Langit Khususnya Sangat Terang dan Cerah Hari Itu

Oleh Saudari Tian Ying, Tiongkok

Dahulu aku adalah jemaat Gereja Tiga-Pendirian di Tiongkok. Ketika pertama kali aku mulai mengikuti ibadah, para pendeta akan sering kali berkata kepada kami, “Saudara-saudari, tertulis dalam Alkitab bahwa, ‘Sebab dengan hati, orang percaya kepada kebenaran; dan dengan mulut, pengakuan kepada keselamatan dibuat’ (Roma 10:10). Kita sudah dibenarkan oleh karena iman kita, dan karena kita percaya kepada Yesus, kita telah diselamatkan. Jika kita percaya pada hal lainnya, kita tidak akan diselamatkan ….” Aku selalu mengingat perkataan ini yang diucapkan oleh para pendeta. Mereka terus mendorongku ketika aku bersemangat dalam mengejar Tuhan dan secara aktif menghadiri ibadah, menantikan Tuhan untuk datang dan menerimaku ke dalam kerajaan surga. Kemudian, serangkaian perbuatan yang melanggar hukum dilakukan di dalam gereja, dan sebagai akibatnya, aku mulai jenuh dengan ibadah di sana. Tidak hanya para pendeta mengalami perpecahan di antara mereka, dengan masing-masing berusaha untuk menempatkan diri mereka di puncak dan membangun wilayah kekuasaan mereka sendiri, tetapi khotbah-khotbah yang disampaikan oleh para pendeta juga dibatasi, yaitu harus mengikuti aturan yang dibuat oleh Departemen Pekerjaan Front Bersatu (DPFB). DPFB tidak mengizinkan para pendeta kami berkhotbah dari Kitab Wahyu karena takut itu akan “menimbulkan kekacauan di antara jemaat,” dan karenanya, mereka tidak berkhotbah dari Kitab Wahyu. Para pendeta akan sering berkhotbah tentang memberi sumbangan, mengatakan bahwa semakin banyak orang menyumbang, semakin besar berkat yang akan diterima orang tersebut dari Tuhan. Melihat gereja dalam kondisi ini, aku merasa bingung: bagaimana gereja bisa sampai seperti ini? Apakah para pendeta itu tidak percaya kepada Tuhan? Mengapa mereka tidak mengikuti firman Tuhan? Mengapa mereka tidak sedikit pun memiliki sikap hormat kepada Tuhan? Sejak saat itu, aku tidak lagi ingin menghadiri ibadah di Gereja Tiga-Pendirian karena aku merasa bahwa mereka tidak benar-benar percaya kepada Tuhan, dan bahwa mereka adalah para gembala palsu yang berpura-pura percaya kepada Tuhan agar dapat mengambil uang hasil jerih payah saudara-saudari di gereja tersebut.

Pada akhir tahun 1995, tanpa keraguan aku keluar dari gereja itu dan bergabung dengan sebuah gereja rumah (Gereja Sola Fide). Awalnya, aku berpikir bahwa khotbah-khotbah mereka tidak tunduk pada batasan pemerintah nasional, dan mereka bahkan memasukkan Kitab Wahyu ke dalam khotbah-khotbah mereka dan membahas akhir zaman, kedatangan Tuhan kembali, dan seterusnya. Jadi aku merasa bahwa khotbah mereka jauh lebih baik daripada khotbah para pendeta di Gereja Tiga-Pendirian, dan ada lebih banyak sukacita yang kurasakan dengan menghadiri ibadah di sini dibandingkan dengan beribadah di Gereja Tiga-Pendirian—aku sangat gembira. Namun setelah beberapa waktu, aku mendapati bahwa di sini juga, di antara para rekan sekerja ada beberapa orang yang terlibat dalam perselisihan karena iri hati dan yang menciptakan perpecahan. Tak seorang pun dari saudara-saudari itu yang memenuhi tuntutan Tuhan, dan mereka tidak penuh kasih seperti dahulu. Ketika aku melihat bahwa gereja ini tidak begitu berbeda dengan Gereja Tiga-Pendirian, aku merasa sangat kecewa, tetapi aku juga tidak tahu di mana aku bisa menemukan sebuah gereja yang memiliki pekerjaan Roh Kudus. Karena kekurangan pilihan yang lebih baik, yang bisa aku lakukan adalah tetap berada di dalam Gereja Sola Fide, jadi aku terus menghadiri ibadah mereka. Para pendeta dan pengkhotbah semuanya berkata “sekali diselamatkan selamanya diselamatkan” dan “selama engkau bertahan sampai akhir, bekerja keras dan melayani Tuhan serta terus mengikuti jalan Tuhan, engkau akan dapat memasuki kerajaan surga.” Jadi aku berpikir pada waktu itu: “Apa pun yang terjadi terhadap orang lain, selama aku bertekun dalam imanku kepada Tuhan Yesus dan tidak menyimpang dari jalan Tuhan, maka ketika Tuhan datang kembali, aku akan memiliki kesempatan untuk diangkat ke dalam kerajaan surga.”

Dalam sekejap mata di akhir tahun 1997, Injil kerajaan Tuhan telah menjangkau sampai kepada kami, dan gereja kami mengalami kegemparan. Pemimpin Li berkata kepada kami, “Sekarang ini telah muncul sebuah kelompok yang menyebarkan Kilat dari Timur, mereka mencuri banyak jemaat dari berbagai denominasi, dan mereka mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali dan Dia sedang melakukan sebuah tahap pekerjaan yang baru. Tuhan Yesus telah dipaku di atas kayu salib bagi kita, dan Dia telah membayar harga dengan nyawa-Nya demi menebus kita. Kita telah diselamatkan. Kita hanya perlu bertahan sampai akhir, dan ketika Tuhan datang kembali, kita pasti akan diangkat ke dalam kerajaan surga. Karena itu kita harus berhati-hati, dan kita sama sekali tidak boleh menerima orang-orang Kilat dari Timur ini. Barang siapa menerima mereka, akan dikeluarkan dari gereja! Selain itu, engkau semua harus memastikan untuk tidak mendengarkan apa yang mereka katakan, dan engkau semua harus memastikan untuk tidak membaca buku-buku mereka….” Tampaknya para rekan sekerja di semua tingkatan berbicara tentang hal-hal ini di hampir setiap pertemuan. Setelah mendengar apa yang mereka katakan, tanpa disadari saudara-saudari itu mulai menentang dan berhati-hati terhadap Kilat dari Timur. Aku bahkan mulai menjadi lebih berhati-hati dan waspada, karena aku takut aku akan dicuri oleh Kilat dari Timur dan akibatnya aku akan kehilangan kesempatan untuk masuk ke dalam kerajaan surga.

Namun, awal tahun baru saja dimulai pada tahun 1998 ketika suatu hari, secara tak terduga, aku bertemu dengan seseorang dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa, dan aku mendapatkan keberuntungan untuk mendengarkan jalan Kilat dari Timur untuk pertama kalinya. Hari itu, kakak perempuanku meneleponku dan mengundangku ke rumahnya. Dia juga mengundang Saudari Hu dari desanya untuk datang. Ketika Saudari Hu melihatku, dia tersenyum dan berkata, “Oh, bagus, kau datang. Seorang kerabat jauhku yang percaya kepada Tuhan sedang mengunjungiku. Bagaimana kalau kita semua berkumpul bersama?” Aku dengan senang hati menyetujuinya. Tak lama kemudian, Saudari Hu kembali bersama kerabatnya. Ketika saudari ini melihat kami, dia menyambut kami dengan antusias. Meskipun sebelumnya aku tidak pernah bertemu dengannya, aku merasakan suatu kedekatan dengannya. Dia berkata, “Ada kegersangan yang tersebar luas di gereja saat ini. Para pengkhotbah tidak memiliki pesan yang segar atau baru untuk dikhotbahkan. Di setiap ibadah, ketika mereka tidak sedang berkhotbah tentang cara menentang Kilat dari Timur, semua jemaat hanya mendengarkan kaset dan menyanyikan lagu-lagu pujian. Semua inilah yang terjadi di banyak ibadah. Para rekan sekerja terlibat dalam perselisihan karena iri hati, mereka bersekongkol dan berkomplot, mereka semua merasa dirinya benar dan tak seorang pun yang mau mendengarkan orang lain. Saudara-saudari itu bersikap negatif dan lemah, dan mereka telah kehilangan iman dan kasih mereka. Banyak yang telah meninggalkan Tuhan demi kembali ke dunia untuk mendapatkan uang.” Jauh di lubuk hatiku, aku merasakan hal yang sama, dan sambil menganggukkan kepala, aku berkata kepada saudari itu, “Inilah juga yang terjadi di gerejaku. Sebelumnya, ada 20 hingga 30 orang yang hadir dalam ibadah bulanan kami, tetapi sekarang yang hadir hanya beberapa orang lanjut usia, dan bahkan para pengkhotbah telah masuk ke dalam dunia untuk mendapatkan uang! Tidak ada sukacita yang bisa dirasakan dalam ibadah-ibadah itu.” Saudari itu menganggukkan kepalanya dan berkata, “Keadaan seperti ini tidak lagi hanya terjadi di gereja-gereja tertentu, tetapi merupakan fenomena yang tersebar luas di seluruh dunia keagamaan. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Roh Kudus tidak dapat ditemukan lagi di dalam gereja, dan karena itu perbuatan yang melanggar hukum dilakukan sepanjang waktu—ini adalah tanda kedatangan Tuhan kembali. Sama seperti pada akhir Zaman Hukum Taurat, ketika bait suci menjadi tempat berjualan ternak dan tempat penukaran uang. Itu karena Tuhan sudah berhenti melakukan pekerjaan-Nya di dalam bait suci, dan sebagai gantinya telah berinkarnasi sebagai Tuhan Yesus untuk melakukan tahap pekerjaan yang baru di luar bait suci.” Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, sambil sesekali menganggukkan kepala. Saudari itu melanjutkan, “Saudari, dalam Lukas 17:24–26 dikatakan: ‘Karena sama seperti kilat yang memancar dari satu bagian di bawah langit, bersinar sampai ke bagian lain di bawah langit; demikian juga Anak Manusia saat hari kedatangan-Nya tiba. Tetapi pertama-tama Dia harus mengalami berbagai penderitaan dan ditolak oleh generasi ini. Dan sama seperti di zaman Nuh, begitu juga kelak di hari-hari Anak Manusia.’ Bagaimana engkau menafsirkan ayat-ayat Alkitab ini?” Aku merenungkannya dengan saksama selama beberapa saat, dan kemudian tertawa dengan canggung dan berkata, “Saudari, bukankah ayat-ayat ini sedang berbicara tentang kedatangan Tuhan?” Saudari itu menjawab, “Ayat-ayat Alkitab ini sedang membahas tentang kedatangan Tuhan. Namun, ayat-ayat ini tidak sedang berbicara tentang kedatangan Tuhan Yesus di masa lalu. Sebaliknya, ayat-ayat ini mengacu pada kedatangan Tuhan kembali pada akhir zaman karena, di sini, Tuhan dengan sangat jelas bernubuat tentang apa yang akan terjadi ketika Dia datang kembali pada akhir zaman. Saudari, saat ini iman orang-orang percaya di gereja telah menjadi dingin, dan mereka bersikap negatif dan lemah. Ini karena Tuhan telah sekali lagi menjadi manusia untuk melakukan tahap pekerjaan yang baru. Pekerjaan Tuhan telah berlanjut, dan setiap orang yang tidak mengikuti pekerjaan Tuhan yang baru akan kehilangan pekerjaan Roh Kudus.” Begitu aku mendengar saudari itu berkata bahwa Tuhan Yesus telah datang kembali, aku langsung menduga bahwa dia adalah jemaat Kilat dari Timur, dan jantungku seakan-akan berhenti berdetak. Senyuman di wajahku lenyap ketika perkataan dari para pemimpinku yang telah menutup rapat gereja langsung muncul dalam pikiranku: “Percaya kepada Yesus artinya diselamatkan, dan sekali diselamatkan selamanya diselamatkan! … Jangan menerima mereka yang berasal dari Kilat dari Timur! …” Ketika aku teringat dengan perkataan dari para pemimpinku ini, aku ingin bergegas pulang. Namun ketika gagasan ini muncul di benakku, Tuhan mencerahkanku dengan membuatku mengingat satu bagian dari sebuah lagu pujian: “Yesus adalah tempat perlindungan kita, saat engkau memiliki masalah, datanglah kepada-Nya, jika Tuhan besertaku, apa yang perlu kutakutkan?” “Itu dia!” Pikirku. “Jika Tuhan besertaku, lalu apa yang perlu kutakutkan? Hal-hal yang kutakutkan bukan berasal dari Tuhan, itu semua berasal dari Iblis.” Saat itu juga, saudari itu berkata, “Jika ada yang memiliki pertanyaan, silakan bertanya. Firman Tuhan akan sanggup menyelesaikan semua masalah dan kesulitan yang kita miliki.” Ketika aku mendengar saudari itu mengatakan ini, aku berpikir dalam hati: “Engkau mungkin tidak akan mampu menjawab semua pertanyaanku! Sekarang aku harus menyelidiki apa sebenarnya yang dikhotbahkan oleh Kilat dari Timur, dan bagaimana mereka mampu mencuri begitu banyak jemaat.”

Memikirkan hal ini, aku memutuskan untuk berterus terang dan mengambil inisiatif, dan aku berkata, “Para pemimpin kami selalu mengatakan bahwa Tuhan Yesus telah dipaku di atas kayu salib bagi kami, dan bahwa Dia telah membayar harga dengan nyawa-Nya agar dapat menebus kami, dan karena itu kami telah diselamatkan. Itu tertulis dalam Alkitab: ‘Sebab dengan hati, orang percaya kepada kebenaran; dan dengan mulut, pengakuan kepada keselamatan dibuat’ (Roma 10:10). Karena kami telah diselamatkan, maka kami telah selamanya diselamatkan, dan selama kami bertahan sampai akhir, maka ketika Tuhan datang kembali, kami pasti akan diangkat ke dalam kerajaan surga. Ini adalah janji Tuhan bagi kami. Karena itu, kami tidak perlu menerima pekerjaan baru apa pun yang sedang dilakukan oleh Tuhan.”

Saudari itu tersenyum dan berkata kepadaku, “Banyak orang percaya berpikir bahwa Tuhan Yesus telah dipaku di atas kayu salib bagi kita, dan karena Dia telah membayar harga dengan nyawa-Nya demi menebus kita, maka kita telah diselamatkan. Orang-orang percaya bahwa sekali diselamatkan artinya selamanya diselamatkan, bahwa yang perlu kita lakukan adalah bertahan sampai akhir, dan kemudian ketika Tuhan datang kembali, kita pasti akan diangkat ke dalam kerajaan surga, dan kita tidak perlu menerima pekerjaan baru apa pun yang dilakukan oleh Tuhan. Namun, apakah cara berpikir ini benar? Apakah itu benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan? Sebenarnya, gagasan bahwa ‘sekali diselamatkan selamanya diselamatkan, dan ketika Tuhan datang kembali kita akan diangkat ke dalam kerajaan surga’ hanyalah sebuah gagasan dan imajinasi manusia, dan itu sama sekali tidak sesuai dengan apa yang Tuhan katakan. Tuhan Yesus tidak pernah sekalipun berkata bahwa mereka yang telah diselamatkan oleh iman dapat masuk ke dalam kerajaan surga, melainkan Dia berkata, ‘Melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga‘ (Matius 7:21). Diselamatkan dan melakukan kehendak Bapa di surga bukanlah hal yang sama. Ketika kita berbicara tentang diselamatkan oleh iman, penyelamatan ini mengacu pada pengampunan atas dosa-dosamu. Artinya, jika seseorang seharusnya dihukum mati menurut hukum Taurat, tetapi kemudian mereka datang ke hadapan Tuhan dan bertobat serta menerima keselamatan Tuhan, Dia akan mengampuni dosa-dosa mereka, dan orang itu akan menyingkirkan penghukuman oleh hukum Taurat, dan tidak lagi akan dihukum mati menurut hukum Taurat. Inilah arti sesungguhnya dari diselamatkan. Namun diselamatkan bukan berarti seseorang telah dibebaskan dari dosa dan ditahirkan. Kita semua telah mengalami ini secara mendalam. Meskipun kita telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan kita sering mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan dan bertobat, dan juga menikmati sukacita dan damai sejahtera karena diampuni dari dosa-dosa kita, kita masih sering tanpa sadar berbuat dosa, dan kita terikat oleh dosa-dosa kita. Ini adalah fakta. Misalnya, watak kita yang rusak seperti kecongkakan, kecurangan, keegoisan, keserakahan, kejahatan dan sebagainya masih terus ada; kita masih suka mengejar tren dunia, mengejar kekayaan dan ketenaran, serta kesenangan daging, dan kita mengingini kenikmatan dunia yang penuh dosa. Agar dapat melindungi kepentingan pribadi, kita juga sering kali mampu untuk berbohong dan menipu orang lain. Karena itu, diselamatkan bukan berarti seseorang telah memperoleh keselamatan penuh. Itu adalah fakta. Itu tertulis dalam Alkitab: ‘Karena itu jadilah kudus, sebab Aku ini kudus‘ (Imamat 11:45). Tuhan itu kudus, jadi mungkinkah Dia akan membiarkan manusia yang sering berbuat dosa dan menentang Tuhan untuk memasuki kerajaan surga? Jika engkau percaya bahwa mereka yang telah diselamatkan oleh iman dapat masuk ke dalam kerajaan surga, lalu mengapa Tuhan Yesus mengucapkan firman berikut ini? ‘Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Banyak orang akan berkata kepada-Ku di hari itu kelak, Tuhan, Tuhan, bukankah kami telah bernubuat demi nama-Mu, telah mengusir Iblis-Iblis demi nama-Mu, dan melakukan banyak pekerjaan ajaib demi nama-Mu? Saat itu Aku akan menyatakan kepada mereka, Aku tidak pernah mengenalmu: pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan‘ (Matius 7:21–23). Mengapa dikatakan bahwa ketika Tuhan datang kembali, Dia akan memisahkan kambing dari domba dan lalang dari gandum? Karena itu, pernyataan yang mengatakan bahwa mereka yang telah diselamatkan oleh iman dapat masuk ke dalam kerajaan surga sama sekali tidak dapat dipertahankan. Itu sama sekali bertentangan dengan perkataan Tuhan Yesus, dan itu menentang firman Tuhan! Jadi, jika kita tidak menerima dan percaya kepada firman Tuhan, melainkan berpegang teguh pada kekeliruan yang disebarluaskan oleh para pendeta dan penatua serta bergantung pada gagasan dan imajinasi kita sendiri untuk percaya kepada Tuhan, kita tidak akan pernah bisa memenuhi tuntutan Tuhan, dan kita tidak akan pernah bisa diangkat ke dalam kerajaan surga.”

Aku merenungkan perkataan saudari itu dan merasa bahwa apa yang dikatakannya sangat masuk akal, jadi aku duduk di sana mendengarkan dengan tenang. Saudari itu melanjutkan, “Firman Tuhan Yang Mahakuasa telah menyingkapkan misteri tentang diselamatkan dan memperoleh keselamatan penuh, jadi mari kita perhatikan firman Tuhan Yang Mahakuasa dan melihat apa yang Dia katakan tentang ini. Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: ‘Pada masa itu, pekerjaan Yesus adalah penebusan seluruh umat manusia. Dosa-dosa semua orang yang percaya kepada-Nya diampuni; asalkan engkau percaya kepada-Nya, Dia akan menebusmu; jika engkau percaya kepada-Nya, engkau bukan lagi orang berdosa, engkau telah dibebaskan dari dosa-dosamu. Inilah yang dimaksud dengan diselamatkan dan dibenarkan oleh iman. Namun di antara orang-orang percaya, masih ada yang memberontak dan melawan Tuhan, dan secara bertahap harus dibuang. Keselamatan tidak berarti manusia telah sepenuhnya didapatkan oleh Yesus, tetapi manusia tidak lagi terikat oleh dosa, dosa-dosanya telah diampuni: asalkan engkau percaya, engkau tidak akan pernah lagi terikat oleh dosa‘ (“Visi Pekerjaan Tuhan (2)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). ‘Sebelum manusia ditebus, banyak racun Iblis yang telah tertanam kuat di dalam dirinya. Setelah ribuan tahun dirusak oleh Iblis, di dalam diri manusia terdapat sifat dasar yang selalu menolak Tuhan. Oleh karena itu, ketika manusia telah ditebus, manusia mengalami tidak lebih dari penebusan, di mana manusia dibeli dengan harga yang mahal, namun sifat beracun dalam dirinya masih belum dihilangkan. Manusia masih begitu tercemar sehingga harus mengalami perubahan sebelum layak untuk melayani Tuhan. Melalui pekerjaan penghakiman dan hajaran ini, manusia akan sepenuhnya menyadari substansi mereka sebenarnya yang najis dan rusak, dan mereka akan dapat sepenuhnya berubah dan menjadi tahir. Hanya dengan cara ini manusia dapat dilayakkan untuk kembali menghadap takhta Tuhan. … Meskipun manusia telah ditebus dan diampuni dosanya, itu hanya dapat dianggap bahwa Tuhan tidak lagi mengingat pelanggaran manusia dan tidak memperlakukan manusia sesuai dengan pelanggarannya. Namun, ketika manusia hidup dalam daging dan belum dibebaskan dari dosa, ia hanya bisa terus berbuat dosa, tanpa henti menyingkapkan watak rusak Iblis dalam dirinya. Inilah kehidupan yang manusia jalani, siklus tanpa henti berbuat dosa dan meminta pengampunan. Mayoritas manusia berbuat dosa di siang hari lalu mengakui dosa di malam hari. Dengan demikian, sekalipun korban penghapus dosa selamanya efektif bagi manusia, itu tidak dapat menyelamatkan manusia dari dosa. Hanya separuh dari pekerjaan penyelamatan telah diselesaikan, karena watak manusia masih rusak. … Kerusakan itu lebih dalam daripada dosa, ditanam si Iblis dan berakar kuat dalam diri manusia. Tidak mudah bagi manusia untuk menyadari dosa-dosanya; manusia tidak dapat mengenali sifat dasarnya sendiri yang telah berakar begitu dalam. Hanya melalui penghakiman oleh firman, dampak seperti itu dapat dicapai. Hanya dengan demikian, manusia secara bertahap diubahkan dimulai dari titik tersebut hingga seterusnya‘ (“Misteri Inkarnasi (4)” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). ‘Engkau hanya tahu bahwa Yesus akan turun ke bumi pada akhir zaman, tetapi bagaimana tepatnya Dia akan turun? Orang berdosa sepertimu, yang baru saja ditebus, yang belum diubahkan, atau disempurnakan Tuhan, mungkinkah engkau berkenan di hati Tuhan? Bagimu, engkau yang masih berada dalam diri manusia yang lama, memang benar bahwa engkau diselamatkan oleh Yesus, dan engkau tidak terhitung sebagai orang berdosa karena penyelamatan Tuhan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa engkau tidak berdosa, dan tidak najis. Bagaimana mungkin engkau bisa kudus jika engkau belum diubahkan? Di dalam dirimu, engkau dipenuhi dengan kenajisan, egois dan kasar, tetapi engkau masih berharap untuk dapat turun bersama Yesus—enak sekali kau! Engkau melewatkan satu tahap dalam kepercayaanmu kepada Tuhan: engkau baru hanya ditebus, tetapi belum diubahkan. Agar engkau dapat berkenan di hati Tuhan, Tuhan harus langsung melakukan pekerjaan pengubahan dan pembersihan terhadapmu. Jika engkau hanya ditebus, engkau tidak akan dapat mencapai kekudusan. Dengan begini, engkau tidak akan layak mendapat bagian dalam berkat-berkat Tuhan yang baik, sebab engkau melewatkan satu tahap dalam pekerjaan Tuhan dalam mengelola manusia, yaitu tahap kunci berupa pengubahan dan penyempurnaan. Oleh karena itu, engkau, seorang berdosa yang baru ditebus saja, tidak dapat langsung menerima warisan Tuhan‘ (“Mengenai Sebutan dan Identitas” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).”

Media Terkait

  • Kedatangan kembali Anak yang Hilang

    Oleh Saudari Ruth, Amerika Serikat Aku dilahirkan di sebuah kota kecil di Tiongkok selatan dalam sebuah keluarga Kristen sejak generasi nenek buyut ay…

  • Kasih yang Berbeda

    Oleh Chengxin, Brasilia Sebuah kesempatan yang tak terduga pada tahun 2011 memungkinkan aku untuk datang ke Brasilia dari Tiongkok. Ketika baru saja t…

  • Mengungkap Misteri Penghakiman

    Oleh Saudari Enhui, Malaysia Namaku Enhui; umurku 46 tahun. Aku tinggal di Malaysia dan telah percaya kepada Tuhan selama 27 tahun. Pada Oktober 2015,…

  • Kembali ke Rumah

    Oleh Saudari Muyi, Korea Selatan "Kasih Tuhan melimpah dib'rikan ke manusia, dilingkupi kasih-Nya. Manusia, tanpa dosa dan tiada yang mengikat, hidup …