49. Inilah yang Dimaksud dengan Melakukan Kebenaran

49. Inilah yang Dimaksud dengan Melakukan Kebenaran

Saudari Fan Xing Kota Zhumadian, Provinsi Henan

Di masa lalu, aku dipasangkan dengan seorang saudari untuk mengerjakan beberapa tugas. Karena aku saat itu congkak dan sombong dan tidak mencari kebenaran, aku memiliki beberapa prasangka terhadap saudari tersebut yang selalu kupendam dalam hatiku dan tidak pernah kusampaikan kepadanya secara terbuka. Saat kami berpisah, aku belum memasuki kebenaran tentang hubungan kerja yang harmonis. Gereja kemudian mengatur agar aku bekerja dengan saudari lain dan aku pun berjanji kepada Tuhan: mulai sekarang, aku tidak akan menempuh jalan kegagalan. Aku telah belajar dari kesalahan, jadi kali ini aku pasti akan berkomunikasi secara lebih terbuka dengan saudari ini dan mencapai hubungan kerja yang harmonis.

Setiap kali ada konflik atau kesenjangan di antara kami saat melaksanakan tugas bersama, aku akan mengambil inisiatif untuk berkomunikasi dengannya dan menjelaskan perasaanku. Aku akan bertanya kepadanya mengenai aspek mana yang tidak kujalankan dengan benar. Saudari tersebut lalu akan berkata bahwa aku congkak dan sombong dan selalu menolak sudut pandangnya dalam berkomunikasi. Terkadang ia berkata bahwa aku menunjukkan kondisinya dan melabelinya dengan tidak adil, dan bahwa dalam pertemuan, akulah yang membuat semua keputusan tentang pembacaan firman Tuhan. Aku mengangguk setuju dengan semua yang dikatakan oleh saudari tersebut tentang diriku. Aku pun berpikir: "Karena kau pikir aku ini congkak, aku akan berbicara dengan lebih rendah hati mulai sekarang dan lebih berhati-hati untuk berbicara dengan bijaksana dan diplomatis. Jika aku menemukan masalah apa pun yang sedang kau hadapi, aku akan bersikap seolah-olah masalah itu tidak penting saat kau menyebutkannya. Jika kau tidak mengakuinya, aku tidak akan berbicara tentang hal itu. Selama persekutuan, aku akan makan dan minum apa pun yang kau minta untuk kumakan dan kuminum dan aku akan mendengarkan segala sesuatu yang kaukatakan. Bukankah ini akan menyelesaikan setiap masalah? Maka kau tidak akan berkata bahwa aku tidak bisa bekerja sama dengan siapa pun karena kecongkakanku." Setelah itu, aku pun mulai menerapkan cara tersebut. Sebelum berbicara, aku akan berpikir bagaimana agar aku tidak meniadakan gagasan saudari tersebut. Saat sudut pandang kami tidak sejalan, aku akan menghormati sudut pandangnya dan melaksanakan gagasannya. Saat aku melihat saudari tersebut melakukan sesuatu dengan cara yang salah, aku tidak akan menjelaskannya hal itu kepadanya. Tetapi setelah bersikap seperti ini selama beberapa waktu, aku menyadari bahwa ideologiku "meninggalkan daging dan melakukan kebenaran" sama sekali belum mengubah hubungan kami. Sebaliknya hal itu menguatkan prasangka yang ia miliki terhadapku. Saat melihat hasilnya, aku merasa diperlakukan tidak adil. Kupikir: "Aku telah berupaya sebaik mungkin untuk melakukan kebenaran, mengapa tidak ada hasilnya? Saudari ini sulit akur denganku. Ia tidak memiliki kepekaan sedikit pun." Oleh sebab itulah, aku kemudian tenggelam dalam perasaan negatif dan hatiku menjadi sangat pedih.

Suatu hari, seorang pemimpin datang kepada kami untuk memeriksa pekerjaan kami dan bertanya mengenai situasi kami selama jangka waktu itu. Aku pun mengungkapkan situasiku. Setelah mendengarkan, pemimpinku berkata: "Metodemu ini bukanlah melakukan kebenaran. Hatimu tidaklah murni. Engkau hanya melakukan ini untuk tujuanmu semata dan tidak bertindak sesuai dengan kebenaran." Setelah itu kami membaca dua bagian firman Tuhan. Tuhan berkata: "Secara lahiriah, sepertinya engkau sedang melakukan kebenaran, tetapi kenyataannya, natur dari tindakanmu itu tidak menunjukkan bahwa engkau sedang melakukan kebenaran. Ada banyak orang yang, setelah mereka menunjukkan perilaku lahiriah tertentu, menganggap, 'Bukankah aku sedang memenuhi tugasku? Bukankah aku telah meninggalkan keluarga dan pekerjaanku? Bukankah aku sedang melakukan kebenaran dengan memenuhi tugasku?' Namun Tuhan tidak mengakui bahwa engkau sedang melakukan kebenaran. Semua orang yang tindakannya dinodai oleh motif dan tujuan pribadi tidak sedang melakukan kebenaran. Sebenarnya, perilaku semacam ini mungkin akan dikutuk oleh Tuhan; itu tidak akan dipuji atau diingat oleh-Nya. Membedah ini lebih jauh, engkau sedang melakukan kejahatan dan perilakumu bertentangan dengan Tuhan. Secara lahiriah, hal-hal yang sedang engkau lakukan tampaknya sesuai dengan kebenaran: engkau tidak sedang mengacaukan atau mengganggu apa pun dan engkau belum melakukan kerusakan yang nyata atau melanggar kebenaran apa pun. Itu tampaknya logis dan masuk akal, tetapi esensi dari tindakanmu berkaitan dengan melakukan kejahatan dan menentang Tuhan. Oleh karena itu, engkau harus menentukan apakah telah terjadi perubahan dalam watakmu dan apakah engkau sedang melakukan kebenaran dengan melihat niat di balik tindakanmu dalam terang firman Tuhan. Itu tidak ditentukan oleh kata-kata atau pendapat manusia. Sebaliknya, itu tergantung kepada Tuhan yang berkata apakah engkau sedang menyelaraskan diri dengan kehendak-Nya atau tidak, apakah tindakanmu memiliki realitas kebenaran atau tidak, dan apakah tindakanmu memenuhi tuntutan dan standar-Nya atau tidak. Hanya dengan mengukur dirimu sendiri terhadap tuntuan Tuhan, barulah itu akurat" ("Apa yang Harus Diketahui Manusia tentang Perubahan Watak" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). "Gagasan manusia biasanya terlihat baik dan benar bagi manusia dan tampaknya seakan-akan tidak terlalu melanggar kebenaran. Manusia merasa bahwa melakukan hal-hal dengan cara sedemikian rupa berarti melakukan kebenaran; mereka merasa bahwa melakukan berbagai hal dengan cara tersebut berarti tunduk kepada Tuhan. Sebenarnya, mereka tidak benar-benar mencari Tuhan atau berdoa kepada Tuhan tentangnya; mereka tidak berusaha melakukannya dengan baik, sesuai dengan tuntutan Tuhan, demi memuaskan kehendak-Nya. Mereka tidak memiliki keadaan sejati ini; mereka tidak memiliki kerinduan seperti itu. Inilah kesalahan terbesar yang manusia lakukan dalam pengamalan mereka. Engkau percaya kepada Tuhan, tetapi engkau tidak menempatkan Tuhan dalam hatimu. Bagaimana bisa ini tidak disebut dosa? Bukankah engkau menipu diri sendiri? Apa dampak yang engkau akan tuai jika terus percaya dengan cara seperti ini? Dan lagi, bagaimana mungkin makna iman bisa diwujudkan?" ("Mencari Kehendak Tuhan dan Melakukan Kebenaran Sebisa Mungkin" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Aku berusaha memahami firman Tuhan dan membandingkannya dengan situasiku yang kuanggap sebagai "melakukan kebenaran". Hatiku pun menjadi terang. Jadi, caraku melakukan berbagai hal tidaklah dimaksudkan untuk memuaskan Tuhan, melainkan untuk melindungi martabatku sendiri yang sia-sia. Aku takut pemimpin akan berkata bahwa naturku itu bercela, bahwa aku tidak mencari kebenaran, dan bahwa aku sulit bekerjasama dengan siapa pun. Selain itu, aku berpikir bahwa itu adalah dalih untuk mempermudah hubunganku dengan saudari itu dan menghindari rasa malu dan sakit hati yang dihasilkan oleh konflik tersebut. Kukira hal tersebut akan memperbaiki citra diriku di benak orang-orang dan memungkinkan mereka untuk melihat bahwa aku telah berubah. Dapat dilihat bahwa tindakanku yang disebut "melakukan kebenaran" itu hanyalah dilakukan untuk tujuanku sendiri. Semuanya itu dilakukan di depan orang lain dan tidak didasari oleh keinginan untuk memuaskan Tuhan. Aku tidak membenci diriku sendiri ataupun dengan tulus meninggalkan daging karena aku tidak menyadari naturku yang congkak dan sombong. Saat merenungkan kerjasamaku dengan saudari tersebut, oleh karena aku tidak menyadari naturku yang angkuh dan sombong, dan oleh karena aku meninggikan diriku sendiri dan selalu merasa lebih baik dari orang lain, aku secara tidak sadar selalu berdiri di atas tumpuan dan merendahkan orang lain saat berbicara. Saat menangani pelbagai hal, aku senang menjadi penanggung jawab; aku melakukan hal-hal dengan caraku sendiri dan tidak pernah menanyakan gagasan orang lain. Saat saudari tersebut mengetengahkan masalah-masalah yang aku hadapi, aku tidak mencari kebenaran mengenainya untuk menganalisis dan memahami hakikat dari naturku. Terlebih lagi, aku tidak mencari tahu bagaimana seharusnya aku melakukannya sesuai dengan tuntutan Tuhan dan sesuai dengan kebenaran. Aku hanya mengubah beberapa tindakan yang tampak dari luar, dan mengira bahwa aku telah berhenti melakukan kesalahan, bahwa aku melakukan kebenaran. Pada kenyataannya, semua yang aku lakukan hanyalah kebenaran berdasarkan gagasanku sendiri. Semua itu adalah tindakan yang tampak dari luar dan sama sekali tidak berkaitan dengan firman Tuhan. Tuhan tidak akan mengakui bahwa aku sedang melakukan kebenaran. Karena aku tidak berlaku sesuai dengan tuntutan Tuhan dan sesuai dengan kebenaran, dan semua yang kulakukan adalah untuk memuaskan keinginan pribadiku dan mencapai tujuanku sendiri. Oleh karena itu, tindakanku itu jahat di mata Tuhan; tindakanku itu melawan Tuhan.

Setelah menyadari hal ini, aku dengan sadar menggabungkan firman Tuhan untuk memahami naturku sendiri yang rusak dalam hidup. Saat aku mengungkapkan kerusakanku atau saat aku sadar bahwa situasiku tidak benar, aku secara terbuka mengungkapkan posisiku dan menganalisisya serta mencari sumbernya sesuai dengan firman Tuhan. Saat melakukan hal ini, ucapan dan tindakanku melembut secara alamiah, dan aku tahu posisi yang harus kuambil. Aku menjadi hormat kepada orang lain dan mengalah dengan sabar. Meninggalkan daging menjadi jauh lebih mudah dan kami juga dapat berkomunikasi dari hati ke hati. Ikatan di antara kami menjadi semakin harmonis dibandingkan sebelumnya.

Melalui pengalaman ini, aku menjadi paham bahwa melakukan kebenaran harus didasari oleh firman Tuhan dan dibangun di atas prinsip kebenaran. Jika seseorang meninggalkan firman Tuhan, maka segala sesuatunya menjadi tindakan yang hanya tampak dari luar, yaitu melakukan kebenaran berdasarkan gagasan mereka sendiri. Bahkan jika aku telah melakukan hal-hal dengan benar dan baik, tetap saja itu bukan melakukan kebenaran dan terlebih lagi tidak akan mengubah watak hidupku. Mulai sekarang dan seterusnya, apa pun yang kulakukan, aku ingin firman Tuhan menjadi prinsip tindakanku dan aku ingin melakukan firman Tuhan agar perilakuku sesuai dengan kebenaran dan kehendak Tuhan serta memuaskan Tuhan.

49. Inilah yang Dimaksud dengan Melakukan Kebenaran