Tidak Memiliki Kecurigaan Tentang Ujian Tuhan

Setelah menerima kesaksian dari Ayub setelah akhir ujiannya, Tuhan memutuskan bahwa Dia akan mendapatkan sekelompok—atau lebih dari satu kelompok—orang-orang yang seperti Ayub, namun Dia bertekad untuk tidak pernah lagi mengizinkan Iblis untuk menyerang atau menyiksa orang lain dengan menggunakan cara yang digunakan olehnya untuk mencobai, menyerang, dan menyiksa Ayub, dengan bertaruh dengan Tuhan; Tuhan tidak mengizinkan Iblis untuk kembali melakukan hal-hal seperti itu kepada manusia, yang lemah, bodoh, dan tidak tahu—sudah cukup bahwa Iblis telah mencobai Ayub! Tidak mengizinkan Iblis untuk menyiksa orang sesuai keinginannya adalah belas kasihan Tuhan. Bagi Tuhan, sudah cukup bahwa Ayub telah menderita pencobaan dan penyiksaan Iblis. Tuhan tidak mengizinkan Iblis untuk kembali melakukan hal-hal seperti itu, karena kehidupan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan orang-orang yang mengikuti Tuhan diperintah dan diatur oleh Tuhan, dan Iblis tidak berhak memanipulasi orang-orang pilihan Tuhan sesuka hatinya—engkau semua seharusnya memahami poin ini dengan jelas! Tuhan peduli akan kelemahan manusia, dan memahami kebodohan dan ketidaktahuannya. Meskipun, agar manusia dapat sepenuhnya diselamatkan, Tuhan harus menyerahkannya kepada Iblis, Tuhan tidak mau melihat manusia satu kali pun dibodohi oleh Iblis dan disiksa oleh Iblis, dan Dia tidak ingin melihat manusia selalu menderita. Manusia diciptakan oleh Tuhan, dan adalah sungguh dibenarkan bahwa Tuhan memerintah dan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia; ini adalah tanggung jawab Tuhan, dan otoritas yang dengannya Tuhan mengatur segala sesuatu! Tuhan tidak mengizinkan Iblis menyiksa dan menganiaya manusia sesuka hati, Dia tidak mengizinkan Iblis menggunakan berbagai cara untuk menyesatkan manusia, dan, lebih lagi, Dia tidak mengizinkan Iblis untuk mengusik kedaulatan Tuhan atas manusia, juga tidak mengizinkan Iblis untuk menginjak-injak dan memusnahkan hukum-hukum yang digunakan oleh Tuhan untuk mengatur segala sesuatu, apalagi pekerjaan Tuhan yang hebat dalam mengelola dan menyelamatkan umat manusia! Mereka yang ingin Tuhan selamatkan, dan mereka yang mampu menjadi kesaksian bagi Tuhan, adalah inti dan kristalisasi pekerjaan rencana pengelolaan Tuhan selama enam ribu tahun, serta harga upaya-Nya dalam pekerjaan-Nya selama enam ribu tahun. Bagaimana mungkin Tuhan dengan santai memberikan orang-orang ini kepada Iblis?

Orang sering khawatir dan takut menghadapi ujian dari Tuhan, namun mereka senantiasa hidup dalam jerat Iblis, dan hidup di wilayah berbahaya tempat mereka diserang dan disiksa oleh Iblis—namun mereka tidak mengenal rasa takut, dan tidak terganggu. Apa yang sedang terjadi? Keyakinan manusia kepada Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dapat dilihatnya. Dia sama sekali tidak menghargai kasih dan perhatian Tuhan untuk manusia, atau kelembutan dan pertimbangan-Nya terhadap manusia. Tetapi untuk sedikit gentar dan takut akan ujian, penghakiman dan hajaran, dan kemegahan dan murka Tuhan, manusia tidak memiliki sedikit pun pemahaman tentang maksud baik Tuhan. Berbicara tentang ujian, orang merasa seolah-olah Tuhan memiliki motif tersembunyi, dan beberapa bahkan percaya bahwa Tuhan menyimpan rancangan jahat, tidak menyadari apa yang sebenarnya akan Tuhan lakukan untuk mereka; dengan demikian, pada waktu bersamaan menuntut ketaatan kepada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, mereka melakukan semua yang mereka bisa untuk menentang dan melawan kedaulatan Tuhan atas manusia dan pengaturan untuk manusia, karena mereka percaya bahwa jika mereka tidak berhati-hati mereka akan disesatkan oleh Tuhan, bahwa jika mereka tidak menguasai nasib mereka sendiri maka semua yang mereka miliki dapat diambil oleh Tuhan, dan hidup mereka bahkan bisa berakhir. Manusia berada di kubu Iblis, tetapi dia tidak pernah khawatir disiksa oleh Iblis, dan dia disiksa oleh Iblis tetapi tidak pernah takut ditawan oleh Iblis. Manusia terus mengatakan bahwa dia menerima keselamatan Tuhan, namun tidak pernah memercayai Tuhan atau percaya bahwa Tuhan akan benar-benar menyelamatkan manusia dari cengkeraman Iblis. Jika, seperti Ayub, manusia dapat tunduk pada perancangan dan pengaturan Tuhan, dan dapat menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan, maka bukankah akhir manusia pun akan sama dengan akhir hidup Ayub—penerimaan berkat Tuhan? Jika manusia dapat menerima dan tunduk pada aturan Tuhan, apakah ada kerugiannya? Maka dari itu, Aku menganjurkan agar engkau semua berhati-hati dalam tindakanmu dan waspada terhadap apa pun yang akan menghampirimu. Jangan terburu-buru atau impulsif, dan jangan memperlakukan Tuhan, dan orang, perkara, dan objek yang telah Dia aturkan untukmu dengan bergantung pada darah panasmu atau sifat alamimu, atau menurut imajinasi dan konsepsimu; engkau semua harus waspada dalam tindakanmu dan harus berdoa serta lebih banyak mencari agar tidak memicu murka Tuhan. Ingatlah ini!

Berikutnya, kita akan melihat bagaimana Ayub setelah ujiannya.

5. Ayub Setelah Ujiannya

Ayub 42:7-9 Dan kemudian, setelah Yahweh mengucapkan firman itu kepada Ayub, Yahweh berkata kepada Elifas orang Teman: "Murka-Ku menyala-nyala terhadap engkau dan kedua temanmu: karena engkau tidak mengatakan yang benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. Karena itu sekarang kalian ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah korban bakaran bagi dirimu; dan hamba-Ku Ayub akan mendoakan engkau sekalian: karena Aku akan menerima permintaannya: supaya Aku tidak berurusan dengan engkau karena kebodohanmu, sebab engkau tidak mengatakan yang benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." Lalu Elifas, orang Teman, dan Bildad orang Suah dan Zofar, orang Naama pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan Yahweh kepada mereka: Yahweh juga menerima permintaan Ayub.

Ayub 42:10 Maka Yahweh memulihkan keadaan Ayub, ketika ia mendoakan teman-temannya: dan Yahweh juga memberikan kepada Ayub dua kali lipat lebih banyak daripada segala yang dimilikinya sebelumnya.

Ayub 42:12 Maka Yahweh memberkati Ayub dalam kehidupan berikutnya lebih daripada sebelumnya; dia memiliki 14.000 domba, dan 6.000 unta, dan 1.000 lembu, dan 1.000 keledai betina.

Ayub 42:17 Maka Ayub pun meninggal, sesudah tua dan lanjut umurnya.

Mereka Yang Takut Akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan Dipandang Berharga oleh Tuhan, Sementara Mereka Yang Bodoh Dipandang Rendah oleh Tuhan

Dalam Ayub 42:7-9, Tuhan berkata bahwa Ayub adalah hamba-Nya. Penggunaan istilah "hamba" oleh-Nya untuk merujuk kepada Ayub menunjukkan arti penting Ayub dalam hati-Nya; meskipun Tuhan tidak menyebut Ayub dengan panggilan yang lebih terhormat, sebutan ini tidak berpengaruh pada arti penting Ayub dalam hati Tuhan. "Hamba" di sini adalah nama panggilan Tuhan untuk Ayub. Penyebutan "hamba-Ku Ayub" berkali-kali oleh Tuhan menunjukkan betapa Dia senang akan Ayub, dan meskipun Tuhan tidak berbicara tentang makna di balik kata "hamba," definisi Tuhan tentang kata "hamba" dapat dilihat dari firman-Nya dalam perikop Alkitab ini. Tuhan pertama-tama berfirman kepada Elifas orang Teman: "Murka-Ku menyala-nyala terhadap engkau dan kedua temanmu: karena engkau tidak mengatakan yang benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." Perkataan-perkataan ini adalah pertama kalinya Tuhan secara terbuka memberitahukan kepada orang-orang bahwa Dia menerima semua yang dikatakan dan dilakukan oleh Ayub setelah ujian yang Tuhan berikan kepadanya, dan pertama kalinya Dia secara terbuka menegaskan keakuratan dan kebenaran dari semua yang telah Ayub lakukan dan katakan. Tuhan marah kepada Elifas dan yang lain oleh karena uraian mereka yang tidak benar dan konyol, karena, seperti halnya Ayub, mereka tidak dapat melihat penampakan Tuhan atau mendengar firman yang Dia ucapkan dalam hidup mereka, namun Ayub memiliki pengetahuan begitu akurat tentang Tuhan, sedangkan mereka hanya bisa menebak secara membabi buta tentang Tuhan, melanggar kehendak Tuhan dan menguji kesabaran-Nya dalam semua yang mereka lakukan. Akibatnya, Tuhan menerima semua yang dilakukan dan dikatakan oleh Ayub, dan di saat yang sama Ia menjadi murka terhadap yang lain, karena di dalam diri mereka, Dia bukan hanya tidak dapat melihat kenyataan takut akan Tuhan, tetapi juga tidak mendengar apa pun tentang rasa takut akan Tuhan dalam ucapan mereka. Maka selanjutnya Tuhan memerintahkan mereka untuk melakukan hal berikut: "Karena itu sekarang kalian ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah korban bakaran bagi dirimu; dan hamba-Ku Ayub akan mendoakan engkau sekalian: karena Aku akan menerima permintaannya: supaya Aku tidak berurusan dengan engkau karena kebodohanmu." Dalam perikop ini Tuhan mengatakan kepada Elifas dan yang lain untuk melakukan sesuatu yang akan menebus dosa mereka, karena kebodohan mereka adalah dosa terhadap Tuhan Yahweh, dan karena itu mereka harus mempersembahkan korban bakaran untuk memperbaiki kesalahan mereka. Korban bakaran sering dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi hal yang tidak biasa tentang korban bakaran ini adalah bahwa mereka dipersembahkan kepada Ayub. Ayub diterima oleh Tuhan karena dia menjadi kesaksian bagi Tuhan selama ujiannya. Sementara itu, teman-teman Ayub ini, tersingkap selama masa ujian Ayub; karena kebodohan mereka, mereka dikutuk oleh Tuhan, dan mereka memicu murka Tuhan, dan harus dihukum oleh Tuhan—dihukum dengan mempersembahkan korban bakaran di hadapan Ayub—setelah itu Ayub berdoa bagi mereka untuk menghilangkan hukuman dan murka Tuhan terhadap mereka. Maksud Tuhan adalah mempermalukan mereka, karena mereka bukan orang-orang yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan mereka telah mengutuk kesalehan Ayub. Dalam satu hal, Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa Dia tidak menerima tindakan mereka tetapi sangat menerima dan bersuka akan diri Ayub; dalam hal lain, Tuhan mengatakan kepada mereka bahwa diterima oleh Tuhan mengangkat manusia di hadapan Tuhan, bahwa manusia dibenci Tuhan oleh karena kebodohannya, dan menyinggung Tuhan karena hal itu, dan rendah serta hina di mata Tuhan. Ini adalah definisi yang diberikan oleh Tuhan tentang dua jenis manusia, inilah sikap Tuhan terhadap dua jenis orang ini, dan semua itu adalah ungkapan Tuhan melalui kata-kata tentang nilai dan kedudukan kedua jenis orang ini. Meskipun Tuhan memanggil Ayub sebagai hamba-Nya, di mata Tuhan, hamba ini dicintai, dan diberikan otoritas untuk berdoa bagi orang lain dan memaafkan kesalahan mereka. Hamba ini dapat berbicara langsung kepada Tuhan dan datang langsung ke hadapan Tuhan, statusnya lebih tinggi dan lebih terhormat daripada orang lain. Ini adalah arti sebenarnya dari kata "hamba" yang diucapkan oleh Tuhan. Ayub diberikan kehormatan khusus ini karena rasa takutnya akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan alasan mengapa orang yang lain tidak disebut hamba oleh Tuhan adalah karena mereka tidak takut akan Tuhan dan tidak menjauhi kejahatan. Kedua sikap Tuhan yang jelas berbeda ini adalah sikap-Nya terhadap dua jenis manusia: Mereka yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan diterima oleh Tuhan, dan dipandang berharga di mata-Nya, sementara mereka yang bodoh, tidak takut akan Tuhan, dan tidak mampu menjauhi kejahatan, dan tidak dapat menerima kebaikan Tuhan; mereka sering dibenci dan dikutuk oleh Tuhan, dan rendah di mata Tuhan.

Tuhan Memberikan Otoritas Kepada Ayub

Ayub berdoa untuk teman-temannya, dan setelah itu, karena doa Ayub, Tuhan tidak memperlakukan mereka sesuai dengan kebodohan mereka—Dia tidak menghukum mereka atau meminta ganti rugi dari mereka. Dan mengapa demikian? Karena doa-doa hamba Tuhan, Ayub, bagi mereka telah sampai ke telinga-Nya; Tuhan mengampuni mereka karena Dia menerima doa-doa Ayub. Dan apa yang kita lihat dalam hal ini? Ketika Tuhan memberkati seseorang, Dia memberi kepada mereka banyak imbalan, dan bukan hanya imbalan materi, melainkan: Tuhan juga memberi mereka otoritas, dan hak untuk berdoa bagi orang lain, dan Tuhan melupakan, serta mengabaikan pelanggaran orang-orang tersebut karena Dia mendengar doa-doa ini. Inilah otoritas khusus yang Tuhan berikan kepada Ayub. Melalui doa-doa Ayub agar menghentikan hukuman bagi mereka, Tuhan Yahweh mempermalukan orang-orang bodoh itu—yang tentu saja merupakan hukuman khusus-Nya bagi Elifas dan yang lain.

Ayub Sekali Lagi Diberkati oleh Tuhan, dan Tidak Pernah Lagi Dituduh oleh Iblis

Di antara perkataan-perkataan Tuhan Yahweh terdapat firman yang mengatakan "engkau tidak mengatakan yang benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub." Apakah hal yang telah Ayub katakan? Itu adalah hal yang telah kita bahas sebelumnya, juga beberapa halaman firman dalam Kitab Ayub yang mencatat ucapan Ayub. Dalam semua halaman firman ini, Ayub tidak pernah sekalipun memiliki keluhan ataupun keraguan tentang Tuhan. Dia hanya menunggu kesudahannya. Penantian inilah yang merupakan sikap ketaatannya, sebagai akibatnya, dan sebagai akibat dari perkataan yang dia ucapkan kepada Tuhan, Ayub diterima oleh Tuhan. Ketika dia mengalami ujian dan menderita kesukaran, Tuhan berada di sisinya, dan meskipun kesukarannya tidak berkurang oleh karena kehadiran Tuhan, Tuhan melihat apa yang ingin Dia lihat, dan mendengar apa yang ingin Dia dengar. Setiap tindakan dan perkataan Ayub mencapai mata dan telinga Tuhan; Tuhan mendengar, dan Dia melihat—dan ini adalah fakta. Pengetahuan Ayub tentang Tuhan, dan pemikirannya tentang Tuhan dalam hatinya pada waktu itu, selama periode itu, sebenarnya tidak sespesifik pengetahuan dan pemikiran orang-orang zaman sekarang, tetapi dalam konteks waktu, Tuhan tetap mengakui semua yang dia katakan, karena perilaku dan pemikiran dalam hatinya, dan apa yang telah dia ungkapkan dan singkapkan, cukup memenuhi persyaratan-Nya. Selama masa ketika Ayub mengalami ujian, apa yang dipikirkannya dalam hati dan yang bertekad untuk dilakukannya, menunjukkan kepada Tuhan suatu hasil, yang memuaskan Tuhan, dan setelah itu Tuhan pun menghentikan ujian terhadap Ayub, Ayub bangkit dari kesusahannya, dan ujiannya telah lenyap dan tidak pernah lagi menimpa dirinya. Karena Ayub telah mengalami ujian, dan telah berdiri teguh selama ujian-ujian ini, dan menang sepenuhnya atas Iblis, Tuhan memberinya berkat yang pantas dia dapatkan. Sebagaimana dicatat dalam Ayub 42:10, 12, Ayub diberkati sekali lagi, dan diberkati dengan lebih banyak dari yang pertama. Pada saat ini Iblis telah mengundurkan diri, dan tidak lagi mengatakan atau melakukan apa pun, dan sejak saat itu Ayub tidak lagi diganggu atau diserang oleh Iblis, dan Iblis tidak lagi membuat tuduhan terhadap berkat Tuhan kepada Ayub.

Ayub Menghabiskan Bagian Terakhir dari Hidupnya Di Tengah Berkat Tuhan

Meskipun berkat-Nya pada waktu itu hanya terbatas pada domba, sapi, unta, aset materi, dan sebagainya, berkat-berkat yang ingin Tuhan berikan kepada Ayub dalam hati-Nya jauh lebih dari ini. Pada saat itu, apakah ada tercatat janji-janji kekal seperti apa yang ingin Tuhan berikan kepada Ayub? Dalam berkat-Nya untuk Ayub, Tuhan tidak menyebutkan atau menyinggung tentang akhir hidupnya, dan terlepas dari kepentingan atau posisi apa yang Ayub miliki dalam hati Tuhan, singkatnya Tuhan penuh pertimbangan dalam berkat-Nya. Tuhan tidak mengumumkan akhir hidup Ayub. Apakah artinya ini? Pada saat itu, ketika rencana Tuhan belum mencapai titik ketika akhir hidup manusia dikumandangkan, rencana itu belum memasuki tahap akhir dari pekerjaan-Nya, Tuhan tidak menyebutkan akhir, hanya memberikan berkat materi kepada manusia. Ini berarti bahwa paruh terakhir dari kehidupan Ayub dijalani di tengah berkat Tuhan, yang membuatnya berbeda dengan orang lain—tetapi seperti mereka, dia bertambah tua, dan seperti orang normal lain, tiba harinya ketika dia mengucapkan selamat tinggal kepada dunia. Dengan demikian tercatat bahwa "Maka Ayub pun meninggal, sesudah tua dan lanjut umurnya" (Ayub 42:17). Apa arti dari "meninggal ... lanjut umurnya" di sini? Di zaman sebelum Tuhan mengumandangkan akhir hidup manusia, Tuhan menetapkan harapan hidup untuk Ayub, dan ketika usia itu telah tercapai, Dia mengizinkan Ayub untuk meninggalkan dunia ini secara alami. Dari berkat kedua Ayub sampai kematiannya, Tuhan tidak menambah kesulitan lagi. Bagi Tuhan, kematian Ayub adalah alami, dan juga perlu terjadi, itu adalah sesuatu yang sangat normal, dan bukan penghakiman atau kutukan. Ketika dia masih hidup, Ayub menyembah dan takut akan Tuhan; mengenai seperti apa akhir yang dia miliki setelah kematiannya, Tuhan sama sekali tidak berfirman, atau membuat komentar tentang hal itu. Tuhan itu memiliki rasa kesopanan yang tinggi dalam apa yang Dia katakan dan lakukan, dan isi serta prinsip dari firman dan tindakan-Nya sesuai dengan tahap pekerjaan-Nya dan periode ketika Dia bekerja. Akhir seperti apa yang dimiliki oleh seseorang seperti Ayub dalam hati Tuhan? Sudahkah Tuhan membuat keputusan dalam hati-Nya? Tentu saja Dia sudah memutuskan! Hanya saja ini tidak diketahui oleh manusia; Tuhan tidak ingin memberi tahu manusia, juga tidak bermaksud untuk memberi tahu manusia. Dan dengan demikian, berbicara secara garis besar, Ayub meninggal dalam usia lanjut, dan seperti demikianlah kehidupan Ayub.

Harga yang Dibayar oleh Ayub Di Sepanjang Masa Hidupnya

Apakah Ayub menjalani kehidupan yang bernilai? Di manakah nilainya? Mengapa dikatakan dia menjalani kehidupan yang bernilai? Bagi manusia, apakah nilainya? Dari sudut pandang manusia, Ayub merepresentasikan umat manusia yang ingin Tuhan selamatkan, dalam menjadi kesaksian yang meyakinkan bagi Tuhan di hadapan Iblis dan orang-orang di dunia. Ayub memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi oleh makhluk ciptaan Tuhan, dan menjadikan dirinya teladan dan bertindak sebagai model, untuk semua orang yang ingin Tuhan selamatkan, sehingga memungkinkan orang untuk melihat bahwa sangatlah mungkin untuk menang atas Iblis dengan mengandalkan Tuhan. Dan apa nilai Ayub bagi Tuhan? Bagi Tuhan, nilai kehidupan Ayub terletak pada kemampuannya untuk takut akan Tuhan, menyembah Tuhan, bersaksi tentang perbuatan Tuhan, dan memuji perbuatan Tuhan, telah memberi kepada Tuhan penghiburan dan sesuatu untuk dinikmati. Bagi Tuhan, nilai kehidupan Ayub juga adalah dalam hal bagaimana, sebelum kematiannya, Ayub mengalami ujian dan menang atas Iblis, dan menjadi kesaksian yang meyakinkan bagi Tuhan di hadapan Iblis dan orang-orang di dunia, memuliakan Tuhan di antara umat manusia, menghibur hati Tuhan, dan memungkinkan hati Tuhan yang penuh hasrat untuk menyaksikan kesudahannya, dan melihat harapan. Kesaksiannya itu menjadi preseden tentang adanya kemampuan untuk berdiri teguh dalam kesaksian seseorang bagi Tuhan, dan kemampuan membuat malu Iblis atas nama Tuhan, di dalam pekerjaan Tuhan mengelola umat manusia. Bukankah ini nilai kehidupan Ayub? Ayub menghadirkan penghiburan bagi hati Tuhan, dia membuat Tuhan mencicipi kesukaan karena dimuliakan, dan memberikan awal luar biasa bagi rencana pengelolaan Tuhan. Dan mulai saat itu dan seterusnya, nama Ayub menjadi simbol untuk pemuliaan Tuhan, dan tanda kemenangan umat manusia atas Iblis. Apa yang dijalani oleh Ayub selama masa hidupnya dan kemenangannya yang luar biasa atas Iblis akan selamanya dihargai oleh Tuhan, dan kesempurnaan, kejujuran, dan sikapnya yang takut akan Tuhan akan dihormati dan ditiru oleh generasi yang akan datang. Dia akan selamanya dihargai oleh Tuhan seperti mutiara mulus dan berkilau, dan demikian pula dia layak dihargai oleh manusia!

Selanjutnya, mari kita melihat pekerjaan Tuhan selama Zaman Hukum Taurat.

D. Peraturan Zaman Hukum Taurat

Sepuluh Perintah

Prinsip Membangun Mezbah

Peraturan Memperlakukan Hamba

Peraturan mengenai Pencurian dan Kompensasi

Mempertahankan Tahun Sabat dan Tiga Perayaan

Peraturan mengenai Hari Sabat

Peraturan mengenai Korban Persembahan

Korban Bakaran

Korban Sajian

Korban Perdamaian

Korban Penghapus Dosa

Korban Kesalahan

Peraturan mengenai Korban Bakaran oleh Para Imam (Yang Harus Dipatuhi Harun dan Anak-anaknya)

Korban Bakaran oleh Imam

Korban Sajian oleh Imam

Korban Penghapus Dosa oleh Imam

Korban Kesalahan oleh Imam

Korban Perdamaian oleh Imam

Peraturan mengenai Memakan Korban Bakaran oleh Imam

Binatang yang Tidak Haram dan yang Haram (Binatang Yang Bisa Dimakan dan Tidak Bisa Dimakan)

Peraturan mengenai Penyucian Perempuan Selepas Persalinan

Standar bagi Pemeriksaan Orang yang Sakit Kusta

Peraturan bagi Mereka Yang Telah Tahir dari Kusta

Peraturan untuk Menahirkan Rumah yang Terjangkit

Peraturan untuk Mereka Yang Menderita Lelehan Abnormal

Hari Penebusan yang Harus Dirayakan Setahun Sekali

Aturan untuk Menyembelih Kambing Domba dan Ternak

Larangan Mengikuti Praktik-Praktik Menjijikkan Bangsa-Bangsa Bukan Yahudi (Tidak Melakukan Inses, dan Lain Sebagainya)

Peraturan yang Harus Diikuti Manusia ("Hendaklah engkau kudus: karena Aku Yahweh Tuhanmu kudus.")

Eksekusi Orang-orang yang Mengorbankan Anak-anak Mereka kepada Molokh

Peraturan untuk Menghukum Kejahatan Perzinahan

Aturan yang Harus Dipatuhi Para Imam (Aturan untuk Perilaku Sehari-hari Mereka, Aturan untuk Pemakaian Benda-benda Kudus, Aturan untuk Mempersembahkan Korban Persembahan, dan Lain Sebagainya)

Perayaan yang Harus Diperingati (Hari Sabat, Paskah, Pentakosta, Hari Penebusan, dan Lain Sebagainya)

Peraturan Lain (Menyalakan Pelita, Tahun Yobel, Penebusan Tanah, Membuat Sumpah, Persembahan Persepuluhan, dan Lain Sebagainya)

Peraturan Zaman Hukum Taurat Adalah Bukti Nyata Arahan Tuhan untuk Seluruh Umat Manusia

Jadi, engkau semua telah membaca peraturan dan prinsip Zaman Hukum Taurat ini, ya? Apakah peraturan tersebut mencakup rentang yang luas? Pertama, peraturan tersebut mencakup Sepuluh Perintah, dan kemudian peraturan tentang cara membangun mezbah, dan lain sebagainya. Ini diikuti oleh peraturan untuk memelihara hari Sabat dan mengadakan tiga perayaan, dan kemudian peraturan mengenai korban persembahan. Apakah engkau semua melihat ada berapa banyak jenis korban persembahan? Ada korban bakaran, korban sajian, korban perdamaian, korban penghapus dosa, dan banyak lagi. Semua itu diikuti oleh peraturan untuk korban persembahan para imam, termasuk korban bakaran dan korban sajian oleh imam, dan jenis korban persembahan lainnya. Peraturan kedelapan adalah untuk memakan korban persembahan oleh imam. Dan kemudian ada peraturan untuk apa yang seharusnya diperingati sepanjang hidup manusia. Ada ketetapan untuk banyak aspek dalam hidup manusia, seperti peraturan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh mereka, mengenai penyucian perempuan setelah persalinan, dan mengenai mereka yang telah tahir dari penyakit kusta. Dalam peraturan-peraturan ini, Tuhan lebih jauh berbicara tentang penyakit, dan bahkan ada aturan mengenai penyembelihan kambing domba dan ternak, dan lain sebagainya. Kambing domba dan ternak diciptakan oleh Tuhan, dan engkau harus menyembelihnya bagaimana pun Tuhan menyuruhmu; tidak diragukan lagi, selalu ada alasan untuk firman Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa adalah benar untuk bertindak sesuai dengan apa yang ditetapkan Tuhan, dan itu pasti bermanfaat bagi manusia! Ada juga perayaan dan aturan untuk diikuti, seperti hari Sabat, Paskah, dan banyak lagi—Tuhan berbicara tentang semua ini. Mari kita melihat yang terakhir: peraturan yang lain—menyalakan pelita, Tahun Yobel, penebusan tanah, membuat sumpah, persembahan persepuluhan, dan lain-lain. Apakah semua ini mencakup rentang yang luas? Hal pertama yang harus dibicarakan adalah masalah korban persembahan manusia, kemudian ada peraturan untuk pencurian dan kompensasi, dan memelihara hari Sabat ...; setiap detail kehidupan dilibatkan. Yang berarti, ketika Tuhan memulai secara resmi pekerjaan dalam rencana pengelolaan-Nya, Dia menetapkan banyak peraturan yang harus diikuti oleh manusia. Semua peraturan ini dibuat demi memungkinkan manusia menjalani kehidupan normal manusia di bumi, kehidupan normal manusia yang tidak dapat dipisahkan dari Tuhan dan bimbingan-Nya. Pertama-tama, Tuhan memberitahukan kepada manusia cara membangun mezbah, cara mengatur mezbah. Setelah itu, Dia memberitahukan kepada manusia cara mempersembahkan korban persembahan, dan menetapkan bagaimana manusia harus hidup—apa yang harus dia perhatikan dalam hidup, apa yang harus dia patuhi, apa yang seharusnya dan tidak boleh dilakukan olehnya. Apa yang ditetapkan oleh Tuhan bagi manusia merangkul semuanya, dan dengan adat istiadat, peraturan, dan prinsip ini, Dia menetapkan standar bagi tingkah laku manusia, membimbing hidup mereka, menuntun mereka untuk melakukan hukum-hukum Tuhan, membimbing mereka untuk datang ke hadapan mezbah Tuhan, menuntun mereka dalam memiliki kehidupan di antara segala sesuatu yang Tuhan buat untuk manusia yang mengandung ketertiban, keteraturan, dan yang tidak berlebih-lebihan. Tuhan pertama-tama menggunakan peraturan dan prinsip yang sederhana ini untuk menetapkan batasan bagi manusia, sehingga di bumi manusia akan memiliki kehidupan penyembahan kepada Tuhan yang normal, memiliki kehidupan normal sebagai manusia; seperti itulah isi spesifik dari awal rencana pengelolaan enam ribu tahun-Nya. Peraturan dan aturan itu mencakup konten yang sangat luas, semua itu merupakan hal-hal spesifik dari bimbingan Tuhan bagi umat manusia selama Zaman Hukum Taurat, semua itu harus diterima dan dihormati oleh orang-orang yang datang sebelum Zaman Hukum Taurat, semua itu adalah catatan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan selama Zaman Hukum Taurat, dan bukti nyata kepemimpinan serta bimbingan Tuhan bagi semua umat manusia.

Umat Manusia Selamanya Tidak Terpisahkan Dari Ajaran dan Pembekalan Tuhan

Dalam peraturan ini kita melihat bahwa sikap Tuhan terhadap pekerjaan-Nya, terhadap pengelolaan-Nya, dan terhadap umat manusia adalah serius, berhati-hati, teliti, dan bertanggung jawab. Dia melakukan pekerjaan yang harus Dia lakukan di antara umat manusia sesuai dengan langkah-Nya, tanpa penyimpangan sedikit pun, mengucapkan firman yang harus Dia ucapkan kepada umat manusia tanpa sedikit pun kesalahan atau kelalaian, memungkinkan manusia untuk melihat bahwa dia tidak dapat dipisahkan dari kepemimpinan Tuhan, dan menunjukkan kepadanya betapa pentingnya semua yang Tuhan lakukan dan katakan kepada umat manusia. Terlepas dari seperti apakah manusia di zaman berikutnya, singkatnya, pada awal mulanya—selama Zaman Hukum Taurat—Tuhan melakukan hal-hal sederhana ini. Bagi Tuhan, konsep manusia tentang Tuhan, dunia, dan umat manusia di zaman itu adalah abstrak dan buram, dan meskipun mereka memiliki beberapa gagasan dan maksud yang disadari, semuanya itu tidak jelas dan tidak benar, dan dengan demikian umat manusia tidak dapat dipisahkan dari ajaran dan pembekalan Tuhan untuk mereka. Manusia yang paling awal tidak tahu apa-apa, sehingga Tuhan harus mulai mengajar manusia dari prinsip-prinsip yang paling dangkal dan dasar untuk bertahan hidup dan peraturan yang diperlukan untuk hidup, menanamkan hal-hal ini dalam hati manusia sedikit demi sedikit, dan memberikan kepada manusia pemahaman bertahap tentang Tuhan, penghargaan serta pemahaman bertahap tentang kepemimpinan Tuhan, dan konsep dasar tentang hubungan antara manusia dan Tuhan, melalui peraturan ini, dan melalui aturan-aturan ini, yang berasal dari firman. Setelah mencapai efek ini, barulah Tuhan kemudian mampu, sedikit demi sedikit, melakukan pekerjaan yang akan Dia lakukan di kemudian hari, dan dengan demikian peraturan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Tuhan selama Zaman Hukum Taurat merupakan landasan bagi pekerjaan-Nya menyelamatkan umat manusia, dan merupakan tahap pertama pekerjaan dalam rencana pengelolaan Tuhan. Meskipun, sebelum pekerjaan Zaman Hukum Taurat, Tuhan telah berbicara kepada Adam, Hawa, dan keturunan mereka, perintah dan ajaran itu tidak sedemikian sistematis atau spesifik seperti yang dikeluarkan satu per satu kepada manusia, dan semua itu tidak dituliskan, juga tidak menjadi peraturan. Itu karena, pada waktu itu, rencana Tuhan belum sampai sejauh itu; hanya ketika Tuhan telah memimpin manusia ke langkah ini, barulah Dia dapat mulai berbicara tentang peraturan-peraturan Zaman Hukum Taurat ini, dan mulai membuat manusia melaksanakannya. Itu adalah proses yang perlu, dan kesudahannya tidak bisa dihindari. Kebiasaan dan peraturan sederhana ini menunjukkan kepada manusia langkah-langkah pekerjaan pengelolaan Tuhan dan hikmat Tuhan yang dinyatakan dalam rencana pengelolaan-Nya. Tuhan tahu apa isi dan sarana yang digunakan untuk memulai, sarana apa digunakan untuk melanjutkan, dan sarana apa digunakan untuk mengakhiri agar Dia bisa mendapatkan sekelompok orang yang menjadi kesaksian bagi-Nya, bisa mendapatkan sekelompok orang yang sepemikiran dengan diri-Nya. Dia tahu apa yang ada di dalam hati manusia, dan tahu apa yang kurang dalam diri manusia, Dia tahu apa yang harus Dia sediakan, dan bagaimana Dia seharusnya memimpin manusia, dan demikian juga Dia tahu apa yang seharusnya dan tidak boleh dilakukan oleh manusia. Manusia seperti wayang: Meskipun dia tidak memahami kehendak Tuhan, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain dipimpin oleh pekerjaan pengelolaan Tuhan, langkah demi langkah, hingga hari ini. Tidak ada kekaburan dalam hati Tuhan tentang apa yang harus dilakukan oleh-Nya; dalam hati-Nya ada rencana yang sangat jelas dan terang, dan Dia melakukan pekerjaan yang Dia Sendiri ingin lakukan menurut langkah-Nya dan rencana-Nya, bergerak dari yang dangkal ke yang mendalam. Meskipun Dia tidak menunjukkan pekerjaan yang akan Dia lakukan di kemudian hari, pekerjaan-Nya yang berikutnya masih terus dilaksanakan dan berkembang tepat sekali sesuai dengan rencana-Nya, yang merupakan perwujudan dari apa yang dimiliki Tuhan dan siapa Tuhan itu, dan yang juga merupakan otoritas Tuhan. Terlepas dari tahap mana dari rencana pengelolaan-Nya yang sedang Dia lakukan, watak-Nya dan hakikat-Nya merepresentasikan diri-Nya sendiri. Ini sungguh benar. Tanpa memandang zaman, atau tahap pekerjaan, orang seperti apa yang Tuhan kasihi, orang macam apa yang Dia benci, watak-Nya dan semua yang Dia miliki dan siapa Tuhan itu tidak akan pernah berubah. Meskipun peraturan dan prinsip yang ditetapkan oleh Tuhan selama pekerjaan Zaman Hukum Taurat ini tampak sangat sederhana dan dangkal bagi orang-orang zaman sekarang, dan meskipun semua itu mudah dimengerti dan dicapai, di dalamnya tetap terdapat hikmat Tuhan, dan tetap terdapat watak Tuhan dan apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Karena dalam peraturan yang tampak sederhana ini tanggung jawab dan kepedulian Tuhan kepada umat manusia dinyatakan, dan hakikat luar biasa dari pikiran-Nya, yang memungkinkan manusia untuk benar-benar menyadari fakta bahwa Tuhan berkuasa atas segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu dikendalikan oleh tangan-Nya. Tidak peduli seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai oleh umat manusia, atau seberapa banyak teori atau misteri yang dipahami olehnya, bagi Tuhan tidak ada satu pun yang mampu menggantikan pembekalan-Nya, dan kepemimpinan-Nya bagi umat manusia; umat manusia selamanya tidak akan dapat dipisahkan dari bimbingan Tuhan dan pekerjaan pribadi Tuhan. Seperti demikianlah hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dan Tuhan. Terlepas dari apakah Tuhan memberimu perintah, atau peraturan, atau memberikan kebenaran bagimu untuk memahami kehendak-Nya, tidak peduli apa yang Dia lakukan, tujuan Tuhan adalah untuk membimbing manusia menuju hari esok yang indah. Firman yang diucapkan oleh Tuhan dan pekerjaan yang dilakukan oleh-Nya, keduanya adalah penyingkapan salah satu aspek hakikat-Nya, dan merupakan penyingkapan salah satu aspek dari watak-Nya dan hikmat-Nya, semua itu merupakan langkah yang harus ada dalam rencana pengelolaan-Nya. Ini tidak boleh diabaikan! Kehendak Tuhan ada dalam apa pun yang Dia lakukan; Tuhan tidak takut pada pernyataan yang salah tempat, dan Dia juga tidak takut pada konsepsi atau pemikiran manusia tentang diri-Nya. Dia hanya melakukan pekerjaan-Nya, dan melanjutkan pengelolaan-Nya, sesuai dengan rencana pengelolaan-Nya, tidak dibatasi oleh orang, materi, atau objek apa pun.

OK, cukup sekian untuk hari ini. Sampai jumpa lain waktu!

9 November 2013

All Bible quotation in this book is translated freely from English Bible.