3. Arti dari kemunafikan

3. Arti dari kemunafikan

Firman Tuhan yang Relevan:

Mereka munafik, sehingga segala yang terwujud dan terungkap pada diri mereka adalah palsu, semuanya kepura-puraan—itu bukan wajah asli mereka. Wajah asli mereka tersembunyi di dalam hati mereka; wajah itu tidak terlihat. Jika manusia tidak mengejar kebenaran, jika mereka tidak memahami kebenaran, lalu menjadi apa teori yang telah mereka peroleh? Apakah itu semua menjadi perkataan doktrin yang sering dibicarakan orang? Orang-orang menggunakan apa yang disebut doktrin yang benar ini untuk berpura-pura dan mengemas diri mereka dengan baik. Ke mana pun mereka pergi, hal-hal yang mereka bicarakan, hal-hal yang mereka katakan, dan perilaku lahiriah mereka tampak benar dan baik bagi orang lain. Semuanya sejalan dengan gagasan dan selera manusia. Di mata orang lain, mereka saleh dan rendah hati. Mereka mampu menahan diri dan bersikap toleran, dan mereka dapat mengasihi sesama dan mengasihi Tuhan—tetapi sebenarnya, semua itu palsu; semua itu kepura-puraan dan merupakan cara mereka mengemas diri mereka sendiri. Secara lahiriah, mereka setia kepada Tuhan, tetapi sebenarnya mereka melakukannya agar dilihat orang lain. Ketika tidak ada yang melihat, mereka tidak sedikit pun setia, dan semua yang mereka lakukan asal-asalan. Secara lahiriah, mereka telah meninggalkan keluarga dan karier mereka, mereka bekerja keras dan mengorbankan diri mereka—tetapi sebenarnya mereka diam-diam mendapat keuntungan dari gereja dan mencuri persembahan! Segala yang mereka ungkapkan secara lahiriah, semua perilaku mereka palsu! Inilah yang dimaksud dengan orang Farisi yang munafik. Dari manakah "orang-orang Farisi"—orang-orang ini muncul? Apakah mereka muncul dari antara orang-orang yang tidak percaya? Mereka semua muncul dari antara orang-orang percaya. Mengapa orang-orang percaya ini berubah menjadi mereka? Mungkinkah karena firman Tuhan membuat mereka menjadi seperti itu? Apa alasan utama sehingga mereka berubah menjadi orang-orang seperti itu? Apakah karena mereka telah menempuh jalan yang salah? Mereka telah menggunakan firman Tuhan sebagai alat untuk mempersenjatai diri; mereka mempersenjatai diri dengan firman ini dan memperlakukannya sebagai modal untuk mendapatkan penghasilan, dan untuk mendapatkan sesuatu tanpa usaha. Mereka tidak melakukan apa pun selain mengajarkan doktrin, tetapi mereka tidak pernah menerapkan firman tersebut. Orang macam apa mereka yang terus-menerus mengkhotbahkan kata-kata dan doktrin padahal tidak pernah mengikuti jalan Tuhan? Mereka adalah orang-orang Farisi yang munafik. Perilaku dan perbuatan mereka yang mereka anggap baik, sedikit yang telah mereka berikan dan korbankan sepenuhnya dipaksakan, itu semua adalah sandiwara mereka. Itu semua sepenuhnya palsu; itu semua kepura-puraan. Di dalam hati orang-orang ini tidak ada penghormatan sedikit pun kepada Tuhan, dan mereka bahkan tidak memiliki kepercayaan sejati kepada Tuhan. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang tak beriman. Jika manusia tidak mengejar kebenaran, mereka akan menempuh jalan seperti ini, dan mereka akan menjadi orang Farisi. Bukankah itu menakutkan?

Dikutip dari "Enam Indikator Kemajuan dalam Kehidupan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Di Israel, dahulu "Farisi" adalah semacam gelar. Mengapa sekarang kata ini justru menjadi sebuah cap? Ini karena orang Farisi telah menjadi representasi dari suatu jenis orang. Apa ciri dari jenis orang seperti ini? Mereka mengumandangkan slogan-slogan dan menggunakan bahasa yang muluk-muluk; mereka ahli dalam berpura-pura, dalam menampilkan diri sendiri, dalam menyembunyikan diri mereka yang sesungguhnya, dan mereka berlagak sangat mulia, sangat kudus dan berlaku jujur, sangat adil dan terhormat. Sebagai akibatnya, mereka sama sekali tidak menerapkan kebenaran. Bagaimana mereka bertindak? Mereka membaca kitab suci, mereka berkhotbah, mereka mengajar orang lain untuk berbuat baik, untuk tidak melakukan kejahatan, untuk tidak menentang Tuhan; mereka mengatakan hal-hal yang terdengar menyenangkan dan bersikap baik di depan orang lain, tetapi ketika orang lain membalikkan punggung, mereka mencuri persembahan. Tuhan Yesus berkata tentang mereka "nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan." Ini berarti bahwa semua perilaku mereka tampak baik dari luar—mereka mengumandangkan slogan-slogan secara mencolok, mereka mengucapkan teori-teori yang muluk-muluk, dan perkataan mereka terdengar menyenangkan, tetapi perbuatan mereka kacau dan berantakan, sepenuhnya menentang Tuhan. Perilaku dan penampilan luar mereka semuanya kepura-puraan, semuanya tipu daya; di dalam hatinya, mereka tidak memiliki sedikit pun cinta akan kebenaran, atau akan hal-hal yang positif. Mereka muak akan kebenaran, muak akan segala sesuatu yang berasal dari Tuhan, dan muak akan hal-hal yang positif. Apa yang mereka cintai? Apakah mereka mencintai keadilan dan kebenaran? (Tidak.) Bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa mereka tidak mencintai keadilan dan kebenaran? (Tuhan Yesus menyebarkan Injil kerajaan surga, yang tidak hanya mereka tolak, tetapi mereka juga mengutuknya.) Seandainya kutukan mereka tidak ada, bisakah engkau mengetahui bahwa mereka tidak mencintai keadilan dan kebenaran? Sebelum Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan, apa yang bisa memberitahumu bahwa mereka tidak mencintai keadilan dan kebenaran? Engkau tidak akan bisa mengetahuinya, bukan? Semua perilaku mereka adalah kepura-puraan, dan mereka menggunakan perilaku baik yang pura-pura ini untuk mendapatkan kepercayaan orang lain dengan menipu mereka. Bukankah ini kemunafikan dan kecurangan? Mungkinkah para penipu semacam itu mencintai kebenaran? Apa tujuan tersembunyi dari perilaku baik mereka ini? Sebagian dari tujuan mereka adalah untuk menipu orang lain; sebagian lainnya adalah untuk memperdaya orang lain, untuk memenangkan hati mereka dan dipuja-puja oleh mereka, dan pada akhirnya, untuk menerima upah. Sungguh cerdik tentunya cara mereka, berhasil melakukan tipu daya yang sebesar itu. Lalu, apakah orang-orang semacam itu mencintai keadilan dan kebenaran? Tentu saja tidak. Mereka mencintai status, mereka mencintai ketenaran dan kekayaan, dan mereka berharap menerima upah. Apakah mereka menerapkan tuntunan firman Tuhan bagi manusia? Sama sekali tidak. Mereka tidak hidup dalam firman itu sedikit pun; mereka hanya menyamar dan menampilkan diri mereka sendiri untuk menipu orang dan memenangkan hatinya, untuk menopang status mereka sendiri, untuk menopang reputasi mereka sendiri. Begitu semua hal ini telah terjamin, mereka menggunakannya untuk mendapatkan modal dan sumber penghasilan. Bukankah ini sangat hina? Dapat terlihat dari semua perilaku mereka ini bahwa esensi mereka adalah tidak mencintai kebenaran karena mereka tidak pernah menerapkan kebenaran. Apakah tandanya bahwa mereka tidak menerapkan kebenaran? Inilah tanda yang terbesar: Tuhan Yesus datang untuk melakukan pekerjaan dan semua yang Dia katakan adalah benar, semua yang Dia katakan adalah kebenaran. Bagaimana mereka memperlakukan hal itu? (Mereka tidak menerimanya.) Apakah mereka tidak menerima perkataan Tuhan Yesus karena mereka percaya bahwa perkataan itu salah, ataukah mereka tidak menerimanya meskipun mereka tahu bahwa perkataan itu benar? (Mereka tidak menerimanya meskipun mereka tahu bahwa perkataan itu benar). Apa yang mungkin menjadi penyebabnya? Mereka tidak mencintai kebenaran, dan mereka membenci hal-hal yang positif. Semua yang Tuhan Yesus katakan adalah benar, tanpa kesalahan apa pun, dan meskipun mereka tidak dapat menemukan kesalahan apa pun dalam perkataan Tuhan Yesus yang dapat digunakan untuk melawan Dia, mereka mengutuk Dia, dan kemudian mereka bersekongkol: "Salibkan Dia. Pilihlah antara Dia atau kami." Dengan cara ini, mereka menempatkan diri menentang Tuhan Yesus. Meskipun mereka tidak percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Tuhan, Dia adalah orang baik yang tidak melanggar hukum negara maupun hukum Yahweh[a]; lalu mengapa mereka mengutuk Tuhan Yesus? Mengapa mereka memperlakukan Tuhan Yesus sedemikian rupa? Hal ini bisa terlihat dari betapa keji dan jahatnya orang-orang ini—mereka luar biasa jahat! Wajah jahat yang diperlihatkan orang Farisi tidak mungkin jauh berbeda dari kamuflase kebaikan mereka. Ada banyak orang yang tidak bisa membedakan mana wajah mereka yang asli dan mana yang palsu, tetapi penampakan dan pekerjaan Tuhan Yesus menyingkapkan semuanya. Betapa pintarnya orang-orang Farisi menyamarkan diri, betapa baik tampaknya mereka dari luar—seandainya fakta-fakta itu tidak disingkapkan, tak seorang pun akan mampu melihat diri mereka yang sebenarnya.

Dikutip dari "Bagian Terpenting dari Percaya kepada Tuhan adalah Menerapkan Kebenaran " dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Dalam kata "meniru", bagian pentingnya adalah siapa yang ditiru. Jadi, siapakah yang ditiru para antikristus? Berpura-pura menjadi siapakah mereka? Tentu saja, peniruan mereka adalah demi status dan reputasi. Itu tidak dapat dipisahkan dari hal-hal itu, kalau tidak, mereka tidak akan mungkin melakukan kepura-puraan seperti itu—tidak mungkin mereka bisa melakukan sesuatu yang begitu bodoh. Mengingat perilaku seperti itu dianggap tercela, menjijikkan, dan memuakkan, mengapa mereka tetap melakukannya? Tidak diragukan lagi mereka memiliki tujuan dan motivasi mereka sendiri—ada niat dan motivasi yang terlibat. Jika para antikristus ingin mendapatkan status di benak orang, mereka harus membuat orang-orang ini mengagumi mereka. Dan apa yang membuat orang mengagumi mereka? Selain meniru beberapa perilaku dan ekspresi yang, dalam gagasan orang, dianggap baik, satu aspek lainnya adalah bahwa para antikristus juga meniru perilaku dan citra tertentu yang orang yakini luar biasa dan hebat, untuk membuat orang lain mengagumi mereka. Yang sering dijumpai orang di gereja-gereja adalah beberapa orang yang berpura-pura rohani sehingga orang lain mengira mereka sudah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, dan sangat rohani. Dan bukankah orang menganggap mereka yang rohani sebagai orang yang luar biasa dan hebat? (Ya.) Apa pun jenis atau macam orang yang ditiru oleh para antikristus, itu pasti adalah jenis orang yang dianggap baik, hebat, dan mulia, kalau tidak, mereka tidak akan meniru mereka. Akankah orang-orang mengagumi mereka jika mereka meniru Iblis? Jika mereka meniru penindas, penjahat, preman, atau pelacur, apakah orang akan mengagumi mereka? (Tidak.) Jika mereka berkata bahwa mereka adalah orang Farisi atau Yudas, bukankah orang akan menolak mereka? (Ya.) Orang-orang semacam itu jelas dianggap negatif dan buruk. Para antikristus tidak akan pernah meniru mereka. Jadi, siapakah yang mereka tiru? Mereka meniru orang-orang yang, di benak orang, dianggap hebat, baik, dan luar biasa. Yang ditiru pertama adalah orang-orang di gereja yang telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, yang memiliki pengalaman dan kesaksian rohani, yang telah menerima kasih karunia dan berkat Tuhan, mengalami tanda-tanda dan keajaiban, melihat penglihatan yang hebat, dan yang memiliki beberapa pengalaman unik; ada juga orang yang membual saat berada di sekitar orang lain, yang bisa terus membual selama dua atau tiga jam, atau bahkan lebih lama; ada orang-orang yang cara, metode, dan prinsipnya dalam melakukan segala sesuatu sejalan dengan aturan gereja; dan kemudian ada orang-orang yang tampaknya memiliki iman yang besar kepada Tuhan. Orang-orang ini dikenal sebagai orang yang rohani, dan mereka cukup rohani. Jadi, bagaimana para antikristus meniru orang-orang yang rohani? Mereka hanya melakukan hal-hal yang persis sama sehingga orang melihat mereka sebagai orang yang rohani. Dan ketika mereka melakukan hal-hal ini, apakah itu terjadi secara spontan, dari hati? Tidak. Para antikristus hanya meniru, mengikuti aturan. Dan ketika mereka melakukan hal-hal ini, beberapa di antaranya tampak oleh orang lain seperti perilaku yang benar. Misalnya, mereka cepat berdoa ketika menghadapi masalah, tetapi mereka melakukannya dengan asal-asalan. Sebenarnya, mereka tidak sedang benar-benar mencari dan berdoa; mereka hanya berusaha membuat orang berkata bahwa mereka mengasihi Tuhan, dan sangat menghormati Tuhan, dan bahwa mereka berdoa ketika menghadapi suatu masalah. Terlebih lagi, separah apa pun sakit mereka, mereka tidak pergi mencari perawatan medis pada saat mereka seharusnya mencari perawatan medis atau minum obat pada saat mereka seharusnya minum obat. Orang-orang berkata, "Jika engkau tidak minum obat, penyakitmu bisa bertambah parah. Ada waktu untuk berdoa, dan ada waktu untuk pengobatan. Engkau hanya perlu mengikuti imanmu dan tidak meninggalkan tugasmu." Mereka menjawab, "Tidak apa-apa—aku punya Tuhan, aku tidak takut." Secara lahiriah, mereka berpura-pura tenang dan tidak takut, dan penuh iman, tetapi di dalam hati, mereka sangat ketakutan; ketika sendirian, mereka minum pil demi pil, dan diam-diam pergi ke dokter begitu mereka merasa sedikit sakit. Jika orang mendapati mereka minum obat, dan bertanya apa yang mereka minum, mereka berkata, "Aku hanya minum suplemen kesehatan. Suplemen ini memberiku tenaga, jadi aku tidak memperlambat segala sesuatu saat melaksanakan tugasku." Mereka juga berkata, "Penyakit adalah ujian dari Tuhan. Saat kita hidup di tengah penyakit, kita jatuh sakit; ketika kita hidup di tengah firman Tuhan, penyakitnya hilang. Kita tidak boleh hidup di tengah penyakit—jika kita hidup di tengah firman Tuhan, penyakit ini akan lenyap." Itulah yang sering mereka ajarkan kepada orang-orang secara lahiriah, menggunakan firman Tuhan untuk membantu orang lain. Namun, ketika sesuatu terjadi pada mereka, mereka secara diam-diam berusaha menyelesaikannya dengan cara mereka sendiri. Secara lahiriah, mereka tetap berkata: andalkan Tuhan dalam segala hal, dan segala sesuatu berada di tangan Tuhan. Namun, bukan itu yang sebenarnya mereka lakukan saat sendirian. Mereka tidak memiliki iman sejati. Ketika mereka menghadapi suatu masalah, di depan orang lain mereka berdoa dan mengatakan bahwa mereka tunduk pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, bahwa masalah ini berasal dari Tuhan, dan manusia tidak boleh mengeluh. Namun, sementara itu, di dalam hati mereka berpikir: "Aku sangat setia dan aku bekerja sangat keras melaksanakan tugasku, bagaimana bisa penyakit ini menimpaku? Dan mengapa tidak ada orang lain yang mendapatkannya?" Mereka tidak berani mengeluarkan keluhan sedikit pun, tetapi keraguan akan Tuhan muncul di dalam hati mereka; bagi mereka tampaknya tidak semua yang Tuhan lakukan itu benar. Namun, secara lahiriah, mereka menunjukkan bahwa tidak ada yang salah, bahwa meskipun jatuh sakit, penyakit tersebut tampaknya tetap tidak menahan mereka, mereka masih dapat melaksanakan tugas mereka, mereka tetap setia, dan masih dapat mengorbankan diri mereka untuk Tuhan. Ketika mereka dikatakan sebagai peniru, itu berarti perilaku mereka terbukti terkontaminasi. Iman dan ketaatan orang semacam itu palsu, demikian pula kesetiaan mereka. Tidak ada ketaatan sejati di sini, ataupun iman sejati, apalagi benar-benar bersandar pada Tuhan dan memercayakan masalah ke dalam tangan-Nya. Mereka tidak peduli apa yang diatur oleh Tuhan, atau apa kehendak Tuhan; mereka tidak memeriksa kerusakan mereka sendiri, mereka tidak memeriksa apa masalah di dalam diri mereka, juga tidak menyelesaikan masalah ketika masalah muncul, tetapi secara lahiriah berpura-pura tidak ada yang menahan mereka, bahwa mereka mampu tunduk, dan memiliki iman, dan bisa berdiri teguh. Namun, dalam hati mereka berpikir, "Apakah penyakit ini menimpaku karena Tuhan membenciku? Dan sekarang setelah Dia membenciku, apakah aku seorang pelaku pelayanan? Apakah Tuhan memakaiku untuk memberikan pelayanan? Apakah aku masih memiliki kesudahan? Apakah Tuhan menggunakan ini untuk menyingkapkanku, untuk menghentikanku dari melaksanakan tugas ini?" Itulah yang mereka pikirkan di dalam hati mereka, sementara secara lahiriah berpura-pura menjadi orang yang rohani, berkata, "Maksud baik Tuhan ada di balik ini," dan tidak mengeluh, setiap kali sesuatu terjadi pada mereka. Mereka tidak mengeluh secara terbuka, tetapi hati mereka kacau, dan pikiran mereka diguncang seperti lautan yang diterjang badai; keluhan, dan keraguan serta pertanyaan tentang Tuhan datang sekaligus. Secara lahirah, mereka terus membaca firman Tuhan dan cepat dalam melaksanakan tugas mereka, tetapi di dalam hati, mereka telah meninggalkan tugas mereka. Bukankah ini artinya kepura-puraan?

Dikutip dari "Mereka Melakukan Tugas Mereka Hanya untuk Membedakan Diri Mereka Sendiri ... (Bagian Sepuluh)" dalam "Menyingkapkan Antikristus"

Apa pun keadaannya atau di mana pun mereka melaksanakan tugasnya, para antikristus menunjukkan mereka tidak lemah, memiliki kasih yang terbesar kepada Tuhan, penuh iman kepada Tuhan, tidak pernah menjadi negatif, menyembunyikan dari orang lain sikap dan pandangan mereka yang sebenarnya yang mereka pegang di lubuk hati mereka tentang kebenaran dan tentang Tuhan. Sebenarnya, di lubuk hati mereka, apakah mereka benar-benar percaya bahwa mereka mahakuasa? Apakah mereka benar-benar yakin bahwa mereka tidak memiliki kelemahan? Tidak. Jadi, mengetahui bahwa mereka memiliki kelemahan, pemberontakan, dan watak yang rusak, mengapa mereka berbicara dan bertingkah dengan cara seperti itu di depan orang lain? Tujuan mereka jelas: semata-mata untuk melindungi status mereka di antara dan di hadapan orang lain. Mereka percaya bahwa jika, di depan orang lain, mereka secara terbuka bersikap negatif, secara terbuka mengatakan hal-hal yang lemah, memperlihatkan pemberontakan, dan berbicara tentang mengenal diri mereka sendiri, maka ini adalah sesuatu yang merusak status dan reputasi mereka, itu adalah kerugian. Karena itu, mereka lebih memilih mati daripada mengatakan bahwa mereka lemah dan negatif, dan bahwa mereka tidak sempurna, melainkan hanyalah orang biasa. Mereka berpikir jika mereka mengakui bahwa mereka memiliki watak yang rusak, bahwa mereka adalah orang biasa, makhluk yang kecil dan tak berarti, itu artinya mereka akan kehilangan status mereka di benak orang. Jadi, apa pun yang terjadi, mereka tidak bisa melepaskan status ini, melainkan berusaha keras untuk mengamankannya. Setiap kali mereka menghadapi masalah, mereka tampil ke depan—tetapi setelah melihat bahwa mereka dapat tersingkap, bahwa orang dapat melihat diri mereka yang sebenarnya, mereka segera bersembunyi. Jika ada ruang untuk bermanuver, jika mereka masih memiliki kesempatan untuk memamerkan diri mereka sendiri, berpura-pura bahwa mereka adalah ahli, bahwa mereka mengetahui tentang masalah ini, dan memahaminya, dan dapat menyelesaikan masalah ini, mereka bergegas maju mengambil kesempatan untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain, untuk membuat orang-orang mengetahui bahwa mereka terampil di bidang ini. Jika, dalam suatu situasi, seseorang bertanya kepada mereka apa pemahaman mereka tentang suatu masalah, dan apa pandangan mereka, mereka enggan untuk berbicara, dan mereka membiarkan orang lain berbicara terlebih dahulu. Ada alasan untuk kebungkaman mereka: bukan karena mereka tidak memiliki pandangan, tetapi karena mereka takut jika berbicara secara langsung akan membuat mereka kehilangan muka, atau mereka akan mengatakan sesuatu yang bodoh atau sepele yang tidak akan disetujui oleh siapa pun. Ini salah satu alasannya. Alasan lainnya adalah mereka tidak memiliki pandangan, dan tidak berani berbicara sembarangan. Karena dua alasan ini, atau lebih banyak lagi alasan lainnya, mereka menghindari angkat bicara dan mengungkapkan sudut pandang mereka sendiri, mereka takut memperlihatkan wajah mereka yang sebenarnya, mereka takut menyingkapkan tingkat pertumbuhan dan sudut pandang mereka yang sebenarnya, dan memengaruhi citra yang orang miliki tentang mereka di benak mereka. Jadi, ketika orang mempersekutukan sudut pandang, pemikiran, dan pemahaman mereka, mereka menangkap pernyataan oleh satu orang atau orang tertentu, pernyataan yang lebih cerdas dan dapat dipegang, dan mereka menggunakannya sebagai pernyataan mereka, mereka menyaringnya dan mempersekutukannya kepada semua orang, dan dengan melakukan ini, mereka mendapatkan kedudukan tinggi di benak orang. Ketika saatnya tiba untuk benar-benar mengungkapkan sudut pandang, mereka tidak pernah terbuka tentang keadaan mereka yang sebenarnya kepada orang-orang, atau membiarkan orang mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan, seperti apa kualitas mereka, seperti apa kemanusiaan mereka, seperti apa kemampuan mereka untuk memahami, dan apakah mereka memiliki pengetahuan yang benar akan kebenaran atau tidak. Jadi, pada saat yang sama ketika menyombongkan diri dan berpura-pura menjadi rohani, dan menjadi orang yang sempurna, mereka berusaha keras untuk menutupi wajah mereka yang sesungguhnya dan tingkat pertumbuhan mereka yang sebenarnya. Mereka tidak pernah memperlihatkan kelemahan mereka kepada saudara-saudari, juga tidak pernah mengakui kekurangan dan kelemahan mereka sendiri; sebaliknya, mereka berusaha keras untuk menutupinya. Orang-orang bertanya kepada mereka, "Engkau telah percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, pernahkah engkau memiliki keraguan tentang Tuhan?" Mereka menjawab, "Tidak." Mereka ditanya, "Apakah engkau menangis ketika anggota keluargamu meninggal?" Mereka menjawab, "Tidak, aku tidak meneteskan air mata sedikit pun." Mereka ditanya, "Engkau percaya kepada Tuhan selama bertahun-tahun, engkau telah memberi begitu banyak dan mengorbankan begitu banyak dari dirimu, pernahkah engkau menyesalinya?" Mereka menjawab, "Tidak." Mereka ditanya, "Ketika tak seorang pun yang merawatmu saat engkau sakit, apakah itu membuatmu kesal, apakah engkau merindukan kampung halaman?" Dan mereka menjawab, "Tidak pernah." Mereka menggambarkan diri mereka sebagai orang yang sangat kuat, berkemauan keras, mampu berkorban, mampu mengorbankan diri sendiri—seseorang yang tidak memiliki kekurangan, tanpa kesalahan sedikit pun. Dan bagaimana mereka bereaksi jika engkau memberi tahu mereka apa kesalahan mereka, meminta mereka membuka diri, dan bersekutu dengan mereka sebagai saudara-saudari yang biasa? Mereka berusaha keras untuk membela dan membenarkan diri mereka sendiri, menyelamatkan situasi, melemahkan apa yang kaukatakan, membuatmu menarik pernyataanmu kembali, dan akhirnya membuatmu mengakui bahwa mereka tidak memiliki masalah ini, dan bahwa mereka masih orang yang sempurna dan rohani seperti yang orang pikirkan tentang mereka. Bukankah itu semua adalah kepura-puraan? Siapa pun yang menganggap dirinya sempurna dan mahakuasa hanyalah berpura-pura. Mengapa Kukatakan mereka hanya berpura-pura? Mengapa Aku menyamakan mereka dengan orang yang berpura-pura? Apakah ada orang yang sempurna? Apakah ada orang yang mahakuasa? Apa artinya "mahakuasa"? Apakah itu berarti tak terkalahkan? Tak seorang pun di alam semesta ini yang mahakuasa; hanya Tuhan, dan hanya Tuhanlah yang tak terkalahkan. Jadi, siapakah orang jika mereka mengklaim diri mereka mahakuasa dan tak terkalahkan? Mereka adalah penghulu malaikat, mereka adalah setan, dan mereka adalah para antikristus di antara manusia. Para antikristus berpura-pura bahwa mereka mahakuasa, bahwa mereka sempurna. Apakah para antikristus mengenal diri mereka sendiri? (Tidak.) Mereka tidak mengenal diri mereka sendiri, jadi dapatkah mereka bersekutu tentang mengenal diri mereka sendiri? (Beberapa orang munafik melakukannya.) Benar; orang-orang ini pura-pura bersekutu tentang mengenal diri mereka sendiri. Jadi, apa perbedaan antara mereka yang bersekutu tentang mengenal diri sendiri dengan mereka yang benar-benar mengenal dirinya sendiri? (Orang munafik bersekutu tentang mengenal diri mereka sendiri untuk membuat orang lain mengagumi mereka, untuk menunjukkan sisi baik mereka. Orang-orang yang benar-benar mengenal diri mereka sendiri mempersekutukan dan membedah watak rusak mereka, mendapatkan pengenalan sejati tentang diri mereka sendiri, dan mulai menunjukkan penyesalan tertentu melalui firman Tuhan.) Ada perbedaan. Ketika para antikristus berbicara tentang mengenal diri mereka sendiri, mereka menjelaskan dan membenarkan diri mereka sendiri dengan menggunakan hal-hal tentang mereka yang diketahui dan dilihat semua orang sehingga orang-orang berpikir bahwa mereka benar, dan mengagumi mereka, serta berpikir bahwa mereka mengenal diri mereka sendiri bahkan ketika tidak banyak yang salah dengan mereka, dan tetap dapat datang ke hadapan Tuhan untuk mengakui kesalahan mereka dan bertobat. Apa tujuan mereka? Untuk menipu orang. Mereka sebenarnya sama sekali tidak membedah watak rusak mereka supaya orang dapat belajar dari mereka. Apa akibatnya jika mereka menggunakan pengenalan diri sendiri untuk membuat orang mengagumi mereka? Mereka menipu orang. Bagaimana ini bisa disebut mengenal diri sendiri? Ini menipu orang, menggunakan perkataan dan penerapan mengenal diri sendiri untuk menipu orang dan membuat orang lain mengagumi mereka.

Dikutip dari "Mereka Melakukan Tugas Mereka Hanya untuk Membedakan Diri Mereka Sendiri ... (Bagian Sepuluh)" dalam "Menyingkapkan Antikristus"

Tidak ada apa pun yang para antikristus lebih ahli lakukan selain menunjukkan perilaku baik dan mengucapkan perkataan baik tertentu, serta berpegang teguh pada aturan tertentu; inilah keahlian mereka. Dan keahlian ini adalah sesuatu yang ada di dalam naluri mereka, dengan kata lain, itulah esensi mereka. Hal-hal yang dapat mereka lakukan dengan baik bukanlah mengejar dan merindukan hal-hal positif yang ada di lubuk hati manusia, tetapi mengejar dan merindukan hal-hal yang hanya tampak baik dan benar di luarnya; esensi dan watak mereka atau apa yang terjadi di lubuk hati mereka, justru kebalikan dari perilaku lahiriah mereka. Sebagai contoh, ada beberapa antikristus yang dalam hal berbicara dan berinteraksi dengan orang lain sepertinya baik dan rendah hati, tidak pernah mengatakan hal-hal yang menyakitkan, selalu berusaha untuk menjaga martabat orang lain, tidak membeberkan kekurangan orang lain ataupun mengkritik atau mengutuk mereka secara sembarangan, dan ketika orang menjadi putus asa dan lemah, mereka mengulurkan tangan untuk membantu orang-orang itu tepat pada waktunya. Mereka memberi kesan sebagai orang yang bersikap hangat dan ramah, orang yang baik. Ketika orang-orang berada dalam kesulitan, mereka terkadang membantu dengan kata-kata, dan terkadang juga memberikan sedikit kata-kata yang menguatkan; bahkan ada kalanya mereka datang untuk membantu dengan menyumbangkan sejumlah uang atau barang. Dilihat dari luar, apakah perilaku seperti itu baik? Di benak kebanyakan orang, ini adalah jenis orang yang dengannya mereka ingin berhubungan dan bergaul; orang-orang semacam itu tidak akan menjadi ancaman atau gangguan apa pun bagi orang lain, dan bahkan mungkin dapat memberi mereka bantuan—bantuan materi atau psikis, atau bahkan bantuan yang bersifat doktrin dengan membagikan tentang jalan masuk kehidupan, dan sebagainya. Secara lahiriah, orang-orang semacam itu tidak melakukan hal yang buruk dan mereka tidak mengganggu orang lain. Mereka sepertinya membawa keharmonisan yang luar biasa di kelompok mana pun mereka berada; di bawah arahan dan perantaraan mereka, semua orang tampak bahagia, orang-orang bergaul dengan baik, tidak ada pertengkaran atau perselisihan, dan mereka menikmati hubungan yang sangat baik satu sama lain. Ketika para antikristus berada di sana, semua orang berpikir betapa baiknya mereka bergaul satu sama lain, betapa dekatnya mereka. Ketika para antikristus pergi, beberapa orang mulai berselisih satu sama lain saat mereka berkumpul, saling mengucilkan, serta menjadi iri hati dan suka bertengkar; tetapi begitu antikristus datang ke tengah-tengah mereka untuk menengahi, semua orang berhenti bertengkar. Para antikristus sepertinya mahir dalam pekerjaan mereka, tetapi ada satu hal yang dengan jelas menunjukkan apa sebenarnya yang mereka sebut "pekerjaan". Di bawah bimbingan dan kepemimpinan mereka, orang-orang telah belajar bagaimana bersosialisasi, bagaimana bermulut manis dan menyanjung orang lain, bagaimana mengatakan hal-hal yang baik di depan mereka, bagaimana untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya dan tidak menyakiti perasaan orang. Mereka telah mengubah gereja menjadi apa? Mereka telah mengubahnya menjadi kelompok sosial. Ketika para antikristus telah memimpin saudara-saudari ke jalan ini, mereka pikir mereka layak mendapat pujian besar, bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang benar-benar berjasa bagi saudara-saudari, perbuatan yang sangat penting, dan telah sangat membantu saudara-saudari. Mereka sering kali mengajari saudara-saudari untuk bersikap rendah hati, sopan dan elegan dalam perkataan mereka, mengajari bagaimana postur tubuh yang baik ketika sedang duduk atau berdiri, ke mana mengarahkan pandangan mereka ketika sedang berbicara, dan bagaimana seharusnya mereka mengenakan pakaian mereka. Yang sering mereka ajarkan kepada saudara-saudari bukanlah bagaimana memahami kebenaran, atau bagaimana memasuki kebenaran kenyataan. Sebaliknya, para antikristus mengajari mereka cara mengikuti aturan dan berperilaku baik. Di bawah ajaran mereka, interaksi antara orang-orang tidak didasarkan pada kebenaran, atau kebenaran prinsip, tetapi mengandalkan falsafah antarpribadi sebagai orang yang baik. Secara lahiriah, tak seorang pun dari para antikristus yang menyakiti perasaan siapa pun, tak seorang pun dari mereka yang menyinggung kekurangan siapa pun. Namun, tak seorang pun dari mereka yang pernah memberi tahu siapa pun apa yang sebenarnya sedang mereka pikirkan, mereka tidak membuka hati mereka untuk mempersekutukan kerusakan dan ketidaktaatan mereka sendiri, juga tidak mempersekutukan kekurangan dan pelanggaran mereka sendiri; sebaliknya, di luarnya, mereka mengoceh tentang siapa yang telah menderita dan membayar harganya, siapa yang telah setia menjalankan tugasnya, siapa yang bisa membawa manfaat bagi saudara-saudari, siapa yang memberikan kontribusi besar di rumah Tuhan, siapa yang telah dipenjara dan dijatuhi hukuman penjara—inilah hal-hal yang mereka bicarakan. Para antikristus tidak hanya menggunakan perilaku yang baik—kerendahhatian, kesabaran, toleransi, membantu orang dalam segala hal di luarnya—untuk mengemas dan menyamarkan diri mereka, tetapi pada saat yang sama, mereka juga akan berusaha untuk memberikan contoh pribadi yang menulari orang lain dengan perilaku baik ini dan menyebabkan mereka menirunya. Tujuan di balik perilaku yang baik ini tidak lain adalah untuk membuat orang memperhatikan diri mereka—di mana, ketika kebanyakan orang di dalam gereja sedang membicarakan watak rusak mereka sendiri, dan ketika seseorang di antara saudara-saudari mengenali bahwa orang lain memiliki watak yang rusak dan mampu menanganinya, hanya para antikristus yang sepertinya rendah hati dan sabar, hanya mereka yang sepertinya toleran terhadap semua orang dan tidak menangani atau memangkas siapa pun, atau menyingkapkan kekurangan siapa pun, serta hidup rukun dengan semua orang—hanya merekalah yang sepertinya orang yang baik di dalam gereja. Inilah salah satu jenis perilaku palsu yang ditunjukkan para antikristus.

Dikutip dari "Mereka Melakukan Tugas Mereka Hanya untuk Membedakan Diri Mereka Sendiri ... (Bagian Sepuluh)" dalam "Menyingkapkan Antikristus"

Sebagian orang hanya membekali diri mereka sendiri dengan kebenaran tertentu untuk keadaan darurat atau untuk mengabaikan diri mereka sendiri dan membantu orang lain, dan bukan untuk memecahkan masalah mereka sendiri; kita menyebut mereka "orang-orang yang tidak mementingkan diri sendiri." Mereka menganggap orang lain sebagai boneka kebenaran dan diri mereka sendiri sebagai dalangnya, mereka mengajari orang lain untuk berpegang teguh pada kebenaran dan tidak bersikap pasif, sementara mereka sendiri tetap menjadi penonton di pinggir lapangan. Orang macam apakah mereka itu? Mereka memperlengkapi diri dengan beberapa firman kebenaran tetapi hanya memanfaatkannya untuk menceramahi orang lain, sementara mereka sendiri tidak melakukan apa pun untuk menghindarkan diri mereka menemui kehancuran mereka sendiri. Betapa menyedihkan! Jika kata-kata mereka dapat membantu orang lain, lalu mengapa kata-kata itu tidak dapat membantu diri mereka sendiri? Kita harus melabeli mereka sebagai orang-orang munafik yang tidak memiliki realitas. Mereka menyampaikan kata-kata kebenaran kepada orang lain dan meminta orang lain untuk menerapkannya, sementara mereka sendiri tidak berusaha untuk menerapkannya. Bukankah mereka itu hina? Mereka sendiri jelas-jelas tidak dapat melakukannya, tetapi memaksa orang lain untuk menerapkan kata-kata kebenaran tersebut—betapa kejamnya cara seperti ini! Mereka tidak menggunakan kenyataan untuk membantu orang lain; mereka tidak menggunakan kasih untuk membekali orang lain. Mereka hanya menipu dan merusak orang. Jika ini terus berlanjut, yaitu setiap orang menyampaikan kata-kata kebenaran kepada orang berikutnya, maka, tidakkah semua orang pada akhirnya hanya akan mengucapkan kata-kata kebenaran tanpa mereka sendiri mampu menerapkan kebenaran tersebut? Bagaimana orang-orang seperti itu bisa berubah? Mereka tidak mengenali masalah mereka sendiri sama sekali; bagaimana bisa ada jalan untuk maju bagi mereka?

Dikutip dari "Mereka yang Mengasihi Kebenaran Memiliki Jalan untuk Maju" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Sebagian orang memiliki kecenderungan untuk menarik perhatian kepada diri mereka sendiri. Di hadapan saudara-saudarinya, mereka mungkin berkata mereka berutang kepada Tuhan, tetapi di belakangnya, mereka tidak melakukan kebenaran dan bertindak yang sama sekali berbeda. Bukankah ini adalah orang Farisi yang agamawi? Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan dan memiliki kebenaran adalah orang yang setia kepada Tuhan, tetapi secara lahiriah tidak memamerkan diri seperti itu. Orang semacam itu bersedia melakukan kebenaran saat perkara-perkara muncul, dan tidak berbicara atau bertindak dengan cara yang bertentangan dengan hati nuraninya. Orang semacam itu menunjukkan hikmat saat masalah-masalah muncul, dan berprinsip dalam perbuatannya apa pun keadaannya. Orang semacam ini adalah orang dapat memberikan pelayanan sejati. Ada sebagian orang yang sering kali hanya sekadar di bibir saja tentang berutangnya mereka kepada Tuhan; mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan dahi berkerut penuh kekhawatiran, berperilaku seolah-olah engkau lebih baik dari orang lain, dan berpura-pura terlihat menyedihkan. Betapa hinanya! Jika engkau bertanya kepada mereka: "Dapatkah engkau memberitahuku tentang bagaimana engkau berutang kepada Tuhan?" maka mereka tidak akan dapat berkata-kata. Jika engkau setia kepada Tuhan, janganlah membicarakannya secara terbuka; sebaliknya, tunjukkanlah kasihmu kepada Tuhan dengan penerapan nyata, dan berdoalah kepada-Nya dengan hati yang tulus. Mereka yang berurusan dengan Tuhan hanya secara verbal dan acuh tak acuh, semuanya adalah orang munafik! Sebagian orang berbicara tentang berutang kepada Tuhan setiap kali mereka berdoa, dan mulai menangis setiap kali mereka berdoa, bahkan tanpa digerakkan Roh Kudus. Orang-orang semacam ini dikuasai oleh ritual dan gagasan keagamaan; mereka hidup seturut ritual dan gagasan tersebut, selalu percaya bahwa tindakan tersebut menyenangkan Tuhan dan bahwa Dia menyukai kesalehan yang dangkal atau air mata kesedihan. Kebaikan apa yang dapat muncul dari orang-orang absurd semacam itu? Untuk menunjukkan kerendahan hati, sebagian orang berpura-pura ramah saat berbicara di hadapan orang lain. Sebagian orang dengan sengaja merendahkan diri dan melayani di hadapan orang lain, bersikap seperti seekor domba tanpa kekuatan sedikit pun. Apakah ini sikap yang pantas dimiliki warga kerajaan? Warga kerajaan seharusnya penuh semangat dan bebas, polos dan terbuka, jujur dan menyenangkan, serta hidup dalam keadaan bebas. Mereka seharusnya memiliki integritas dan martabat serta mampu menjadi kesaksian ke mana pun mereka pergi; orang-orang semacam itu dikasihi baik oleh Tuhan maupun manusia. Mereka yang masih pemula dalam iman memiliki terlalu banyak penerapan lahiriah; mereka harus terlebih dahulu menjalani masa penanganan dan peremukan. Orang-orang yang memiliki iman kepada Tuhan jauh di lubuk hati mereka, secara lahiriah tidak dapat dibedakan dari orang lain, tetapi tindakan dan perbuatan mereka terpuji. Hanya orang-orang semacam itulah yang bisa dianggap hidup dalam firman Tuhan. Jika engkau mengkhotbahkan Injil setiap hari kepada berbagai orang dalam upaya untuk membawa mereka kepada keselamatan, tetapi pada akhirnya masih hidup seturut aturan dan doktrin, maka engkau tidak dapat membawa kemuliaan bagi Tuhan. Orang-orang semacam itu adalah para pemuka agama, sekaligus orang munafik.

Setiap kali orang-orang agamawi semacam itu berkumpul, mereka mungkin bertanya: "Saudari, bagaimana kabarmu belakangan ini?" Dia mungkin menjawab: "Aku merasa berutang kepada Tuhan, dan aku tidak mampu memenuhi kehendak-Nya." Yang lain mungkin berkata: "Aku juga merasa berutang kepada Tuhan dan tidak mampu memuaskan-Nya." Beberapa kalimat dan perkataan ini saja mengungkapkan hal yang keji jauh di lubuk hati mereka; perkataan seperti itu sangat memuakkan dan sungguh menjijikkan. Natur orang-orang semacam itu bertentangan dengan Tuhan. Mereka yang berfokus pada realitas menyampaikan apa pun yang ada di dalam pikiran mereka, dan membuka hati mereka dalam persekutuan. Mereka tidak melakukan satu pun pengamalan yang palsu, tidak mempertunjukkan kesopanan atau basa-basi kosong seperti itu. Mereka selalu bersikap lugas, dan tidak menuruti aturan-aturan duniawi. Beberapa orang memiliki kecenderungan mempertunjukkan penampilan lahiriah, bahkan sampai pada titik yang sama sekali tidak masuk akal. Saat seseorang bernyanyi, mereka mulai menari, bahkan tanpa menyadari bahwa nasi dalam periuk mereka sudah gosong. Orang-orang semacam itu tidaklah saleh ataupun terhormat, dan mereka terlalu sembrono. Semua ini adalah perwujudan dari kurangnya realitas! Ketika beberapa orang mempersekutukan masalah kehidupan rohani, meskipun mereka tidak berbicara tentang berutang apa pun kepada Tuhan, mereka memelihara kasih yang sejati kepada-Nya jauh di lubuk hati. Perasaan berutangmu kepada Tuhan tidak ada hubunganya dengan orang lain; engkau berutang kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Untuk apa engkau terus-menerus membicarakan hal ini dengan orang lain? Yang harus kauanggap penting adalah masuk ke dalam realitas, bukan semangat atau tampilan lahiriah apa pun.

Apa yang direpresentasikan oleh perbuatan baik manusia yang dangkal? Semua itu merepresentasikan daging, dan bahkan penerapan lahiriah yang terbaik pun tidak merepresentasikan kehidupan; itu hanya menunjukkan temperamen pribadimu sendiri. Penerapan lahiriah manusia tidak mampu memenuhi keinginan Tuhan. Engkau terus-menerus berbicara tentang berutang kepada Tuhan, tetapi engkau tidak dapat membekali kehidupan orang lain atau menginspirasi mereka untuk mengasihi Tuhan. Apakah kauyakin bahwa tindakanmu itu akan memuaskan Tuhan? Engkau merasa tindakanmu sejalan dengan kehendak Tuhan, dan bahwa tindakanmu itu berasal dari roh, tetapi sebenarnya, semua tindakan itu konyol! Engkau percaya bahwa apa yang menyenangkanmu dan apa yang bersedia kaulakukan adalah hal-hal yang Tuhan sukai. Dapatkah kesukaanmu merepresentasikan Tuhan? Dapatkah karakter seseorang merepresentasikan Tuhan? Apa yang menyenangkanmu justru merupakan hal yang tidak disukai Tuhan, dan kebiasaanmu adalah hal-hal yang Tuhan benci dan tolak. Jika engkau merasa berutang, pergi dan berdoalah di hadapan Tuhan; tidak perlu membicarakannya kepada orang lain. Jika engkau tidak berdoa di hadapan Tuhan, dan malah terus-menerus menjadikan dirimu pusat perhatian di hadapan orang lain, bisakah ini memuaskan kehendak Tuhan? Jika tindakan-tindakanmu selalu ada dalam tampilan yang kelihatan saja, ini berarti engkau adalah orang yang sangat sombong. Sikap Manusia macam apakah yang hanya melakukan perbuatan baik di permukaan saja dan tidak memiliki realitas? Orang semacam itu hanyalah orang Farisi dan pemuka agama yang munafik! Jika engkau semua tidak melepaskan penerapan lahiriahmu dan tidak mampu membuat perubahan, unsur-unsur kemunafikan di dalam dirimu akan semakin bertumbuh. Semakin besar unsur-unsur kemunafikanmu, semakin besar penentangan yang ada terhadap Tuhan. Pada akhirnya, orang-orang semacam itu pasti akan disingkirkan!

Dikutip dari "Dalam Iman, Orang Harus Berfokus pada Realitas—Terlibat dalam Ritual Keagamaan Bukanlah Iman" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Catatan kaki:

a. Teks aslinya tidak mengandung kata "Yahweh".

3. Arti dari kemunafikan