2. Cara agar orang dapat memperoleh pengenalan akan Tuhan

2. Cara agar orang dapat memperoleh pengenalan akan Tuhan

Firman Tuhan yang Relevan:

Ketiga tahap pekerjaan adalah keseluruhan pekerjaan Tuhan dalam menyelamatkan manusia. Manusia harus mengetahui pekerjaan dan watak Tuhan dalam pekerjaan penyelamatan; tanpa fakta ini, pengetahuanmu tentang Tuhan hanya terdiri dari kata-kata kosong, tidak lebih dari teori muluk-muluk yang engkau sendiri tidak dapat melakukannya. Pengetahuan seperti itu tidak bisa meyakinkan ataupun menaklukkan manusia; pengetahuan seperti itu bertentangan dengan kenyataan, dan bukan merupakan kebenaran. Pengetahuan seperti itu mungkin sangat banyak dan enak didengar, tetapi jika itu bertentangan dengan watak yang melekat pada diri Tuhan, Tuhan tidak akan mengampunimu. Dia bukan saja tidak akan memuji pengetahuanmu itu, tetapi Dia juga akan menghukummu karena menjadi orang berdosa yang menghujat diri-Nya. Perkataan tentang mengenal Tuhan tidak boleh diucapkan dengan enteng. Walau engkau mungkin bermulut manis dan pandai bersilat lidah, dan walau kata-katamu sedemikian pintarnya sampai-sampai engkau dapat berdebat bahwa hitam adalah putih dan putih adalah hitam, engkau tetap tidak memiliki kedalaman pada saat membicarakan pengetahuan tentang Tuhan. Tuhan bukanlah seseorang yang bisa kaukritik dengan sembrono, atau kaupuji dengan santai, atau kaurendahkan dengan enteng. Engkau memuji setiap orang dan semua orang, tetapi engkau sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kasih karunia Tuhan yang tertinggi—inilah yang akhirnya disadari oleh setiap pecundang. Meski banyak ahli bahasa yang mampu menggambarkan Tuhan, keakuratan dari penggambaran mereka hanyalah seperseratus dari kebenaran yang diucapkan oleh orang-orang yang menjadi milik Tuhan, orang-orang yang sekalipun hanya memiliki perbendaharaan kata yang terbatas, tetapi memiliki pengalaman yang kaya. Jadi, bisa dilihat bahwa pengetahuan tentang Tuhan terletak pada keakuratan dan kenyataan, bukan pada penggunaan kata-kata yang cerdas atau perbendaharaan kata yang kaya, dan bahwa pengetahuan manusia dan pengetahuan tentang Tuhan sama sekali tidak berkaitan. Pelajaran tentang mengenal Tuhan lebih tinggi daripada semua ilmu pengetahuan alam manusia. Ini adalah pelajaran yang hanya bisa dicapai oleh sejumlah kecil orang yang berusaha mengenal Tuhan, dan ini tidak bisa dicapai oleh orang yang sekadar berbakat. Jadi, engkau semua tidak boleh menganggap mengenal Tuhan dan mengejar kebenaran seakan-akan sesuatu yang bisa dicapai oleh seorang anak belaka. Mungkin engkau telah sangat sukses dalam kehidupan berkeluargamu, atau kariermu, atau dalam pernikahanmu, tetapi dalam soal kebenaran dan pelajaran tentang mengenal Tuhan, engkau tidak punya apa pun untuk kautunjukkan dan engkau belum mencapai apa pun. Bisa dikatakan bahwa menerapkan kebenaran sangatlah sulit bagimu, dan mengenal Tuhan adalah masalah yang bahkan lebih sulit lagi bagimu. Inilah kesulitanmu, dan inilah juga kesulitan yang dihadapi oleh semua manusia. Di antara mereka yang telah memiliki beberapa pencapaian dalam hal mengenal Tuhan, nyaris tak seorang pun yang memenuhi standar. Manusia tidak tahu apa artinya mengenal Tuhan, atau mengapa perlu untuk mengenal Tuhan, atau taraf apa yang harus orang capai supaya mengenal Tuhan. Ini hal yang sangat membingungkan bagi manusia, dan ini merupakan teka-teki terbesar yang dihadapi umat manusia—tak seorang pun mampu menjawab pertanyaan ini, juga tak seorang pun bersedia menjawab pertanyaan ini, karena, sampai saat ini, tak seorang pun di antara manusia yang telah berhasil dalam mempelajari tentang pekerjaan ini. Mungkin, pada saat teka-teki mengenai ketiga tahap pekerjaan ini diberitahukan kepada manusia, akan muncul secara berturut-turut sekelompok orang berbakat yang mengenal Tuhan. Tentu saja, Aku berharap begitu, dan, terlebih lagi, Aku sedang berada di dalam proses melaksanakan pekerjaan ini, dan berharap bisa melihat kemunculan lebih banyak orang berbakat seperti itu dalam waktu dekat ini. Mereka akan menjadi orang-orang yang memberi kesaksian tentang fakta ketiga tahap pekerjaan ini, dan, tentu saja, mereka juga akan menjadi orang-orang pertama yang memberi kesaksian tentang ketiga tahap pekerjaan ini. Namun, tak ada yang lebih menyedihkan dan disesalkan daripada jika orang-orang berbakat semacam itu tidak muncul pada hari ketika pekerjaan Tuhan berakhir, atau jika hanya ada satu atau dua orang semacam itu yang secara pribadi telah menerima dirinya disempurnakan oleh Tuhan yang berinkarnasi. Namun, ini hanyalah kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Apa pun keadaannya, Aku masih berharap bahwa orang yang sungguh-sungguh mengejar bisa mendapatkan berkat ini. Sejak permulaan zaman, belum pernah ada pekerjaan seperti ini; upaya seperti ini belum pernah ada dalam sejarah perkembangan manusia. Jika engkau bisa benar-benar menjadi salah satu dari orang-orang pertama yang mengenal Tuhan, bukankah ini kehormatan yang tertinggi di antara semua makhluk ciptaan? Akankahmakhluk ciptaan di antara umat manusia lebih dipuji oleh Tuhan?

Dikutip dari "Mengenal Tiga Tahap Pekerjaan Tuhan adalah Jalan untuk Mengenal Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Kepunyaan dan wujud Tuhan, esensi Tuhan, watak Tuhan—semua itu telah diberitahukan kepada manusia di dalam firman-Nya. Pada saat manusia mengalami firman Tuhan, selama proses menerapkannya, manusia akan mulai memahami tujuan di balik firman yang Tuhan ucapkan, dan memahami sumber dan latar belakang firman Tuhan, serta memahami dan menghargai dampak yang dikehendaki dari firman Tuhan. Bagi manusia, inilah semua hal yang harus manusia alami, pahami, dan capai agar memperoleh kebenaran dan hidup, agar memahami maksud Tuhan, wataknya diubahkan, dan menjadi mampu untuk menaati kedaulatan dan pengaturan Tuhan. Pada saat yang sama manusia mengalami, memahami, dan mencapai hal-hal ini, ia akan secara berangsur-angsur mendapatkan pemahaman tentang Tuhan, dan pada saat ini, ia juga akan mendapatkan pengenalan akan Dia dalam tingkat yang berbeda. Pemahaman dan pengenalan ini tidak berasal dari sesuatu yang telah manusia bayangkan atau ciptakan, melainkan dari apa yang ia hargai, alami, rasakan, dan pertegas dalam dirinya sendiri. Hanya setelah menghargai, mengalami, merasakan, dan mengonfirmasi hal-hal inilah, pengetahuan manusia tentang Tuhan memiliki isi; hanya pengenalan yang manusia dapatkan pada saat inilah yang aktual, nyata, dan akurat, dan proses ini—yakni menncapai pemahaman dan pengenalan sejati tentang Tuhan melalui menghargai, mengalami, merasakan, dan mengonfirmasi firman-Nya—tidak lain merupakan persekutuan yang benar antara manusia dengan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia menjadi sungguh-sungguh mengerti dan memahami maksud Tuhan, menjadi sungguh-sungguh mengerti dan mengetahui kepunyaan dan wujud Tuhan, menjadi sungguh-sungguh mengerti dan mengetahui esensi Tuhan, secara berangsur-angsur mengerti dan mengetahui watak Tuhan, mencapai kepastian yang nyata, dan definisi yang benar tentang fakta mengenai kekuasaan Tuhan atas segala ciptaan, dan mendapatkan pemahaman substansial dan pengenalan akan identitas dan kedudukan Tuhan. Di tengah persekutuan seperti ini, manusia berangsur-angsur mengubah gagasannya tentang Tuhan, tidak lagi membayangkan-Nya begitu saja, atau berprasangka terhadap-Nya, atau salah paham terhadap-Nya, atau mengutuki-Nya, atau menghakimi-Nya, atau meragukan-Nya. Dengan demikian, manusia akan lebih sedikit berdebat dengan Tuhan, akan lebih sedikit berkonflik dengan Tuhan, dan akan ada lebih sedikit kejadian di mana manusia memberontak terhadap Tuhan. Sebaliknya, kepedulian dan ketaatan manusia kepada Tuhan akan bertumbuh semakin kuat, dan rasa hormat-Nya terhadap Tuhan akan menjadi semakin nyata dan semakin mendalam. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak hanya akan memperoleh perbekalan kebenaran dan baptisan hidup, tetapi pada saat yang sama, juga akan mendapatkan pengenalan yang benar tentang Tuhan. Di tengah persekutuan yang seperti ini, manusia tidak hanya akan diubahkan wataknya dan menerima keselamatan, tetapi pada saat yang sama, ia juga akan semakin memiliki rasa hormat dan penyembahan yang sejati sebagai makhluk ciptaan terhadap Tuhan. Setelah memiliki persekutuan yang seperti ini, iman manusia kepada Tuhan tidak lagi serupa kertas kosong, atau janji manis belaka, atau berupa pengejaran dan pemberhalaan tanpa pengertian; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah hidup manusia akan bertumbuh hari demi hari menuju kedewasaan, dan hanya pada saat itulah wataknya akan berangsur-angsur diubahkan, dan imannya kepada Tuhan selangkah demi selangkah akan berubah dari kepercayaan yang samar dan tidak pasti menjadi ketaatan dan kepedulian sejati, menjadi penghormatan yang nyata, dan selama proses mengikut Tuhan, manusia juga akan berangsur-angsur berubah dari pasif menjadi aktif, dari negatif menjadi positif; hanya dengan persekutuan yang seperti inilah manusia bisa mencapai pengertian dan pemahaman yang benar tentang Tuhan, pengenalan yang benar akan Tuhan.

Dikutip dari "Mengenal Tuhan adalah Jalan Menuju Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Diperhadapkan dengan keadaan manusia dan sikap manusia terhadap Tuhan, Tuhan telah melakukan pekerjaan baru, yang memungkinkan manusia untuk memiliki pengetahuan serta ketaatan kepada-Nya, dan kasih juga kesaksian. Jadi, manusia harus mengalami pemurnian Tuhan terhadap dirinya, juga penghakiman, penanganan, dan pemangkasan Tuhan terhadap dirinya, karena tanpa itu manusia tidak akan pernah dapat mengenal Tuhan dan tidak pernah akan mampu sungguh-sungguh mengasihi dan menjadi kesaksian bagi-Nya. Pemurnian manusia oleh Tuhan bukanlah semata-mata demi mencapai dampak yang sepihak, tetapi demi mencapai dampak dari berbagai segi. Hanya dengan cara inilah Tuhan melakukan pekerjaan pemurnian dalam diri mereka yang bersedia mencari kebenaran, yaitu agar tekad dan kasih mereka disempurnakan oleh Tuhan. Bagi mereka yang bersedia mencari kebenaran dan yang mendambakan Tuhan, tidak ada hal lain yang lebih bermakna, atau lebih membantu, daripada pemurnian seperti ini. Watak Tuhan tidak semudah itu diketahui atau dipahami oleh manusia, karena Tuhan, bagaimanapun juga, adalah Tuhan. Yang terutama, tidaklah mungkin bagi Tuhan untuk memiliki watak yang sama dengan manusia, dan karena itu tidaklah mudah bagi manusia untuk mengetahui watak-Nya. Kebenaran tidak dimiliki oleh manusia secara inheren, dan itu tidak mudah dipahami oleh mereka yang telah dirusak Iblis; manusia tidak memiliki kebenaran, dan tidak memiliki tekad untuk melakukan kebenaran, dan jika dia tidak menderita dan tidak dimurnikan atau dihakimi, tekadnya tersebut tidak pernah akan dijadikan sempurna. Bagi semua orang, pemurnian sungguh menyiksa, dan sangat sulit untuk diterima—tetapi, selama pemurnianlah Tuhan menjadikan watak-Nya yang adil dapat dipahami dengan jelas oleh manusia, dan membuat tuntutan-Nya terhadap manusia terbuka, dan memberikan lebih banyak pencerahan, dan lebih banyak pemangkasan dan penanganan yang nyata; lewat pembandingan antara fakta dan kebenaran, Dia memberi kepada manusia pengetahuan yang lebih besar tentang dirinya sendiri dan tentang kebenaran, dan memberi kepada manusia pemahaman yang lebih besar tentang kehendak Tuhan, sehingga manusia dapat memiliki kasih akan Tuhan yang lebih benar dan lebih murni. Itulah tujuan-tujuan Tuhan dalam menjalankan pemurnian.

Dikutip dari "Hanya dengan Mengalami Pemurnian, Manusia Dapat Memiliki Kasih Sejati" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Mengenal Tuhan harus dicapai melalui membaca dan memahami firman Tuhan. Sebagian orang mengatakan: "Aku belum pernah melihat Tuhan yang berinkarnasi, jadi bagaimana seharusnya aku mengenal Tuhan?" Kenyataannya, firman Tuhan adalah pengungkapan dari watak-Nya. Dari firman Tuhan, engkau dapat melihat kasih dan keselamatan-Nya bagi manusia, juga cara-Nya menyelamatkan mereka .... Ini karena firman-Nya diungkapkan oleh Tuhan itu sendiri, bukan ditulis oleh manusia. Firman-Nya telah diungkapkan secara pribadi oleh Tuhan; Tuhan itu sendiri sedang mengungkapkan perkataan-Nya sendiri dan suara hati-Nya. Mengapa firman-Nya disebut perkataan dari hati-Nya? Karena perkataan itu dikeluarkan dari lubuk hati, dan mengungkapkan watak-Nya, kehendak-Nya, pikiran-Nya, kasih-Nya bagi umat manusia, penyelamatan-Nya atas umat manusia, dan apa yang diharapkan-Nya dari umat manusia .... Perkataan Tuhan terdiri dari perkataan yang keras, dan perkataan yang lembut dan penuh pengertian, juga beberapa firman pewahyuan yang tidak selaras dengan keinginan manusia. Jika engkau hanya melihat pada firman pewahyuan, engkau mungkin merasa bahwa Tuhan cukup keras. Jika engkau hanya melihat pada perkataan yang lembut, engkau mungkin merasa bahwa Tuhan tidak terlalu berotoritas. Karena itu, engkau tidak boleh memaknai firman Tuhan di luar konteksnya; melainkan harus melihatnya dari setiap sudut. Terkadang Tuhan berbicara dari sudut pandang yang lembut dan penuh belas kasihan, maka orang melihat kasih-Nya kepada umat manusia; terkadang Dia berbicara dari sudut pandang yang sangat tegas, maka orang melihat watak-Nya yang tidak akan menoleransi pelanggaran. Manusia begitu menjijikkan, dan tidak layak memandang wajah Tuhan atau datang ke hadapan-Nya. Bahwa manusia pada saat ini diizinkan untuk datang ke hadapan-Nya adalah murni karena kasih karunia-Nya. Hikmat Tuhan dapat terlihat dari cara-Nya bekerja dan dalam makna penting pekerjaan-Nya. Manusia tetap dapat melihat hal-hal ini di dalam firman Tuhan, bahkan tanpa bersentuhan secara langsung dengan diri-Nya. Ketika seseorang yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan bersentuhan dengan Kristus, perjumpaannya dengan Kristus itu dapat sesuai dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya tentang Tuhan, tetapi ketika seseorang yang hanya memiliki pemahaman teoretis berjumpa dengan Tuhan, dia tidak bisa melihat korelasinya. Aspek kebenaran ini merupakan misteri yang paling mendalam, yang sulit untuk dipahami. Ikhtisarkan firman Tuhan tentang misteri inkarnasi, lihatlah firman Tuhan dari semua sudut, lalu berdoalah bersama-sama, renungkan, dan bersekutulah lebih jauh tentang aspek kebenaran ini. Dengan melakukannya, engkau akan memperoleh pencerahan dari Roh Kudus dan akan mulai memahami. Karena manusia tidak punya kesempatan untuk bersentuhan secara langsung dengan Tuhan, mereka harus mengandalkan pengalaman semacam ini untuk merasakan jalan masuk mereka dan masuklah sedikit demi sedikit untuk mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Tuhan.

Dikutip dari "Cara Mengenal Tuhan yang Berinkarnasi" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Berada pada tahap mana pun dirimu dalam pengalamanmu, engkau tidak bisa dipisahkan dari firman Tuhan atau kebenaran, dan apa yang engkau pahami mengenai watak Tuhan, mengenai apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya, semuanya itu diungkapkan di dalam firman Tuhan; semua itu berkaitan erat dengan kebenaran. Watak Tuhan, apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya, itu sendiri, adalah kebenaran; kebenaran merupakan perwujudan yang autentik dari watak Tuhan dan apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya. Ini menjadikan apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya konkret, dan ini menjadi pernyataan yang jelas tentang apa yang Dia miliki dan siapa diri-Nya; ini memberitahukan kepadamu secara langsung tentang apa yang Tuhan sukai, apa yang tidak Dia sukai, apa yang Dia ingin untuk engkau lakukan dan apa yang tidak Dia izinkan untuk engkau lakukan, orang-orang seperti apa yang Dia benci dan orang-orang seperti apa yang Dia kasihi. Di balik kebenaran yang Tuhan ungkapkan orang dapat melihat kesenangan-Nya, kemarahan-Nya, kesedihan-Nya, dan kebahagiaan-Nya, juga esensi-Nya—ini adalah pengungkapan dari watak-Nya. Selain mengetahui apa yang Tuhan miliki dan siapa diri-Nya, dan memahami watak-Nya dari firman-Nya, yang paling penting adalah perlunya mencapai pemahaman ini melalui pengalaman nyata. Jika orang menjauhkan diri mereka dari kehidupan nyata supaya mengenal Tuhan, mereka tidak akan bisa mencapai hal itu. Bahkan kalaupun ada orang-orang yang dapat memperoleh sebagian pemahaman dari firman Tuhan, pemahaman ini hanya terbatas pada teori dan kata-kata, dan akan muncul perbedaan dengan seperti apakah Tuhan itu sendiri yang sebenarnya.

Dikutip dari "Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Pengetahuan tentang otoritas Tuhan, kuasa Tuhan, identitas Tuhan sendiri, dan hakikat Tuhan tidak dapat diperoleh dengan mengandalkan imajinasimu. Karena engkau tidak dapat mengandalkan imajinasi untuk mengetahui otoritas Tuhan, maka dengan cara apakah engkau dapat memperoleh pengetahuan yang benar tentang otoritas Tuhan? Cara melakukannya adalah melalui makan dan minum firman Tuhan, melalui persekutuan, dan mengalami firman Tuhan. Dengan cara demikian, engkau akan memiliki pengalaman yang bertahap dan verifikasi mengenai otoritas Tuhan dan engkau akan memperoleh pemahaman yang bertahap dan pengetahuan yang semakin bertambah tentang hal itu. Inilah satu-satunya cara untuk memperoleh pengetahuan tentang otoritas Tuhan; tidak ada jalan pintas. Memintamu untuk tidak berimajinasi tidak sama dengan memintamu untuk duduk pasif menunggu kehancuran, atau menghentikanmu untuk melakukan apa pun. Tidak menggunakan otakmu untuk berpikir dan berimajinasi berarti tidak menggunakan logika untuk menyimpulkan, tidak menggunakan pengetahuan untuk menganalisis, tidak menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar, tetapi sebaliknya menghargai, memverifikasi, dan mengonfirmasikan bahwa Tuhan yang engkau percayai memiliki otoritas, menyatakan dengan tegas bahwa Dia berdaulat atas nasibmu, dan bahwa kuasa-Nya setiap saat membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan itu sendiri, melalui firman Tuhan, melalui kebenaran, melalui segala sesuatu yang engkau temui dalam kehidupan. Inilah satu-satunya cara agar setiap orang dapat memperoleh pemahaman tentang Tuhan. Ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka ingin menemukan cara sederhana untuk mencapai tujuan ini, tetapi bisakah engkau semua memikirkan cara seperti itu? Kuberitahukan kepadamu, tidak perlu berpikir: tidak ada cara lain! Satu-satunya cara adalah dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus mengetahui dan memverifikasi apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu melalui setiap firman yang Dia ungkapkan dan segala sesuatu yang Dia lakukan. Inilah satu-satunya cara untuk mengenal Tuhan. Karena apa yang Tuhan miliki dan siapa Tuhan itu, dan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan tidak hampa dan kosong, tetapi nyata.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik I" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Ketahuilah bahwa ketika Tuhan bekerja saat berinkarnasi, saat itulah orang dapat mengakses dan melihat secara maksimal mengenai apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Dia, serta esensi dan watak-Nya. Ini adalah kesempatan terbaik untuk mengenal Tuhan. Di masa lalu, orang berkata mereka ingin mengetahui tindakan dan watak Tuhan, tetapi itu tidak mudah dilakukan karena mereka tidak dapat mengakses diri-Nya. Dahulu ketika Musa pertama kali mengenal Yahweh dan melihat beberapa perbuatan-Nya, seberapa banyak pengetahuan nyata yang dia miliki? Apakah pengetahuan itu lebih besar daripada pengetahuan manusia saat ini? Apakah pengetahuan itu lebih nyata daripada pengetahuan manusia saat ini? Tentu saja tidak. Ketika Yahweh bekerja pada waktu itu, perbuatan-Nya disingkapkan dengan berlimpah di Israel; banyak orang melihat Yahweh memanifestasikan mukjizat dan ada orang-orang yang melihat siluet Yahweh dari balik punggung-Nya. Banyak orang juga melihat malaikat, tetapi berapa banyak orang yang pada akhirnya mengenal Tuhan? Sangat sedikit! Hampir tidak ada orang yang benar-benar mengenal Tuhan. Hanya orang-orang pada akhir zaman yang memiliki banyak pengetahuan tentang Tuhan dari pengalaman mereka tentang pekerjaan-Nya sementara Dia menjadi daging, karena Tuhan berbicara kepada manusia dengan berhadapan muka mengenai: pekerjaan apa yang Dia lakukan dan apa tujuannya; apa kehendak-Nya, bagaimana sikap-Nya terhadap umat manusia; dan keadaan dan hakikat manusia yang rusak .... Melalui hal-hal ini, orang dapat melihat bahwa Tuhan memang Tuhan yang demikian, apa yang Dia kehendaki bagi umat manusia memang demikian; watak-Nya memang demikian; perbuatannya-Nya memang sungguh menakjubkan; hikmat-Nya memang begitu dalam; dan belas kasihan-Nya terhadap manusia memang begitu nyata. Kali ini, hal-hal tersebut benar-benar bisa dialami. Semua itu memungkinkanmu untuk mengalami bahwa kasih dan toleransi Tuhan bagi umat manusia memang tanpa batas, dan bahwa kehendak-Nya untuk menyelamatkan manusia semuanya tercakup dalam pekerjaan-Nya dan dalam firman-Nya; semua itu memungkinkan manusia untuk memiliki pengalaman nyata akan hal itu. Oleh karena itu, pengetahuanmu tentang esensi inkarnasi adalah dari masa inkarnasi. Tidak ada pengetahuan dari masa lain yang nyata. Setelah pekerjaan inkarnasi selesai dan Dia pergi, jika engkau berusaha untuk mengalami pekerjaan Tuhan, itu tidak akan menjadi senyata itu bagimu dibandingkan pada saat ini, karena pada saat ini, engkau dapat melihat Tuhan yang berinkarnasi bekerja dengan matamu, dan itu benar-benar nyata; selain itu, Tuhan terus-menerus melakukan pekerjaan dengan berhadapan muka seperti itu, dan manusia secara perlahan-lahan mulai mengalaminya secara pribadi. ... Oleh karena itu, jika engkau ingin memahami esensi Tuhan, waktu yang paling menguntungkan bagimu untuk melakukannya adalah saat Tuhan yang berinkarnasi sedang bekerja. Engkau dapat melihat dan menyentuhnya, engkau dapat mendengarnya, dan engkau dapat merasakannya secara mendalam. Ketika pekerjaan Tuhan selama inkarnasi selesai, jika engkau terus berusaha untuk mengalami bagaimana Roh Kudus bekerja, dan berusaha untuk merenungkannya kembali, itu tidak akan sedalam sekarang, dan pemahamanmu akan dangkal. Pada saat itu, Dia hanya akan memperbaiki watak manusia yang rusak, dan manusia, setelah dimurnikan, dapat memahami kebenaran sedikit lebih banyak dan menggunakan kebenaran yang telah mereka peroleh itu sebagai landasan bagi kehidupan mereka dan untuk mengubah watak rusak dalam diri mereka—tetapi, bagaimanapun engkau mengasihi Tuhan, engkau tidak akan membuat banyak kemajuan pada saat itu dalam pemahamanmu akan Dia. Itu tidak akan sama bermanfaatnya seperti mengenal Tuhan pada saat Dia berinkarnasi dan bekerja.

Dikutip dari "Kasih Sejati Tuhan bagi Umat Manusia" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Selama mengikuti Yesus, Petrus membentuk banyak pendapat mengenai Yesus dan selalu menilai-Nya dari sudut pandangnya sendiri. Walaupun Petrus memiliki tingkat pemahaman tertentu mengenai Roh, pemahamannya belum begitu jelas, itulah sebabnya dia, berkata: "Aku harus mengikuti Dia yang diutus Bapa di surga. Aku harus mengakui Dia yang dipilih oleh Roh Kudus." Petrus tidak memahami hal-hal yang dilakukan Yesus dan tidak memiliki kejelasan tentang itu. Setelah mengikuti-Nya selama beberapa waktu, Petrus mulai tertarik pada apa yang dilakukan dan dikatakan-Nya, dan kepada Yesus itu sendiri. Petrus mulai merasa bahwa Yesus membangkitkan kasih sayang dan rasa hormat; dia senang bergaul dengan-Nya dan tinggal di dekat-Nya, dan mendengarkan perkataan Yesus yang membekali dan menolongnya. Selama mengikut Yesus, Petrus mengamati dan memperhatikan segala sesuatu mengenai kehidupan-Nya: tindakan, perkataan, gerakan, dan ekspresi-Nya. Petrus mendapatkan pemahaman yang mendalam bahwa Yesus tidak seperti manusia biasa. Walaupun penampilan-Nya sebagai manusia sangat biasa, Dia penuh kasih, belas kasihan, dan toleransi terhadap manusia. Segala sesuatu yang dilakukan atau dikatakan-Nya sangat membantu orang lain, dan Petrus melihat dan memperoleh hal-hal yang belum pernah dia lihat atau miliki sebelumnya dari Yesus. Petrus melihat bahwa walaupun Yesus tidak memiliki perawakan yang tinggi besar atau kemanusiaan yang tidak biasa, Dia memiliki aura yang sangat luar biasa dan istimewa. Walaupun tidak mampu menjelaskan sepenuhnya, Petrus dapat melihat bahwa tindakan Yesus berbeda dengan orang lain, karena Dia melakukan hal-hal yang sangat berbeda dengan yang dilakukan manusia biasa. Sejak bergaul dengan Yesus, Petrus juga menyadari bahwa karakter-Nya berbeda dengan manusia biasa. Dia selalu bertindak dengan mantap dan tidak pernah tergesa-gesa, tidak pernah melebih-lebihkan atau meremehkan suatu perkara, dan Dia menjalani hidup-Nya dengan cara yang mengungkapkan karakter yang normal sekaligus mengagumkan. Dalam bertutur kata, Yesus berbicara dengan jelas dan elegan, selalu berkomunikasi dengan cara yang ceria tetapi tenang—tetapi tidak pernah kehilangan martabat-Nya saat melaksanakan pekerjaan-Nya. Petrus melihat bahwa Yesus terkadang pendiam, tetapi pada waktu lain berbicara tanpa henti. Terkadang Dia begitu bahagia sehingga tampak seperti burung merpati nan lincah dan ceria, tetapi di lain waktu Dia begitu sedih sehingga sama sekali tidak berbicara, tampak diliputi kesedihan seolah-olah Dia adalah seorang ibu yang letih dan kelelahan. Adakalanya Dia dipenuhi kemarahan seperti seorang prajurit pemberani yang menerjang maju untuk membunuh musuhnya atau, pada beberapa kesempatan, Dia bahkan menyerupai seekor singa yang mengaum. Terkadang Dia tertawa; di lain waktu Dia berdoa dan menangis. Bagaimanapun Yesus bertindak, Petrus semakin memiliki kasih dan rasa hormat yang tak terbatas kepada-Nya. Tawa Yesus memenuhinya dengan kebahagiaan, kesedihan-Nya menjerumuskannya ke dalam duka, dan amarah-Nya membuatnya takut, sementara belas kasihan, pengampunan, dan tuntutan-Nya yang tegas terhadap orang-orang membuat Petrus menjadi sungguh-sungguh mengasihi Yesus, dan menumbuhkan rasa hormat dan kerinduan yang sejati kepada-Nya. Tentu saja, Petrus secara berangsur-angsur menyadari semua ini setelah tinggal bersama Yesus selama beberapa tahun.

Dikutip dari "Cara Petrus Mengenal Yesus" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Jika engkau ingin mengenal Tuhan, benar-benar mengenal-Nya, sungguh-sungguh memahami-Nya, jangan membatasi dirimu hanya pada tiga tahap pekerjaan Tuhan, atau pada cerita-cerita pekerjaan yang dilakukan Tuhan di masa lalu. Jika engkau mencoba untuk mengenal-Nya dengan cara itu, engkau membatasi Tuhan, membendung Dia. Engkau melihat Tuhan sebagai sesuatu yang sangat kecil. Bagaimana tindakan semacam ini memengaruhi manusia? Engkau tidak akan pernah mampu untuk mengenal keajaiban dan keagungan Tuhan, atau kuasa dan kemahakuasaan-Nya serta cakupan otoritas-Nya. Pemahaman seperti itu akan berdampak pada kemampuanmu untuk menerima kebenaran bahwa Tuhan adalah Penguasa segala sesuatu, juga pengetahuanmu tentang identitas dan status Tuhan. Dengan kata lain, jika pemahamanmu akan Tuhan terbatas cakupannya, apa yang dapat engkau terima juga terbatas. Karena itulah engkau harus memperluas cakupanmu dan memperluas wawasanmu. Engkau harus berusaha untuk memahami semuanya—cakupan pekerjaan Tuhan, pengelolaan-Nya, pengaturan-Nya, dan segala sesuatu yang Dia kelola dan di mana Dia memerintah. Melalui hal-hal inilah engkau harus memahami tindakan Tuhan. Dengan pemahaman seperti itu, engkau akan merasa, tanpa menyadarinya, bahwa Tuhan mengatur, mengelola, dan menyediakan untuk segala sesuatu di antaranya, dan engkau juga akan sungguh-sungguh merasakan bahwa engkau adalah bagian dan anggota dari segala sesuatu. Seperti Tuhan menyediakan segala sesuatu, engkau juga menerima pengaturan dan penyediaan Tuhan. Ini merupakan fakta yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VIII" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Meskipun manusia mungkin mendalami penelitiannya atas ilmu pengetahuan dan hukum yang mengatur segala sesuatu, penelitian itu lingkupnya terbatas, sedangkan Tuhan mengendalikan segalanya. Bagi manusia, kendali Tuhan tidak terbatas. Manusia dapat menghabiskan seluruh hidupnya meneliti perbuatan terkecil Tuhan tanpa mencapai hasil yang nyata. Inilah sebabnya, jika engkau hanya menggunakan pengetahuan dan apa yang telah engkau pelajari untuk mempelajari Tuhan, engkau tidak akan pernah mampu mengenal Tuhan atau memahami Dia. Namun, jika engkau memilih cara untuk mencari kebenaran dan mencari Tuhan, serta memandang Tuhan dari sudut pandang untuk mengenal Tuhan, maka, suatu hari, engkau akan mengakui bahwa perbuatan-perbuatan dan hikmat Tuhan ada di mana-mana, dan engkau akan mengetahui mengapa Tuhan disebut Penguasa segala sesuatu dan sumber kehidupan bagi segala sesuatu. Semakin engkau memperoleh pemahaman seperti itu, semakin engkau akan memahami mengapa Tuhan disebut Penguasa segala sesuatu. Segala sesuatu dan semuanya, termasuk dirimu, secara terus-menerus menerima aliran penyediaan Tuhan yang stabil. Engkau juga akan mampu dengan jelas merasakan bahwa di dunia ini, dan di antara umat manusia ini, tidak ada seorang pun selain Tuhan yang memiliki kemampuan dan esensi untuk memerintah, mengelola, dan memelihara keberadaan segala sesuatu. Ketika engkau mencapai pemahaman ini, engkau akan sungguh-sungguh mengakui bahwa Tuhan itu adalah Tuhanmu. Ketika engkau mencapai titik ini, engkau akan menerima Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mengizinkan Dia menjadi Tuhanmu dan Penguasamu. Ketika engkau telah memperoleh pemahaman seperti itu dan hidupmu telah mencapai titik seperti itu, Tuhan tidak akan mengujimu dan menghakimimu lagi, Dia juga tidak akan memberimu tuntutan apa pun, karena engkau akan memahami Tuhan, akan mengenal hati-Nya, dan telah menerima Dia dengan sungguh-sungguh di dalam hatimu.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VIII" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Manusia sering mengatakan bahwa tidak mudah mengenal Tuhan. Namun, Aku katakan bahwa mengenal Tuhan sama sekali bukanlah hal yang sulit, karena Tuhan sering menunjukkan perbuatan-perbuatan-Nya agar manusia melihatnya. Tuhan tidak pernah berhenti berdialog dengan umat manusia, dan Dia tidak pernah menyembunyikan diri-Nya dari manusia, dan juga tidak menyembunyikan diri-Nya sendiri. Pikiran-Nya, gagasan-Nya, firman-Nya, dan perbuatan-Nya, semua disingkapkan kepada umat manusia. Oleh karena itu, selama manusia ingin mengenal Tuhan, ia bisa memahami dan mengenal Dia lewat segala macam cara dan metode. Alasan mengapa manusia tanpa pengertian berpikir bahwa Tuhan dengan sengaja menghindarinya, bahwa Tuhan dengan sengaja menyembunyikan diri-Nya dari umat manusia, bahwa Tuhan tidak berniat membiarkan manusia memahami dan mengenal-Nya, adalah karena ia tidak tahu siapa Tuhan itu dan ia juga tidak ingin memahami Tuhan. Bahkan lebih daripada itu, ia tidak tertarik dengan pikiran, firman, atau perbuatan Sang Pencipta .... Sejujurnya, jika seseorang hanya menggunakan waktu luangnya untuk berfokus dan memahami firman atau perbuatan Sang Pencipta, dan jika mereka mencurahkan sedikit perhatian pada pikiran Sang Pencipta dan suara hati-Nya, tidak akan sulit bagi orang itu untuk menyadari bahwa pikiran, firman, dan perbuatan Sang Pencipta terlihat dan transparan. Begitu juga, hanya dibutuhkan sedikit usaha untuk menyadari bahwa Sang Pencipta ada di antara manusia selama ini, bahwa Dia selalu berbicara dengan manusia dan seluruh ciptaan, dan bahwa Dia melakukan perbuatan-perbuatan yang baru setiap hari. Esensi dan watak-Nya diungkapkan dalam dialog-Nya dengan manusia; pikiran dan gagasan-Nya disingkapkan sepenuhnya dalam perbuatanperbuatan-Nya; Dia menyertai dan menyelidiki umat manusia sepanjang waktu. Dia berbicara diam-diam kepada umat manusia dan seluruh ciptaan dengan firman-Nya yang sunyi: "Aku ada di langit, dan Aku berada di antara ciptaan-Ku. Aku berjaga-jaga; Aku menunggu; Aku ada di sisimu ...." Tangan-Nya hangat dan kuat; langkah kaki-Nya ringan; suara-Nya lembut dan anggun; figur-Nya berulang kali lewat dan berbalik, merengkuh seluruh umat manusia; wajah-Nya indah dan lembut. Dia tidak pernah pergi, tidak pernah menghilang. Siang dan malam, Dia adalah pendamping umat manusia yang selalu ada, tidak pernah pergi dari sisi mereka.

Dikutip dari "Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik II" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

2. Cara agar orang dapat memperoleh pengenalan akan Tuhan