60. Apakah yang Telah Memperdaya Pemikiranku?

60. Apakah yang Telah Memperdaya Pemikiranku?

Xu Lei Kota Zaozhuang, Provinsi Shandong

Suatu hari aku menerima pemberitahuan dari pemimpin seniorku, yang mengundangku untuk menghadiri pertemuan rekan kerja. Biasanya ini adalah kejadian yang membahagiakan, tetapi segera setelah aku memikirkan pekerjaanku yang sedemikian berantakannya akhir-akhir ini, aku tidak kuasa menahan rasa khawatir. Jika atasanku tahu bahwa aku belum menyelesaikan satu pekerjaan pun, ia pasti harus menangani aku, dan bahkan mengganti aku dengan orang lain. Lalu apa yang akan aku lakukan? Keesokan harinya aku tetap datang ke pertemuan dengan hati yang berat. Saat tiba di sana, aku melihat bahwa atasanku belum datang, tetapi beberapa rekan kerja sudah ada. Aku pun berpikir: "Aku tidak tahu bagaimana keadaan pekerjaan seorang pun dari mereka. Dalam pertemuan terakhir, aku mendengar mereka menceritakan bagaimana mereka hampir menyelesaikan pekerjaan mereka, dan saat ini mereka pasti telah benar-benar menyelesaikan semuanya. Jika mereka telah menyelesaikan semua pekerjaan mereka dan hanya aku yang bekerja dengan begitu buruk, habislah aku." Jadi, aku terkejut saat itu karena pada saat kami membicarakan bersama tentang situasi kerja kami masing-masing, ternyata banyak rekan kerjaku yang berkata bahwa mereka belum menyelesaikan beberapa bagian dari pekerjaan mereka. Mendengar hal ini, hatiku yang sebelumnya begitu berat tiba-tiba terasa jauh lebih ringan. Aku berpikir: "Ternyata belum ada seorang pun yang menyelesaikan pekerjaan mereka, bukan hanya aku. Kalau begitu tidak perlu khawatir. Tidak mungkin kami semua diganti." Sebagian besar perasaan cemasku pun hilang dalam sekejap.

Baru saja aku mulai merasa nyaman dalam keadaan menghibur diri sendiri, satu bagian Persekutuan dari Atas tebersit dalam pikiranku: "Jika seseorang membawa pandangan duniawi masuk ke dalam keluarga Tuhan, semua itu adalah konsepsi semata dan menentang Tuhan. Banyak orang memiliki pandangan yang sama dengan orang-orang tidak percaya tentang berbagai hal. Karena mereka tidak memiliki kebenaran dalam dirinya, begitu mereka tiba di dalam keluarga Tuhan, mereka menggunakan pandangan duniawi untuk memandang pekerjaan keluarga Tuhan, untuk mengomentari perkara-perkara keluarga Tuhan, yang mengakibatkan mereka menghalangi diri sendiri, sehingga mereka selalu lemah dan negatif, tidak mampu mencari kebenaran ataupun membayar harga. Bukankah hal ini diciptakan oleh kebodohan mereka?" (Persekutuan dari Atas). Perkataan ini membuatku berpikir tentang reaksiku beberapa saat yang lalu. Saat berpikir tentang bagaimana aku belum menyelesaikan pekerjaanku, hatiku terasa sangat berat dan aku tidak bisa berhenti cemas. Namun, saat tahu bahwa rekan-rekan kerjaku juga belum menyelesaikan pekerjaan mereka, aku langsung merasa lega, dan berpikir dengan hati nurani yang tenang bahwa bukan hanya aku yang pekerjaannya belum menghasilkan pencapaian apa pun. Jika atasan kami harus menangani kami, berarti semua orang juga harus ditangani. Berhubung banyak di antara kami yang belum menyelesaikan pekerjaan, atasan kami tentu saja tidak akan mengganti kami semua. Bukankah pola pemikiran semacam ini didominasi oleh sudut pandang Iblis, yang berkata "Bukan dosa jika semua orang melakukannya"? Bukankah aku sebenarnya telah menggunakan sudut pandang Iblis untuk mengukur prinsip-prinsip pekerjaan gereja? Aku telah menerapkan sudut pandang logis Iblis pada gereja, menggunakannya untuk menghibur diri—tetapi bukankah melakukan itu aku justru membahayakan diriku sendiri? Aku sesungguhnya begitu buta dan bodoh! Jika mengingat kembali, aku seringkali menerima dominasi sudut pandang Iblis ini untuk menghibur diriku sendiri. Selama beberapa waktu, aku hidup dalam kedagingan tanpa masuk ke dalam kehidupan dan, meskipun khawatir dengan keselamatanku sendiri, saat aku melihat beberapa saudara-saudari yang juga belum masuk ke dalam kebenaran, aku menjadi terbebas dari kecemasan dan berhenti menegur diriku sendiri. Aku berpikir bahwa jika begitu banyak orang belum memasuki kehidupan, Tuhan tidak dapat menyingkirkan kami semua, bukan? Oleh karena itu aku hidup dalam kenikmatan duniawi dengan sikap yang masa bodoh, dan tidak memikul beban yang sesungguhnya untuk hidupku sendiri. Saat aku tidak menulis artikel apa pun untuk waktu yang lama dan memiliki perasaan untuk mengutuk diriku sendiri, aku akan melihat beberapa saudara-saudari yang juga belum menulis apa pun, dan perasaan mengutuk diri sendiri tersebut pun hilang. Aku akan berpikir: tidak masalah kalau aku tidak menulis artikel dan, lagipula, bukan hanya aku yang belum menulis. Saat aku belum melihat hasil apa pun dari pekerjaan penginjilanku, aku pun merasa cemas. Namun, saat aku melihat bahwa pekerjaan penginjilan di bidang lain pun belum menghasilkan, aku akan merasa tenang, dan berpikir bahwa semua orang memang seperti ini, bahwa bukan hanya aku yang belum pernah membawa seorang pun ke gereja. ... Pada saat itu, aku melihat bahwa sudut padang Iblis—"Bukan dosa kalau semua orang melakukannya"—telah berakar sangat dalam di hatiku. Di bawah dominasi sudut pandang ini, aku terus memanjakan diri sendiri saat melakukan tugas-tugasku, tidak berusaha sekeras mungkin dan tidak berupaya memperoleh hasil terbaik. Ini tidak hanya menyebabkan kerugian besar bagi pekerjaan gereja, tetapi juga kehilangan yang sangat besar dalam hidupku. Karena aku telah menerima racun kekeliruan dari Iblis—"Bukan dosa kalau semua orang melakukannya"—aku tidak memikul beban yang sesungguhnya dalam pekerjaanku bagi gereja, selalu puas dengan pekerjaan yang setengah hati dan tidak mencari hasil apa pun; aku telah kehilangan hati nurani dan akal budi yang seharusnya dimiliki oleh ciptaan Tuhan. Karena telah menerima belenggu sudut pandang Iblis yaitu "Bukan dosa kalau semua orang melakukannya," aku selalu hanya bermain-main selama mengikuti Tuhan. Aku sama sekali tidak mempertimbangkan konsekuensi dari caraku beriman kepada Tuhan, aku tidak mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh, tidak peduli ataupun berfokus pada jalan masukku sendiri ke dalam kehidupan; Aku tidak memiliki tujuan, tidak ada arahan dalam hidup. Aku hanya bermain-main dan melakukan sesedikit mungkin untuk bertahan. Baru pada saat itulah, aku melihat bahwa aku telah begitu banyak dirugikan oleh pandangan Iblis yaitu "Bukan dosa kalau semua orang melakukannya," dan telah benar-benar kehilangan hati nurani, akal budi, integritas dan harga diri yang seharusnya dimiliki orang yang normal. Jika dipikirkan baik-baik, selama ini aku hidup di dalam imajinasi dan konsepsiku sendiri sambil memercayai "Bukan dosa kalau semua orang melakukannya," bahwa jika banyak orang yang berbuat dosa, Tuhan akan membiarkan kita lolos dari jaring dan tidak menuntut tanggung jawab dari siapa pun, tanpa pernah berpikir apakah Tuhan benar-benar akan memperlakukan orang-orang dengan cara seperti ini atau tidak. Saat itu, aku serta-merta memikirkan firman Tuhan yang berkata: "Dia yang menentang pekerjaan Tuhan pasti akan dikirim ke neraka; setiap negara yang menentang pekerjaan Tuhan akan dihancurkan; setiap bangsa yang bangkit untuk menentang pekerjaan Tuhan akan dihapuskan dari bumi ini, dan akan lenyap" ("Tuhan Mengendalikan Nasib Seluruh Umat Manusia" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"). Firman Tuhan membuatku gemetar ketakutan, dan aku melihat bahwa watak Tuhan tidak akan mengizinkan siapa pun melakukan pelanggaran dan bahwa Ia tidak akan mendasari keputusan-Nya mengenai apakah Ia akan menghancurkan manusia atau tidak berdasarkan jumlah orang-orang yang berdosa. Jika dipikir lagi, orang-orang di zaman Nuh berdosa dan bejat, menjadi begitu hina sehingga Tuhan menghancurkan semua orang yang hidup pada waktu itu selain dari keluarga Nuh. Penghancuran-Nya atas kota Sodom juga sama seperti ini. Sekarang ini orang-orang di akhir zaman telah berjumlah beberapa miliar jiwa, jauh lebih banyak dari yang hidup di zaman Nuh. Tetapi Tuhan belum juga mengesampingkan hukum-Nya maupun menunjukkan belas kasihan karena ada terlalu banyak orang yang berdosa di akhir zaman; bagi orang-orang ini Tuhan hanya merasakan kebencian, kejijikan dan penolakan, Pada akhirnya, selain dari beberapa orang yang dapat diselamatkan, Tuhan akan benar-benar menghancurkan semua orang yang tersisa. Baru pada saat itulah aku melihat betapa sedikitnya pemahamanku tentang watak Tuhan. Aku tidak mengerti bahwa Tuhan adalah Tuhan yang benar dan kudus yang tidak mengizinkan manusia melakukan pelanggaran, hingga ke taraf aku telah dibuat bingung oleh tipu daya Iblis dan jatuh ke dalam rencananya yang licik. Hari ini, jika bukan karena pencerahan dari Tuhan, aku masih akan hidup dalam dosa tanpa berpikir bahwa itu adalah dosa, pada akhirnya dihukum oleh Tuhan tanpa tahu kenapa aku harus mati—saat itu benar-benar berbahaya!

Aku berterima kasih kepada Tuhan atas pencerahan-Nya yang membuatku terbangun dari tipu daya Iblis dan menyadari bahwa "Bukan dosa kalau semua orang melakukannya" seluruhnya adalah tipu muslihat sesat Iblis. Itu adalah rencana licik Iblis untuk merugikan dan menghancurkan manusia. Terlebih lagi, aku melihat bahwa Tuhan itu benar, bahwa watak Tuhan tidak akan membiarkan pelanggaran apa pun, bahwa Tuhan akan mendasari keputusan akhir mengenai kesudahan manusia pada apakah mereka memiliki kebenaran atau tidak, dan bahwa Ia tidak akan menunjukkan belas kasihan yang besar kepada seseorang yang tidak memiliki kebenaran. Mulai hari ini dan seterusnya, aku ingin terus berupaya mencari kebenaran, berusaha memahami Tuhan, mendasari pandanganku mengenai segala sesuatu pada firman Tuhan, menggunakan firman Tuhan sebagai standar dengan mana aku akan membuat tuntutan yang tegas terhadap diriku sendiri, meninggalkan segala tipu daya dan muslihat Iblis, dan berusaha menjadi seseorang yang hidup dengan bergantung kepada kebenaran.

60. Apakah yang Telah Memperdaya Pemikiranku?