26. Mengapa Melibatkan Tipu Daya Saat Melayani Tuhan?

26. Mengapa Melibatkan Tipu Daya Saat Melayani Tuhan?

Hu Qing Kota Suzhou, Provinsi Anhui

Saat saya melihat Firman Tuhan berkata: "Mereka yang melayani sebagai pemimpin ingin memiliki kepandaian yang lebih besar, jauh mengatasi semua orang lain, menemukan trik baru sehingga Tuhan bisa melihat betapa cakapnya mereka. ... Mereka selalu ingin pamer; bukankah ini penyingkapan dari sifat arogan?" ("Tanpa Kebenaran Sangatlah Mudah untuk Menyinggung Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"), Saya berpikir dalam hati: Siapa yang begitu berani mencoba menemukan tipu muslihat baru yang cerdik? Siapa yang tidak tahu bahwa watak Tuhan tidak mentolerir pelanggaran manusia? Saya tentunya tidak akan berani! Saya secara pribadi percaya bahwa saya memiliki hati yang meninggikan Tuhan, dan dalam bekerja saya tidak berani mencoba menemukan tipu muslihat. Akan tetapi, hanya melalui pengungkapan oleh Tuhan mengenai fakta-faktalah saya menyadari bahwa upaya mencari tipu muslihat bukanlah mengenai apa yang berani atau tidak berani dilakukan oleh seseorang–semuanya itu ditentukan oleh sifat yang angkuh.

Belum lama ini, saya menemukan, bahwa ada gereja dengan seorang pemimpin yang tidak memadai. Ia tidur selama persekutuan berlangsung dan tidak memiliki sifat yang baik hati, sementara rekannya mengemban begitu banyak tanggung jawab. Jadi, saya ingin menggantikan pemimpin gereja tersebut dan membiarkan rekannya menjalankan pekerjaan seorang pemimpin gereja. Akan tetapi, saya khawatir bahwa langkah ini akan membuat si pemimpin gereja negatif, lemah dan kehilangan imannya, atau mengganggu hal-hal di gereja. Setelah banyak pertimbangan, saya berpikir tentang "rencana yang cerdik." Saya diam-diam akan membuat rekannya mengemban seluruh cakupan pekerjaannya; segala sesuatu yang diatur oleh gereja akan menjadi tanggung jawab rekannya, dan pemimpin gereja hanya akan menjadi lambang kepemimpinan. Jadi saya waktu itu tidak mencari Tuhan mau pun melihat pengaturan dan prinsip kerja yang ada. Saya baru melakukan hal ini setelah memberitahu rekan pemimpin dan pengkhotbah setempat. Sesudahnya, saya sangat bangga terhadap diri sendiri, dan percaya bahwa saya sungguh cerdik dan benar-benar memiliki hikmat dalam bekerja. Saya berpikir: Jika si pemimpin mengetahuinya, ia tentunya akan berkata bahwa saya sangat andal dalam bekerja, dan mungkin bahkan akan menaikkan jabatan saya. Tetapi saya tidak pernah menyangka, bahwa saat memberitahu si pemimpin tentang rencana itu, ia akan berkata: "Ini adalah dirimu yang sedang mencoba mencari tipu muslihat baru. Mana ada pengaturan kerja yang memperbolehkanmu berbuat seperti ini? Pemimpin yang tidak memadai bisa diganti, tetapi kami tidak dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan kehendak kami sendiri dan mengesampingkan prinsip-prinsip gereja. Ini adalah perlawanan yang serius terhadap Tuhan. ..." Setelah mendengar perkataan ini dari si pemimpin, saya sungguh terhenyak. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa saya secara tidak sadar sedang mencoba mencari tipu muslihat baru. Apa yang tadinya menurut saya "rencana yang cerdik" sebenarnya adalah perlawanan yang serius terhadap Tuhan, dan saya benar-benar malu saat dihadapkan pada fakta-faktanya. Saat itu, saya serta merta memikirkan perkataan Tuhan: "Misalnya jika engkau memiliki kecongkakan dan kesombongan dalam dirimu, tidak mungkin bagimu untuk tidak menentang Tuhan, sebaliknya, engkau akan membuat dirimu menentang Dia. Engkau tidak akan melakukannya dengan sengaja; engkau akan melakukannya di bawah dominasi sifatmu yang congkak dan sombong. Kecongkakan dan kesombonganmu akan membuatmu memandang rendah Tuhan, membuatmu melihat Tuhan tidak penting ..." ("Hanya dengan Mengejar Kebenaran Engkau Dapat Mengalami Perubahan dalam Watakmu" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"). Hal itu benar adanya. Saat dihadapkan pada masalah ini saya tidak mencari Tuhan, maupun mempertimbangkannya berdasarkan prinsip-prinsip gereja. Saya semata-mata bertindak sesuai dengan kehendak sendiri. Saya melihat sifat saya yang angkuh dan sombong, bahwa saya tidak memiliki hati yang meninggikan Tuhan, dan bahwa Tuhan tidak memiliki tempat di hati saya. Baru saat itulah saya menyadari, bahwa menemukan tipu muslihat baru bukanlah tentang apa yang berani atau tidak berani saya lakukan, melainkan ditentukan semata-mata oleh sifat saya sendiri yang angkuh. Jika tidak menyadari sifat dasar saya yang angkuh, saya tidak akan pernah memegang kendali atas diri sendiri. Saya bahkan dapat sewaktu-waktu melakukan sesuatu yang melawan Tuhan, yang membuat-Nya merasa jijik dan benci. Baru saat itulah saya sadar bahwa melayani Tuhan bukanlah hal yang sederhana. Jika saya tidak memiliki kebenaran, jika tidak ada perubahan watak, jika saya tidak menyadari sifat saya sendiri yang angkuh, saya dapat tanpa sadar melanggar watak Tuhan. Itu benar-benar terlalu berbahaya! Berkat pencerahan dari Tuhan, saya paham dari insiden ini mengapa rumah tangga Tuhan telah berkali-kali meminta kita untuk bekerja sesuai dengan pengaturan dan prinsip-prinsip kerjanya. Ini adalah karena kita belum mendapatkan kebenaran dan tidak dapat memastikan bahwa seluruh pandangan kita sudah benar dan bahwa segala yang kita lakukan bermanfaat bagi gereja dan umat pilihan Tuhan, tetapi sifat kita selalu angkuh dan kita semua berupaya menyombongkan diri, untuk "menunjukkan" kemampuan kita sendiri kepada Tuhan. Oleh sebab itu, hanya dengan setia bekerja sesuai dengan pengaturan kerjalah kita dapat melindungi diri sendiri.

Oh Tuhan! Terima kasih telah mengungkapkan sifat saya yang angkuh dan sombong. Mulai hari ini dan seterusnya, saya tentunya akan menganggap kejadian ini sebagai peringatan dan berusaha lebih keras untuk mengenal sifat saya sendiri. Saya akan bekerja hanya benar-benar sesuai dengan pengaturan kerjanya. Saya akan sungguh-sungguh menjadi orang yang memiliki akal sehat, patuh kepada prinsip dan memiliki hati yang meninggikan Engkau.

26. Mengapa Melibatkan Tipu Daya Saat Melayani Tuhan?