang telah menyertaiku selama bertahun-tahun ini akhirnya telah terjawab: Tuhan adalah satu, dan interpretasi Tritunggal sama sekali tidak ada. Hanya kepercayaan kepada satu Tuhan yang benarlah yang sesuai dengan kehendak Tuhan, dan aku tidak lagi harus berdoa kepada Bapa sesaat, dan sesaat kemudian kepada Roh Kudus atau Anak seperti yang aku lakukan sebelumnya—aku merasa sangat nyaman. Namun aku merasa kesal dan mencela diriku sendiri karena aku telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun dan belum mengenal Tuhan. Apa yang aku percayai tidak lain adalah Tuhan yang diciptakan oleh gagasan dan imajinasiku—Tuhan dalam legenda yang samar. Aku belum percaya kepada Tuhan yang nyata dan, terlebih lagi, aku telah menentang Tuhan dan memisah-misahkan Tuhan—aku benar-benar telah menghujat Tuhan! Syukur kepada Tuhan, karena kedatangan Tuhan Yang Mahakuasalah yang mengungkapkan semua absurditas iman umat manusia yang rusak, dan Tuhan Yang Mahakuasalah yang telah mengungkap misteri ini yang selalu mengacaukan dunia agama. Tuhan Yang Mahakuasa tanpa diragukan adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu. Dialah satu-satunya Tuhan yang benar!

Kemudian, dengan membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku melihat bahwa semua firman Tuhan adalah kebenaran dan bahwa semua firman itu adalah suara Tuhan. Tanpa ragu-ragu, aku menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman dan mulai mengikuti langkah Anak Domba. Sekarang jika aku berdoa, aku tidak perlu berdoa kepada tiga Tuhan. Aku hanya berdoa dalam nama Tuhan Yang Mahakuasa, dan ini membuatku merasa sangat nyaman, damai, dan penuh sukacita. Aku tidak lagi khawatir saat berdoa bahwa aku tidak cukup berdoa kepada satu pribadi Tuhan atau yang lain dan bahwa karena itu Tuhan tidak akan mendengarkan doa-doaku. Aku benar-benar mengalami kelepasan, kebebasan, sukacita dan kebahagiaan yang berasal dari memahami kebenaran dan mengenal Tuhan. Syukur kepada Tuhan!

Media Terkait

  • Langit Khususnya Sangat Terang dan Cerah Hari Itu

    Oleh Saudari Tian Ying, Tiongkok Dahulu aku adalah jemaat Gereja Tiga-Pendirian di Tiongkok. Ketika pertama kali aku mulai mengikuti ibadah, para pend…

  • Kasih yang Berbeda

    Oleh Chengxin, Brasilia Sebuah kesempatan yang tak terduga pada tahun 2011 memungkinkan aku untuk datang ke Brasilia dari Tiongkok. Ketika baru saja t…

  • Jenis Keselamatan yang Lain

    Oleh Saudari Huang Lin, Tiongkok Dahulu aku adalah orang percaya biasa di Gereja Karismatik, dan sejak mulai percaya kepada Tuhan, aku tidak pernah me…

  • Dengar! Siapakah Ini yang Berbicara?

    Oleh Saudari Zhou Li, Tiongkok Sebagai seorang pengkhotbah di gereja, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada kemiskinan rohani dan tidak punya baha…