Selama pertemuan kita yang terakhir, kita membahas topik yang sangat penting. Ingatkah engkau semua topik apakah itu? Aku akan mengulanginya. Topik persekutuan terakhir kita adalah: Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan dan Tuhan itu Sendiri. Apakah ini topik yang penting bagi engkau semua? Bagian mana yang paling penting bagimu? Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, atau Tuhan itu Sendiri? Manakah yang paling menarik bagimu? Bagian manakah yang paling ingin engkau semua dengarkan? Aku tahu sulit bagi engkau semua untuk menjawab pertanyaan itu, karena watak Tuhan dapat dilihat dalam setiap aspek pekerjaan-Nya, dan watak-Nya selalu diungkapkan dalam pekerjaan-Nya di semua tempat, yang sesungguhnya merepresentasikan Tuhan itu sendiri. Dalam keseluruhan rencana pengelolaan Tuhan, pekerjaan Tuhan, watak Tuhan, dan Tuhan itu sendiri semuanya tidak terpisahkan satu dari yang lain.

Isi persekutuan terakhir kita tentang pekerjaan Tuhan merupakan catatan dalam Alkitab yang terjadi dahulu kala. Semua itu adalah kisah tentang manusia dan Tuhan, dan terjadi pada manusia dan pada saat yang sama melibatkan partisipasi Tuhan dan pengungkapan diri-Nya. Jadi, kisah-kisah ini mengandung nilai dan makna tertentu untuk mengenal Tuhan. Segera setelah menciptakan umat manusia, Tuhan mulai melibatkan diri-Nya dengan manusia dan berbicara kepada manusia, dan watak-Nya pun mulai diungkapkan kepada manusia. Dengan kata lain, dari sejak Tuhan pertama kali melibatkan diri-Nya dengan umat manusia, tanpa henti Dia mulai memberitahukan hakikat-Nya, apa yang dimiliki-Nya, dan siapa diri-Nya secara terbuka kepada manusia. Terlepas dari apakah orang-orang pada zaman dahulu atau orang-orang pada zaman sekarang mampu melihat atau memahami semua itu, singkatnya Tuhan berbicara kepada manusia dan bekerja di antara manusia, menyingkapkan watak-Nya dan mengungkapkan hakikat-Nya—yang merupakan sebuah kenyataan dan tidak terbantahkan oleh siapa pun. Ini juga berarti bahwa watak Tuhan, hakikat Tuhan, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya terus menerus dinyatakan dan diungkapkan tatkala Dia bekerja dan menjalin hubungan dengan manusia. Dia tidak pernah menutupi atau menyembunyikan apa pun dari manusia, melainkan menyatakannya secara terbuka dan melepaskan watak-Nya sendiri tanpa merahasiakan apa pun. Dengan demikian, Tuhan berharap manusia dapat mengenal-Nya serta memahami watak dan hakikat-Nya. Dia tidak ingin manusia menganggap watak dan hakikat-Nya sebagai misteri abadi, dan Dia juga tidak ingin umat manusia menganggap Tuhan sebuah teka-teki yang tidak pernah dapat dipecahkan. Hanya setelah umat manusia mengenal Tuhan, barulah mereka dapat mengetahui jalan ke depan dan menerima bimbingan Tuhan, dan hanya umat manusia seperti inilah yang dapat sungguh-sungguh hidup di bawah kekuasaan Tuhan, hidup di dalam terang, dan hidup di tengah berkat Tuhan.

Firman dan watak yang dinyatakan dan diungkapkan Tuhan merepresentasikan kehendak dan juga hakikat-Nya. Ketika Tuhan menjalin hubungan dengan manusia, tidak peduli apa pun yang Dia katakan atau lakukan, atau watak apa yang Dia ungkapkan, dan tidak peduli apa pun yang manusia lihat dari hakikat-Nya, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, semuanya itu merepresentasikan kehendak Tuhan bagi manusia. Terlepas dari seberapa banyak manusia mampu menyadari, mengerti atau memahaminya, semua itu merepresentasikan kehendak Tuhan—kehendak Tuhan bagi manusia. Ini tidak diragukan lagi! Kehendak Tuhan bagi umat manusia adalah bagaimana Dia menuntut mereka menjadi apa, apa yang Dia tuntut mereka lakukan, bagaimana Dia menuntut mereka menjalani hidup, dan bagaimana Dia menuntut mereka agar mampu memenuhi kehendak Tuhan. Apakah hal-hal ini tidak terpisahkan dari hakikat Tuhan? Dengan kata lain, Tuhan menyatakan watak-Nya, semua yang Dia miliki dan siapa diri-Nya dan pada saat yang sama membuat tuntutan terhadap manusia. Tidak ada kepalsuan dan kepura-puraan, tidak ada yang ditutupi, dan ditambah-tambahkan. Namun mengapa manusia tidak mampu mengetahui, dan mengapa ia tidak pernah mampu memahami watak Tuhan dengan jelas? Mengapa manusia tidak pernah menyadari kehendak Tuhan? Apa yang diungkapkan dan dinyatakan oleh Tuhan adalah apa yang Tuhan sendiri miliki dan siapa diri-Nya, serta setiap bagian dan sisi dari watak-Nya yang sebenarnya—jadi mengapa manusia tidak dapat melihatnya? Mengapa manusia tidak mampu memiliki pengetahuan yang menyeluruh? Ada alasan penting untuk hal ini. Apakah alasannya? Sejak saat penciptaan, manusia tidak pernah menganggap Tuhan sebagai Tuhan. Di masa-masa paling awal, tidak peduli apa pun yang Tuhan lakukan yang berkaitan dengan manusia, manusia yang baru saja diciptakan itu menganggap-Nya tidak lebih dari seorang pendamping, seseorang untuk diandalkan, serta tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman tentang Tuhan. Artinya, manusia tidak mengetahui bahwa apa yang dinyatakan oleh Pribadi ini—Pribadi yang ia andalkan dan ia anggap sebagai pendamping ini—adalah hakikat Tuhan, dan manusia juga tidak mengetahui bahwa Pribadi ini adalah Pribadi yang mengatur segala sesuatu. Secara sederhana, manusia pada masa itu, tidak mengenali Tuhan sama sekali. Mereka tidak tahu bahwa langit dan bumi dan segala sesuatu telah dijadikan oleh-Nya, dan mereka tidak tahu dari mana Dia berasal dan terlebih lagi, tidak tahu siapa diri-Nya. Tentu saja, pada saat itu Tuhan tidak menuntut manusia untuk mengenal atau memahami diri-Nya, untuk mengerti semua yang Dia lakukan atau mengetahui kehendak-Nya, karena ini merupakan masa-masa paling awal setelah penciptaan manusia. Ketika Tuhan memulai persiapan untuk pekerjaan di Zaman Hukum Taurat, Tuhan melakukan beberapa hal kepada manusia dan juga mulai memberi mereka beberapa tuntutan, memberi tahu mereka cara memberikan persembahan dan beribadah kepada Tuhan. Baru kemudian manusia mendapatkan beberapa gagasan sederhana tentang Tuhan. Baru kemudian mereka mengetahui perbedaan antara manusia dan Tuhan, dan bahwa Tuhan adalah Pribadi yang menciptakan umat manusia. Ketika manusia tahu bahwa Tuhan adalah Tuhan dan manusia adalah manusia, terbentanglah jarak tertentu antara diri mereka dan Tuhan, tetapi Tuhan tetap tidak meminta manusia untuk memiliki pengetahuan yang luas atau pemahaman yang mendalam tentang diri-Nya. Jadi, Tuhan memberi kepada manusia persyaratan yang berbeda berdasarkan pada tahap dan keadaan pekerjaan-Nya. Apakah yang engkau semua lihat dalam hal ini? Aspek apakah dari watak Tuhan yang engkau semua pahami? Apakah Tuhan itu nyata? Apakah tuntutan Tuhan terhadap manusia sesuai? Selama masa-masa paling awal setelah Tuhan menciptakan manusia, ketika Tuhan baru akan melakukan pekerjaan penaklukan dan penyempurnaan dalam diri manusia, dan belum menyampaikan terlalu banyak firman kepada mereka, Dia hanya menuntut sedikit dari manusia. Terlepas dari apa yang manusia lakukan dan cara mereka berperilaku—bahkan jika mereka melakukan beberapa hal yang menyinggung Tuhan—Tuhan mengampuni dan mengabaikan semuanya. Ini karena Tuhan tahu apa yang telah Dia berikan kepada manusia dan apa yang ada dalam diri manusia, dan dengan demikian Dia pun tahu standar tuntutan apa yang harus Dia buat bagi manusia. Meskipun standar tuntutan-Nya pada saat itu sangat rendah, bukan berarti bahwa watak-Nya tidak agung, atau bahwa hikmat dan kemahakuasaan-Nya hanyalah kata-kata kosong. Bagi manusia, hanya ada satu cara untuk mengetahui watak Tuhan dan Tuhan itu sendiri, yaitu dengan mengikuti langkah-langkah pekerjaan pengelolaan Tuhan dan penyelamatan manusia, dan menerima firman yang Tuhan sampaikan kepada umat manusia. Setelah mengetahui apa yang Tuhan miliki dan siapa diri-Nya serta mengetahui watak Tuhan, apakah manusia akan tetap meminta kepada Tuhan agar Dia menunjukkan pribadi-Nya yang nyata kepada manusia? Manusia tidak akan dan tidak berani memintanya, karena dengan memahami watak Tuhan, apa yang dimiliki-Nya dan siapa diri-Nya, manusia telah melihat Tuhan itu sendiri yang sebenarnya, dan telah menyaksikan pribadi-Nya yang nyata. Ini adalah hasil yang tidak terelakkan.

Karena pekerjaan dan rencana Tuhan berkembang maju tanpa henti, dan setelah Tuhan menetapkan perjanjian pelangi dengan manusia sebagai tanda bahwa Dia tidak akan pernah lagi menghancurkan dunia dengan menggunakan air bah, Tuhan memiliki keinginan yang semakin kuat untuk mendapatkan mereka yang bisa sepikiran dengan-Nya. Karena itu, Dia juga memiliki harapan yang jauh lebih mendesak untuk mendapatkan mereka yang mampu melakukan kehendak-Nya di bumi, dan terlebih lagi, untuk mendapatkan sekelompok orang yang mampu membebaskan diri dari kekuatan kegelapan, dan yang tidak terikat oleh Iblis, dan mampu menjadi saksi bagi Dia di bumi. Mendapatkan sekelompok orang seperti itu adalah harapan Tuhan sejak lama, sesuatu yang Dia telah nantikan dari sejak saat penciptaan. Jadi, terlepas dari Tuhan menggunakan air bah untuk menghancurkan dunia, atau terlepas dari perjanjian-Nya dengan manusia, kehendak, kerangka berpikir, rencana dan harapan Tuhan semuanya tetap sama. Apa yang ingin Dia lakukan, yang dirindukan-Nya jauh sebelum waktu penciptaan, adalah mendapatkan mereka yang ingin Dia dapatkan di antara umat manusia—mendapatkan sekelompok orang yang mampu memahami dan mengetahui watak-Nya serta mengerti kehendak-Nya, sekelompok orang yang mampu menyembah-Nya. Kelompok orang-orang semacam inilah yang benar-benar mampu menjadi saksi bagi-Nya, dan mereka bisa dikatakan sebagai orang-orang kepercayaan-Nya.

Sekarang ini, mari kita terus menapaki kembali jejak langkah Tuhan dan mengikuti langkah-langkah pekerjaan-Nya, sehingga kita dapat mengetahui pikiran dan gagasan Tuhan serta segala sesuatu yang berkaitan dengan Tuhan, yang kesemuanya telah "tersimpan di ruang penyimpanan" sedemikian lamanya. Melalui hal-hal ini, kita akan mengetahui watak Tuhan, memahami hakikat Tuhan dan kita akan membiarkan Tuhan masuk ke dalam hati kita, dan setiap orang dari antara kita perlahan-lahan akan semakin dekat dengan Tuhan, mengurangi jarak antara kita dengan Tuhan.

Sebagian dari apa yang kita bahas sebelumnya berkaitan dengan mengapa Tuhan menetapkan perjanjian dengan manusia. Kali ini, kita akan bersekutu tentang perikop dari Kitab Suci di bawah ini. Mari kita mulai dengan membaca ayat-ayat berikut.

A. Abraham

1. Tuhan Berjanji Mengaruniakan Seorang Anak Laki-laki kepada Abraham

Kejadian 17:15-17 Lalu Tuhan berfirman kepada Abraham: "Mengenai Sarai, istrimu, engkau tidak akan menyebutnya lagi Sarai, tetapi namanya akan menjadi Sara. Dan Aku akan memberkatinya dan memberimu anak lelaki darinya: ya, Aku akan memberkatinya sehingga ia akan menjadi ibu dari bangsa-bangsa; raja-raja dari segala bangsa akan lahir darinya." Lalu Abraham menunduk dan tertawa dan berkata dalam hatinya: "Mungkinkah seorang anak lelaki dilahirkan dari seorang yang sudah berumur 100 tahun? Dan mungkinkah Sara yang berumur 90 tahun melahirkan seorang anak?"

Kejadian 17:21-22 "Tetapi perjanjian-Ku akan Kutetapkan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu, di saat seperti ini juga di tahun yang akan datang." Lalu Dia selesai berfirman kepada Abraham dan Dia naik meninggalkan Abraham.

2. Abraham Mempersembahkan Ishak

Kejadian 22:2-3 Dan Dia berfirman: "Ambillah anak lelakimu, anak lelakimu satu-satunya, Ishak, yang engkau kasihi, bawalah ia ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran, di salah satu gunung yang akan Kutunjukkan kepadamu." Maka Abraham bangun pagi-pagi benar dan memasang pelana keledainya lalu membawa dua orang bujang bersamanya dan Ishak anaknya; ia juga membelah kayu untuk korban bakaran itu lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

Kejadian 22:9-10 Tibalah mereka ke tempat yang Tuhan tunjukkan kepadanya, lalu Abraham mendirikan mezbah di sana, menyusun kayu dan mengikat Ishak, anaknya dan membaringkannya di mezbah itu, di atas kayu. Lalu Abraham mengulurkan tangannya dan mengambil pisau untuk menyembelih anak lelakinya.

Tidak Seorang pun Dapat Menghalangi Pekerjaan yang telah Tuhan Tetapkan untuk Dilakukan-Nya

Jadi, engkau semua telah mendengar kisah tentang Abraham. Dia dipilih oleh Tuhan setelah air bah menghancurkan dunia. Namanya adalah Abraham, dan ketika dia berumur seratus tahun dan istrinya, Sara, berumur sembilan puluh tahun, janji Tuhan dinyatakan kepadanya. Janji apakah yang Tuhan nyatakan kepadanya? Tuhan menjanjikan hal yang disebutkan dalam Kitab Suci: "Dan Aku akan memberkatinya dan memberimu anak lelaki darinya." Apakah latar belakang janji Tuhan untuk mengaruniakan kepada Abraham seorang anak laki-laki? Kitab Suci memberikan catatan berikut: "Lalu Abraham menunduk dan tertawa dan berkata dalam hatinya: 'Mungkinkah seorang anak lelaki dilahirkan dari seorang yang sudah berumur 100 tahun? Dan mungkinkah Sara yang berumur 90 tahun melahirkan seorang anak?'" Dengan kata lain, pasangan berusia lanjut ini terlalu tua untuk melahirkan anak. Lalu, apa yang Abraham lakukan setelah Tuhan menyampaikan janji-Nya kepadanya? Dia menunduk dan tertawa, dan berkata dalam hatinya: "Mungkinkah seorang anak lelaki dilahirkan dari seorang yang sudah berumur 100 tahun?" Abraham percaya bahwa hal itu tidak mungkin—yang berarti ia percaya bahwa janji Tuhan kepadanya tidak lebih dari sebuah lelucon. Dari sudut pandang manusia, hal ini tidak mungkin dicapai manusia, yang berarti juga tidak mungkin dicapai oleh Tuhan dan merupakan sebuah ketidakmungkinan bagi Tuhan. Mungkin bagi Abraham, hal ini menggelikan: Tuhan menciptakan manusia, tetapi rupanya Dia tidak tahu bahwa orang yang sudah setua itu tidak mampu lagi melahirkan anak. Dia kira Dia dapat memampukanku untuk melahirkan anak, Dia mengatakan bahwa Dia akan memberi kepadaku seorang anak laki-laki—benar-benar tidak mungkin! Maka, Abraham pun menunduk dan tertawa, dan berkata dalam hatinya: Tidak mungkin—Tuhan bercanda denganku, ini tidak mungkin benar! Abraham tidak menganggap serius firman Tuhan. Jadi, di mata Tuhan, orang macam apakah Abraham itu? (Orang benar.) Di mana dikatakan bahwa ia adalah orang yang benar? Engkau semua berpikir bahwa semua orang yang Tuhan panggil adalah orang benar dan sempurna, dan orang yang berjalan bersama Tuhan. Engkau semua terpaut pada doktrin! Engkau semua harus mengerti dengan jelas bahwa ketika Tuhan mendefinisikan seseorang, Dia tidak melakukannya dengan semena-mena. Di sini, Tuhan tidak mengatakan bahwa Abraham adalah orang benar. Di dalam hati-Nya, Tuhan memiliki standar untuk mengukur setiap orang. Meskipun Tuhan tidak mengatakan orang macam apakah Abraham itu, berdasarkan perilakunya, iman seperti apa yang Abraham miliki kepada Tuhan? Apakah ini sedikit abstrak? Atau, apakah ia seseorang yang memiliki iman yang besar? Tidak! Tawa dan pikirannya menunjukkan siapa dirinya. Jadi, keyakinanmu bahwa Abraham adalah seorang yang benar hanyalah isapan jempol dari imajinasimu, itu adalah penerapan doktrin yang membabi buta, sebuah penilaian yang tidak bertanggung jawab. Apakah Tuhan melihat tawa dan air muka Abraham, apakah Dia mengetahuinya? Tuhan tahu. Namun, akankah Tuhan mengubah apa yang telah ditetapkan untuk dilakukan-Nya? Tidak! Ketika Tuhan merencanakan dan memutuskan bahwa Dia akan memilih orang ini, perkara ini sudah ditetapkan. Baik pikiran maupun perilaku manusia tidak akan sedikit pun memengaruhi atau mengganggu Tuhan. Tuhan tidak akan secara semena-mena mengubah rencana-Nya, juga tidak akan mengubah atau mengacaukan rencana-Nya oleh karena perilaku manusia, yang bahkan mungkin bodoh. Apakah, kemudian, yang tertulis dalam Kejadian 17:21-22? "'Tetapi perjanjian-Ku akan Kutetapkan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu, di saat seperti ini juga di tahun yang akan datang.' Lalu Dia selesai berfirman kepada Abraham dan Dia naik meninggalkan Abraham." Tuhan tidak memberi sedikit pun perhatian pada apa yang Abraham pikirkan atau katakan. Apakah alasan Dia tidak mengindahkannya? Alasannya karena pada waktu itu, Tuhan tidak menuntut manusia harus memiliki iman yang besar, atau mampu memiliki pengetahuan yang besar akan Tuhan, atau terlebih lagi, mampu memahami apa yang Tuhan lakukan dan katakan. Dengan demikian, Dia tidak meminta manusia untuk sepenuhnya memahami apa yang Dia tetapkan untuk dilakukan, atau orang-orang yang Dia putuskan untuk dipilih-Nya, atau prinsip-prinsip dari tindakan-Nya, karena tingkat pertumbuhan manusia sangat tidak memadai. Pada waktu itu, Tuhan menganggap apa pun yang Abraham lakukan dan bagaimana pun perilakunya sebagai sesuatu yang normal. Dia tidak menyalahkan ataupun menegur, tetapi hanya berkata: "Sara akan melahirkan Ishak bagimu, di saat yang ditetapkan ini di tahun yang akan datang." Bagi Tuhan, setelah Dia menyampaikan perkataan ini, masalah ini menjadi nyata selangkah demi selangkah. Di mata Tuhan, apa yang harus dicapai oleh rencana-Nya telah dicapai, dan setelah menyelesaikan pengaturan atas hal ini, Tuhan pun pergi. Apa yang manusia lakukan atau pikirkan, apa yang manusia pahami, rencana-rencana manusia—tidak satu pun dari semua ini ada kaitannya dengan Tuhan. Segala sesuatu berlangsung menurut rencana Tuhan, sesuai dengan waktu dan tahapan yang ditetapkan oleh Tuhan. Seperti inilah prinsip pekerjaan Tuhan. Tuhan tidak mencampuri apa pun yang manusia pikirkan atau ketahui, namun Dia juga tidak meninggalkan rencana-Nya, atau melepaskan pekerjaan-Nya karena manusia tidak percaya atau mengerti. Dengan demikian, fakta yang terjadi adalah sesuai dengan rencana dan pemikiran Tuhan. Inilah tepatnya yang kita lihat dalam Akitab: Tuhan menyebabkan Ishak dilahirkan pada waktu yang telah Dia tetapkan. Apakah fakta tersebut membuktikan bahwa perilaku dan tindakan manusia menghalangi pekerjaan Tuhan? Semua itu tidak menghalangi pekerjaan Tuhan! Apakah iman manusia yang kecil kepada Tuhan, serta gagasan dan imajinasinya tentang Tuhan memengaruhi pekerjaan Tuhan? Tidak! Sama sekali tidak! Rencana pengelolaan Tuhan tidak dipengaruhi oleh siapa pun, juga tidak oleh perihal atau lingkungan apa pun. Semua yang Dia tetapkan untuk dilakukan akan diselesaikan dan dikerjakan pada waktunya dan sesuai dengan rencana-Nya, dan pekerjaan-Nya tidak dapat diganggu oleh siapa pun. Tuhan mengabaikan aspek-aspek tertentu dari kebodohan dan ketidaktahuan manusia, bahkan mengabaikan aspek-aspek tertentu dari perlawanan dan gagasan manusia terhadap-Nya. Dia melakukan pekerjaan yang harus Dia lakukan tanpa memedulikan hal-hal itu. Inilah watak Tuhan dan cerminan kemahakuasaan-Nya.

All Bible quotation in this video is translated freely from English Bible.