Dari Manakah Suara Ini Berasal?

Oleh Saudari Shiyin, Tiongkok

Aku terlahir dalam keluarga Kristen, dan banyak kerabatku adalah pengkhotbah. Aku percaya kepada Tuhan bersama dengan orang tuaku sejak aku masih kecil. Setelah tumbuh dewasa, aku berdoa kepada Tuhan: jika aku bisa menemukan seorang suami yang juga seorang yang percaya, aku akan mempersembahkan diriku bersamanya dalam melayani Tuhan. Setelah aku menikah, suamiku benar-benar percaya kepada Tuhan, dan bahkan menjadi seorang pengkhotbah purna waktu yang penuh pengabdian. Agar suamiku dapat tetap berfokus pada pekerjaannya untuk Tuhan dan menghormati komitmen yang telah dibuatnya di hadapan Tuhan, aku berinisiatif mengurus tugas yang sulit dalam mengelola urusan rumah tangga kami. Meskipun agak sulit dan melelahkan, hatiku penuh dengan sukacita dan kedamaian, sesulit apa pun yang terjadi karena aku memiliki Tuhan sebagai dukunganku.

Tahun 1997 datang dan pergi, dan pada titik tertentu aku menyadari bahwa khotbah suamiku tidak mengandung terang yang pernah dimilikinya. Setiap kali aku memintanya untuk melakukan sesuatu di seputar rumah tangga, dia akan beralasan sibuk dengan pekerjaan berkhotbahnya. Meskipun dia melakukan pekerjaan rumah, itu tidak dilakukannya dengan sepenuh hati, dan dia sering marah kepadaku karena hal-hal sepele. Meskipun di luar aku menjaga kesabaran dan tidak berdebat dengannya, dalam hatiku aku benar-benar merasa tidak puas dengan perilaku suamiku. Beban berat rumah tangga kami dan kegelapan dalam rohku membuatku menderita. Yang bisa aku lakukan hanyalah datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mencurahkan isi hatiku pada tengah malam ketika semua orang tertidur, dan meminta kepada-Nya untuk memberiku lebih banyak iman dan kekuatan. Pada saat yang sama, aku merindukan Tuhan untuk segera datang kembali dan menyelamatkanku dari keberadaanku yang menyedihkan.

Suatu hari pada bulan April tahun 2000, saat aku sedang membereskan beberapa pakaian, aku menemukan tas suamiku dan melihat bahwa tas itu terisi penuh. Aku membuka ritsletingnya karena penasaran dan melihat sebuah Alkitab dan sebuah buku nyanyian pujian serta sebuah buku baru yang memiliki sampul luar. Aku berpikir dalam hati, “Bagaimana mungkin aku tidak pernah melihat buku ini sebelumnya? Itu pasti semacam buku rujukan untuk berkhotbah atau pengalaman beberapa tokoh rohani. Aku harus membacanya—mungkin aku bisa mendapatkan sedikit makanan darinya.” Aku membukanya karena penasaran dan melihat judul yang berbunyi, “Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian.” Judul novel yang bagus!” pikirku, “Dinilai dari judulnya, pengalaman pemurnian bukanlah hal yang buruk! Sekarang aku sedang menjalani pemurnian yang tidak dapat aku lewati, jadi aku perlu membaca buku ini dengan saksama untuk melihat pengalaman pemurnian suamiku. Kemudian aku akan bisa menemukan jalan pengamalan dari dalamnya.” Dengan itu, aku mulai membaca: “Biasanya manusia berikrar di hadapan Tuhan dan berkata: ‘Tidak peduli jika orang lain tidak mengasihi Tuhan, aku harus mengasihi-Nya.’ Namun sekarang, engkau dihadapkan dengan pemurnian. Ini tidak sesuai dengan gagasanmu, jadi engkau kehilangan iman kepada Tuhan. Apakah ini kasih yang murni? Engkau sudah baca berkali-kali tentang tindakan Ayub—sudahkah engkau lupa? Kasih sejati hanya bisa terbentuk dari dalam iman. … Ketika menghadapi penderitaan engkau harus mampu untuk tidak memedulikan daging dan tidak mengeluh kepada Tuhan. Ketika Tuhan menyembunyikan diri-Nya darimu, engkau harus mampu memiliki iman untuk mengikuti-Nya, menjaga kasih-Mu kepada-Nya tanpa membiarkan kasih itu hilang atau berkurang. Tidak masalah apa yang Tuhan lakukan, engkau harus tunduk pada rencana-Nya, dan lebih memilih mengutuki dagingmu sendiri daripada mengeluh kepada-Nya. Ketika dihadapkan pada ujian, engkau harus menyenangkan Tuhan dan bukannya enggan berpisah dengan sesuatu yang engkau kasihi atau malah menangisinya. Hanya inilah yang bisa disebut kasih dan iman sejati. Bagaimanapun tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, engkau pertama-tama harus memiliki keinginan untuk menderita dan juga ingin memiliki iman yang murni, dan kau harus ingin meninggalkan kedagingan. Engkau harus mau secara pribadi menanggung kesulitan dan menderita kehilangan hal-hal yang kauingini untuk bisa menyenangkan kehendak Tuhan. Engkau juga harus memiliki hati yang mau menyesali diri karena tidak mampu menyenangkan Tuhan di masa lalu dan menyesali dirimu yang sekarang. Tidak satu pun dari hal ini boleh kurang, dan Tuhan akan menyempurnakanmu lewat semua ini. Jika engkau kekurangan persyaratan ini, engkau tidak bisa disempurnakan” (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Kata-kata ini sangat menyentuh hatiku. Aku menangis saat membacanya—bukankah ini tepatnya yang aku alami? Pada masa lalu aku telah memutuskan untuk mengabdikan diriku dan suamiku kepada Tuhan. Aku sangat senang melakukan semua beban menjalankan rumah tangga untuk mendukung suamiku dalam pekerjaan yang dia lakukan untuk Tuhan di luar rumah, sesulit atau semelelahkan apa pun. Namun pada saat itu, karena kesulitan di rumah dan kurangnya perhatian suamiku kepadaku, aku terus-menerus hidup dengan perasaan teraniaya; aku hidup di tengah-tengah pemurnian dan kehilangan iman dan kasih yang pernah kumiliki. Aku menjadi tidak mampu berpegang teguh pada tekad yang pernah aku buat di hadapan Tuhan, dan sering kali akan menangis sendirian sembunyi-sembunyi. Aku berpikir tentang bagaimana Ayub dapat menjadi kesaksian bagi Tuhan di tengah-tengah ujian yang begitu besar dan sulit dan tidak kehilangan iman kepada Tuhan. Dia bahkan berkata, “Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil; terpujilah nama Yahweh” (Ayub 1:21). Bagaimana aku bisa melupakan hal itu? Kemudian aku merasa sangat menyesali semua yang telah aku lakukan di hadapan Tuhan. Ayub secara pribadi lebih memilih menderita dan mengorbankan kepentingannya sendiri daripada gagal memuaskan Tuhan. Terlepas dari kepercayaanku kepada Tuhan selama bertahun-tahun, aku telah kehilangan kepercayaan kepada-Nya. Aku mengadu kepada Tuhan sambil menahan pemurnian dan sedikit pun tidak mengungkapkan kasihku kepada-Nya! Saat menyadari hal ini, aku diam-diam memutuskan bahwa aku tidak boleh lagi menjadi seperti sebelumnya, bahwa aku harus mendukung suamiku dalam pekerjaannya untuk Tuhan, dan bahwa sudah tepat bagiku untuk mengalami sedikit kesulitan.

Begitu pikiranku mencapai titik itu, suasana hatiku berubah drastis menjadi lebih baik. Aku merasa kata-kata ini diucapkan dengan sangat baik dan benar-benar menyentuh inti dari keadaanku yang sebenarnya. Kata-kata ini menunjukkan jalan pengamalan kepadaku dan sebelum aku menyadarinya, kekuatan dan iman muncul dalam diriku. Aku bertanya-tanya, “Siapakah yang mengucapkan kata-kata ini? Bagaimana dia bisa memiliki pemahaman yang setinggi itu? Aku sudah membaca buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh spiritual terkenal, dan meskipun sedikit mendidik kerohanianku, buku-buku itu tidak ditulis dengan cara yang jelas dan gamblang seperti buku ini, buku-buku itu juga tidak memiliki kebenaran. Dari manakah sebenarnya kata-kata ini berasal?” Aku tertarik dengan kata-kata dalam buku ini dan ingin terus membacanya; semakin aku membaca, semakin aku merasakan betapa indahnya kata-kata tersebut. Setiap barisnya berbicara langsung ke dalam hatiku. Kata-kata itu memungkinkanku untuk memahami bahwa sehebat apa pun penderitaan seseorang, kita harus mengikuti Tuhan sampai akhir dan dengan senang hati tunduk kepada Tuhan dalam menghadapi penderitaan. Meskipun seseorang menjadi lemah di tengah-tengah sebuah ujian, mereka harus memiliki iman kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan untuk berdiri teguh. Semakin banyak aku membaca, semakin aku merasa hatiku diterangi dan semakin aku merasa memiliki jalan pengamalan. Suamiku pulang saat itu, dan aku langsung bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan buku ini?” Dia tersenyum dan berkata, “Aku meminjamnya dari seseorang, dan aku harus segera mengembalikannya kepadanya.” Aku tidak mengatakan apa pun lagi.

Suatu hari saat aku sedang memasak, aku bisa mendengar bagian-bagian dari nyanyian pujian yang diputarkan suamiku. “Siapakah yang tidak memuja-Nya? Siapakah yang tidak rindu melihat Tuhan? … Tuhan pernah berbagi suka dan duka dengan manusia, dan sekarang ini Dia telah bersatu kembali dengan umat manusia, dan berbagi kisah tentang masa-masa yang telah lewat bersamanya. Setelah Dia berjalan keluar dari Yudea, manusia tidak dapat menemukan jejak-Nya. Mereka rindu untuk sekali lagi bertemu dengan Tuhan, nyaris tidak mengetahui bahwa saat ini mereka telah bertemu lagi dengan-Nya, dan telah bersatu kembali dengan-Nya. Bagaimana mungkin hal ini tidak membangkitkan pikiran tentang masa yang telah lewat? Hari ini dua ribu tahun yang lalu, Simon bin Yunus, keturunan orang Yahudi, melihat Yesus Sang Juruselamat, ia makan di meja yang sama dengan-Nya, dan setelah mengikuti-Nya selama bertahun-tahun merasakan kasih sayang yang lebih dalam bagi-Nya: Simon mengasihi-Nya dari lubuk hatinya, ia sangat mengasihi Tuhan Yesus. Kini, Ia muncul ‘tuk perbarui kasih-Nya dengan manusia” (“Kerinduan Dua Ribu Tahun” dalam “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Lirik nyanyian pujian ini menyuarakan pikiranku yang paling dalam dan membangkitkan perasaanku yang merindukan kedatangan kembali Tuhan. Aku menangis sambil mendengarkan, dan berpikir dalam hati: “Sejak aku menjadi orang yang percaya sampai sekarang, aku telah memikirkan Tuhan Yesus setiap hari, berharap bahwa Dia akan segera datang kembali sehingga kita dapat berkumpul dan mengenang waktu yang telah berlalu.” Lirik nyanyian pujian itu begitu tulus dan menyentuh, dan terutama mampu mengungkapkan perasaan kerinduan yang dimiliki orang-orang terhadap Tuhan. Kemudian aku mengesampingkan makanan yang sedang aku buat dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Nyanyian pujian lain muncul setelahnya, yang berjudul “Hati yang Setia bagi Tuhan”: “Aku tidak meminta apa pun dalam hidupku, selain agar perhatian kasihku kepada Tuhan serta keinginan hatiku diterima oleh Tuhan” (“Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”). Aku berpikir, “Siapakah yang menulis nyanyian pujian ini? Bagaimana mungkin tekadnya begitu besar?” Kalimat ini terutama sangat menginspirasiku: “Aku tidak meminta apa pun dalam hidupku, selain agar perhatian kasihku kepada Tuhan serta keinginan hatiku diterima oleh Tuhan” Kasih kepada Tuhan seperti itu begitu murni! Dalam imanku pada masa lalu, aku tidak tahu cara mengasihi Tuhan, tetapi hanya ingin menikmati kasih karunia-Nya, dan mengejar kedamaian dan sukacita. Nyanyian pujian ini benar-benar membukakan pandangan hidupku pada hari itu, dan aku melihat bahwa mereka yang percaya kepada Tuhan harus mencintai Tuhan, dan tidak boleh mencari apa pun untuk diri mereka sendiri—hanya kasih jenis ini yang bisa murni. Nyanyian pujian ini ditulis dengan sangat baik. Aku kemudian diam-diam bertekad dalam hatiku bahwa aku juga ingin mengejar tujuan ini, dan bahwa aku akan mengasihi Tuhan, baik orang lain melakukannya atau tidak.

Setelah membaca kata-kata di dalam buku itu dan mendengarkan nyanyian-nyanyian pujian tersebut, aku mulai bertindak sesuai dengan apa yang dikatakan dalam buku dan nyanyian tersebut. Saat suamiku kembali pergi bekerja dan tidak punya waktu untuk membantu pekerjaan rumah, aku tidak merasa tertekan seperti sebelumnya. Jika saudara-saudari lainnya khilaf dalam perkataan mereka, aku mampu bersikap toleran karena aku ingin memuaskan Tuhan. Aku hanya berusaha untuk mengasihi Tuhan sebagaimana yang digambarkan oleh nyanyian pujian itu dengan sepenuh hatiku.

Dalam sekejap mata, sudah tiba waktunya musim tanam. Suatu malam, saat sedang beres-beres, suamiku berkata kepadaku, “Aku harus pergi ke gereja lain di luar kota besok.” Tanggapan langsungku adalah, “Apakah engkau akan pulang dalam beberapa hari?” “Aku tidak tahu,” katanya. “Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk segera pulang. Jangan terlalu stres dengan pekerjaan di sini di rumah.” Aku langsung bersedih dan berpikir, “Engkau bilang jangan stres dengan itu, tetapi bagaimana mungkin aku tidak stres? Engkau akan pergi tanpa tahu kapan akan kembali, dan ladang-ladang orang lain telah disemai. Kami bahkan belum membajak ladang kami, dan jika benih terlambat ditanam, kami tidak akan mendapatkan panen yang baik pada musim gugur. Lalu apa yang akan kami lakukan? Andai saja suamiku sudah selesai menyemai benih di ladang dan kemudian pergi membantu saudara-saudari!” Malam itu aku berbaring di tempat tidur, sama sekali tidak bisa terlelap. Aku benar-benar dilanda kekacauan, berpikir: “Terakhir kali suamiku pergi, dia pergi selama lebih dari dua minggu, tetapi kami tidak punya pekerjaan di ladang pada saat itu. Ini waktu yang kritis untuk menanam, jadi jika dia pergi selama dua minggu lagi, apa yang akan aku lakukan? Mungkin aku harus memintanya untuk mencari rekan kerja untuk melakukan pekerjaan itu dan menyelesaikannya.” Namun, aku memikirkannya lagi: “Tidak, itu tidak akan berhasil. Saudara-saudari sedang menunggu dukungannya. Jika dia tidak pergi, bukankah itu merupakan pelanggaran terhadap Tuhan?” Di tengah-tengah pemurnian ini, aku datang ke hadapan Tuhan dan berdoa: “Tuhan! Bukannya aku tidak rela suamiku mendukung saudara-saudari, hanya saja kami perlu menanam ladang sekarang. Aku benar-benar merasakan efek dari pemurnian ini dan aku tidak tahu harus berbuat apa. Tuhan! Aku meminta pertolongan-Mu, untuk melindungi hatiku dan menjagaku agar tidak terganggu oleh hal-hal ini.” Setelah berdoa, kata-kata ini terlintas dalam pikiranku dengan sangat jelas: “Bagaimanapun tingkat pertumbuhanmu yang sebenarnya, engkau pertama-tama harus memiliki keinginan untuk menderita dan juga ingin memiliki iman yang murni, dan kau harus ingin meninggalkan kedagingan. Engkau harus mau secara pribadi menanggung kesulitan dan menderita kehilangan hal-hal yang kauingini untuk bisa menyenangkan kehendak Tuhan” (“Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Kata-kata ini langsung menguasai dan mencerahkan hatiku. “Benar!” pikirku. “Jika seseorang ingin memuaskan Tuhan, mereka membutuhkan tekad untuk menanggung kesulitan, dan harus senang menderita dalam daging dan mengorbankan kepentingan pribadi mereka sendiri selama itu berarti memenuhi kehendak Tuhan!” Kata-kata ini memberiku iman, dan aku berpikir: “Jika ladang ditanam agak terlambat, maka biarlah begitu! Sebanyak apa pun yang kami panen, itu tergantung pada Tuhan, dan suamiku yang bekerja untuk Tuhan adalah yang paling penting.” Dengan pemikiran ini, aku merasakan perasaan nyaman dan bebas di hatiku, dan sebelum menyadarinya, aku sudah tertidur. Pagi berikutnya aku berkata kepada suamiku: “Pergilah lakukan pekerjaanmu untuk Tuhan dan jangan mengkhawatir apa pun. Kapan pun engkau akan pulang, tidak masalah. Aku akan tunduk pada pengaturan Tuhan.” Berpikir tentang fakta bahwa tindakanku memuaskan Tuhan, aku merasakan sukacita dan kemantapan dalam hatiku.

Suamiku pulang beberapa hari kemudian, dan bagiku dia tampak seperti orang yang sama sekali berbeda. Dia membantuku melakukan pekerjaan rumah, dan bahkan berkata kepadaku: “Engkau bekerja terlalu keras! Beberapa tahun terakhir ini sudah cukup sulit bagimu, menangani semua urusan kita, baik di dalam maupun di luar rumah. Aku sadar akan hal ini. Aku begitu saja berangkat bekerja tanpa membantu berbagi beban pekerjaan rumah denganmu. Mulai sekarang, aku akan membantu lebih banyak setiap kali punya waktu.” Mendengarnya mengatakan ini sangat mengharukan bagiku, karena suamiku tidak pernah berbicara seperti ini sebelumnya. Aku berpikir dalam hati: “Sejak dia membaca buku itu, aku telah melihat perubahan besar dalam dirinya. Tidak hanya khotbah-khotbahnya dipenuhi dengan terang, tetapi sikapnya terhadapku pun menjadi berbeda. Membaca Alkitab selama bertahun-tahun tidak mengubah dirinya, tetapi sekarang dia berubah drastis dalam waktu singkat. Tampaknya kata-kata dalam buku itu benar-benar memiliki kekuatan untuk mengubah orang!” Pada saat yang sama aku merasakan bahwa apa yang ada di dalam buku itu juga sangat bermanfaat bagiku. Membacanya memenuhiku dengan iman dan kekuatan, dan saat aku bertindak sesuai dengan apa yang dikatakannya, ketidakpuasan yang aku rasakan terhadap suamiku hilang begitu saja. Dan setelah membacanya, sikapnya terhadapku juga berubah; dia mengerti bagaimana memperhatikan dan memedulikanku. Semua perubahan ini memperdalam perasaanku bahwa isi buku itu sangat ampuh dan berwibawa. Namun, aku bertanya-tanya, siapakah yang telah menulis kata-kata di dalam buku ini? Aku belum menemukan jawabannya.

Suatu hari, dua bulan kemudian, suamiku mengatakan dia ingin mengajakku bersamanya untuk menghadiri sebuah kebaktian. Aku merasa bahwa kebaktian ini akan menjadi sesuatu yang sangat istimewa, kalau tidak, dia tidak akan mengajakku. Aku dipenuhi dengan antisipasi dan berharap melihat lagi buku itu. Keesokan harinya, aku dan suamiku bersama dua orang saudari lainnya dengan gembira berada di dalam sebuah mobil dalam perjalanan ke rumah seorang saudari. Ada sejumlah saudara-saudari lainnya yang ikut serta, di antaranya ada seorang saudari berusia tiga puluhan, yang memadukan Alkitab ke dalam persekutuannya dan membagikan kepada kami banyak kebenaran tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Hatiku benar-benar bergelora saat mendengarkannya, dan aku memperoleh pemahaman yang jelas tentang banyak ayat Alkitab yang belum pernah aku pahami sebelumnya dan tentang Tuhan yang datang kembali untuk melakukan pekerjaan penghakiman. Aku berpikir dalam hati, “Persekutuan yang dibagikannya begitu indah, bagaimana dia bisa menjelaskan Alkitab dengan sedemikian jelasnya? Bagaimana dia bisa memahami begitu banyak?” Saat itu, saudari ini berkata kepada kami dengan suara lantang, dengan senyum memenuhi wajahnya, “Saudara-saudariku, aku ingin memberitahukan sebuah kabar baik yang luar biasa yang benar-benar mendebarkan. Tuhan Yesus yang telah lama kita rindukan telah datang kembali berinkarnasi di antara kita untuk melakukan pekerjaan baru-Nya; untuk mengucapkan firman dan mengungkap semua kebenaran dan misteri; untuk mengungkapkan misteri mengenai tiga tahap pekerjaan Tuhan, rencana pengelolaan enam ribu tahun-Nya, mengenai inkarnasi Tuhan dan Alkitab. Semua yang aku bagikan dalam persekutuan hari ini berasal dari firman yang telah diucapkan oleh Tuhan.” Aku dan semua saudara-saudari yang hadir mendengar berita besar ini dan akhirnya menyadari: ternyata saudari ini memahami begitu banyak karena semuanya itu telah dibagikan kepada umat manusia oleh Tuhan, yang telah datang kembali. Sekarang kami juga sedang mendengarkan suara Tuhan. Kami semua dengan gembira saling berpelukan dan meneteskan air mata kebahagiaan—seluruh tempat mulai bergetar dengan kegembiraan. Aku sangat bahagia sampai ingin melompat kegirangan, dan berpikir: “Aku selalu berharap Tuhan Yesus segera datang kembali, dan sekarang Dia benar-benar telah datang kembali! Aku sangat diberkati sehingga dapat menyambut kedatangan kembali Tuhan Yesus selama masa hidupku!”

Ketika kebaktian itu hampir berakhir, saudari itu memberi kami masing-masing sebuah buku berjudul Penghakiman Dimulai dari Bait Tuhan. Dengan hati-hati memegang buku firman Tuhan itu dengan kedua tangan, buku yang aku baca sebelumnya tiba-tiba tebersit di benakku. Mungkinkah itu buku yang sama? Setelah kami pulang ke rumah, aku tidak sabar untuk bertanya kepada suamiku, “Buku yang aku lihat hari itu—apakah itu buku firman Tuhan yang sama yang diberikan saudari itu hari ini?” Dia tersenyum dan berkata, “Ya.” Kemudian aku merasa seperti baru bangun dari mimpi. Bagaimanapun juga, suara itu berasal dari Tuhan—itu adalah suara Tuhan Yesus yang datang kembali, suara Tuhan! Tidak heran kata-kata itu begitu menyentuhku, memberiku iman dan kekuatan, mengubahku, dan mengeluarkanku dari penderitaan. Aku kemudian memarahi suamiku, “Mengapa engkau menyembunyikan dariku bahwa engkau telah menerima pekerjaan baru Tuhan?” Dia berkata, “Pada saat itu, aku benar-benar ingin memberitahumu, tetapi kebanyakan orang dalam keluargamu adalah pengkhotbah di lingkungan keagamaan, dan mereka menentang dan mengutuk pekerjaan Tuhan pada akhir zaman. Mereka telah menghalangi kami dalam menyelidiki jalan yang benar selama ini. Aku takut jika aku tidak bisa menjelaskannya dengan cukup jelas dan kemudian kerabatmu mengetahuinya, mereka akan mulai menunjukkan diri untuk mengganggu dan menghalangimu, ini tidak hanya akan merusak kesempatanmu akan keselamatan, tetapi juga akan membuatku menjadi seorang pelaku kejahatan! Jadi, aku memutuskan akan memberitahukan kepadamu setelah aku menyelidikinya dan memperoleh kejelasan tentang hal itu.” Mendengar penjelasan ini menghilangkan kesalahpahamanku terhadap suamiku, dan aku semakin bersyukur atas keselamatan Tuhan untukku. Aku bertekad untuk membaca buku firman Tuhan dengan saksama.

Membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa memberikan makanan bergizi bagi rohku yang kering. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan bisa mendengar firman Tuhan yang datang kembali dengan telingaku sendiri, diangkat di hadapan Tuhan, atau bertatap muka dengan Tuhan. Aku merasa sangat bersyukur kepada Tuhan atas kasih dan keselamatan-Nya. Sepuluh hari kemudian, aku dan suamiku bekerja bersama para saudari yang menyebarkan injil untuk mengajak saudara-saudari lain dalam gereja kami dengan iman yang benar kepada Tuhan ke hadirat Tuhan Yang Mahakuasa.

Media Terkait

  • Keberuntungan dan Kemalangan

    Oleh Saudari Dujuan, Jepang Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin di sebuah desa di pedesaan Tiongkok. Oleh karena kesulitan ekonomi keluargaku,…

  • Aku Telah Menemukan Rumah yang Sejati

    Oleh Saudari Yangyang, Amerika Serikat Ketika aku berumur tiga tahun, ayahku meninggal. Pada saat itu, ibuku baru saja melahirkan adik laki-lakiku, da…

  • Tuhan Ada di Sisiku

    Oleh Guozi, Amerika Serikat Aku dilahirkan dalam keluarga Kristen, dan ketika aku berusia satu tahun, ibuku menerima Tuhan yang Mahakuasa—pekerjaan ba…

  • Aku Telah Menemukan Kebahagiaan Sejati

    Saudari Zhang Hua, Kamboja Aku dilahirkan dalam keluarga petani biasa. Meskipun kami tidak kaya, ayah dan ibuku saling mencintai dan memperlakukanku d…